Anda di halaman 1dari 6

58

BAB XIII
HAK ASASI MANUSIA DAN DEMOKRASI DALAM

A. Hak Asasi Manusia dalam Islam
Hak Asasi Manusia (HAM) adalah hak yang melekat pada diri setiap manusia
sejak awal dilahirkan yang berlaku seumur hidup dan tidak dapat diganggu gugat siapa
pun. Hak diartikan sebagai kewenangan atau kewajiban untuk melakukan sesuatu atau
tidak melakukan sesuatu. Adapun asasi bermakna segala sesuatu yang bersifat dasar,
prinsip dan fundamental yang selalu melekat pada obyeknya. Sedangkan manusia
diartikan sebagai makhluk yang berakal budi. Jadi berdasarkan analisis semantik dari
berbagai kata kunci di atas, maka dapat dipahami bahwa hak asasi manusia adalah sesuatu
yang senantiasa melekat dan paling fundamental bagi manusia. Dengan ungkapan lain,
hak asasi manusia adalah suatu hak dasar yang melekat pada diri tiap manusia.
Jika dibandingkan antara hak asasi manusia dari sudut pandang Barat dan Islam,
maka terdapat perbedaan. Hak asasi manusia menurut pemikiran Barat semata mata
bersifat antroposentris, artinya, segala sesuatu berpusat pada manusia. Adapun hak asasi
manusia dilihat dari sudut pandang Islam bersifat teosentris, artinya, segala sesuatu
berpusat kepada Tuhan. Ini bermakna bahwa dalam Islam, manusia pertama-pertama
harus meyakini ajaran pokok Islam yang dirumuskan dalam dua kalimat syahadat yakni
pengakuan tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan-Nya. Barulah setelah
itu manusia melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, menurut isi keyakinannya itu.
Hak-hak asasi manusia memperoleh landasannya dalam Islam melalui ajarannya
yang paling utama, yailu tauhid (mengesakan Tuhan). Karena itu, hak-hak asasi manusia
dalam Islam lebih dipandang dalam perspektif theosentris. Walau demikian, ajaran tauhid
tersebut berimplikasi pada keharusan prinsip persamaan, persaudaraan dan keadilan antar
sesama manusia, dan prinsip kemerdekaan dan kebebasan manusia. Prinsip-prinsip
tersebut telah menjadi landasan bagi pembentukan peradaban masyarakat Muslim awal,
sehingga menempatkan dunia Islam beberapa abad di depan Barat.
Lebih jauh, setidaknya ada dua hal yang menjadi dasar hak-hak asasi manusia
dalam al-Quran. Dasar pertama, yakni Allah menjadikan manusia sebagai mustakhlif di
muka bumi. Ini berarti manusia resmi diberi amanat. Ini berarti manusia resmi diberi
amanat sebagai refresentasi Tuhan (khalifah) di muka bumi. Dalam menjalankan amanat
sebagai khalifah, tugas pokok dan fungsional yang harus diemban manusia adalah
melaksanakan hukum Tuhan di muka bumi dengan cara yang benar. Implikasinya adalah
terdapat hak-hak civil berupa hak-hak politik (siyasi) pada diri setiap individu.
Dasar kedua, bahwa Allah menjadikan manusia sebagai mustamir di muka bumi.
Ini sekaligus menunjukkan tugas manusia sebagai pembangun bumui. Ini sekaligus
menunjukkan tugas manusia sebagai pemakmur/pembangun bumi. Ini berimplikasi
bahwa manusia memiliki hak-hak asasi.
Hak-hak asasi manusia dalam Islam dikelompokkan dalam dua kategori. Pertama
hak-hak Allah (huququllah), yaitu hak-hak manusia terhadap Allah swt yang diwujudkan
dalam berbagai ritual ibadah. Kedua, hak-hak manusia (huququlibad), yaitu kewajiban-
kewajiban manusia terhadap sesamanya dan terhadap makhluk-makhluk Allah lainnya.
Termasuk hak ini adalah hak al-Istiqrar, yaitu hak untuk menetap dan berdiam dimuka
bumi dan hak hak al-Istimta, yaitu hak untuk memanfaatkan fasilitas yang ada di muka
bumi sebagai rezeki Tuhan.
59

