Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN TUTORIAL

BLOK NEOPLASMA SKENARIO 1


ADA BENJOLAN DI PAYUDARA SAYA






KELOMPOK 20

HENDRI SETIAWAN G0013110
MADE ARI SISWADI G0013146
M.AULIA WARDHANA G0013144
NOVIA HARTANTI G0013180
YUANITA CITRA S. G0013240
VIDYA ISMIAULIA G0013230
SHANAZ QISTHINA G0013216
RIFAH ROSYIDAH G0013202
WIDATI HIKMATUL F. G0013234
SALMA ROMNALIA A. G0013212
AULIA ULFAH M.D. G0013048
ATIFLI RUSDA G0013046
TUTOR : dr. RIZA NOVIERTA P., M.Kes

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA
TAHUN 2014

BAB I
PENDAHULUAN

SKENARIO 1:
ADA BENJOLAN DI PAYUDARA SAYA

Seorang pasien perempuan usia 45 tahun,datang ke puskesmas dengan
keluhan benjolan di payudaranya,sering nyeri terutama menjelang haid,tidak
demam.Benjolan dirasakan sudah 2 tahun ini dan makin bertambah besar di kedua
payudaranya.
Pasien tersebut seorang pekerja pabrik batik dan masih menyusui anak
ke 5 nya yang berusia 6 bulan.Ketika SMU pernah mnjalani operasi tumor jinak
kelenjar payudara kanan(FAM= fibroadenoma mammae),setelah itu pasien rajin
melakukan SADARI.Ada riwayat ibunya meninggal karena kanker payudara ,hal
ini membuatnya khawatir benjolan tersebut merupakan kanker yang diturunkan
dari ibunya,atau kambunya tumor yang sudah dioperasi dahulu.Suaminya adalah
seorang perokok berat.
Pemeriksaan fisik didapatkan: penampilan gemuk dan sehat,vital sign
dalam batas normal.Inspeksi tidak terlihat kelainan.Palpasi teraba massa
bilateral,moile,kenyal tidak nyeri tekan di kuadran lateral atas mammae dextra
berdiameter 3 cm dan di daerah sentral mammae sinistra berdiameter 4 cm,tidak
teraba pembesaran limfonodi axillaris dextra et sinistra.Tidak didapati kelainan
sistemik.
Pasien dirujuk ke RSU.Pemeriksaan USG color Doppler menunjukkan
massa kistik,bilateral,batas tegas, pada CDFI(color doppler flow imaging)tidak
didapatkan vascular pathologis.Kemudian dilakukan operasi.Jaringan hasil operasi
difiksasi dalam larutan formalin 10%,dikirimkan ke laboratorium Patologi
Anatomi.Sediaan yang berasal dari payudara kanan dan kiri,makroskopis
berupa:massa kistik,multilokular,berwarna coklat-biru,kista berisi cairan
keruh.Diagnosis histopatologinya adalah fibrocystic disease,tidak ada tanda-tanda
keganasan.

BAB II
DISKUSI DAN STUDI PUSTAKA
A. Seven Jump
1. Langkah I: Membaca skenario dan memahami pengertian beberapa
istilah dalam skenario
Dalam skenario ini kami mengklarifikasi istilah sebagai berikut.

1.1 Pengertian Tumor
Tumor adalah jaringan baru (neoplasma) yang timbul
dalam tubuh akibat pengaruh berbagai faktor penyebab dan
menyebabkan jaringan setempat pada tingkat gen kehilangan
kendali normal atas pertumbuhnnya. Istilah neoplasma pada
dasarnya memiliki makna sama dengan tumor. Keganasan merujuk
kepada segala penyakit yang ditandai hiperplasia sel ganas,
termasuk berbagai tumor ganas dan leukemia. Istilah kanker juga
menunjukkan semua tumor ganas.

1.2 Pengertian Fibroadenoma mammae

Fibroadenoma mammae merupakan neoplasma jinak yang
terutama terdapat pada wanita muda, dan jarang ditemukan setelah
menopause. Fibroadenoma adalah kelainan pada perkembangan
payudara normal dimana ada pertumbuhan berlebih dan tidak
normal pada jaringan payudara dan pertumbuhan yang berlebih
dari sel-sel yang melapisi saluran air susu di payudara.
Fibroadenoma merupakan jenis tumor jinak mamma yang paling
banyak ditemukan, dan merupakan tumor primer yang paling
banyak ditemukan pada kelompok umur muda.




