Anda di halaman 1dari 16

ANATOMI IKAN NILEM (Osteochilus hasselti)

DAN IKAN LELE (Clarias batrachus)











Oleh :
Nama : Egia Riska Fazrin
NIM : B1J013048
Rombongan : IV
Kelompok : 5
Asisten : Marifah





LAPORAN PRAKTIKUM STRUKTUR HEWAN






KEMENTERIAN PENDIDIKAN DAN KEBUDAYAAN
UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2014
I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Sebagian besar wilayah dunia terdiri dari air. Sehingga banyak berbagai jenis
hewan air, salah satunya ikan. Ikan adalah hewan berdarah dingin, ciri khasnya adalah
mempunyai tulang belakang, insang, sirip dan terutama ikan sangat bergantung atas air
sebagai medium dimana tempat mereka tinggal. Ikan memiliki kemampuan di dalam air
untuk bergerak dengan menggunakan sirip untuk menjaga keseimbangan tubuhnya
sehingga tidak bergantung pada arus atau gerakan air yang disebabkan oleh arus angin.
Ikan bernafas menggunakan insang yang berada di bagian kanan dan kiri dari kepalanya,
tetapi ada beberapa jenis ikan yang bernapas dengan paru- paru. Ekosistem ikan ada 2
macam, yaitu perairan tawar dan perairan laut. Ikan yang hidup di perairan laut lebih
banyak mengeluarkan urin.
Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) merupakan ikan endemik Indonesia yang hidup
di sungai-sungai, danau dan rawa-rawa, tersebar merata di pulau Jawa, Sumatera dan
Kalimantan. Namun sejalan dengan perkembangan ikan tersebut kemudian dibudidayakan
di kolam-kolam untuk tujuan komersial. Habitat asli dari Ikan Nilem yaitu di daerah
beriklim sedang, dengan suhu berkisar 18-28 C dan pH antara 6.0-7.0 dengan kandungan
oksigen terlarut yang cukup tinggi. Ikan Nilem juga banyak dibudidayakan karena memiliki
nilai ekonomis yang tinggi dan dapat dikonsumsi oleh manusia karena mengandung gizi
serta protein yang tinggi. Selain memiliki nilai ekonomis, Ikan Nilem juga berperan dalam
biocleaning agent karena sifatnya yang suka memakan detritus dan perifeton sehingga ikan
ini digunakan untuk membersikan keramba jaring apung (Brotoidjoyo, 1990).
Ikan Lele (Clarias batrachus) merupakan jenis ikan konsumsi air tawar dengan
tubuh memanjang dan kulit licin. Ikan Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau asin.
Habitatnya di sungai dengan arus air perlahan, rawa, telaga, waduk dan sawah yang
tergenang air. Ikan Lele bersifat noctural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada
malam hari. Pada siang hari, Ikan Lele berdiam diri dan berlindung di tempattempat gelap.
Di alam Ikan Lele memijah pada musim hujan.
Praktikum kali ini menggunakan Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) dan Ikan Lele
(Clarias batrachus) sebagai preparat, untuk mewakili spesies dari kelas pisces. Kedua ikan
tersebut dipilih karena mempunyai organ-organ penyusun yang lengkap dan jelas, sehingga
mempermudah praktikan melakukan pengamatan, baik organ dalam maupun organ luar.

B.Tujuan
Tujuan dari praktikum Struktur Hewan kali ini adalah untuk mengetahui Morfologi
dan Anatomi Ikan Nilem (Osteochilus hasselti) dan Ikan Lele (Clarias batrachus).



















II. TINJAUAN PUSTAKA
Osteocillus hasselti adalah salah satu jenis ikan tawar yang dapat tumbuh dengan
baik jika dipelihara di kolam atau sawah. Ikan nilem dapat hidup di daerah tinggi dan
rendah yaitu pada ketinggian 200-700 meter. Makanan ikan ini berupa hewan-hewan kecil
tetapi juga makanan lain seperti dedak dan ampas (Jasin, 1989).
