Anda di halaman 1dari 15

KENALI RHESUS DARAHMU

Senin 9 Januari 2012 - 13:53 WIB


341 429


2

SEKAPUR SIRIH
Pada umumnya golongan darah biasa dikenal dengan sistem ABO, jarang masyarakat mengenal
golongan darah rhesus positif dan negatif. Dalam sistem ABO, golongan darah terbagi menjadi empat
macam: A, B, AB, dan O, sedangkan dalam sistem rhesus, golongan darah terbagi menjadi dua yaitu
rhesus positif dan rhesus negatif. Kedua sistem penggolongan ini berbeda satu sama lain.
APA ITU RHESUS ?
Rhesus adalah protein (antigen) yang terdapat pada permukaan sel darah merah. Sistem penggolongan berdasarkan
rhesus ini ditemukan oleh Landsteiner dan Wiener tahun 1940. Disebut rhesus karena saat itu Landsteiner-Wiener
melakukan riset dengan menggunakan darah kera rhesus (Macaca mulatta), salah satu spesies kera yang banyak
dijumpai di India dan Cina. Mereka yang mempunyai faktor protein ini disebut rhesus positif. Sedangkan yang tidak
memiliki faktor protein ini disebut rhesus negatif.
SERBA SERBI RHESUS
Mengenali rhesus khususnya rhesus negatif menjadi begitu penting karena di dunia ini hanya sedikit orang yang
memiliki rhesus negatif. Persentase jumlah pemilik rhesus negatif berbeda-beda antar kelompok ras. Pada ras bule
(seperti warga Eropa, Amerika, dan Australia), jumlah pemilik rhesus negatif sekitar 15 18%. Sedangkan pada ras
Asia, persentase pemilik rhesus negatif jauh lebih kecil. Menurut data Biro Pusat Statistik 2010, hanya kurang dari
satu persen penduduk Indonesia, atau sekitar 1,2 juta orang yang memiliki rhesus negatif. Karena persentasenya
sangat kecil, jumlah pendonor pun amat langka, sehingga bila memerlukan donor darah agak sulit.
ADA APA DENGAN RHESUS ?
Di dalam sistem rhesus terdapat aturan khusus dalam urusan sumbang-terima darah. Pemilik rhesus negatif tidak
boleh ditranfusi dengan darah rhesus positif. Ini dikarenakan sistem pertahanan tubuh si reseptor (penerima donor)
akan menganggap darah (rhesus positif) dari donor itu sebagai benda asing yang perlu dilawan seperti virus atau
bakteri. Sebagai bentuk perlawanan, tubuh reseptor akan memproduksi antirhesus. Saat transfusi pertama, kadar
antirhesus masih belum cukup tinggi sehingga relatif tak menimbulkan masalah serius. Tapi pada tranfusi kedua,
akibatnya bisa fatal karena antirhesus mencapai kadar yang cukup tinggi. Antirhesus ini akan menyerang dan
memecah sel-sel darah merah dari donor, sehingga ginjal harus bekerja keras mengeluarkan sisa pemecahan sel-sel
darah merah itu. Kondisi ini bukan hanya menyebabkan tujuan tranfusi darah tak tercapai, tapi malah memperparah
kondisi si reseptor sendiri.
- See more at: http://rhesusnegatif.com/article_detail.php?id=45#sthash.KE3W5XTk.dpuf

