Anda di halaman 1dari 37

1

Referat

MENINGIOMA










Oleh
Ledisda Apriana, S.Ked
I1A007013




Pembimbing
dr. Pagan Pambudi, M.Si, Sp.S




BAGIAN/SMF ILMU PENYAKIT SARAF
FK UNLAM-RSUD ULIN
BANJARMASIN
November, 2011

2
DAFTAR ISI

Halaman
HALAMAN JUDUL .......................................................................................... i
DAFTAR ISI ...................................................................................................... ii
DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... iii
BAB I. PENDAHULUAN ............................................................................... 4
BAB II. MENINGIOMA ................................................................................. 6
BAB III. PENUTUP ......................................................................................... 35
DAFTAR PUSTAKA













3
DAFTAR GAMBAR

Halaman
Gambar 1. Lokasi Umum Meningioma .................................................................................... 9
Gambar 2. Meningioma ............................................................................................................. 13
Gambar 3. Meningioma ............................................................................................................. 14
Gambar 4. Meningioma ............................................................................................................ 14
Gambar 5. Meningioma ............................................................................................................ 15
Gambar 6. Meningioma otak .................................................................................................... 17
Gambar 7. Dua kasus berbeda .................................................................................................. 18
Gambar 8. Meningioma otak .................................................................................................... 18
Gambar 9. Meningioma otak .................................................................................................... 19
Gambar 10. Meningioma otak .................................................................................................. 19
Gambar 11. Meningioma otak .................................................................................................. 20
Gambar 12. Meningioma otak .................................................................................................. 20
Gambar 13. Meningioma otak .................................................................................................. 21
Gambar 14. Meningioma otak .................................................................................................. 21
Gambar 15. Meningioma otak .................................................................................................. 22
Gambar 16. Meningioma parasagital ........................................................................................ 23
Gambar 17. MRI Nonkontras ................................................................................................... 23
Gambar 18. Meningioma otak .................................................................................................. 24
Gambar 19. Meningioma otak .................................................................................................. 24
Gambar 20. Meningioma multiple ............................................................................................ 25
Gambar 21. Maligna dan Multiple Meningioma ...................................................................... 25
Gambar 22. Meningioma otak .................................................................................................. 27


4
BAB I
PENDAHULUAN

Meningioma adalah tumor pada meningens, yang merupakan selaput
pelindung yang melindungi otak dan medulla spinalis. Meningioma dapat timbul
pada tempat manapun di bagian otak maupun medulla spinalis, tetapi, umumnya
terjadi di hemisfer otak di semua lobusnya. Kebanyakan meningioma bersifat
jinak (benign), sedangkan meningioma malignan jarang terjadi (1).
Meningioma merupakan neoplasma intrakranial nomor 2 dalam urutan
frekuensinya yaitu mencapai angka 20%. Meningioma lebih sering dijumpai pada
wanita daripada pria terutama pada golongan umur antara 50-60 tahun dan
memperlihatkan kecenderungan untuk ditemukan pada beberapa anggota di satu
keluarga. Korelasinya dengan trauma kapitis masih dalam pencarian karena belum
cukup bukti untuk memastikannya. Pada umumnya meningioma dianggap sebagai
neoplasma yang berasal dari glioblas di sekitar vili arachnoid. Sel di medulla
spinalis yang sebanding dengan sel tersebut ialah sel yang terletak pada tempat
pertemuan antara arachnoid dengan dura yang menutupi radiks (1).
Tempat predileksi di ruang kranium supratentorial ialah daerah
parasagitalis. Yang terletak di krista sphenoid, parasellar, dan baso-frontal
biasanya gepeng atau kecil bundar. Jika meningioma terletak infratentorial,
kebanyakan didapati di samping medial os petrosum di dekat sudut
serebelopontin. Meningioma spinalis mempunyai kecenderungan untuk memilih
tempat di bagian T.4 sampai T.8. Meningioma yang bulat sering menimbulkan
5
penipisan pada tulang tengkorak sedangkan yang gepeng justru menimbulkan
hyperostosis (1).
Meningioma dapat tumbuh di mana saja di sepanjang meningen dan dapat
menimbulkan manifestasi klinis yang sangat bervariasi sesuai dengan bagian otak
yang terganggu. Sekitar 40% meningioma berlokasi di lobus frontalis dan 20%
menimbulkan gejala sindroma lobus frontalis. Sindroma lobus frontalis sendiri
merupakan gejala ketidakmampuan mengatur perilaku seperti impulsif, apati,
disorganisasi, defisit memori dan atensi, disfungsi eksekutif, dan ketidakmampuan
mengatur mood (1).
Dalam makalah ini akan dibahas mengenai meningioma, klasifikasi,
patofisiologi, gambaran klinis, penatalaksanaan, serta diagnosis dan gambaran
radiologi beruapa foto polos, CT scan, MRI, angiografi dan USG sebagai
pemeriksaan penunjang untuk menegakkan diagnosis penyakit meningioma.










6
BAB II
MENINGIOMA

II.1 Definisi dan Klasifikasi
Meningioma adalah tumor pada meninx, yang merupakan selaput
pelindung yang melindungi otak dan medulla spinalis. Di antara sel-sel meningen
itu belum dapat dipastikan sel mana yang membentuk tumor tetapi terdapat
hubungan erat antara tumor ini dengan villi arachnoid. Tumbuhnva meningioma
kebanvakan di tempat ditemukan banyak villi arachnoid. Pada orang dewasa
menempati urutan kedua terbanyak. Dijumpai 50% pada konveksitas dan 40%
pada basis kranii. Selebihnya pada foramen magnum, fosa posterior, dan sistem
ventrikulus.

