Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
STATUS PASIEN

Identitas Pasien
Nama : An. M Pendidikan : -
Usia : 7 bulan Agama : Islam
Jenis Kelamin : Perempuan Suku : Melayu
Pekerjaan : - No RM : 107361
Alamat : Salo Tanggal : 13.09.14
Status Pernikahan : -

ANAMNESIS
Keluhan Utama: Bercak-bercak kemerahan pada leher, dada, punggung, ketiak,
lipatan siku, dan kedua lengan kanan dan kiri sejak 3 hari SMRS.

Riwayat Penyakit Sekarang:
Bercak-bercak kemerahan pada leher, dada, punggung, ketiak, lipatan siku, dan
pergelangan tangan sejak 3 hari SMRS. Awalnya bercak kemerahan timbul di
bagian leher berupa bercak-bercak merah berukuran sebesar ujung jarum pentul,
kemudian menyebar ke bagian dada, punggung, lipatan siku dan lengan kanan dan
kiri. Bercak terlihat berbatas tegas, dan sebagian terlihat berbenjol berukuran
sebesar ujung jarum pentul. Sebagian bercak terutama di daerah lipatan kulit
(lipatan kulit leher, ketiak dan lipatan siku) terlihat lecet dan mengelupas akibat
gesekan dan garukan. Bercak tersebut terasa gatal terutama pada malam hari
sehingga pasien sering menggaruknya. Pada kedua bagian telinga (tragus) terdapat
benjolan sebesar ujung jarum pentul yang terlihat berisi cairan kekuningan.
Benjolan mulai timbul sekitar 1 hari SMRS. Keluhan demam tidak ada. BAB dan
BAK dalam batas normal.

Riwayat Penyakit Dahulu:
- Riwayat penyakit yang sama : 3 bulan yang lalu pasien pernah mengalami
keluhan yang sama dan hilang setelah berobat ke perawat.

2

Riwayat Penyakit Keluarga:
- Abang pasien pernah menderita keluhan yang sama saat usia 1 tahun
- Riwayat alergi tidak diketahui

Riwayat Pengobatan:
- Pasien sudah dibawa berobat ke perawat dan diberi obat Hydrokortison
namun keluhan ridak berkurang, kemudian pasien dibawa bberobat ke
puskesmas dan diberi obat Betametason dan keluhan masih belum berkurang.
- Selama keluhan pasien juga sering diberi bedak untuk mengurangi gatal
- Riwayat alergi obat disangkal.

Riwayat Kebiasaan:
Pasien sering dibiarkan bermain di karpet.

PEMERIKSAAN FISIK
Status Generalisata
Keadaan Umum : tampak sakit ringan
Kesadaran : composmentis tidak cooperatif
Keadaan Gizi : baik
Pem. Thorak : dalam batas normal
Pem. Abdomen : dalam batas normal

Status Dermatologis
Lokasi : di bagian tragus dan belakang telinga, leher, bagian dada sebelah atas
Seluruh punggung, di aksila, sebagian lengan kanan dan kiri, dan
di lipatan siku
Distribusi : Generalisata
Bentuk : bulat dan sebagian lonjong di daerah leher
Susunan : bergerombol dan sebagian terpisah
Batas : sirkumskrip
Ukuran : miliar, lentikular dan numular
Efloresensi : Primer makula eritema, papul eritema, pustul.