1.3 Pengertian Fibrokistik
Fibrokistik adalah kelainan akibat dari peningkatan dan
distorsi perubahan siklik payudara yang terjadi secara normal
selama daur haid. Penyakit fibrokistik pada umumnya terjadi pada
wanita berusia 25-50 tahun (>50%) (Kumar, 2007). Perubahan
fibrokistik dibagi menjadi perubahan nonproliferatif dan
perubahan proliferatif, bermanifestasi dalam beberapa bentuk yang
biasanya melibatkan kombinasi dari 3 respon jaringan dasar,
proliferasi epitel (proliferatif), fibrosis dan pertumbuhan kista
(nonproliferatif). Proliferasi sel-sel epitel menyebabkan adenosis.
Pada kasus-kasus lain fibrosis lebih dominan dan kelainan
proliferasi epitel kurang tampak (Berek, 2005)

1.4 Pengertian USG color
USG Colour Doppler adalah teknik pemeriksaan USG yang
menggabungkan informasi gambar anatomi jaringan dengan B-
mode gray scale dan aliran darah dengan kode colour secara dua
dimensi terhadap waktu (real time). Disini colour ditampilkan
dalam warna, saturasi, dan kecerahan untuk memperlihatkan ada
tidak, arah, kecepatan, dan tipe aliran darah

1.5 CDFI (Color Doppler Flow Imaging):
Color Doppler Flow Imaging) adalah metode pencitraan
aliran darah yang melalui jantung secara non-invasif dengan
menampilkan data pada gambar echocardiograf dua dimensi,
digunakan untuk mengidentifikasi penyakit atau kelainan jantung
bawaan, kelainan pada katup jantung, atau kondisi lain dari
penyakit jantung melalui warna gambar aliran.


2. Langkah II: Menentukan/ mendefinisikan permasalahan
1.Bagaimana anatomi penyusun payudara?
2.Apa perbedaan tumor dan kanker? Bagaimana mekanisme terbentuknya
tumor dan kanker?
3.Mengapa pasien merasakan nyeri payudara menjelang haid? Apakah ada
kaitanyya dengan benjolan? Adakah hormon yang berpengaruh?
4.Apa penyebab timbulnya kanker?
5.Bagaimana faktor waktu dengan pertumbuhan tumor?
6.Apakah ada kemungkinan kanker tumbuh kembali?
7.Apa perbedaan tumor jinak dan ganas?
8.Mengapa pada saat inspeksi nodul tidak terlihat namun pada saat palpasi
teraba adanya nodul?
9.Apa saja faktor yang berpengaruh pada tumor atau kanker?
10.Apa tujuan pemeriksaan limfonodi aksilaris?
11.Bagaimana sifat dan karakterisitik tumor secara umum?
12.Mengapa massa teraba mobile? Bagaimana makna pemeriksaan fisik
pada pasien?
13.Mengapa tidak didapati kelainan sistemik?
14.Mengapa pasien dirujuk ke Rumah Sakit?
15.Apa saja pemeriksaan penunjang lain?
16.Bagaimana interpretasi hasil pemeriksaan laboratorium?
17.Apa saja cairan alternative untuk fiksasi selain formalin?
18.Mengapa jaringan patologis dikirim ke laboratorium Patologi Anatomi?
19.Apa saja tanda-tanda keganasan secara histopatologis?

