Anda di halaman 1dari 23

Peranan Pertanian Terpadu Sistem Integrasi Padi dan Ternak

(SIPT) dalam Mendukung Pertanian Organik


PENDAHULUAN
Salah satu sistem usaha tani yang dapat mendukung pembangunan pertanian
di wilayah pedesaan adalah sistem integrasi tanaman dengan ternak. Ciri utama
dari pengintegrasian tanaman dengan ternak adalah terdapatnya keterkaitan yang
saling menguntungkan antara tanaman dengan ternak. Keterkaitan tersebut dapat
terlihat dari pembagian lahan yang saling terpadu dan pemanfaatan limbah dari
masing-masing kompinen. Saling keterkaitan berbagai komponen sistem integrasi
merupakan faktor pemicu dalam mendorong pertumbuhan pendapatan masyarakat
tani dan pertumbhan ekonomi wilayah yang berkelanjutan (Pasandaran,
Djajanegara, Kariyasa dan Kasryno,2005). Dikatakan bahwa sistem integrasi
tanaman ternak mengemban tiga fungsi pokok yaitu memperbaiki kesejahteraan
dan mendorong pertumbuhan ekonomi, memperkuat ketahanan pangan dan
memelihara keberlanjutan lingkungan.
Sistem integrasi tanaman ternak terdiri dari komponen budidaya tanaman,
budidaya ternak dan pengolahan limbah. Penerapan teknologi pada masing-
masing komponen merupakan faktor penentu keberhasilan sistem integrasi
tersebut. Agar sistem integrasi berjalan dengan baik dan dapat meningkatkan
produktivitas pertanian maka petani harus menguasai dan menerapkan inovasi
teknologi. Hal ini sesuai dengan pendapat pasandaran,et.all (2005) yang
mengatakan bahwa salah satu kunci keberhasilan sistem integrasi adalah
kemampuan mengelola informasi yang diperlukan dalam sistem integrasi
termasuk informasi mengenai teknologi integrasi tanaman ternak. Disamping itu
keberhasilan petani dalam penerapan sistem integrasi tanaman ternak perlu
didukung oleh kelembagaan yang kuat. Kelembagaan tersebut diantaranya adalah
lembaga sosial masyarakat, lembaga agroinput, lembaga keuangan, lembaga
pemasaran, dan lembaga penyuluhan (Rahman dan Subikta dalam Fagi et al,
2010).
Indonesia merupakan salah satu negara pengimpor beras terbesar di dunia.
Namun perlu kita ketahui bahwa pada tahun 1984 indonesia menjadi negara yang
mampu swasembada pangan terutama beras. Keberhasilan tersebut tidak terlepas
oleh dukungan teknologi dengan penggunaan bahan kimia baik untuk pupuk dan
pestisida. Bahkan sampai saat ini para petani dalam usaha taninya masih sangat
tergantung pada pupuk dan pestisida kimia (An Organik. Hal ini menunjukkan
bahwa pemakaian pupuk dan pesetisida kimia pada tanaman akan berakibat sangat
buruk terhadap lingkungan hidup, tanah mengalami kelelahan, hama tanaman
semakin semarak dan beraneka ragam karena musuh alami yang ada ikut terbunuh
oleh bahan kimia melalui pupuk dan pestisida itu sendiri serta kualitas produk
semakin tidak sesuai dengan harapan konsumen karena kandungan residu zat
kimia semakin tinggi.

Dalam rangka menghadapi persaingan pasar yang semakin terbuka secara
Nasional dan Internasional di era saat ini, dimana konsumen mengharapkan
adanya produk pertanian yang kandungan residu bahan kimianya rendah bahkan
nol, maka petani dituntut untuk merubah pola pertaniannya. Pola pertanian yang
dapat diterapkan adalah Pertanian Berkelanjutan dengan sistem pertanian Organik.
Lahan pertanian saat ini secara umum sudah pada tingkat yang sangat serius,
sehingga upaya pemulihan tingkat kesuburan tanah dengan pemakaian bahan
organik adalah mutlak harus dilaksanakan secara serentak dalam bentuk Gerakan
Massal.

Akhir akhir ini di kalangan praktisi, ilmuan, dan petani marak di gunakan
istilah produk organik, mulai dari makanan organik seperti sayur organik, beras
organik, buah organik, bahkan sampai ayam atau sapi organik. Selain di bidang
pangan juga di gunakan istilah fashion organic dan mainan organik. Lebih jauh
lagi mulai banyak di kenal pengobatan secara organik yang tidak lain mensuplai
pasien dengan dengan makanan. Seiring dengan peningkatan pendapatan,
pendidikan serta wawasan beberapa kalangan masyarakat Indonesia mulai
berkembang pangsa pasar produk organik di tanah air.

Trend pertanian organik di Indonesia, mulai dikenalkan oleh beberapa
petani yang sudah mampu dan memahami keunggulan sistim pertanian organik
tersebut. Beberapa ekspatriat yang sudah lama hidup di Indonesia, memilki lahan
yang luas dan ikut membantu mengembangkan aliran petani organik tersebut ke
penduduk sekitarnya. Kemudian beberapa mantan perwira yang memiliki hobi
bercocok tanam dan juga sekarang beramai-ramai mulai membenahi lahan luas
yang dimiliki mereka dan mempekerjakan penduduk sekitarnya sekaligus alih
teknologi. Meskipun beberapa petani sudah mulai mengembangkan dan bertani
organik sejak lama, sebagai contoh kebun pertanian organik Agatho di Cisarua
sudah lebih 20 tahun eksis dalam sistim pertanian organik, namun perkembangan
pertanian organik di Indonesia baru dimulai sejak 4-5 tahun yang lalu, jauh
tertinggal dibandingkan dengan berkembang lainnya. Namun petani di Indonesia
Juga semakin termotivasi juga untuk mengembangkan system pertanian terpadu
yang di dalamnya menerapkan sistem pertanian organik.

