Anda di halaman 1dari 4

A.

Terapi Farmakologi
Pada kasus, Tn. U mendapatkan terapi pengobatan, yaitu Lasix (Furosemide) injeksi via
IV dengan dosis 3 x 20 mg (1 ampul), Aspilet1x 1 tablet, ISDN 3x5 mg, serta terapi
cairan futrolit 500 cc/12 jam. Berikut adalah penjelasan dari setiap obat-obatan dan
cairan yang diberikan kepada Tn. U :
1. Lasix (Furosemide)
Lasix merupakan obat yang mengandung furosemid. Furosemide termasuk dalam
golongan obat diuretik yang berfungsi dalam mengurangi reabsorpsi natrium
sehingga meningkatkan ekskresi natrium dan juga air. Obat ini dapat digunakan
untuk mengobati hipertensi,edema, edema paru, dan gagal jantung yang bersifat
akut. Selain itu, obat ini juga dapat digunakan untuk mengobati pasien yang terkena
hiperkalsemia dengan cara meningkatkan ekskresi ion kalsium. Fungsi furosemide
untuk mengobati gagal jantung disebabkan oleh kemampuan vasodilatasi dari obat
tersebut sehingga dapat meningkatnya diameter pembuluh vena. Vasodilatasi vena
akan mengurangi preload atau cairan yang kembali ke jantung. Hal ini akan
menyebabkan berkurangnya beban kerja jantung sehingga menyebabkan perbaikan
simptomatik terhadap kondisi pasien.
a. Indikasi
1) Edema yang menyertai gagal ginjal, sindroma nefrotik, gagal jantung
kongestif, sirosis hepatik.
2) Sebagai tambahan pada pengobatan edema paru, hipertensi.
b. Kontraindikasi: gangguan ginjal dan hati yang berat
c. Efek samping
1) Kehilangan Ca, K, Na,
2) gangguan GI,
3) Jarang : syok anafilaktik, depresi sumsum tulang, reaksi alergi, pankreatitis
akut, gangguan pendengaran.
d. Kemasan
1) Tablet : 40 mg / tablet
2) Ampul : kemasan 2 ml @ 10 mg / ml
e. Cara Kerja
Furosemide menghambat reabsorbsi air dan elektrolit, terutama karena aksinya
terhadap bagian atas dari loop of Henle. Furosemid juga mengurangi
reabsorbsi natrium klorida dan meningkatkan eskskresi kalium pada tubulus
distal. Selain itu juga diduga memiliki efek langsung terhadap transport
elektrolit pada tubulus proksimal. Mula kerja setelah pemberian intravena (i.v)
adalah 1 10 menit.
f. Hal-hal yang perlu diperhatikan
1) Selama pemberian perlu dilakukan monitoring ketat terhadap tekanan
darah, kadar elektrolit serum, kadar gula dalam darah, kadar BUN (Blood
Ureum Nitrogen), dan kadar asam urat serum.
2) Pemberian dosis yang berlebih dapat menyebabkan diuresis hebat yang
dapat berakibat terjadinya dehidrasi, hipotensi, hipokalemi, hipokloremic
alkalosis.
3) Pada penderita dengan gangguan miksi karena prostat atau adanya batu
saluran kemih, dapat menyebabkan terjadinya retensi urine akut.
2. Aspilet
Aspilet merupakan salah satu nama obat paten dari Aspirin. Aspirin termasuk dalam
kategori obat non-steroidal anti-inflammatory drug (NSAID). NSAID memiliki efek
anti-inflamasi, analgesik, dan antipiretik, serta dapat menghambat agregasi
trombosit.
a. Indikasi
Pengobatan dan pencegahan angina pektoris dan infark miokard.
b. Kontraindikasi
Gangguan perdarahan, asma, ulkus peptikum aktif
c. Efek samping
Gangguan saluran cerna, peningkatan waktu perdarahan, hipoprotrombinemia,
reaksi hipersensitivitas, pusing, tinitus, ulkus peptikum.
d. Dosis
1 tablet 1 kali/hari
e. Pemberian Obat
Diberikan sesudah makan
3. ISDN
Isosorbid dinitrat (ISDN) adalah suatu obat golongan nitrat yang digunakan secara
farmakologis sebagai vasodilator (pelebar pembuluh darah), khususnya pada kondisi
angina pektoris, juga pada CHF (congestive heart failure), yakni kondisi ketika
jantung tidak mampu memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh.
a. Indikasi: Untuk mencegah sakit di dada yang disebabkan oleh angina
b. Dosis: 3x sehari,dengan dosis 5mg/tablet
c. Efek Samping
Pemberian IV (khususnya jika diberikan dengan terlalu cepat); Bisa
menyebabkan efek CV (hipotensi akut, kegelisahan retosternal, bergejolak,
tachycardia); Efek GI (mual dan muntah-muntah, sakit pada bagian perut);
EfekCNS (sakit kepala, kepeningan, ketakutan, kegelisahan, kejang otot,
syncope); Efek lainnya (diaphoresis); pemberian yang diperpanjang telah
dihubungkan dengan methemoglobinemia.
d. Kontraindikasi
Hipersensitivitas terhadap isosorbid dinitrat atau komponen lain dalam
formulasi; hipersensitif terhadap nitrat organik; penggunaan bersama
penghambat phosphodiesterase-5 (PDE-5) (sildenafil, tadalafil, or vardenafil);
glaukoma angle-closure( peningkatan;tekanan intraocular); trauma kepala atau
perdarahan serebral (peningkatan tekanan intrakranial); anemia berat
4. Futrolit
Per 500 ml futrolit mengandung: NaCl 1.812 g, KCL 0.671 g, CaCl dihidrat 0.147
g, MgCl hexahidrat 2.586 g, Na asetat trihidrat 0.305 g, sorbitol 25 g, air untuk
injeksi 500 g. Osmolaritas futrolit adalah 475-575 mOsm/L.
a. Indikasi
Perbaikan kebutuhan karbohidrat, cairan & elektrolit pada tahap pre, intra &
pasca operasi, dehidrasi isotonik & kehilangan cairan extracellular.
b. Kemasan
Softbag Infus 500 ml x 1's.
c. Dosis
30 ml/kg berat badan/hari ( sama dengan 1.5 g sorbitol/kg berat badan/hari.
Pasien dengan berat 70 kg diberikan dalam jumlah 2 L/hari ukuran infus sampai
6 ml/menit ( 120 tetes/menit ).
B. Terapi Non-farmakologi
Pada pasien yang memiliki penyakit CHF, terjadi penurunan aliran darah ke ginjal,
retensi cairan dan natrium yang berlebihan, distribusi nutrisi dalam darah tidak berjalan
sempurna. Oleh karena itu, pasien dengan CHF memerlukan terapi diet khusus yaitu
terapi diet jantung. Tujuan dari diet jantuk, yaitu untuk memberikan makanan yang
secukupnya tanpa memberatkan kerja jantung, menurunkan berat badan bila penderita
terlalu gemuk, serta mencegah/menghilangkan penimbunan garam/air. Prinsip Diet yakni
terapi gizi bagi pasien-pasien gagal jantung kongestif (dekompensasi jantung) harus
berfokus pada keseimbangan status cairan: Monitor status kalium jika pasien
mendapatkan energi diuretik; jika perlu, kalium dapat diberikan dalam bentuk makanan
yang banyak mengandung kalium seperti air kacang hijau atau suplemen kalium. Batasi
asupan garam hingga 2-3g garam perhari (konsumsi garam yang berlebihan dapat
menyebabkan retensi cairan sehingga menambah berat gejala edema yang biasa terjadi
pada dekompensasi jantung). Kepatuhan terhadap pembatasan natrium Intensitas
/progresivitas penyakit, Batasi asupan cairan hingga 20-25 ml/kgBB/hari.


