Anda di halaman 1dari 20

BAB I

PENDAHULUAN

I.1. Latar belakang
Geofisika berasal dari kata geo, yang artinya bumi, dan fisika. Geofisika
merupakan bagian dari ilmu kebumian yang mempelajari bumi beserta isinya
menggunakan kaidah dan prinsip-prinsip fisika. Penelitian geofisika digunakan
untuk mengetahui kondisi di bawah permukaan bumi melibatkan pengukuran di
atas permukaan bumi dari parameter-parameter fisika yang dimiliki oleh batuan di
dalam bumi. Dari pengukuran ini dapat ditafsirkan bagaimana sifat-sifat dan
kondisi di bawah permukaan bumi baik itu secara vertikal maupun horisontal.
Bumi beserta isinya merupakan wadah persediaan sumberdaya alam yang
sangat melimpah. Kekayaan sumberdaya yang ada Indonesia juga sangat
melimpah, untuk itu sangat diperlukan pengetahuan agar dapat mengolah dan
memanfaatkan sumberdaya alam tersebut. Berdasarkan hal tersebut pengetahuan
tentang metode untuk memperoleh informasi dengan menggunakan metode
geofisika sangat dibutuhkan. Metode geofisika secara umum dapat digunakan
untuk kegiatan eksplorasi mineral dan mengetahui struktur yang berkembang.
Metode geofisika dibagi menjadi dua yaitu metode pasif dan aktif. Metode
pasif dilakukan tanpa membuat gangguan pada bumi. Metode aktif dilakukan
dengan membuat medan gangguan kemudian mengukur respons yang dilakukan
oleh bumi. Metode pengukuran anomali pada muka bumi dapat dilihat dari aspek
kemagnetan, gravitasi, maupun seismik.
Salah satu metode yang dapat digunakan pada pembahasan laporan ini
adalah metode gravitasi yang dalam pengukurannya menggunakan intensitas
gravitasi yang ada pada daerah pengambilan data.

I.2. Maksud dan Tujuan
Penelitian dengan metode gravitasi bertujuan untuk :
- Eksplorasi di bawah permukaan tanah
- Menyelidiki keadaan bawah permukaan yang berdasarkan pada perbedaan
rapat massa yang sangat kecil

BAB II
DASAR TEORI
II. 1 Metode Gravity
Metode gravitasi adalah suatu metode eksplorasi yang dilakukan dengan
cara mengukur medan gravitasi pada kelompok-kelompok titik pada lokasi yang
berbeda dalam suatu area tertentu.
Metode gravity merupakan teknik geofisika non-destruktif yang mengukur
variasi medan grafitasi bumi pada lokasi tertentu. Selain itu, metode ini relatif
murah, tidak merusak dan merupakan metode pasif yaitu tidak memerlukan
usikan ke tanah untuk memperoleh data.
Metode gravitasi biasanya digunakan sebagai survei pendahuluan pada
kegiatan eksplorasi. Metode gravitasi digunakan untuk mendeteksi anomali nilai
gravitasi. Anomali gravitasi diakibatkan oleh perbedaan massa jenis atau struktur
geologi (rapat massa, kedalaman, volume/struktur).

II. 2 Hukum Dasar Metode Gravity
Gravitasi merupakan gaya tarik menarik antara dua benda dengan rapat
massa yang berbeda dan dipisahkan oleh jarak r, dari definisi tersebut didapatkan
persamaan hukum Newton sederhana :
r
r
m m
F
2
2 1
=


Dimana :
F

= besar gaya gravitasi ,


r = satuan vektor dari m
1
ke m
2
,


= konstanta gravitasi (6.67 x 10
-11
m
3
kg
-1
s
-2
)
m
1
= massa benda pertama
m
2
= massa benda kedua
r = jarak antara benda pertama dan benda kedua




Bila bumi dianggap bulat, homogen dan tidak berotasi maka persamaannya
menjadi :
gm
R
M
F = =
2


