Anda di halaman 1dari 24

BAB II

Pembahasan
2.1 Anatomi dan Fisiologi
Konjungtiva adalah membran mukosa yang tipis dan transparan, berfungsi sebagai
pembungkus sklera dan bagian dalam kelopak mata. Konjungtiva berhubungan dengan kulit pada
tepi kelopak dan dengan epitel kornea di limbus. Konjungtiva mengandung kelenjar musin yang
dihasilkan oleh sel goblet, yang berguna untuk membasahi bola mata, memproteksi, dan
memberi nutrisi pada kornea.
4
Konjungtiva terdiri dari tiga bagian yaitu konjungtiva tarsal,
konjungtiva bulbi, dan konjungtiva forniks. Konjungtiva tarsal adalah konjungtiva yang
menutupi tarsus dan susah digerakkan dari tarsus. Konjungtiva bulbi merupakan konjungtiva
yang menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya. Konjungtiva forniks
merupakan peralihan dari konjungtiva tarsal ke konjungtiva bulbi.
5
Pada konjungtiva terdapat dua hingga lima lapisan epitel silinder bertingkat, epitel
superfisial, dan epitel basal. Lapisan epitel konjungtiva yang berada di dekat limbus, di atas
karunkula, dan di dekat persambungan mukokutan pada tepi kelopak mata terdiri dari sel-sel
epitel skuamosa. erdapat sel-sel goblet pada lapisan epitel superfisial yang berfungsi untuk
produksi musin. !el-sel epitel basal berwarna lebih pekat daripada sel-sel superfisial dan di dekat
limbus mengandung pigmen.
"

#rteri-arteri konjungtiva berasal dari arteri siliaris anterior dan arteri palpebralis. Kedua
arteri ini bersama vena konjungtiva yang umumnya mengikuti pola arterinya membentuk
vaskuler konjungtiva.
$
Pembuluh limfe konjungtiva tersusun dalam lapisan superfisial dan
lapisan profundus, dan bersambung dengan pembuluh limfe kelopak mata hingga membentuk
pleksus limfatikus. Konjungtiva menerima persarafan dari per%abangan nervus trigeminalis
%abang oftalmik dan ini memiliki sedikit serat nyeri.
"
BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Definisi
Konjungtivitis atau mata merah adalah peradangan konjungtiva atau selaput bening yang
menutupi seluruh bagian dalam kelopak mata dan bola mata, yang disebabkan oleh bakteri, virus,
jamur, bahan alergi, dan lainnya.
&

3.2 Patofisiologi
Konjungtiva atau selaput bening merupakan membran mukus yang tipis dan transparan,
yang menutupi seluruh bagian dalam kelopak mata dan bagian depan mata ke kornea. 'nflamasi
pada konjungtiva yang disebut dengan konjungtivitis sering terjadi akibat bakteri dan virus.
!elain bakteri dan virus, agen alergi dan jamur pun dapat menyebabkan konjungtivitis. Pada
konjungtivitis, sel-sel radang seperti( neutrofil, eosinofil, basofil, limfosit, dan sel plasma
berfungsi untuk melawan inflamasi yang sedang terjadi pada konjungtiva. !el-sel radang ini
ber%ampur dengan fibrin dan mukus dari sel goblet untuk mengurangi proses inflamasi, sehingga
terbentuk eksudat-eksudat konjungtiva yang menyebabkan perlengketan palpebra yang biasanya
terjadi pada pagi hari.
)mumnya konjungtivitis dapat menyerang satu mata ataupun kedua mata dan dapat
terjadi pada bayi hingga orang dewasa. Konjungtivitis pada bayi didapat dari ibunya melalui
jalan lahir per vaginam. Konjungtivitis pada dewasa didapat melalui penularan sekret penderita
dan hubungan seksual.
*

