Anda di halaman 1dari 11

TEORI AKUNTANSI

BAB 2-PENALARAN






ANGGOTA KELOMPOK 8:
1. Fajar Noegroho 2012310879
2. Indah Tri Rachmasari 2012310811
3. Marlina aryani 2012310823
4. Nadya Moefidha s 2012310834
5. Ukti Nabila 2012310849
6. Cynthia Loura P 2012310181


KELAS G




STIE PERBANAS SURABAYA

PENGERTIAN
Penalaran adalah proses berpikir logis dan sistematis untuk membentuk dan
mengevaluasi suatu keyakinan terhadap suatu pernyataan atau asersi. Pernyataan dapat berupa
teori (penjelasan) tentang suatu fenomena atau realitas alam , ekonomik, politik, atau sosial.
UNSUR DAN STRUKTUR PENALARAN
Struktur dan proses penalaran dibangun atas dasar tiga konsep penting yaitu asersi
(assertion), keyakinan (belief), dan argument (argument). Struktur penalaran menggambarkan
hubungan ketiga konsep tersebut dalam menghasilkan daya dukung atau bukti rasional terhadap
keyakinan tentang suatu pernyataan.
Asersi adalah suatu pernyataan (biasanya positif) yang menegaskan bahwa sesuatu
(misalnya teori) adalah benar. Bila seseorang mempunyai kepercayaan (confidence) bahwa
statemen keuangan itu bermanfaat bagi investor adalah benar, maka pernyataan statemen
keuangan itu bermanfaat bagi investor merupakan keyakinannya. Asersi mempunyai fungsi
ganda dalam penalaran yaitu sebagai elemen pembentuk (ingredient) argument dan sebagai
keyakinan yang dihasilkan oleh penalaran (berarti simpulan). Artinya keyakinan yang dihasilkan
dinyatakan dalam bentuk asersi pula.
Keyakinan adalah tingkat ketersediaan (willingness) untuk menerima bahwa suatu
pernyataan atau teori (penjelasan) mengenai suatu fenomena atau gejala (alam atau sosial) adalah
benar. Keyakinan merupakan unsure penalaran karena keyakinan menjadi objek atau sasaran
penalaran, keyakinan menentukan posisi (paham) dan sikap seseorang terhadap suatu masalah
yang menjadi topic bahasan.
Argument adalah serangkaian asersi beserta keterkaitan (artikulasi) dan inferensi atau
penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu keyakinan. Bila dihubungkan dengan
argument, keyakinan adalah tingkat kepercayaan yang dilekatkan pada suatu pernyataan konklusi
atas dasar pemahaman dan penilaiaan suatu argument sebagai
bukti yang masuk akal.
ASERSI
Pada umumnya asersi dinyatakan dalam bentuk kalimat. Berikut ini beberapa asersi dalam
akuntnasi:
Manusia adalah makhluk sosial
Semua binatang menyusui mempunayi paru-paru
Beberapa obat batuk menyebabkan kantuk
Tidak ada ikan hias yang melahirkan
Partisispasi mempengaruhi kinerja
Statemen aliran kas bermamfaat bagi investor dan kreditor
Perusahaan besar akan memiliki metoda MPKP
Informasi sumber daya manusia harus dicamtumkan di naraca
Dalam sektor publik, anggaran merupakan alat pengendalian dan pengawasan yang
paling handal.

INTERPRETASI ASERSI
Untuk menerima kebenaran suatu asersi, harus dipastikan lebih dahulu apa arti atau
maksud esersi. Sangat penting sekali untuk memahami arti asersi untuk menentukan kenyakinan
terhadap kebenaran asersi tersebut. Untuk dapat memahami maksud asersi, orang juga harus
mempunyai pengetahuan tentang subjek atau topik yang dibahas. Kesalahan interprentasi dapat
terjadi karena dua bentuk asersi yang berbeda, dapat berarti dua hal yang sama atau dua hal yang
sangat berbeda.