Namun pada kenyataannya bumi lebih mendekati bentuk spheroid, berotasi, relief
permukaannya tidak rata, ber-revolusi dalam sistem matahari dan tidak homogen,
maka variasi gravity disetiap titik dipermukaan bumi dipengaruhi oleh berbagai
faktor yaitu :
1. Lintang
2. Ketinggian
3. Topografi
4. Pasang surut
5. Variasi densitas bawah permukaan
Dalam pelaksanaan survei geofisika metode gravity hanya variasi densitas bawah
permukaan yang diharapkan. Sehingga pengoreksian atau penghilangan 4 faktor
lainnya diperlukan dari harga pembacaan alat.
Koreksi metode gravity adalah sebagai berikut :
a. Koreksi Spheroid dan Geoid.
Telah dikatakan sebelumnya bentuk bumi lebih mendekati bentuk
spheroid, maka dari itu digunakan spheroid referensi sebagai pendekatan ntk
muka laut rata-rata dengan mengabaikan efek benda diatasnya.
Geoid merupakan suatu permukaan equipotensial yang dianggap sebagai
muka air lat rata-rata dimana adanya efek elevasi di daratan, depresi dibagian
lautan dan efek variasi rapat massa lainnya dimasukkan dalam perhitungan.
Sehingga kedudukan permukaan geoid ini diatas spheroid referensi pada
daratan (sebagai efek elevasi) dan dibawah spheroid referensi pada
lautan (sebagai efek depresi lautan) , diberikan oleh persamaan GRS67
(Geodetic Reference System 1967) :
( ) | + | + = | 2 sin 0000059 . 0 sin 005304 . 0 1 8 . 978031 ) ( g
2 2

dengan | adalah sudut lintang dalam radian.


b. Koreksi Pasang Surut (Tidal)
pembacaan anomali gayaberat di permukaan dapat dipengaruhi oleh adanya
benda-benda angkasa seperti matahari dan bulan sehingga perlu dilakukan
pengkoreksian. Efek gravity bulan di titik P pada permukaan bumi diberikan
oleh persamaan potensial berikut ini:
(

o | + o |
(

| |
.
|

\
|
o |
.
|

\
|
= t 2 cos cos cos t cos sin 2 sin sin
3
1
sin
3
1
3
R
c
) r ( G U
2 2 2 2
3
m

dimana :
| = lintang, o = deklinasi, t = moon hour angle, c = jarak rata-rata ke
bulan.
c. Koreksi Apungan (Drift)
Koreksi ini dilakukan karena adanya perbedaan pembacaan gravity dari
stasiun yang sama pada waktu yang berbeda, yang disebabkan karena adanya
guncangan pegas alat gravimeter selama proses transportasi dari satu stasiun
ke stasiun lainnya.
akusisi data didesain dalam suatu rangkaian tertutup untuk menghilangkan
efek ini,, sehingga besar penyimpangan tersebut dapat diketahui dan
diasumsikan linier pada selang waktu tertentu (t).
) t t (
t t
g g
drift
1 n
1
n
1 n

=

d. Koreksi Udara Bebas (Free-Air Correction)
Bentuk topografi bumi yang tidak datar memungkinkan stasiun pengukuran
gayaberatberada pada posisi
atas atau bawah dari spheroid referensi. Untuk itu perlu dilakukan koreksi
agak posisi stasiun seakan-akan sama dengan spheroid referensi yang dikenal
dengan Koreksi Udara Bebas. Koreksi ini mengukur elevasi stasiun
dengan
asumsi tidak adabatuan atau suatu massa diantaranya. Besar faktor koreksi (F
AC) untuk daerah equatorhingga lintang 45 atau -45 adalah -
0,3085 mGal/m. Sehinga besarnya anomali pada posisi tersebut menjadi FAA
(Free Air Anomali), yaitu

h 3085 , 0 ) R ( g g ) h R ( FAA
obs
+ = + (5-6)

e. Koreksi Bouguer (Bouguer Correction/BC)
Koreksi bouger dilakukan untuk mengkompensasi pengaruh massa batuan
terdapat antara stasiun pengukuran dan (mean sea level) yang diabaikan pada
koreksi udara bebas. Koreksi ini dapat ditulis sebagai berikut:

f. Koreksi Medan (Terrain Correction)
Koreksi medan mengkompensasi ketidakteraturan pada topografi sekitar titik
pengukuran. Ketika melakukan pengukuran, elevasi topografi di sekitar titik
pengukuran, biasanya dalam radius dalam dan luar, diukur elevasinya.
Sehingga koreksi ini dapat ditulis sebagai berikut:


II.3 Faktor Yang Mempengaruhi Gravitasi
Gravitasi merupakan sifat percepatan pada bumi yang menghasilkan benda
jatuh secara bebas. Percepatan gravitasi pada setiap tempat di permukaan bumi
tidaklah sama. Faktor yang mempengaruhi gravitasi yaitu:
1. Bentuk bumi yang tidak benar-benar bulat yaitu bulat pepat. Sehingga
gaya sentrifugal yang menentang gravitasi lebih besar di equator. Oleh
karena itu, jarak equator ke pusat bumi lebih jauh dari pada jarak kutub ke
pusat bumi. Akibatnya gravitasi di equator lebih kecil dari pada di kutub.