Susunan tubuh ikan terdiri dari bagian luar dan bagian dalam. Susunan tubuh ikan
bagian luar terdiri dari kepala, badan, ekor, mulut, cekung hidung, mata, tutup insang, sisik,
gurat sisi, sirip perut, sirip dada, sirip punggung, sirip belakang, dan sirip ekor. Sedangkan
susunan tubuh bagian dalam adalah saluran pencernaan, gelembung renang, kelenjar
pencernaan, insang, jantung, kelenjar kelamin, dan ginjal (suyanto, 1991).
Mulut berahang, skeleton sebagian atau seluruhnya bertulang menulang.
Kondrokranium (kranium tulng rawan) dilengkapi oleh tulang dermal tubuh membentuk
tengkorak majemuk. Sisik bertipe sikloid yang berasal dari mesodermal. Saat stadium
embrio ada 6 celah insang, untuk ikan dewasa biasanya tinggal 4 celah. Insang-insang itu
tertutup oleh operkulum (Brotowidjoyo, 1990).
Kulit atau cutis terdiri atas corium atau dermis dan epidermis. Corium terdiri atas
jaringan pengikat. Epidermis yang melapisinya dari sebelah luar ialah epithelium. Di antara
cel-cel epithelium terdapat kelenjar unicelluler yang mengeluarkan lendir lendir ini
menyebabkan kulit ikan menjadi licin. Dalam corium terdapat chromatophor-chromatophor
ialah sel-sel yang mengandung butir-butir pigment, yang menentukan warna kulit
(Radiopoetro, 1988).
Fungsi organ dalam ikan yaitu gelembung renang (vasica matatoria) sebagai alat
keseimbangan naik turun di dalam air. Ginjal (ren) sebagai tempat penyaringan urin. Usus
(intestine) sebagai saluran pencernaan, tempat penyerapan sari-sari makanan. Ureter
untuk menyalurkan urin (air seni) dari ginjal ke vesica urinaria. Iinsang sebagai alat
pernapasan (Ahjar, 1974).
Sistem pencernaannya terdiri dari rahang yang mengandung gigi yang berguna
untuk mengunyah makanan. Terdapat juga kelenjar mucosa, tetapi tidak terdapat kelenjar
ludah. Selanjutnya makanan menuju oesophagus terus ke ventriculus. Antara ventriculus
dan intestinum terdapat klep pylorus. Sistem reproduksi pada ikan jantan terdapat
sepasang testis, melalui vas deferent sperma dikeluarkan melalui papillae urogenetalis.
Untuk hewan betina, sel telur keluar pada oviduct. Pembuahan umumnya terjadi diluar
tubuh (Jasin, 1989).
Ikan Nilem jantan terdapat sepasang testis yang panjang. Testis terletak ventral dari
ren. Ujung caudal mulai dari vas deferens yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis. Ikan
Nilem betina terdapat sepasang ovaria yang panjang. Ovaria ini mempunyai rongga yang ke
caudal melanjutkan diri ke dalam oviduk yang bermuara ke dalam sinus urogenitalis
(Radiopoetro, 1988).
Lele tidak pernah ditemukan di air payau atau air asin, kecuali lele laut yang
tergolong ke dalam marga dan suku yang berbeda (Ariidae). Habitatnya di sungai dengan
arus air yang perlahan, rawa, telaga, waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan ikan lele
bisa hidup pada air yang tercemar, misalkan di got-got dan selokan pembuangan.Ikan lele
bersifat noktural, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada siang hari,
ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap. Di alam, ikan lele memijah
pada musim penghujan (Suyanto, 1991).
Ikan-ikan marga Clarias dikenali dari tubuhnya yang licin memanjang tak bersisik,
dengan sirip punggung dan sirip anus yang juga panjang, yang terkadang menyatu dengan
sirip ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Kepalanya keras menulang di
bagian atas, dengan mata yang kecil dan mulut lebar yang terletak di ujung moncong,
dilengkapi dengan empat pasang sungut peraba (barbels) yang amat berguna untuk
bergerak di air yang gelap. Lele juga memiliki alat pernafasan tambahan berupa modifikasi
dari busur insangnya. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada sirip-sirip
dadanya (Radiopoetro, 1988).







III. MATERI DAN METODE
A. Materi
Alat- alat yang digunakan adalah bak preparat, pinset, gunting bedah.