3. Langkah III: Menganalisis permasalahan dan membuat pernyataan
sementara mengenai permasalahan (tersebut dalam langkah II)
1. Bagaimana anatomi penyusun payudara?
Payudara adalah sebuah organ yang berisi kelenjar untuk reproduksi
sekunder serta berasal dari lapisan ektodermal. Kelenjar ini dinamakan
sebagai kelenjar payudara dan merupakan modifikasi dari kelenjar
keringat. Payudaraterletak di bagian superior dari dinding dada. Pada
wanita, payudara adalah organyang berperan dalam proses laktasi,
sedangkan pada pria organ ini tidak berkembang dan tidak memiliki fungsi
dalam proses laktasi seperti pada wanita (Van De Graaff, 2001).
Proses perkembangan payudara dimulai pada janin berumur 6
minggu dimana terjadi penebalan lapisan epidermis pada bagian ventral,
superfisial dari fasia pektoralis serta otot-otot pektoralis mayor dan minor.
Penebalan yang terjadi pada venteromedial dari regio aksila sampai ke
regio inguinal menjadi milk lines dan selanjutnya pada bagian superior
berkembang menjadi puting susu dan bagian lain menjadi atrofi. (Kissane,
1990).
Payudara lazimnya terletak di antara tulang sternum bagian lateral
dan lipatan ketiak, serta terbentang dari iga ke 2 sampai iga ke 6 atau 7.
Pada bagian puncak dari payudara terdapat struktur berpigmen dengan
diameter 2-6 cm yang dinamakan areola. Warna areola itu sendiri
bervariasi mulai dari merah muda sampai coklat tua. Warna areoala ini
bergantung pada umur, jumlah paritas, dan pigmentasi kulit (Djamaloedin,
2008).
Apa perbedaan tumor jinak dan ganas?
Perbedaan tumor ganas dan tumor jinak
Pembeda Tumor Ganas Tumor Jinak
Residif Tumor ganas bisa
tumbuh lagi
Tumor jinak tidak.
Karena, bentuknya
simpai sehingga
mudah diangkat
seluruhnya
Kehilangan polaritas
(susunan)
Susunan yang biasanya
teratur akan hilang
Tidak ditemukan Loss
of polarity
Kebanyakan pasien
jika tidak diobati akan
menyebabkan
kematian
Bisa menyebabkan
kematian juga, tetapi
sangat jarang.
Himawan, Sutisna(1973). Patologi Umum. Jakarta: Repro Internasional.
Pp:78-79
Dalam penggunaan istilah kedokteran yang umum, neoplasma
sering disebut tumor.Suatu tumor dikatakan jinak (benigna) apabila
gambaran makroskopik dan mikroskopiknyamengisyaratkan bahwa tumor
tersebut akan tetap terlokalisasi, tidak menyebar ke tempat lain,dan pada
umumnya dapat dikeluarkan dengan tindakan bedah lokal. Sedangkan
suatu tumor dikatakan ganas (maligna) jika menunjukkan bahwa lesi dapat
menyerbu dan merusak struktur di dekatnya dan menyebar ke tempat jauh
(metastasis), serta dapat menyebabkankematian. Tumor ganas secara
kolektif disebut kanker (Robbins, 2007).
Tumor jinak hanya bersifat ekspansif atau mendesak karena masih
memiliki kapsul.Sedangkan pada tumor ganas, sel-selnya dapat
melepaskan diri dari kelompoknya. Sel-seltersebut dapat mengeluarkan
enzim yang dapat menghancurkan protein atau matriks disekitarnya.
Kemudian sel-sel tersebut bergerak secara amuboid dan menginvasi
jaringansekitarnya.
Setelah itu sel-sel tersebut menerobos jaringan sekitarnya itu,
menempel di pembuluh darah atau limfe, menembus dinding pembuluh,
dan masuk ke aliran darah ataulimfe untuk selanjutnya hinggap di jaringan
lain (metastase).Secara mikroskopis, neoplasma jinak ditandai dengan sel
yang berdiferensiasi baik yangsangat mirip dengan padanannya yang
normal. Lipoma terdiri atas sel lemak matur yangdipenuhi oleh vakuola
lemak di dalam sitoplasmanya, dan kondroma terbentuk dari sel
tulangrawan matur yang menyintesis matriks tulang rawan normal, yang
merupakan bukti terjadinyadiferensiasi morfologik dan fungsional.
Pada tumor jinak yang berdiferensiasi baik, mitosissangat jarang
ditemukan dan konfigurasinya normal.Sedangkan neoplasma ganas
ditandai dengan diferensiasi beragam dari sel parenkim, dariyang
berdiferensiasi baik sampai yang sama sekali tidak berdiferensiasi.
Neoplasma ganasyang terdiri atas sel yang tidak berdiferensiasi dikatakan
besifat anaplastik. Sel anaplastik memperlihatkan pleomorfisme (yaitu
variasi yang nyata dalam bentuk dan ukuran).Umumnya inti sel sangat
hiperkromatik dan besar. Ukuran dan bentuk inti selnya pun sangat
beragam. Yang lebih penting, mitosis banyak ditemukan dan jelas atipikal
(Robbins, 2007).
Jadi, secara garis besar, ada tiga hal yang dapat digunakan untuk
membedakan neoplasma jinak dan ganas, yaitu size (ukuran sel), staining
(pengecatan), dan shape (bentuk). Neoplasma dapat menimbulkan gejala
lokal, sistemik, maupun metastasis. Seperti yangtelah disebutkan, invasi
lokal merupakan sifat dari tumor jinak. Tumor ini tidak
memilikikemampuan untuk menginfiltrasi, menginvasi, atau menyebar ke
tempat jauh. Sebagian besar dari tumor ini membentuk kapsul fibrosa
yang memisahkannya dari jaringan pejamu. Kapsulini mungkin berasal
dari stroma jaringan asli karena sel parenkim mengalami atrofi
akibattekanan tumor yang membesar. Namun, tidak semua neoplasma
jinak memiliki kapsul.Sebagai contoh, leiomioma uterus dipisahkan secara
jelas dari otot polos di sekitarnya oleh suatu zona yang terdiri atas
miometrium normal yang meggepeng dan tipis, tetapi tidak terdapat kapsul
sempurna.Berbeda dengan tumor jinak, tumor ganas tumbuh dengan cara
infiltrasi, invasi,destruksi, dan penetrasi progresif ke jaringan sekitar
karena tidak membentuk kapsul yang jelas. Hal inilah yang menyebabkan
tumor ganas dapat bermetastasis ke jaringan lain. Istilah metastasis
menunjukkan terbentuknya implan sekunder yang terpisah dari tumor
primer,mungkin di jaringan yang jauh. Tidak semua tumor ganas memiliki
kemapuan metastasisyang setara. Semakin anaplastik dan besar neoplasma
primernya, semakin besar kemungkinanmetastasis; namun banyak terdapat
pengecualian. Kanker yang sangat kecil diketahui dapat bermestastasis
dan, sebaliknya, sebagian kanker yang besar mungkin belum menyebar
saat ditemukan.