Pertanian terpadu pada hakekatnya adalah memanfaatkan potensi energi
sehingga dapat dipanen secara seimbang.pertanian melibatkan makhluk hidup
dalam suatu atau beberapa tahapnya dan memerlukan ruang untuk kegiatan itu
serta jangka waktu tertentu dalam proses produksi. Dengan pertanian terpadu ada
peningkatan bahan organik dalam tanah, penyerapan karbon lebih rendah
dibanding pertanian konvensional yang menggunakan pupuk nitrogen dan
sebagainya. Agar proses pemanfaatan tersebut dapat terjadi secara efektif dan
efisien, maka sebaiknya produksi pertanian terpadu berada dalam suatu kawasan.
Pada kawasan tersebut sebaiknya terdapat sektor produksi tanaman, peternakan
maupn perikanaan.

Keberadaan sektor- sektor ini akan mengakibatkan kawasan tersebut
memiliki ekosistem yang lengkap dan seluruh komponen produksi tidak akan
menjadi limbah dan penekanan biaya produksi sehingga efektivitas dan efisiensi
produksi akan tercapai. Selain hemat energi, keunggulan lain dari pertanian
terpadu adalah petani akan memiliki beragam sumber penghasilan.Sistem
pertanian terpadu memperhatikan diversifikasi tanaman dan polikultur.seorang
petani bisa menanaman padi dan bisa juga beternak kambing atau ayam dan juga
menanam sayuran. Kotoran yang dihasilkan oleh ternak dapat digunakan sebagai
pupuk sehingga petani tidak perlu membeli pupuk lagi. Jika panen gagal, petani
bisa mengandalkan daging atau menjual telur ayam atau bahkan menjual kambing
untuk medapatkan penghasilan.





























PEMBAHASAN

a. Pengertian pertanian organik
Akhir-akhir ini dan kedepan masyarakat dunia mulai sadar akan bahaya dan
dampak negative yang ditimbulkan oleh pemakaian bahan kimia sintesis dalam
bidang pertanian. Orang semakin arif memilih bahan pangan yang aman bagi
kesehatan dan ramah lingkungan. Gaya hidup sehat makin menggaung
mengurangi dominasi pola hidup lama yang mengandalkan penggunaan bahan
kimia non alami, seperti pupuk anorganik, pestisida kimia sintesis dan hormone
tumbuh dalam produksi pertanian. Pangan yang sehat dan bergizi dapat
diproduksi dengan cara yang dikenal sebagai pertanian organik.

Pertanian organik (Organic Farming) adalah suatu sistem pertanian yang
mendorong tanaman dan tanah tetap sehat melalui cara pengelolaan tanah dan
tanaman yang disyaratkan dengan pemanfaatan bahan-bahan organik atau alamiah
sebagai input, dan menghindari penggunaan pupuk buatan dan pestisida kecuali
untuk bahan-bahan yang diperkenankan ( IASA, 1990).

Produk organik adalah produk (hasil tanaman/ternak yang diproduksi melalui
praktek-praktek yang secara ekologi, sosial ekonomi berkelanjutan, dan mutunya
baik (nilai gizi dan keamanan terhadap racun terjamin). Oleh karena itu pertanian
organik tidak berarti hanya meninggalkan praktek pemberian bahan non organik,
tetapi juga harus memperhatikan cara-cara budidaya lain, misalnya pengemdalian
erosi, penyiangan pemupukan, pengendalian hama dengan bahan organik atau non
organik yang diizinkan.

Sistem pertanian yang sama sekali tidak menggunakan input kimia anorganik
(kecuali yang diizinkan) tetapi hanya menggunakan bahan alami berupa bahan
atau pupuk organik. Sistem pertanian yang menggunakan bahan organic sebagai
salah satu masukan yang berfungsi sebagai pembenah tanah dan suplemen pupuk
buatan (kimia anorganik), disertai dengan aplikasi herbisida dan pestisida secara
selektif dan rasional dinamakan Sistem Pertanian Organik Rasional (Fagi dan Las,
2007).

Tujuan utama pertanian organik adalah menyediakan produk-produk
pertanian, terutama bahan pangan yang aman bagi kesehatan produsen dan
konsumen dan tidak merusak lingkungan. Slogan hidup sehat telah melembaga
secara internasional sehingga produk-produk pertanian disyaratkan memiliki
atribut jaminan mutu aman konsumsi (food safety attributes), kandungan nutrisi
tinggi (nutritional attributes), dan ramah lingkungan (eco-labelling attributes).
Selain itu, juga bertujuan untuk meningkatkan siklus biologi dengan melibatkan
mikro organism, flora, fauna, tanah, mempertahankan dan meningkatkan
kesuburan tanah, meningkatkan segala bentuk polusi dan mempertimbangkan
dampak social ekologi yang lebih luas.

Pengelolaan pertanian yang berwawasan lingkungan dilakukan melalui
pemanfaatan sumberdaya alam secara optimal, lestari dan menguntungkan,
sehingga dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kepentingan generasi
sekarang dan generasi mendatang. Pemilihan komoditas dan areal usaha yang
cocok merupakan kunci dalam pelaksanaan pembangunan pertanian
berkelanjutan, komoditas harus yang menguntungkan secara ekonomis,
masyarakat sudah terbiasa membudidayakannya, dan dibudidayakan pada lahan
yang tidak bermasalah dari segi teknis, ekologis dan menguntungkan secara
ekonomis.

Produk Organik dari suatu sistem pertanian organik dalam konteks pertanian
organik standar tentunya mangacu pada sistem pertanian organik absolut. Selama
ini kalangan masyarakat masih menganggap bahwa pertanian organik adalah
produk yang dihasilkan dari suatu lahan yang telah menggunakan bahan organik
dalam proses produksinya, sekalipun dalam sistem produksi masih digunakan
pupuk/pestisida anorganik atau belum memenuhi standar organik yang ditetapkan
oleh IFOAM. Pandangan ini perlu diluruskan agar tidak mengecewakan
dikemudian hari.