2. Topografi permukaan bumi yang beragam menyebabkan perbedaan
percepatan gravitasi. Karena percepatan gravitasi bergantuk pada jaraknya
terhadap permukaan bumi. Sehingga semakin tinggi dari permukaan bumi,
semakin kecil percepatan gravitasinya.
3. Kepadatan atau kerapatan massa yang berbeda-beda menghasilkan
gravitasi pada permukaan bumi yang berbeda pula. Makin padat atau rapat
massa bumi maka makin kecil gravitasinya.

II.4 Tahapan-Tahapan Pengolahan Data Gravity
Pengolahan data gravitasi dengan cara mereduksi data gravitasi, umumnya
dapat dibagi menjadi dua macam, yaitu proses dasar dan proses lanjutan. Proses
dasar dimulai dengan mencari nilai pembacaan alat di lapangan sampai diperoleh
nilai anomali Bouguer di setiap titik pengamatan. Proses tersebut meliputi tahap
konversi pembacaan gravity meter ke nilai milligal, koreksi apungan (drift
correction), koreksi pasang surut (tidal correction), koreksi lintang (latitude
correction), koreksi udara bebas (free-air correction),koreksi Bouguer (sampai
pada tahap ini diperoleh nilai anomali Bouguer Sederhana (ABS) pada topografi.),
dan koreksi medan (terrain correction). Proses lanjutan merupakan proses untuk
mempertajam kenampakan/gejala geologi pada daerah penyelidikan yaitu
pemodelan dengan menggunakan software Surfer. Beberapa koreksi dan konversi
yang dilakukan dalam pemrosesan data metoda gravitasi, dapat dinyatakan
sebagai berikut:
a. Konversi Pembacaan Gravity Meter
Pemrosesan data gravitasi dilakukan terhadap nilai pembacaan gravity
meter untuk mendapatkan nilai anomali Bouguer. Untuk memperoleh nilai
anomali Bouguer dari setiap titik pengamatan, maka dilakukan konversi
pembacaan gravity meter menjadi nilai gayaberat dalam satuan milligal. Untuk
melakukan konversi memerlukan tabel konversi dari gravity meter tersebut.
b. Posisi dan Ketinggian
Kedudukan atau posisi dapat dicari dengan menggunakan GPS, sedangkan
pengukuran ketinggian menggunakan barometer aneroid dan termometer.
Pengukuran ketinggian dilakukan dengan menggunakan diferensial yaitu dengan

menggunakan dua buah barometer dan termometer. Pengukuran tersebut
dilakukan dengan menempatkan satu alat di base station sedangkan alat yang lain
dibawa untuk melakukan pengukuran pada setiap titik pengamatan.
Adapun pemrosesan data posisi dan ketinggian sebagai berikut.
1. Pemrosesan Data GPS
Setiap kali pembacaan posisi titik amat langsung dapat diketahui dari
bacaan tersebut, yaitu berupa bujur (longitude) dan lintang (latitude). Posisi yang
ditunjukan GPS dalam satuan derajat, menit dan detik. Maka perlu melakukan
konversi posisi dari satuan waktu ke dalam satuan derajat. Posisi ini selanjutnya
digunakan untuk menghitung koreksi lintang atau perhitungan normal.
2. Pemrosesan Data Barometer
Barometer merupakan alat ukur tekanan udara yang secara tidak langsung
digunakan untuk mengukur beda tinggi suatu tempat di permukaan bumi. Prinsip
pengukuran ketinggian barometer didasarkan pada suatu hubungan antara tekanan
udara disuatu tempat dengan ketinggian tempat lainnya, yaitu dengan adanya
tekanan udara suatu tempat dipermukaan bumi sebanding dengan berat kolom
udara vertikal yang berada diatasnya (hingga batas atas atmosfer). Ketelitiaan
pengukuran tinggi barometer sangat tergantung pada kondisi cuaca, sebab
keadaan tersebut akan mempengaruhi tekanan udara di suatu tempat. Perbedaan
temperatur udara dan kecepatan angin disuatu tempat akan menyebabkan tekanan
udara naik turun (berfluktuasi), sehingga akan menimbulkan kesalahan dalam
beda tinggi antara dua tempat yang berbeda. Maka perlu dilakukan pengukuran
temperatur udara untuk menentukan koreksi temperatur yang harus
diperhitungkan dalam penentuan beda tinggi, sehingga akan memperkecil
kesalahan (Subagio, 2002). Pengukuran ketinggiaan dengan menggunakan
barometer selain tergantung pada tekanan udara, dipengaruhi juga oleh beberapa
parameter seperti temperatur udara, kelembaban udara, posisi lintang titik amat,
serta ketinggian titik ukur.
Dalam pemrosesan data metoda gayaberat terdapat beberapa tahapan
dengan koreksi-koreksi diantaranya adalah :
1. Koreksi Apungan (Drift Correction)