JENIS ASERSI (PERNYATAAN)
Untuk menimbulkan keyakinan terhadap kebenaran suatu asersi, asersi harus didukung
oleh bukti atau fakta. Untuk keperluan argumen, suatu asersi sering dianggap benar atau diterima
tanpa harus di uji dahulu kebenarannya. Bila dikaitkan dengan fakta pendung, asersi dapat di
klasifikasikan menjadi asumsi (assumption), hipotesis (hypothesis), dan pernyataan fakta
(statement of fact).
Asumsi adalah asersi yang diyakini benar meskipun orang tidak dapat mengajukan atau
menunjukkan bukti tentang kebenarannya secara metakinkan atau asersi yang orang bersedia
untuk menerima sebagai benar untuk keperluan diskusi atau debat.
Hipotesis adalah asersi yang kebenarannya belum atau tidak di ketahui tetapi diyakini
bahwa asersi tersebut dapat diuji kebeneraunnya. Untuk disebut sebagai hipotesis, suatu asersi
juga harus meangndung kemungkinan salah. Bila tidak ada kemungkinan salah, suatu asersi akan
menjadi pernyataan fakta. Hipotesis biasanya diajukan dalam rangka pengujian teori. Dalam
pengujian ilmiah suatu teori (hipotesis), terdapat prinsip yang disebut prinsip keterbuktisalahan
(principle of falsifiability) yang berbunyi bahwa untuk diperlakukan sebangai teori yang serius
dan ilmiah, harus dapat dibuktikan slah kalau memang kenyataannya salah. Teori yang kuat atau
yang menyakinkan adalah teori yang tidak hanya dapat dibuktikan salah tetapi juga yang tegar
bertahan tehadap segala upanya untuk membuktikan salah.

FUNGSI ASERSI
Asersi merupakan bahan olah dalam argumen, dalam argumen asensi dpat berfungsi
sebagai premis dan konklusi. Premis adalah asensi yang digunakan untuk mendukung suatu
konklusi. Konklusi adalah asersi yang diturunkan dari serangkaian asersi. Suatu argumen paling
tidak berisi satu primis atau konklusi. Karena premis dan konklusi keduanya merupakan asersi,
konklusi (berbentuk asersi) dalam suatu argumen dapat menjadi premis dalam argumen lain.
KEYAKINAN
Keyakinan adalah tingkat kebersediaan (willingness) untuk menerima bahwa suatu
pernyataan atau teori (penjelasan) mengenai suatu fenomena atau gejala (alam dan sosial) adalah
benar. Orang mendapatkan keyakinan akan suatu pernyataan kerena dia melakukan kepercayaan
terhadap peryataan tersebut. Orang dapat dikatakan mempunyai keyakinan yang kuat kalau dia
bersedia bertindak (berpikir, berperilaku, berpendapat, atau berasumsi) seakan-akan keyakian
tersebut benar. Keyakinan merupakan unsur penting penalaran karena keyakinan menjadi objek
atau sarana penalaran dan karena keyakinan menentukan posisi (paham) dan sikap seseorang
terhadap suatu masalah yang menjadi topik bahasan.
Keyakinan terhadap asersi adalah tingkat kebersediaan untuk menerima bahwa asersi
tersebut benar. Keyakinan diperoleh karena kepercayaan (confidence) tentang kebenaran yang
dilekatkan pada suatu asersi. Suatu asersi dapat dipercaya karena adanya bukti yang kuat untuk
menerimanya sebagai hal yang benar.
Berbagai faktor mempengaruhi tingkat keyakinan seseorang atas suatu asersi.
Karakteristik (sifat) asersi menentukan mudah-tidaknya keyakinan seseorang dapat diubah
melalui penalaran.

PROPERITAS KEYAKINAN
Semua penalaran bertujuan untuk menghasilkan keyakinan terhadap asersi yang menjadi
konklusi penalaran. Pemahaman terhadap beberapa properitas (sifat) keyakinan sangat penting
dalam mencapai keberhasilan berargumen. Argumen dianggap berhasil kalau argumen tersebut
dapat mengubah keyakinan. Berikut ini dibahas properitas keyakinan yang perlu disadari dalam
berargumen.

KEADABENARAN
Sebagai produk penalaran, untuk dapat menimbulkan keyakinan, suatu asersi harus ada
benarnya (plausible). Keadabenaran atau plausibilitas (plausibility) suatu asersi bergantung pada
apa yang diketahui tentang isi asersi atau pengetahuan yang mendasari (the underlying
knowledge) dan pada sumber asersi (the source). Pengetahuan yang mendasari (termasuk
pengalaman) biasanya menjamin kebenaran asersi.
BUKAN PENDAPAT
Keyakinan adalah sesuatu yang harus dapat ditunjukkan atau dibuktikan secara objektif
apakah salah atau benar dan sesuatu yang diharapkan menghasilkankesepakatan (agreement)
oleh setiap-tiap orang yang mengevaluasinya atas dasar fakta objektif. Pendapat atau opini
adalah asersi yang tidak dapat ditentukan benar atau salah karena berkaitan dengan kesukaan
(preferensi) atau selera. Berbeda dengan keyakinan, plausibilitas pendapat tidak dapat
ditentukan. Artinya, apa yang benar bagi seseorang dapat salah bagi yang lain. Walaupun dalam
kenyataannya kedua konsep tersebut tidak dibedakan secara tegas, penalaran logis yang dibahas
di sini lebih ditujukan pada keyakinan daripada pendapat.