3

Sekunder erosi dan krusta

Kelainan Selaput/Mukosa : tidak ada kelainan
Kelainan Mata : tidak ada kelainan
Kelainan Kuku : tidak ada kelainan
Kelainan Rambut : tidak ada kelainan
Kelainan Kelenjar Getah Bening : tidak ada kelainan







4







5







6

Resume
Pasien usia 7 bulan datang dengan keluhan bercak-bercak kemerahan pada leher,
dada, punggung, ketiak, lipatan siku, dan pergelangan tangan sejak 3 hari SMRS.
Awalnya bercak kemerahan timbul di bagian leher berupa bercak-bercak merah
berukuran sebesar ujung jarum pentul, kemudian menyebar ke bagian dada,
punggung, lipatan siku dan lengan kanan dan kiri. Bercak terlihat berbatas tegas,
dan sebagian terlihat berbenjol berukuran sebesar ujung jarum pentul. Sebagian
bercak terutama di daerah lipatan kulit (lipatan kulit leher, ketiak dan lipatan siku)
terlihat lecet dan mengelupas akibat gesekan dan garukan. Bercak tersebut terasa
gatal terutama pada malam hari sehingga pasien sering menggaruknya. Pada
kedua bagian telinga (tragus) terdapat benjolan sebesar ujung jarum pentul yang
terlihat berisi cairan kekuningan. Benjolan mulai timbul sekitar 1 hari SMRS.

Diagnosis
Dermatitis Atopik

Diagnosis Banding
- Dermatitis Kontak Iritan

Terapi
A) Umum
- Edukasi

Menjaga kebersihan badan dengan mandi sacara teratur


Membersihkan tempat tidur dan tempat bermain pasien


Menghindari faktor pencetus seperti mikroorganisme yang berasal dari


karpet, bantal dan selimut

Tidak menggaruk bagian kulit atau tempat terjadinya lesi



B) Khusus
- Topikal : kortikoteroid triamsinolon krim 1%




7

Prognosis
Quo ad sanationam : bonam
Quo ad vitam : bonam
Quo ad kosmetikum : bonam
Quo ad functional : bonam




























8

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA


A. Definisi
Dermatitis atopik (DA) ialah keadaan peradangan kulit kronis dan residif,
disertai gatal, yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak,
sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi
pada keluarga atau penderita (DA, rhinitis alergik atau asma bronkhial). Kelainan
kulit berupa papul gatal, yang kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi,
distribusinya di lipatan (fleksural).
1
Kata "atopi" pertama diperkenalkan oleh Coca (1928), yaitu istilah yang
dipakai untuk sekelompok penyakit pada individu yang mempunyai riwayat
kepekaan dalam keluarganya, misalnya : asma bronkial, rinitis alergik, dermatitis
atopik, dan konjungtivitis alergik.
2


B. Epidemiologi
. Berbagai penelitian menyatakan bahwa prevalensi DA semakin
meningkat sehingga merupakan salah satu masalah utama kesehatan dunia,
dengan prevalensi DA pada anak mencapai 10 sampai 20 persen di Amerika
Serikat, Eropa utara dan barat, Afrika, Jepang, Australia dan negara-negara
industri lainnya. Prevalensi DA pada orang dewasa berkisar antara 1-3%.
Uniknya, prevalensi DA lebih rendah pada negara-negara agraris, seperti Cina,
Eropa barat, pedalaman Afrika dan Asia. Wanita lebih banyak menderita DA
daripada pria dengan rasio 1,3:1. Sekitar 60% pasien anak dengan DA tidak
menunjukkan gejala apapun pada masa remaja awal, meskipun sebanyak 50%
terjadi rekurensi pada saat dewasa. Onset dini penyakit, permulaan penyakit yang
berat, penyakit yang bersamaan dengan asma dan hay fever, serta riwayat keluarga
DA merupakan suatu pertanda perjalanan penyakit yang berlangsung terus-
menerus.
2,4,5

Berbagai faktor lingkungan berpengaruh terhadap prevalensi DA,
misalnya jumlah keluarga kecil, pendidikan ibu makin tinggi, penghasilan

9

meningkat, migrasi dari desa ke kota, dan meningkatnya penggunaan antibiotik,
berpotensi meningkatkan penderita DA.
2