Konjungtivitis bakterial dan viral terjadi akibat adanya penurunan daya imun penjamu
dan kontaminasi eksternal +lensa kontak, benerang, dan lainnya,. Pertahanan tubuh awal
terhadap infeksi adalah lapisan epitel yang menutupi konjungtiva. -usaknya lapisan ini
memudahkan untuk terjadinya infeksi. Pertahanan sekunder adalah sistem imunologi
+immunoglobulin dan liso.im, yang merangsang lakrimasi. Konjungtivitis viral bersifat ringan
dan dapat sembuh dengan sendirinya tanpa memerlukan pengobatan. #kan tetapi pada
konjungtivitis viral, dibutuhkan pengobatan yang adekuat.
"
Konjungtivitis alergika terjadi akibat respon imun tipe /terhadap alergen. #lergen terikat
dengan sel mast sehingga terjadi reaksi silang terhadap 'g0 yang menyebabkan degranulasi dari
sel mast. 1al ini mendorong pelepasan histamin dari sel mast, juga mediator lain termasuk
triptase, kimase, heparin, kondroitin sulfat, prostaglandin, tromboksan, dan leukotrin. 1istamin
dan bradikinin pun aktif dan menstimulasi nosiseptor, menyebabkan rasa gatal, peningkatan
permeabilitas vaskuler, vasodilatasi, kemerahan, dan injeksi konjungtiva.
2
3.3 Fato! "esio
3aktor resiko pada konjungtivitis adalah(
/4,//,/5
erpapar dengan virus atau bakteri.
erpapar terhadap agen alergi, seperti( serbuk tanaman, polen, dan lainnya.
Kontak dengan penderita.
6eminjamkan dan saling bertukar handuk, baju, atau perlengkapan sehari-hari yang sama
kepada teman atau saudara.
Pemakaian lensa kontak yang tidak terjaga kebersihannya.
'klim dan %ua%a.
)mur
3.# Tanda dan $e%ala Klinis
3.#.1 $e%ala Kon%&ngti'itis
7ejala penting pada konjungtivitis adalah( sensasi benda asing seperti tergores
atau panas, sensasi penuh di sekitar mata, gatal, dan fotofobia. !ensasi benda asing dan
sensasi tergores atau panas berhubungan dengan pembengkakan dan hipertrofi papiler
yang biasanya terdapat pada hiperemi konjungtiva. 8ika ada rasa sakit, maka kornea
terkena.
"
3.#.2 Tanda(tanda Kon%&ngti'itis
3
anda konjungtivitis yang penting adalah( hiperemi, mata berair, eksudasi,
pseudoptosis, hipertrofi papiler, kemosis, folikel, pseudomembran dan membran, dan
adenopati preaurikuler.
a. 1iperemi
6erupakan tanda klinis yang paling men%olok pada konjungtivitis. 1iperemi tampak
merah %erah menandakan konjungtivitis bakterial dan hiperemi yang tampak keputihan
mirip susu menandakan konjungtivitis akibat alergi. Kemerahan paling nyata pada forniks
dan berkurang ke arah limbus disebabkan oleh dilatasi pembuluh darah konjungtiva
posterior.
In%esi Kon%&ngti'a In%esi Silia!is
Asal #rteri konjungtiva posterior #rteri siliar
)em*e!da!ahi Konjungtiva bulbi Kornea segmen anterior
+oasi
Konjungtiva forniks ke
limbus semakin ke%il
Limbus ke konjungtiva forniks
semakin ke%il
,a!na 6erah terang )ngu
Ali!an da!ah Ke perifer Ke sentral
Kon%&ngti'a
dige!aan 'kut bergerak idak bergerak
Dengan e*inef!in
1 - 1... 6en%iut idak men%iut
Pen/ait Konjungtiva Kornea, iris, glaukoma
Se!et !ekret +9, !ekret + - ,
Penglihatan :ormal 6enurun
b. Lakrimasi atau mata berair
!ekresi air mata terjadi akibat adanya sensasi benda asing, terbakar, dan gatal. Kurangnya
sekresi air mata yang abnormal merupakan %iri dari keratokonjungtivitis si%%a.
%. 0ksudasi
0ksudasi merupakan %iri dari konjungtivitis akut. 0ksudat yang berlapis-lapis dapat
terjadi akibat bakteri atau klamidia. !edangkan eksudat yang berbentuk serabut-serabut
dapat ditemukan pada konjungtiva alergika. 8umlah eksudat yang berlebihan
menyebabkan penempelan antara kelopak mata superior dan inferior.
d. Pseudoptosis
6erupakan keadaan turunnya kelopak mata bagian atas karena infiltrasi ke muskulus
6uller. ;iasanya terjadi pada konjungtivitis berat seperti trakoma dan
keratokonjungtivitis epidemika.
e. 1ipertrofi papil
1ipetropi papil merupakan reaksi non spesifik yang terjadi akibat terikatnya konjungtiva
pada tarsus atau limbus oleh serabut-serabut halus. Ketika berkas pembuluh yang
membentuk substansi papila sampai di membran basal epitel, pembuluh ini ber%abang-
%abang di atas papila dan mempunyai bentuk seperti jeruji payung.
f. Kemosis
edema pada konjungtiva yang terjadi akibat terkumpulnya eksudat-eksudat.
g. 3olikel
6erupakan hiperplasia limfoid lokal di dalam lapis limfoid konjungtiva yang
mengandung sebuah pusat germinal. !trukturnya kelabu atau putih avaskuler dan bulat.
;iasanya terjadi pada konjungtivitis viral dan klamidia.
h. Pseudomembran dan membran
Pseudomembran dan membran merupakan hasil dari proses eksudatif. Pseudomembran
adalah pengentalan dari lapisan yang melapisi permukaan epitel konjungtiva, yang bila
lepas epitelnya akan tetap utuh, sedangkan membran adalah pengentalan yang meliputi
seluruh epitel sehingga bila diangkat akan berdarah dan permukaannya kasar.
i. Limfadenopati preaurikuler
6erupakan inflamasi pada preaurikuler +bagian anterior dari telinga, yang berbentuk
nodus ke%il hingga besar. :odus ini dapat nyeri tekan dan biasanya mun%ul akibat infeksi
virus.
3.0 Klasifiasi Kon%&ngti'itis
Klasifikasi kongjungtivitis dibagi menurut etiologinya, yaitu(
/. Konjungtivitis bakterial
a. konjungtivitis bakterial 1iperakut
b. konjungtivitis bakterial #kut
%. konjungtivitis bakterial Kronik
5. Konjungtivitis klamidia
". Konjungtivitis inklusi
4. Konjungtivitis viral
a. Konjungtivitis adenoviral
b. Konjungtivitis herpetik
%. Konjungtivitis hemoragika akut
d. Konjungtivitis new %astle
5. Konjungtivitis alergika
a. Keratokonjungtivitis vernal
b. Konjungtivitis atopik
%. Konjungtivitis papilaris raksasa
$. Konjungtivitis jamur atau fungi
&. Keratokonjungtivitis si%%a
3.0.1 Kon%&ngti'itis Bate!ial
1. on%&ngti'itis bate!i 1i*e!a&t
Konjungtivitis bakteri hiperakut adalah infeksi pada konjungtiva yang
terjadi tiba-tiba, dibawah 54 jam, dan ditandai dengan sekret purulen berwarna
kuning kehijauan yang jumlahnya berlebihan. 7ejala konjungtivitis bakteri
hiperakut biasanya progresif %epat, terdapat kemerahan, iritasi, dan nyeri tekan
pada mata. <itemukan injeksi konjungtiva, kemosis konjungtiva, kelopak mata
bengkak, dan nyeri tekan pada preaurikuler. Penyebab utama dari konjungtivitis
bakteri hiperakut adalah N. gonorrhoeae dan Neisseria meningitidis. =alaupun N.
gonorrhoeae lebih sering terjadi, tetapi kedua penyebab tersebut memiliki
presentasi klinis yang sama dan hanya dapat dibedakan dengan %ara pewarnaan
gram untuk spesimen gram negatif diplokokus dan kultur untuk spesimen
:eisseria. Pada neonatus infeksi konjungtiva gonore terjadi selama persalinan per
vaginam. Pada orang dewasa, penularannya berasal dari hubungan seksual
melalui tangan ke mata.
/
;akteri lainnya yang jarang menyebabkan konjungtivitis
bakteri hiperakut ini adalah Staphylococcus aureus, Pseudomonas aeruginosa
/"
,
Staphylococcus epidermidis, Streptococcus pneumonia, Streptococcus pyogenes,
Haemophilus influenza, Moraxella lacunate, Pseudomonas pycocyanea, dan
Corynebacterium diphtheriae.
55