Beberapa perinsip dasar yang perlu diperhatikan dalam pengembangan
pertanian organik adalah: (1) pemanfaatan sumberdaya alam untuk pengembangan
agribisnis hortikultura secara lestari sesuai dengan kemampuan dan daya dukung
alam, (2) proses produksi usahatani itu sendiri dilakukan secara akrab lingkungan,
sehingga tidak menimbulkan dampak negatif dan eksternalitas pada masyarakat,
(3) penanganan dan pengolahan hasil, distribusi/pemasaran, serta pemanfaatan
produk tidak menimbulkan masalah pada lingkungan, (4) produk yang dihasilkan
harus menguntungkan secara bisnis, memenuhi preferensi konsumen dan aman
konsumsi.

b. Pengertian pertanian terpadu
Sistem pertanian terpadu adalah satu sistem yang menggunakan ulang dan
mendaur ulang menggunakan tanaman dan hewan sebagai mitra, menciptakan
suatu ekosistem yang meniru cara alam bekerja. Satu praktek budidaya aneka
tanaman/aneka kultur yang beragam dimana output dari salah satu budidaya
menjadi input kultur lainnya sehingga meningkatkan kesuburan tanah dengan
tindakan alami menyeimbangkan semua unsur hara organik yang pada akhirnya
membuka jalan untuk pertanian organik ramah lingkungan dan berkelanjutan.

Sistem Pertanian terpadu merupakan sistem yang menggabungkan kegiatan
pertanian, peternakan, perikanan, kehutanan dan ilmu lain yang terkait dengan
pertanian dalam satu lahan, sehingga diharapkan dapat sebagai salah satu solusi
bagi peningkatan produktivitas lahan, program pembangunan dan konservasi
lingkungan, serta pengembangan desa secara terpadu. Diharapkan kebutuhan
jangka pendek, mene-ngah, dan panjang petani berupa pangan, sandang dan papan
akan tercukupi dengan sistem pertanian ini.


Model pertanian terpadu dalam satu siklus biologi (Integrated Bio Cycle
Farming)yang tidak ada limbah, semua bermanfaat. Limbah pertanian untuk
pakan ternak dan limbah peternakan diolah jadi biogas dan kompos sehingga
impian membentuk masyarakat tani yang makmur dan mandiri terkonsep dengan
jelas.

Konsep terapan pertanian terpadu akan menghasilkan F4 yang sebenarnya
adalah langkah pengamanan terhadap ketahanan dan ketersediaan pangan dan
energi secara regional maupun nasional, terutama pada kawasan kawasan remote
area dari jajaran kepulauan Indonesia.

1. FOOD; Pangan manusia (beras, jagung, kedelai, kacang-kacangan, jamur,
sayuran, dll.), produk peternakan (daging, susu, telor, dll.), produk budi-daya
ikan air tawar (lele, mujair, nila, gurame, dll.) dan hasil perkebunan (salak,
kayumanis, sirsak, dll.

2. FEED; Pakan ternak termasuk di dalamnya ternak ruminansia (sapi, kambing,
kerbau, kelinci), ternak unggas (ayam, itik, entok, angsa, burung dara, dll.),
pakan ikan budidaya air tawar (ikan hias dan ikan konsumsi). Dari budidaya
tanaman padi akan dihasilkan produk utama beras dan produk sampingan
bekatul, sekam padi, jerami dan kawul, semua produk sampingan apabila
diproses lanjut masih mempunyai kegunaan dan nilai ekonomis yang layak
kelola. Jerami dan malai kosong (kawul) dapat disimpan sebagai hay (bahan
pakan kering) untuk ternak ruminansia atau dibuat silage (makanan hijau
terfermentasi), sedangkan bekatul sudah tidak asing lagi sebagai bahan
pencampur pakan ternak (ruminansia, unggas dan ikan). Pakan ternak ini
berupa pakan hijauan dari tanaman pagar, azolla, dan eceng gondok.

3. FUEL; Akan dihasilkan energi dalam berbagai bentuk mulai energi panas (bio
gas) untuk kebutuhan domestik/masak memasak, energi panas untuk industri
makanan di kawasan pedesaan juga untuk industri kecil. Hasil akhir dari bio
gas adalah bio fertilizer berupa pupuk organik cair dan kompos. Pemakaian
tenaga langsung lembu untuk penarik pedati, kerbau untuk meng-olah lahan
pertanian sebenarnya adalah produk berbentuk fuel/energi. Sekam padi dapat
dikonversi menjadi energi (pembakaran langsung maupun gasifikasi) dan
masih akan menghasilkan abu maupun arang sekam yang dapat
diimplementasikan sebagai pupuk organik.

4. FERTILIZER; Sisa produk pertanian melalui proses decomposer maupun
pirolisis akan menghasilkan organic fertilizer dengan berbagai kandungan
unsur hara dan C-organik yang relative tinggi. Bio/organic fertilizer bukan
hanya sebagai penyubur tetapi juga sebagai perawat tanah (soil conditioner),
yang dari sisi keekonomisan maupun karakter hasil produknya tidak kalah
dengan pupuk buatan (anorganik fertilizer) bahkan pada kondisi tertentu akan
dihasil-kan bio pestisida (dari asap cair yang dihasilkan pada proses pirolisis
gasifikasi) yang dapat dimanfaatkan sebagai pengawet makanan yang tidak
berbahaya (bio preservative).


c. Kaitan peternakan dengan pertanian terpadu
Peternakan di Indonesia merupakan fungsi dari produktivitas, konservasi, dan
kesejahteraan ternak lokal. Pemanfaatan ternak lokal untuk memenuhi kebutuhan
protein hewani dan kebutuhan energi terbarukan (energi biogas) harus terus
digalakkan demi kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat Indonesia. Berbagai
upaya bisa dilakukan guna meningkatkan produktivitas, mempertahankan
konservasi, dan meningkatkan kesejahteraan ternak lokal. Salah satu satunya
adalah dengan menerapkan ilmu teknik pertanian dalam bidang peternakan.
Kebutuhan rotein hewani dari ternak, seperti: daging, telor, dan susu, akan
semakin meningkat seiring dengan bertambahnya jumlah penduduk dan kemajuan
di bidang teknologi pengolahan produk ternak. Kebutuhan akan protein hewani
tersebut dan kebutuhan lainnya yang terkait dengan peternakan akan dapat
terpenuhi apabila manusia dapat memanfaatkan sumber daya alam dan hayati
dalam suatu sistem pertanian terpadu.