14.Mengapa pasien dirujuk ke Rumah Sakit?
Karena penyakit yang didapati pada tubuh pasien sudah bukan area
kompetensi dokter umum. Sehingga, harus dirujuk ke rumah sakit untuk
ditangani oleh dokter spesialis dan dilakukan pemeriksaan penunjang
lainnya sehingga dapat diberi pengobatan yang tepat dan sesuai.

4. Langkah IV: Menginventarisasi permasalahan secara sistematis dan
pernyataan sementara mengenai permasalahan pada langkah III.









Gambar 1


Benjolan di payudara
NEOPLASMA
Pengertian,karakterist
ik,perbedaan antara
tumor jinak dan
ganas
Tumor ganas Tumor jinak

5. Langkah V: Merumuskan tujuan pembelajaran
1.Bagaimana mekanisme terjadinya tumor dan kanker?
2.Mengapa pasien merasa payudaranya nyeri saat menjelang haid?
3.Apa saja yang bisa menyebabkan timbulnya kanker?
4.Apa hubungan antara faktor waktu dengan tumor tersebut?
5.Apakah tumor yang dulu sudah pernah di operasi bisa tumbuh lagi?
6.Apakah ada hubungan antara menyusui anak dengan penyakit yang
diderita?
7.Faktor-faktor apa saja yang dapat mempengaruhi terjadinya tumor?
8.Mengapa pada saat inspeksi benjolan tidak terlihat sedangkan pada
palpasi benjolan teraba?
9.Apakah faktor berat badan bisa memicu terjadinya tumor?
10.Mengapa massa yang teraba bisa mobile?
11.Mengapa tidak ditemukan kelainan sistemik pada pasien?
12.Pemeriksaan penunjang apakah yang bisa dilakukan?
13.Makna dari interpretasi pemeriksaan fisik?
14.Mengapa jaringan di berikan formalin10% dan cairan apa saja yang
bisa digunakan untuk memfiksasi?
15.Mengapa hasil pemeriksaan dikirim ke laboratorium patologi anatomi?
16.Apa yang dimaksud tanda keganasan menurut histopatologis?

6.Langkah VI: Mengumpulkan informasi baru

7.Langkah VII: Melaporkan, membahas, dan menata kembali
informasi baru yang diperoleh
Dalam ilmu Patologi Anatomi, tumor identik dengan neoplasma.
Sedangkan dalam klinik tumor sering digunakan untuk semua tonjolan dan
dapat diartikan sebagai pembengkakan. Pembengkakan bisa disebabkan
oleh infeksi (kalor, dolor, tumor, rubor, fungsiolaesa) maupun neoplasma.
Semua neoplasma dapat membentuk tonjolan namun tidak semua tonjolan
disebabkan oleh neoplasma.
Sel Normal
Zat perusak DNA :
Alkohol
Rokok
Diet rendah serat
Kerusakan DNA
Mutasi pada genom sel somatik
Pengaktifan
onkogen
pendorong
pertumbuhan
Perubahan gen
yang
mengendalikan
pertumbuhan
Penonaktifan gen
supresor kanker
Ekspresi produk gen yang
mengalami perubahan dan
hilangnya produk gen regulatorik
Neoplasma ganas
Perbaikan gagal**
**Mutasi herediter :
- Gen-gen yang mempengaruhi perbaikan DNA
- Gen-gen yang mempengaruhi pertumbuhan/apoptosis
Sedangkan kanker atau tumor ganas, berasal dari Bahasa Latin
kepiting, merupakan tumor yang melekat erat ke semua permukaan yang
dipijaknya seperti kepiting. Dikatakan ganas karena lesi dapat menyerbu
dan merusak struktur di dekatnya dan menyebar ke tempat yang jauh.
(Tjarta, 1973
Adapun mekanisme terjadinya kanker yakni:
Mekanisme Terjadinya Kanker





















Zat-zatkarsinogenik
Gen TP 53 normal
Kerusakan DNA
Gen TP 53
aktifdanberikatande
ngan DNA
TP 53
melakukantranskrip
si gen-gen
p 21 (inhibitor
CDK)
GADD 45(perbaikan
DNA)
BAX
Penghentiansiklusse
lpada G1
Perbaikanberhasil
Selkembali normal,
siklusselberlanjut
Perbaikangagal
Apoptosis


