Bahan yang digunakan adalah Ikan Nilem (Osteochilus hasselti), Ikan Lele (Clarias
batrachus), air kran, tissue.
B. Metode
Metode yang digunakan praktikum ini adalah sebagai berikut :
1. Ikan dimatikan dengan gunting.
2. Ikan digunting dimulai dari porus urogenitalis, sepanjang garis medioventral tubuh
ke arah depan sirip dada (dilakukan dengan hati-hati sehingga tidak mengenai organ-
organ yang ada di dalamnya).
3. Bagian belahan daging sebelah atas dibuka dengan menggunakan pinset.
4. Pengguntingan dilanjutkan ke arah tubuh bagian dorsal, yang dilanjutkan ke arah
anterior sampai ke tutup insang dan dilanjutkan pada bagian dorsal dan ventral sampai
moncong. Pengguntingan pada bagian ini harus diperhatikan, karena pada bagian ventral
dari insang terdapat jantung, sehingga pengguntingan harus dilakukan dengan hati-hati.
5. Saluran pencernaan yang diamati dengan cara menarik bagian usus, sedikit demi
sedikit sampai keluar dari tubuh dan jangan sampai putus.












B. Pembahasan
1. Ikan Nilem (Osteochillus hasselti)
Ikan nilem (Osteochillus hasselti) merupakan ikan herbivora yang hidup di
perairan bebas pada danau atau rawa . Ikan yang dewasa akan memilih secara alami
tempat yang berair jernih dan dasar airnya memiliki pasir. Pada umumnya, ikan nilem dapat
dipelihara dengan baik pada daerah dengan ketinggian sekitar 150-800 meter dari
permukaan laut. Makanannya terdiri dari lumut-lumut halus dan tumbuh-tumbuhan
pelekat (Achjar, 1974).
Klasifikasi dari ikan nilem (Osteochillus hasselti) menurut Saanin (1987) adalah
sebagai berikut :
Kingdom : Animalia
Phylum : Chordata
Subphylum : Vertebrata
Class : Pisces
Sub class : Teleostei
Ordo : Ostariophysi
Sub ordo : Cyprinoide
Familia : Cyprinidae
Genus : Oesteochillus
Spesies : Osteochillus hasselti
Morfologi ikan nilem antara lain, bentuk tubuh hampir serupa dengan ikan
mas. Bedanya, kepala ikan nilem relatif lebih kecil. Pada sudut-sudut mulutnya, terdapat
dua pasang sungut peraba. Warna tubuhnya hijau abu-abu. Tubuh ikan terbagi menjadi tiga
bagian yaitu kepala, badan dan ekor. Kepala mulai dari moncong sampai dengan batas
tutup insang. Badan mulai dari belakang tutup insang sampai anus. Ekor mulai dari
belakang anus sampai dengan ujung sirip ekor. Pada bagian kepala terdapat lubang mulut
(moncong) yang terdiri dari premaksilla terletak paling ujung dari moncong bagian dorsal,
admaksilla terletak sebelah posterior dari premaksilla, maksilla terletak sebelah postero-
lateral dari admaksilla, dentale merupakan tulang yang menyokong rahang bawah terletak
pada ujung moncong sebelah bawah, lekuk hidung terletak pada tulang admaksilla,di depan
mata, dan mata terletak postero-lateral dari lekuk hidung (tidak mempunyai kelopak mata)
(Storer, 1961).
Badan ikan nilem seluruhnya ditutupi sisik. Terdapat linea lateralis atau gurat
sisi, yang memanjang dari belakang tutup insang sampai ekor, berfungsi sebagai indera
keenam untuk mengetahui besar arus dalam air. Tipe sisik ikan nilem adalah melengkung
atau cycloid (Brotowidjoyo, 1990).
