Anda di halaman 1dari 33

TINJAUAN PUSTAKA

EPILEPSI
Skenario
Seorang anak, 6 tahun dilaporkan guru sering
melamun di kelas. Satu bulan yang lalu
tampak seperti mata berkedut, terjatuh ke
belakang. Dalam minggu terakhir keluhan
menjadi lebih sering. Setelah kejadian, pasien
biasa kembali, dapat beraktivitas seperti
sebelumnya.

Anamnesis
Pola atau bentuk bangkitan
Lama bangkitan
Gejala sebelum (aura, jeritan), selama (gangguan
kesadaran, automatisme), dan pasca bangkitan
(tampak bingung, mengantuk, mengompol,
lemas, segera sadar tanpa bingung)
Frekuensi bangkitan
Faktor pencetus (demam, suara bising, cahaya
silau, lelah, stress, emosi hebat)
Ada atau tidak adanya penyakit lain yang
diderita sekarang
Usia pada saat terjadinya bangkitan pertama
Riwayat pada saat dalam kandungan
(Toxoplasmosis, Eklampsi, DM), kelahiran
(partus lama, trauma), dan perkembangan
bayi atau anak
Riwayat terapi epilepsy sebelumnya
Riwayat penyakit epilepsy dalam keluarga

Pemeriksaan
Fisik
Neurologis
Penunjang
1. EEG : ditemukan gambaran epileptiform. 3 cycle
per second spike and wive discharge
2. MRI
3. Lab darah: Hb, Ht, Eritrosit, Leukosit, Trombosit,
Apus darah tepi, Elektrolit (Na, K, Ca, Mg), Gula
darah, Fungsi hati (SGOT SGPT), Alkali fosfatase,
Fungsi ginjal (ureum, kreatinin)

Diagnosis
Epilepsi Bangkitan Umum Lena (Absence)

Tatalaksana
TINJAUAN PUSTAKA
DEFINISI
Bangkitan epilepsi adalah manifestasi klinis
yang disebabkan oleh lepasnya muatan listrik
yang abnormal, serentak , berlebihan dan
berulang secara periodik dari sekelompok atau
seluruh sel neuron otak.

Epilepsi adalah bangkitan epilepsi yang
berulang.
Sindroma epilepsi adalah sekumpulan gejala
dan tanda klinis epilepsi yang terjadi secara
bersama-sama yang berhubungan dengan
etiologi, umur, onset, jenis bangkitan, faktor
pencetus dan kronisitas.

Status epilepsi adalah bangkitan yang
berlangsung lebih dari 30 menit atau dua atau
lebih jangkitan.
Tidak terdapat pemulihan kesadaran diantara
dua bangkitan.
Penanganan kejang harus dimulai dalam 10
menit setelah awitan suatu kejang.

ETIOLOGI EPILEPSI
Idiopatik : tidak terdapat penyebab lain,
kemungkinan genetik
Kriptogenik : diduga terdapat penyebab, tetapi
penyebabnya tersembunyi dan sering tidak
diketahui. Contoh yang termasuk dalam
etiologi kriptogenik adalah sindrom West,
sindrom Lennox-Gastaut.

Simptomatik : penyebabnya adalah suatu
kelainan susunan syaraf pusat yang dapat
disebabkan oleh;
Trauma kepala
Infeksi (terbentuk jaringan parut/hidrocephalus)
Kelainan kongenital
Lesi desak ruang
Gangguan peredaran darah otak
Toksik (alkohol, obat)
Metabolik
Kelainan neurodegeneratif

ETIOLOGI BERDASARKAN USIA
Neonatus : hipoksia, prematur, kelainan kongenital,
kelainan metabolik, genetik.
Neonatus 2tahun : gangguan metabolisme, infeksi,
dehidrasi berat
2tahun 18 tahun : genetik, infeksi, intoksikasi obat.
>20 tahun : trauma, infeksi (terutama infeksi
toxoplasma dan hiv)
>50tahun : Gangguan kardiovaskular, gangguan
metabolik, infeksi, neoplasma
>65tahun : gangguan vaskular, neoplasma

Klasifikasi Epilepsi The International
League Againts Epilepsy (ILAE) 1981.
1. Bangkitan parsial ialah bangkitan epilepsi berasal dari satu bagian
di otak, fokus pada korteks serebri, kesadaran dapat terganggu atau
tidak terganggu.