Meningioma dapat timbul pada tempat manapun di bagian otak
maupun medulla spinalis, tetapi, umumnya terjadi di hemisphere otak di semua
lobusnya (2).
Kebanyakan meningioma bersifat jinak (benign). Meningioma malignant
jarang terjadi. Menigioma merupakan neoplasma intrakranial nomer dua
terbanyak. Lebih sering dijumpai pada wanita daripada pria, terutama pada
golongan umur antara 50-60 tahun dan tetapi tidak tertutup kemungkinan muncul
pada masa kanak-kanak atau pada usia yang lebih lanjut, dan memperlihatkan
kecenderungan untuk ditemukan pada beberapa anggota di satu keluarga. Paling
banyak meningioma tergolong jinak (benign) dan 10 % malignant. Perbandingan
antara wanita dan laki-laki adalah 3 : 2, namun ada pula sumber yang
menyebutkan 7 : 2 (3).
7
Tumor ini mempunyai sifat yang khas yaitu tumbuh lambat dan
mempunyai kecendrungan meningkatnya vaskularisasi tulang yang berdekatan,
hyperostosis tengkorak serta menekan jaringan sekitarnya. Tumor otak yang
tergolong jinak ini secara histopatologis berasal dari sel pembungkus arakhnoid
(arakhnoid cap cells) yang mengalami granulasi dan perubahan bentuk.
Patofisiologi terjadinya meningioma sampai saat ini masih belum jelas. Kaskade
eikosanoid diduga memainkan peranan dalam tumorogenesis dan perkembangan
edema peritumoral (3).
WHO mengembangkan sistem klasifikasi untuk beberapa tumor yang telah
diketahui, termasuk meningioma. Tumor diklasifikasikan melalui tipe sel dan
derajat pada hasil biopsi yang dilihat di bawah mikroskop. Penatalaksanaannya
pun berbeda-beda di tiap derajatnya (4).
a. Grade I
Meningioma tumbuh dengan lambat . Jika tumor tidak menimbulkan
gejala, mungkin pertumbuhannya sangat baik jika diobservasi dengan MRI secara
periodic. Jika tumor semakin berkembang, maka pada akhirnya dapat
menimbulkan gejala, kemudian penatalaksanaan bedah dapat direkomendasikan.
Kebanyakan meningioma grade I diterapi dengan tindakan bedah dan observasi
lanjut.
b. Grade II
Meningioma grade II disebut juga meningioma atypical. Jenis ini tumbuh
lebih cepat dibandingkan dengan grade I dan mempunyai angka kekambuhan
8
yang lebih tinggi juga. Pembedahan adalah penatalaksanaan awal pada tipe ini.
Meningioma grade II biasanya membutuhkan terapi radiasi setelah pembedahan 7.
c. Grade III
Meningioma berkembang dengan sangat agresif dan disebut meningioma
malignant atau meningioma anaplastik. Meningioma malignant terhitung kurang
dari 1 % dari seluruh kejadian meningioma. Pembedahan adalah penatalaksanaan
yang pertama untuk grade III diikuti dengan terapi radiasi. Jika terjadi rekurensi
tumor, dapat dilakukan kemoterapi.
Meningioma juga diklasifikasikan ke dalam subtype berdasarkan lokasi
dari tumor (5):
1. Meningioma falx dan parasagital (25% dari kasus meningioma). Falx adalah
selaput yang terletak antara dua sisi otak yang memisahkan hemisfer kiri dan
kanan. Falx cerebri mengandung pembuluh darah besar. Parasagital
meningioma terdapat di sekitar falx.
2. Meningioma Convexitas (20%). Tipe meningioma ini terdapat pada
permukaan atas otak.
3. Meningioma Sphenoid (20%). Daerah Sphenoidalis berlokasi pada daerah
belakang mata. Banyak terjadi pada wanita.
4. Meningioma Olfactorius (10%). Tipe ini terjadi di sepanjang nervus yang
menghubungkan otak dengan hidung.
5. Meningioma fossa posterior (10%). Tipe ini berkembang di permukaan
bawah bagian belakang otak.
9
6. Meningioma suprasellar (10%). Terjadi di bagian atas sella tursica, sebuah
kotak pada dasar tengkorak dimana terdapat kelenjar pituitary.
7. Spinal meningioma (kurang dari 10%). Banyak terjadi pada wanita yang
berumur antara 40 dan 70 tahun. Akan selalu terjadi pada medulla spinalis
setingkat thorax dan dapat menekan spinal cord. Meningioma spinalis dapat
menyebabkan gejala seperti nyeri radikuler di sekeliling dinding dada,
gangguan kencing, dan nyeri tungkai.
8. Meningioma Intraorbital (kurang dari 10%). Tipe ini berkembang pada atau
di sekitar mata cavum orbita.
9. Meningioma Intraventrikular (2%). Terjadi pada ruangan yang berisi cairan di
seluruh bagian otak.











Gambar 1. Lokasi Umum Meningioma
10
II.2 Etiologi
Para ahli tidak memastikan apa penyebab tumor meningioma, namun
beberapa teori telah diteliti dan sebagian besar menyetujui bahwa kromoson yang
jelek yang meyebabkan timbulnya meningioma. Para peneliti sedang mempelajari
beberapa teori tentang kemungkinan asal usul meningioma. Di antara 40% dan
80% dari meningiomas berisi kromosom 22 yang abnormal pada lokus gen
neurofibromatosis 2 (NF2). NF2 merupakan gen supresor tumor pada 22Q12,
ditemukan tidak aktif pada 40% meningioma sporadik. Pasien dengan NF2 dan
beberapa non-NF2 sindrom familial yang lain dapat berkembang menjadi
meningioma multiple, dan sering terjadi pada usia muda. Disamping itu, deplesi
gen yang lain juga berhubungan dengan pertumbuhan meningioma (6).
Kromosom ini biasanya terlibat dalam menekan pertumbuhan tumor.
Penyebab kelainan ini tidak diketahui. Meningioma juga sering memiliki salinan
tambahan dari platelet diturunkan faktor pertumbuhan (PDGFR) dan epidermis
reseptor faktor pertumbuhan (EGFR) yang mungkin memberikan kontribusi pada
pertumbuhan tumor ini. Sebelumnya radiasi ke kepala, sejarah payudara kanker,
atau neurofibromatosis tipe 2 dapat risiko faktor untuk mengembangkan
meningioma. Multiple meningioma terjadi pada 5% sampai 15% dari pasien,
terutama mereka dengan neurofibromatosis tipe 2. Beberapa meningioma
memiliki reseptor yang berinteraksi dengan hormon seks progesteron, androgen,
dan jarang estrogen. Ekspresi progesteron reseptor dilihat paling sering pada
meningioma yang jinak, baik pada pria dan wanita. Fungsi reseptor ini belum
sepenuhnya dipahami, dan demikian, sering kali menantang bagi dokter untuk
11
menasihati pasien perempuan mereka tentang penggunaan hormon jika mereka
memiliki sejarah suatu meningioma. Meskipun peran tepat hormon dalam
pertumbuhan meningioma belum ditentukan, peneliti telah mengamati bahwa
kadang-kadang mungkin meningioma tumbuh lebih cepat pada saat kehamilan
(6,7)