+a, +b,
7ambar "./ a( Konjungtivitis gonore akut pada neonatal. b( Konjungtivitis gonore dengan sekret purulen.
2. Kon%&ngti'itis Bate!i A&t
Konjungtivitis bakteri akut memberikan gejala seperti( terbakar, iritasi,
terdapat sekret purulen atau mukopurulen, pembengkakan kelopak mata ringan
hingga berat, dan kemosis konjungtiva. Konjungtivitis bakteri akut prosesnya
tidak se%epat konjungtivitis bakteri hiperakut, akan tetapi gejala klinisnya lebih
berat. Konjungtivitis bakteri akut dapat sembuh sendiri dan tidak menimbulkan
bahaya yang serius. Konjungtivitis bakteri akut disebabkan oleh bakteri gram
positif, biasanya akibat stafilokok.
/
etapi juga dapat terjadi akibat Streptococcus
pneumoniae dan grup haemofilus.
/"
7ambar 4./ Konjungtivitis bakterial akut akibat Streptococcus pneumoniae.
3. Kon%&ngti'itis Bate!i K!oni
Konjungtivitis bakteri kronik terjadi lebih dari 4 minggu dan biasanya
berhubungan dengan blepharitis. Penyebab utamanya adalah Staphylococcus
aureus. ;lepharokonjungtivitis angular dapat terjadi pada konjungtivitis bakteri
kronik akibat infeksi kronis dari grup stafilokok atau Moraxella axenfeld.
/"
7ejala-gejalanya bervariasi, termasuk gatal, rasa terbakar, sensasi benda asing,
dan banyak sekret mukopurulen pada mata terutama pada pagi hari.
Konjungtivitis ini pun juga ditandai dengan adanya kemerahan, lepasnya bulu
mata, dan injeksi konjungtiva. Kadang memiliki khala.ion pada kelopak mata.
"

#. Kon%&ngti'itis Klamidia
Konjungtivitis klamidia atau sering dikenal dengan trakoma adalah
konjungtivitis folikular kronis yang disebabkan oleh Chlamydia trachomatis
dengan serotipe #, ;, ;a, atau >.
"
>ara penularan infeksi ini melalui kontak
langsung dengan sekret penderita trakoma atau melalui bahan kontak, umumnya
dari anggota keluarga seperti pinjam meminjam alat-alat kebutuhan sehari-hari,
yaitu( handuk, baju, sprei, dan alat-alat ke%antikan.
5
?ektor serangga seperti lalat
juga berperan sebagai agen penular. Penyebaran sering disertai dengan epidemi
konjungtivitis bakterial dan musim kemarau di negara-negara yang memiliki
iklim subtropis atau tropis. ;eratnya trakoma tergantung pada higienitas
perorangan, standar sanitasi kehidupan masyarakat, keadaan %ua%a tempat tinggal,
dan usia.
"

Pada umumnya trakoma terjadi se%ara bilateral, yaitu mengenai kedua
mata. Perjalan penyakit trakoma yang bermula dari kanak-kanak hingga dewasa,
dapat menyebabkan terjadinya jaringan parut pada konjungtiva mata. Pada kasus
yang berat, pembalikkan bulu mata yang mengarah ke dalam mata atau yang
disebut dengan entropion atau trikiasis dapat terjadi sehingga menyebabkan abrasi
pada kornea.
"
rakoma dapat ditularkan melalui hubungan seksual atau lahiran se%ara
per vaginam.
/
6asa inkubasi trakoma rata-rata sekitar & hari, tetapi dapat
bervariasi dari 5 hari sampai /4 hari. Pada bayi atau anak-anak, biasanya timbul
perlahan-lahan dan tidak diketahui. Penyakitnya dapat sembuh sendiri dan tidak
menyebabkan komplikasi. Pada dewasa, timbulnya sering akut dan menyebabkan
komplikasi.
"
anda dan gejala yang dikeluhkan adalah( fotofobia, mata gatal, mata
berair, sakit, eksudasi, edema palpebra, nyeri tekan, kemosis konjungtiva bulbi,
hiperemia, hipertrofi papiler, folikel tarsal dan limbus, keratitis superior,
pembentukan panus, dan nodus preaurikuler ke%il. Pada pewarnaan 7iemsa, dapat
terlihat reaksi sel-sel polimorfonuklear, sel plasma, sel leber, dan sel folikel
+limfoblas,. !el leber dan sel limfoblas merupakan sel yang dapat menegakkan
diagnosis trakoma. erdapat pula badan inklusi 1alber !tatter-Prowa.e%k yang
merupakan granul di dalam sel epitel konjungtiva dan %ekungan 1erbert yang
merupakan %ekungan ke%il jaringan ikat di batas limbus yang ditutupi epitel.
5

