Anda di halaman 1dari 67

Prof. Dr. Ir.

Masyhuri
EKONOMI PERTANIAN

I. PENDAHULUAN
Menurut Hadisapoetro (1975), pertanian diartikan sebagai
setiap campur tangan tenaga manusia dalam perkembangan
tanam-tanaman maupun hewan agar diperoleh manfaat yang
lebih baik daripada tanpa campur tangan tenaga manusia.
Secara alami, tanaman dan hewan telah berkembang biak
dengan sendirinya di hutan.
Manusia tinggal mengambil sesuatu yang dihasilkan tanaman,
misalnya buah-buahan, daun-daunan (sayuran), batang, dan
umbi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sebagai bahan
makan utama (primer).
Demikian juga perkembangan hewan di hutan, manusia tinggal
mengambilnya dengan cara berburu untuk dimanfaatkan
sebagai bahan makan sekundair.
Dalam tahap ini belum dikenal pertanian.
1.1. PENGERTIAN
Kemudian manusia mulai mencoba menanam tanaman dan
menangkap hewan untuk dipelihara di rumahnya.
Adanya campur tangan manusia ini akan meningkatkan manfaat
kepada manusia. Perkembangan inilah yang kemudian disebut
dengan pertanian.
Mosher (1966) memberi definisi pertanian sebagai sejenis
proses produksi yang khas yang didasarkan proses pertumbuhan
tanaman dan hewan yang dilakukan oleh petani dalam suatu
usahatani sebagai suatu perusahaan. Dengan demikian unsur
pertanian terdiri dari proses produksi, petani, usahatani, dan
usahatani sebagai perusahaan.
Proses Produksi : tumbuhan mengambil zat hara yang ada di
dalam tanah melalui akar-akarnya. Zat ini dibawa ke daun dan
dengan bantuan sinar matahari, zat tersebut diubah menjadi
buah-buahan, biji-bijia dan hasil lain dalam proses yang disebut
photosinthesa. Hasil tumbuhan ini kemudian dimakan oleh hewan
dan manusia.
Bahan makan dari tanaman ini disebut bahan makan primer,
karena itu tanaman juga disebut pabrik makanan primer.
Hewan dan ternak dengan makan tumbuh-tumbuhan dapat
menghasilkan daging, telor, susu dan hasil ternak lain yang
dikonsumsi oleh manusia. Karena itu hewan disebut bahan
makan sekunder.
Petani: Proses produksi tersebut bisa berlangsung tanpa campur
tangan manusia seperti dapat kita lihat pada tumbuhan liar yang
dengan demikian belum disebut pertanian.
Dengan turut campur tangannya manusia dalam
perkembangan tumbuhan dan hewan, maka pertumbuhan
tersebut menjadi lebih sesuai dengan kemauan dan kebutuhan
manusia, dan dengan demikian disebut pertanian. Manusia
yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan hewan
tersebut disebut petani.
Usahatani: Proses produksi tanaman dan hewan yang dikelola
oleh petani tersebut dapat berlangsung apabila terdapat lahan
yang luas. Lahan tersebut dinamakan usahatani.
Usahatani sebagai perusahaan : Petani dalam mengelola atau
mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan hewan tersebut
menggunakan prinsip perusahaan. Artinya dia
mempertimbangkan berbagai kombinasi input yang diberikan agar
bisa menghasilkan output sesuai dengan tujuan secara efisien dan
efektif.
Dengan demikian Mosher memberi definisi pertanian sebagai
sejenis proses produksi yang khas yang didasarkan proses
pertumbuhan tanaman dan hewan yang dilakukan oleh petani
dalam suatu usahatani sebagai suatu perusahaan. Inilah
pengertian umum dan modern dari pertanian.
Pengertian pertanian yang lebih modern lagi adalah agribisnis.
Struktur pertanian, berdasarkan ruang lingkupnya dapat
dibedakan menjadi : pertanian dalam arti luas dan dalam arti
sempit. Berdasarkan cara pengusahaannya dapat dibedakan
menjadi : pertanian rakyat dan pertanian perusahaan besar.
Berdasarkan lokasi dapat dibedakan menjadi : pertanian Jawa dan
luar Jawa.
Pertanian dalam arti sempit meliputi tanaman pangan dan
hortikultura serta perkebunan. Sedang pertanian dalam arti luas
meliputi selain pertanian dalam arti sempit juga termasuk
perikanan, peternakan, dan kehutanan. Pertanian rakyat adalah
usaha pertanian yang dilakukan oleh keluarga petani.

Ciri pertanian rakyat adalah
1) tidak jelas pemisahan kegiatan keluarga dengan kegiatan
perusahaan
2) tenaga keluarga tidak diperhitungkan sebagai biaya
3) skala usaha relatif kecil. Pertanian perusahaan besar biasanya
dilakukan pengelolaaan secara lebih profesional, jelas struktur
organisasinya,bentuk badan usahanya formal misalnya PT, CV,
Firma, UD, dan Koperasi.

Pertanian di Jawa bisanya lahannya subur, lebih intensif, skalanya
lebih kecil, lebih dominan tanaman pangan dan tanaman
semusim. Sedangkan pertanian di luar Jawa biasanya kurang
subur, kurang intensif, skalanya lebih besar, lebih dominan
tanaman perkebunan dan tanaman keras.
Agribisnis adalah bisnis (usaha komersial) di bidang pertanian
dalam arti luas (mulai dari pengadaan dan distribusi sarana
produksi pertanian dan alat-alat serta mesin pertanian, usaha tani,
pengolahan hasil pertanian menjadi bahan setengah jadi maupun
barang jadi, pemasaran hasil-hasil pertanian dan olahannya, serta
kegiatan penunjang seperti perkreditan, asuransi, dan konsultansi)

Bidang Agribisnis membentuk suatu sistem yang terdiri dari
subsistem-subsistem. Agribisnis bisa terdiri dari :
2 subsistem : on-farm (usahatani) dan off-farm (luar
usahatani), atau
3 subsistem : input, usahatani, dan output, atau
4 subsistem : input, usahatani, pengolahan hasil pertanian,
dan pemasaran, atau
5 subsistem : input pertanian, usahatani, pengolahan hasil
pertanian, pemasaran input, hasil pertanian
atau hasil olahannya, serta subsistem penunjang

Jadi perbedaan antara agribisnis dan pertanian setidaknya ada
dua, yaitu ditinjau dari segi wawasan usaha dan dari bidang yang
tercakup :
Jika agribisnis wawasan usahanya adalah komersial, maka
pertanian wawasannya ada yang subsisten, hobi, di samping ada
yang komersial, serta campuran antara dua wawasan tersebut
dari segi bidang, agribisnis lebih luas daripada pertanian, karena
mencakup subsistem pertanian di samping subsistem yang lain.