II.3 Patofisiologi dan Faktor Risiko
Tempat predileksi meningioma adalah di ruang kranium supratentorial
ialah daerah parasagital. Yang terletak di Krista sphenoid, paraselar dan baso-
frontal biasanya gepeng atau kecil bundar. Bilamana meningioma terletak pada
infratentorial, kebanyakan didapati di samping medial os petrosum di dekat sudut
serebelopontin (7,8)
Para ahli tidak memastikan apa penyebab tumor meningioma, namun
beberapa teori telah diteliti dan sebagian besar menyetujui bahwa kromoson yang
jelek yang meyebabkan timbulnya meningioma. Selain itu Meningioma memiliki
reseptor yang berhubungan dengan hormone estrogen, progesterone, dan
androgen, yang juga dihubungkan dengan kaknker payudara. Hal ini dibuktikan
dengan adanya perubahan ukuran tumor pada fase lutheal siklus haid dan
kehamilan. Ekspresi progesteron reseptor dilihat paling sering pada jinak
meningiomas, baik pada pria dan wanita. Fungsi reseptor ini belum sepenuhnya
dipahami, dan demikian, sering kali menantang bagi dokter untuk menasihati
pasien perempuan mereka tentang penggunaan hormon jika mereka memiliki
sejarah suatu meningioma. Meskipun peran tepat hormon dalam pertumbuhan
12
meningioma belum ditentukan, peneliti telah mengamati bahwa kadang-kadang
mungkin meningioma tumbuh lebih cepat pada saat kehamilan (9).
Selain peningkatan usia, faktor lain yang dinilai konsisten berhubungan
dengan risiko terjadinya meningioma yaitu sinar radiasi pengion; factor
lingkungan berupa gaya hidup dan genetik telah dipelajari namunnya perannya
masih dipertanyakan. Faktor lain yang telah diteliti yaitu penggunaan hormone
endogen dan eksogen, penggunaan telepon genggam, dan variasi genetik atau
polimorfisme. Faktor lain yang dinilai berperan adalah keadaan penyakit yang
sudah ada seperti diabetes mellitus, hipertensi, dan epilepsi; pajanan timbale,
pemakaian pewarna rambut; pajanan gelombang micro atau medan magnet,
merokok; trauma kepala; dan alergi (9).

II.4 Manifestasi Klinis dan Diagnosis
Gejala meningioma dapat bersifat umum (disebabkan oleh tekanan tumor
pada otak dan medulla spinalis) atau bisa bersifat khusus (disebabkan oleh
terganggunya fungsi normal dari bagian khusus dari otak). Secara umum,
meningioma tidak bisa didiagnosa pada gejala awal (9).
Gejala umumnya seperti (9): Sakit kepala, dapat berat atau bertambah
buruk saat beraktifitas atau pada pagi hari; Perubahan mental; Kejang; Mual
muntah; Perubahan visus, misalnya pandangan kabur.
Gejala dapat pula spesifik terhadap lokasi tumor (5):
Meningioma falx dan parasagittal : nyeri tungkai

13
Meningioma Convexitas : kejang, sakit kepala, defisit neurologis fokal,
perubahan status mental
Meningioma Sphenoid : kurangnya sensibilitas wajah, gangguan lapangan
pandang, kebutaan, dan penglihatan ganda.
Meningioma Olfactorius : kurangnya kepekaan penciuman, masalah visus.
Meningioma fossa posterior : nyeri tajam pada wajah, mati rasa, dan spasme
otot-otot wajah, berkurangnya pendengaran, gangguan menelan, gangguan
gaya berjalan,
Meningioma suprasellar : pembengkakan diskus optikus, masalah visus
Spinal meningioma : nyeri punggung, nyeri dada dan lengan
Meningioma Intraorbital : penurunan visus, penonjolan bola mata
Meningioma Intraventrikular : perubahan mental, sakit kepala, pusing










Gambar 2. Meningioma
14










Gambar 3. Meningioma










Gambar 4. Meningioma


15










Gambar 5. Meningioma
MR angiografi (scan MRI pembuluh darah) atau arteriogram (X-ray dari
pembuluh darah) dapat digunakan untuk merencanakan embolisasi, prosedur
untuk memblokir pembuluh darah di tumor. Digunakan untuk tumor yang
memiliki suplai darah yang luas, embolisasi dapat membantu untuk mengurangi
perdarahan selama operasi. Jaringan hanya dapat diperoleh melalui biopsi atau
bedah eksisi (10).
Meningioma dapat tumbuh di mana saja di sepanjang meningen dan dapat
menimbulkan manifestasi klinis yang sangat bervariasi sesuai dengan bagian otak
yang terganggu. Sekitar 40% meningioma berlokasi di lobus frontalis dan 20%
menimbulkan gejala sindroma lobus frontalis. Sindroma lobus frontalis sendiri
merupakan gejala ketidakmampuan mengatur perilaku seperti impulsif, apati,
16
disorganisasi, defisit memori dan atensi, disfungsi eksekutif, dan ketidakmampuan
mengatur mood (5).

