Anda di halaman 1dari 10

MAKALAH

TEMBAGA DALAM KEHIDUPAN KITA









DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 11
KIMIA DASAR 06 R
21. MASRUL WISMA WIJAYA (1406533296)
22.SALSABILA MARDHIYAH (1406533301)
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS INDONESIA
I. PENDAHULUAN
Tembaga atau copper adalah logam yang banyak ditemukan secara alamiah di
di lingkungan dan disebarkan melalui fenomena alam. Manusia banyak menggunakan
dan memanfaatkan tembaga dalam hal industri atau pertanian. Produksi tembaga
meningkat pada dekade terakhir ini, sehingga jumlah tembaga di lingkungan
meningkat.
Tembaga sendiri banyak digunakan dalam industri metalurgi, tekstil,
elektronika dan juga pembuatan cat anti karat (anti fouling), bahan pestisida dan
pengendalian makro-invertebrata dalam bidang pertanian, selain itu juga digunakan
dalam bahan pengawet kayu, pengolahan air.
Stok tembaga di alam terbagi menjadi 2 sumber, yaitu penyimpanan
endogenik alamiah (inti bumi, mantel bumi, dan lempeng bumi) serta penyimpanan
eksogenik alamiah (biomassa, perairan air tawar, samudera, dan atmosfer). Inti bumi
memiliki kandungan tembaga paling tinggi, yaitu sebesar 125 ppm (125) akibat
formasi awal pembentukan inti bumi itu sendiri (McDonnough, 1998). Sisa bahan
organik seperti dedaunan kering mengandung tembaga dengan kadar 10 ppm (Hewitt
dan Smith, 1975).
Tembaga merupakan zat mikronutrien, zaitu zat yang dibutuhkan oleh tubuh
dalam jumlah kecil, namun sangat esensial. Tembaga merupakan komponen beberapa
enzim yang dibutuhkan untuk fungsi metabolisme tubuh manusia. Konsumsi tembaga
berlebih atau defisiensi tembaga dapat menganggu kelangsungan hidup manusia.
Tembaga adalah salah satu logam berat yang dapat memberikan efek negatif
bagi organisme secara fisik maupun hingga tingkat sel. Telah banyak penelitian
mengenai efek yang terjadi dari pemaparan tembaga, diantaranya menyebabkan
perubahan tingkah laku serta melemahkan respon elektrik (Di Gulio and Hinton
2008).






II. ISI
1. Aspek-aspek kimia tembaga
a. Tembaga () memiliki nomor atom 29 ( []

)
sehingga berada di golongan IB periode ke-4 di tabel periodic (unsur
transisi periode 4)
b. bersifat logam, sehingga cenderung melepas elektron dan menjadi ion
positif (kation)
c. mempunyai sifat paramagnetik lemah, karena hanya mempunyai 1 elektron
tidak berpasangan pada orbital s

)
d. memiliki bilangan oksidasi +1 dan +2, tetapi tembaga dengan bilangan
oksidasi +1 jarang ditemukan, karena cenderung hanya bisa stabil dalam
bentuk senyawa kompleks, contoh [

] (Kalium disianokuprat).
e. Garam-garam tembaga divalen, seperti

bersifat sulit
larut dalam air. Sedangkan

bersifat sangat
mudah larut dalam air (Hefni Effendi, 2003).Tembaga juga larut dalam asam
nitrat konsentrasi sedang (8M), dengan reaksi :



f. Tabel Karakteristik atom
Karakteristik atom
Fase Solid
Elektronegativitas 1,90 (skala Pauling)
Energi ionisasi 745,5 kJmol
-1

Jari-jari atom 128 pm
Massa atom standar 63,546
Titik lebur 1357,77 K
Titik didih 2835 K
2. Daur tembaga di alam
Konsentrasi tembaga (dalam bentuk ion