Gambar: Bagian-bagian Agribisnis
1. Input pertanian:
a. alsintan/alat mesin pertanian (traktor, sprayer, bajak, garu,
cangkul, sabit, dll),
b. Saprotan/sarana produksi pertanian: bibit, pupuk (organik
dan anorganik), pestisida(insectisida,pestisida, mitisida,
herbisida), zat pengatur tumbuh, dll.
2. usaha pertanian:
a. tanaman pangan (padi, palawija), hortikultura (sayur dan
buah), bunga,
b. Perkebunan (tebu, kelapa sawit, karet, kopi, coklat, teh, dll);
c. peternakan (sapi, kerbau, kambing, unggas, dll.) d.kehutanan
(jati, meranti, pinus, sengon, dll),e. perikanan (ikan tawar,
ikan laut, dll.)
3. pengolahan (pabrik tepung, pabrik krept/karet, dll.) dan
manufacturing pertanian (pabrik ban, tekstil, roti, catering, dll.)
4. pemasaran (pedagang pengumpul, pedagang besar, pengecer,
broker, dll.)
5. penunjang (lembaga keuangan, asuransi, konsultasi, pelatihan,
transportasi, dll.)

Ilmu ekonomi adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari
alokasi sumberdaya yang terbatas untuk memenuhi keinginan
manusia yang tak terbatas dengan cara yang seefisien mungkin.
Ilmu ekonomi pertanian dapat didefinisikan sebagai bagian ilmu
pertanian yang mempelajari masalah-masalah ekonomi dalam
pertanian (Kaslan Tohir, tanpa tahun), atau bagian dari ilmu
ekonomi umum yang mempelajari fenomena-fenomina dan
persoalan-persoalan yang berhubungan dengan pertanian baik
mikro maupun makro (Mubyarto, 1977).
Secara lebih rinci, ekonomi pertanian mempelajari masalah
ekonomi produksi pertanian, masalahan ekonomi konsumsi dan
pemasaran hasil pertanian, manajemen usahatani dan agribisnis,
masalah kebijakan pertanian, masalah pembangunan pertanian,
dll.


1.2 Ciri-ciri pertanian Indonesia
1. Pertanian tropika
Sebagian besar daerah di Indonesia berada di dekat
katulistiwa
yang berarti merupakan daerah tropika. Dengan demikian
jenis tanaman, hewan, perikanan, dan hutan sangat
dipengaruhi oleh iklim tropis (pertanian tropika). Di samping
itu ada pengaruh lain yang menentukan corak pertanian kita
yaitu bentuk negara berkepulauan dan topografinya yang
bergunung-gunung.
Letaknya yang di antara Benua Asia dan Australia serta antara
Lautan Hindia dan Pasifik, memberikan pengaruh pada suhu
udara, arah angin yang berakibat adanya perbedaan iklim di
Indonesia, sehingga menimbulkan ciri pertanian Indonesia
merupakan kelengkapan ciri-ciri pertanian yang lain.
2. Pertanian dataran tinggi dan rendah
Indonesia merupakan daerah volkano (memiliki
banyak gunung), sehingga memungkinkan mempunyai daerah
yang mempunyai ketinggian dan dataran rendah. Dataran
tinggi mempunyai iklim dingin, sehingga bisa ditanami
tanaman beriklim subtropis.
3. Pertanian iklim basah (Indonesia barat) dan pertanian iklim kering
(Indonesia timur).
Indonesia bagian barat yang (Sumatra, Kalimantan, Jawa,
sebagian
Sulawesi) mempunyai iklim basah : banyak hujan, sedangkan
bagian Indonesia lain terutama Indonesia bagian timur (NTB, NTT,
Maluku) iklimnya kering.
4. Adanya hutan tropika dan padang rumput.
Karena iklimnya basah dan berada di daerah tropika maka banyak
hujan terbentuk hutan tropika, sedangkan di daerah kering
tumbuh padang rumput.
5. Perikanan darat dan laut.
Indonesia adalah negara kepulauan yang terdiri dari banyak pulau,
sehingga daerahnya terdiri dari darat dan perairan. Keadaan ini
memungkinkan terdapatnya perikanan darat dan laut.
6. Pertanian di Jawa dan Luar Jawa.
Daerah Jawa dan luar Jawa mempunyai spesifikasi yang berbeda
Jawa umumnya : tanah subur, penduduk padat
luar Jawa umumnya : tanah kurang subur, penduduk jarang
mempengaruhi corak pertanian: pertanian di jawa umumnya
merupakan tanaman bahan pangan, berskala kecil, sedangkan
pertanian di luar jawa umumnya perupakan perkebunan,
kehutanan, berskala lebih luas.
7. Pertanian rawa, pertanian darat/kering, pertanian beririgasi/basah
Daratan Indonesia terbagi menjadi :
tanah rawa yaitu lahan yang tergenang sepanjang masa,
lahan kering yaitu lahan yang tidak mendapat air irigasi, dan
pertanian basah yaitu lahan yang beririgasi.