C. Etiologi
Penyebab dermatitis atopi belum diketahui. Sekitar 70% penderita
ditemukan riwayat stigmata atopi pada pasien atau anggota keluarga, yaitu
berupa;
3,5
1. Rhinitis alergika, asma bronkhiale, hay fever
2. Alergi terhadap berbagai alergen protein (polivalen)
3. Pada kulit : Dermatitis atopi, dermatografisme putih dan kecenderungan
timbul urtikaria.
4. Reaksi abnormal terhadap perubahan suhu (panas dan dingin) dan stress.
5. Resistensi menurun terhadap infeksi virus dan bakteri.
6. Lebih sensitif terhadap serum dan obat.
7. Kadang-kadang terdapat katarak juvenelis.

D. Faktor Pencetus
4

Pemahaman dan pengaturan terhadap faktor-faktor pencetus diperlukan
untuk keberhasilan penanganan DA. Riwayat anamnesis yang lengkap sangat
diperlukan karena tidak ada pemeriksaan yang standar, seperti pada rhinitis dan
asma untuk mengidentifikasi faktor pencetus DA yang spesifik
1. Perubahan suhu dan berkeringat
Penderita atopi tidak tahan terhadap perubahan suhu mendadak.
Berkeringat menimbulkan rasa gatal, terutama pada daerah antecubiti dan
fossa poplitea.
2. Penurunan kelembaban
Udara dingin tidak mampu memberikan kelembaban yang cukup. Uap
yang terkandung dalam lapisan kulit terluar mencapai titik keseimbangan
(ekuilibrium) atmosfer dan secara konsekuen akan mengurangi kelembaban.
uapKulit kering menjadi kurang luwes, lebih rapuh dan lebih mudah teriritasi.
3. Pencucian yang berlebihan

10

Pengulangan pencucian dan pengeringan mengurangi air yang
mengikat lemak dari lapisan pertama kulit. Mandi setiap hari masih bisa
ditoleransi pada musim panas tetapi dapat menyebabkan kekeringan kulit
yang berlebihan pada musim gugur dan salju.
4. Kontak dengan bahan iritan
Wool, bahan kimia rumah tangga dan industri, kosmetik, dan beberapa
sabun dan detergen dapat menyebabkan iritasi dan inflamasi pada pasien
atopi. Asap rokok mungkin menyebabkan lesi ekszem pada kelopak mata.
Inflamasi seringkali diartikan sebagai reaksi alergi oleh pasien, sehingga
mereka mengklaim bahwa mereka alergi terhadap sesuatu yang mereka
sentuh.
5. Alergi kontak
Reaksi alergi kontak memerlukan sediaan topical, termasuk
kortikosteroid dapat dipertimbangkan pada pasien yang tidak memebrikan
respon terhadap terapi. Uji temple dapat membantu mengidentifikasi bahan
pencetus.
6. Aeroallergen
Tungau debu rumah merupakan aeroalergen yang paling penting.
Banyak pasien DA yang memiliki antibodi anti-IgE terhadap antigen tungan
debu rumah, tetapi peranan tungau debu rumah dalam kekambuhan DA masih
kontroversial. Inhalasi debu rumah dan penetrasi alergen melalui kulit
mungkin dapat terjadi. Aeroalergen lainnya seperti serbuk sari dan alergen
dari binatang peliharaan atau tembok dapat memperberat DA.
7. Agen mikroba
Staphylococus aureus merupakan mikroorganisme utama kulit pada
lesi DA. Mikroba ini secara signifikan meningkat pada kulit yang tidak
terinfeksi. Normalnya, S. aureus mewakili kurang dari 5% dari total
mikroflora kulit pada orang tanpa DA. Antibiotik diberikan secara sistemik
atau topical secara dramatis dapat memperbaiki DA.
8. Makanan
Makanan diyakini dapat mencetuskan kekambuhan pada DA. Banyak
pasien yang menimbulkan reaksi terhadap makanan tidak mengetahui

11

hipersensitivitas mereka. Makanan dapat mencetuskan reaksi alergi dan non-
alergi. Makan yang paling banyak menimbulkan reaksi alergi adalah telur,
kacang, susu, ikan, kedelai dan gandum. Urtikaria, ekszema, gejala saluran
napas atau cerna, atau reaksi anafilaksis mungkin sebagai tanda makanan
yang menimbulkan reaksi.