II.5 Pemeriksaan Penunjang Radiologi
CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling
banyak meningioma. Tanpa kontras gambaran meninioma 75% hiperdens
dan14,4% isodens. Gambaran spesifik dari meninioma berupa enchancement dari
tumor dengan pemberian kontras. Meninioma tampak sebagai masa yang
homogen dengan densitas tinggi, tepi bulat dan tegas. Dapat terlihat juga adanya
hiperostosis kranialis, destruksi tulang, udem otak yang terjadi sekitar tumor, dan
adanya dilatasi ventrikel (9).
Pemeriksaan foto polos kepala sebagai penunjang penyakit meningioma
masih memiliki derajat kepercayaan yang tinggi. Gambaran yang sering terlihat
plak yang hyperostosis, dan bentuk sphenoid , dan pterion (9).
Kalsifikasi tanpa adanya tumor pada foto polos kepala dapat menunjukkan
hasil false-negatif pada meningioma. Banyak pasien dengan meningioma otak
dapat ditegakkan secara langsung dengan menggunakan CT atau MRI (9).
a. Computed Tomography (CT scan)
CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling
banyak meningioma. Tampak gambaran isodense hingga hiperdense pada foto
sebelum kontras, dan gambaran peningkatan densitas yang homogen pada foto
kontras. Tumor juga memberikan gambaran komponen kistik dan kalsifikasi pada
17
beberapa kasus. Udem peritumoral dapat terlihat dengan jelas. Perdarahan dan
cairan intratumoral sampai akumulasi cairan dapat terlihat (11).
CT-scan memiliki kelebihan untuk menggambarkan meningioma. Invasi
sepanjang dura serebri sering muncul akibat provokasi dari respon osteoblas, yang
menyebabkan hyperostosis. Gambaran CT-scan paling baik untuk menunjukkan
kalsifikasi dari meningioma; dapat dilihat pada gambar-gambar berikut. The CT
nature of the calcification may be nodular, fine and punctate, or dense. Penelitian
histologi membuktikan bahwa proses kalsifikasi > 45% adalah meningioma (5).






Gambar 6.
Meningioma otak. CT-scan nonkontras menunjukkan meningioma fossa media. Massa kalsifikasi
melekat pada anterior tulang petrous kanan. Terlihat kalsifikasi berbentuk cincin dan punctata.
Tidak terlihat adanya edema (5).






18






Gambar 7.
Dua kasus berbeda. A, B. CT-scan menunjukkan kalsifikasi meningioma dari lobus parietal. C, D.
CT-scan nonkontras potongan axial menunjukkan massa kalsifikasi yang homogeny melekat pata
tulang parietal kanan. Jaringan lunak tumor banyak terlihat pada bagian posterior. Penyebab
kalsifikasi minor lain pada hemispere serebri kiri disebabkan oleh penyakit parasit. Gambaran
MRI potongan coronal T2 menunjukkan deposit kalsium (seperti bintang) yang dikelilingi jaringan
solid. Pada kasus ini tidak terlihat edema (5).
CT-scan efektif menunjukkan hyperostosis, destruksi tulang, erosi pada perlekatan dura.
Hiperostosis sering terlihat 15-20% pada pasien. Lihat gambar berikut (5).






Gambar 8.
Meningioma otak. Gambaran CT-Scan tanpa zat kontras menunjukkan sebuah meningioma
maligna di lobus frontal yang muncul seperti massa dengan densitas tinggi. Kavitas kistik bisa
berupa nekrosis tumor, perdarahan yang lama, degenaratif kistik atau CSF yang terjebak. Edema
dan pergeseran Midline ke bagian kiri anterior juga dapat terlihat (5).
19






Gambar 9.
Meningioma otak. CT-Scan tanpa kontras menunjukkan meningioma maligna di lobus frontal.
Dapat terlihat peningkatan densitas dan massa yang homogen dan perselubungan yang berbentuk
cincin (5).





Gambar 10.
Meningioma otak. Meningioma maligna pada lobus frontal. CT-scan pada frontal internal cerebri
dan gambaran diploic menunjukkan erosi dan infiltrasi tulang. CT-scan dapat menunjukkan
perdarahan tumor akut dan pelebaran pembuluh darah pada kalvarium (5).
Massa yang homogeny dengan densitas yang sama mengelilingi otak dapat 25-33% adalah
meningioma. Densitas meningioma lebih tinggi disbanding otak. Meningioma dapat menimbulkan
edema yang luas, necrosis dan jarang terjadi perdarahan. Edema tidak terjadi pada 50% pasien
karena pertumbuhan yang lambat, tetapi dapat meluas. Edema lebih dominan terjadi di lapisan
white matter, dan mengakibatkan penurunan densitas. Lihat gambar berikut (5).

20






Gambar 11.
Meningioma otak. CT-scan nonkontras menunjukkan isodensitas sphenoid-wing meningioma.
Fissura Sylvii kiri kolaps sebagian (5).






Gambar 12.
Meningioma Otak. CT-scan menunjukkan meningioma isodensitas spenoid. Massa meningioma
terlihat setelah diberi injeksi zat kontras secara intravena. Zat kontras pada CT-Scan akan
menunjukkan tumor dengan densitas sedang sampai kuat; dapat dilihat pada gambar-gambar
dibawah (5).





21






Gambar 13.
Meningioma Otak. Meningioma pada lobus parietal. CT-scan dengan kontras menunjukkan
lingkaran, peningkatan desitas, dan massa unilobus. Perlekatan massa pada bagian dura serebral,
sehingga adanya terlihat edema yang jelas pada otak (5).






Gambar 14.
Meningioma otak. Meningioma lobus parietal. Injeksi pada arteri meningeal media menunjukkan
adanya perkumpulan tumor. Vaskularisasi yang meningkat dapat di lihat di posterior dari massa.
Vena drainase tidak terlihat.
Periperal kistik dapat mengakibatkan cairan serebrospinal terperangkap yang dapat dilihat pada
gambaran berikut (5).



