Anda di halaman 1dari 6

1

Nomor : /V.02/0414 Bogor April 2014


Lampiran : 1 (satu) berkas
Perihal : Ketentuan Pelayanan Kesehatan di Tingkat Pertama

Yth.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bogor
di
Bogor

Kami mengucapkan terima kasih atas kerjasama yang baik dalam pelaksanaan
Jaminan Kesehatan Nasional di Kabupaten Bogor.
Bersama dengan surat ini kami sampaikan beberapa ketentuan pelayanan kesehatan
tingkat pertama berdasarkan ketentuan yang ditetapkan oleh Menteri Kesehatan dan BPJS
Kesehatan sebagai berikut:
A. Pelayanan Gigi
1. Dokter Gigi Praktik Mandiri/Perorangan
a. Hanya untuk peserta BPJS Kesehatan yang memilih terdaftar di Dokter
Praktek Perorangan.
b. Pendaftaran (enrollment) dilakukan secara alamiah dengan mengisi Daftar
Isian Peserta (DIP) yang disediakan oleh BPJS Kesehatan.
c. Pelayanan gigi kepada peserta diberikan oleh Dokter Gigi tempat Peserta
terdaftar di dokter Gigi pilihan.
d. Penggantian Drg diperbolehkan minimal setelah terdaftar 3 (tiga) bulan di
Faskes tersebut.
e. BPJS Kesehatan bersama- sama dengan Dokter Gigi secara proaktif
melakukan sosialisasi kepada peserta yang belum mendaftar di Faskes Dokter
Gigi agar mengisi Daftar Isian Peserta ke Kantor Cabang BPJS Kesehatan
terdekat.

2

2. Dr Gigi sebagai jejaring
a. Untuk Puskesmas/Klinik WAJIB meyiapkan jejaring dokter gigi kecuali di
wilayah kerja Puskemas/Klinik memang tidak ada Dokter Gigi.
b. Apabila Peserta memilih pilihan Faskes Tingkat Pertamanya adalah klinik atau
puskesmas maka tidak ada pendaftaran/enrollment untuk Dokter Gigi.
c. Pelayanan gigi kepada peserta diberikan oleh dokter gigi yang menjadi
jejaring Puskesmas atau Klinik .
d. Apabila di Puskesmas/Klinik dalam area kecamatan tidak memiliki jejaring
dokter gigi, maka pelayanan Gigi dirujuk ke Faskes tingkat lanjutan.
e. Rujukan kasus gigi hanya dapat dilakukan oleh dokter gigi kecuali
Puskemas/Klinik yang tidak memiliki Dokter Gigi.
f. Pembayaran Kapitasi Dokter Gigi diberikan kepada Puskemas/Klinik sebagai
Faskes Tingkat Pertamanya dan tidak dibayarkan langsung ke Dokter Gigi
yang menjadi jajaring.
3. Pelayanan Prothesa Gigi
a. Prothesa Gigi merupakan suplemen dengan limitasi yang diberikan kepada
peserta BPJS Kesehatan.
b. Pelayanan Gigi dapat diberikan di Faskes tingkat pertama dan Tingkat
lanjutan yang bekerjasama denga BPJS Kesehatan.
c. Prothesa Gigi/Gigi Palsu diberikan kepada peserta BPJS Kesehatan yang
kehilangan gigi sesuai dengan indikasi medis.
d. Penjaminan pelayanan Prothesa Gigi/Gigi Palsu diberikan atas rekomendasi
dari dokter Gigi.
e. Prothesa gigi/Gigi Palsu dapat diberikan paling cepat 2 (dua ) tahun sekali
untuk gigi yang sama.
f. Pergantian biaya Prothesa Gigi mengacu kepada Surat Edaran Menkes nomor
31 tahun 2014.
4. Berdasarkan ketentuan pelayanan kesehatan gigi, maka apabila ada Puskesmas
yang sudah siap dan bersedia melayani prothesa gigi, mohon dapat diinformasikan
ke BPJS Kesehatan untuk dapat dilakukan kerjasama untuk pelayanan Prothesa
Gigi.