>ara untuk mengetahui adanya infeksi trakoma menurut =orld 1ealth
@rganisation +=1@, adalah sebagai berikut(
3 lima atau lebih folikel pada konjungtiva tarsal superior +A4.5mm,
'
'nfiltrasi difus dan hipertrofi papiler konjungtiva superior yang
sekurang-kurangnya menutupi 54B pembuluh profunda normal
! Parut konjungtiva trakomatosa +sikatriks,
rikiasis atau entropion +bulu mata membalik ke dalam mata,
>@ kekeruhan kornea
#danya 3 dan ' menunjukkan infeksi trakoma yang aktif yang harus
segera diobati. #danya ! dan memperlihatkan beratnya penyakit trakoma.
>@ memperlihatkan terganggunya penglihatan pada kondisi trakoma yang berat.
/4
6enurut klasifikasi 6a% >allan, terdapat empat stadium pada penyakit ini, yaitu(
/. !tadium insipien
erdapat hipertrofi papil dengan folikel yang ke%il-ke%il pada konjungtiva tarsal
superior. 'ni memperlihatkan penebalan dan kongesti pada pembuluh darah
konjungtiva. !ekret yang dihasilkan sedikit dan jernih bila tidak ada infeksi
sekunder.
5. !tadium established
erdapat hipertrofi papil dan folikel-folikel besar yang matur pada konjungtiva
tarsal superior. <itemukan panus trakoma yang merupakan pembuluh darah yang
terketak di daerah limbus superior dengan infiltrat-infiltrat.
". !tadium parut
erdapat jaringan parut pada konjungtiva tarsal superior yang terlihat sebagai
garis putih yang sejajar dengan margo palpebra. Parut folikel pada limbus disebut
dengan %ekungan 1erbert.
4. !tadium sembuh
Pembentukan parut yang sempurna pada konjungtiva tarsal superior sehingga
menyebabkan terjadinya trikiasis atau entropion.
5
Komplikasi yang sering terjadi pada trakoma adalah parut di konjungtiva
karena dapat merusak duktus-duktus kelenjar lakrimalis dan menutupi muara
kelenjar lakrimalis. #kibat rusaknya duktus tersebut maka sel goblet yang berguna
untuk mengeluarkan air mata menghilang dan berakibat keringnya mata. Luka
parut pun mengubah bentuk palpebra superior dengan membalik bulu mata ke
dalam +trikiasis, atau seluruh tepian palpebra +entropion,, sehingga bulu mata
terus-menerus menggesek kornea. 'ni pun dapat menyebabkan ulserasi pada
kornea dan dapat menyebabkan parut pada kornea. Komplikasi lainnya yang
dapat terjadi adalah ptosis, obstruksi duktus nasolakrimalis, dan dakriosistitis.
"

3.0.2 Kon%&ngti'itis Inl&si 2Bleno!!hea Inl&si3 Pa!at!aoma4
Konjungtivitis inklusi merupakan peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh
Chlamydia trachomatis serotipe <-K dan kadang serotipe ;. Konjungtivitis ini sering
berjalan bilateral, dan berawal akut dan subakut. Konjungtivitis inklusi banyak terjadi
pada orang muda yang seksual aktif sehingga penyebarannya dapat melalui hubungan
seksual atau melalui tangan ke mata. Penyebaran tidak langsung pun juga pernah terjadi
melalui air kolam renang yang kurang kadar klorinnya. Penyakit ini pun dapat dialami
oleh bayi yang baru lahir akibat terkena sekret melalui jalan per vaginam pada ibu yang
mengalami infeksi klamidia pada genitalnya. anda dan gejala klinis yang timbul pada
konjungtivitis inklusi adalah mata merah, pseudoptosis, dan sekret mata yang banyak
terutama di pagi hari.
"

Pada bayi, tampilan klinisnya berupa konjungtivitis papilaris dengan jumlah
eksudat yang sedang. )mumnya pada bayi tidak ditemukan folikel karena tidak memiliki
jaringan adenoid di stroma konjungtiva. etapi bila penyakit ini terus berjalan dan tidak
diobati, maka dapat timbul folikel-folikel yang mirip dengan orang dewasa. Pada kasus
yang berat, dapat ditemukan pseudomembran yang dapat menimbulkan parut.
Konjungtivitis inklusi pada bayi dapat menimbulkan faringitis, pneumonitis interstisial,
dan otitis media. Pada orang dewasa dapat ditemukan folikel dan papil pada konjungtiva
tarsal superior dan inferior. 8arang ditemukan pseudomembran sehingga tidak
menimbulkan parut.
"
)ntuk membedakan konjungtivitis inklusi dari trakoma, maka ada beberapa hal
yang perlu diperhatikan, seperti( trakoma folikuler aktif terdapat pada anak-anak ke%il
dan orang yang terpapar pada wilayah yang endemik trakoma, sedangkan konjungtivitis
inklusi terdapat pada remaja dan dewasa yang seksual aktifC pada konjungtivitis inklusi di
orang dewasa jarang terjadi parutC dan %ekungan 1erbert merupakan tanda bahwa dulu
pernah mengalami trakoma.
"
3.0.3 Kon%&ngti'itis 5i!al
1. on%&ngti'itis adeno'i!al
Konjungtivitis adenoviral merupakan konjungtivitis yang terjadi akibat
adenovirus.
/5
Penyebaran penyakit ini melalui udara pernafasan dan juga dapat
melalui sekret mata. !erangan yang terjadi biasanya akut, menginfeksi mata
se%ara unilateral dan kemudian bilateral. 7ejala dan tanda klinis pada
konjungtivitis viral ini adalah( hiperemia pada konjungtiva bulbi dan tarsal,
pembengkakan kelopak mata, pseudomembran konjungtiva pada konjungtiva
tarsal superior dan inferior, dan limfadenopati preaurikuler.
/"
Konjungtivitis adenoviral dibagi menjadi dua, yaitu keratokonjungtivitis
epidemika dan demam faringokonjungtiva. Penyebab keratokonjungtivitis
epidemika adalah adenovirus tipe *, //, /2, dan penyebab demam
faringokonjungtiva adalah adenovirus ",4, dan &. Paling sering yang
menyebabkan keratokonjungtivitis epidemika adalah adenovirus * dan /2,
sedangkan demam faringokonjungtiva adalah adenovirus " dan &.
",52
Keratokonjungtivitis epidemika merupakan infeksi akut pada konjungtiva
yang dapat sembuh dengan sendirinya. Penyakit ini sering terjadi pada ruangan
yang tertutup, seperti( di sekolah, di rumah sakit, di perkemahan, dan di tempat
kerja. Kontak langsung dengan sekret penderita merupakan proses penularan
utama, akan tetapi penularan melalui droplet dan air kolam renang pun dapat
menyebabkan terkenanya penyakit ini.