BERTINGKAT
Keyakinan yang didapat dari suatu asersi tidak bersifat mutlak tetapi bergradasi mulai
dari sangat maragukan sampai sangat meyakinkan (convincing). Tingkat keyakinan ditentukan
oleh kuantitas dan kualitas bukti untuk mendukung asersi. Orang yang objektif dan berpikir logis
tentunya akan bersedia untuk mengubah tingkat keyakinannya manakala bukti baru mengenai
plausibilitas suatu asersi diperoleh.


BERBIAS
Selain kekuatan bukti objektif yang ada, keyakinan dipengaruhi oleh preferensi,
keinginan, dan kepentingan pribadi yang karena sesuatu hal perlu dipertahankan. Idealnya, dalam
menilai plausibilitas suatu asersi orang harus bersikap objektif dengan pikiran terbuka (open
mind). Pada umumnya, bila orang mempunyai kepentingan, sangat sulit baginya untuk bersikap
objektif. Dengan bukti objektif yang sama, suatu asersi akan dianggap sangat meyakinkan oleh
orang yang mempunyai kepentingan pribadi yang besar dan hanya dianggap agak atau kurang
meyakinkan oleh orang yang netral. Demikian pula sebaliknya.

BERMUATAN NILAI
Orang melekatkan nilai (value) terhadap suatu keyakinan. Nilai keyakinan adalah tingkat
penting-tidaknya suatu keyakinan perlu dipegang atau dipertahankanseseorang. Nilai keyakinan
bagi seseorang akan tinggi apabila perubahan keyakinanmempunyai implikasi serius terhadap
filosofi, sistem nilai, martabat, pendapatanpotensial, dan perilaku orang tersebut.

BERKEKUATAN
Kekuatan keyakinan adalah tingkat kepercayaan yang dilekatkan seseorang pada
kebenaran suatu asersi. Orang yang nyatanya tidak mengerjakan apa yang terkandung dalam
asersi menandakan bahwa keyakinannya terhadap kebenaran asersi lemah. Dapat dikatakan
bahwa semua properitas keyakinan merupakan faktor yang menentukan tingkat kekuatan
keyakinan seseorang.

VERIDIKAL
Veridikalitas (veridicality) adalah tingkat kesesuaian keyakinan dengan realitas. Realitas
yang dimaksud di sini adalah apa yang sungguh-sungguh benar tentang asersi yang diyakini.
Veridikalitas adalah mudah tidaknya fakta ditemukan dan ditunjukkan untuk mendukung
keyakinan.
BERKETERTEMPAAN
Ketertempaan (malleability) atau kelentukan keyakinan berkaitan dengan mudah-
tidaknya keyakinan tersebut diubah dengan adanya informasi yang relevan. Berbeda dengan
veridikalitas, ketertempaan tidak memasalahkan apakah suatu asersi sesuai atau tidak dengan
realitas tetapi lebih memasalahkan apakah keyakinan terhadap suatu asersi dapat diubah oleh
bukti. Kelentukan ini biasanya ditentukan oleh kesungguhan pemegang keyakinan, lamanya
keyakinan telah dipegang (baik secara pribadi maupun secara sosial/umum), dan konsekuensi
perubahan keyakinan bagi diri pemegang.
ARGUMEN
Argumen adalah serangkaian asersi beserta keterkaitan (artikulasi) dan inferensi atau
penyimpulan yang digunakan untuk mendukung suatu keyakinan. Bila dihubungkan dengan
argumen, kenyakinan adalah tingkat kepercayaan yang dilekatkan pada suatu pernyataan
konklusi atas dasar pemahaman dan penilaian suatu argumen sebagai bukti yang masuk akal.
Oleh karena itu, argumen menjadi unsur penting dalam penalaran kerena digunakan dalam
membentuk, memelihara,atau mengubah suatu keyakinan.