Secara detail, dalam WAMY Series on Islam memerinci hak-hak asasi manusia di
Negara Islam, yaitu: 1). Perlindungan harta dan jiwa, ini sebagaimana ditegaskan dalam
pesan Nabi saat haji wada, Harta dan jiwamu haram bagi yang lain hingga hari
kebangkitan; 2). Perlindungan atas kehormatan, dalilnya adalah surat Al-Hujurat (49): 11-
12; 3). Kesucian dan jaminan atas kehidupan dan rahasia pribadi; 4). Perlindungan atas
kemerdekaan pribadi; 5). Hak menyanggah penguasa yang zalim; 6). Kebebasan
menyatakan pendapat; 7). Kebebasan berserikat; 8). Kebebasan menganut agama,
sebagaimana bunyi surat Al-Baqarah (2) ayat 256; 9). Perlindungan atas perasaan
keagamaan; 10). Perlindungan dari tindakan penahanan yang sewenang-wenang, hal ini
ditegaskan dalam surat Al-Anam (6): 164; dan 11). Hak atas pemenuhan hidup, dalilnya
dalam surat Adz-Dzariyat (51): 19.

B. Konsep Demokrasi dalam Islam
Demokrasi secara etimologi berasal dari kata Yunani, demos berarti rakyat,
kratos/kratein berarti kekuasaan/berkuasa. Sehingga secara asal katanya demokrasi
berarti rakyat berkuasa (government or rule by the people). Adapun secara istilah, maka
dikenal bermacam-macam istilah demokrasi. Ada yang dinamakan demokrasi
konstitusionil, demokrasi parlementer, demokrasi terpimpin, demokrasi Pancasila,
demokrasi rakyat, demokrasi Soviet, demokrasi nasional, dan sebagainya. Demokrasi
secara harafiah merupakan sistem pemerintahan yang sangat membuka pintu lebar-lebar
kepada arus akuntabilitas publik. Demokrasi adalah sistem pemerintahan yang
memberikan penekanan pada fungsi kontrol atau dengan kata lain check and balance dari
semua pos-pos kekuasaan yang ada. Dari sini diharapkan akan lahir keadilan (justice)
yang secara mekanistik memberikan kebaikan kepada seluruh elemen masyarakat. Hal ini
mengakibatkan bahwa demokrasi merupakan system pemerintahan yang anti
otoritarianisme dan kemungkinan kolusi/konspirasi yang sangat mungkin muncul dalam
sistem monarki dan oligarkhi.
Adapun defenisi demokrasi Islam, maka Wikipedia Indonesia mendefenisikan
Demokrasi Islam sebagai ideologi politik yang bertujuan untuk menerapkan prinsip-
prinsip agama Islam ke dalam kebijakan publik. Ideologi ini muncul pada awal
perjuangan pembebasan atas daerah di mandat Britania atas Palestina kemudian menyebar
akan tetapi di sejumlah negara-negara dalam pratiknya telah mencair dengan gerakan
sekularisasi.



C. Prinsip-prinsip Demokrasi dalam Islam
Berbicara tentang sistem kenegaraan atau pemerintahan dalam Islam harus
dibedakan antara teori dan praktek. Maksud teori adalah konsep-konsep yang ditulis
dalam nash (Al-qur,an dan sunnah Nabi Muhammad SAW.) sementara dalam praktek
adalah adalah praktek yang dilakukan kaum muslimnin sepanjang sejarah muslim.
Perbedaan ini penting dipahami terlebih dahulu, sebab dalam banyak kasus, sistem
pemerintahan yang berlaku dalam sejarah muslim adalah tidak sejalan dengan teori yang
ingin dibangun Islam (teoritis). Karena itu tulisan ini berlandaskan teori, bahwa ketika
membahas sistempemerintahan Iislam harus ada perbedaan antara teori dan praktek.
Sejalan dengan itu, pembahsan berikut merupakan pelacakan terhadap teori sistem
pemerintahan Iislam yang ada dalam nash (al-Quran dan sunnah Nabi SAW), bukan
praktek Muslim.
Hasil pelacakan dari kedua sumber tersebut adalah, ada beberapa nash yang
berbicara tentang prinsip-prinsip dan sistem pemerintahan/ kenegaraann. Diantaranya
adalah:
60