Macam-macam Penggolongan Golongan Darah Manusia
Oleh: admin | January 31, 2014
0 Comment
Macam-macam Penggolangan Golongan Darah Manusia- Golongan darah manusia dibagi menjadi beberapa
macam. Hal ini dapat dilihat dari aglutinogen (antigen) dan aglutinin (antibodi) yang terkandung dalam darah
seseorang. Penggolongan darah ini pertama kali ditemukan olehDr. Lendsteiner dan Donath. Di dalam darah
manusia terdapat aglutinogen (antigen) pada eritrosit dan aglutinin (antibodi) yang terdapat di dalam plasma darah.
Penemuan Karl Landsteiner diawali dari penelitiannya, yaitu ketika eritrosit seseorang dicampur dengan serum
darah orang lain, maka terjadi penggumpalan (aglutinasi). Tetapi pada orang lain, campuran itu tidak menyebabkan
penggumpalan darah. Aglutinogen (aglutinin) yang terdapat pada eritrosit orang tertentu dapat bereaksi dengan zat
aglutinin (antibodi) yang terdapat pada serum darah.
Aglutinogen dibedakan menjadi dua yaitu:
Aglutinogen A : memiliki enzim glikosil transferase yang mengandung glutiasetil glukosamin pada rangka
glikoproteinnya.
Aglutinogen B : memiliki enzim galaktose pada rangka glikoproteinnya. Aglutinin dibedakan menjadi aglutinin dan
.
Darah seseorang memungkinkan dapat mengandung aglutinogen A saja atau aglutinogen B saja. Tetapi
kemungkinan juga dapat mengandung aglutinogen A dan B. Ada juga yang tidak mengandung aglutinogen sama
sekali. Adanya aglutinogen dan aglutinin inilah yang menjadi dasar penggolongan darah manusia berdasarkan
sistem ABO.
Menurut sistem ABO, golongan darah manusia dibedakan menjadi empat, yaitu sebagai
berikut.
No Golongan Darah Keterangan
1 A Apabila di dalam sel darah seseorang mengandung aglutinogen Adan
serumnya mengandung aglutinin sehingga dapat dirumuskan (A, ).
2 B Apabila di dalam sel darah seseorang terdapat aglutinogen B, sedangkan
dalam serumnya terdapat aglutinin sehingga dirumuskan (B, )
3 AB Apabila di dalam sel darah seseorang terdapat aglutinogen A danB, sedangkan
di dalam serumnya tidak mengandung aglutinin, sehingga dapat dirumuskan
(AB,)
4 O Apabila di dalam sel darah seseorang tidak terdapat aglutinogen sedangkan
dalam serumnya mengandung aglutinin dan sehingga dapat dirumuskan (-
, , ).
Pada penelitiannya, Leindsteiner juga menemukan aglutinogen yang terdapat pada darah kera,Maccacus rhesus,
sehingga diberi nama aglutinogen rhesus. Dari fakta ini, kemudian golongan darah dibedakan menjadi dua, yaitu
sebagai berikut.
1. Golongan darah Rh+, jika di dalam sel darah seseorang terdapat aglutinogen rhesus.
2. Golongan darah Rh, jika di dalam sel darah seseorang tidak terdapat aglutinogen rhesus.
Sistem rhesus ini dalam tranfusi darah juga harus diperhatikan. Apabila golongan darah Rh + maka tidak boleh
digunakan sebagai donor untuk golongan darah Rh-, karena bisa terjadi aglutinasi (penggumpalan). Pada kasus lain,
jika seorang ibu yang memiliki golongan darah Rh kemudian mengandung bayi dengan golongan darah Rh+, maka
sel darah bayi akan rusak dan menyebabkan penyakit bawaan, yaitu penyakit kuning atau eritroblastosis fetalis.

Sistem Transportasi (5) : Golongan darah Rhesus
Artikel ini telah dibaca 6,412 kali
Artikel sebelumnya:
Sistem Transportasi (1) : Sistem transportasi pada Invertebrata
Sistem Transportasi (2) : Sistem transportasi pada Vertebrata
Sistem Transportasi (3) : Darah manusia
Sistem Transportasi (4) : Golongan darah ABO
Seperti juga golongan darah berdasarkan sistem ABO, golongan darah Rhesus juga didasarkan pada jenis aglutinogen pada
eritrosit dan aglutinin pada plasma darah.
Golongan darah Rhesus ini juga ditemukan oleh Landsteiner. Penamaan golongan Rhesus ini diambil dari nama kera yang
diteliti Landsteiner, namanya Macacus rhesus. Pada kera ini didapati antigen dan antibodi yang sama dengan manusia.

Sang monyet : Macacus rhesus.
Ada dua jenis golongan Rhesus, yaitu Rhesus (+) dan Rhesus (-). Orang bergolongan Rhesus + memiliki antigen Rhesus
(antigen Rh) pada eritrositnya dan tidak memiliki antibodi. Golongan Rhesus memiliki antibodi Rhesus (anti Rh) pada
plasma darahnya dan tidak memiliki antigen. Lihat tabel berikut:
Golongan Rhesus
+
Rhesus -
antigen antigen
Rhesus
-
antibodi - anti Rhesus

