Anda di halaman 1dari 5

Wood Pellet sebagai Sumber Energi untuk Pemecahan Krisis Listrik di Indonesia

Oleh: Fajar Sidiq


13011031 Program Studi Teknik Kimia
Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Bandung

Indonesia merupakan Negara dengan keanekaragaman hayati yang menempati posisi kedua terbesar di
dunia [1]. Potensi yang besar ini belum dapat dimanfaatkan dengan baik dalam rangka pengolahan sumber
daya hayati menjadi produk akhir, contohnya adalah energi. Kecenderungan dunia saat ini beralih dari energi
berbasis fosil menuju energi berbasis sumber daya hayati [2]. Beberapa dasar ini dapat dijadikan kesempatan
Indonesia untuk melakukan lompatan dalam penggunaan biomassa atau sumber daya hayati menjadi sumber
energi nasional. Sumber energi berbasis biomassa ini juga memiliki kelebihan pada dampak terhadap
lingkungan yang baik.
Wood pellet merupakan salah satu contoh penggunaan sumber daya hayati untuk energi, lebih tepatnya
sebagai bahan bakar boiler untuk pembangkit tenaga listrik [3]. Wood pellet adalah energi biomassa yang
berasal dari proses pemadatan atau densifikasi kayu, sehingga memiliki densitas yang lebih tinggi dari bahan
bakunya [4]. Bahan baku wood pellet yang biasa digunakan adalah sisa industri pengolahan kayu yang dapat
berbentuk serpihan kayu (wood chips) dan serutan kayu (wood mill). Sumber bahan baku tersebut cukup
melimpah di Indonesia, karena limbah dari industri pengolahan kayu memiliki persentase sebesar 50,8% dari
bahan baku [7].
Penggunaan wood pellet di dunia sudah sangat besar, khususnya di daerah Amerika Utara kebutuhan per
tahun mencapai 650.000 ton per tahun [5]. Di Eropa penggunaan wood pellet juga menunjukkan angka yang
tinggi, tetapi wood pellet yang digunakan sebagian besar berasal dari Negara di bagian Utara Amerika, yaitu
Kanada [6]. Berbagai negara di dunia memiliki ketertarikan untuk berinvestasi pada industri wood pellet di
Indonesia. Salah satu negara di Asia yang sangat antusias adalah Korea Selatan. Pemerintah Korea Selatan
memiliki pusat penelitian wood pellet di daerah Wonosobo, Jawa Tengah. Permintaan wood pellet sangat
besar dan kebutuhannya diperkirakan mencapai 5.000.000 ton per tahun untuk Korea Selatan pada tahun 2020.
Pada penggunaannya sebagai bahan bakar boiler, karakterisitik wood pellet yang paling penting adalah
nilai kalor bakar (heating value). Nilai kalor bakar untuk wood pellet tergantung pada bahan baku yang
digunakan, perbedaan bahan baku dapat dipisahkan antara kayu keras (hardwood) dan kayu lunak (softwood).
Kayu yang berasal dari daerah tropis memiliki nilai kalor bakar yang lebih tinggi dibandingkan dengan daerah
lain bila sudah diolah menjadi wood pellet [8]. Nilai kalor bakar dari wood pellet berada pada rentang 10-20
GJ/ton [9]. Nilai kalor bakar ini rata-rata hampir sama dengan bahan bakar padat lainnya, yaitu batu bara. Jadi,
dapat dikatakan secara kebutuhan energi, wood pellet dapat digunakan sebagai bahan bakar boiler seperti batu
bara.
Pada essai ini akan dibahas mengenai kelayakan penerapan wood pellet sebagai sumber energi yang
meliputi tiga aspek, yaitu ekonomi, lingkungan, dan operasional. Ketiga aspek ini memiliki peran penting
untuk menilai apakah wood pellet ini dapat dikategorikan sebagai salah satu sumber energi terbarukan yang
dapat dijadikan ujung tombak pemecahan krisis energi di Indonesia. Krisis energi di Indonesia yang mampu
diseleseikan dengan adanya wood pellet sebagai sumber energi adalah energi listrik. Saat ini Pemerintah
Indonesia hanya mampu memenuhi 75% kebutuhan energi listrik masyarakat Indonesia [10].
