Anda di halaman 1dari 9

1

BIODIESEL
Metode yang paling umum untuk menghasilkan biodiesel yang berupa methyl ester
adalah dengan metode Transesterify triacylglycerols, dimana minyak dengan alkohol
ditambah dengan katalisator. Alkohol yang digunakan adalah methanol. Penggunaan
biodiesel pada mesin konvensional mampu mengurangi emisi dari hydrocarbon yang tidak
terbakar, CO, sulfat, dan hidrokarbon aromatis polisiklik.
Biodiesel dapat digunakan sebagai bahan bakar murni atau dicampur dengan petroleum
dengan persentase tertentu. B20 (campuran 20% volume biodiesel petroleum dengan 80%
volume petroleum diesel) telah dibuktikan menguntungkan bagi lingkungan. Sifat fisik
biodiesel standar Jerman DIN V 51606 yang paling banyak dijadikan acuan dapat dilihat
pada table 2.1.
Table 2.1 Sifat fisik biodiesel standar Jerman Din V 51606
Parameter Nilai
Densitas pada suhu 15
O
C, g/mL 0,875 0,890
Flash Point,
O
C 110
Moisture, ppm 300
Bilangan asam, mg KOH/g 0,5
Total gliserol, % 0,25
Gliserol bebas, % 0,02
Kandungan fosfor, % 10
Kandungan methanol, % 0,3
Sifat kimia methyl ester sebagai berikut :
Mempunyai rumus bangun RCOOCH
3

Mempunyai senyawa karbon rantai lurus jenuh, kecuali C
17
yang mempunyai
rantai lurus rangkap
Sifat Fisik Biodiesel menurut SNI 04-7182-2006
Parameter SNI Biodiesel
Komposisi
Densitas
Viskositas
Angka pembakaran
Titik nyala
Kekentalan
Metil ester
0,8624 gr/ml-0,89 gr/ml
5,55
62,4
191
4,84




2

Sifat Kimia Biodiesel menurut SNI 04-7182-2006
Parameter Satuan Nilai
Angka asam mg-KOH/g maks.0,8
Gliserol bebas %-massa maks. 0,02
Gliserol total %-massa maks. 0,24
Kadar ester alkil %-massa min. 96,5

Biodiesel berbentuk cairan berwarna kuning cerah sampai kuning kecoklatan.
Biodiesel tidak dapat campur dengan air, mempunyai titik didih tinggi dan mepunyai tekanan
uap yang rendah. Biodiesel terdiri dari senyawa campuran methyl ester dari rantai panjang
asam-asam lemak dari minyak tumbuh-tumbuhan yang memiliki flash point 150 C (300 F),
density 0.88 g/cm, dibawah density air. Biodiesel tidak memiliki senyawa toksik dan tidak
mengandung sulfur. Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono--
alkyl ester dari rantai panjang asam lemak, yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan bakar
dari mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak sayur atau lemak hewan.

Biodiesel adalah senyawa mono alkil ester yang diproduksi melalui reaksi tranesterifikasi
antara trigliserida (minyak nabati, seperti minyak sawit, minyak jarak dll) dengan metanol
menjadi metil ester dan gliserol dengan bantuan katalis basa. Biodiesel mempunyai rantai
karbon antara 12 sampai 20 serta mengandung oksigen. Adanya oksigen pada biodiesel
membedakannya dengan petroleum diesel (solar) yang komponen utamanya hanya terdiri dari
hidro karbon. Jadi komposisi biodiesel dan petroleum diesel sangat berbeda.

Biodiesel secara nyata dapat mengurangi pencemaran, mengurangi hidrokarbon yang
tidak terbakar,karbonmonoksida, sulfat, polisiklikaromatik hidrokarbon, dan hujan asam.
Sifat - sifat yang terdapat di biodiesel yaitu :
1. Dapat Diperbarui (Renewable)
2. Mudah terurai oleh bakteri (Biodegradable)
3. Ramah Lingkungan
4. Menurunkan emisi (CO, CO2, SO2)
5. Menghilangkan asap hitam
6. Sifat pelumasan lebih bagus
7. Digunakan oleh mesin diesel
Manfaat dari biodiesel yaitu :
Keuntungan biodesel terhadap mesin adalah
1. Untuk menambah peluasan mesin
2. Menambah ketahanan mesin
3. Mengurangi frekuensi pergaantian mesin
Keuntungan lain dari biodesel adalah sifat emisi yang rendah dan mengandung oksigen
sekitar 10-11%
Bahan baku yang digunakan untuk pengolahan biodiesel yaitu
1. Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RPO). Merupakan minyak hasil kelapa sawit yang
telah mengalami proses pemurnian di Revinery. Minyak kelapa sawit tersusun atas lemak dan
minyak alam yang terdiri atas trigleserida, digleserida, dan monogleserida, asam lemak bebas,
moisture, pengotor, dan komponen-komponen minor bukan minyak/lemak yang secara umum
disusun oleh senyawa yang tidak dapat tersabunkan.
3