)paling besar berpusat pada batuan sedimen pada inti
bumi, yaitu sebesar 125g/g (McDonnough, 1998). Aktivitas vulkanis menyebabkan
partikel-partikel tembaga ikut keluar bersama lava dan terpapar di atmosfer. Di
atmosfer sendiri, konsentrasi tembaga adalah sebesar 810
-7
g/g (Raunch, et al,
2009). Partikel-partikel tembaga ikut terkondensasi dan turun bersama hujan di
sungai, laut, dan daratan. Hasil panen, biomassa darat, dan organisme laut juga
menyimpan sejumlah kecil konsentrasi tembaga. Tembaga yang berada di tanah akan
diserap oleh tumbuhan dan akan digunakan sebagai proses pembentukan klorofil.
Kemudian tembaga akan berpindah ke konsumen, yaitu hewan dan manusia.
Konsentrasi tembaga di sungai akan mengendapkan tembaga itu sendiri menuju
lautan. Berat jenis tembaga yang besarnya mencapai 8,930 kg/m
3
menyebabkan
tembaga mudah untuk mengendap di dasar lautan. Akhirnya setelah melalui proses
ratusan tahun, tembaga kembali pada bentuk batuan sedimen di mantel dan inti bumi.
Manusia juga berperan menambah konsentrasi tembaga di lingkungan, yaitu melalui
proses emisi asthropogenik, yaitu paparan akibat industri produksi metal (biasanya di
kawasan industri)

3. Pengaruh tembaga terhadap organisme di bumi
Tembaga merupakan zat mikronutrien (mikro mineral) yang dibutuhkan dalam
jumlah sedikit (<0,05% berat tubuh manusia), tetapi sangat essensial bagi
keberlangsungan hidup kita. Tembaga dan beberapa unsur logam bersama dengan
asam amino, asam lemak, serta vitamin diperlukan untuk proses metabolisme normal.
Tembaga (bersama protein lain) memroduksi enzim yang bertindak sebagai katalis
untuk menjalankan serangkaian fungsi metabolism tubuh. Selain itu tembaga
menyediakan energi melalui reaksi biokimia, transformasi melanin untuk pigmentasi
kulit, dan memperbaiki jaringan yang rusak
Kelebihan kadar tembaga dalam tubuh manusia sangat berbahaya.
Keberadaannya yang berlebih pada tubuh, bisa menyebabkan keracunan di hati.
Jumlah tembaga yang akut (>30mg/liter) dapat menyebabkan gejala peradangan usus,
mual, kejang, dan muntah. Kelebihan tembaga dapat terjadi karena mengkonsumsi
suplemen tembaga atau menggunakan alat memasak terbuat dari tembaga, terutama
apabila digunakan untuk memasak cairan yang bersifat asam. Sumber-sumber
tembaga bisa diperoleh dari tiram, kerang, kacang-kacangan, serealia, biji-bijian, hati,
unggas. Jumlah rekomendasi konsumsi tembaga perhari adalah 0,9 mg (New
Hampshire Department of Environmental Services, 2013)
Paparan tembaga yang terlampau tinggi pada lingkungan bisa menimbulkan
dampak negatif terhadap komponen biotik maupun abiotik. Pencemaran logam berat
pertama kali berdampak langsung terhadap tumbuhan. Fitotoksisitas logam berat
dapat mempengaruhi beberapa aspek dari tumbuhan misalnya aspek fisiologis,
anatomis, dan biokimia. Dampak nyata dari fitotoksisitas logam berat adalah
munculnya nekrosis (kematian jaringan), klorosis (kekurangan klorofil) dan kelayuan.
Sedangkan pada hewan, beberapa studi menunjukkan bahwa ikan Trout, Koi, dan
beberapa spesies ikan sangat sensitif terhadap kadar tembaga yang larut dalam air.
Pada kasus pemberian senyawa Tembaga (II) Sulfat (sebagai herbisida : CuSO
4
) pada
danau untuk mengontrol pertumbuhan alga , banyak ikan yang mati. Hal ini
disebabkan paparan tembaga serta kondisi penipisan oksigen di dalam air.

4. Satuan yang menyatakan kandungan zat dalam larutan
a. Part per million (ppm)
PPM atau bagian per juta adalah perbandingan jumlah suatu senyawa dalam
satu juta bagian sistem.




misalkan kandungan Cu dalam air sungai adalah 20ppm, maka dalam 1
kilogram air sungai terdapat 20 mg Cu. Ingat bahwa 1 kg=10
6
mg. Satuan
mg/kg dapat diubah menjadi g/ml, asalkan pelarutnya adalah air. Air memiliki
densitas 1g/ml, sehingga dalam 1 liter, air juga mempunyai massa 1kg.

b. Persen volume (kadar larutan)
Persen volume (kadar larutan) merupakan perbandingan zat terlarut dengan
volume larutan dalam persen.