Keratokonjungtivitis epidemika sering
memberikan gejala seperti flu, yaitu( demam, malaise, nausea, diare, dan
myalgia.
/$
7ejala dan tanda pada keratokonjungtivitis epidemika adalah( mata
berair berat, rasa seperti kelilipan, perdarahan subkonjungtiva, folikel pada
konjungtiva inferior, kadang terdapat pseudomembran, dan limfadenopati
preaurikuler. ;iasanya gejala akan menurun dalam waktu & sampai /5 hari dan
tidak menyebabkan komplikasi.
5
Keratokonjungtivitis epidemika ini lebih sering
terjadi se%ara bilateral dibandingkan dengan se%ara unilateral.
/4
7ambar keratokonjungtivitis epidemika dengan tanda klinis folikel dan
perdarahan subkonjungtiva.
<emam faringokonjungtiva memberikan gejala demam, faringitis, sekret
berair, dan mengenai unilateral atau bilateral mata.
5
Penyakit ini terjadi se%ara
akut dan mudah menular. Penularannya terjadi melalui droplet atau kolam
renang.
/&
Proses inkubasi adenovirus adalah 5 sampai /5 hari dengan rata-rata
sekitar * hari.
/*
'nfeksi ini biasanya terjadi pada anak-anak.
/2
Konjungtivitis ini
biasanya mulai pada satu mata dan kemudian menyebar ke mata lainnya
walaupun kedua mata dapat mengalaminya se%ara bersamaan. -asa gatal dan
sekret pada pagi hari pun merupakan gejala klinis pada konjungtivitis ini.
54

'nfeksi akibat adenovirus pada keratokonjungtivitis epidemika dan femam
faringokonjungtiva dapat dideteksi dengan menggunakan deteksi antigen,
polymerase %hain rea%tion assay +P>- assay,, isolasi virus, dan serologi.
5/

2. Kon%&ngti'itis 1e!*eti
Konjungtivitis herpetik adalah konjungtivitis yang disebabkan oleh virus
herpes simpleks +1!?,. ;iasanya terkena pada anak ke%il yang ditandai dengan
adanya pelebaran pembuluh darah unilateral, iritasi, sekret mukoid, sakit, dan
fotofobia ringan.
"
Konjungtivitis herpes simpleks merupakan infeksi berulang
pada mata dan sering disertai dengan infeksi herpes pada kulit.
5
anda dan gejala
lainnya adalah( limfadenopati preaurikuler, vesikel pada kornea yang dapat
meluas dan berbentuk dendrit, vesikel herpes yang menyebar pada palpebra, dan
edema palpebra. Perjalanan penyakit biasanya akut. Konjungtivitis akibat herpes
dapat berupa konjungtivitis folikuler dan konjungtivitis pseudomembran. Pada
konjungtivitis herpes folikuler, reaksi radangnya berupa sel mononuklear,
sedangkan pada konjungtivitis herpes pseudomembran, reaksi radangnya berupa
sel polimorfonuklear. Konjungtivitis herpetik dapat berlangsung sekitar 5 hingga
" minggu dan jika timbul pseudomembran, maka terdapat sisa parut linear.
"
3. Kon%&ngti'itis hemo!agia a&t
Konjungtivitis ini disebabkan oleh virus pi%ornavirus, yaitu virus
enterovirus &4 dan virus %oDsa%kie #54.
55
Penularannya terjadi melalui kontak
langsung, air, dan peralatan yang terkontaminasi. 6asa inkubasi penyakit ini
pendek, sekitar * sampai 4* jam dan berlangsung sekitar 5 sampai & hari. 7ejala
dan tanda yang ada, yaitu( sakit, fotofobia, sensasi benda asing, merah, lakrimasi,
edema palpebra, dan perdarahan subkonjungtival, serta dapat terjadi kemosis.
Perdarahan subkonjungtiva biasanya menyebar se%ara perlahan, mulai terlihat dari
konjungtiva bulbi superior dan menyebar hingga ke bawah. 7ejala klinis lainnya
yang dapat dijumpai pada konjungtivitis hemoragika akut adalah( malaise,
demam, myalgia, folikel konjungtiva, limfadenopati preaurikuler, dan keratitis
epitelial.
5"

#. Ke!atoon%&ngti'itis Ne6 7astle
Konjungtivitis new %astle merupakan bentuk konjungtivitis yang
ditemukan pada peternak unggas, yang disebabkan oleh virus new %astle. 7ejala
awal yang timbul adalah( perasaan adanya benda asing atau sakit di mata, mata
berair, silau, kelopak mata membengkak, dan fotofobia. Konjungtivitis ini pun
disertai dengan adanya gejala influen.a dengan demam ringan, sakit kepala, dan
nyeri sendi. Pada mata akan terlihat edema palpebra ringan, kemosis, sekret yang
sedikit, dan folikel-folikel yang terutama ditemukan pada konjungtiva tarsal
bagian bawah. Pada kornea ditemukan keratitis epitelial atau keratitits subepitel.
<itemukan pula hipertrofi preaurikuler pada konjungtivitis ini yang tidak nyeri
tekan.
5
3.0.3 Kon%&ngti'itis Ale!gia
1. Kon%&ngti'itis 5e!nal
Konjungtivitis vernal terjadi akibat reaksi hipersensitivitas tipe / yang
biasanya berhubungan dengan alergi tepung sari rumput. Konjungtivitis ini sering
terjadi berulang dan sering terjadi pada anak laki-laki daripada anak perempuan.
"
;iasanya terjadi pada semua umur, tetapi lebih sering terjadi pada umur /5
sampai "4 tahun. Penyakit ini sering terjadi pada musim gugur, musim panas, dan
akhir musim semi.
54