3

Pelayanan Persalinan
Sesuai dengan Surat Edaran Menteri Kesehatan nomor 31 tahun 2014 dan
Surat Direktur Pelayanan nomor 32 tentang petunjuk teknis Surat Edaran Menkes
nomor 31 tahun 2014, disampaikan sebagai berikut:
Tarif Pelayanan Kesehatan Kebidanan dan Neonatal
1. Untuk pelayanan Pemeriksaan ANC, Pemeriksaan PNC dan Pelayanan KB
pemasangan IUD/Suntik oleh Bidan di dalam gedung atau menggunakan
sarana fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas, Klinik Pratama atau
Faskes yang setara) maka pembayarannya sudah termasuk kapitasi.
2. Untuk pelayanan Pemeriksaan ANC, Pemeriksaan PNC dan Pelayanan KB
pemasangan IUD/Suntik oleh Bidan jejaring di luar gedung atau tidak
menggunakan sarana fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas,
Klinik Pratama atau Faskes yang setara) maka pembayarannya dilakukan
secara fee for service dan penagihannya melalui faskes tingkat pertamanya ke
BPJS Kesehatan.
3. Nilai penggantian pelayanan mengacu pada Permenkes nomor 69 tahun 2013.
4. Faskes tingkat pertama diwajibkan untuk memiliki bidan dan atau berjejaring
dengan bidan sehingga pelayanan Kebidanan dan Neonatal pada peserta BPJS
Kesehatan dapat dilayani di tingkat pertama.
5. Apabila Puskesmas berjejaring dengan Bidan Praktek Swasta, dimohon agar
salinan MoU dapat dikirimkan ke BPJS Kesehatan untuk menjadi dasar
pembayaran klaim persalinan pada faskes tersebut. Pelayanan ANC dan PNC
yang dapat diklaim adalah untuk 4 kali ANC dan 3 x PNC.
6. Terkait penyediaan alat dan obat kontrasepsi (Alokon), mengacu pada
perjanjian kerjasama antara PT Askes (Persero) dengan BKKBN nomor
0487/KTR/1213 tentang Penyelenggaraan Pelayanan Keluarga Berencana
Pada Jaminan Kesehatan Nasional pada pasal 3 disebutkan bahwa tugas
menyediakan dan mendistribusikan Alokon adalah BKKN. Sehingga dimohon
agar Faskes primer dapat berkordinasi dengan Badan Pelayanan KB di daerah
masing-masing untuk pemesanan Alokon bagi peserta BPJS Kesehatan.
4

7. Dalam rangka evaluasi pelaksanaan kegiatan Keluarga Berencana (KB), kami
mohon laporan pelayanan KB dapat dikirimkan setiap bulan sesuai format
terlampir.
B. Pelayanan Rawat Jalan Tingkat Pertama
a. Mengacu kepada Peraturan Perkonsil Kedokteran Indonesia nomor 11 tahun
2012 tentang Standar Kompetensi Dokter Indonesia, dari 736 daftar penyakit
terdapat 144 penyakit yang harus dikuasai penuh oleh dokter layanan primer.
Sehingga kami mengharapkan ketentuan tersebut dapat menjadi pedoman
pelayanan di tingkat pertama.
b. Sehubungan telah diterbitkan Peraturan Menteri Kesehatan nomor 5 tahun
2014 tentang Panduan Praktik Klinis Bagi Dokter di Fasilitas Pelayanan
Primer, di agar Pedoman ini juga dapat menjadi acuan di Faskes tingkat
pertama.
c. Berdasarkan ketentuan tersebut maka dimohon agar peserta BPJS Kesehatan
yang dapat dilayani di tingkat pertama berdasarkan kategori 144 diagnosa
penyakit, tidak dikenakan iur biaya.
d. Permenkes nomor 5 tahun 2014 halaman 7 poin F, menyebutkan bahwa,
Dokter dapat merujuk pasien apabila memenuhi salah satu kriteria TACC
(Time-Age-Complication-Comorbidity), dengan penjelasan sebagai berikut :
Time : Jika perjalanan penyakit dapat digolongkan kepada kondisi
Kronis atau melewati Golden Time Standard.
Age : Jika usia pasien masuk dalam kategori yang dikhawatirkan
meningkat resiko komplikasi serta resiko kondisi penyakit
lebih berat.
Complication : Jika komplikasi yang ditemui dapat memperberat kondisi
pasien.
Comorbidity : Jika terdapat keluhan atau gejala penyakit lain yang
memperberat pasien.
Selain dari empat kriteria diatas, kondisi fasilitas pelayanan juga dapat menjadi
dasar bagi dokter untuk melakukan rujukan demi menjamin keberlangsungan
penatalaksanaan dengan persetujuan pasien.
5

