Anda di halaman 1dari 9

S

e
l

V
o
l
t
a

2
0
1
3

L
a
p
o
r
a
n

P
r
a
k
t
i
k
u
m

K
i
m
i
a

Nilna Jauharotul Kamelia
11
[Type the company name]
XII IA - 6
SMA NEGERI 1 LAWANG


LAPORAN PERCOBAAN SEL VOLTA

I. Tujuan Percobaan : Menentukan Potensial Sel pada sel volta

II. LandasanTeori
Rangkaian sel elektrokimia pertama kali dipelajari oleh Luigi Galvani (1780)
danAlessandro Volta (1800). Sehingga disebut sel Galvani atau sel
Volta.Keduanya menemukan adanya pembentukan energi dari reaksi kimia
tersebut.Energi yang dihasilkan dari reaksi kimia sel Volta berupa energi
listrik. Sel Volta (sel galvani) memanfaatkan reaksi spontan (G < 0) untuk
membangkitkan energi listrik, selisih energi reaktan (tinggi) dengan produk
(rendah) diubah menjadi energi listrik. Sistem reaksi melakukan kerja terhadap
lingkungan.Selain itu pada sel ini berlangsung spontan dengan disertai
pembebasan energi panas yang ditandai dengan naiknya suhu larutan.
Sel Volta terdiri atas elektroda (logam seng dan tembaga) larutan elektrolit
(ZnSO4 dan CuSO4), dan jembatan garam (agar-agar yang mengandung
KCl).Logam seng dan tembaga bertindak sebagai elektroda.Keduanya
dihubungkan melalui sebuah voltmeter.Elektroda tempat berlangsungnya
oksidasi disebut Anoda (elektroda negatif), sedangkan elektroda tempat
berlangsungnya reduksi disebut Katoda (elektroda positif).
Penyusunan unsur-unsur berdasarkan deret kereaktifan logam dikenal
dengan deret volta. Deret volta menggambarkan urutan kekuatan pendesakan
suatu logam terhadap ion logam yang lain. Unsur yang terletak di sebelah kiri
hidrogen lebih mudah mengalami oksidasi dibanding yang terletak di sebelah
kanan hidrogen. Logam yang memiliki sifat reduktor lebih kuat akan mendesak
ion logam lain yang sifat reduktornya kecil. Adapun unsur-unsur dalam deret
volta adalah sebagai berikut.
LiKBaCaNaMgAlMnZnCrFeCdCoNiSn PbHCuHgAgPt
Au
Logam di sebelah kiri H memiliki E negatif, sedangkan di sebelah kanan
H memiliki E positif.Di sebelah kiri H merupakan logam-logam yang aktif,
sedangkan di sebelah kanan H merupakan logam-logam mulia. Makin ke kanan
sifat reduktor makin lemah, makin ke kiri sifat reduktor makin kuat. Unsur-
unsur dalam deret volta hanya mampu mereduksi unsur-unsur di sebelah
kanannya, tetapi tidak mampu mereduksi unsur-unsur di sebelah kirinya.
Sel-sel volta yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari antara
lain baterai dan aki. Baterai merupakan sel volta primer sedangkan aki
tergolong sel volta sekunder.
a. Baterai (Sel Leclanche)
Baterai termasuk sel volta primer karena jika sumber energinya habis tidak
dapat diisi lagi. Baterai (elemen kering) sering disebut sel Leclanche karena
orang yang menemukan bernama Leclanche.Sel Leclanche menggunakan batang
karbon sebagai katode dan pelat seng sebagai anode.Di dalamnya berisi pasta
yang merupakan campuran batu kawi (MnO2), amonium klorida (NH4Cl),
karbon (C), dan sedikit air.
b. Baterai alkalin
Akhir-akhir ini baterai alkalin banyak digunakan orang.Mengapa? Hal ini tidak
lain karena baterai alkalin mempunyai kekuatan arus listrik yang lebih besar
bila dibanding baterai biasa (sel Leclanche). Pada dasarnya prinsip kerja baterai
alkalin sama dengan sel kering, hanya saja baterai alkalin menggunakan logam
seng sebagai anode dan MnO2 sebagai katode serta elektrolit yang digunakan
KOH.
c. Sel aki
Sel aki tergolong jenis sel volta sekunder, karena jika zat yang ada di dalam aki
habis, maka dengan mengalirkan arus listrik ke dalam sel aki zat semula akan
terbentuk kembali, sehingga sel aki dapat berfungsi lagi. Sel aki terdiri atas Pb