)mumnya keluhan yang ditemukan adalah rasa gatal dan sekret berbentuk
serat-serat pada mata. ;iasanya terdapat riwayat alergi pada keluarga.
Konjungtiva tampak putih seperti susu, dan terdapat banyak papila halus di
konjungtiva tarsal inferior. Konjungtiva palpebra superior sering memiliki papil
raksasa yang mirip batu kali. !etiap papila raksasa berbentuk poligonal, dengan
atap rata, dan mengandung berkas kapiler.
"
<apat pula ditemukan sekret yang berserabut dan pseudomembran
fibrinosa. !elain itu pseudogerontoDon +arkus, sering terlihat pada kornea dekat
limbus. ;intik-bintik tranta atau trantas dots adalah bintik-bintik putih yang
terlihat di limbus pada penyakit konjungtivitis vernal selama fase aktif. <i dalam
sediaan hapusan 7iemsa terdapat banyak sel eosinofil dan eosinofilik granul.
"
2. Kon%&ngti'itis Ato*i
Konjungtivitis atopik terjadi akibat reaksi alergi terhadap polen yang
disertai dengan demam. anda yang ditemukan adalah mata berair, bengkak, dan
sekret yang mengandung eosinofil.
5

Konjungtivitis ini berjalan bilateral dengan mengenai kedua mata.
<itemukan gejala seperti sensasi terbakar, merah, dan fotofobia pada
konjungtivitis atopik. Kemerahan terjadi pada tepi palpebra dan konjungtiva
tampak putih seperti susu. erdapat papila halus yang lebih sering terdapat pada
konjungtiva tarsal inferior. ;iasanya terdapat riwayat alergi di dalam keluarga.
Kebanyakan pasien pernah menderita dermatitis atopik sejak bayi.
"
Konjungtivitis atopik terjadi akibat hipersensitivitas tipe lambat pada
pasien. 'ndividu dengan atopik sering memiliki alergi pada lingkungan, asma,
rhinitis, dan dermatitis atopik. Kurang umum, orang-orang ini menunjukkan alergi
makanan, urtikaria, dan angioedema. 'munoglobulin 0 +'g0, adalah serum
mediator yang berfungsi pada konjungtivitis atopik.
55
-eaksi hipersensitivitas
berhubungan dengan tipe ' dan '? memberikan kontribusi pada perubahan
inflamasi dari konjungtiva dan kornea yang ditemukan di keratokonjungtivitis
atopik. !elama eksaserbasi, terjadi peningkatan air mata, serum 'g0 dan
peningkatan jumlah sel ;, sedangkan sel menurun.
5$

3. Kon%&ngti'itis Pa*ila!is "asasa
)mumnya, konjungtivitis papilaris raksasa dapat timbul pada pasien yang
menggunakan pengganti mata bahan plastik atau lensa kontak. Penyakit ini
merupakan hipersensitivitas tipe lambat. #pabila kebersihan ditingkatkan atau
tidak memakai lensa kontak, melainkan ka%amata, dapat terbebas dari
konjungtivitis jenis ini.
"
7ejala klinis pada konjungtivitis ini adalah hiperemi
bilateral sedang, sekret mukoid, dan gatal. Pada pemeriksaan ditemukan hipertrofi
papil pada konjungtiva tarsal superior.
/"

Penyebab terjadinya konjungtivitis papilaris raksasa dapat berupa sisa-sisa
debris pada permukaan lensa kontak yang terus dipakai tanpa dibersihkan dengan
baik, pemakaian prostesis okular, ulkus kornea, dan bekas jahitan pada mata yang
terpapar udara luar yang kotor. !terilisasi dengan %ara pemanasan, pembersihan
yang kurang baik, ujung lensa kontak yang kasar, dan penggunaan lensa kontak
yang lebih dari jangka waktunya juga dapat menyebabkan terjadinya
konjungtivitis papilaris raksasa.
5&


+a, +b,
7ambar a. Konjungtivitis papilaris raksasa b. Konjungtivitis dengan tanda klinis papila di konjungtivitis superior pada pasien pengguna lensa
kontak.
3.0.# Kon%&ngti'itis Jam&! ata& F&ngi
Konjungtivitis kandida merupakan peradangan konjungtiva yang disebabkan oleh
Candida spp, terutama oleh Candida albicans. Penyakit ini jarang terjadi dan umumnya
terlihat pada mata sebagai ber%ak putih. Keadaan ini tampak pada pasien diabetes atau
pasien yang terganggu kekebalan imun tubuhnya. Pada kerokan, ditemukan sel radang
polimorfonuklear.
"
Proses konjungtivitis kandida ini adalah proses hipersensitivitas tipe
lambat.
5*

7ambar konjungtivitis akibat >andida albi%ans pada mata kanan.
8amur lainnya yang dapat menyebabkan konjungtivitis adalah Sporothrix
schenckii, hinosporidium seeberi, dan Coccidioides immitis. Konjungtivitis jamur
Sporothrix schenckii jarang mengenai konjungtiva atau palpebra. 8amur ini menyebabkan
penyakit granulomatosa yang disertai dengan limfadenopati preaurikuler. Pada
pemeriksaan mikroskopik terdapat koni atau spora yang berbentuk %erutu dengan gram
positif.
5
Lesi khas pada konjungtivitis akibat hinosporidium seeberi berupa granuloma
polipoid yang mudah berdarah. Kadang jamur ini dapat mengenai konjungtiva, sakus
lakrimalis, palpebra, kanalikuli, dan sklera. Pada pemeriksaan histopatologik ditemukan
granuloma dengan spherula besar yang mengandung myriad endospora. Konjungtivitis
akibat Coccidioides immitis dapat menimbulkan konjungtivitis granulomatosa yang
memiliki gejala limfadenopati preaurikuler.
"

3.0.0 Ke!atoon%&ngti'itis Si88a
Keratokonjungtivitis si%%a adalah keringnya permukaan kornea dan konjungtiva
yang diakibatkan berkurangnya fungsi air mata. 7ejala yang sering ditemukan adalah(
gatal, mata seperti berpasir, fotofobia, dan penglihatan kabur. erdapat sekret mukus yang
berlebihan dan kelopak mata sukar untuk digerakkan. !elain itu juga terdapat edema
konjungtiva, hiperemia, mata tampak kering, dan kadang erosi kornea serta benang
mukus kekuning-kuningan pada konjungtiva forniks superior. !akit pada penyakit ini
makin terasa pada malam hari dan menjadi ringan di pagi hari. Keratokonjungtivitis si%%a
dapat terjadi pada sindrom sjogren.
",5