Perbandingan perhitungan ekonomis proses produksi wood pellet dilakukan sesuai dengan [12],
merupakan perhitungan berdasarkan kondisi di Indonesia dengan [11], perhitungan berdasarkan kondisi di luar
negeri. Perbedaan signifikan ditunjukkan pada biaya yang dikeluarkan untuk upah pekerja. Upah pekerja pada
[12] sebesar 3,7% sedangkan pada [11] sebesar 25,2% dari Harga Pokok Produksi. Hal ini bisa dimaklumi,
karena biaya untuk upah pekerja di Indonesia cukup rendah bila dibandingkan dengan Negara Maju, dimana
Indonesia masih dikatakan sebagai Negara Berkembang. Hal ini dapat menjadi salah satu kelebihan untuk
Indonesia sebagai tempat untuk melaksanakan produksi wood pellet.
Pembengkakan biaya di Indonesia akan terjadi pada biaya untuk operasional mesin. Persentase yang
cukup besar (36,7% dari Harga Pokok Prouksi) pada biaya untuk operasional mesin di Indonesia dikarenakan
penggunaan sumber listrik yang berasal dari genset pabrik. Pada penggunaan untuk industri wood pellet,
energi listrik sebaiknya didapatkan dari listrik yang disuplai oleh Perusahaan Listrik Negara atau PLN.
Penghematan dengan menggunakan listrik dari PLN dapat mereduksi biaya produksi yang dibutuhkan.
Kebutuhan diesel sebesar 72 liter per jam, bisa dikonversi menjadi kebutuhan listrik sebesar 388.8 kWh. Maka
kebutuhan untuk operasional pada [12] bisa berkurang dari Rp 280.000,00 menjadi Rp 155.520 per ton wood
pellet, dengan asumsi tarif dasar listrik Rp 1.200 per kWh dan faktor konversi 5.4 kWh per liter solar.
Faktor lain yang memengaruhi biaya produksi wood pellet [12] lebih tinggi dibandingkan dengan [11]
merupakan faktor kapasitas pabrik. Kapasitas pabrik [12] sebesar 3 ton wood pellet per jam, sedangkan pabrik
[11] sebesar 6 ton wood pellet per jam. Sesuai dengan [11], meningkatnya kapasitas pabrik wood pellet dapat
mengurangi biaya produksi. Pada pemilihan kapasitas produksi pabrik ini juga harus memerhatikan
permintaan pasar terhadap wood pellet dan ketersediaan bahan baku.
Permasalahan terbesar dari bahan baku yang berupa limbah industri kayu adalah jumlah dan waktu
keberadaannya. Apabila wood pellet akan dijadikan ujung tombak dalam pemenuhan energi listrik di
Indonesia, maka akan dibutuhkan jumlah kayu sebanyak 17,5 juta ton per tahun, sesuai dengan perhitungan
pada [6]. Jumlah kayu tersebut dapat untuk memenuhi kebutuhan listrik Indonesia, sebesar 15.709 kWh atau
25% kebutuhan listrik nasional [10]. Jumlah yang sangat besar ini tidak dapat dipenuhi dari limbah industri
pengolah kayu saja yang jumlahnya hanya sebesar 300.000 ton per tahun [7].
Kebutuhan bahan baku untuk produksi wood pellet yang cukup besar itu dapat dipenuhi dari
Hutan Tanaman Industri (HTI), seperti yang digunakan oleh Industri pulp. Permasalahan dalam menggunakan
bahan baku yang berasal dari Hutan Tanaman Industri adalah persaingan harga beli dengan industri pulp. Pada
umumnya industri pulp membeli kayu untuk bahan baku sebesar Rp 300.000 per ton, sedangkan untuk industri
wood pellet hanya sebesar Rp 225.000 per ton [13]. Penggunaan Hutan Tanaman Industri sudah diterapkan di
daerah Bangkalan, Madura untuk mendukung Industri Wood pellet. Hingga saat ini, proses tahapan
pembangunan pabrik wood pellet masih dalam tahap konstruksi untuk mesin produksi wood pellet [14].