.
Gambar 2
Didalam sekenario dikatakan bahwa pasien merasakan nyeri pada
mammae menjelang haid. Suatu Penyakit fibrokistik payudara terjadi selama
masa dewasa. Penyebab kemungkinan besar: kelebihan estrogen dan defisiensi
progesterone selama fase luteal (fase dari masa ovulasi sampai dengan
menstruasi, biasanya 14 hari). (Prince dan Wilson, 2002).
Estrogen merangsang pembentukan faktor pertumbuhan oleh sel epitel
payudara normal dan oleh sel kanker. Reseptor estrogen dan progesteron
mungkin berinteraksi dengan promotor pertumbuhan dan faktor pertumbuhan
fibroblas yang dikeluarkan oleh sel kanker payudara untuk menciptakan
perkembangan tumor. (Crum, 2003).
Bahan-bahan yang dapat menyebabkan terbentuknya kanker disebut
karsinogen. Menurut jenisnya karsinogen dapat berupa (1) bahan kimia, (2)
virus, (3) karsinogen fisik, dan (4) hormon.
Melihat asalnya maka karsinogen ini dapat berasal dari luar tubuh
(eksogen), seperti karsinogen kimiawi, virus dan fisik. Dapat pula berasal dari
dalam tubuh (endogen), seperti hormon.
(1) Karsinogen kimiawi
Dari suatu penyelidikan oleh Kennaway dan Cook (1932) diketahui
bahwa zat aktif yang menyebabkan kanker ialah hidrokarbon polisiklik.
Hidrokarbon yang mempunyai daya karsinogenik sedikit-dikitnya harus
mempunyai 3 ikatan karbon yang aktif yang disebut phenantrene. Inti
phenantrene ini terdapat pada benzpyrene, benzanthracene dan
cholanthrene.
Karsinogen kimiawi dapat dibagi menjadi 3, yaitu:
a) Karsinogen kimiawi langsung : Zat yang masuk kedalam tubuh
langsung bisa bekerja atas sel tubuh tanpa melewati proses
metabolisme. Langsung dapat menginduksi sel normal menjadi sel
kanker, biasanya zat ini cenderung kuat dan efeknya cepat. Ada
nitrosilamin sebagai contohnya.
b) Karsinogen kimiawi tidak langsung : Zat kimia ini memerlukan proses
metabolisme untuk menjadi zat yang aktif. Zat yang belum aktif
disebut prekarsiogen, biasanya ditemukan di lingkungan luar seperti
hidrokarbon aromatic polosiklik.
c) Zat pemacu kanker : Didalam tubuh zat ini tidak menimbulkan
kanker, tetapi bisa memacu karsinogen lain untuk menimbulkan
kanker. Contohnya seperti sakarin.
Adapun zat-zat kimia lain yang mempunyai daya karsinogenik adalah:
- Zat warna azo, misalnya dimethylaminoazobenzene (butter yellow)
yang dapat menimbulkan kanker hati bila ada defisiensi vitamin
riboflavin. Vitamin ini merupakan koenzim dan diperlukan oleh hati
untuk memecah zat warna tersebut.
- Zat warna anilin; yang sering menimbulkan kanker kandung kemih
pada orang-orang yang bekerja menggunakan zat warna ini. Zat aktif
yang mempunyai daya karsinogenik ialah beta naphthylamine.
- Alkylating agents, seperti nitrogen mustard yang mempunyai khasiat
radiomimetik.
- Asap rokok; sering menimbulkan kanker paru-paru. Hidrokarbon
terisap dalam asap rokok, mempengaruhi terbentuknya karsinoma
bronchogenik.
Dewasa ini manusia seolah-olah berenang dalam lautan karsinogen,
meskipun demikian tidak perlu khawatir, karena tubuh manusia
mempunyai enzim benzpyrene hydroxylase atau enzim-enzim lain yang
mempunyai khasiat menghilangkan daya karsinogenik dari pada
karsinogen hidrokarbon, yang terdapat dalam retikulum endoplasma.

(2) Virus
Rowe membagi karsinogen virus atas 4 golongan besar: (1)
papovirus, (2) adenovirus, (3) poxvirus, dan (4) myxovirus. Papovavirus
dan adenovirus terletak dalam inti sel, poxvirus dalam sitoplasma dan
myxovirus terletak pada permukaan sel. McCulloch mengemukakan 3
kemungkinan cara bekerjanya virus hingga menyebabkan kanker:
- Virus penyebab berada dalam sitoplasma sel tumor dan tetap berada
disitu untuk terbentuknya sifat-sifat sel tumor.
- Virus menyebabkan mutasi somatik, menimbulkan perubahan yang
menetap pada sel, sehingga terbentuk neoplasma. Sekali terbentuk
neoplasma maka peranan virus berakhir.
- Virus berada dalam sel, tetapi tidak dapat dilihat.




(3) Karsinogen fisik
Kebanyakan bentuk energi fisik mempunyai daya karsinogenik. Yang
sangat penting ialah sinar radioaktif yang ditimbulkan oleh sinar-X,
radium dan bom atom yang dapat menyebabkan perubahan nukleoprotein
daripada khromosom sel sehingga terjadi kanker.