22






Gambar 15.
Meningioma otak. Tentorium posterior meningioma dengan potongan coronal pada CT-scan
dengan zat kontras. Terdapat massa yang berbatas tegas dengan peningkatan densitas di sepanjang
tentorium. Penumpukan cairan serebrospinal, edema subtle, hemodensitas, dan dilatasi ventrikel.
Komponen-kompenen kistik pada meningioma dapat terlihat di dalam tumor atau antara tumor
dengan jaringan otak, oleh karena itu disebut CSF yang terjebak (5).
b. Magnetic Resonance Imaging (MRI)
MRI merupakan pencitraan yang sangat baik digunakan untuk
mengevaluasi meningioma. MRI memperlihatkan lesi berupa massa, dengan
gejala tergantung pada lokasi tumor berada. Kelebihan MRI dalam memberikan
gambaran meningioma adalah resolusi 3 dimensi. Kemampuan MRI untuk
membedakan tipe dari jaringan ikat, kemampuan multiplanar, dan rekonstruksi
3D. Dapat dilihat pada gambar berikut (11).





23






Gambar 16.
Meningioma Parasagital. A. MRI nonkontras potongan sagital T1 menunjukkan massa dural yang
padat dengan invasi dan kompresi terhadap korteks parietal. B. MRI dengan zat kontras potongan
sagittal T1 menunujukkan perlekatan sebagian tumor. C. Potongan Koronal T2 menunjukkan
massa padat yang menunjukkan jaringan padat. Gambaran ini menunjukkan meningioma
fibroblastik. D. MRI potongan axial T1 dengan zat kontras menujukkan hiperintensitas yanr
terletak di sumsum tulang (11).



Gambar 17.
A. Nonkontras angio-MRI lateral menunjukkan oklusi sinus sagital ssuperior akibat invasi oleh
meningioma. B. MRI rekonstruksi menunjukkan obstruksi vena-venas sagital dan memperlihatkan
tumor dalam 3D (11).
MRI dapat memperlihatkan vaskularisasi tumor, pembesaran arteri, dan invasi sinus venos, dan
hubungan antara tumor dengan dengan sekeliilingnya.Kelebihan lain dapat melihat area juxtasellar
dan fossa posterior dan kadang dapat menunjukkan hubungan penyebaran penyakit melalui CSF.
Kemampuan multiplanar adalah kemampuan untuk memvisualisasikan kontak tumor dengan
meningen, kapsul tumor, dan kontras pada meningeal dapat memperjelas tumor. Dapat dilihat pada
gambar berikut (12,13,14).
24






Gambar 18.
Meningioma otak. MRI nonkontras menunjukkan meningioma parasagital. Gambaran homogen
menunjukkan massa yang bulat dengan kapsul tipis. Tumor terletak pada dura sagitalis kiri. Massa
tampak mendorong trigonum ventrikel (11).






Gambar 19.
Meningioma otak. MRI nonkontras potongan axial menunjukkan paarasagital meningioma.
Gambar T1 menunjukkan homogenitas, panjang T1 dan massa dilapisi kapsul. Tumor melekat
pada falx serebri bagian kiri. Massa terlihat disepanjang girus serebri (11).





25





Gambar 20.
Meningioma multiple: A. Sagittal T1 menunjukkan fossa posterior dan meningioma parietal. B
Gadolinium pada Sagittal T1 menunjukkan pengkontrasan massa. C. T2 coronal menunjukkan
penampilan intensitas rendah dari massa posterior setelah embolisasi endovaskular (11).






Gambar 21.
Maligna dan multiple meningioma. Seorang lelaki kulit putih, 47 tahun dibedah dengan Gamma
Knife karena meningioma conveks, diikuti dengan pembedahan micro untuk mengangkat tumor
pada tahun 2001. A, B. 4 tahun yang lalu -Desember 2005- MRI menunjukkan sebuah massa sisa
di paretal dan occipital. Sinus sigmoid kiri tersumbat. C, D. Sebuah meningioma kecil pada frontal
kanan juga dioperasi radiologi pada waktu yang sama. Edema dan peningkatan intensitas setelah
injeksi gadolinium (11).
c. Ultrasonografi (USG)
Ultrasonografi dapat memberikan gambaran lokasi dari intratumoral
hemorrhage, perubahan kista yang terdapat di bagian dalam dan luar massa tumor,
26
kalsifikasi, invasi parenkim oleh meningioma malignan, dan massa lobus atau
multi lobules yang hanya dapat digambarkan dengan ultrasonografi (15).
d. Angiografi
Umumnya meningioma merupakan tumor vascular. Dan dapat
menimbulkan gambaran spoke wheel appearance. Selanjutnya arteri dan kapiler
memperlihatkan gambaran vascular yang homogen dan prominen yang disebut
dengan mother and law phenomenon (15).
Magnetic resonance angiography (MRA and MRV) merupakan
pemeriksaan penunjang yang berkembang dari ilmu angiografi klasik, yang
belakangan ini merupakan alat diagnostik yang kuat untuk mengetahui embolisasi
dan perencanaan untuk operasi. Agiografi masih bisa digunakan jika terjadi
embolisasi akibat tumor (15).
Meningioma mendapat asupan makanan oleh meningeal branches dari
arteri carotid internal dan external. Basal meningiomas pada anterior dan fossa
cranial media dan meningioma pada tulang sphenoid umumnya mendapat
vaskularisasi dari arteri carotid interna. Meningioma supratentorial
divaskularisasikan dari arteri carotid interna dan eksternal (15).
Angiografi dapat menunjukkan peta distribusi arterial yang berguna untuk
persiapan preoperasi embolisasi. Lihat gambar berikut (15).




27






Gambar 22.
Meningioma Otak. Parasellar meningioma. Angiograpi proyeksi lateral dari arteri carotid
menunjukkan mutipel tumor yang opak dengan dikelilingi pembuluh darah. Terlihat carotid
supraclinoid sirkumferensial (15).