Perbandingan harga wood pellet dengan harga batu bara sebagai sumber energi untuk boiler di Indonesia
menunjukkan harga masing-masing, yaitu Rp 980.000 per ton [12] dan Rp 820.000 (batu bara kualitas terbaik)
[15]. Penggunaan wood pellet di Indonesia untuk pembangkit tenaga listrik dapat dikatakan masih memiliki
kekurangan jika dipandang dari persyaratan harga bahan baku. Kekurangan ini dapat diringankan dengan
bantuan kebijakan pemerintah antara lain feed in tariff untuk industri wood pellet dan pemberian pajak bagi
industri yang menghasilkan emisi yang berat. Salah satu contoh pemberlakuan pajak untuk penanggunalangan
pencemaran lingkungan adalah carbon tax, sehingga penggunaan energi tak terbarukan seperti batu bara akan
menurun. Pemberian subsidi untuk produksi wood pellet dapat dilakukan dengan mempermudah akses bahan
baku, seperti pemberian subsidi untuk Hutan Tanaman Industri Energi (HTIE). Peraturan-peraturan seperti ini
hingga saat ini belum diterapkan di Indonesia.
Harga wood pellet yang masih lebih tinggi jika dibandingkan dengan batu bara di Indonesia, membuat
para pelaku usaha wood pellet di Indonesia tidak dapat menjual pada pasar domestik. Menurut [12], sebagian
besar perusahaan produsen wood pellet mengekspor wood pellet ke berbagai negara di Eropa dan Asia. Pada
tahun 2013, terdapat banyak produsen wood pellet di Indonesia yang tersebar di daerah Jawa, sebanyak 8
pabrik, Sumatera sebanyak 1 pabrik, dan Papua sebanyak 1 pabrik [16]. Salah satu negara yang memiliki
fokus pada pengembangan wood pellet sebagai bahan bakar untuk pembangkit tenaga listrik adalah Korea
Selatan. Fokus pembahasan terkait ekspor wood pellet pada essai ini, yaitu ekspor wood pellet ke Korea
Selatan. Jarak rata-rata antara berbagai pelabuhan di Indonesia dengan berbagai pelabuhan di Korea Selatan,
dapat diasumsikan dengan jarak antara ibukota masing-masing Negara, yaitu 5.290 km [17].
Energi biomassa wood pellet memiliki kekurangan pada emisi besar yang dihasilkan pada proses
produksi dan transportasi laut. Wood pellet, sebagai sumber energi baru terbarukan tidak dapat dipungkiri
memang memiliki kelebihan dalam faktor emisi ketika digunakan sebagai sumber bahan bakar pembangkit
tenaga listrik. Hasil pengolahan data dengan variabel yang terdapat di Indonesia menggunakan langkah
perhitungan seperti pada [5], menunjukkan hasil bahwa faktor emisi keseluruhan terbesar dimiliki oleh tahap
transportasi laut. Tahap transportasi laut memang memiliki batas emisi yang diizinkan untuk SO
x
, NO
x
, dan
PM lebih tinggi dari seluruh jenis transportasi [5]. Hal ini membuat transportasi laut tetap dipilih menjadi
salah satu sarana untuk para pelaku usaha dalam melakukan transaksi energi biomassa. Tahap transportasi
darat pada bahasan kali ini memiliki faktor emisi yang paling rendah, karena jarak tempuh untuk transportasi
darat pabrik wood pellet yang berada di Indonesia sangat pendek, sehingga dapat dikatakan baik dari faktor
emisinya. Tahap produksi wood pellet memiliki faktor emisi yang cukup tinggi, karena pada proses produksi
wood pellet di Indonesia menggunakan bahan bakar minyak yang berasal dari fosil, yaitu bahan bakar solar.
Hal ini menyebabkan proses produksi wood pellet di Indonesia dapat dinilai masih belum memiliki faktor
emisi yang baik.
Perkembangan wood pellet di Indonesia memang masih sebatas penyedia wood pellet sebagai energi
biomassa yang ramah lingkungan. Beberapa penilaian tentang transportasi laut wood pellet serta emisi wood
pellet pada pembangkit tenaga listrik dapat menjadi dasar untuk melakukan pengembangan pada sektor hilir
dari wood pellet. Sehingga akan didapatkan energi listrik yang dapat memperbaiki kekurangan listrik di
Indonesia. Dalam pengembangan wood pellet di Indonesia diperlukan juga perbaikan pada sistem produksi
wood pellet yang berada di Indonesia dengan menggunakan energi baru terbarukan sebagai bahan bakar untuk
produksi wood pellet.
Proses Produksi wood pellet merupakan tahapan yang dapat mengkonsumsi energi lebih besar bila
dibandingkan dengan tahapan tranportasi darat maupun transportasi laut [5]. Tahapan produksi wood pellet
meliputi 3 tahapan utama yaitu, pengeringan, penggilingan (grinding), dan densifikasi (pelleting) [11]. Proses
atau tahapan produksi wood pellet yang memiliki konsumsi energi terbesar merupakan tahap pengeringan [5].