Tipe ekor ikan nilem adalah homocerk, yaitu simetris dorso-ventral dilihat dari
luar sedangkan dari dalam terlihat dibangun oleh tulang-tulang asimetris. Potongan
melintang bagian ekor terdiri dari otot-otot epaxial, yaitu otot bagian dorsal/atas dari
tulang vertebrae yang memiliki lengkung neural membentuk taju neural (tempat lalunya
urat syaraf) dan otot-otot hepaxial, yaitu otot bagian ventral/bawah dari tulang vertebrae
yang memiliki lengkung haemal membentuk taju haemal (tempat lalunya arteri dan vena
caudalis). Kedua kelompok otot tersebut dibatasi oleh septum horizontal dan bagian kanan
kiri dari otot epaxial maupun hepaxial dibatasi oleh septum vertical. Otot-otot pada ikan
nilem masih segmental, dinamakan myomere dan dibungkus selaput yang disebut
myocomata. Bagian akhir tulang ekor berbentuk kipas yang disebut hypolaria dan pada
bagian dorsalnya terdapat tulang berbentuk duri yang disebut urostyle (Radiopoetro, 1988).
Ikan nilem sebagai hewan yang hidup di perairan mempunyai alat gerak yang
disebut sirip .Sirip adalah suatu perluasan integument (pembungkus tubuh) yang tipis dan
disokong oleh jari-jari sirip. Fungsi sirip adalah untuk mempertahankan kesetimbangan
dalam air dan untuk berenang. Sirip pada ikan nilem terdiri dari Sirip punggung (dorsal fin),
sirip ekor (caudal fin), dan sirip dubur (anal fin) disebut sirip tunggal atau sirip tidak
berpasangan. Sirip dada (pectoral fin) dan sirip perut (abdominal fin) disebut sirip
berpasangan (Jasin, 1989).
Sirip punggung memiliki 3 jari-jari keras dan 12-18 jari-jari lunak. Sirip ekor
berbentuk cagak dan simetris. Sirip dubur disokong oleh 3 jari-jari keras dan 5 jari-jari lunak.
Sirip perut disokong oleh 1 jari-jari keras dan 8 jari-jari lunak. Sirip dada terdiri dari 1 jari-jari
keras dan 13-15 jari-jari lunak. Jumlah sisik pada gurat sisi ada 33-36 keping. Dekat sudut
rahang atas ada 2 pasang sungut peraba (Saanin, 1987).
Sistem pernapasan dilakukan oleh insang yang terdapat dalam 4 pasang
kantong insang yang terletak disebelah pharynk di bawah operculum. Waktu bernapas
operculum menutup melekat pada dinding tubuh, arcus branchialis mengembang ke arah
lateral. Air masuk melalui mulut kemudian klep mulut menutup, sedangkan arcus
branchialis berkontraksi, dengan demikian operculum terangkat terbuka. Air mengalir
keluar filamen sehingga darah mengambil oksigen dan mengeluarkan karbondioksida
(Jasin,1989).
Menurut Djuhanda (1981), lengkung insang pada ikan nilem berupa tulang
rawan yang sedikit membulat membentuk sabit tampak berwarna putih dan merupakan
tempat melekatnya filamen-filamen insang. Arteri branchialis terdapat pada lengkung
insang di bagian basal sebelah atas/dorsal dan arteri epibranchialis di sebelah
bawah/ventral. Tapis insang berupa sepasang deretan rawan-rawan yang pendek dan
sedikit bergerigi, melekat pada bagian depan dari lengkung insang. Ikan nilem memiliki
gelembung renang (vesica metatoria) berupa kantung yang menggelembung berwarna agak
keputih-putihan. Terbagi menjadi dua bagian, muka dan belakang yang bersekat
ditengahnya. Gelembung renang ini berfungsi untuk menjaga keseimbangan di dalam air.

Sistem pencernaan pada ikan disusun oleh organ-organ yang berbentuk hampir
mirip, sehingga untuk membedakan bagian-bagiannya cukup sulit. Sistem pencernaan pada
ikan nilem dimulai dari oesophagus yang sangat pendek, karena rongga mulut langsung
menuju ke lambung atau intestine yang sangat berliku-liku bermuara pada anus. Intestine
dibedakan menjadi 2, yaitu pars cardiaca yang lebar dan pars pylorica yang sempit.
Oesophagus terhubung ke gelembung renang oleh pembuluh halus, ductus pneumaticus.
Hati (hepar) berwarna merah kekuningan, letaknya masih menempel pada usus. Limpa
(lien), berbentuk bulat pipih berwarna merah dipegang oleh selaput (mesenterium).