II.6 Penatalaksanaan
Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan
pertama. Beberapa faktor yang mempengaruhi operasi removal massa tumor ini
antara lain lokasi tumor, ukuran dan konsistensi, vaskularisasi dan pengaruh
terhadap sel saraf, dan pada kasus rekurensi, riwayat operasi sebelumnya dan atau
radioterapi. Lebih jauh lagi, rencana operasi dan tujuannya berubah berdasarkan
faktor resiko, pola, dan rekurensi tumor. Tindakan operasi tidak hanya
mengangkat seluruh tumor tetapi juga termasuk dura, jaringan lunak, dan tulang
untuk menurunkan kejadian rekurensi (16).
Pengobatan standar untuk pasien dengan meningioma atipikal atau
anaplastik adalah reseksi bedah saraf. Dengan pendekatan ini, kontrol lokal
berkisar antara 50% dan 70%, tergantung pada status reseksi. Sebuah seri atau
studi lebih kecil telah menunjukkan bahwa radioterapi pasca operasi pada
28
populasi pasien ini dapat meningkatkan harapan hidup, yang diterjemahkan ke
dalam kelangsungan hidup secara keseluruhan. Namun, meningioma dikenal
sebagai tumor radioresisten, dan radiasi dosis 60 Gy atau lebih tinggi telah
ditunjukkan diperlukan untuk kontrol tumor (17).
Rekomendasi WHO untuk Meningioma Grade I (18):
1. Pembedahan adalah pengobatan utama untuk pasien yang bukan kandidat
untuk elektif. Reseksi tumor lengkap dikaitkan dengan tingginya tingkat
harapan hidup bebas penyakit.
2. Radioterapi dapat dipertimbangkan dalam kasus lokasi tumor tidak mungkin
untuk dioperasi (seperti sinus cavernous meningioma), tumor yang tidak
dapat direseksi, gejala penyakit sisa, atau tumor berulang. Diagnosis radiologi
mungkin cukup dalam kasus ini.
Rekomendasi WHO untuk Meningioma Grade II dan III (18):
3. Pengobatan standar operasi ditambah radioterapi. Radioterapi biasanya
diberikan dengan dosis 54-60 Gy, dalam 1,8-2,0 Gy per fraksi.
4. Pasien dengan tumor selektif mungkin menjadi kandidat untuk radiosurgery
stereotactic.
5. Terapi sistemik lainnya dapat dipertimbangkan untuk tumor yang tidak dapat
direseksi atau berulang dalam sebuah uji klinis.
Rencana Preoperatif
Pada pasien dengan meningioma supratentorial, pemberian antikonvulsan
dapat segera diberikan, deksametason diberikan dan dilindungi pemberian H2
antagonis beberapa hari sebelum operasi dilaksanakan. Pemberian antibiotik
29
perioperatif digunakan sebagai profilaksis pada semua pasien untuk organisme
stafilokokkus, dan pemberian cephalosporin generasi III yang memiliki aktifitas
terhadap organisem pseudomonas, serta pemberian metronidazol (untuk
organisme anaerob) ditambahkan apabila operasi direncanakan dengan
pendekatan melalui mulut, sinus paranasal, telinga, atau mastoid (13).
Klasifikasi Simptom dari ukuran reseksi pada meningioma intracranial

(13):
Grade I : Reseksi total tumor, perlekatan dural dan tulang abnormal
Grade II : Reseksi total tumor, koagulasi dari perlekatan dura
Grade III : Reseksi total tumor, tanpa reseksi atau koagulasi dari perlekatan
dura atau mungkin perluasan ekstradural (misalnya sinus yang terserang atau
tulang yang hiperostotik)
Grade IV : Reseksi parsial tumor
Grade V : Dekompresi sederhana (biopsy)