3.9 Diagnosis Banding
<iagnosis banding tipe konjungtivitis yang umum terjadi(
linis : sitologi 'i!al Bate!i lamidia ale!gia
7atal minimal 6inimal minimal hebat
1iperemia umum )mum
)mum umum
air mata profuse !edang
!edang sedang
0ksudasi minimal Profuse
Profuse minimal
limfadenopati
preaurikuler
umum 8arang 8arang
tidak ada
pewarnaan kerokan E
eksudat
monosit bakteri,
P6:
P6:, sel
plasma, badan
inklusi
eosinofil
sakit tenggorok E
demam yang
menyertai
kadang Kadang
tidak pernah tidak pernah
<iagnosis banding Konjungtivitis
Konjungtivitis Keratitis )veitis #nterior
7laukoma
Kongestif #kut
?isus :ormal
ergantung
letak infiltrat
6enurun
perlahan,
tergantung letak
radang 6enurun mendadak
1iperemi konjungtiva perikornea !iliar 6iD injeksi
0pifora, - 9 9 -
fotofobia
!ekret ;anyak - - -
Palpebra :ormal :ormal :ormal 0dema
Kornea 8ernih
;er%ak
infiltrat
7umpalan sel
radang
0dema, suram
+tidak bening,, halo
+9,
>@# >ukup %ukup !el radang +9, dangkal
1umor
#Fuous :ormal normal
!el radang +9,,
flare +9,, efek
tyndal+9, Kental
'ris :ormal normal Kadang edema
Kripta menghilang
karena edema
Pupil :ormal normal 6iosis
6id midriasis
+d(5mm,
Lensa :ormal normal
!el radang
menempel Keruh
3.; Peme!isaan Pen&n%ang
erdapat beberapa pemeriksaan penunjang untuk mendiagnosis konjungtivitis, yaitu(
",5,2,55,""
/. )ji eversi kelopak
Pemeriksaan ini ditujukan untuk melihat adanya infeksi yang terdapat pada konjungtiva
tarsal, sehingga dapat melihat tanda dan gejala yang diakibatkan oleh penyakit itu, seperti
folikel, papil, dan lainnya.
5. )ji s%hirmer
Pemeriksaan s%hirmer ini bertujuan untuk menilai kuantitas air mata dan menilai
ke%epatan sekresi. Pemeriksaan ini menggunakan selembar kertas tipis yang diletakkan
dibalik kelopak bawah mata selama 5 menit dengan atau tanpa obat anastetik. 6ata
kering pada konjungtivitis si%%a biasanya akan memberikan kertas basah yang lebih
pendek dibandingkan dengan yang normal. Pemeriksaan ini biasanya digunakan pada
konjungtivitis si%%a.
". !itologi konjungtiva
Pemeriksaan ini dilakukan untuk sel goblet konjungtiva. Pada orang normal banyak
terdapat sel goblet, tetapi pada penyakit keratokonjungtivitis si%%a dan trakoma, sel
goblet itu menghilang.
4. Pewarnaan khusus
Pewarnaan khusus dilakukan pada kasus konjungtivitis akibat bakteri agar dapat dilihat
jenis bakteri yang menjadi penyebabnya.
5. Kultur bakteri
Kultur konjungtiva dapat dilaksanakan pada semua kasus yang di%urigai akibat bakteri.
Kultur bakteri ini berfungsi untuk mendeteksi pengobatan yang %o%ok terhadap bakteri
itu.
$. Kultur virus
Kultur virus dilakukan dengan %ara menggunakan antigen yang sudah tersedia untuk
konjungtivitis viral, terutama akibat adenovirus. P>- dapat digunakan untuk mendeteksi
<:# virus.
&. es diagnosis klamidia
es untuk menegakkan bahwa konjungtivitis tersebut disebabkan oleh klamidia adalah
dengan %ara( tes antibody imunofloresens langsung dan en.yme-linked imunosorbent
assay +0L'!#,. es ini dapat mendeteksi konjungtivitis akibat klamidia.
*. ;iopsi
;iopsi konjungtiva dapat membantu pada kasus konjungtivitis yang tidak berespon pada
terapi. @leh karena mata tersebut mungkin mengandung keganasan, biopsy dapat
menyelamatkan penglihatan dan juga menyelamatkan hidup.
3.< Penatalasana
3.<.1 )ediamentosa
1. Kon%&ngti'itis bate!ial
Pengobatan untuk konjungtivitis bakterial harus disesuaikan dengan jenis
bakterinya. #pabila tidak ditemukan bakteri dalam sediaan langsung, maka
diberikan antibiotik spektrum luas dalam bentuk tetes mata atau salep mata,
seperti %ontohnya polymyDin-trimethoprim, sulfasetamid /4-/5B, kloramfenikol,
atau seftriakson /gram. etes mata antibiotik spektrum luas dapat diberikan setiap
jam dan salep mata dapat diberikan 4 sampai 5 kali sehari. Pada konjungtivitis
bakteri yang menghasilkan sekret purulen dan mukopurulen, maka harus
diirigasikan dengan %airan salin. Pada konjungtivitis bakterial sebaiknya
dimintakan pemeriksaan sediaan langsung +pewarnaan 7ram atau 7iemsa, untuk
mengetahui penyebabnya.
",5,2
Pengobatan untuk trakoma dapat diberikan tetrasiklin /-/.5 gramGhari 4
kali se%ara oral dengan dosis yang dibagi menjadi 4 dalam waktu " sampai 4
minggu, doksisiklin /44mg se%ara oral 5 kali untuk " minggu, eritromisin
/gramGhari se%ara oral yang dibagi menjadi 4 dosis dalam waktu " sampai 4
minggu. )ntuk anak berumur dibawah & tahun dan ibu hamil tidak dianjurkan
untuk menggunakan tetrasiklin oral karena merusak gigi dan mengganggu
pertumbuhan skeletal yang tidak normal. !alep atau obat tetes mata seperti(
sulfonamide, tetrasiklin, eritromisin, dan rifampin dapat digunakan 4 kali sehari
dalam $ minggu. #pabila terjadi trikiasis atau entropion, maka harus dilakukan
epilasi bulu mata, yaitu pen%abutan bulu mata dari kelopak mata yang mengarah
ke dalam agar tidak terjadi laserasi.
5,55
erapi pada konjungtivitis inklusi dibagi untuk bayi dan dewasa. Pada
bayi dengan konjungtivitis inklusi dapat diberikan suspensi eritromisin per os,
44GmgGkgGhari dalam 4 dosis terpisah kurang lebih untuk /4 hari. ;iasanya
antibiotik topikal tidak berguna lagi apabila sudah diobati dengan suspensi
eritromisin per os. @rang tua bayi pun harus diperiksa dan diobati. Pada orang
dewasa dapat diberikan tetrasiklin oral /-/.5 gGhari selama " minggu atau
doksisiklin oral /44 mgGhari dengan dosis 5 kali atau eritromisin /gGhari.
Pasangan pun harus diperiksa dan diobati.
55
Pada konjungtivitis purulen akut dan mukopurulen akibat bakteri, perlu
dilakukan irigasi pada kantung konjungtiva dengan %airan salin untuk
membersihkan sekret pada konjungtiva. :amun, irigasi mata ini tidak boleh
dilakukan se%ara rutin karena dapat merusak kandungan liso.im air mata.
Pemberian atropin topikal dilakukan apabila konjungtivitis tersebut melibatkan
kornea sehingga terjadi ulkus kornea. Pemakaian ka%amata hitam juga dianjurkan
untuk mengurangi fotofobia.
5"
2. Kon%&ngti'itis 5i!&s
Pengobatan pada konjungtivitis viral bersifat suportif dan simtomatik,
sehingga dapat diberikan kompres hangat dan dingin, astringen, dan lubrikasi.
Kompres hangat dan dingin, dan astringen diberikan untuk mengurangi gejala.
Pada kasus yang berat, dapat diberikan steroid dan antibiotik topikal atau oral
untuk men%egah terjadinya infeksi sekunder. Konjungtivitis herpetik diobati
dengan obat antivirus, asiklovir 444 mgGhari selama 5 hari.
5
#nalgetika dapat
diberikan untuk menghilangkan rasa sakit. !teroid tetes deksametason 4,/ B
dapat diberikan, tetapi pemakaian jangka panjang dapat berbahaya karena
memiliki efek samping yang merugikan.
5*