Orang bergolongan Rhesus bisa menjadi donor terhadap golongan Rhesus maupun Rhesus + (dalam kondisi darurat).
Tetapi orang Rhesus + hanya diperbolehkan mendonorkan darahnya kepada Rhesus + saja, dan tidak boleh ke Rhesus .
Alasannya sama seperti golongan darah ABO, yaitu karena Rhesus + sebagai donor memiliki antigen (antigen Rhesus) dan
Rhesus - sebagai resipien memiliki antibodi (anti Rhesus). Inkompatibilitas ini akan menyebabkan penggumpalan (aglutinasi)
antigen Rhesus oleh anti Rhesus, dan bisa menyebabkan kematian sang resipien.
Nilai medis lain dari golongan Rhesus ini terutama dalam masalah perkawinan. Jika seorang pria Rhesus + menikah dengan
wanita Rhesus , maka anaknya berpeluang mengalami eritroblastosis fetalis (penyakit kuning pada bayi). Kasus ini hanya
terjadi pada tipe perkawinan pria Rhesus + dengan wanita Rhesus .
Jika ibu Rhesus mengandung anak pertama Rhesus +, maka sang ibu akan membentuk anti Rhesus (antibodi). Jika
kehamilan kedua sang anak bergolongan Rhesus + maka anti Rhesus ibu akan menyerang dan menyebabkan kerusakan
eritrosit bayi yang dikandungnya.

Karena banyak eritrosit yang rusak, darah bayi lebih banyak mengandung eritroblas (eritrosit yang masih muda dan berinti).
Sementara itu kerusakan eritrosit yang cukup tinggi mengakibatkan meningkatnya urobilin, yaitu pigmen kuning yang
memberi warna pada urine. Inilah yang menyebabkan bayi tampak berwarna kuning.
Pada kasus tertentu pertolongan pada bayi dapat dilakukan dengan fototherapi yaitu penyinaran dengan cahaya ultraviolet,
transfusi post natal (setelah lahir), atau transfusi pre natal (sebelum lahir) dengan menyuntikkan darah langsung ke umbilikal
(tali pusar).
Berdasarkan pembagian ras manusia, ternyata rhesus negatif lebih banyak dijumpai pada orang:
Eropa (bule) sekitar 15% Rh dan 88% Rh +
Negro : 7-8% Rh dan 90 93% Rh +
Asia : 99% rhesus + dan Rh < 1%
Mungkin inilah yang menyebabkan cukup tingginya prevalensi eritroblastosis fetalis jika terjadi pernikahan pria Asia dengan
wanita bule.