Dalam suatu sistem pertanian terpadu (integrated farming system) terkait
hubungan pemanfaatan sumber daya alam dan sumber daya hayati untuk
memenuhi kebutuhan hidup, baik manusia, hewan ternak, maupun tanaman.
Manusia membutuhkan protein hewani yang disediakan oleh hewan ternak, dan
membutuhkan karbohidrat dan protein nabati yang disediakan oleh tanaman.
Hewan ternak membutuhkan karbohidrat dan protein nabati yang disediakan oleh
tanaman. Tanaman membutuhkan nutrisi yang bisa diperoleh dari pupuk kandang
dan pupuk cair yang disediakan oleh hewan ternak. Dalam hal ini, ketiga makhluk
hidup tersebut membutuhkan air yang disediakan oleh alam. Manusia, dengan
pengetahuan dan akal pikirannya berupaya untuk mengelola sumber daya alam
dan hayati sedemikian rupa sehingga selalu terjamin kebutuhan hidup sehari-hari,
yaitu protein hewani, karbohidrat, protein nabati, air, dan energi bahan bakar.
Peran hewan ternak untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia tersebut adalah
cukup besar, sehingga perlu ada upaya untuk meningkatkan produktivitas ternak,
konservasi populasi, dan kesejahteraan ternak.

Produktivitas, konservasi populasi, dan kesejahteraan ternak merupakan
fungsi dari pakan ternak, konstruksi kandang, teknik reproduksi ternak, dan teknik
penangkaran. Produktivitas ternak bisa meningkat apabila terpenuhi kebutuhan
karbohidrat dan protein nabati yang diperoleh dari hasil budidaya tanaman.
Disamping itu, dengan didukung oleh konstruksi kandang yang memadai dan
dengan mengaplikasikan teknik reproduksi ternak yang tepat memungkinkan
hewan-hewan ternak dapat berkembangbiak dengan baik, terjaga populasinya, dan
merasa dihargai peranannya sehingga kesejahteraannya terjamin. Hewan-hewan
ternak yang dibudidayakan di luar kandang, atau dibiarkan lepas di lapangan,
harus diketahui jarak atau areal jelajahnya agar tetap dapat dipantau/dimonitor
keberadaannya, perkembangbiakannya, populasinya, dan juga kesejahteraannya.

Reijntjes et.al., (1999) mengatakan, hewan atau ternak bisa beragam fungsi
dalam sistem usaha tani lahan sempit, hewan memberikan berbagai produk,
seperti daging, susu, telur, wol, dan kulit. Selain itu, hewan juga memiliki fungsi
sosio kultural, misalnya sebagai mas kawin, untuk pesta upacara dan sebagai
hadiah atau pinjaman yang memperkuat ikatan sosial. Dalam kondisi input luar
rendah, integrasi ternak ke dalam sistem pertanian penting, khususnya untuk :
Meningkatkan jaminan subsistens dengan memperbanyak jenis-jenis usaha
untuk menghasilkan pangan bagi keluarga petani.
Memindahkan unsur hara dan energi antara hewan dan tanaman melalui
pupuk kandang dan pakan dari daerah pertanian dan melalui pemanfaatan
hewan penarik.

d. Sistem integrasi padi dan ternak sapi
Pola integrasi antara tanaman dan ternak atau yang sering disebut dengan
pertanian terpadu, adalah memadukan antara kegiatan peternakan dan pertanian.
Pola ini sangatlah menunjang dalam penyediaan pupuk kandang di lahan
pertanian, sehingga pola ini sering disebut pola peternakan tanpa limbah karena
limbah peternakan digunakan untuk pupuk, dan limbah pertanian digunakan untuk
pakan ternak. Integrasi hewan ternak dan tanaman dimaksudkan untuk
memperoleh hasil usaha yang optimal, dan dalam rangka memperbaiki kondisi
kesuburan tanah. Interaksi antara ternak dan tanaman haruslah saling melengkapi,
mendukung dan saling menguntungkan, sehingga dapat mendorong peningkatan
efisiensi produksi dan meningkatkan keuntungan hasil usaha taninya.

Konsep pertanian terpadu ini perlu digalakkan, mengingat sistem ini
disamping menunjang pola pertanian organik yang ramah lingkungan, juga
mampu meningkatkan usaha peternakan. Komoditas sapi merupakan salah satu
komoditas yang penting yang harus terus ditingkatkan, sehingga di harapkan
mampu mencapai kecukupan daging nasional. Oleh karena itu upaya ini dapat
digalakan pada tingkat petani baik dalam rangka penggemukan ataupun dalam
perbanyakan populasi, serta produksi susu. Dengan meningkatnya populasi ternak
sapi akan mampu menjamin ketersediaan pupuk kandang di lahan pertanian.
Sehingga program pertanian organik dapat terlaksana dengan baik, kesuburan
tanah dapat terjaga, dan pertanian bisa berkelanjutan. Beragamnya pemeliharaan
ternak memperluas strategi penurunan risiko budidaya tanaman ganda hingga
akan meningkatkan stabilitas ekonomi sistem usaha tani.

Sistem produksi ternak herbivora yang dikombinasikan dengan lahan-lahan
pertanian dapat disesuaikan dengan keadaan tanaman pangan. Ternak tidak
berkompetisi pada lahan yang sama. Tanaman pangan dengan komponen utama
dan ternak menjadi komponen kedua. Ternak dapat digembalakan dipinggir atau
pada lahan yang belum ditanami dan pada lahan setelah pemanenan hasil sehingga
ternak dapat memanfaatkan limbah tanaman pangan, gulma, rumput, semak dan
hijauan pakan yang tumbuh di sekitar tempat tersebut. Sebaliknya ternak dapat
mengembalikan unsur hara dan memperbaiki struktur tanah melalui urin dan
fecesnya.