JENIS ARGUMEN
Klasifikasi yang ditinjau dari bagaimana penalaran (reasoning) diterapkan untuk
menurunkan konklusi merupakan klasifikasi yang sangat penting. Dalam hal ini, argumen dapat
diklasifikasi menjadi argumen deduktif dan induktif.

ARGUMEN DEDUKTIF
Argumen atau penalaran deduktif adalah proses penyimpulan yang berawal dari suatu
pernyataan umum yang disepakati (premis) ke pernyataan khusus sebagai simpulan (konklusi).
Argumen deduktif disebut juga argumen logis (logical argument) sebagai pasangan argumen ada
benarnya (plausible argument). Argumen logis adalah argumen yang asersi konklusinya tersirat
(implied) atau dapat diturunkan/dideduksi dari (deduced from) asersi-asersi lain (premis-premis)
yang diajukan.

EVALUASI PENALARAN DEDUKTIF
Tujuan utama menevaluasi argument adalah untuk menentukan apakah konklusi
argument benar dan meyakinkan. Untuk menilai suatu argument deduktif (logis), Nickerson
(1986) mengajukan empat pernyataan yang harus di jawab yaitu:
1. Apakah tia lengkap
2. Apakah artinya jelas
3. Apakah tia valid (apakah konklusi mengikuti premis)
4. Apakah premis dapat dipercaya (diterima)
Keempat pertanyaan itu merupakan criteria dalam evaluasi. Kelengkapan
merupakancriteria yang penting karena validitas konklusi menjadi kurang meyakinkan bila
premis-premis yang diajukan tidak lengkap.
Kejelasan arti diperlukan karena keyakinan merupakan fungsi kejelasan makna.
Kejelasan tidak hanya diterapkan untuk makna premis tetapi juga untuk hubungan antar premis.
Kesasihan merupakan criteria utama untuk menilai penalaran logis. Validitas berkaitan
dengan struktur struktur formal argument.
Keterpercayaan melengkapi ketiga criteria sebelumnya agar konklusi meyakinkan
sehingga orang bersedia menerima.

ARGUMEN INDUKTIF
Penalaran ini berawal dari suatu pernyataan atau keadaan yang khusus dan berakhir
dengan pernyataan umum yang merupakan generalisasi dari keadaan khusustersebut. Berbeda
dengan argumen deduktif yang merupakan argumen logis (logical argument), argumen induktif
lebih bersifat sebagai argumen ada benarnya (plausible argument).

ARGUMEN DENGAN ANALOGI
Argumen induktif sebenarnya merupakan salah satu jenis penalaran nondeduktif. Salah
satu penalaran nondeduktif lainnya adalah argumen dengan analogi (argument by analogy).
Penalaran dengan analogi adalah penalaran yang menurunkan konklusi atas dasar kesamaan atau
kemiripan (likeness) karakteristik, pola, fungsi, atau hubungan unsur (sistem) suatu objek yang
disebutkan dalam suatu asersi. Analogi bukan merupakan suatu bentuk pembuktian tetapi
merupakan suatu sarana untuk meyakinkan bahwa asersi konklusi mempunyai kebolehjadian
untuk benar. Dengan kata lain, bila premis benar, konklusi atas dasar analogi belum tentu benar.

ARGUMEN SEBAB AKIBAT
Menyatakan konklusi sebagai akibat dari asersi tertentu merupakan salah satu bentuk
argument yang disebut argument dengan penyebabab atau generealisasi kausal. Hubungan
penyebaban biasanya dinyatakan dalam struktur X yang menghasilkan Y atau X memaksa Y
terjadi atau X menyebabkan Y terjadi atau Y terjadi akibat X atau Y berubah Karena X berubah.

KRITERIA PENYEBABAN
1. Harus dipenuhi karena hubungan sebab akibat akan terjadi jika ada perubahan baik faktor
sebab maupun faktor akibat.
2. Harus dipenuhi karena penyebaban menuntut adanya pengaruh satu faktor terhadap faktor
yang lain dalam selang waktu tertent.
3. Untuk meyakinkan bahwa faktor sebab benar-benar menyebabkan faktor akibat, criteria
harus dipenuhi.

PENALARAN INDUKTIF DALAM AKUNTANSI
Penalaran indukif dalam akuntansi pada umunya digunakan untuk menghasilkan
pernyataan umum yang menjadi penjelasan (teori) terhadap gejala akuntansi tertentu.
Pernyataan-pernyataan umum tersebut biasanya berasal dari hipotesis yang diajukan dan diuji
dalam suatu penilaian empiris.