Pada tahap ini dibutuhkan energi panas untuk pengeringan bahan baku. Di Indonesia, pabrik wood pellet pada
umumnya menggunakan boiler dengan bahan bakar diesel untuk melakukan proses pengeringan [12].
Kebutuhan energi yang paling besar dibandingkan tahap lain, membuat proses ini juga membutuhkan biaya
operasional yang paling tinggi dibandingkan proses lain. Perhatian lebih pada proses pengeringan perlu
dilakukan terkait dengan kebutuhan energi. Menurut [6], pabrik wood pellet seharusnya sudah terintegrasi
dengan pembangkit tenaga listrik bertenaga wood pellet. Hal ini perlu dilakukan, karena pada pembangkit
tenaga listrik 75% energi dari biomassa akan terkonversi menjadi energi panas, sisanya 25% yang akan
menjadi energi listrik [6].
Pemanfaatan panas dari sisa pembakaran wood pellet tersebut dapat digunakan untuk proses pengeringan
dengan menggunakan bantuan alat economizer atau co-generation. Selain itu pada pembahasan di atas juga
dijelaskan bahwa faktor emisi gas CO proses produksi wood pellet yang cukup besar dapat dikurangi dengan
menggunakan proses ini. Faktor emisi yang cukup tinggi pada proses pengeringan ini juga menjadi bahasan
umum di dunia, menurut [18] diperlukan penggunaan sumber energi baru yang ramah lingkungan agar proses
produksi wood pellet juga ramah lingkungan. Contohnya dengan menggunakan limbah kayu, sisa gergajian,
dan wood pellet sebagai bahan bakar boiler untuk pengeringan.
Tahapan-tahapan proses pembuatan wood pellet sangat dipengaruhi oleh jenis bahan baku yang akan
digunakan. Menurut logika, semakin besar kadar air dan kekerasan bahan baku akan semakin menambah
beban untuk masing-masing proses pengeringan dan penggilingan. Pada tahap densifikasi karakteristik bahan
baku yang mempengaruhi proses adalah kandungan senyawa polimer alam. Menurut [11], biomassa yang
memiliki kandungan lignin yang semakin besar akan mempermudah proses densifikasi, karena lignin
merupakan komponen yang bersifat termoplastik, yang akan menyatu dan berubah seperti perekat pada
tekanan dan temperatur yang tinggi. Biomassa yang bersifat memiliki kandungan lignin yang besar merupakan
kayu, dan yang memiliki kadar lignin rendah adalah biomassa untuk pertanian. Kandungan lignin yang rendah
akan menambah biaya pada proses produksi wood pellet, karena akan dibutuhkan zat perekat untuk membantu
perekatan wood pellet.
Di Indonesia sebagian besar produksi wood pellet menggunakan biomassa yang berupa kayu, biasanya
adalah kayu sengon [12]. Sehingga proses pembuatan wood pellet di Indonesia dapat ekonomis dalam
penghematan zat perekat. Bahan baku wood pellet dapat berasal dari berbagai jenis kayu. Tiap spesies kayu
akan memiliki nilai kalor bakar yang berbeda dari spesies yang lain. Kalor bakar yang tinggi dan kalor bakar
yang rendah tidak dapat dikaitkan dengan karakteristik dari kayu [8]. Diperlukan data empiris untuk
menentukan nilai kalor bakar dari tiap-tiap spesies kayu yang berada di Indonesia. Hal ini yang membuat
wood pellet akan menjadi potensi yang besar bagi energi biomassa Indonesia.
Sebagai penutup essai ini, saya pribadi ingin berpendapat, wood pellet ini merupakan sumber energi
masa depan Indonesia. Penerapan wood pellet sebagai bahan bakar boiler pembangkit tenaga listrik
merupakan salah satu jalan untuk pemecahan krisis listrik di Indonesia. Kelebihan wood pellet di Indonesia
yang merupakan negara kepulauan adalah keberadaan bahan baku yang tersebar luas. Bahan baku yang berupa
kayu terdapat melimpah di segala penjuru negeri, bahkan hingga pulau yang dikatakan daerah 3T (Terpencil,
Terluar, dan Tertinggal). Proses produksi wood pellet yang akan diintegrasikan dengan pembangkit tenaga
listrik dapat menjadi solusi krisis listrik pada daerah-daerah tersebut.