Salah satu dari program pembangunan pertanian adalah program Sistem
Integrasi Padi Ternak (SIPT) lazimnya disebut juga dengan istilah Crop Livestock
System (CLS). Tujuan program SIPT ini adalah pengembangan penggemukan
ternak sapi potong berbasis tanaman pangan. Program ini pada intinya
mengupayakan peningkatan produksi daging ternak sapi potong dan sekaligus
upaya peningkatan produksi pangan melalui kegiatan pemeliharaan sapi pada
areal lahan tanaman pangan beririgasi. Dasar pertimbangan dari program ini
adalah kegiatan produksi pertanian tanaman pangan dan ternak dengan prinsip
zero waste. Keterpaduan padi ternak ini diharapkan dapat menghemat penggunaan
pakan ternak, pupuk dan lahan, serta biaya semurah mungkin sehingga produksi
ternak dan padi yang dihasilkan lebih meningkatkan pendapatan petani.

Program SIPT merupakan salah satu alternatif dalam meningkatkan produksi
padi, daging, susu, dan sekaligus meningkatkan pendapatan petani (Hayanto B,
et.al., 2002). Badan Litbang Pertanian telah meneliti dan mengkaji SIPT dengan
pendekatan zero waste. Zero waste adalah mengoptimalkan pemanfaatan
sumberdaya lokal seperti pemanfaatan jerami sebagai pakan ternak dan kotoran
ternak sapi untuk diproses menjadi pupuk organik. Artinya memperbaiki unsur
hara yang dibutuhkan tanaman sehingga tidak ada limbah yang terbuang (Dirjen
Bina Produksi Peternakan, 2002).

Ciri utama integrasi tanaman ternak adalah adanya sinergisme atau
keterkaitan yang saling menguntungkan antara tanaman dan ternak. Petani
memanfaatkan kotoran ternak sebagai pupuk organik untuk tamanannya,
kemudian memanfaatkan limbah pertanian sebagai pakan ternak (Ismail dan
Djajanegara, 2004). Pada model integrasi tanaman ternak, petani mengatasi
permasalahan ketersediaan pakan dengan memanfaatkan limbah tanaman seperti
jerami padi, jerami jagung, limbah kacang-kacangan, dan limbah pertanian
lainnya. Terutama pada musim kering, limbah ini bisa menyediakan pakan
berkisar 33,3% dari total rumput yang diberikan (Kariyasa, 2003). Kelebihan dari
adanya pemanfaatan limbah adalah disamping mampu meningkatkan ketahanan
pakan khususnya pada musim kering juga mampu menghemat tenaga kerja dalam
kegiatan mencari rumput, sehingga memberi peluang bagi petani untuk
meningkatkan jumlah skala pemeliharaan ternak.

Pemanfaatan kotoran sapi sebagai pupuk organik disamping mampu
menghemat penggunaan pupuk anorganik, juga sekaligus mampu memperbaiki
struktur dan ketersediaan unsur hara tanah. Dampak ini terlihat dengan
meningkatnya produktivitas lahan. Hasil kajian Adnyana, et.al (2003)
menunjukkan bahwa model CLS yang dikembangkan petani di Jawa Tengah dan
Jawa Timur mampu mengurangi penggunaan pupuk anorganik 25-33% dan
meningkatkan produktivitas padi 20-29%. Hasil temuan serupa oleh Bulu, et.al
(2004) di Provinsi NTB bahwa model CLS yang diterapkan petani mampu
meningkatkan pendapatan sekitar 8,4%. Hasil temuan tersebut diperkuat oleh
model CLS yang diterapkan petani di Bali, terbukti juga mampu menghemat
pengeluaran biaya pupuk sebesar 25,2% dan meningkatkan pendapatan petani
sebesar 41,4% (Sudaratmaja, et.al, 2004). Demikian juga hasil kajian Suwono,
et.al (2004) di Provinsi Jawa Timur menunjukkan bahwa semua petani
mengatakan penggunaan pupuk organik mampu mengurangi penggunaan pupuk
anorganik, walaupun pada prakteknya petani tidak mengurangi penggunaan pupuk
anorganik secara signifikan.

Konsep integrasi ternak dalam usaha tani tanaman, baik itu tanaman
perkebunan, pangan, atau hortikultura adalah menempatkan dan mengusahakan
sejumlah ternak, tanpa mengurangi aktifitas dan produktifitas tanaman. Bahkan
keberadaan ternak ini harus dapat meningkatkan produktifitas tanaman sekaligus
dengan produksi ternaknya. Pengelolaan ternak dalam hal ini dilaksanakan oleh
keluarga petani yang dalam waktu bersamaan melaksanakan produksi tanaman.
Oleh karena itu, pasokan untuk menunjang pengelolaan ternak sebagian besar
diharapkan dapat diperoleh dari sisa hasil pertanian tanaman, meskipun sebagian
kecil pasokan harus diperoleh dari luar. Sebagai konsekwensinya adalah keluarga
petani tanaman yang akan mengusaha tanikan integrasi ternak dalam tanamannya,
harus menguasai teknik pemeliharaan dan pemanfaatan ternak secara baik,
disamping pengetahuan praktek usaha tani tanamannya, terutama pengetahuan
dalam mengintegrasikan berbagai manfaat ternak pada tanaman dan sebaliknya
(Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia, 2010).

Pengembangan sistem usaha tani terpadu ditujukan untuk upaya peningkatan
pendapatan petani melalui peningkatan produksi padi yang dipadukan dengan
usaha ternak sapi. Dengan adanya jerami padi disetiap musim panen yang dapat
digunakan sebagai pakan ternak karena terdapat dalam jumlah yang banyak,
murah dan mudah diperoleh. Sebaliknya, sapi dapat digunakan untuk menggarap
sawah dan kotorannya dapat dimanfakatkan sebagai pupuk organik untuk tanaman
padi. Hubungan timbal balik antara tanaman padi dan ternak terutama dalam
memanfaatkan limbah, akan menekan biaya produksi dan mengoptimalkan
pendapatan peternak/petani.