Asam-asam lemak penyusun minyak/lemak terdiri atas
a. Asam Lemak Jenuh (Saturated Fatty Acid / SFA)
Tidak mengandung ikatan rangkap, dan secara umum penyusun lemak berasal dari sumber
hewani.
b. Asam Lemak tak Jenuh (Unsaturated Fatty Acid / UFA)
Mengandung ikatan rangkap, secara umum penyusun lemak berasal dari sumber nabati dan
terdiri atas;
Mono - Unsaturated Fatty Acid / MUFA
Poly - Unsaturated Fatty Acid / PUFA

Tabel Komposisi Asam Lemak Minyak Kelapa Sawit
No Asam Lemak Rumus
Persen
Komposisi
Berat
Molekul
Titik
Didih
1
Asan Laurat ( 12 :
0 )
C12H24O2 0,0 0,4 200,32 180C
2
Asam Miristat ( 14 :
0 )
C14H26O2 0,6 1,7 228,38 250C
3
Asam Palmitat (16 :
0 )
C16H32O2 41,1 47,0 256,43 271C
4
Asam Stearat ( 18 :
0 )
C18H36O2 3,7 5,6 284,49 232C
5 Asam Oleat (18 : 1 ) C18H34O2 38,2 43,6 282,47 260C
6
Asam Linoleat ( 18 :
2 )
C18H32O2 6,6 11,9 280,45 176C
7
Asam Linoleat ( 18 :
3 )
C18H30O2 0,0 0,6 278,44 180C

Dari tabel diatas asam lemak yang paling dominan adalah asam palmitat dan asam oleat.
Selain asam lemak yang disebut dalam tabel, minyak kelapa sawit juga memiliki kandungan
minor dalam jumlah sedikit. Antara lain adalah karoten, vitamin E, sterol, fosfolipid,
glikolipid, terpen, dan hidrokarbon alifatik.
2. Methanol (CH3OH) merupakan senyawa alkohol yang digunakan sebagai pereaksi yang
akan memberikan gugus alkil kepada rantai trigliserida dalam reaksi biodiesel.
3. Sodium Methylate (NaOCH3) digunakan sebagai katalis (zat yang digunakan untuk
mempercepat reaksi),merupakan katakis basa karena mengandung alkalinity 30%.
4. Phosporic Acid (H3PO4) digunakan sebagai zat yang akan mengurangi kadar sabun dalam
biodiesel,mengikat getah - getah (gum) dalam biodiesel,bersifat asam dengan kadar (>85%)
5. Hydrocloric Acid (HCl) digunakan dalam proses Reacrification I, berfungsi untuk
memisahkan Fatty matter di dalam Heavy Phase (Glycerine - water - methanol) dengan kadar
(>30%).
6. Caustic soda ( NaOH ) ini digunakan untuk penetral pembentukan glyserin







4

GLISEROL

Gliserol merupakan produk samping dari pembuatan methyl ester. Nama lain dari
gliserol adalah 1,2,3-propational, CH
2
OH CHOH CH
2
OH, dengan sifat fisik antara lain :
berbentuk cairan kental manis jernih, mudah larut dalam air dan alcohol larutannya bersifat
netral, hygroscopis, serta tidak mudah larut dalam ether, benzene, chloroform, mudah
menguap. Produk pembuatan biodiesel ini bukan gliseril murni tetapi masih berupa crude
gliserin dan warnanya belum jernih. Pada suhu kamar (25
O
C), gliserol ini mempunyai berat
jenis sebesar 1,261 dengan PH berkisar antara 6,5 7,5.

Kegunaan gliserol sangat luas, antara lain digunakan dalam industri obat, kosmetik, pasta
gigi dan lainnya. Sifat fisik gliserol dapat dilihat pada table 2.2.