8. Pertanian / tanah sawah beririgasi, tadah hujan, sawah lebak,
sawah pasang surut
Penggolongan ini adalah penggolongan lahan yang ditanami padi.
Sawah yang beririgasi bersumberkan bendung sungai,
dam/waduk, mata air, dll.
Berdasarkan fasilitas teknisnya dibagi menjadi irigasi teknis,
setengah teknis, dan sederhana.
Lahan/sawah tadah hujan sebenarnya juga mempunyai saluran
irigasi tetapi sumber airnya berasal dari air hujan.
Sawah lebak mendapat air terus menerus sepanjang masa.
Sawah pasang surut mendapat air dari air sungai yang pasang
karena air laut yang sedang pasang, sering juga terdapat saluran
irigasi.
II. PERANAN PERTANIAN
DALAM PEREKONOMIAN INDONESIA
2.1 Luas lahan pertanian
Sebagian besar lahan di Indonesia digunakan untuk pertanian baik
pertanian tanaman pangan, perkebunan, peternakan, perikanan, dan
kehutanan. Oleh karena itu Indonesia dikenal sebagai negara agraris.
2.2 Jumlah penduduk di sektor pertanian
Sebagian besar penduduk bekerja di sektor pertanian : 45 % (1996),
menurun menjadi 42% (2009)
Saat krisis (1999) meningkat menjadi 50 %. Tahun 2002 turun
kembali menjadi 47%.
Serapan tenaga kerja pertanian : 34 juta (1985) , 42 juta (1992),
turun menjadi 40 juta (1993), dan turun lagi menjadi 37,5 juta
(1994). Namun masa krisis tahun 1998 naik lagi menjadi 64,4 juta
orang.
2.3. Pendapatan nasional
Sumbangan sektor pertanian terhadap pendapatan nasional sekitar
16,9% tahun 1998 (sekitar Rp 167 trilyun).
Secara absolut peranan tersebut mengalami kenaikan tetapi secara
relatif mengalami penurunan.
Pada awal Pelita I PDB dari sektor pertanian Rp 24,9 trilyun (37,9 %).
Pada tahun 2009, pertanian memberikan 14% pendapatan nasional.
2.4 Produksi pangan domestik
Pertanian menghasilkan bahan kebutuhan pokok (pangan,
sandang, dan papan). Sebagai penghasil pangan, pertanian belum
ada yang menggantikan sehingga dalam keadaan darurat atau
perang, peranan pertanian sangat strategis.
2.5 Penghasil devisa
Komoditi-komoditi perkebunan, kehutanan, perikanan dan
sebagian tanaman pangan dan peternakan merupakan komoditas
ekspor penghasil devisa. Nilai ekspor pertanian tahun 1984
sebesar US$ 2,5 miliar meningkat menjadi US$ 7,1 miliar.
2.6 Mempunyai efek multiplier yang besar

2.7 memberi pasokan kepada industri pertanian

2.8 sebagai pasar industri

III. KARAKTERISTIK USAHA
DI BIDANG PERTANIAN
3.1. Adanya jarak waktu antara mulai investasi dengan penerimaan
hasil yang lama, karena proses produksi pertanian memerlukan
waktu lama
Pada tanaman padi misalnya perlu waktu 3-4 bulan baru bisa
menghasilkan. Pada tanaman perkebunan dan buah-buahan
perlu waktu 4-8 tahun. Keadaan ini akan mempengaruhi
tingkat resiko usaha, tingkat pengembalian modal. Resiko
usaha bisa berupa resiko fisik dan pasar. Resiko fisik berarti
kemungkinan kegagalan panen atau pengurangan panen yang
disebabkan bermacam-macam faktor seperti banjir,
kekeringan, hama dan penyakit, dan bencana lainnya. Resiko
pasar bisa berupa terjual produknya dengan harga murah atau
tidak ada pembeli..
Kalau hasilnya lama baru diperoleh akan menurunkan nilai kini
hasil tersebut. Karena waktu mempunyai nilai, semakin lama
nilainya makin kecil. Faktor penyetaraan nilai tahun tertentu
dengan nilai kini disebut faktor diskonto.
3.2. Merupakan pertanian rakyat
Sebagian besar pertanian Indonesia merupakan pertanian rakyat.
Ciri-ciri pertanian rakyat : 1] skala usaha kecil, rata-rata
penguasaan lahan pertanian hanya sekitar 0,5 hektar, 2] tidak ada
pembedaan antara usaha dan rumahtangga, misalnya rumah yang
sekaligus merupan gudang, kandang ternak, keuangan usaha dan
rumah tangga tercampur, 3] manajemennya tidak profesional.
3.3. Bersifat ekstensif
Pertanian membutuhkan lahan yang luas. Keadaan ini berimplikasi
bahwa lahan di kota pasti kalah bersaing dengan kegunaan usaha
lain.
3.4. Hasil pertanian sukar dikuasai
Proses produksi pertanian banyak ditentukan oleh alam, sehingga
jumlah dan kualitas hasilnya sering tidak bisa dikuasai. Keadaan
ini mengakibatkan perlunya proses sortasi dalam penanganan
pascapanen.
3.5. Spesialisasi dalam pertanian sukar diterima
Spesialisasi dapat dibedakan menjadi spesialisasi produksi dan
tenaga kerja.
Spesialisasi produksi berarti menghasilkan satu macam produk,
karena pertanian beresiko tinggi maka tidak banyak petani yang
melakukannya.
Spesialisasi tenaga kerja banyak dilakukan di pabrik atau industri,
tetapi tidak berlaku di pertanian. Umumnya tenaga kerja dapat
bekerja pada beberapa pekerjaan. Tetapi ada kebiasaan di
masyarakat tertentu yang pekerjaannya berdasarkan jenis
kelamin, misalnya wanita bekerja di penyiangan, panen, sedang
laki-laki bekerja mencangkul, sopir traktor dan pekerjaan yang
relatif berat.