3. Kon%&ngti'itis Ale!gia
Pengobatan untuk konjungtivitis alergika dibagi " sesuai dengan berat
penyakitnya, yaitu konjungtivitis alergika ringan, konjungtivitis alergika sedang,
dan konjungtivitis alergika berat. Pada konjungtivitis alergika ringan, dirasakan
rasa gatal, berair, dan mata merah yang timbul, sehingga pengobatan yang %o%ok
untuk konjungtivitis alergika ringan ini adalah air mata artifisial dan kompres
dingin. #ir mata artifisial ini berfungsi untuk mengirigasikan dan melarutkan
alergen-alergen yang terdapat pada permukaan mata terutama bagian konjungtiva.
Pada konjungtivitis alergika sedang, rasa gatal, berair, dan mata merahnya terasa
lebih hebat dibandingkan dengan konjungtivitis alergika ringan.
",55
@leh karena
itu, pemberian antihistamin topikal dan mast cell stabilizer dapat diberikan untuk
menghilangkan gejala.
"5
Kadang antihistamin oral juga dibutuhkan. Penggunaan
:!#'< +non!steroid anti!inflamation drug, dapat pula digunakan pada
konjungtivitis sedang-berat jika diperlukan untuk mengobati peradangan. Pada
konjungtivitis alergika berat, dianjurkan untuk merujuk pasien kepada dokter
spesialis mata dan dapat diberikan pengobatan berupa( topikal atau oral
antihistamin, topikal kortikosteroid, mast %ell stabili.er, dan topikal :!#'<.
Penggunaan steroid jangka panjang harus diperhatikan karena memiliki banyak
efek sampingnya, seperti glaukoma, katarak, dan lainnya. Pemakaian topikal
:!#'< diperlukan apabila terjadi peradangan yang lebih lanjut.
",5
#. Kon%&ngti'itis F&ngi
Konjungtivitis fungi merupakan infeksi yang jarang terjadi. Penyakit ini
dapat diberikan obat berupa amphoteri%in ; "-*mgGmL dalam larutan air
"
atau
terhadap pemakaian krim nistatin kulit /44.444 unitGg 4 -$DGhari.
55
Pemberian
obat ini harus dengan hati-hati agar tidak masuk ke dalam sakus konjungtiva.
"
0. Ke!atoon%&ngti'itis si88a
Pengobatan pada penyakit ini ditujukan untuk mengganti dan menjaga
kelembapan mata sehingga menghasilkan %airan mata yang %ukup untuk
membasahi bola mata. 6aka diberikan air mata buatan selamanya.
",5
3.<.2 Non mediamentosa
!elain diberikan obat-obatan, pasien juga harus diberikan edukasi agar tidak
mudah terkena bahan-bahan penyebab konjungtivitis. 6aka edukasi yang diberikan
adalah(
2,5&,"4
<iajarkan untuk menghindari terjadinya penularan infeksi konjungtiva dengan %ara(
idak menggosok mata yang sakit dan kemudian menyentuh mata yang sehat dengan
tangan yang sama.
6enjaga kebersihan dengan %ara men%u%i tangan setiap kali memegang mata yang sakit.
6enggunakan sapu tangan atau kain yang dapat langsung dibuang pada tempatnya.
#pabila menggunakan lensa kontak, dilakukan pembersihan lensa kontak yang baik dan
benar, dan menggunakan sesuai dengan masa berlaku.
6emakai ka%amata renang di saat berenang.
'stirahat yang %ukup.
Batas superior : daerah alis danrima orbita superior.

Batas inferior : dari rima orbitainferior sampai ke kulitnasojugal dan lipatan


malar.

Lebar horizontal fsura =30 mmvertikal !"0 mm