sistem penggolongan darah pada manusia
Sistem golongan darah pada manusia ada 3 macam yaitu sistem ABO,system MN,dan sistem rhesus
1. Sistem ABO
Sistem golongan darah tersebut dikembangkan oleh Karl Landsteiner, seorang ahli biologi dan fisika dari Austria.Anyway, tahukah kamu
bagaimana membedakan keempat jenis golongan darah tersebut? Mengapa antar golongan darah belum tentu bisa saling donor?
Dalam sel darah merah kita, terdapat beberapa jenis antigen di permukaan sel darah merah. Salah satunya adalah antigen A dan B. Darah
kita bisa mengandung antigen A, antigen B, keduanya, atau tidak mengandung keduanya sama sekali. Antigen inilah yang menjadi
penentu utama jenis golongan darah seseorang.
Selain itu, di dalam darah kita juga terkandung aglutinin. Aglutinin ini bertindak sebagai antibodi terhadap antigen A dan B. Adanya
aglutinin a akan menolak keberadaan antigen A dalam darah. Demikian pula aglutinin B akan menolak keberadaan antigen B dalam
darah. Penolakan ini ditandai dengan penggumpalan aglutinin saat bertemu dengan antigen yang ditolaknya. Inilah yang menyebabkan
donor darah tidak bisa dilakukan sembarangan. Harus diperhatikan apakah aglutinin yang dimiliki oleh golongan darah penerima tidak
menolak antigen yang dimiliki oleh golongan darah pendonor.
Nah, berikut ini adalah karakteristik komposisi antigen darah sesuai dengan golongannya
Orang dengan golongan darah A hanya memiliki antigen A dan aglutinin b.
Orang dengan golongan darah B hanya memiliki antigen B dan aglutinin a.
Orang dengan golongan darah AB memiliki antigen A dan B, tetapi tidak memiliki aglutinin a dan b.
Orang dengan golongan darah O tidak memiliki antigen A dan B, tidak memiliki aglutinin a dan b(Robertus sonny.2013.Sistem
Golongan Darah ABO).
2. Sistem Rhesus
Sistem penggolongan darah yang lain adalah berdasarkan faktor Rhesus. Sistem rhesus ditemukan oleh Lionel dan Weiner pada tahun
1940 dengan menyuntikkan darah kera Macacus rhesus ke tubuh kelinci, ternyata darah kera tersebut digumpalkan oleh aglutinin yang
dihasilkan plasma darah kelinci. Aglutinin yang berasal dari kelinci itu juga menggumpalkan darah manusia walaupun tidak pada semua
orang.
Orang yang darahnya dapat digumpalkan oleh aglutinin dari kelinci dikelompokkan sebagai golongan Rhesus positif (Rh+), sedangkan
yang darahnya tidak dapat digumpalkan oleh aglutinin kelinci tadi dikelompokkan ke dalam Rhesus negatif (Rh). Secara singkat dapat
diterangkan:
1) Golongan darah Rh+, dalam eritrositnya mengandung antigen Rhesus, pada plasmanya tidak dibentuk antibodi terhadap antigen
Rhesus.
2) Golongan darah Rh , dalam eritrositnya tidak ada antigen Rhesus, pada plasmanya dapat dibentuk antibodi terhadap antigen Rhesus.
Golongan darah Rhesus negatif banyak dimiliki oleh orang Eropa 85% dari jumlah penduduk, sedangkan orang Asia terutama
Indonesia golongan Rhesus negatif hanya 0,013%.(Hikmat.2013.Macam-macam golongan darah).
3. Sistem MN
Pada tahun 1972 k.landsteiner dan P.levine telah menemukan golongann darah sistem MN pada golongan darah manusia akibat
ditemukan antigen M dan antigen N pada sel darah merah (eritrosit) manusia.Sistem golongan darah ini terdiri atas 3 jenis yaitu:
1. Golongan M,mengandung antigen M
2. Golongan N,mengandung antigen N
3. Golongan MN,mengandung antigen M dan antigen N (Joko waluyo.2006:180).

Golongan darah
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Golongan darah adalah pengklasifikasian darah dari suatu individu berdasarkan ada atau tidak adanya
zat antigen warisan pada permukaan membran sel darah merah. Hal ini disebabkan karena adanya perbedaan
jenis karbohidrat dan protein pada permukaan membran sel darah merah tersebut. Dua jenis penggolongan
darah yang paling penting adalah penggolongan ABO dan Rhesus (faktor Rh). Di dunia ini sebenarnya dikenal
sekitar 46 jenis antigen selain antigen ABO dan Rh, hanya saja lebih jarang dijumpai. Transfusi darahdari
golongan yang tidak kompatibel dapat menyebabkan reaksi transfusi imunologis yang berakibat anemia
hemolisis, gagal ginjal, syok, dan kematian.
Golongan darah manusia ditentukan berdasarkan jenis antigen dan antibodi yang terkandung dalam darahnya,
sebagai berikut:
Individu dengan golongan darah A memiliki sel darah merah dengan antigen A di permukaan membran
selnya dan menghasilkan antibodi terhadap antigen B dalam serumdarahnya. Sehingga, orang dengan
golongan darah A-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah A-negatif atau
O-negatif.
Individu dengan golongan darah B memiliki antigen B pada permukaan sel darah merahnya dan
menghasilkan antibodi terhadap antigen A dalam serum darahnya. Sehingga, orang dengan golongan
darah B-negatif hanya dapat menerima darah dari orang dengan dolongan darah B-negatif atau O-negatif
Individu dengan golongan darah AB memiliki sel darah merah dengan antigen A dan B serta tidak
menghasilkan antibodi terhadap antigen A maupun B. Sehingga, orang dengan golongan darah AB-positif
dapat menerima darah dari orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut resipien universal.
Namun, orang dengan golongan darah AB-positif tidak dapat mendonorkan darah kecuali pada sesama
AB-positif.
Individu dengan golongan darah O memiliki sel darah tanpa antigen, tapi memproduksi antibodi terhadap
antigen A dan B. Sehingga, orang dengan golongan darah O-negatif dapat mendonorkan darahnya
kepada orang dengan golongan darah ABO apapun dan disebut donor universal. Namun, orang dengan
golongan darah O-negatif hanya dapat menerima darah dari sesama O-negatif.
Secara umum, golongan darah O adalah yang paling umum dijumpai di dunia, meskipun di beberapa negara
seperti Swedia dan Norwegia, golongan darah A lebih dominan. Antigen A lebih umum dijumpai dibanding
antigen B. Karena golongan darah AB memerlukan keberadaan dua antigen, A dan B, golongan darah ini
adalah jenis yang paling jarang dijumpai di dunia.
Ilmuwan Austria, Karl Landsteiner, memperoleh penghargaan Nobel dalam
bidang Fisiologi dan Kedokteran pada tahun 1930 untuk jasanya menemukan cara penggolongan darah ABO.