3.6. Harga hasil pertanian selalu berfluktuasi
fluktuasi jangka panjang= trend
fluktuasi siklus: siklus ekonomi dan produksi
siklus stabil, konvergen dan divergen
fluktuasi musiman
fluktuasi jangka sangat pendek
IV. PRINSIP EKONOMI PRODUKSI
PERTANIAN
4.1 Usahatani
Usahatani adalah suatu tempat atau bagian dari permukaan
bumi tempat pertanian diselenggarakan oleh seorang petani
tertentu sebagai seorang pemilik / penyakap ataupun manager
yang digaji. Usahatani dapat berupa usaha bercocok tanam
atau memelihara ternak (Mosher 1966)
Untuk menghitung perolehan usahatani digunakan konsep
keuntungan dan pendapatan petani.
Laba = penerimaan semua biaya yang diperhitungkan (termasuk
tenaga kerja keluarga, penyusutan, dll.)
Pendapatan petani = penerimaan biaya kas yang dikeluarkan
(tidak termasuk nilai biaya keluarga, penyusutan, dll.)
4.2. Fungsi produksi pertanian
Fungsi produksi adalah suatu fungsi yang menghubungkan
antara produksi yang dihasilkan dengan faktor produksi.
Y = f(X1, X2,...Xn). Bila faktor produksinya satu Y=f(X) bisa
digambarkan dalam grafik sbb.:
Fungsi Produksi Neoklasik
Suatu fungsi produksi yg menggambarkan hubungan antara input
dan output, mulai dari tanpa input lalu ditambah sampai
jumlahnya banyak, outputnya akan naik dg tingkat kenaikan yg
semakin meningkat, sampai titik tertentu (ttk belok), kemudian
naik dg tingkat kenaikan yg semakin berkurang, produksi
mencapai maksimum dan lalu turun.
Hukum kenaikan hasil yang semakin berkurang
Produksi marginal, produksi rata-rata.
Elastisitas produksi

4.3. Efisiensi
Efisiensi produksi berarti maksimisasi perbandingan output dan
input. Efisiensi teknis, output dan input diukur dengan unit fisik.
Ini terjadi pada Average Product (AP) maksimum. Pada saat itu
AP=MP (Marginal Product.) Efisiensi harga/ alokatif berarti dicapai
pada keuntungan maksimum. Ini dicapai pada saat nilai produksi
marginal (MVP) = harga input (v) atau MP = v/p, dimana p =
harga output.
4.4. Optimasi
Jika diketahui fungsi produksi dan harga, maka dapat dicari
tingkat input dan produksi optimal, artinya yang menghasilkan
keuntungan maksimal.
= p y - v x
maximum, bila d/dx = 0,
dan d(d/dx)/dx < 0

Contoh : fungsi produksi: y= 10X-X
2
dan Y= 10X
0,5
, harga y (p)=
Rp 10/unit dan harga X (v)= Rp 6/unit. Berapa produksi
maksimal, input optimal, produksi optimal, dan laba maksimal ?

4.5. Pengaruh Teknologi Baru
Teknologi akan meningkatkan produksi
Contoh teknologi baru adalah teknomogi mekanis (pemakaian
traktor); teknologi kimia (pupuk, pestisida); teknologi biologi
(bibit hibrida, penggunaan legin, dll.)
Gambar : Pengaruh teknologi terhadap produksi
4.6 Fungsi Permintaan Input

4.7 Fungsi Biaya
Biaya = biaya variabel dan biaya tetap
= BV + BT
= f(Q) + BT
Jangka waktu
LR= long run = jangka panjang
SR= short run =jangka pendek
VSR= very short run= jangka sangat pendek
AC = average cost =biaya rata-rata
AVC = average variable cost = biaya variabel rata-rata
MC = marginal cost = biaya marginal
Dalam gambar:
AC slope garis dari titik o ke fungsi biaya
AVC=slope garis dari titik o ke fungsi biaya variabel
MC= slope garis singgung fungsi biaya

4.8 Fungsi Penawaran Produk
Kurva MC diatas AVC minimum= kurva supply
Laba maksimum dicapai pada saat MC = p, persamaan ini
menghasilkan persamaan penawaran, dimana Qs=f(P).

4.9 Fungsi Produksi dengan 2 atau Lebih Input
Variabel : isoquant, expantion path, isocline, ridgeline,
pseudoscale
line
Isoquant : garis yang menghubungkan titik-titik kombinasi
penggunaan input X
1
dan X
2
yang menghasilkan
jumlah produksi yang sama.
MRTSx
1
x
2
= besarnya input X
2
yang harus dikurangi, bila X
1

ditambah i unit agar produksinya masih tetap.
Isocost : garis yang menghubungkan kombinasi input X
1
dan X
2
yang bernilai biaya yang sama.
V. FAKTOR PRODUKSI PERTANIAN
5.1. Tanah
Kontribusi tanah pada produksi dipengaruhi oleh luas dan
kesuburan. Kesuburan dipengaruhi oleh sifat fisik dan kimia
tanah.
Sebagai modal, tanah mempunyai karakteristik:
1. jumlah tidak dapat ditambah
2. Tanah merupakan modal tidak bergerak
3. tidak memerlukan penyusutan

5.2. Tenaga kerja
Pengaruh tenaga kerja dipengaruhi oleh jumlah dan kualitas serta
pengalaman

5.3. Modal
Modal adalah barang atau uang yang bersama dengan faktor
produksi lain (tanah dan tenaga kerja) menghasilkan barang baru.
Macam modal
1. berdasar bisa dilihat tidaknya : tangible dan non tangible,
misalnya human investment
2. dari sumbernya : equity capital dan debt capital
3. dari manfaat: private capital (hanya memberi manfaat
kepada investor) ,dan social capital (memberi manfaat banyak
orang) misalnya jalan dan irigasi.