BAB 4
A. Kesimpulan
Pada kasus, Tn U memiliki riwayat DM tipe II dengan faktor predisposi dari gaya hidup
Tn U yang suka ngemil. Tn U juga sebelumnya pernah dirawat dengan Penyakit Jantung
Koroner dengan keluhan nyeri dada saat beraktivitas berat. Kedua riwayat penyakit
tersebut memperparah kerja jantung yang menyebabkan CHF. Pada akhirnya gangguan
perfusi jaringan akibat penurunan Cardiac Output serta beban kerja ginjal akibat DM
menyebabkan gangguan nefron sehingga pasien juga didiagnosis CKD. Dari hasil
pengkajian dan rekam medis Tn. U, terdapat 3 masalah keperawatan yang harus diatasi,
yaitu penurunan curah jantung, gangguan pertukaran gas, serta intoleransi aktivitas.
B. Saran
Sebagai seorang perawat, selain mengetahui asuhan keperawatan yang tepat untuk klien,
kita juga harus mengetahui terapi pengobatan yang diberikan pada pasien dengan CHF.
Dengan mengetahui nama obat, indikasi, kontraindikasi, efek samping dan mekanisme
kerja obat untuk pasien CHF, perawat dapat mengetahui apakah terapi pengobatan
tersebut efektif atautidak dan dapat berkolaborasi dengan tenaga kesehatan lainnya serta
sebagai advokat klien. Sebagai contohpemberian lasix pada pasien CHF yang bertujuan
untuk mengurangi edema. Apabila perawat tidak mengetahui mekanisme kerja dan
efeksamping obat tersebut, bisa saja klien justru kehilangan banyak cairan dan elektrolit
akibat efek samping dari lasix tersebutyang justru menimbulkan masalah baru untuk
klien.