Table 2.2 Sifat fisik gliserol
Parameter Nilai
Titik leleh,
O
C 18,17
Titik didh pada 0,53 kPa,
O
C 14,9
Tekanan uap pada suhu 50
O
C, Pa 0,33
Parameter Nilai
Surface tension pada suhu 20
O
C, dyne/cm 63,4
Viskositas pada suhu 20
O
C, cP 1499
Konduktivitas termal, W/m.K 0,28
Pada pembuatan biodiesel ini, bahan baku utama yang digunakan adalah crude
palm oil (CPO) dan methanol serta natrium hidroksida (NaOH) sebagai bahan baku
pendukung yang berfungsi sebagai katalis.

Crude Palm Oil (CPO)

Kelapa sawit (Elaeis guineensis) di Indonesia dalam tahun 1979 tercatat
sebanyak 73 buah perkebunan kelapa sawit dengan luas areal 230.000 Ha.
Produksi per Ha nya, diperkirakan produksi kelapa sawit dunia adalah 2,5 juta
ton. CPO berasal dari bagian pericarp buah kelapa sawit. Kandungan yang
terdapat dalam minyak sawit (CPO) adalah 94% trigliserida, 5% asam lemak
bebas (FFA) dan selebihnya zat pengotor dan air. Minyak sawit (CPO) berwarna
kuning jingga kemerah merahan dan agak kental.

Komposisi zat asam yang mengandung lemak dari minyak sawit
didominasi oleh palmitic, oleic, linoleic, dan zat asam lemak stearic ditambah
sedikit myristic, lauric, linoknic dan cuka capric (Allen dan Watts, 2000). Dari
table 2.3 dapat dilihat komposisi CPO dan table 2.4 sifat fisik CPO.

5

Table 2.3 Komposisi CPO
Komposisi Fatty Acid Komposisi (%)
Jenuh
Lauric -
Myristic 1,4
Palmatic 40,1
Stearic 5,5
Aracidic -
Other -
Tak Jenuh
Palmitoleic -
Oleic 42,7
Linoleic 10,3
Linolenic -
Other -
Table 2.4 Sifat fisik CPO
Parameter Nilai
Melting point,
O
C 35
Densitas 0,915
Nilai Iodin 54,2
Nilai Saponifikasi 199,1

Methanol
Methanol atau methyl alkohol atau sering juga disebut carbinol merupakan
larutan polar yang larut dalam air, alkohol, ester dan pelarut organic lainnya.
Methanol mempunyai rumus molekul CH
3
OH adalah alkohol aliphatic
sederhana. Reaksinya ditentukan oleh gugus hydroxyl fungsional, sedangkan
reaksi terjadi oleh gugus C O atau O H.
Penggunaan methanol sebesar 85% digunakan sebagai bahan baku serta
bahan pelarut sintetis. Dalam hal ini methanol direaksikan dengan trigliserida
akan menghasilkan methyl ester.
Methanol mempunyai sifat fisik sebagai berikut : tidak berwarna, mudah
terbakar dan menguap, tidak berbau, mudah larut dalm air, sangat polar, dengan
spesifik gravitasi 0,7924 pada 20
O
C, titik didihnya 64,5
O
C, titik eku -97,5
O
C dan
flash point 12,2
O
C.
Keberadaan methanol dalam proses transesterifikasi adalah untuk
memutuskan hubungan gliserin dengan zat asam lemak.

Natrium Hidroksida (NaOH)
Natrium hidroksida (NaOH) digolongkan dalam basa kuat. Oleh karena
itu, NaOH sering digunakan dalam menetralisasi suatu zat. NaOH atau lebih
dikenal dengan kaustik soda atau soda api merupakan zat yang larut dalam
6

pelarut air, alkohol, dan juga dalam gliserol. NaOH memiliki dua macam bentuk,
yaitu :
Padatan, biasanya berwarna putih dengan kadar konsentrasi 100%
Larutan, biasanya memiliki kadar konsentrasi, yaitu : 40%, 50% dan 70%
Adapun fungsi dari NaOH adalah :
Menetralkan asam
Sebagai bahan baku pembuatan sabun deterjen
Memisahkan unsur belerang dari minyak bumi
Membantu mengurangi zat warna dari kotoran yang berupa getah minyak bumi

Table 2.6 sifat fisik NaOH
Sifat fisik, satuan Nilai
Berat Molekul, BM
BP,
O
C
Melting point, Mp,
O
C
Density (15
O
C), kg/m
3

Viskositas, Ns/m
3

20
O
C
30
O
C
40
O
C
Cp
Thermal conductivity, w/m
O
C
40
142
12
1530
80.000
40.000
15.000
3,24
0,65
Konsentrasi NaOH yang diperlukan tergantung pada perbandingan molar
antara umpan dan methanol.