Koreksi ini dilakukan untuk menghilangkan pengaruh perubahan kondisi
alat (gravity meter) terhadap nilai pembacaan. Koreksi apungan muncul karena
gravity meter selama digunakan untuk melakukan pengukuran akan mengalami
goncangan, sehingga akan menyebabkan bergesernya pembacaan titik nol pada
alat tersebut. Koreksi ini dilakukan dengan cara melakukan pengukuran dengan
metode looping, yaitu dengan pembacaan ulang pada titik ikat (base station)
dalam satu kali looping, sehingga nilai penyimpangannya diketahui.
2. Koreksi Pasang Surut (Tidal Correction)
Koreksi ini adalah untuk menghilangkan gaya tarik yang dialami bumi
akibat bulan dan matahari, sehingga di permukaan bumi akan mengalami gaya
tarik naik turun. Hal ini akan menyebabkan perubahan nilai medan gravitasi di
permukaan bumi secara periodik. Koreksi pasang surut juga tergantung dari
kedudukan bulan dan matahari terhadap bumi. Koreksi tersebut dihitung
berdasarkan perumusan Longman (1965) yang telah dibuat dalam sebuah paket
program komputer. Koreksi ini selalu ditambahkan terhadap nilai pengukuran,
dari koreksi akan diperoleh nilai medan gravitasi di permukaan topografi yang
terkoreksi drift dan pasang surut.
3. Koreksi Lintang (Latitude Correction)
Koreksi lintang digunakan untuk mengkoreksi gravitasi di setiap lintang
geografis karena gravitasi tersebut berbeda, yang disebabkan oleh adanya gaya
sentrifugal dan bentuk ellipsoide. Dari koreksi ini akan diperoleh anomali medan
gravitasi. Medan anomali tersebut merupakan selisih antara medan gravitasi
observasi dengan medan gravitasi teoritis (gravitasi normal).
4. Koreksi Ketinggian
Koreksi ini digunakan untuk menghilangkan perbedaan gravitasi yang
dipengaruhi oleh perbedaan ketinggian dari setiap titik amat. Koreksi ketinggian
terdiri dari dua macam yaitu:
a) Koreksi Udara Bebas (free-air correction)
Koreksi udara bebas merupakan koreksi akibat perbedaan ketinggian
sebesar h dengan mengabaikan adanya massa yang terletak diantara titik amat
dengan sferoid referensi. Koreksi ini dilakukan untuk mendapatkan anomali
medan gayaberat di topografi. Untuk mendapat anomali medan gayaberat di

topografi maka medan gayaberat teoritis dan medan gayaberat observasi harus
sama-sama berada di topografi, sehingga koreksi ini perlu dilakukan. Koreksi
udara bebas dinyatakan secara metematis dengan rumus :
FAC =0.3085h mGal
dimana h adalah beda ketinggian antara titik amat gayaberat dari sferoid referensi
(dalam meter).
Setelah dilakukan koreksi tersebut maka akan didapatkan anomali udara bebas di
topografi yang dapat dinyatakan dengan rumus :
FAA =gobs-g(f) +FAC mGal
dimana :
FAA: anomali medan gayaberat udara bebas di topografi (mGal)
Gobs: medan gayaberat observasi di topografi (mGal)
G(f): medan gayaberat teoritis pada posisi titik amat (mGal)
FAC : koreksi udara bebas (mGal)
b). Koreksi Bouguer
Bouguer Correction adalah harga gaya berat akibat massa di antara
referensi antara bidang referensi muka air laut samapi titik pengukuran sehingga
nilai gobservasi bertambah. Setelah dilakukan koreksi-koreksi terhadap data
percepatan gravitasi hasil pengukuran (koreksi latitude, elevasi, dan topografi)
maka diperoleh anomali percepatan gravitasi (anomali gravitasi Bouguer lengkap)
yaitu :
gBL = gobs g() + gFAgB + gT
dimana :
gobs = medan gravitasi observasi yang sudah dikoreksi pasang surut
g() = Koreksi latitude
gFA = Koreksi udara bebas (Free Air Effect)
gB = Koreksi Bouguer
gT = Koreksi topografi (medan)
Dengan memasukan harga-harga numerik yang sudah diketahui,
gBL = gobs g() + 0.094h (0.01277h T)