misalkan larutan 200gr gula 10%, maka dibutuhkan 20gr gula dan massa
pelarut adalah 180gr.
c. Molaritas
Molaritas (M) adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter larutan (atau jumlah
milimol zat terlarut dalam 1mL larutan)




misalkan ada 0,4M HCl, maka dalam 1 liter larutan terdapat 0,4 mol HCl

5. Sifat Karsinogenik dan Radikal Bebas
a. Karsinogenik adalah substansi kimia atau sebuah campuran dari substansi
kimia yang dapat memicu sel kanker atau mempengaruhi peningkatan
timbulnya kanker. Klasifikasi dari sebuah bahan kimia yang bersifat sebagai
zat karsinogen adalah berdasarkan dari bahan bahan yang melekat pada
substansi tersebut dan tidak menyediakan informasi pada level risiko kanker
pada manusia di mana kegunaan dari kimia dapat tersampaikan.
Selain itu, studi tentang sifat karsinogenik (penyebab kanker) belum
menemukan bukti yang kuat. Berdasarkan EPA (US Environmental Protection
Agency), tembaga dikaterogikan sebagai karsinogen grup D (inadequate
evidence to classify).
b. Radikal bebas adalah molekul molekul dengan elektron elektron yang
tidak berpasangan. Dalam mencari elektron yang lainnya, mereka sangat
reaktif dan menyebabkan kerusakan pada molekul molekul di sekitarnya.
Tetapi, radikal bebas juga berguna untuk membantu reaksi reaksi penting
dalam tubuh kita dan bisa digunakan dalam dunia farmasi (obatobatan),
pembuatan plastik, dan barang barang inovatif lainnya.

6. Chemical Nutrients
Chemical Nutrients yang dibutuhkan tanaman untuk dapat tumbuh dengan subur
dibagi menjadi dua, yaitu nutrisi non mineral dan nutrisi mineral. Nutrisi non -
mineral yaitu Hidrogen (H), Oksigen (O), dan Karbon (C). Ketiga bahan kimia
tersebut dapat ditemukan di air dan udara sekitar kita. Nutrisi mineral adalah nutrisi
yang dapat di temukan dari tanah. Nutrisi mineral ini terlarut ke dalam air dan diserap
oleh tanaman melalui akar tanaman. Nutrisi mineral terbagi menjadi dua, yaitu
makronutrien dan mikronutrien. Makronutrien dapat dipecah menjadi dua, yaitu
nutrisi primer dan nutrisi sekunder. Nutrisi primer yaitu Nitrogen (N), Fosfor (P), dan
Kalium (K). Nutrisi primer ini biasanya menjadi berkurang kandungannya di dalam
tanah, karena tanaman menggunakan nutrisi primer ini dalam jumlah yang besar
untuk pertumbuhan mereka dan untuk bertahan hidup. Nutrisi sekunder yaitu Kalsium
(Ca), Magnesium (Mg), dan Belerang (S). Nutrisi sekunder ini dapat ditemukan di
tanah dalam jumlah yang cukup. Mikronutrien adalah elemen yang sangat diperlukan
untuk pertumbuhan tanaman. Tetapi pada dasarnya mikronutrien hanya dibutuhkan
dalam jumlah yang sangat sedikit (mikro). Mikronutrien yaitu Boron (B), tembaga
(Cu), besi (Fe), Klorida (Cl), Mangan (Mn), Molybdenum (Mo), dan Seng (Zn).
Dalam hal ini, tembaga termasuk ke dalam micronutrient, yaitu nutrisi yang
dibutuhkan tumbuhan dalam jumlah yang kecil. Peran tembaga itu sendiri dalam
membantu pertumbuhan tanaman diantaranya yaitu :
a. Berperan penting dalam pertumbuhan redproduktif tanaman
b. Membantu metabolisme akar tanaman
c. Membantu pemanfaatan protein dalam tubuh tanaman



7. Chemical Nutrients pada Pupuk Buatan
Chemical Nutrients yang biasanya masih perlu ditambahkan dalam bentuk Fertilizer
adalah nutrisi mineral. Nutrisi mineral terdapat dalam tanah, terlarut dalam air dan
diserap oleh tumbuhan melalui akar. Nutrisi mineral tidak selalu terdapat dalam tanah
dalam jumlah yang cukup untuk membantu tanaman untuk tumbuh dengan subur,
karena bahan tersebut terbentuk dari proses alamiah, yaitu penguraian tanaman
tanaman yang sudah mati. Proses tersebut membutuhkan waktu yang tidak sebentar
dan tanaman membutuhkan nutrisi mineral dalam jumlah yang tidak sedikit untuk
kelangsungan hidupnya. Maka dari itu, nutrisi mineral seperti Nitrogen (N), Fosfor
(P), Kalium (K), Kalsium (Ca), Magnesium (Mg), Belerang (S), Boron (B), tembaga
(Cu), besi (Fe), Klorida (Cl), Mangan (Mn), Molybdenum (Mo), dan Seng (Zn) masih
perlu ditambahkan melalui pemberian pupuk buatan atau Fertilizer untuk membantu
pertumbuhan dan keberlangsungan hidup tanaman