Biodiesel
Biodiesel tidak mempunyai pengertian yang jelas, tetapi biodiesel merupakan minyak
nabati murni yang digunakan sebagai bahan bakar diesel yaitu alkil ester yang dihasilkan dari
minyak nabati atau lemak hewani, ataupun pencampuran bahan bakar diesel konvensional
dengan minyak nabati atau dengan alkil ester. Sedangkan menurut ASTM (American Society
for Testing and Materials) biodiesel merupakan mono alkil ester yang mempunyai rantai
asam lemak yang panjang yang diturunkan dari lipid dan dapat diperbaharui seperti minyak
nabati atau lemak hewani digunakan pada mesin pembakaran dengan tekanan (mesin diesel),
(Helzamy, 2004).

Biodiesel memiliki keuntungan antara lain:
1. Tidak memerlukan energi yang terlalu besar untuk memproduksinya, karena biodiesel
dapat direaksikan dengan proses transesterifikasi pada temperatur rendah (<100C) pada
tekanan atmosfer
2. Produk samping yang dihasilkan dari proses pembuatannya yaitu gliserol dapat bernilai
jual, karena gliserol tersebut merupakan bahan baku pembuatan produk lainnya seperti sabun,
deterjen, kosmetika, dan lain sebagainya
3. Emisi yang dihasilkan dari pembakaran biodiesel ini rendah bila dibandingkan dengan
emisi hasil pembakaran bahan bakar diesel konvensional
7

4. Biodiesel ini mudah terurai di alam oleh mikroorganisme
5. Biodiesel tingkat keracunannya rendah
6. Biodiesel aman dalam proses penyimpanan, karena memiliki flash point yang tinggi
7. Biodiesel merupakan sumber energi yang dapat diperbaharui
Biodiesel ini dapat langsung digunakan pada mesin diesel tanpa
memerlukan modifikasi mesin, karena biodiesel ini mempunyai sifat fisik dan sifat
kimia yang hamper sama dengan bahan bakar diesel konvensional. Untuk melihat
perbandingan antara biodiesel dan bahan bakar diesel konvensional dapat dilihat
pada Tabel 2.3.

Tabel 2.3 Perbandingan antara Biodiesel dan Bahan akar Diesel

Sifat-sifat biodiesel ini dapat dijelaskan sebagai berikut:
1. Flash point untuk biodiesel umumnya tinggi (yaitu lebih besar dari 150C). Alkil ester ini
tidak volatile. Batasannya yaitu 100-170 C. dari batasan ini yang paling rendah yaitu 100C.
Hal ini bertujuan untuk menghilangkan kelebihan alkohol yang ditambahkan selama proses.
Dengan adanya alkohol ini dapat menyebabkan kerusakan pada pompa bahan bakar, isian,
elastomer, dan dapat menghasilkan daya pembakaran rendah
2. Uji abu sulfat bertujuan untuk memastikan penghilangan semua katalis yang dimasukkan
selama proses. Jika kandungan sisa katalis proses yang masih ada dalam alkil ester tinggi
dapat menyebabkan terbentuknya endapan pada injektor atau penyumbatan pada saringan
mesin
3. Bilangan setana menunjukkan cepat tidaknya suatu bahan bakar terbakar dalam mesin.
Alkil ester mempunyai bilangan setana yang tinggi bila dibandingkan dengan bahan bakar
konvensional
4. Bilangan gliserin bebas dan total gliserin diukur untuk menunjukkan sempurna tidaknya
suatu trigliserida diubah menjadi alkil ester. Jika bilangan ini tinggi dapat menyebabkan
kerusakan pada mesin
5. Bilangan asam diukur untuk melihat tingkat keasaman suatau bahan bakar diesel. Jika
bilangan asam ini tinggi, maka akan menyebabkan pengurangan waktu pemakaian pompa
bahan bakardan juga dapat mengurangi waktu pemakaian saringan pada mesin, (Tyson dalam
Yani, 2005).
8

Biodiesel atau alkil ester dapat diolah lebih lanjut menjadi berbagai produk oleokimia
yang biasanya dibuat dari asam lemak nabati, Apabila harga jual biodiesel kurang menarik,
pengolahan biodiesel lebih lanjut menjadi produkproduk oleokimia dari metil ester ternyata
lebih menguntungkan karena bahan baku ini tidak korosif, lebih tahan terhadap ooksidasi dan
tidak mudah berubah warna.
Selain itu juga, biodiesel juga dapat dijadikan sebagai bahan baku pembuatan sukrosa
yang nantinya dapat dikonsumsi oleh manusia, yaitu berupa gula polyester. Gula polyester ini
dihasilkan melalui proses transesterifikasi dengan menggunakan katalis basa, yaitu dangan
mereaksikan karbohidrat dengan asam lemak metal ester dan dengan bantuan katalis natrium
metoksida.
Bahan Baku Biodiesel
Untuk membuat biodiesel diperlukan tiga komponen utama yaitu minyak nabati, alkohol dan
katalis.