C. Pelayanan Obat
1. Merujuk pada Keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor:
38/Menkes/SK/VIII/2013 tentang Formularium Nasional, maka pedoman
pelayanan obat pada fasilitas pelayanan kesehatan dalam pelaksanaan
Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) adalah daftar Obat Formularium Nasional
(Fornas). Sehingga dimohon agar faskes primer dapat menjamin ketersediaan
obat yang tercantum dalam Fornas kategori Fasilitas Kesehatan Tingkat I.
2. Berdasarkan ketentuan tersebut maka, tidak diperkenankan adanya iur
biaya obat pada peserta BPJS Kesehatan sehingga dimohon agar peresepan
obat mengacu kepada daftar Fornas Faskes Tingkat Pertama.
3. Pemesanan obat Fornas dapat dilakukan melalui website : http://e-
katalog.lkpp.go.id/e-katalog-obat/. Beberapa jenis obat sudah dapat dipesan
melalui e-catalog.
4. Pelayanan Obat Rujuk Balik
Berdasarkan Surat Edaran Menteri Kesehatan nomor 32 tahun 2014 maka ada
9 (sembilan) jenis penyakit yang dapat dirujuk balik ke Faskes Primer, yaitu :
Diabetes Melitus
Hipertensi
Jantung
Astma
Penyakit Paru Obstruktif Kronis (PPOK)
Epilepsi
Skizofren
Stroke
Sindoroma Lupus
5. Untuk penyakit Sirosis Hepatis, berdasarkan rekomendasi Perhimpunan
Peneliti Hati Indonesia (PPHI), penyakit tersebut harus ditangani ditingkat
rujukan (tidak di tingkat pelayanan primer). Hal ini disebabkan penyakit
tersebut harus ditangani oleh lintas keahlian dan perlu dalam monitoring
khusus.
6. Pedoman pelayanan obat Rujuk Balik, mengacu kepada Daftar Formularium
Nasional untuk Program Rujuk balik. Untuk penyediaan obat Rujuk Balik,
6

saat ini kami telah bekerjasama dengan seluruh jaringan Apotik Kimia Farma
(Kota Bogor, Kabupaten Bogor dan Kota Depok) dan Jaringan Apotik
Zentrum untuk melayani dan menyediakan obat yang tercantum dalam fornas
Rujuk Balik.
7. Pelayanan obat Rujuk Balik adalah Non Kapitasi.
8. Tata laksana Pelayanan Rujuk Balik (terlampir)

Demikian disampaikan, dimohon bantuan dan perkenan Ibu, kiranya seluruh ketentuan
tersebut dapat diketahui oleh Faskes tingkat pertama (Puskesmas) di wilayah Kabupaten
Bogor. Atas perhatian dan kerjasama yang baik diucapkan terima kasih.


Kepala


Anurman Huda

Tembusan Yth.:
1. Kepala Kantor Operasional Kabupaten Bogor





SP/sp/PK 00

Anda mungkin juga menyukai