5. Koreksi Medan (Terrain Corection)

Koreksi medan digunakan untuk menghilangkan pengaruh efek massa
disekitar titik observasi. Adanya bukit dan lembah disekitar titik amat akan
mengurangi besarnya medan gayaberat yang sebenarnya. Karena efek tersebut
sifatnya mengurangi medan gayaberat yang sebenarnya di titik amat maka koreksi
medan harus ditambahkan terhadap nilai medan gayaberat.
Nilai anomali Bouguer lengkap dapat diperoleh dari nilai anomali Bouguer
sederhana yang telah terkoreksi medan, Merupakan anomali yang dicari dengan
cara mereduksi hasil pengukuran lapangan dengan koreksi-koreksi seperti yang
telah diuraikan di atas.
II. 5 Looping
Ketika akan melakukan pengukuran, penentuan titik acuan sangat penting,
karena pengambilan data lapangan harus dilakukan secara looping, yaitu dimulai
pada suatu titik yang telah ditentukan, dan berakhir pada titik tersebut. Titik acuan
tersebut perlu diikatkan terlebih dahulu pada titik ikat yang sudah terukur
sebelumnya. Dalam alur pengambilan data dilakukan dengan proses looping.
Tujuan dari sistem looping tersebut adalah agar dapat diperoleh nilai koreksi
apungan alat (drift) yang disebabkan oleh adanya perubahan pembacaan akibat
gangguan berupa guncangan alat selama perjalanan. Dalam pengukuran gayaberat
terdapat beberapa data yang perlu dicatat meliputi waktu pembacaan (hari, jam,
dan tanggal), nilai pembacaan gravimeter, posisi koordinat stasiun pengukuran
(lintang dan bujur) dan ketinggian titik ukur. Pengambilan data dilakukan di titik-
titik yang telah direncanakan pada peta topografi dengan interval jarak
pengukuran tertentu.
Hal penting yang perlu diperhatikan adalah melakukan kalibrasi alat dan
menentukan titik acuan (base station) sebelum melakukan pengambilan data
gayaberat di titik-titik ukur lainnya. Mencari besarnya harga medan gravitasi
suatu base station (titik ikat) pengukuran dapat dilakukan dengan persamaan :
gbs = gref + ( g pembacaan bs + g pembacaan ref )
gbs = harga medan gravitasi base station
gref = harga medan gravitasi titik referensi
gpembacaan bs = harga pembacaan gravitasi di base station
gpembacaan ref = harga pembacaan gravitasi di titik referensi

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN

III. 1. Diagram Alir Pengolahan Data



























Gambar III.1 Diagram Alir
Grafik elevasi
vs Densitas
Masukkan data ke
Ms.Excel
Pengolahan Data
Pada Ms. Excel
Olah data pada
Surfer
Peta ABS
Mulai
Peta ABL
Selesai
Interpretasi

III. 2. Pembahasan Diagram Alir Pengolahan Data
Langkah yang perlu dilakukan dalam pengolahan data gravitasi ini dimulai
dengan pengolahan data menggunakan Ms. Excel. Kemudian output dari excel
tersebut diolah kembali menggunakan software surfer yang akan menghasilkan
peta ABS dan peta ABL. Berdasarkan output dari kedua peta tersebut dapat
dilakukan interpretasi hubungan Anomali Bouguer Sederhana dengan Anomali
Bouguer Lengkap.

