Minyak Nabati
Minyak nabati yang biasa disebut tryglyceryde, glycerol ester, atau asam lemak karena
bersifat asam. Minyak nabati berwarna kuning, tidaak berbau dan tidak mempunyai rasa.
Minyak nabati tidak dapat bercampur dengan air. Minyak nabati yang telah digunakan untuk
menggoreng akan menjadi leih asam dan akan menghasilkan asam lemak bebas. Asam lemak
bebas akan dapat menempel pada apapun yang bersifat basa. Ketika akan membuat biodiesel
asam lemak bebas harus dihilangkan terlebih dahulu. Untuk menghilangkan asam lemak
bebas digunakan katalis yang lebih banyak pada reaksi pembuatan biodiesel. Banyak katalis
yang digunakan bergantung dari seberapa banyak asam minyak nabati tersebut. Minyak
nabati memilik berat jenis 0,94 pada suhu 20C.


Alkohol
Alkohol yang biasa digunakan pada pembuatan biodiesel adalah metanol dan etanol. Metanol
memiliki kelebihan lebih mudah bereaksi dan leih stabil dibandingkan dengan etanol.
Kerugian metanol merupakan zat yang beracun dan berbahaya, metanol sangat mudah
terbakar, bahkan lebih mudah terbakar bila dibandingkan bensin. Metanol berwarna bening
seperti air, mudah menguap, mudah terbakar, dan mudah bercampur dengan air. Metanol dan
etanol yang dapat digunakan hanya yang murni 100%. Metanol merupakan alkohol yang
paling banyak digunakan dalam pembuatan biodiesel. Metanol disukai karena hanya
memiliki satu rantai ikatan karbon, sedangkan etanol memiliki dua ikatan karbon. Metanol
lebih murah dan lebih mudah memperoleh pemisahan gliserin dibandingkan dengan etanol.
Etanol lebih aman, tidak beracun dan dibuat dari hasil pertanian, sedangkan metanol
mengandung uap yang berbahaya bagi makhluk hidup dan terbuat dari batubara. Etanol
memilik sifat yang sama dengan metanol yaitu memiliki warna yang bening seperti air,
mudah menguap, mudah terbakar dan mudah tercampus dengan air. Pemisahan gliserin
dengan menggunakan etanol lebih sulit dibandingkan dengan metanol, dan apabila tidak
berhati-hati akan menimbulkan emulsi. Metanol memiliki densitas 0,7915 sedangkan etanol
memiliki densitas sebesar 0,79.

Katalis
Untuk memisahkan minyak nabati perlu ditambahkan katalis. Katalis adalah zat yang
digunakan untuk mempercepat reaksi antara zat-zat lain. Katalis yang mungkin digunakan
adalah natrium hidroksida atau kalium hidroksida. Katalis akan memecahkan minyak nabati
dan melepaskan ester, begitu ester bebas, mereka akan menempel pada alkohol. Sedangkan
9

katalis dan gliserol akan mengendap. Jumlah katalis yang digunakan harus tepat. Pemakaian
katalis yang terlalu sedikit akan menyebabkan minyak dan alkohol tidak bereaksi, apaila
jumlah katalis yang digunakan terlalu banyak akan menyebabkan campuran teremulsi.

Gliserin
Gliserin adalah larutan yang berwarna jernih, tidak memiliki bau, kental dan menyerap air.
Gliserin memiliki rasa manis, hampir 0,6 kali rasa manis sukrosa. Gliserin mudah bercampur
dengan air dan alkohol. Gliserin memilik titik nyala 176C dan titik didih 290C. Gliserin
memiliki berat molekul 92,09 gram/mol. Gliserin yang dihasilkan dari pembuatan biodiesel
dapat digunakan sebagai bahan baku pembuatan sabun. Cairan ini dapat dibuang langsung ke
tanah dan akan diserpa oleh bakteri dan mikroba. Gliserin tidak beracun, dan mudah terurai
dan tidak akan membahayakan makhluk hidup.