II.7 Radioterapi
Radiasi memiliki peran yang sangat penting dalam pembentukan
meningioma. Sekitar 4% dari semua meningioma diinduksi radiasi. Menariknya,
ini biasanya tidak disertai dengan mutasi gen NF2. Sering tumor ini berasal dari
pinggiran lapangan terpancar. Bukti untuk radiasi yang berasal dari setidaknya
empat sumber (19):
30
1. Korban tumor yang telah menerima radiasi pada mata atau leher memiliki
insiden yang signifikan pembentukan meningioma di situs tersebut 20 tahun
kemudian.
2. Sebuah studi kohort pada pasien yang diikuti di Israel yang memiliki medan
radiasi rendah untuk kurap kulit kepala telah mengembangkan beberapa
meningioma 20 dan 30 tahun kemudian.
3. Korban di pinggiran ledakan bom atom menjadi menderita meningioma
sebagai efek radiasi tertunda bertahun-tahun kemudian.
4. Bukti epidemiologis menunjukkan bahwa mulut penuh gigi yang di x-ray
yang dihubungkan dengan insiden lebih besar untuk meningioma.
Ada kebutuhan untuk bekerja yang lebih tepat pada efek dari radiasi pada
pembentukan meningioma (19).
Penggunaan external beam irradiation pada meningioma semakin banyak
dipakai untuk terapi. External beam irradiation dengan 4500-6000 cGy
dilaporkan efektif untuk melanjutkan terapi operasi meningioma reseksi subtotal,
kasus-kasus rekurensi baik yang didahului dengan operasi sebelumnya ataupun
tidak. Pada kasus meningioma yang tidak dapat dioperasi karena lokasi yang sulit,
keadaan pasien yang buruk, atau pada pasien yang menolak dilakukan operasi,
external beam irradiation masih belum menunjukkan keefektifitasannya. Teori
terakhir menyatakan terapi external beam irradiation tampaknya akan efektif pada
kasus meningioma yang agresif (atyppical, malignan), tetapi informasi yang
mendukung teori ini belum banyak dikemukakan (13).
31
Efektifitas dosis yang lebih tinggi dari radioterapi harus dengan
pertimbangan komplikasi yang ditimbulkan terutama pada meningioma. Saraf
optikus sangat rentan mengalami kerusakan akibat radioterapi. Komplikasi lain
yang dapat ditimbulkan berupa insufisiensi pituitari ataupun nekrosis akibat
radioterapi (13).
Radiasi Stereotaktik
Terapi radiasi tumor menggunakan stereotaktik pertama kali diperkenalkan
pada tahun 1960an menggunakan alat Harvard proton beam. Setelah itu
penggunaan stereotaktik radioterapi ini semakin banyak dilakukan untuk
meningioma. Sumber energi yang digunakan didapat melalui teknik yang
bervariasi, yang paling sering digunakan adalah sinar foton yang berasal dari Co
gamma (gamma knife) atau linear accelerators (LINAC) dan partikel berat
(proton, ion helium) dari cyclotrons. Semua teknik radioterapi dengan stereotaktik
ini dapat mengurangi komplikasi, terutama pada lesi dengan diameter kurang dari
2,5 cm. Steiner dan koleganya menganalisa pasien meningioma yang diterapi
dengan gamma knife dan diobservasi selama 5 tahun. Mereka menemukan sekitar
88% pertumbuhan tumor ternyata dapat dikontrol. Kondziolka dan kawan-kawan
memperhitungkan pengontrolan pertumbuhan tumor dalam 2 tahun pada 96 %
kasus. Baru-baru ini peneliti yang sama melakukan studi dengan sampel 99 pasien
yang diikuti selama 5 hingga 10 tahun dan didapatkan pengontrolan pertumbuhan
tumor sekitar 93 % kasus dengan 61 % massa tumor mengecil. Kejadian defisit
neurologis baru pada pasien yang diterapi dengan stereotaktik tersebut
kejadiannya sekitar 5 % (13).
32
Kemoterapi
Modalitas kemoterapi dengan regimen antineoplasma masih belum banyak
diketahui efikasinya untuk terapi meningioma jinak maupun maligna. Kemoterapi
sebagai terapi ajuvan untuk rekuren meningioma atipikal atau jinak baru sedikit
sekali diaplikasikan pada pasien, tetapi terapi menggunakan regimen kemoterapi
(baik intravena atau intraarterial cis-platinum, decarbazine (DTIC) dan
adriamycin) menunjukkan hasil yang kurang memuaskan (DeMonte dan Yung),
walaupun regimen tersebut efektifitasnya sangat baik pada tumor jaringan lunak.
Laporan dari Chamberlin pemberian terapi kombinasi menggunakan
cyclophosphamide, adriamycin, dan vincristine dapat memperbaiki angka harapan
hidup dengan rata-rata sekitar 5,3 tahun. Pemberian obat kemoterapi lain seperti
hydroxyurea sedang dalam penelitian. Pertumbuhan sel pada meningioma
dihambat pada fase S dari siklus sel dan menginduksi apoptosis dari beberapa sel
dengan pemberian hydroxyurea. Dan dilaporkan pada satu kasus pemberian
hydroxyurea ini memberikan efek pada pasien-pasien dengan rekurensi dan
meningioma yang tidak dapat direseksi. Pemberian Alfainterferon dilaporkan
dapat memperpanjang waktu terjadinya rekurensi pada kasus meningioma yang
agresif. Dilaporkan juga terapi ini kurang menimbulkon toksisitas dibanding
pemberian dengan kemoterapi (13).
Pemberian hormon antogonis mitogen telah juga dilakukan pada kasus
dengan meningioma. Preparat yang dipakai biasanya tamoxifen (anti estrogen)
dan mifepristone (anti progesteron). Tamoxifen (40 mg/m2 2 kali/hari selama 4
hari dan dilanjutkan 10 mg 2 kali/hari) telah digunakan oleh kelompok onkolologi
33
Southwest pada 19 pasien dengan meningioma yang sulit dilakukan reseksi dan
refrakter. Terdapat pertumbuhan tumor pada 10 pasien, stabilisasi sementara
pertumbuhan tumor pada 6 pasien, dan respon minimal atau parsial pada tiga
pasien (13).
Pada dua studi terpisah dilakukan pemberian mifepristone (RU486) 200
mg perhari selama 2 hingga 31 bulan. Pada studi yang pertama didapatkan 5 dari
14 pasien menunjukkan perbaikan secara objektif yaitu sedikit pengurangan massa
tumor pada empat pasien dan satu pasien gangguan lapang pandangnya membaik
walaupun tidak terdapat pengurangan massa tumor; terdapat pertumbuhan ulang
pada salah satu pasien tersebut. Pada studi yang kedua dari kelompok Netherlands
dengan jumlah pasien 10 orang menunjukkan pertumbuhan tumor berlanjut pada
empat pasien, stabil pada tiga pasien, dan pengurangan ukuran yang minimal pada
tiga pasien. Tiga jenis obat tersebut sedang dilakukan penelitian dengan jumlah
sampel yang lebih besar pada meningioma tetapi sampai sekarang belum ada
terapi yang menjadi prosedur tetap untuk terapi pada tumor ini (13).

II.8 Prognosis
Pada umumnya prognosa meningioma adalah baik, karena pengangkatan
tumor yang sempurna akan memberikan penyembuhan yang permanen. Pada
orang dewasa survivalnya relatif lebih tinggi dibandingkan pada anak-anak,
dilaporkan survival rate lima tahun adalah 75%. Pada anak-anak lebih agresif,
perubahan menjadi keganasan lebih besar dan tumor dapat menjadi sangat besar.
34
Pada penyelidikan pengarang-pengarang barat lebih dari 10% meningioma akan
mengalami keganasan dan kekambuhannya tinggi (14).