Kantung empedu (vesica felea), letaknya pada usus bagian depan, berhubungan dengan
usus melalui saluran empedu (ductus choledocus) yang pendek. Osteochilus hasselti
mempunyai hati dan pankreas yang sulit dibedakan sehingga disebut hepatopankreas
(Radiopoetro, 1988).
Ginjal terletak antara vesica pneumatica dengan tulang vertebrae. Cairan yang
mengandung sisa-sisa persenyawaan nitrogen dan hidrogen diambil dari darah dalam ginjal
dan ditampung ke dalam vesica urinaria melalui ureter, pembuluh yang sangat halus,
terletak sebelah dorsal dari gelembung renang bagian posterior. Urine kemudian
dikeluarkan melalui uretra yang berakhir pada porus urogenital, terletak disebelah
posterior dari anus (Jasin,1989).
Ikan yang hidup di air tawar mengekskresikan ammonia dan aktif menyerap ion
anorganik melalui insang . Ikan ini mempunyai kadar garam rendah dan mengeluarkan
urine dalam volume yang besar. Ikan yang hidup di air laut, sampah nitrogen yang
diekskresikannya kurang beracun. Zat yang diekskresikan antara lain trimetilamin oksida,
yang membuat ikan berbau amis karena ikan air laut tidak memiliki glomerulus, dan ion-ion.
Ikan air laut pun mengeluarkan urine, tetapi jumlahnya kecil (Soemarwoto, 1981).
Ikan nilem merupakan ikan ovipar, bereproduksi secara eksternal dan telurnya
dilengkapi dengan yolk (Storer, 1961). Sistem genitalis berfungsi untuk proses reproduksi.
Pada ikan betina terdapat oviduct , saluran telur berupa tabung yang pendek, sedangkan
pada ikan jantan terdapat vas deferens, tempat penyaluran sperma. Kedua sel kelamin ini
juga berakhir pada porus urogenitalis.
Ikan jantan dan ikan betina dapat dibedakan dengan cara memijit bagian perut
ke arah anus. Ikan jantan akan mengeluarkan cairan putih susu dari lubang genitalnya.
Induk betina yang sudah matang telurnya dicirikan dengan perut yang relatif besar dan
lunak bila diraba (Sumantadinata, 1981).
2. Ikan Lele (Clarias batrachus)
Ikan lele merupakan sejenis ikan yang hidup di air tawar. Lele tidak pernah
ditemukan di air payau atau air asin, kecuali ikan lele laut yang tergolong ke dalam marga
dan suku yang berbeda. Habitatnya di sungai dengan arus air yang perlahan, rawa, telaga,
waduk, sawah yang tergenang air. Bahkan, ikan lele juga bisa hidup pada air yang tercemar.
Ikan lele bersifat nokturnal, yaitu aktif bergerak mencari makanan pada malam hari. Pada
siang hari, ikan lele berdiam diri dan berlindung di tempat-tempat gelap (Suyanto, 1991).
Menurut Kay (1998), klasifikasi ikan lele (Clarias batrachus) adalah sebagai
berikut
Kingdom : Animalia
Sub-kingdom : Metazoa
Phyllum : Chordata
Sub-phyllum : Vertebrata
Kelas : Pisces
Sub-klas : Teleostei
Ordo : Ostariophysi (ikan yang dirongga perutnya sebelah atas ada tulang
sebagai alat keseimbangan atau sebagai tulang weber)
Sub-ordo : Siluroidea (berkulit licin, tidak bersisik)
Familia : Clariidae (kepala pipih dan mempunyai alat pernapasan tambahan)
Genus : Clarias
Species : Clarias batrachus
Hasil pengamatan, memperlihatkan tubuh lele yang tidak bersisik, sehingga
tubuhnya licin, memiliki sungut (barbel) yang berada disekitar bagian mulutnya, dan bentuk
tubuhnya pipih memanjang. Menurut Fujaya (2002), pada tubuh lele ditemukan tiga
bentuk potongan melintang yaitu pipih kebawah, bulat dan pipih kesamping. Kepala pipih
kebawah (depressed), tengah badannya mempunyai potongan membulat, dan bagian
belakang tubuhnya berbentuk pipih kesamping (compressed). Organ organ lainya dari
ikan lele, terdiri dari jantung, empedu, gonad, hati, lambung dan anus.