E. Patogenesis
Patogenesa dari terjadinya dermatitis atopi belum diketahui secara pasti.
Pada sebagian besar penderita (80%) penderita dermatitis atopi ditemukan
peningkatan jumlah Ig E dalam serum, terutama bila terjadi bersamaan dengan
asma bronkhiale dan rhinitis alergika karena defisiensi sel T supressor.
3
Pada temuan laboratorium penderita dermatitis atopi terdapat abnormalitas
dari sel T helper (TH2) yang menginduksi peningkatan produksi interleukin 4 (IL-
4) dan berujung pada peningkatan Ig E. Kelebihan produksi IL-4 mengakibatkan
penurunan level interferon gamma. Sel-sel dapat bereaksi dengan antigen
lingkungan untuk memproduksi peningkatan level dari Ig E. Histamin serum dan
pengeluaran sel histamin meningkat, dimana dianggap menimbulkan pengeluaran
sel mast dari reaksi antigen-antibodi.
2,4


F. Gambaran Klinis
Gejala utama dermatitis atopik ialah gatal (pruritus). Akibat garukan akan
terjadi kelainan kulit yang bermacam-macam, misalnya papul, likenifikasi dan lesi
ekzematosa berupa eritema, papulo- vesikel, erosi, ekskoriasi, dan krusta.
2


Gambar 1. Predileksi Dermatitis Atopi
2

12

Karakteristik penyakit berbeda-beda berdasarkan usia. DA dapat dibagi
menjadi tiga fase, yaitu DA infantil (terjadi pada usia 2 bulan sampai usia 2
tahun); DA anak (2 sampai 12 tahun); dan DA pada remaja dan dewasa. Pada DA
tipe infantil lebih sering mengenai daerah wajah dan badan, sedangkan pada DA
pada remaja dan dewasa terutama pada daerah fleksural dan tangan. Pola
pewarisan DA sampai saat ini masih belum diketahui, namun beberapa data yang
ada menyebutkan bahwa pola pewarisannya bersifat poligenik.
2,4

DA Infantil (2 bulan - 2 tahun)
Masa awitan paling sering pada usia 2-6 bulan. Lesi mulai di muka (pipi,
dahi) dan skalp, tetapi dapat pula mengenai tempat lain (badan, leher, lengan, dan
tungkai). Bila anak mulai merangkak, lesi ditemukan di lutut. Lesi berupa eritema
dan papulovesikel miliar yang sangat gatal; karena garukan terjadi erosi,
ekskoriasi dan eksudasi atau krusta, tidak jarang mengalami infeksi. Garukan
dimulai setelah usia 2 bulan. Rasa gatal ini sangat mengganggu sehingga anak
gelisah, susah tidur, dan menangis. Lesi menjadi kronis dan residif. Sekitar usia
18 bulan, mulai tampak likenifikasi di bagian fleksor. Pada usia 2 tahun sebagian
besar penderita sembuh, sebagian berlanjut menjadi bentuk anak.
2,4

Gambar 2. Dermatitis Atopi infantil
4
DA pada Anak (2-12 tahun)
Dapat merupakan kelanjutan bentuk infantil, atau timbul sendin (de novo).
Lesi kering, likenifikasi, batas tidak tegas karena garukan terlihat pula ekskoriasi
memanjang dan krusta. Tempat predileksi di lipat siku, lipat lutut, leher,
pergelangan tangan dan kaki; jarang mengenai muka. Tangan mungkin kering,