Analisis output dari peternakan berupa pupuk kandang berupa urin dan feces
yang dihasilkan oleh sapi. Dalam satu tahun sapi dapat menghasilkan pupuk
kandang sekitar 5,4 ton dengan rincian tiap hari menghasilkan 15 kilogram
kotoran. Dikaitkan dengan kebutuhan lahan, informasi yang didapat bahwa
sejumlah lima ekor sapi mampu mencukupi kebutuhan pupuk organik selama satu
tahun. Agar kotoran dapat menjadi pupuk kandang biasanya dilakukan
dekomposisi selama 4 bulan agar pupuk kandang dapat langsung digunakan pada
lahan pertanian. Selain output dari hasil pupuk kandang, peternakan tersebut juga
mendapatkan output dari hasil penjualan ternak. Pemilihan sapi sebagai subsistem
utama pertanian terpadu tersebut sangat tepat. Sapi dapat digunakan sebagai
sumber pemenuh kebutuhan hara bagi pertanian lain. Sebagai pertimbangan
bahwa pada tahun pertama pertanian tersebut memiliki 5 ekor sapi, kemudian
pada tahun kedua dan ketiga berturut-turut sebanyak 10 dan 15 ekor. Meningkat
di tahun ke 4 berjumlah 17 ekor. Dari ke 17 ekor sapi itu terdiri dari jenis
Simental, Limousin dan Berangus. Dari jumlah tersebut sapi dapat dijual sebagian
untuk membantu pemasukan petani. Sisanya berjumlah 8 ekor sapi tetap
dipertahankan untuk pemenuhan kebutuhan hara dan investasi petani ke depan.

Sapi dapat berkembang biak dalam waktu yang singkat. Pemeliharaan sapi
dengan penggemukan hanya dengan waktu pemeliharaan 8-12 bulan. Hasil pupuk
kandang dari peternakan yaitu dalam satu hektar lahan pertanian tersebut dapat
dicukupi kebutuhan haranya oleh lima ekor sapi. Satu ekor sapi dapat
memproduksi 15 kilogram kotoran tiap hari sehingga dalam setahun dapat
mencapai 5, 4 ton kotoran yang dimanfaatkan sebagai pupuk. Sistem pertanian
dalam sistem pertanian terpadu berupa penanaman secara multiple cropping.

e. Kelebihan dan kekurangan konsep sistem pertanian terpadu

Usaha yang dapat dilakukan dalam menyukseskan pertanian organik yaitu
menerapkan pertanian terpadu dengan menggabungkan dua subsistem utama yaitu
peternakan dan pertanian. Ternak dapat dipelihara sebagai bagaian yang integral
dalam system pertanian tersebut. Analisis input pada peternakan ini adalah
kebutuhan pakan sapi sebanyak 50 kilogram per hari. Pakan yang diberikan pada
sapi peternakan tersebut adalah jerami. Terkadang untuk menambah nutrisi pakan
jerami biasanya ditambah dengan pakan konsentrat berupa campuran jagung
giling dan katul. Karena kebutuhan pakan yang cukup banyak, terkadang input
dari dalam belum mampu memenuhi sehingga sebagian kebutuhan mendatangkan
pakan dari luar. Sedangkan air tidak terlalu diperhitungkan karena sapi biasanya
mendapatkan air dari campuran pakan yang telah diberikan.

Beberapa keunggulan konsep sistem integrasi padi dan ternak sapi ini yaitu
dapat meningkatkan produktifitas usaha tani tanaman pangan melalui
pemanfaatan ternak. Selain itu, juga meningkatkan pemanfaatan sisa hasil
pertanian tanaman perkebunan, tanaman pangan atau hortikultura untuk pakan
ternak. Memanfaatkan tenaga ternak dan pupuk kandang dalam usaha tani
tanaman. Kesuburan tanah dalam suatu areal dapat dikembalikan melalui
pemanfaatan pupuk kandang. Meningkatkan pengetahuan dan kemampuan praktis
keluarga petani dalam pengelolaan secara optimum ternak yang diintegrasikan
dalam usaha tani tanaman. Meningkatkan pendapatan keluarga petani pelaksana
program integrasi ternak dalam usaha tani tanaman. Masa perkembangbiakan sapi
yang terbilang cepat juga menjadi kelebihan sistem ini sehingga dapat membantu
kesejahteraan keluarga petani (Buroco, 2012).

Dalam pengembangan sistem integrasi ternak dan padi ini juga memliki
kekurangan seperti dalam hal penyediaan pakan untuk sapi tergolong banyak
untuk setiap harinya. Dibandingkan dengan hasil jerami yang dihasilkan tiap
musim panen, tentunya tidak dapat menyediakan kebutuhan pakan ternak selama
masa pertumbuhan tanaman. Sehingga, perlu tambahan pakan yang bersumber
dari tanaman lain seperti rumput ataupun limbah panen tanaman lainnya. Selain
itu, pengetahuan petani mengenai pengembangan sapi masih sedikit sehingga tak
jarang dalam pemeliharaannya terkadang ada yang mati terserang penyakit atau
kekurangan makanan yang tentunya merugikan petani itu sendiri. Mahalnya harga
sapi untuk dikembangkan juga menjadi kendala tersendiri bagi petani untuk
mengembangkan sintem integrasi ini sehingga diperlukan bantuan dari beberapa
pihak untuk melaksanakan sistem tersebut. Selain itu, lahan peternakan yang
dimiliki petani masih terbatas sehingga tak jarang sapi-sapi tersebut dipelihara
disekitar kebun dan dapat mengancam pertumbuhan tanaman padi milik petani.




f. Peranan sistem pertanian terpadu dalam mendukung pertanian organik

Pengaruh jangka panjang dari perkembangan dunia pertanian dan industri
dalam sistem petanian modern, ternyata menghasilkan dampak negatif yang besar
terhadap ekosistim alam. Pencemaran oleh bahan-bahan kimia beracun akibat
tingginya intensitas pemakaian pupuk, pestisida dan herbisida telah lama
diketahui. Demikian pula dengan ketahanan (resistensi) hama yang semakin
meningkat terhadap pestisida akibat penyemprotan yang semakin tinggi serta
pencemaran air tanah maupun sungai oleh senyawa nitrat akibat peggunaan pupuk
yang berlebihan. Pertanian modern juga telah mengurangi keragaman spesies
tanaman secara drastis akibat penerapan sistem monokultur secara besar-besaran.
Ekosistem alam yang semula tersusun sangat kompleks, berubah menjadi
ekosistem yang susunannya sangat sederhana akibat berkurangnya spesies
tanaman tersebut. Hal ini bertentangan dengan konsep pertanian organik, yang
selain memperhatikan pemenuhan kebutuhan manusia yang selalu meningkat dan
berubah, sekaligus mempertahankan atau meningkatkan kualitas lingkungan dan
melestarikan sumber daya alam.