Ikan-ikan marga Clarias dikenali dari tubuhnya yang tak bersisik, licin
memanjang, memiliki kulit berlendir. Tidak seperti ikan nilem, ikan lele tidak mempunyai
gelembung renang (vesica metetoria) sebagai alat keseimbangan. Pada kulitnya, terdapat
pigmen hitam yang apabila terkena cahaya matahari berubah menjadi pucat. Mulutnya
lebar, berada diujung moncong (terminal), yang dilengkapi dengan 4 pasang sungut
(barbell), terdiri dari barbell superior (sungut atas) dan barbell inferior (sungut bawah).
Barbell ini berfungsi untuk mendeteksi makanan dan sangat berguna untuk bergerak di air
yang gelap. Kepalanya keras menulang, ditutupi pelat tulang di bagian atas dan bawah.
Pelat ini membentuk ruangan rongga diatas insang, dan disini terdapat alat pernapasan
tambahan yaitu arborecent, yang tergabung dengan busur insang kedua dan keempat.
Mata berbentuk kecil dengan tepi orbital yang bebas. Lubang hidung depan merupakan
tabung pendek berada dibelakang bibir atas dan lubang hidung belakang berupa celah
yang kurang lebih bulat, berada di belakang sungut nasal (Djuhanda, 1981).
Ikan lele memiliki lima macam sirip, sebagai alat geraknya. Sirip-siripnya terdiri
dari sepasang sirip dada (pectoral fin), sirip perut (abdominal fin), serta sirip dubur (anal
fin), sirip punggung (dorsal fin), dan sirip ekor (caudal fin) yaang tunggal. Menurut Kimball
(1983), sirip punggung dan dubur memanjang sampai ke pangkal ekor namun tidak
menyatu dengan sirip ekor. Sirip ekor membulat, tidak bergabung dengan sirip punggung
maupun sirip anal. Tetapi terkadang sirip punggung dan sirip anal menyatu dengan sirip
ekor, menjadikannya nampak seperti sidat yang pendek. Sirip perut berbentuk membulat
dan panjangnya mencapai sirip anal. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam,
pada sirip-sirip dadanya. Patil memiliki panjang maksimum mencapai 400 mm. Patil ini
beracun terutama pada ikan-ikan remaja, sedangkan pada ikan yang tua sudah agak
berkurang racunnya, dan patil ini berfungsi sebagai perlindungan diri.
Pencernaan merupakan proses yang berlangsung terus-menerus, diawali
dengan pengambilan makanan dan berakhir dengan pembuangan sisa makanan. Sistem
pencernaan makanan Ikan Lele (Clarias sp.) dimulai dari mulut, rongga mulut, faring,
esophagus, lambung, pylorus, usus, rektum, dan anus. Struktur anatomi mulut ikan erat
kaitannya dengan cara mendapatkan makanan. Sungut terdapat di sekitar mulut lele,
berperan sebagai alat peraba atau pendeteksi makanan dan ini terdapat pada ikan yang
aktif mencari makan pada malam hari (nokturnal). Rongga mulut pada ikan lele diselaputi
sel-sel penghasil lendir yang mempermudah jalannnya makanan ke segmen berikutnya,
juga terdapat organ pengecap yang berfungsi menyeleksi makanan. Faring pada ikan
(filter feeder) berfungsi untuk menyaring makanan, karena insang mengarah pada faring,
maka material bukan makanan, akan dibuang melalui celah insang (Fujaya, 2002).
Ikan lele (Clarias batrachus) mempunyai lambung yang sudah dapat
dibedakan dan panjang, menunjukkan ikan ini termasuk ke dalam hewan herbivore. Ciri
dari hewan herbivore yaitu mempunyai usus yang panjang dan menggulung. Hal ini
dibuktikan dalam pembedahan. Proses laju digesti dapat disebut pola dengan proses laju
pengosongan lambung. Pengamatan dengan mengamati bobot lambung ikan lele dengan
ukuran waktu selama 15, 30 , 60 menit (Bendiksen, et.al, 2003)
Sistem peredaran darah pada ikan melibatkan jantung dan pembuluh
darah. Ikan memiliki sistem peredaran darah tunggal karena darah hanya satu kali melewati
jantung. Darah kotor dari sistem kapiler mengalir masuk ke atrium dan selanjutnya
mengalir ke ventrikel. Darah dari ventrikel dipompakan keluar dari jantung menuju insang
melalui aorta ventralis yang kemudian bercabang membentuk arteri. Selanjutnya darah
masuk ke dalam insang melalui arteri eferen branchialis. Darah tersebut banyak
mengandung CO
2.