13

likenifikasi atau eksudasi; bibir dan perioral dapat pula terkena; kadang juga pada
paha belakang dan bokong. Sering ditemukan lipatan Dennie Morgan, yaitu
lipatan kulit di bawah kelopak mata bawah.
2,4

Gambar 3. Dermatitis atopi Anak
4
DA pada remaja dan dewasa (12-40 tahun)
Tempat predileksi di muka (dahi, kelopak mata, perioral), leher, dada
bagian atas, lipat siku, lipat lutut, punggung tangan; biasanya simetris. Gejala
utama adalah pruritus; kelainan kulit berupa likenifikasi, papul, ekskoriasi dan
krusta. Umumnya dermatitis atopik bentuk remaja dan dewasa berlangsung lama,
tetapi intensitasnya cenderung menurun setelah usia 30 tahun. Sebagian kecil
dapat terus berlangsung sampai tua. Dapat pula ditemukan kelainan setempat,
misalnya di bibir (kering, pecah, bersisik), vulva, puting susu, skalp.
2,3
Selain terdapat kelainan tersebut, kulit pendenta tampak kering dan sukar
berkeringat. Ambang rangsang gatal rendah, sehingga pendenta mudah gatal,
apalagi bila berkeringat.
2
Berbagai kelainan dapat menyertainya ialah xerosis kutis, iktiosis,
hiperlinearis palmaris et plantaris, pomfoliks, pitiaris alba, keratosis pilaris,
lipatan Dennie Morgan, penipisan alis bagian luar (tanda Hertoghe), keilitis,
katarak subkapsular anterior, lidah geografik, liken spinularis (papulpapul
tersusun numular), dan keratokonus (bentuk komea yang abnormal). Selain itu,
penderita dermatitis atopik cenderung mudah mengalami kontak urtikaria, reaksi
anafilaktik terhadap obat, gigitan atau sengatan serangga.
4

14


Gambar 4. dermatitis atopi dewasa
4

G. Pemeriksaan Penunjang
2,4

1. Pada pemeriksaan darah perifer ditemukan eosinofilia dan peningkatan kadar
Ig E
2. Dermatografisme putih (+)
Pada kulit normal jika digores akan menimbulkan 3 respon yaitu ;
a. Garis merah pada tempat yang di gores selama 15 detik
b. Warna merah menjalar ke daerah sekitar garis selama beberapa detik
c. Timbul edem setelah beberapa detik
Pada pasien dengan dermatitis atopi penggoresan pada kulit tidak akan
menimbulkan kemerahan sekitar garis, melainkan kepucatan selama 2 detik
sampai 5 menit dan edem tidak timbul. Keadaan ini disebut dermatografisme
putih
3. Pada pemberian suntikan asetil kolin secara intra kutan 1/5000 akan
menyebabkan hiperemia pada orang normal. Pada pasien dermatitis atopi
akan timbul vasokontriksi, terlihat kepucatan selama 1 jam.
4. Jika histamin fosfat disuntikkan pada lesi, eritem akan berkurang. Bila
disuntikkan secara parenteral tampak eritem bertambah pada kulit yang
normal.

H. Diagnosis
Diagnosis DA biasanya didasarkan pada beberapa variabel, meliputi
anamnesis, pemeriksaan fisik dan laboratorium. Namun, tidak ada gejala kelainan
kulit yang spesifik, gambaran histologis tidak diketahui dengan jelas, dan tidak

15

ada pemeriksaan laboratorium yang spesifik dalam menegakkan diagnosis DA.
Terdapat beberapa karakteristik yang menyatakan bahwa pasien tersebut
menderita DA. Rajka merupakan orang pertama yang membuat daftar diagnosis
yang terdiri dari Kriteria mayor dan minor. Kriteria ini kemudian direvisi dan
dikenal sebagai kriteria Hanifin dan Rajka. Diagnosis DA ditegakkan bila pada
pasien dijumpai tiga atau lebih tanda mayor dan ditambah tiga atau lebih tanda
minor. Setiap pasien dapat menunjukkan kombinasi tanda mayor dan minor yang
berbeda.
2,4