1.a Bangkitan parsial sederhana (gejala otonom, psikis, motorik,
atau sensorik).
Tidak terjadi perubahan / gangguan kesadaran.
Serangan dimulai dari satu bagian tubuh misalnya tangan, kaki,
atau muka (unilateral/fokal) kemudian menyebar pada bagian
tubuh ipsilateral yang berdekatan (Jacksonian March).
Kepala mungkin berpaling kearah yang terkena kejang (serangan
adversif).
Dapat menyerang daerah sensoris dan memori sehingga
menimbulkan halusinasi, dj vu, jamais vu, panic atau euphoria.
1.b Bangkitan Parsial Kompleks

Serangan fokal disertai kehilangan/terganggunya kesadaran
(tampak bingung, kehilangan kontak dengan lingkungan sekitar)
Dapat diawali dengan aura yang mendahului gangguan kesadaran.
Aura timbul dengan cepat sehingga sering tidak dirasakan, seperti
tiba-tiba mendengar suara desiran air, mencium bau amis, rasa
seperti mengunyah logam, merasa lengan kiri hilang, dll.
Sering diikuti dengan automatisme yang stereotip seperti
mengunyah, mengecap-ngecap dan kegiatan motorik lainnya tanpa
tujuan yang jelas.
Pasien bisa sampai mengompol.
Setelah bangkitan pasien tampak bingung dan mengantuk
1.c Bangkitan Parsial Umum Sekunder

Berkembang dari serangan parsial sederhana atau parsial
kompleks yang dalam waktu singkat menjadi serangan
umum
Bangkitan parsial dapat berupa aura
Bangkitan umum yang terjadi biasanya bersifat kejang
tonik klonik
2. Bangkitan umum merupakan bangkitan
berasal dari seluruh bagian otak.

2.a Umum tonik.
Kekakuan yang tiba-tiba pada otot-otot ekstensor
Umumnya disertai dengan hilanganya kesadaran karena
terganggunya saluran pernafasan.
Pasien jatuh ke lantai

2.b Umum klonik
Terdapat kontraksi otot yang ritmis atau semiritmis
Umumnya terjadi pada ekstrimitas atas, leher dan wajah
Pasien tidak sadar dan kelojotan

2.c Umum tonik-klonik.

Dapat didahului prodromal seperti jeritan (epileptic cry)
karena udara terdorong keluar akibat spasme laring.
Pasien kehilangan kesadaran, kaku (fase tonik) selama 10-
30 detik, diikuti gerakan kejang kelojotan pada kedua
lengan dan tungkai (fase klonik) selama 30-60 detik, mulut
berbusa
Selesai serangan, pasien menjadi lemas (fase flaksid) dan
tampak bingung/tidur
Dapat disertai lidah tergigit dan ngompol.

2.d Absence/lena.
Gangguan kesadaran mendadak (absence) berlangsung <30
detik
Selama serangan kegiatan motorik terhenti dan pasien diam
tanpa reaksi
Mungkin terdapat automatisme ringan
Pemulihan kesadaran pasca bangkitan segera terjadi tanpa
perasaan bingung

2.e Mioklonik
Bangkitan umum serentak dan menyentak dapat pada
sekelompok otot atau seluruh tubuh.
2.f Atonik
Hilangnya tonus otot yang tiba-tiba sehingga pasien terjatuh
Hilang kesadaran
Mengakibatkan cedera wajah atau daerah lainnya


3. Bangkitan tak terklasifikasi yaitu Bangkitan
tak dapat dimasukan dalam parsial atau umum.

Klasifikasi berdasarkan ILAE 1989
1. Berkaitan dengan letak fokus
Idiopatik
Epilepsi Rolandik benigna (childhood epilepsy with centrotemporal spikes)
Epilepsi oksipital pada anak (childhood epilepsy with occipital paroxysms)
Epilepsi yang berhubungan dengan membaca
Simtomatik
Epiolepsi parsial kontinua pada anak-anak (sindroma Kojenikow)
Sindroma dengan bangkitan yang dipresipitasi oleh suatu rangsangan yang
spesifik (kurang tidur, alcohol, obat-obatan, hiperventilasi, refleks
epilepsy, stimulasi fungsi kortikal tinggi, membaca).
Epilepsi Lobus temporalis.
Epilepsi Lobus frontalis.
Epilepsi Lobus parietalis.
Epilepsi Lobus oksipitalis.
Kriptogenik

2. Epilepsi dan sindroma epilepsi yang tidak
dapat ditentukan apakah fokal atau umum
Idiopatik
Kejang neonatus familial benigna
Kejang neonatus benigna
Kejang miklonik berat pada bayi
Epilepsi lena anak
Epilepsi Lena Remaja
Epilepsi Mioklonik Remaja
Epilepsi bangkitan tonik klonik saat terjaga
Epilepsi umum idiopatik lain
Epilepsi tonik klonik yang dipresipitasi aktivitas tertentu