(timbal) sebagai anode dan PbO2 (timbal dioksida) sebagai katode.Anode dan
katode merupakan zat padat (lempeng) yang berpori, keduanya dicelupkan di
dalam larutan asam sulfat.
Aki tidak memerlukan jembatan garam karena hasil reaksinya tidak larut
dalam sulfat. Kedua elektrode disekat dengan bahan fiberglas agar keduanya
tidak saling bersentuhan. Setiap sel aki mempunyai potensial 2 volt. Jadi, aki 6
volt terdiri 3 sel, aki 12 volt terdiri 6 sel, dan sebagainya. Masing-masing sel
dihubungkan secara seri.
d. Potensial Elektrode (E)
Perbedaan antara kedua sel yang terdapat di dalam sel volta disebut potensial
elektrode. Untuk mengukur potensial suatu elektrode digunakan elektrode lain
sebagai pembanding atau standar. Elektrode hidrogen digunakan sebagai
elektrode standar karena harga potensialnya=0. Potensial elektrode yang
dibandingkan dengan elektrode hidrogen yang diukur pada suhu 25C dan
tekanan 1 atm disebut potensial elektrode standar.Potensial elektrode hidrogen
merupakan energi potensial zat tereduksi dikurangi energi potensial zat
teroksidasi. Menurut perjanjian IUPAC, potensial elektrode yang dijadikan
sebagai standar adalah potensial reduksi.Dengan demikian, semua data
potensial elektrode standar dinyatakan dalam bentuk potensial reduksi
standar.Potensial reduksi standar adalah potensial reduksi yang diukur pada
keadaan standar, yaitu konsentrasi larutan M (sistem larutan) atau tekanan
atm (sel yang melibatkan gas) dan suhu 0. Untuk mengukur potensial reduksi
standar tidak mungkin hanya setengah sel (sel tunggal) sebab tidak terjadi
reaksi redoks. Oleh sebab itu, perlu dihubungkan dengan setengah sel
oksidasi.Nilai GGL sel yang terukur dengan voltmeter merupakan selisih kedua
potensial sel yang dihubungkan (bukan nilai mutlak).
Oleh karena nilai GGL sel bukan nilai mutlak maka nilai potensial salah satu
sel tidak diketahui secara pasti. Jika salah satu elektrode dibuat tetap dan
elektrode yang lain diubah-ubah, potensial sel yang dihasilkan akan berbeda.
Jadi, potensial sel suatu elektrode tidak akan diketahui secara pasti, yang dapat
ditentukan hanya nilai relatif potensial sel suatu elektrode. Oleh karena itu,
untuk menentukan potensial reduksi standar diperlukan potensial elektrode
rujukan sebagai acuan.Dalam hal ini, IUPAC telah menetapkan elektrode
standar sebagai rujukan adalah elektrode hidrogen.
Elektrode hidrogen pada keadaan standar, E, ditetapkan pada
konsentrasi H+ 1 M dengan tekanan gas H2 1 atm pada 25C. Nilai potensial
elektrode standar ini ditetapkan sama dengan nol volt atau Eo H+ H2 = 0,00
V. Potensial elektrode standar yang lain diukur dengan cara dirangkaikan
dengan potensial elektrode hidrogen pada keadaan standar, kemudian GGL
selnya diukur. Oleh karena potensial elektrode hidrogen pada keadaan standar
ditetapkan sama dengan nol, potensial yang terukur oleh voltmeter dinyatakan
sebagai potensial sel pasangannya
e. Gaya Gerak Listrik (GGL) sel
Dalam sel elektrokimia, untuk mendorong elektron mengalir melalui
rangkaian luar dan menggerakkan ion-ion di dalam larutan menuju elektrode
diperlukan suatu usaha.Usaha atau kerja yang diperlukan ini dinamakan gaya
gerak istrik, disingkat GGL. Kerja yang diperlukan untuk menggerakkan
muatan listrik (GGL) di dalam sel bergantung pada perbedaan potensial di
antara kedua elektrode.Beda potensial ini disebabkan adanya perbedaan
kereaktifan logam di antara kedua elektrode.Nilai GGL sel merupakan
gabungan dari potensial anode (potensial oksidasi) dan potensial katode
(potensial reduksi).Dalam bentuk persamaan ditulis sebagai berikut.