Tanda Mayor :
1

1. Pruritus.
2. Morfologi dan distribusi yang khas:
- likenifikasi fleksural pada orang dewasa,
- gambaran dermatitis di pipi dan ekstensor pada bayi.
3. Dermatitis kronis atau kronis kambuhan.
4. Riwayat atopi pribadi atau keluarga : Asma, rinitis alergika, dermatitis atopik
Tanda Minor :
1

1. Tes kulit tipe cepat yang reaktif (tipe 1).
2. Dermografisme putih atau timbul kepucatan pada tes dengan zat kolinergik.
3. Katarak subkapsular anterior.
4. Xerosis/iktiosis/hiperlinear palmaris.
5. Pitiriasis alba.
6. Keratosis pilaris.
7. Kepucatan fasial/warna gelap infra orbital.
8. Tanda Dennie Morgan (lipatan infraorbital)
9. Peningkatan kadar IgE.
10. Keratokonus.
11. Kecenderungan mendapatkan dermatitis nonspesifik di tangan.
12. Kecenderungan infeksi kulit yang berulang.
13. Seilitis
14. Konjungtivitis berulang
15. Kepucatan pada wajah/eritema fasial
16. Gatal saat berkeringat

16

17. Intoleransi makanan
18. Dermatitis pada putting susu
19. Intoleransi wool
Kriteria ini secara ilmiah dievaluasi dan ditemukan dapat digunakan secara
wajar dengan baik, meskipun tidak ada definisi yang tepat, beberapa tidak
spesifik, dan beberapa tidak umum. William et al mengembangkan daftar
minimum kriteria yang dapat dipercaya untuk menegakkan diagnosis DA yang
dapat digunakan secara klinis pada studi epidemiologi.
1

* Adapted from Williams et al.
Gambar. 5 Kriteria diagnosis dermatitis atopi berdasarkan Williams et al
2
Kriteria diagnosis DA untuk bayi:
5
3 kriteria mayor berupa:
1. Riwayat atopi pada keluarga
2. Dermatitis di wajah atau lipatan-lipatan kulit
3. Pruritus
Ditambah 3 kriteria minor:
1. Xerosis / iktiosis / hiperliniaris palmaris
2. Aksentuasi perifolikular
3. Fisura belakang telinga
4. Skuama di scalp kronis



17

Pedoman diagnosis DA:
5
1. Harus mempunyai kondisi kulit gatal atau dari laporan orang tuanya bahwa
anaknya suka menggaruk atau menggosok
2. Ditambah 3 atau lebih kriteria berikut:
a. Riwayat terkenanya di lipatan kulit, misal : lipatan siku, belakang lutut,
sekitar leher
b. Riwayat asma bronkial atau hay fever pada penderita (atau riwayat alergi
pada kelurga tingkat pertama dari anak dibawah 4 tahun)
c. Riwayat kulit kering secara umum pada tahun terakhir
d. Adanya dermatitis yang tampak pada lipatan (atau dermatitis di pipi,
dahi, dan anggota badan bagian luar anak dibawah 4 tahun)
e. Aitan dibawah usia 2 tahun

I. Diagnosis Banding
Diagnosis banding DA yang penting adalah dermatitis seboroik, psoriasis,
rosasea dan dermatitis perioral, infeksi jamur, ikhtiosis vulgaris, scabies dan
dermatitis kontak.
2