(4) Hormon
Menurut Furth (1961), hormon bekerja sebagai promotor. Pada binatang
percobaan hormon menyebabkan terbentuknya kanker. Hormon tersebut
menimbulkan kanker pada organ-organ tubuh normal yang
dipengaruhinya, seperti payudara, uterus, ovarium dan prostat. Pemberian
estrogen pada binatang percobaan dapat menimbulkan karsinoma
mammae atau karsinoma servikis uteri. Karsinoma kelenjar prostat
disebabkan oleh hormon androgen yang berasal dari testis atau kelenjar
adrenal.
Didalm skenario sendiri dikatakan pasien adalah seorang pekerja
pabrik batik diamana dalam pekerjaannya begitu banyak zat-zat
karsinogen yang dapat dihasilkan yang dapat menimbulkan kanker.
Sebagian besar tumor jinak tumbuh perlahan. Namun, banyak
pengecualian sebagian tumor jinak tumbuh lebih cepat daripada sebagian
kanker. Sebagai contoh, laju pertumbuhan leiomyoma (tumor otot polos
jinak) pada uterus dipengaruhi oleh kadar estrogen dalam darah. Tumor
dapat cepat membesar selama kehamilan dan berhenti tumbuh atau
menciut dan umumunya mengalami fibrokalsifikasi setelah menopause.
Pengaruh lain seperti cukup tidaknya pasokan darah dan mungkin
pembatasan oleh tekanan, juga dapat mempengaruhi laju pertumbuhan
tumor jinak.
Tetapi sebagian besar tumor jinak yang diawasi secara klinis dalam
jangka panjang akan membesar secara perlahan dalam rentang waktu
bulanan atau tahunan tetapi laju pertumbuhan bervariasi dari satu
neoplasma ke neoplasma yang lain.
Laju pertumbuhan tumor ganas secara umum berkaitan dengan
tingkat diferensiasinya. Laju pertumbuhan ini sangat bervariasi. Sebagian
tumbuh secara perlahan selam bertahun-tahun, kemudian masuk ke fase
tumbuh pesat, yang mengisyaratkan munculnya subklona kanker yang
agresif.
Pertumbuhan tumor berkemungkinan dapat kembali walaupun
sudah dilakukan operasi. Hal ini disebabkan karena masih terdapat
beberapa jaringan tumor yang tidak dibersihkan/diangkat. Selain tumor
dapat tumbuh kembali dikarenakan sisa-sia oprasi yang belum bersih,
timbulnya tumor juga dapat disebabkan oleh berbagai factor yang
sebagaian sudah dijelaskan diatas dimana tumor dapat dipengaruhi oleh
zat-zat karsinogen, dibawah ini akan dijabarkan lebih rinci mengenai
factor-faktor yang dapat memepengaruhi timbulnya tumor tersebut.
a. Faktor lingkungan dan geogarfik
1) Karsinoma di alam bebas
2) Karsinoma di lingkungan hidup
a) Polusi udara
b) Polusi buangan
c) Polusi ruangan
3) Karsinoma air
4) Karsinoma tanah
b. Faktor pekerjaan
c. Faktor pola hidup
1) Merokok : meningkatkan faktor risiko
2) Minuman keras : meningkatkan faktor risiko
3) Minum the hijau : menurunkan faktor risiko
d. Faktor usia
Adapun faktor yang mempengaruhi terjadinya FAM pada kasus di
skenario ini adalah:
e. Umur, biasanya terjadi pada wanita usia muda di bawah 30 tahun,
insidensi tertinggi 15-25 tahun. Rata-rata umur pasien yang menderita
FAM adalah 23 tahun.
f. Riwayat perkawinan, tidak menikah atau menikah pada usia di bawah
21 tahun dapat meningkatkan risiko FAM.
g. Paritas dan riwayat menyusui anak.
h. Penggunaan hormone, FAM terjadi karena kepekaan terhadap
peningkatan hormon estrogen.
i. Obesitas, IMT yang lebih dari 30 kg/m
2
dapat meningkatkan risiko
FAM.
j. Riwayat keluarga, riwayat keluarga kanker payudara pada keluarga
tingkat pertama dapat meningkatkan risiko FAM.
k. Stres, stres berat dapat meningkatkan produksi hormon estrogen yang
akan meningkatkan insiden FAM.
l. Faktor lingkungan, tinggal di dekat polycyclic aromatic hydrocarbons
dapat meningkatkan faktor risiko FAM. (Sidauruk, 2013)
Di dalam skenario dokter melakukan berbagai tindakan pemeriksaan
fisik mulai dari inspeksi dan palpasi dimana interpretasi hasilnya sebgai
berikut; Pemeriksaan limfonodi axillaris; dilakukan untuk mengetahui
apakah ada penyebaran/metastasis ke bagian tersebut. Dari ini dapat juga
ditentukan apakah tumor bersifat jinak atau ganas. Benjolan yang tidak
terlihat saat inspeksi namun teraba pada saat palpasi; hasil pemeriksaan
fisik pada skenario yang dibahas didapatkan penampilan pasien gemuk
dan sehat. Gemuk pada pasien karena terdapat timbunan lemak yang
berlebih pada tubuhnya. Hal ini mungkin yang menyebabkan tidak
terlihatnya benjolan pada saat inspeksi mammae. Massa mobile pada
mammae; Tumor ganas tumbuh secara infiltratif, yaitu tumbuh bercabang-
cabang menyebuk ke dalam jaringan sehat di sekitarnya. Karena itu tumor
ganas biasanya sukar digerakkan dari dasarnya. Berbeda dengan tumor
jinak yang tumbuh secara ekspansif. Pertumbuhan ini mendesak jaringan
sehat di sekitarnya dan jaringan sehat yang terdesak ini membentuk
simpai/kapsul dari tumor. Maka dapat dikatakan tumor jinak umumnya
bersimpai. Karena tidak ada pertumbuhan infiltratif maka biasanya tumor
jinak mudah digerakkan dari dasarnya.
Pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan anatara lain;
a. Mammografi
Kelebihan mamografi adalah dapat menampilkan nodul yang sulit
dipalpasi atau terpalpasi atipikal menjadi gambar, dapat menemukan
lesi mammae yang tanpa nodul namun terdapat bercak
mikrokalsifikasi, dapat digunakan unruk analisis diagnostik dan
rujukan tindak lanjut. Ketepatan diagnosis 80%.