Di dalam insang, CO
2
dibebaskan ke dalam air dan O
2
berdifusi dari air ke
dalam insang sehingga darah yang meninggalkan insang merupakan darah bersih yang
banyak mengandung O
2
. Melalui aorta dorsalis, darah diedarkan ke seluruh tubuh
(Soemarwoto, 1981).
Sistem respirasi pada ikan lele sama seperti ikan yang lainnya, yang
membedakan, ikan lele memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut Aborescen,
berupa modifikasi dari busur insangnya. Organ ini merupakan membran yang berlipat-lipat
penuh dengan kapiler darah. Alat ini terletak didalam ruangan sebelah atas insang. Dengan
alat tersebut ikan ini mampu muncul ke permukaan air untuk mengambil oksigen langsung
dari udara, sehingga dapat hidup dalam waktu yang cukup lama pada lumpur lembab
bahkan tanpa air sama sekali (Kay, 1998).
Ginjal merupakan alat ekskresi yang utama pada vertebrata. Pada vertebrata,
terdapat beberapa tipe ginjal, yakni pronephros, opistonephros, mesonerfos, dan
metanerfos. Pronephros merupakan ginjal yang berkembang biak pada fase embrio atau
larva. Selanjutnya pronephros akan berubah menjadi mesonephros dan kemudian menjadi
metanephros. Opistonephros merupakan tipe ginjal yang terdapat pada hewan amphibi
dan pisces (Soemarwoto, 1981).
Ikan lele mengeluarkan urine melalui lubang urogenital. Sebagai ikan air tawar,
system ekskresi ikan lele sama seperti ikan nilem. Ikan yang hidup di air tawar,
mengekskresikan ammonia dan aktif menyerap ion anorganik melalui insang. Kemudian
ikan ini mengeluarkan urine dalam jumlah yang besar (Soemarwoto,1981)
Gonad betina ikan lele berwarna lebih kuning, terlihat bintik-bintik telur yang
terdapat di dalamnya, dan kedua bagian sisinya mulus tidak bergerigi. Pada ikan betina
terdapat oviduct , saluran telur berupa tabung yang pendek, sedangkan pada ikan jantan
terdapat vas deferens, tempat penyaluran sperma. Gonad ikan lele jantan dapat dibedakan
dengan gonad betina, dari ciri-cirinya yang memiliki gerigi pada salah satu sisi gonadnya,
warna lebih gelap, dan memiliki ukuran gonad lebih kecil dari pada betinanya. Pada ikan
lele juga terdapat klasper sebagai organ yang homolog dengan hemipenis. Kedua sel
kelamin ini berakhir pada porus urogenitalis (Fujaya, 2002).



















V. KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan hasil dan pembahasan mengenai ikan nilem (Osteochillus hasselti), dapat
diambil kesimpulan sebagia berikut :
a. Ikan nilem (Osteochilus hasselti ) merupakan ikan air tawar yang memiliki bentuk
tubuh mirip bentuk tubuh ikan mas, tetapi kepalanya relatif lebih kecil. Terdapat
dua pasang sungut peraba pada sudut mulutnya. Warna tubuhnya hijau abu-abu.
b. Ikan nilem terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor.
c. Terdapat linea lateralis pada kiri kanan badan ikan nilem, berfungsi untuk
mengetahui besar arus dalam air.
d. Alat gerak berupa sirip, yang terdiri dari sepasang pectoral fin, abdominal fin, anal
fin, dorsal fin, dan caudal fin yang tunggal.
e. Ikan nilem memiliki tipe sisik cyloid (melengkung) dan tipe ekor homocerk, simetris
dorso ventral dari luar, dan tersusun atas tulang-tulang asimetris di bagian dalam.