Gambar. 6 Diagnosis banding dermatitis atopi
2

18

J. Penatalaksanaan
Tujuan terapi meliputi usaha untuk mengeliminasi inflamasi dan infeksi,
memelihara dan memperbaiki sawar stratum korneum dengan menggunakan
pelembab, menggunakan bahan anti gatal untuk mengurangi kerusakan kulit
akibat perbuatan sendiri, dan mengontrol faktor-faktor yang menyebabkan
kekambuhan. Kebanyakan pasien masih bisa diawasi dibawah kontrol yang baik
hanya kurang dari 3 minggu. Beberapa kemungkinan alasan kegagalan respon :
kesediaan pasien yang jelek, dermatitis kontak alergika dengan pengobatan
topikal, terjadi secara bersamaan dengan asma dan hay fever, sedasi yang
inadekuat, dan stres emosional yang berkelanjutan. Terapi terutama fokus
terhadap gambaran simptomatik (hidrasi kulit dan mengurangi gatal).
1,4

Terapi dermatitis atopi dapat didefinisikan sebagai berikut :
1
Mengurangi tanda dan gejala
Mencegah atau mengurangi kekambuhan
Mempersiapkan penanganan jangka panjang dengan mencegah eksaserbasi
Memodifikasi perjalanan penyakit

19




Gambar 7. Algoritma terapi dermatitis atopi
1
A) Pengobatan topikal
1. Terapi dasar adjuvant
Sebagai sawar, fungsi pada kulit terganggu, terapi dasar adjuvant
merupakan penanganan dasar terhadap penyakit yang meliputi pemakaian
rutin pelembab yang adekuat. Penentuan pelembab pada tiap-tiap pasien
berbeda tergantung pilihan tertentu, usia, dan tipe dermatitis. Emolien
menjaga hidrasi kulit dan mengurangi gatal. Emolien digunakan secara rutin
dua kali sehari, meskipun tidak ada gejala penyakit dan setelah berenang
atau mandi. Untuk membersihkan kulit jangan mernakai sabun alkali, tetapi
memakai detergen dengan pH asam, atau sabun nonalkali berlemak.
1

20

2. Kortikosteroid topikal
Pengobatan DA dengan kortikosteroid topikal adalah yang paling
sering digunakan sebagai anti-inflamasi lesi kulit. Namun, demikian harus
waspada karena dapat terjadi efek samping yang tidak diinginkan.
2
Potensi kortikosteroid topikal diklasifikasikan berdasarkan
potensinya untuk vasokonstriksi. Secara umum, hanya sediaan dengan
kekuatan sangat lemah atau sedang yang dapat digunakan di wajah atau
daerah genital, sedangkan sediaan dengan kekuatan sedang dan kuat
digunakan untuk daerah lainnya diseluruh tubuh. DA dengan likenifikasi
memerlukan sediaan yang lebih kuat untuk waktu yang lebih lama.
3

Imunomodulator topical
2
a. Takrolimus
Takrolimus (FK-506), suatu penghambat calcineurin, dapat
diberikan dalam bentuk salap 0,03% untuk anak usia 2-15 tahun; untuk
dewasa 0,03% dan 0,1%. Takrolimus menghambat aktivasi sel yang
terlibat dalam DA, yaitu : sel Langerhans, sel T, sel mast, dan keratinosit.
b. Pimekrolimus
Dikenal juga dengan ASM 81, suatu senyawa askomisin yaitu
imunomodulator golongan makrolaktam, yang pertama ditemukan dari
hasil permentasi Streptomyces hygroscopicus var. ascomyceticus.
c. Preparat ter
Efek ter yang sebenarnya belum diketahui pasti; rupanya berkhasiat
vasokonstriksi, astringen, desinfektan, antipruritus, dan memperbaiki
keratinisasi abnormal dengan cara mengurangi proliferasi epidermal dan
infiltrasi dermal. Pada penggunaan ter yang lama dapat terjadi Efek
samping ter yang lain ialah fotosensitisasi. Ter dapat pula dikombinasi
dengan kortikosteroid.
d. Antihistamin
Pengobatan DA dengan antihistamin topical tidak dianjurkan
karena berpotensi kuat menimbulkan sensitisasi pada kulit.
3. Pengobatan sistemik
2
a. Kortikosteroid