Sistem pertanian semakin tergantung pada input-input luar sebagai berikut:
kimia buatan (pupuk, pestisida), benih hibrida, mekanisasi dengan pemanfaatan
bahan bakar minyak dan juga irigasi. Konsumsi terhadap sumber-sumber yang
tidak dapat diperbaharui, seperti minyak bumi dan fosfat sudah dalam tingkat
yang membahayakan. Bersamaan dengan meningkatnya kebutuhan akan produk
pertanian, maka teknologi baru untuk pengembangan varietas baru, seperti jagung,
padi, gandum serta tanaman komersial lainnya juga nampak semakin menantang.
Namun demikian, pemanfaatan input buatan yang berlebihan dan tidak seimbang,
bisa menimbulkan dampak besar, bukan hanya terhadap ekologi dan lingkungan,
tetapi bahkan terhadap situasi ekonomi, sosial dan politik diantaranya dengan
adanya ketergantungan pada impor peralatan, benih serta input lainnya. Akibat
selanjutnya adalah menyebabkan ketidakmerataan antar daerah dan perorangan
yang telah memperburuk situasi sebagian besar petani lahan sempit yang tergilas
oleh revolusi hijau (Reijntjes, et.al., 1999).

Pembangunan sektor pertanian tidak dapat lagi dilakukan dengan cara-cara
lama, harus diubah sejalan dengan makin besarnya tantangan dan perubahan
lingkungan strategis, baik yang datang dari dalam maupun dari luar. Perubahan
lingkungan eksternal, antara lain globalisasi teknologi dan informasi, liberalisasi
perdagangan, dan transformasi budaya antarbangsa sudah tidak terhindarkan.
Demikian juga perubahan lingkungan internal, yaitu demokratisasi, desentralisasi,
otonomi daerah, dan gejala disintegrasi (Salikin, 2003).

Krisnamurthi (2006) mengatakan bahwa pertanian abad ke 21 bagi negara--
negara yang sedang berkembang harus mampu menciptakan sistem pertanian
yang memiliki produktivitas tinggi tetapi dengan low cost input. Pembangunan
pertanian sebagai bagian integral dari pembangunan wilayah akan meningkat
investasi dibidang usaha pertanian yang serasi dengan keadaan sosial ekonomi
daerah, kesesuaian lahan dan potensi pasar. Untuk Indonesia dan negara
berkembang lainnya dua tujuan harus tetap sejalan dan seimbang yaitu
peningkatan produktivitas dan produksi di satu pihak dan pencapaian
keberlanjutan sistem produksi, peningkatan kesejahteraan petani dan pelestarian
lingkungan di lain pihak yang memerlukan langkah terobosan di bidang
penelitian. Tantangannya adalah menemukan kombinasi tanaman, hewan dan
input yang mengarah pada produktivitas yang tinggi, keamanan produksi serta
konservasi sumber daya yang relatif sesuai dengan keterbatasan lahan, tenaga
kerja dan modal (Tiharso, 1992).

Dalam pengembangan metode penentuan model sistem usaha tani padi
ternak (SIPT), perlu memperhatikan kemampuan sumberdaya lokal yang
didukung oleh peningkatan dan penyebaran informasi inovasi teknologi. Menurut
Pranadji (2000), bahwa sebagian besar usaha tani apapun lemah dalam modal dan
penguasaan teknologi, terlihat salah satu sumber ketidak efisienan sistem usaha
tani tanaman-ternak petani saat ini adalah kelembagaan usaha tani yang relatif
lemah. Di bidang peternakan penyebaran informasi teknologi dari berbagai
sumber sangat kurang, sehingga pengetahuan petani mengenai manajemen
pemeliharaan ternak sapi relatif rendah (Zaenuri, et.al, 2003).

Penerapan sistem pertanian berkelanjutan terutama pertanian organik dapat
digunakan sebagai momentum untuk mendorong berkembangnya ekonomi rakyat.
Pada dasarnya para petani sangat siap menerima sistem pertanian berkelanjutan
karena input yang digunakan telah tersedia di lingkungan alam sekitarnya. Bahkan
sebelum mengenal intensifikasi pertanian dengan menggunakan pupuk dan
pestisida kimia, para petani telah menerapkan sistem pertanian organis ramah
lingkungan, misalnya dengan menggunakan pupuk kandang. Dengan pengetahuan
tradisional yang dimiliki, para petani perlu diberdayakan sehingga memiliki
pengetahuan yang meningkat tentang pertanian organis, serta memahami peluang
dan tuntutan pasar yang menghendaki produk berkualitas dan ramah lingkungan.
Dengan demikian para petani dapat menghasilkan produk pertanian bernilai
ekonomis tinggi sekaligus dapat menjaga kelestarian fungsi lingkungan (Jauhari,
2002).

Secara sederhana, kemerataan merupakan penilaian tentang sejauhmana hasil
suatu lingkungan sumberdaya didistribusikan diantara masyarakat. Keberlanjutan
dapat diberi pengertian sebagai kemampuan sistem sumberdaya mempertahankan
produktivitasnya, walaupun mendapat gangguan. Kestabilan merupakan ukuran
tentang sejauhmana produktivitas sumberdaya bebas dari keragaman yang
disebabkan oleh fluktuasi faktor lingkungan. Produktivitas adalah ukuran
sumberdaya terhadap hasil fisik ekonominya.