GGL (Esel) = potensial reduksi + potensial oksidasi
Potensial reduksi adalah ukuran kemampuan suatu oksidator (zat pengoksidasi
= zat tereduksi) untuk menangkap elektron dalam setengah reaksi reduksi.
Potensial oksidasi kebalikan dari potensial reduksi dalam reaksi sel
elektrokimia yang sama.
Potensial oksidasi = Potensial reduksi
Nilai GGL sel sama dengan perbedaan potensial kedua elektrode. Oleh karena
reaksi reduksi terjadi pada katode dan reaksi oksidasi terjadi pada anode maka
nilai GGL sel dapat dinyatakan sebagai perbedaan potensial berikut.
E
0
Sel = E
O
Reduksi - E
0
Oksidasi
E
O
Sel = E
0
Katode - E
0
Anode
E
O
Sel = E
0
Besar - E
0
Kecil
III. Alat dan Bahan
a. Gelas kimia
b. Jembatan garam
c. Larutan ZnSO40,1 M
d. Larutan CuSO40,1 M
e. Lempeng logam tembaga
f. Lempeng logam seng
g. Amplas
h. Voltmeter

IV. Langkah Kerja

1. Menyiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Memasukkan larutan ZnSO4 1 M dan CuSO4 pada gelas kimia sebanyak
80 ml
3. Menyiapkan jembatan garam
4. Memasukkan jembatan garam kedalam tabung U
5. Menghubungkan elektroda Zn dengan larutan ZnSO4 dan Cu pada
larutan CuSO4
6. Mencatat perubahan tegangan listrik yang tertera pada voltmeter













































V. Hasil Pengamatan
Hasil pengamatan yang diperoleh dari percobaan sebagai berikut.
E
O
Sel
hasil pengamatan pada voltmeter = 95 Volt
E
O
Sel
hasil perhitungan :
Data : Zn
2+
+ 2e
-
ZnE
O
Sel
= -0,76 Volt
Cu
2+
+ 2e
-
Cu E
O
Sel
= + 0,34 Volt
E
O
Sel
perhitungan = 110 Volt

VI. Pembahasan

Dari hasil percobaan yang dilakukan kelompok kami, yaitu reaksi antara :
1. ZnSO4 dan CuSO4, berdasarkan pengamatan , hasil yang ditunjukkan pada
voltmeter pada reaksi ini yaitu 1,1 Volt. Dan hasil tersebut sesuai dengan
teori E
O
Sel = E
0
Katode - E
0
Anode.

2. MgSO4 dan CuSO4, berdasarkan pengamatan , hasil yang ditunjukkan
pada voltmeter pada reaksi ini yaitu 1,9 Volt. Hasil tersebut tidak sesuai dengan
teori yang menghasilkan potensial sel yaitu 2,71 Volt. Jadi selisihnya adalah
0,81 Volt. Perbedaan tersebut dapat terjadi karena konsentrasi zatnya tidak
akurat 1 M, ataupun elektroda yang tidak di haluskan setelah digunakan.

3. MgSO4 dan ZnSO4, berdasarkan pengamatan, hasil yang ditunjukkan pada
voltmeter pada reaksi ini yaitu 0,9 Volt. Hasil tersebut kurang sesuai dengan
teori yaitu 1,07 Volt. Jadi, selisihnya adalah 0,17 Volt. Perbedaan tersebut dapat
terjadi karena konsentrasi zatnya tidak sesuai 1 M, ataupun elektroda yang
tidak di haluskan setelah digunakan.






VII. PERTANYAAN

1. Adakah perbedaan antara harga pontesial sel voltmeter dan hasil
perhitungan kelompok anda
2. Tuliskan reaksi sel yang terjadi
3. Tuliskan notasi selnya
4. Kesimpulan apa yang kelompok anda peroleh dari percobaan di atas

VIII. JAWABAN
1. YA
2. Zn
2+
+ Cu
2+
Cu
2+
+ Zn
3. Cu |Cu
2+
||Zn
2+
|Zn
4. Dari data pengamatan, diketahui bahwa reaksi yang mempunyai beda
potensial positif adalah yang mengalami reaksi redoks secara spontan.
Reaksi redoks spontan terjadi apabila sel anode lebih mudah
terdoksidasi dan sel katode lebih mudah tereduksi.
Saat Zn dan Cu direaksikan Zn bermuatan negatif dan Cu bermuatan
positif, nilai E
0
bernilai 0,9 V. Saat Zn dan Mg bereaksi Zn bermuatan
positif, Mg bermuatan negatif dan nilai E0 0,75 V. Saat Mg dan Cu
bereaksi, Mg bermuatan negatif, Cu bermuatan positif dan nilai E0 1,4
V.


IX. KESIMPULAN

Dari data pengamatan, diketahui bahwa reaksi yang mempunyai beda
potensial positif adalah yang mengalami reaksi redoks secara spontan.
Reaksi redoks spontan terjadi apabila sel anode lebih mudah terdoksidasi
dan sel katode lebih mudah tereduksi.

Saat Zn dan Cu direaksikan Zn bermuatan negatif dan Cu bermuatan
positif, nilai E
0
bernilai 0,9 V. Saat Zn dan Mg bereaksi Zn bermuatan
positif, Mg bermuatan negatif dan nilai E0 0,75 V. Saat Mg dan Cu
bereaksi, Mg bermuatan negatif, Cu bermuatan positif dan nilai E0 1,4 V.

Anda mungkin juga menyukai