21

Kortikosteroid sistemik hanya digunakan untuk mengendalikan
eksaserbasi akut, dalam jangka pendek, dan dosis rendah, diberikan
berselang-seling (alternate) atau diturunkan bertahap (tapering), kemudian
segera diganti dengan kortikosteroid topikal. Pemakaian jangka panjang
menimbulkan berbagai efek samping, dan bila dihentikan, lesi yang lebih
berat akan muncul kembali.
b. Antihistamin
Antihistamin digunakan untuk membantu mengurangi rasa gatal yang
hebat, terutama malam hari, sehingga mengganggu tidur. Oleh karena itu,
antihistamin yang dipakai adalah yang mempunyai efek sedative, misalnya
hidroksisin atau difenhidramin.
c. Anti-infeksi
Pada DA ditemukan peningkatan koloni S. aureus. Untuk yang belum
resisten dapat diberikan eritromisin, asitromisin atau, klaritromisin, sedang
untuk yang sudah resisten diberikan diklosasilin, oksasilin, atau generasi
pertama sefalosporin.
d. Interferon
IFN- diketahui menekan respon IgE dan menurunkan fungsi dan
proliferasi sel TH2. Pengobatan dengan IFN- rekombinan menghasilkan
perbaikan klinis, karena dapat menurunkan jumlah eosinofil total dalam
sirkulasi.
e. Siklosporin
Pada pasien tanpa gangguan ginjal, dapat digunakan siklosporin
dengan dosis yang dimulai dari 5 mg/Kg BB/hari. Obat ini di indikasikan
apabila semua pengobatan gagal, tetapi harus di awasi secara ketat.
Pengobatan ini hanya terbatas 3 sampai 6 bulan saja karena potensi efek
sampingnya termasuk hipertensi dan penurunan fungsi renal.
4. Terapi sinar (phototherapy)

Untuk DA yang berat dan luas dapat digunakan PUVA
(photochemotherapy) seperti yang dipakai pada psoriasis. Kombinasi UVB
dan UVA lebih baik daripada hanya UVB. UVA bekerja pada sel
langerhans, dan eosinofil, sedangkan UVB mempunyai efek imunosupresif

22

dengan cara memblokade fungsi sel langerhans, dan mengubah produksi
sitokin keratinosit.

K. Prognosis
2,4

Penderita dermatitis atopik yang bermula sejak bayi, sebagian ( 40%)
sernbuh spontan, sebagian berlanjut ke bentuk anak dan dewasa. Ada pula yang
menyatakan bahwa 40-50% sembuh pada usia 15 tahun. Sebagian besar
menyembuh pada usia 30 tahun.

Secara umum, bila ada riwayat dermatitis atopik di keluarga, bersamaan
dengan asma bronkial, masa awitan lambat, atau dermatitisnya berat, maka
penyakitnya lebih persisten.


















23

DAFTAR PUSTAKA



1. C.Ellis, T. Luger, D.Abeck, R.Allen, R.A.C.Graham-Brown, Y.de Prost et al.
International Consensus Conference on Atopic Dermatitis II (ICCAD II*):
clinical update and current treatment strategies. British Journal of
Dermatology 2003

2. Djuanda Suria, Sri Adi S. Dermatitis. Dalam: Adhi Djuanda, Ed. Ilmu
Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi Ke Tiga. Jakarta: Balai Penerbit FK UI,
2004

3. Lorraine M Wilson, Sylvia. Ekzema dan gangguan Vaskuler dalam
Patofisiologi Penyakit. EGC. Jakarta, 2006

4. Hassan, Rusepno. Dermatitis Atopi dalam Buku Kuliah 1 Ilmu Kesehatan
Anak FKUI. Jakarta: Infomedika, 1998

5. Djuanda A. Ilmu Penyakit Kulit dan Kelamin. Edisi ke 6. Jakarta: FKUI:
2010