b. USG
Transduser frekuensi tinggi dan pemeriksaan Doppler tidak hanya
dapat membedakan dengan sangat baik tumor kistik atau padat, tapi
dapat juga mengetahui pasokan darahnya serta kondisi jaringan
disekitarnya, menjadi dasar diagnosis yang sangat baik.

c. MRI (Magnetic Resonance Imagging) Mammae
MRI merupakan pemeriksaan yang menggunakan resonansi inti atom
dan gelembang frekuensi radio dalam medan magnet untuk
menghasilkan sinyal dan rekonstruksi gambar. Karena tumor mammae
mengandung densitas mikrovaskular (MVD) abnormal, MRI mammae
dengan kontras memiliki sensitivitas dan spesifitas tinggi dalam
diagnosis karsinoma mammae stadium dini. Tapi pemeriksaan ini
cukup mahal, sulit digunakan meluas, hanya menjadi suatu pilihan
dalam mendiagnosis banding terhadap mikrotumor.

d. Pemeriksaan laboratorium
Dewasa ini belum ada petanda tumor spesifik untuk kanker mammae.
CEA memiliki nilai positif bervariasi 20-70%, antibody monoclonal
CA-15 angka positifnya 33-60%, semuanya dapat untuk referensi
diagnosis dan tindak lanjut klinis.



e. Sitologi Aspirasi Jarum Halus
Metode ini sederhana, aman, akurasi mencapai 90% lebih. Data
menunjukkan pungsi aspirasi jarum tidak memengaruhi hasil terapi.

f. Pemeriksaan histologi pungsi jarum mandarin
Pemeriksaan ini memiliki kelebihan antara lain sederhana dan aman
seperti diagnosis sitologi aspirasi jarum halus, juga ketepatan diagnosis
histologic biopsi eksisi, serta dapat dibuat pemeriksaan
immunohistologi yang sesuai. Pemeriksaan ini luas dipakai di klinis,
khususnya bagi yang diberi kemoterapi neoadjuvan.

g. Pemeriksaan biopsi
Cara biopsi dapat berupa biopsi eksisi atau insisi, tapi umumnya
dengan bopsi eksisi. Di RS yang menyediakan dapat dilakukan
pemeriksaan potong beku saat operasi. Bila tidak ada perlengkapan itu,
untuk karsinoma mammae yang dapat dioperasi tidak sesuai dilakukan
insisi tumor, untuk menghindari penyebaran iatrogenik tumor.
Terhadap kasus stadim lanjut dengan luka ulseratif boleh dilakukan
biopsi jepit. (Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, 2011)
Biopsi dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
- Biopsi jepit yang digunakan untuk tumor dikulit atau mukosa
dengan menggunakan biopsi jepit didaerah perbatasan tumor dan
jaringan normal.
- Biopsi aspirasi jarum menggunakan jarum khusus dilakukan
aspirasi jaringan untuk pemeriksaan histopatologi / pulas sitologi ,
biasanya untuk tumor permukaan kelenjar limfe , rongga mulut ,
tiroid , mammae , dll.
- Biopsi kerok digunakan untuk tumor permukaan leher rahim dan
fistula.