Kriptogenik/ simptomatik sesuai peningkatan usia
Sindrom West
Sindrom Lennox-Gaustaut
Epilepsi Mmioklonik astatik
Epilepsi lena mioklonik

Simtomatik
Etiologi non-spesifik
Etiologi spesifik


3. Epilepsi dan sindrom yang dapat ditentukan fokal/umum
Bangkitan Umum dan Fokal
Bangkitan neonatal
Epilepsi mioklonik berat pada bayi
Epilepsi dengan gelombang paku-ombak yang kontinu selama tidur
dalam
Epilepsi yang berupa afasia yang didapat (Sindroma Landau-Kleffner)
Epilepsi lain yang tidak terklasifikasi
Tanpa gambaran tegas fokal atau umum

4. Sindrom khusus
Kejang demam
Bangkitan kejang / status epileptikus hanya sekali
Bangkitan hanya terjadi pada metabolik akut, atau toksis, atau
alkohol, obat-obatan, eklamsia, hiperglikemia non ketotik
Bangkitan dengan pencetus spesifik

DIAGNOSIS
Langkah pertama: memastikan apakah kejadian
yang bersifat paroksismal menunjukkan
bangkitan epilepsy atau bukan epilepsy

Langkah kedua: apabila benar terdapat bangkitan
epilepsy, maka tentukanlah bangkitan yang ada
termasuk jenis bangkitan yang mana

Langkah ketiga: tentukan etiologi, sindrom
epilepsy apa yang ditunjukkan oleh bangkitan
tadi, atau epilepsy apa yang diderita oleh pasien

Diagnosis epilepsy ditegakkan atas dasar
adanya gejala dan tanda klinik dalam bentuk
bangkitan epilepsy berulang (minimum dua
kali) yang ditunjang oleh gambaran
epileptiform pada EEG
1. Anamnesis
Pola atau bentuk bangkitan
Lama bangkitan
Gejala sebelum, selama, dan pasca bangkitan
Frekuensi bangkitan
Faktor pencetus
Ada atau tidak adanya penyakit lain yang diderita
sekarang
Usia pada saat terjadinya bangkitan pertama
Riwayat pada saat dalam kandungan, kelahiran,
dan perkembangan bayi atau anak
Riwayat terapi epilepsy sebelumnya
Riwayat penyakit epilepsy dalam keluarga
2. Pemeriksaan Fisik dan Neurologi
Lihat adanya tanda-tanda dari gangguan yang
berhubungan dengan epilepsy, seperti trauma
kepala, infeksi telinga atau sinus, gangguan
congenital, gangguan neurologic fokal atau
difus, kecanduan alkohol atau obat terlarang,
dan kanker.

3. Pemeriksaan Penunjang
EEG
Indikasi pemeriksaan EEG:
1. Membantu menegakkan diagnosis epilepsy
2. Menentukan prognosis pada kasus tertentu
3. Pertimbangan dalam penghentian OAE
4. Membantu dalam menentukan letak focus
5. Bila ada perubahan bentuk bangkitan dari
bangkitan sebelumnya

Brain Imaging CT scan dan MRI
Indikasi:
1. Semua kasus bangkitan pertama yang diduga
ada kelainan structural
2. Adanya perubahan bentuk bangkitan
3. Terdapat deficit neurologic fokal
4. Epilepsy dengan bangkitan parsial
5. Bangkitan pertama di atas usia 25 tahun
6. Untuk persiapan tindakan pembedahan
epilepsy

MRI
Dapat mendeteksi sklerosis hipokampus,
disgenesis kortikal, tumor, dan hemangioma
kavernosa.
Indikasi : untuk epilepsy yang sangat mungkin
memerlukan terapi pembedahan.

Laboratorium
Darah: Hb, Ht, Leukosit, Trombosit, Apus
darah tepi, elektrolit (Natrium, Kalium,
Kalsium, Magnesium), kadar gula, fungsi hati
(SGOT, SGPT, Gamma GT, Alkali fosfatase),
ureum, kreatinin, dan lainnya atas indikasi
LCS: bila dicurigai adanya infeksi SSP
Pemeriksaan lain atas indikasi, misalnya ada
kelainan metabolic bawaan

Diagnosis Banding
Neonatus : Apneu

Anak : Breath holding spell, Migren, Bangkitan
psikogenik, Sinkope, Night terror, Tics, Hypercyanotic
attack , Prolonged QT syndrome

Dewasa : Vasovagal attack, Sinkop kardiogenik,
Sinkop hipovolemik, Serangan iskemik sepintas (TIA),
Vertigo, Transient global amnesia, Narkolepsi, Serangan
panik, psikogenik, Meniere disease