Dalam rangka memasuki revolusi hijau kedua kita belajar dari kenyataan
bahwa tehnologi maju dan mahal akan memproduksi barang yang mahal pula
termasuk makanan. Untuk mengatasi kondisi demikian, maka sangat dibutuhkan
adanya suatu sistem pertanian yang efisien dan berwawasan lingkungan yang
mampu memanfaatkan potensi sumberdaya setempat secara optimal bagi tujuan
pembangunan pertanian berkelanjutan. Jika keanekaragaman fungsional bisa
dicapai dengan mengkombinasikan spesies tanaman dan hewan yang memiliki
sifat saling melengkapi dan berhubungan dalam interaksi sinergetik dan positif,
maka bukan hanya kestabilan yang dapat diperbaiki, namun juga produktivitas
sistem pertanian dengan input yang lebih rendah (Tiharso, 1992).






























PENUTUP

a. kesimpulan
Berdasarkan pemaparan dan penjelasan mengenai pertanian terpadu, maka
dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :
1. Dalam menghadapi persaingan pasar yang semakin terbuka, konsumen
mengharapkan pelaksanaan pertanian organik sehingga produsen dapat
menjamin produknya bebas dan aman dari bahan kimia.
2. Pertanian terpadu merupakan salah satu cara untuk menghasilkan produk
organis dengan menerapkan konsep Sistem Integrasi Padi dan Ternak
(Sapi)/SIPT .
3. Konsep SIPT merupakan salah satu alternatif dalam meningkatkan
pendapatan petani dan meningkatkan produksi padi, daging, susu dengan
pendekatan Zero Waste.
4. Dalam pengembangan metode penentuan model sistem usaha tani padi
ternak (SIPT), perlu memperhatikan kemampuan sumberdaya lokal yang
didukung oleh peningkatan dan penyebaran informasi inovasi teknologi.
5. Dengan mengkombinasikan spesies tanaman dan hewan yang memiliki sifat
saling melengkapi dan berhubungan dalam interaksi sinergetik yang positif,
maka bukan hanya kestabilan yang dapat diperbaiki, namun juga
produktivitas sistem pertanian dengan input yang lebih rendah.


b. Saran
Penerapan sistem pertanian terpadu antara tanaman pertanian dengan ternak
baik tanaman organik ataupun yang lainnya sangat diperlukan untuk
terciptanya keberlanjutan integrasi yang menguntungkan bagi keduanya. Sudah
seharusnya kita yang bergerak dalam pertanian ikut berupaya dan berusaha
agar penerapan sistem ini bisa lebih bermanfaan lagi.


DAFTAR PUSTAKA

Adnyana, et.al, 2003. Pengkajian dan Sintesis Kebijakan Pengembangan
Peningkatan Produktivitas Padi dan Ternak (P3T) ke Depan. Laporan Teknis
Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Litbang Pertanian, Bogor.

Direktorat Budidaya Ternak Ruminansia, 2010. Pedoman Teknis Pengembangan
Integrasi Ternak Sapi dan Tanaman. Direktorat Jenderal Peternakan, Departemen
Pertanian, Jakarta.

Dirjen Bina Produksi Peternakan, 2002. Pengembangan Kawasan Agribisnis
Berbasis Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta.

Fagi, A.M. dan I.Las, 2007. Membekali Petani dengan Teknologi Maju Berbasis
Kearifan Lokal pada Era Revolusi Hijau Lestari. Hal. 222-249. Dalam, F.Kasryno,
E. Pasandaran dan A. M. Fagi (ed). Membalik Arus Menuai Kemandirian Petani.
Yayasan Padi Indonesia, Jakarta.
.
IASA 1990. Planting The Future : A Source Guide to Sustainable Agriculture in
The Third Word. Minneapolis.

Ismail, I. G. dan Djajanegara, A. 2004. Kerangka Dasar Pengembangan SUT
Tanaman Ternak (Draft). Proyek PAATP, Jakarta.

Kariyasa, K, 2003. Hasil Laporan Pra Survei Kelembagaan Usaha Tanaman-
Ternak Terpadu dalam Sistem dan Usaha Agribisnis. Proyek PAATP,
Departemen Pertanian, Jakarta.

Krisnamurthi, B. 2006. Revitalisasi Pertanian: Sebuah Konsekuensi Sejarah dan
Tuntutan Masa Depan. Dalam Revitalisasi Pertanian dan Dialog Peradaban.
Penerbit Buku Kompas. Jakarta.

Reijntjes, C., B. Haverkot dan A. W. Bayer, 1999. Pertanian Masa Depan,
Pengantar untuk Pertanian Berkelanjutan dengan Input Luar Rendah. Kanisius dan
ILEIA, Yogyakarta.

Sudaratmadja, I.G.A.K., N. Suyasa dan I.G.K Dana Arsana, 2004. Subak dalam
Perspektif Sistem Integrasi Padi-Ternak di Bali. Prosiding Lokakarya Sistem dan
Kelembagaan Usaha tani Tanaman-Ternak. Badan Litbang Pertanian, Jakarta.

Suwono, M., M.A. Yusron dan F. Kasiyadi, 2004. Penggunaan Pupuk Organik
dalam Sistem Integrasi Tanaman-Ternak di Jawa Timur. Prosiding Lokakarya
Sistem dan Kelembagaan Usaha tani Tanaman-Ternak. Badan Litbang Pertanian,
Jakarta.

Triharso, 1992. Pembangunan Pertanian Berwawasan Lingkungan Yang
Berkelanjutan. ISAAA 1992. http://psi.ut.ac.id/Jurnal/5triharso.htm.

Zaenuri. L.A., Tanda S. Panjaitan, Hermansyah Pany, Dahlanuddin dan Muzani,
2003. Persepsi Perternak NTB Terhadap Sapi Bali. Laporan hasil Survei
Kerjasama BPTP NTB dengan Fakultas Peternakan Universitas Mataram.
Mataram.