5.4. Manajemen
Manajemen adalah ilmu dan seni untuk mengelola
(merencanakan, mengorganisasi, mengarahkan dan
mengendalikan) suatu usaha guna memperoleh keuntungan.
Menurut Dun & street, 88% kegagalan bisnis disebabkan oleh
manajemen yang tidak efektif.
5.5. Masalah tanah garapan
Hubungan petani dengan lahannya
Bentuk hubungan antara petani dengan lahan garapan dapat
digolongkan menjadi 3 macam: petani pemilik penggarap, petani
penyewa, dan petani penyakap.
Pengaruh status petani terhadap kinerja usahatani
latar belakang petani:
petani pemilik penggarap adalah petani tradisional. Penyakap
juga merupakan petani tradisional yang kurang mampu, sudah
terbiasa menggarap lahan untuk usahatani tetapi mungkin
kurang profesional. Petani penyewa umumnya lebih
profesional, karena sudah memperhitungkan untung rugi.
jangka waktu / time horizon :
petani pemilik penggarap jangka waktunya tak terbatas,
sedang penyewa terbatas pada kontrak sewa menyewa.
Penyakap waktunya tidak ditentukan tetapi mudah dihentikan
penggarapannya.
kinerja usahatani : kendala /insentif ekonomi
Penyewa mengeluarkan uang lebih banyak. Ini bisa
membatasi bisa tidak, tergantung kemampuan dan
tersedianya kredit. Untuk penyakapan tergantung
perjanjian bagi hasil dan pembebanan biaya.
Menurut UUPBH 1960 hasil dan biaya dibagi dua, tetapi
prakteknya tidak demikian. Dalam praktek ada yang
hasilnya dibagi dua, biayanya seluruhnya ditanggung
penyakap.

Perpecahan dan pemencaran tanah garapan
Perpecahan tanah disebabkan karena : warisan dan penjualan
tanah /penyewaan /penyakapan. Mengecilnya lahan bisa
berpengaruh terhadap efisiensi usahatani dan daya tawar
/daya saing petani serta kesejahteraan.
Pemencaran lahan disebabkan karena perkawinan /warisan,
pembelian lahan, penyewaan, penyakapan. Pemencaran
berpengaruh pada efisiensi usahatani dan keterbatasan
strategi agribisnis.
Harga tanah
Harga tanah dipengaruhi oleh : lokasi, kesuburan, topografi,
kemiringan,kelangkaan lahan, penggunaan lahan dan
kontribusinya terhadap nilai produksi.
Lokasi yang dimaksud adalah jaraknya terhadap pasar,
terhadap jalan raya, terhadap fasilitas irigasi
Kontribusinya terhadap nilai produksi dipengaruhi oleh
kesuburan lahan, kemiringan lahan, tinggi tempat,
iklim/cuaca, jenis komoditas, harga produk, harga input
usahatani, teknologi, dll.
Penggunaan lahan misalnya untuk industri, perumahan,
pertanian dll.
Kelangkaan lahan dipengaruhi oleh demand dan supply.

5.6. Masalah pengangguran dan ketenagaan kerja
Pengangguran (terbuka): bila seseorang sedang mencari
pekerjaan dan belum mendapatkan pekerjaaan.
Pengangguran tersamar: kelihatan bekerja tetapi tidak penuh.
Penyebabnya:
1. kelebihan tenaga kerja atau zero marginal productivity.
2. under employment, seseorang yang bekerja dibawah
kapasitasnya, misalnya seorang sarjana yang menjadi buruh
tani
3. musiman, kerja kalau musim sibuk, tidak bekerja bila tanaman
tidak memerlukan.

5.7. Masalah kredit
Kredit adalah penyedian uang atau tagihan-tagihan yang dapat
disamakan dengan itu berdasar persetujuan pinjam meminjam
antara bank dengan fihak lain dalam hal mana fihak peminjam
berkewajiban melunasi hutangnya setelah jangka waktu tertentu
dengan jumlah bunga yang telah ditentukan.
Unsur penting dalam perkreditan:
unsur kepercayaan
unsur waktu
unsur resiko
unsur prestasi
Jenis kredit:
Berdasar tujuan penggunaan kredit : kredit produksi dan
konsumsi.
Berdasar sifat pembiayaan : kredit eksploitasi dan investasi
Berdasar waktu pengembalian : kredit jangka pendek,
menengah, dan jangka panjang
Berdasar akibat penggunaan : kredit statis dan dinamis

Masalah bunga
Pertanian mempunyai karakteristik tertentu sehingga
perkreditan pertanian memerlukan bunga yang murah, ada
grace periode, waktu panjang, kelonggaran atau asuransi,
bimbingan atau pendampingan, dll.
Bunga kredit dipengaruhi: biaya administrasi, biaya modal,
inflasi, resiko, dan jangka waktu pengembalian.
Mengapa petani perlu kredit. ?
untuk membiayai usahataninya
untuk membiayai pemasaran
pembiayaan konsumsi
pembiayaan kegiatan social
VI. PERMINTAAN DAN PENAWARAN
HASIL PERTANIAN
6.1. Permintaan hasil pertanian
Permintaan hasil pertanian merupakan hubungan antara jumlah
barang hasil pertanian yang akan dan mau dibeli oleh konsumen
dan harga hasil pertanian tersebut
Permintaan hasil pertanian dapat dinyatakan sebagai kurva,
persamaan, atau tabel permintaan
Fungsi permintaan adalah suatu fungsi yang menggambarkan
hubungan antara jumlah barang yang mau dan mampu dibeli
konsumen dengan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan
hasil pertanian tersebut.
dalam persamaan matematika :
Q = f(P, Ps, Pk, I, T, S)
P= harga, Ps = harga barang substitusi, Pk = harga barang
komplementer, I = pendapatan konsumen, T = selera dan cita rasa
konsumen, S = musiman
Harga barang mempengaruhi jumlah permintaan, untuk hampir
semua barang (barang inferior, normal dan mewah, selain giffen
goods, hubungan antara harga barang dan jumlah permintaan
digambarkan mengikuti hukum permintaan, yaitu bila harga
barang naik, maka jumlah permintaannya berkurang dan
sebaliknya bila harga menurun, maka permintaan barang tersebut
akan naik
Pada giffen goods berlaku sebaliknya, yaitu: bila harga barang
naik maka jumlah permintannya akan naik dan bila harga barang
turun, maka jumlah permintaannya akan turun. Contoh :
barang/jasa yang informasinya kurang jelas seperti film di bioskop
dan barang yang rendah nilai sosialnya misalnya gaplek.
Harga barang substitusi mempengaruhi jumlah permintaan
barang, bila harga barang substitusi naik maka jumlah permintaan
barang akan naik.
Hal ini disebabkan karena konsumen akan mengganti
konsumsinya pada barang lain yang lebih murah, atau paling tidak
mengurangi konsumsi barang yang harganya naik dan menambah
konsumsi barang yang harganya turun.
Harga barang komplementer. Bila harga barang komplementer
naik maka jumlah permintaan barang akan mengalami
penurunan, karena konsumsi barang yang kita bicarakan
dikonsumsi konsumen bersama-sama dengan barang
komplementer, sehingga penurunan konsumsi barang
komplementer juga berakibat sama dengan barang tersebut.