KECOHAN
Dalam kehidupan sehari-hari acapkali dijumpai bahwa argument yang jelek,lemah, tidak
sehat,atau bahkan tidak masuk akal ternyata mampu meyakinkan banyak orang sehingga mereka
terbujuk oleh argument tersebut padahal seharusnya tidak. Bila hal ini terjadi, akan banyak
praktik,perbuatan, atau tindakan dalam masyarakat yang dilandasi oleh teori atau landasan yang
tidak sehat. Akibatnya praktik itu sendiri menjadi tidak sehat.
PERSUASI TAK LANGSUNG
Persuasi tak langsung merupakan stratagem untuk meyakinkan seseorang akan kebenaran
suatu pernyataan bukan langsung melalui argument atau penalaran melainkan melaalui cara-cara
yang sama sekali tidak berkaitan dengan validitas argument.

MEMBIDIK ORANGNYA
Stratagem ini digunakan untuk melemahkan atau menjatuhkan suatu posisi atau
pernyataan dengan cara menghubungkan pernyataan atau argument seseorang dengan pribadi
orang tersebut.

MENYAMPINGKAN MASALAH
Stratagem ini dilakukan dengan cara mengajukan argument yang tidak bertumpu pada
masalah pokok dengan cara mengalihkan masalah ke masalah yang lain yang tidak bertautan.

MISREPRESENTASI
Stratagem ini digunakan biasanya untuk menyanggah atau menjatuhkan posisi lawan
dengan cara memutarbalikkan atau menyembunyikan fakta baik secara halus atau terang-
terangan.

IMBAUAN CACAH
Stratagem ini digunakan untuk mendukung suatu posisi dengan menunjukkan bahwa
banyak orang melakukan apa yang dikandung posisi tersebut.

IMBAUAN AUTORITAS
Stratagem ini mirip dengan imbauan cacah kecuali bahwa banyaknya orang atau
popularitas diganti dengan autoritas

SALAH NALAR
Suatu argument boleh jadi tidak meyakinkan atau persuatif karena argument tersebut
tidak didukung dengan penalaran yang valid. Salah nalar terjadi apabila penyimpulan tidak
didasarkan pada kaidah-kaidah penalaran yang valid . jadi salah nalar adalah kesalahan struktur
atau proses normal penalaran dalam menurunkan simpulan sehingga simpulan menjadi salah atau
tidak valid.

ASPEK MANUSIA DALAM PENALARAN
Beberapa aspek manusia yang dapat menjadi penghalang penalaran dan pengembangan
ilmu:
KEPENTINGAN MENGALAHKAN NALAR
Hambatan sering muncul akibat seseorang mempunyai kepentingan tertentu yang harus
dipertahankan kepentingan sering memaksa seseorang untuk memihak suatu posisi
meskipun posisi tersebut sangat lemah dari segi argument.
SINDROMA TES MINIS
Sindorma ini menggambarkan seseorang yang merasa (bahkan yain) bahwa terdapat
ketidakpastian dalam tubuhnya dan dia juga tahu benar apa yang terjadi karena
pengetahuannya tentang suatu penyakit.
MENTALITAS DJOKO TINGKIR
Ilmuwan atau akademisi yang merasa ada di bawah kekuasaan kolega senior sering
memihak seniornya dan mengajarkan apa yang sebenarnya salah dengan menyembuyikan
apa yang sebenarnya valid semata-mata untuk menghormati kolega senior (atau
kelompoknya) atau untuk melindungi diri dari tekanan senior. Budaya Djoko Tingkir
digunakan untuk menggambarkan lingkungan kademik aau profesi seperti ini karena
konn perbuatan Djoko Tingkir yang tidak terpuji harus dibuat menjadi terpuji dengan cara
mengubah scenario yang sebenarnya terjadi semata-mata untuk menghormatinya karena
dia bakal mejadi raja (kekuasaan).
MERASIONALKAN DARIPADA MENALAR
Sikap merasionalkan posisi dapat terjadi karena keterbatasan pengetahuan orang
bersangkutan dalam topic yang dibahas tetapi orang tersebut tidak mau mengakuinya.
Agar argument berjalan dengan baik, para penalar palig tidak harus mempnyai
pengetahuan yang cukup dalam topic yang dibahas.
PERSISTENSI
Sampai tingkat tertentu persistensi merupakan sikap yang penting agar orang tidak
dengan mudahnya pindah dari keyakinan atau paradigma yang satu ke yang lain.