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1. Tabel Pengolahan data




IV.2. Perhitungan Manual













































IV. 3 Pembahasan
IV.3.1.Grafik Elevasi vs Densitas

Gambar 4.3.1 grafik elevasi vs densitas
Grafik tersebut menggambarkan tingkat elevasi pada beberapa posisi yang
ditunjukkan dalam satuan meter. Terlihat bahwa pada posisi 1 hingga mendekati
posisi 5 tingkat elevasinya relatif seragam yang menunjukkan topografi dataran,
lalu di posisi 6 hingga mendekati posisi 10 menunjukkan tingkat elevasi yang
semakin meningkat, dan dari posisi 10 sampai 13 menunjukkan tingkat elevasi
yang semakin menurun, kemudian dari posisi 14 sampai 16 ketinggian meningkat
kembali, kemudian dari posisi 17 sampai 19 menunjukkan ketinggian yang
semakin menurun. Dari grafik tersebut dapat di interpretasikan bahwa grafik yang
menunjukkan gambar seperti huruf u terbalik adalah bukit, dan grafik yang
menunjukkan gambar u adalah lembah. Maka pada posisi 10 dan 16 merupakan
puncak bukit, sedangkan posisi 13 dan 16 merupakan pusat cekungan atau
lembahnya. Pada posisi 10 memiliki elevasi 171 dan tingkat densitas 16,49. Pada
posisi 16 memiliki elevasi 163 m dan tingkat densitas 15,72. Sehingga dapat
disimpulkan bahwa hubungan elevasi dengan tingkat densitas berbanding lurus.

0
2
4
6
8
10
12
14
16
18
0
20
40
60
80
100
120
140
160
180
0 5 10 15 20 25
ELEVASI
2,3

IV.3.2. Peta Anomali Bouguer Sederhana

Gambar 4.3.2 Peta ABS
Dari peta Anomali Bouguer Sederhana di atas dapat dilihat garis yang
berwarna merah yaitu line 3 merupakan daerah yang di amati. Pada line 3 ini
dapat dilihat perbedaan elevasi yang cukup tinggi sepanjang garis line 3 ini,
bagian tersebut terdapat pada koordinat y 9142000 dan kordinat x nya antara
464000-464100 dan antara 464300 464400 dengan nilai range densitas antara
121-125 dengan warna antara orange hingga agak merah.




IV. 3. 3. Peta Anomali Bouguer Lengkap

Gambar 4.3.3 Peta Anomali Bouguer Lengkap
Dari peta Anomali Bouguer Lengkap di atas dapat dilihat garis yang
berwarna merah yaitu line 3 merupakan daerah yang di amati. Pada line 3 ini
dapat dilihat perbedaan elevasi yang cukup tinggi sepanjang garis line 3 ini,
bagian tersebut terdapat pada koordinat y 9142000 dan kordinat x nya antara
464000-464100, dengan nilai range densitas antara 136-140 dengan orange
sampai merah.
Dari peta diatas dapat dikatakan daerah telitian memiliki nilai densitas
yang cukup tinggi memungkinkan batuan di daerah telitian berupa batuan beku.



BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari peta Anomali Bouguer Sederhana di atas dapat dilihat garis yang
berwarna merah yaitu line 3 merupakan daerah yang di amati. Pada line 3 ini
dapat dilihat perbedaan elevasi yang cukup tinggi sepanjang garis line 3 ini,
bagian tersebut terdapat pada koordinat y 9142000 dan kordinat x nya antara
464000-464100 dan antara 464300 464400 dengan nilai range densitas antara
121-125 dengan warna antara orange hingga agak merah.
Sedangkan dari peta Anomali Bouguer Lengkap di atas dapat dilihat garis
yang berwarna merah yaitu line 3 merupakan daerah yang di amati. Pada line 3 ini
dapat dilihat perbedaan elevasi yang cukup tinggi sepanjang garis line 3 ini,
bagian tersebut terdapat pada koordinat y 9142000 dan kordinat x nya antara
464000-464100, dengan nilai range densitas antara 136-140 dengan orange
sampai merah.
Berdasarkan peta diatas daerah yang diteliti hampir rata-rata memiliki
densitas batuan yang cukup tinggi hal ini memungkinkan batuan yang terdapat di
bawah permukaan adalah batuan beku. Karena batuan beku mempunyai densitas
tertinggi dibanding batuan metamorf dan batuan sedimen.

V.2. Saran
Dalam melakukan metode gravity ini praktikan berharap pada saat
penyampaian materi praktikan dapat memahami bagaimana menerapkan cara
pengambilan data dan pengolahan datanya hingga interpretasi dengan
menggunakan metode gravity tersebut.