Pendapatan konsumen. Untuk barang normal dan mewah,
kenaikan pendapatan konsumen akan meningkatkan jumlah
permintan barang, demikian sebaliknya bila pendapatan
konsumen turun, maka jumlah permintaan konsumen akan turun.
tetapi untuk barang inferior dan giffen goods, bila pendapatan
konsumen naik akan menurunkan jumlah permintaan barang dan
sebaliknya bila pendapatan konsumen turun, maka jumlah
permintaan barang akan naik.

Cita rasa dan selera konsumen . Bila cita rasa dan selera
konsumen naik maka jumlah permintaannya juga akan naik.
selera dan citasara konsumen Indonesia akan beras lebih tinggi
daripada orang barat, maka permintaan beras orang Indonesia
lebih tinggi dibandingkan permintaan orang barat.
demikian sebaliknya citarsa dan selera orang barat terhadap
gandum dan kentang lebih tinggi daripada orang Indonesia,
sehingga jumlah permintaan gandum dan kentang orang barat
lebih tinggi daripada orang Indonesia.

Musim. Di musim kemarau permintaan es krim lebih tinggi
daripada di musim hujan. Untuk orang barat, di musim dingin,
permintaan bir lebih tinggi dibandingkan di musim panas.

Elastisitas. Untuk mengukur respon permintaan terhadap reaksi
perubahan faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan diukur
dengan elastisitas permintaan. faktor-faktor yang diukur
responnya biasanya adalah harga (Elastisitas permintaan terhadap
harga), harga barang lain (Elastisitas permintaan harga silang),
pendapatan (elastisitas permintaan terhadap pendapatan).
Elastisitas permintaan terhadap harga adalah perbandingan
antara prosentase perubahan jumlah barang yang diminta dengan
prosentase perubahan harga barang.
Edp = (Q/ Q)/(P/P)

Elastisitas permintaan terhadap harga silang adalah perbandingan
antara prosentase perubahan barang yang diminta dengan
prosentase perubahan harga barang lain.
Edps = (Q/Q)/(Ps/Ps)

Elastisitas permintaan terhadap pendapatan adalah perbandingan
antara prosentase perubahan jumlah barang yang diminta dengan
prosentase perubahan pendapatan konsumen.
Edi = (Q/Q)/(I/I)

Elastisitas tersebut bisa diukur dengan elastisitas titik atau busur
(dua titik). Elastisitas bisa dikelompokan kedalam 3 kriteria yaitu:
E > 1 berarti elastis
E = 1 elastisitas satu (unitary elasticity)
E < 1 inelastis
6.2. Penawaran hasil pertanian
Penawaran adalah suatu hubungan antara jumlah barang yang
ditawarkan dengan harga barang. Penawaran ini dapat
digambarkan dalam grafik, persamaan dan tabel.
Fungsi penawaran adalah suatu fungsi yang menggambarkan
hubungan antara jumlah barang yang ditawarkan (Qs) dengan
faktor-faktor yang mempengaruhi. Faktor-faktor yang
mempengaruhi penawaran barang adalah harga (P), harga input
(Pi), teknologi (T), musim (S) dll.
Persamaan fungsi penawaran adalah :
Qs = f(P,Pi,T,S)
Harga barang. Kenaikan harga barang akan meningkatkan
penawaran barang dan sebaliknya bila harga turun akan
menurunkan jumlah penawaran. Pengaruh ini bisa dinyatakan
dengan elastisitas penawaran terhadap harga:
Esp = (Qs/Qs)/(P/P)
Harga input. Bila harga input naik, maka jumlah barang yang
ditawarkan akan turun dan sebaliknya bila harga input turun,
maka jumlah barang yang ditawarkan akan naik. Pengaruh ini bisa
dinyatakan dalam elastisitas penawaran terhadap harga input:
Espi = (Qs/Qs)/(Pi/Pi)

Teknologi
Bila tersedia teknologi yang semakin maju, akan meningkatkan
jumlah penawaran. Didalam pertanian teknologi bisa berupa
teknologi fisik/mekanis, kimia, biologi, dll.
Musim
Pengaruh musim terhadap penawaran sudah jelas, bila sedang
musim maka akan tersedia banyak barang yang ditawarkan.
6.3. Keseimbangan pasar dan perubahan harga
Keseimbangan pasar terjadi bila jumlah permintaan sama dengan
jumlah penawaran. Dalam keseimbangan terdapat harga dan jumlah
barang keseimbangan. Keseimbangan harga dan jumlah barang akan
berubah bila kurva penawaran dan permintaan berubah.