Untuk tumor ini, teknik bedah dan pendekatan mungkin memerlukan
reevaluasi, dan pengobatan alternatif atau terapi multimodal memerlukan
investigasi lebih lanjut (20).
Sejak 20 tahun lalu meningioma dipandang sebagai tumor jinak, dan bila
letaknya mudah dapat diangkat seluruhnya. Degenerasi keganasan tampak bila
ada invasi dan kerusakan tulang tumor tidak berkapsul pada saat operasi invasi
pada jaringan otak. Angka kematian (mortalitas) meningioma sebelum operasi
jarang dilaporkan, dengan kemajuan teknik dan pengalaman operasi para ahli
bedah maka angka kematian post operasi makin kecil. Diperkirakan angka
kematian post operasi selama lima tahun (19421946) adalah 7,9% dan (1957
1966) adalah8,5%. Sebab-sebab kematian menurut laporan-laporan yang
terdahulu yaitu perdarahan dan edema otak (14).










35
BAB III
PENUTUP

Simpulan
Meningioma adalah tumor pada meninx, yang merupakan selaput
pelindung yang melindungi otak dan medulla spinalis. Tumbuhnva meningioma
kebanvakan di tempat ditemukan banyak villi arachnoid.
Selain peningkatan usia, faktor lain yang dinilai konsisten berhubungan
dengan risiko terjadinya meningioma yaitu sinar radiasi pengion; factor
lingkungan berupa gaya hidup dan genetik telah dipelajari namunnya perannya
masih dipertanyakan. Faktor lain yang telah diteliti yaitu penggunaan hormone
endogen dan eksogen, penggunaan telepon genggam, dan variasi genetik atau
polimorfisme.
CT-scan kontras dan CT-scan tanpa kontras memperlihatkan paling
banyak meningioma. Gambaran spesifik dari meninioma berupa enchancement
dari tumor dengan pemberian kontras. Meninioma tampak sebagai masa yang
homogen dengan densitas tinggi, tepi bulat dan tegas. Dapat terlihat juga adanya
hiperostosis kranialis, destruksi tulang, udem otak yang terjadi sekitar tumor, dan
adanya dilatasi ventrikel.
Terapi meningioma masih menempatkan reseksi operatif sebagai pilihan
pertama. Tindakan operasi tidak hanya mengangkat seluruh tumor tetapi juga
termasuk dura, jaringan lunak, dan tulang untuk menurunkan kejadian rekurensi.

36
DAFTAR PUSTAKA

1. Mardjono M, Sidharta P. Dalam: Neurologi klinis dasar. Jakarta: Fakultas
Kedokteran Universtas Indonesia, 2003; Hal 393-4.

2. Harsono. Tumor Otak. Dalam : Buku Ajar Neurologi Klinis Edisi pertama.
Yogyakarta: UGM Press, 1999; 201-201.

3. Wonoyudo, Tri Astuti. Peran CT Scan Pada Diagnosis Tumor Otak. Cermin
Dunia Kedokteran, 1992;77:12-18.

4. Markam, Soemarmo. Tumor Serebri, Dalam: Neurologi Praktis. Jakarta:
Widya Medika, 2002; Hal.137-47.

5. Anonymous. Meningioma. Tanpa Tahun; (online), (http://www.cancer.net,
diakses tanggal 25 November 2011).

6. Anonymous. Patogenesis, Histopatologi, dan Klasifikasi Meningioma. Tanpa
Tahun; (online),
(http://www.neuroonkologi.com/articles/Patogenesis,%20histopatologi%20da
n%20klasifikasi%20meningioma.doc, diakses tanggal 25 November 2011).

7. Anonymous. Focusing on Tumor Meningioma. Tanpa Tahun; (online),
(http://www.abta.org/meningioma.pdf, diakses tanggal 25 November 2011).

8. Luhulima JW. Menings. Dalam: Anatomi susunan saraf pusat. Makassar:
Bagian Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Hasanuddin, 2003.

9. Anonymous. Image of Meninx. Tanpa Tahun; (online), (http://www.
American Society of Oncology, diakses tanggal 25 November 2011).

10. Anonymous. Focusing in Tumor: Meningioma. American Brain Tumor
Association 2006;4:1-12.

11. Fyann E, Khan N, Ojo A. Meningioma. In: SA Journal of Article Radiology.
SA: Medical University of Southern Africa,2004:3-5.

12. Anonymous. Meningioma. Tanpa Tahun; (online),
(http://www.meddean.luc.edu/Lumen/meded/radio/curriculum/N/Meningiom
a1.htm, diakses tanggal 25 November 2011).

13. Anonymous. Manajemen Meningioma. Tanpa Tahun; (online),
(http://www.google.com, diakses tanggal 25 November 2011).

37
14. Widjaja D. Meningioma Intracranial. Tanpa Tahun; (online),
(http://www.portalkalbe.co.id/files/cdk/files/09MeningiomaIntrakranial016.p
df/09MeningiomaIntrakranial016.html, diakses tanggal 25 November 2011).

15. Anonymous. Neuroradiology Imaging Teaching Files Case Thirty Six-
Meningioma. Tanpa Tahun; (online),
(http://www.uhrad.com/mriarc/mri036.htm, diakses tanggal 25 November
2011).

16. Riadi, Djoko. Terapi Pembedahan Tumor Otak. Cermin Dunia Kedokteran,
1992;77:30-32.

17. Stephanie E Combs, Lutz Edler, Iris Burkholder, et al. Treatment of patients
with atypical meningiomas Simpson grade 4 and 5 with a carbon ion boost in
combination with postoperative photon radiotherapy: The MARCIE Trial.
BMC Cancer,2010;10(615):1471-2407.

18. Anonymous. Meningiomas. Clinical Practice Guideline CNS-005,2009.

19. Peter Black, M.D., Ph.D., Andrew Morokoff, M.D., Ph.D., Jacob Zauberman,
M.D., et.al. Meningiomas: Science and Surgery. Clinical Neurosurgery,
2007;54:91-99.

20. P. Filippo Adamo, Lisa Forrest, Richard Dubielzig. Canine and Feline
Meningiomas: Diagnosis,Treatment, and Prognosis. Compendium,
2004;4:951-966.