Artinya: Dan (bagi) orang-orang yang menerima (mematuhi) seruan Rabbnya
dan mendirikan shalat, sedang urusan mereka (diputuskan) dengan
musyawarat antara mereka; dan mereka menafkahkan sebagian dari
rezki yang Kami berikan kepada mereka. (QS. 42:38)


Artinya: Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut
terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar,
tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu
maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila
kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah.
Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-
Nya. (QS. 3:159).

Artinya: (Inilah pernyataan) pemutusan penghubungan daripada Allah dan Rasul-
Nya (yang dihadapkan) kepada orang-orang musyrikin yang kamu
(kamu muslimin) telah mengadakan perjanjian (dengan mereka). (QS.
9:1).

Dari ketiga ayat al-Quran tersebut dapat ditegaskan beberapa prinsip:
1. Kedaulatan adalah di tangan rakyat (umat),
2. Bentuk pemerintahan adalah berdasarkan musyawarah (shura);
3. Kepala pemerintah adalah imam atau khalifah, yaitu pelaksana shariah
(ajaran agama);
4. Kepala pemerintahan diangkat dan diberhentikan oleh rakyat (umat).

Ayat lain yang berbicara tentang kenegeraan adalah adalah al-Nahl (16): 90:
61


Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat
kebajikan, memberi kepada kaum kerabat, dan Allah melarang dari
perbuatan keji, kemungkaran dan permusuhan. Dia memberi pengajaran
kepadamu agar kamu daoat mengambil pelajaran. (QS. 16:90).

Dan surah an-Nisa ayat 58:

Artinya: Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyampaikan amanat kepada
yang berhak menerimanya, dan (menyuruh kamu) apabila menetapkan
hukum di antara manusia supaya kamu menetapkan dengan adil.
Sesungguhnya Allah memberi pengajaran yang sebaik-baiknya
kepadamu. Sesungguhnya Allah adalah Maha Mendengar lagi Maha
Melihat. (QS. 4:58).

Dari kedua ayat tersebut memuat adanya persamaan dan keadilan antar warga
negara.
Lebih dari itu ayat al-Nisa (4): 58-70 adalah ayat-ayat tentang dasar pemerintahan.
Masih ayat lain yang berbicara tentang prinsip-prinsip pemerintahan adalah al-
Baqarah(2): 190:

Artinya: Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu,
(tetapi) janganlah kamu melampaui batas, karena sesungguhnya Allah
tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. (QS. 2:190).
Juga terdapat dalam Al- Hajj (22): 30 sebagai berikut: (yaitu) orang-orang yang
telah diusir dari kampung halaman mereka tanpa alasan yang benar, kecuali karena
mereka berkata: Rabb kami hanyalah Allah. Dan sekiranya Allah tiada menolak
(keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan
biara-biara Nasrani, gereja-gereja, rumah-rumah ibadat orang Yahudi dan masjid-masjid,
yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Sesungguhnya Allah pasti menolong orang
yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha
Perkasa. (QS. 22:40).
62

Dari kedua ayat ini dapat diambil kesimpulan bahwa Islam melarang agresi, tetapi
juga melarang menyerah. Tujuan perang setelah mengelakkan agresi (untuk membela
diri), seperti tersirat dalam al-hajj (22): 40, adalah untuk mendirikan masyarakat yang
penuh perdamaian, adl, penuh toleransi dan budi pekerti.
Namun ditegaskan bahwa Iislam mementingkan perdamaian daripada peperangan,
dan harus selalu siap berperang agar tidak diserang. Prinsip ini tersirat dalam al-Anfal (8):
61:

Artinya: Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah
kepadanya dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah
yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. (QS. 8:61).
Dan juga dalam al-Anfal (8): ayat ke-60: Dan siapkanlah untuk menghadapi
mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk
berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggetarkan musuh Allah, musuhmu dan
orang-orang selain mereka yang kamu tidak mengetahuinya; sedang Allah
mengetahuinya. Apa saja yang kamu nafkahkan pada jalan Allah niscaya akan dibalas
dengan cukup kepadamu dan kamu tidak akan dianiaya (dirugikan). (QS. 8:60).
Masih nash lain, adalah an-Nahl (16): 91:

Artinya: Dan tepatilah perjanjian dengan Allah apabila kamu berjanji dan
janganlah kamu membatalkan sumpah-sumpah(mu) itu, sesudah
meneguhkannya, sedang kamu telah menjadikan Allah sebagai saksimu
(terhadap sumpah-sumpah itu). Sesungguhnya Allah mengetahui apa
yang kamu perbuat. (QS. 16:91).
Dari nash ini tersirat prinsip pemerintahan, yaitu harus selalu menepati janji dan
tidak mengkhianatinya.
Sedangkan sumber sunnah Nabi Muhammad, misalnya:
1. Adanya larangan komersialisasi jabatan,
2. Rasulullah SAW selalu bermusyawarah dengan para sahabat dalam urusan-
urusan politik, militer dan keuangan.
Dari sejumlah nash di atas, para ilmuwan menyimpulkan tiga prinsip umum
ketatanegaraan atau pemerintahan Islam yaitu:
1. Prinsip musyawarah (shura);
2. Prinsip keadilan (al-adl);
3. Prinsip egaliteranisme (musawah).
Prinsip demokrasi dalam umumnya sistem pemerintahan dapat dipadankan dengan
prinsip musyawarah yang ditawarkan Islam. Demikian Prof. Khoiruddin Nasution
berkesimpulan dalam bukunya, Pengantar Studi Islam.
63

Akan halnya dengan praktek demokrasi dalam sejarah Muslim secara singkat dan
hanya sebatas masalah pergantian kepemimpinan kepala Negara/pemerintahan (sukseksi)
dapat digambarkan demikian. Bentuk suksesi yang terjadi dari kekuasaan Nabi
Muhammad SAW kepada Abu Bakar al-Shiddiq sebagai khalifah pertama adalah hasil
musyawarah kaum muslimin, yang ketika itu terdiri dari kelompok Anshar dan Muhajirin
di Saqifah Bani Saadah. Kemudian peralihan dari Abu Bakar al-Shiddiq kepada Umar
bin al-Khattab sebagai khalifah kedua adalah dengan penunjukkan oleh khalifah
sebelumnya dengan persetujuan kaum muslimin. Bentuk lain yang muncul ketika
peralihan dari Umar bin al-Khattab kepada Usman bin Affan sebagai khalifah ketiga
dengan sistem formatur (). Adapun peralihan dariUsman bin Affan kepada Ali bin Abi
Thalib sebagai khalifah keempat adalah dengan jalan aklamasi. Setelah itu sejarah
Muslimin diwarnai dengan sistem pemerintahan moarki. Bahkan sampai sekarang pun
pada umumnya Negara Arab sistem ini yang berlaku.
Dapat dikatakan, bahwa praktek suksesi kepemimpinan yang dilakukan keempat
khaliffah pertama (khulafa al-rashidin) masih sejalan dengan prinsip demokrasi (shura)
yang diajarkan Islam. Sebab nash hanya membeikan prinsip, sementara bentuk dapat
dipraktekkan dalam sejumlah variasi sepanjang prinsip musyawarah ada di dalamnya,
demikian Prof. Khoiruddin Nasution berkesimpulan.