Daftar isi
[sembunyikan]
1 Frekuensi
2 Pewarisan
3 Rhesus
4 Golongan darah lainnya
5 Kecocokan golongan darah
6 Lihat pula
7 Pranala luar
Frekuensi[sunting | sunting sumber]
Penyebaran golongan darah A, B, O dan AB bervariasi di dunia tergantung populasi atau ras. Salah satu
pembelajaran menunjukkan distribusi golongan darah terhadap populasi yang berbeda-beda.
Populasi O A B AB
Suku pribumi Amerika Selatan 100%
Orang Vietnam 45.0% 21.4% 29.1% 4.5%
Suku Aborigin di Australia 44.4% 55.6%
Orang Jerman 42.8% 41.9% 11.0% 4.2%
Suku Bengalis 22.0% 24.0% 38.2% 15.7%
Suku Saami 18.2% 54.6% 4.8% 12.4%
Pewarisan[sunting | sunting sumber]
Tabel pewarisan golongan darah kepada anak
Ibu
Ayah
O A B AB
O O O, A O, B A, B
A O, A O, A O, A, B, AB A, B, AB
B O, B O, A, B, AB O, B A, B, AB
AB A, B A, B, AB A, B, AB A, B, AB
Rhesus[sunting | sunting sumber]
Jenis penggolongan darah lain yang cukup dikenal adalah dengan memanfaatkan faktor Rhesus atau faktor
Rh. Nama ini diperoleh dari monyet jenis Rhesus yang diketahui memiliki faktor ini pada tahun 1940 oleh Karl
Landsteiner. Seseorang yang tidak memiliki faktor Rh di permukaan sel darah merahnya memiliki golongan
darah Rh-. Mereka yang memiliki faktor Rh pada permukaan sel darah merahnya disebut memiliki golongan
darah Rh+. Jenis penggolongan ini seringkali digabungkan dengan penggolongan ABO. Golongan darah O+
adalah yang paling umum dijumpai, meskipun pada daerah tertentu golongan A lebih dominan, dan ada pula
beberapa daerah dengan 80% populasi dengan golongan darah B.
Kecocokan faktor Rhesus amat penting karena ketidakcocokan golongan. Misalnya donor dengan Rh+
sedangkan resipiennya Rh-) dapat menyebabkan produksi antibodi terhadap antigen Rh(D) yang
mengakibatkan hemolisis. Hal ini terutama terjadi pada perempuan yang pada atau di bawah usia melahirkan
karena faktor Rh dapat memengaruhi janin pada saat kehamilan.
Golongan darah lainnya[sunting | sunting sumber]
Diego positif yang ditemukan hanya pada orang Asia Selatan dan pribumi Amerika.
Dari sistem MNS didapat golongan darah M, N dan MN. Berguna untuk tes kesuburan.
Duffy negatif yang ditemukan di populasi Afrika.
Sistem Lutherans yang mendeskripsikan satu set 21 antigen.
Dan sistem lainnya meliputi Colton, Kell, Kidd, Lewis, Landsteiner-
Wiener, P, Yt atau Cartwright, XG, Scianna, Dombrock, Chido/
Rodgers, Kx, Gerbich, Cromer, Knops,Indian, Ok, Raph dan JMH.
Kecocokan golongan darah[sunting | sunting sumber]
Tabel kecocokan Darah RBC
Golongan darah resipien
Donor
O O+ A A+ B B+ AB AB+
O

O+

A

A+

B

B+

AB

AB+

Tabel kecocokan plasma
Resipien
Donor
O A B AB
O

A

B

AB

Anda mungkin juga menyukai