6.4. Margin pemasaran, permintaan turunan dan penawaran
turunan
Margin pemasaran adalah perbedaan antara harga eceran dengan
harga di tingkat petani. namun demikian margin pemasaran dapat
diukur pada masing-masing tingkat pada saluran pemasaran. harga
di tingkat eceran merupakan pertemuan antara penawaran turunan
dengan permintaan primer. Permintaan primer adalah permintaan
yang dilakukan oleh konsumen akhir, sedangkan penawaran turunan
adalah penawaran yang dilakukan oleh pedagang eceran yang
merupakan wakil produsen untuk berhadapan dengan konsumen
akhir. Harga produsen merupakan pertemuan antara permintaan
turunan dengan penawaran primer. Permintaan turunan adalah
permintaan yang dilakukan oleh pedagang pengumpul sebagai wakil
dari konsumen akhir. Sedangkan penawaran primer adalah
penawaran yang dilakukan oleh produsen langsung.

VII. PEMASARAN HASIL PERTANIAN
7.1. Peranan dan Fungsi Pemasaran
Peranan pemasaran adalah membantu menjembatani antara
kepentingan konsumen dg produsen yg berlawanan. Fungsi
pemasaran adalah:
Pertukaran : pembelian
penjualan
Fisik: pengolahan
pengangkutan
penyimpanan
Penunjang: - pendanaan
-penanggungan resiko
-grading dan standarisasi
-informasi pasar
7.2. Kegunaan Pemasaran
Kegunaan pasar dapat dibedakan menjadi:
kegunaan bentuk
kegunaan tempat
kegunaan waktu
kegunaan kepemilikan
kegunaan informasi
7.3. Pendekatan mempelajari pemasaran
Pemasaran dapat dipelajari dengan beberapa pendekatan:
pendekatan komoditi
pendekatan kelembagaan
pendekatan input -output
pendekatan sistem
7.4. Efisiensi pemasaran
Efisiensi pemasaran merupakan perbandingan antara output
pemasaran dengan input pemasaran. Output bisa berupa
kepuasan konsumen, sedangkan input merupakan masukan yang
digunakan dalam proses pemasaran. Efisiensi ini bisa berupa fisik
maupun finansial.

Menurut Mubyarto: eff pemsrn terjadi bila:
1. mampu memberikan keuntungan yg adil bagi pelaku pemasaran
2. mampu membawa barang ke konsumen dg harga semurah^2 nya.
Indikator efisiensi berupa:
1. Margin pemasaran
Makin kecil margin pemasaran makin efisien
2. harga di tingkat konsumen
Makin murah harga yang diterima konsumen akhir, makin efisien.
3. Tingkat kompetisi
Makin kompetitif struktur pasarnya, makin efisien. Struktur pasar
yang paling efisien adalah struktur pasar persaingan sempurna.
4. Banyaknya fasilitas pemasaran
makin banyak fasilitas pemasaran makin efisien pemasarannya.
7.5. Manajemen Pemasaran
Rencana pemasaran strategis terdiri dari keputusan-keputusan:
1. Keputusan pasar secara menyeluruh. Keputusan ini bisa terdiri
dari :
Identifikasi pasar target dan kebutuhan konsumen
Keadaan lingkungan pasar yang bersaing
2. Keputusan produk, yaitu keputusan untuk menentukan lini
produk.
3. Keputusan harga, yaitu berupa cara-cara penentuan harga
barang, antara lain berupa:
penentuan harga cost-plus
penentuan harga mark-up
penentuan harga psichologis
penentuan harga penetrasi
penentuan harga pasar berjenjang
4. Keputusan tempat, outlet dan distribusi saluran pemasaran
5. Keputusan promosi
VIII. KEBIJAKAN PERTANIAN

8.1. Pengertian
Kebijakan pertanian sering disebut pula politik pertanian
merupakan salah satu kegiatan pemerintah untuk masyarakat
yang ditujukan untuk meningkatkan taraf hidup, kesempatan
ekonomi petani dan kehidupan pedesaan.

8.2. Kebijakan harga
1. Harga dasar
Harga dasar merupakan harga minimum yang harus terjadi di
tingkat petani, agar petani mendapatkan harga yang layak
sehingga petani terangsang untuk selalu meningkatkan produksi.
Kebijakan ini diberikan mengingat harga yang terjadi di pedesaan
sangat rendah terutama pada saat panen. karena petani
kebanyakan miskin, sehingga pada waktu panen ada
kecenderungan petani menjual sebagian besar hasil panen untuk
mencukupi kebutuhannya, sehingga jumlah penawaran hasil
panen berlimpah, menyebabkan harga rendah.

2. harga atap
Harga atap adalah harga maksimum yang harus terjadi agar
konsumen dapat mengkonsumsi komoditas tersebut. Keadaan ini
terjadi pada saat paceklik, karena persediaan komoditas tersebut
kurang, sedangkan konsumsi jalan terus. Kebijakan harga atap ini
bertujuan untuk melindungi konsumen.

3. Buffer stock
Ada bermacam-macam tujuan buffer stock yang sesuai dengan
namanya:
a. Market operation stock, yaitu cadangan beras untuk keperluan
operasi pasar, yaitu untuk menjalankan kebijakan harga dasar dan
atap.
b. Emergency stock, yaitu cadangan beras untuk keperluan
bantuan kepada masyarakat bila terjadi musibah.
c. Commitment stock, yaitu cadangan beras untuk penyaluran
golongan anggaran termasuk pegawai negeri, pegawai BUMN,
tentara.
d. carry over stock, yaitu cadangan yang akan digunakan untuk
kebutuhan masa mendatang (ganti tahun).
4. tarif bea masuk
Tarif bea masuk impor selain mendatangkan pendapatan bagi
pemerintah, sekaligus bisa dimanfaatkan untuk melindungi
produsen dalam negeri. akibat adanya tarif bea masuk, harga
produk tersebut menjadi naik.

