Anda di halaman 1dari 1

Pekerjaan Rumah dari Prof. Dr. Ir. Sulandjari, MS.

CITES (Convention on International Trade in Endangered Species of Wild Fauna and Flora)
merupakan konvensi internasional yang bertujuan untuk memastikan perdagangan satwa dan
tumbuhan liar berkategori genting tidak mengancam kelangsungan hidupnya. Penggolongan kategori
genting oleh CITES berdasarkan pada kriteria IUCN (International Union for Conservation of Nature
and Natural Resources) atau dikenal dengan WCU (World Conservation Union). IUCN merupakan
organisasi internasional yang didedikasikan untuk alam beserta sumber dayanya. IUCN
menggolongkan spesies satwa dan tumbuhan menjadi 9 kategori yaitu, punah (spesies terakhir telah
mati), punah di alam (jika dengan pasti diketahui bahwa spesies tersebut hanya hidup di penangkaran,
atau hidup di alam sebagai pelepasan kembali di luar daerah sebaran aslinya), kritis (jika spesies
menghadapi resiko kepunahan sangat tinggi di alam), genting (jika spesies menghadapi resiko
kepunahan tinggi di alam), rentan (jika spesies menghadapi resiko kepunahan tinggi selain kategori
kritis dan genting), keberadaannya tergantung aksi konservasi (spesies merupakan fokus utama dari
program konservasi spesies maupun habitat), resiko rendah (spesies nyaris memenuhi syarat untuk
dikatakan terancam punah, tidak menarik perhatian dan memiliki populasi yang besar tetapi
peluangnya untuk punah sangat kecil di masa depan), kurang data (kurangnya informasi memadai
spesies tersebut) dan tidak dievaluasi (jika spesies tersebut tidak dinilai berdasarkan kriteria yang
disebutkan)
CITES berperan mengatur perdagangan internasional satwa dan tumbuhan liar berkategori
genting sesuai dengan kriteria IUCN. CITES mempunyai 3 kategori yang dinyatakan dalam Appendix
I (seluruh spesies tumbuhan dan satwa liar yang dilarang dalam segala bentuk perdagangan
internasional), Appendix II (spesies yang tidak terancam kepunahan, tetapi terancam punah bila
perdagangan terus berlanjut tanpa adanya pengaturan) dan Appendix III (daftar spesies tumbuhan dan
satwa liar yang dilindungi di negara tertentu dalam batas-batas kawasan habitatnya, dan suatu saat
bisa digolongkan ke dalam Apendiks II atau Apendiks I). Setiap aktivitas perdagangan internasional
yaitu, ekspor, impor, reekspor, introduksi spesies yang terdaftar dalam apendiks CITES harus
mendapat izin otoritas pengelola dan rekomendasi keilmuan CITES di negara tersebut. Direktur
Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam ditunjuk sebagai otoritas pengelola CITES di
Indonesia melalui Keputusan Menteri Kehutanan Nomor 104/Kpts-II/2003 (sebagai pengganti
Keputusan Menteri Kehutanan No.36/Kpts-II/1996). Selain itu, Peraturan Pemerintah No. 7 dan 8
Tahun 1999 juga menunjuk Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) sebagai otoritas keilmuan
CITES.