Program untuk pembangunan pabrik wood pellet terintegrasi dengan pembangkit tenaga listrik dapat
direalisasikan di daerah 3T. Program ini dapat mengurangi kekurangan dari wood pellet sebagai sumber energi
pembangkit tenaga listrik, karena tidak memerlukan transportasi laut yang sangat jauh. Panas yang terbuang
dari pembakaran wood pellet dalam pembangkit listrik yang terintegrasi juga dapat digunakan dalam proses
pengeringan di dalam produksi wood pellet. Proses untuk mewujudkan prgraam ini membutuhkan kerjasama
yang baik bagi seluruh stakeholder yang ada, antara lain investor, pemerintah, produsen wood pellet, dan
konsumen wood pellet. Peraturan Pemerintah tentang penggunaan sumber energi baru terbarukan sebagai
sumber energi primer untuk pembangkit tenaga listrik dan tentang dampak emisi gas rumah kaca akan sangat
membantu keberjalanan program ini. Sehingga pada akhirnya program pembangkit listrik tenaga wood pellet
yang diterapkan pada daerah-daerah 3T tersebut dapat menjawab kekurangan wood pellet sebagai sumber
energi dan memberikan jawaban atas krisis listrik di Indonesia.
Referensi

[1] Soerawidjaja, T. H., Kuliah Pengantar, Teknologi Kemurgi, Program Studi Teknik Kimia, ITB (2012)
[2] Soerawidjaja, T. H., Menerawang Transisi Sistem Energi, Teknologi Kemurgi, Program Studi Teknik
Kimia, ITB (2009)
[3] Wang, C,; Yan, J., Feasibility analysis of wood pellets production and utilization in china as a substitute
for coal, Int J Green Energi 2 (2005), 2(1):91e107
[4] Uasuf, Augusto; Gero Becker, Wood pellets production costs and energi consumption under different
framework conditions in Northeast Argentina, Biomass and Bioenergi 35 (2011), 1357 1366
[5] Magelli, Francesca; Karl Boucher; Hsiaotao T. Bi; Staffan Melin; Alessandra Bonoli, An environmental
impact assessment of exported wood pellets from Canada to Europe, Biomass and Bioenergi 33 (2009),
434441
[6] Uran, Vedran, A model for establishing a winwin relationship between a wood pellets manufacturer
and its customers, Biomass and Bioenergi 34 (2010) 747753
[7] Fitrotin, Ulyatu; Arif Surahman; Sri Hastuti, Pemanfaatan Limbah Gergaji Kayu sebagai Pendukung
Bahan Bakar Industri Kripik Singkong Skala Rumah Tangga (Kasus KWT Hidayah, Desa Padamara,
Kecamatan Sukamulia, Lotim) Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Nusa Tenggara Barat, 193-196
[8] Telmo, C.; J. Lousada, Heating values of wood pellets from different species, Biomass and Bioenergi
35 (2011), 2634-2639
[9] Chau, J.; Sowlati, T.; Sokhansanj, S.; Preto, T.; Melin, S.; Bi, X., Techno-economic analysis of wood
biomass boilers for the greenhouse industry, Applied Energi 86 (2008), 364-371
[10] Budiyanti, Eka, Mengatasi Krisis Listrik di Jawa dan Sumatera, Info Singkat Ekonomi dan Kebijakan
Publik, 6 (2014) 13-16
[11] Mani, S.; S. Sokhansanj; X. B; A. Turhollow, Economics of Producing Fuel Pellets from Biomass,
Applied Engineering in Agriculture 22 (2006), 421-426
[12] PT Solar Park Indonesia, How to Business with Movable Wood Pellet Line, (2011)
[13] Ratri, Maria Elga, Harga rendah, APHI enggan pasok wood pellet, Kontan.co.id, 2013
[14] Green Madura, Menanti mesin Berderum, 2014,http://greenmadura.or.id/2014
[15] ESDM, Harga Batu Bara Acuan (HBA) & Hara Patokan Batu Bara (HPB) Bulan Maret 2014, (2014)
[16] SaraRasa Biomass, Location of Pellet Producers in Indonesia, (2011)
[17] Mapcrow,Coordinate+TotalDistance,web:http://www.mapcrow.info/Distance_between_Jakarta_ID_an
d_Seoul_KS.html
[18] Mani, Sudhagar, A Systems Analysis of Biomass Densification Process, Disertasi Doktor, The
University of British Columbia, 2005