5. Pajak ekspor
Pajak ekspor selain juga mendatangkan pendapatan bagi
pemerintah juga berfungsi untuk melindungi industri dalam negeri
yang menggunakan bahan baku produk tersebut. dengan adanya
pajak ekspor, maka harga produk dalam negeri menjadi lebih
murah, sehinga menguntungkan pengguna bahan baku tersebut.
6. Pembatasan produksi
7. Pembayaran langsung
8.3. Kebijakan struktural
Kebijakan struktural berupa kebijakan pertanahan, pola dan tata
tanam serta kebijakan tentang infrastruktur. Kebijakan
pertanahan bertujuan untuk menata luas pengusahaan dan
pemilikan lahan. Kebijakan ini bisa berupa agrarian reform yang
meliputi:
1. perubahan sistem pemilikan dan penguasaan tanah
2. perubahan dalam sistem penggunaan tanah
3. perubahan tentang hukum agraria nasional
Menurut Mosher (1969), struktur pedesaan yang modern terdiri
dari:
1. tersedianya pasar tempat menjual hasil produksi dan membeli
sarana produksi dan peralatan pertanian.
2. jalan-jalan desa yang cukup memadai
3. tempat-tempat percobaan guna melakukan verifikasi lokal
4. Perangkat penyuluhan, tempat petani belajar dan bertanya
tentang teknologi baru
5. fasilitas perkreditan guna menunjang penggunaan teknologi
baru.
8.4. Kebijakan pemasaran
kebijakan pemasaran menitik beratkan pada pengaturan sistem
pemasaran beserta lembaga-lembaganya, sehingga tercipta
sistem pemasaran yang efisien dan efektif agar petani mempunyai
daya saing yang tinggi.
IX. PEMBANGUNAN PERTANIAN
Perubahan dalam pendekatan kebijakan pembangunan pertanian
yang dilakukan oleh Kabinet Persatuan Nasional:
1. Perubahan penekatan perencanaan dari dominasi perencanaan
terpusat menjadi lebih terdesentralisasi, dalam upaya menjamin
pembangunan partisipasif, optimasi pemanfaatan sumberdaya
yang beragam dan mencapai pembangunan daerah yang lebih
merata.
2. Perubahan orientasi pembangunan dari pendekatan peningkatan
produksi menjadi peningkatan pendapatan dan kesejahteraan
petani.
3. Perubahan dari penekanan pada upaya menghasilkan produk
tanaman primer mengarah pada produk-produk olahan yang
dapat menciptakan nilai tambah bagi masyarakat pedesaan,
melalui pengembangan agribisnis di pedesaan.
4. Perubahan dari pemanfaatan teknologi padat karya untuk
menciptakan kesempatan kerja mengarah pada penerapan
teknologi padat modal ddan mekanisasi pertanian dalam upaya
untuk mencapai efisiensi usaha dan daya saing komoditas.
5. Perubahan dari dominasi peran pemerintah dalam pelaksanaan
pembangunan menjadi pada semakin besarnya peran masyarakat
dan swasta mulai dari perencanaan sampai pada
implementasinya.
X. KOPERASI PERTANIAN
Koperasi adalah organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial,
beranggotakan orang-orang atau badan hukum koperasi yang
merupakan tata susunan ekonomi sebagai usaha bersama
berdasar atas azas kekeluargaan.
Macam-macam koperasi:
-koperasi produksi
-koperasi pemasaran
-koperasi simpan pinjam
Sejarah koperasi dunia.
Jejak-jejak organisasi yang menyerupai koperasi pernah ada di
Mesir kuno kira-kira 3000 tahun SM.ada bekas ide koperasi
kebudayaan di Yunani, Romawi dan China. Koperasi pengusaha
tani pertama yang dilaporkan adalah koperasi para peternak sapi
perahan di Swiss, yang membuat keju secara koperatif pada abad
ke 13. orang-orang amerika berpengalaman dalam membentuk
koperasi. Benyamin Franklin membentuk gabungan asuransi
bersama (koperasi) pada tahun 1752. menjelang tahun 1800-an
hampir sebanyak 1000 koperasi usahatani terutama koperasi
peternak perahan di Amerika Serikat.
Banyak orang mengakui bahwa koperasi resmi pertama pada
jaman modern adalah perkumpulan para pelopor keadilan
Rochdale di Inggris tahun 1844. pada awalnya anggotanya
berjumlah 28 yang berusaha dalam pembelian perbekalan untuk
bisnis mereka. Walaupun perkumpulan tersebut bukan yang
pertama, tetapi prinsip-prinsip dasarnya telah berlaku sebagai
model bagi perkembangan sejumlah besar koperasi modern.
Prinsip-prinsip Rochdale
1. modal harus disediakan sendiri dan modal tersebut mendapat
suku bunga yang tetap.
2. koperasi hanya menyediakan bahan makanan yang paling pokok
dan yang dapat diperoleh kepada para anggota.
3. timbangan dan ukuran penuh harus diberikan.
4. harga pasar harus dibayar langsung, tidak ada kredit yang
diberikan atau diminta.
5. laba harus dibagi menurut perbandingan jumlah pembelian yang
dilakukan oleh setiap anggota.
6. prinsipnya setiap anggota mempunyai 1 suara yang menentukan
dan harus ada persamaan bagi semua jenis kelamin dalam
keanggotaan.
7. manajemen harus dikelola oleh para pejabat dan komite/panitia
yang dipilih secara berkala.
8. persentase tertentu dari sisa hasil usaha harus disediakan bagi
pendidikan
9. perhitungan (laporan) keuangan dan neraca harus sering
disajikan kepada para anggota.

Pada tahun 1922 di Amerika Serikat terdapat Undang-undang
Capper-Volstead yang memberi kepastian hak-hak
pengusahatani untuk mengorganisasi pasar dan hasil secara
kolektif selama memenuhi syarat sebagai berikut:
a. asosiasi/koperasi menyelenggarakan sekurang-kurangnya
setengan dari bisnisnya dalam hubungan pasra anggotanya; dan
b. tidak ada anggota asosiasi yang mempunyai lebih dari satu hak
suara, atau asosiasi membatasi deviden tidak lebih dari 8 %.