f. Ikan nilem bernapas menggunakan insang, yang terdiri dari lengkung insang, tapis
insang, filamen insang, dan septum branchialis (sekat filamen insang).
g. Ikan nilem memiliki gelembung renang yang berperan menjaga keseimbangan naik
turun di dalam air.
h. Sistem pencernaan disusun oleh organ yang bentuknya hampir mirip.
i. Sistem reproduksi ikan nilem yaitu oviduct pada ikan betina dan vas defferens pada
ikan jantan.
j. Sitsem ekskresi dan sistem genitalia berakhir pada porus guroenitalis.
2. Berdasarkan hasil dan pembahasan mengenai ikan lele (Clarias bartachus), dapat
diambil kesimpulan sebagia berikut :
a. Ikan lele merupakan sejenis ikan yang hidup di air tawar, bersifat nocturnal yaitu
aktif bergerak mencari makanan pada malam hari.
b. Ikan lele terdiri dari tiga bagian yaitu kepala, badan, dan ekor.
c. Tubuh ikan lele pipih memanjang, tidak bersisik, tubuhnya licin.
d. Memiliki sungut (barbel) yang berada disekitar bagian mulutnya, untuk mendeteksi
adanya makanan.
e. Terdapat sepasang patil, yakni duri tulang yang tajam, pada sirip-sirip dadanya,
untuk perlindungan diri.
f. Ikan lele tidak mempunyai gelembung renang (vesica metatoria) sebagai alat
keseimbangan.
g. Ikan lele mempunyai lambung yang sudah dapat dibedakan.
h. Sistem pencernaan makanan ikan lele dimulai dari mulut, rongga mulut, faring,
esophagus, lambung, pylorus, usus, rektum, dan anus.
i. Ikan memiliki sistem peredaran darah tunggal karena darah hanya satu kali
melewati jantung.
j. Ikan lele memiliki alat pernapasan tambahan yang disebut aborescen sehingga
mampu mengambil oksigen langsung dari udara.
k. Ikan lele mengeluarkan urine melalui lubang urogenital.
l. Terdapat klasper sebagai organ yang homolog dengan hemipenis. Pada ikan betina
terdapat oviduct (saluran telur) dan pada ikan jantan terdapat vas deferens,
tempaat penyaluran sperma.
B. Saran
Saran untuk praktikum ini adalah praktikum diharapkan lebih kondusif agar
praktikan dapat menjalankan praktikum dengan baik serta kedisiplinan waktu yang lebih
diperhatikan.














DAFTAR REFERENSI
Achjar, M. 1974. Perikanan Darat. NV Masa Baru, Bandung.
Bendiksen, et al. 2003. Digestibility, Growth and Nutrient Utilisation of Atlantic Salmon
Parr (Salmo salar L.) in Relation to Temperature, Feed Fat Content and Oil
Source. Aquaculture, 224:283-299.
Brotowidjoyo, MD. 1990. Zoologi Dasar. Erlangga, Jakarta.
Djuhanda. 1981. Pengantar Anatomi Perbandingan Vertebrata. Armico, Bandung.
Fujaya, Y. 2002. Fisiologi Ikan. Direktorat Jenderal Pendidikan Nasional, Makasar.
Jasin, M. 1989. Sistematika Hewan (Invertebrata dan Vertebrata). Sinar Winaja, Surabaya.
Kay, I. 1998. Inttoduction to Animal Physiology. Bios Scientific Publiher Limited, Spinger-
Verlag New York USA.
Radiopoetro. 1988. Zoologi. Erlangga, Jakarta.
Saanin, H. 1987 . Taksonomi Dan Kunci Determinasi Ikan Jilid 1. Bina Tjipta, Bandung.
Soemarwoto, Idjah. 1981. Biologi Umum. Gramedia, Jakarta.
Storer and Usinger. 1961. Element of Zoology. Mc Graw Hill Book Company, New York.
Sumantadinata, K. 1981. Pengembangan Ikan Peliharaan Di Indonesia. Sastra Hudaya,
Bandung.
Suyanto, SR. 1991. Budidaya Ikan Lele. Penebar Swadaya, Jakarta.