8. Contoh Pencemaran akibat penggunaan fertilizer
a. Pencemaran air tanah
Salah satu pencemaran yang dapat terjadi akibat pemupukan yang berlebihan adalah
pencemaran air tanah. Hal ini dapat terjadi ketika nitrat dalam pupuk, dalam tingkat
pemakaian yang tinggi, digunakan pada tanah berpasir atau tanah permeable yang
tidak dapat mencegah terlarutnya nitrat ke dalam air tanah. Jika air tanah yang telah
tercemar tersebut digunakan untuk keperluan domestik dalam kehidupan sehari-hari,
maka tidak dapat dielakkan akan menyebabkan masalah kesehatan yang serius.
b. Eutrofikasi
Eutrofikasi adalah peningkatan nutrisi yang terdapat di air. Hal ini dapat terjadi
karena adanya nutrisi kimia yang terangkut dan terlarut dalam air yang digunakan
dalam pemupukan yang berlebihan. Peningkatan nutrisi berlebih ini akan
menyebabkan alga bloom di perairan yang tenang. Alga bloom adalah meningkatnya
tingkat kesuburan dalam air yang dapat menyebabkan meningkatnya persaingan atau
kompetisi untuk mendapatkan cahaya pada organisme bawah air. Kejadian tersebut
menyebabkan banyak tumbuhan dan alga yang mati dan diubah menjadi senyawa
organik oleh bakteri aerob. Karena banyaknya oksigen yang digunakan oleh bakteri
aerob, peraian menjadi kekurangan oksigen dan mengakibatkan kualitas perairan
memburuk.
c. Efek Rumah Kaca
Selain pencemaran air tanah dan eutrofikasi, pemakaian pupuk buatan secara
berlebihan dapat menyebabkan efek rumah kaca. Dalam hal ini, pemakaian pupuk
buatan yang mengandung asam nitrit dan ammonium bikarbonat, dalam memproduksi
dan mengaplikasikan pemakaiannya dapat menyebabkan pembentukan emisi nitrogen
oksida, nitrit oksida, ammonia, dan karbon dioksida ke atmosfir. Pembentukan emisi
gas tersebut dapat berdampak pada peningkatan jumlah emisi gas rumah kaca secara
signifikan.

III. PENUTUP
Tembaga dalam jumlah kecil sangat penting untuk kehidupan manusia.
Kelebihan maupun defisiensi tembaga pada tubuh manusia dapat mengganggu
keseimbangan metabolisme. Tembaga juga memiliki siklus biogeokimia di alam, dari
inti bumi dikeluarkan melalui aktivitas gunung berapi kemudian terpapar di atmosfer
dan daratan. Beberapa spesies organisme akuatik sangat sensitif terhadap paparan
tembaga. Sifat karsinogenik pada tembaga juga belum bisa dipastikan kebenarannya,
karena studi yang terbatas. Tetapi dalam jumlah besar, tembaga tetap menjadi
ancaman racun bagi seluruh organisme di bumi.
















IV. DAFTAR PUSTAKA
Effendi, Hefni. Telaah Kualitas Air : Bagi Pengelolaan Sumber Daya dan
Lingkungan Perairan. Penerbit Kanisius. Yogyakarta, Indonesia. 2003
Raunch, Pacyna, J.J. (2009). Earths global Ag, Al, Cu, Fe, Ni, Pb, and Zn cycles.
Journal of Global Biogeochemical Cycles. 23, 1-16.
http://www.epa.gov/pesticides/health/cancerfs.htm (Diunduh pada tanggal 21
September 2014, pukul 23.24)
http://www.copper.org/consumers/health/cu_health_uk.html (Diunduh pada tanggal
21 September 2014, pukul 23.31)
http://www.freeradical.org.au/education.php?page=6 (Diunduh pada tanggal 22 September
2014, pukul 08.48)
http://www.ilo.org/legacy/english/protection/safework/ghs/ghsfinal/ghsc10.pdf (Diunduh
pada tanggal 22 September 2014, pukul 08.49)
http://npic.orst.edu/factsheets/cuso4gen.html (Diunduh pada tanggal 23 September
2014, pukul 09.32)