Selain itu terdapat juga pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan seperti;
1. Larutan untuk fiksasi jaringan hasil oprasi
Dimana jaringan hasil oprasi itu nantinya akan di fiksasi oleh tenaga medis
agar jaringan hasil oprasi tidak mengalami proses enzimatis lebih lanjut.
Cairan yang dapat digunakan seperti;
a. Alkohol
Untuk fiksasi sediaan sitologi, namun dalam keadaan terpaksa dapat
digunakan sebagai fiksasi sediaan histopatologi. Hal ini disebabkan
daya tembus alcohol yang kurang baik oleh karena jaringan cepat
menjadi keras dan mengkerut sehingga keadaan sukar dipulas.
b. Aseton
Mempertahankan enzim tertentu dan dapat digunakan untuk dehydrasi.
c. Asam asetat
d. Asam kromat
Sebagai oksidator atau katalis. Konsentrasi 0,5-1% dapat
mendenaturasi protein pada jaringan agar cairan pewarna dapat
terserap dengan baik. Sifatnya memiliki daya penetrasi yang lambat
dan tidak mengerutkan jaringan namun dapat mengeraskan jaringan.
e. Larutan Zenker
Terdiri dari mercuric chloride, potassium dichromate, aquadest,
sodium sulfate, acidium aceticum glacial. Kelebihannya adalah
jaringan ikat terpulas dengan baik, terutama untuk jaringan tumor.
Kekurangannya jaringan akan terpulas lebih tebal dan jaringan bersifat
rapuh atau mudah patah.
f. Larutan Bouin
Terdiri dari picric acid, formalin,acetic acid glacial. Sifatnya memiliki
daya penetrasi yang cepat serta inti dan jaringan ikat akan terpulas
dengan baik. Kekurangannya fiksasi terlalu lama dan jaringan akan
rapuh
g. Larutan Helly
Terdiri dari chloroform, alcohol absolute, acetic acid glacial.
Kelebihannya fiksasi lebih menghemat waktu. Kekurangannya
jaringan akan mengeras jika fiksasi terlalu lama. (William, 2013)
Jaringan hasil oprasi tersebutkemudian dibawa ke laboratorium patologi
anatomi agar mendapatkan data yang lebih akurat mengenai tumor yang
diderita. Pemeriksaan patologi anatomi ialah pemeriksaan morfologi tumor
yang meliputi pemeriksaan makroskopis dan mikroskopis . Pemeriksaan
ini dilakukan dengan pengecetan Hematoksilin Eosin dan dilakukan
pengecetan immunohistokimia estrogen reseptor (ER) , progesteron
reseptor (PR) dan HER2 apabila diperlukan . Pemeriksaan ini bertujuan
untuk menentukan jenis tumor padat dan selanjutnya akan sangat berguna
untuk menentukan jenis tindakan terapi yang akan diberikan kepada
pasien.
Pemeriksaan patologi anatomi ini juga digunakan dalam
menentukan diagnosis patologi dan morfologi (berdasarkan hasil
pemeriksaan mikroskopis) , Jaringan asal tumor padat (epitel embrional ,
mesenkim , atau campuran) , Sifat tumor (jinak/ganas) , Derajat
diferensiasi sel (semakin buruk derajat diferensiasi , semakin ganas tumor
tersebut , dan stadium penyakit).












BAB III
KESIMPULAN

Berdasarkan hasil analisis yang kami lakukan, kami berkesimpulan bahwa
benjolan yang diderita pasien harus kita ketahui terlebih dahulu apakah termasuk
neoplasma.Kita harus mengetahui neoplasma itu jinak atau ganas berdasarkan
keluahan pasien,riwayat penyakit dahulu yang pernah diderita pasien,riwayat
keluarga pasien pernah menderita penyakit serupa,factor resiko pasien (meliputi
jenis kelamin,usia,pekerjaan,lingkungan).
Pemeriksaan fisik pasien yang perlu dilakukan terhadap benjolan
tersebut,dari inspeksi dan palpasi. Kemudian dilakuakan pemeriksaan
penunjang(USG,CDFI) dan pemeriksaan lab(patologi anatomi).
Setelah diketahui diagnosis penyakit dari pasien,sehingga dapat dilakukan
tindakan yang dapat dilakukan untuk penyakit pasien tersebut.
















BAB IV
SARAN

Untuk jalannya tutorial, kami menyarankan mahasiswa perlu lebih
mempelajari dan memperdalam materi sebelum tutorial berlangsung agar
permasalahan yang dibahas terselesaikan dengan baik. Mahasiswa juga harus
memperhatikan waktu dalam berdiskusi sehingga semua jump dapat terselesaikan
dengan baik.

















DAFTAR PUSTAKA
Crum CP, Lester SC, Cotran RS, 2003. Patologi Sistem Genitalia Perempuan
dan Payudara. Jakarta: Badan Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Densen,Wan 2008. Buku Ajar Onkologi Klinis. Jakarta:Badan Penerbit FKUI.

Kumar,V, Cotran, Ramzi S., Robbins, Stanley L.2007. ROBBINS Buku Ajar
Patologi. Edisi ke 7 Volume 1. Jakarta: EGC

Prince dan Wilson, 2002. Patofisiologi Gangguan Sistem Reproduksi
Perempuan. Jakarta: Badan Penerbit Buku Kedokteran EGC.


Sidaurukha. 2013. Fibroadenoma mammae.
www.repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38884/3/ChapterII.pdf.
Diakses 4 september 2014.

Tjarta, A. 1973. Neoplasma-Patologi. Jakarta: Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia.

William M 2013. Fiksasi. www.scribd.com/doc/18576644/fiksasi. Diakses 4
September 2014.