Anda di halaman 1dari 12

MAKALAH

KLORIN PEMICU KANKER









DISUSUN OLEH :
KELOMPOK 11
KIMIA DASAR 06 R
21. MASRUL WISMA WIJAYA (1406533296)
22.SALSABILA MARDHIYAH (1406533301)
DEPARTEMEN TEKNIK SIPIL
UNIVERSITAS INDONESIA
2

DAFTAR ISI
1. PENDAHULUAN3
Latar belakang3
Sejarah penemuan Klorin3
2. PEMBAHASAN ISU PEMBELAJARAN..4
Aspek kimia klorin.4
Siklus klorin...5
Pengaruh klorin..5
Satuan kandungan zat dalam larutan..7
Pengertian genotoxic, mutasi, dan karsinogen...8
Nitrogen triklorin9
Pengganti klorin.10
Gas dalam kolam renang...10
3. PENUTUP...11
Kesimpulan11
4. DAFTAR PUSTAKA..11















3

I. PENDAHULUAN
a. Latar Belakang
Kompas.com - Kolam renang dalam ruangan tertutup (indoor)
menjadi pilihan banyak orang karena terhindar dari sinar matahari.
Namun ada baiknya Anda waspada karena menurut sebuah penelitian,
berenang di dalam kolam renang indoor yang diberi klorin bisa
menyebabkan kanker.
Klorin memang sering digunakan sebagai zat pembasmi kuman di
kolam renang. Dalam penelitian yang dilakukan oleh ilmuwan dari
Centre of Research in Environmental Epidemiology and Research
Institute Hospital del Mar, Spanyol, diketahui bahwa kolam renang
indoor yang diberi klorin bisa menyebabkan mutasi DNA secara
permanen (mutagenicity).
Penelitian tersebut dilakukan terhadap 49 orang perenang. "Bukti
terjadinya efek genotoxic (mutasi menjadi karsinogen) terlihat pada
para perenang setelah mereka berenang selama 40 menit di kolam
renang indoor dan mengandung klorin," kata para ilmuwan dalam
pernyataannya.
Para ilmuwan mengaitkan risiko kanker ini dengan efek klorin
terhadap sistem pernapasan para perenang. Beberapa waktu lalu juga
dipublikasikan penelitian mengenai efek klorin terhadap penyakit asma
pada anak.
Menurut para ahli, kalau klorin bersenyawa dengan zat organik, seperti
air seni atau keringat,m maka akan menghasilkan senyawa sejenis
nitrogen triklorin yang dapat mengakibatkan iritasi hebat. Senyawa
organik tersebut, lanjutnya, dapat bereaksi menjadi gas di kolam
tertutup dan membawa dampak terhadap sel-sel tubuh yang melindungi
paru-paru.
Meski efek samping klorin ini cukup berbahaya, namun Anda tidak
perlu menghindari olahraga berenang mengingat cukup banyak
manfaat kesehatan dari kegiatan berenang.
"Kami tidak menyarankan orang untuk berhenti berenang namun kami
menghimbau pengelola kolam renang untuk mengurangi penggunaan
klorin," kata Manolis Kogevinas, peneliti.
b. Sejarah Penemuan Klorin
Klorin ditemukan oleh Scheele pada tahu 1774 dan dinamai oleh Davy
pada tahun 1810. Klor ditemukan di alam dalam keadaan kombinasi
sebagai gas Cl
2
, senyawa dan mineral seperti kamalit dan silvit. Gas
klor berwarna kuning kehijauan, dapat larut dalam air, mudah bereaksi
dengan unsur lain.




4

II. PEMBAHASAN ISU-ISU PEMBELAJARAN
a. ASPEK KIMIA KLORIN
i. Klorin adalah unsur dengan nomor atom 17 (

[]

). Klorin berada di golongan VIIA dan periode 3,


sehingga ia berada dalam golongan halogen bersama dengan
Fluor, Brom, Iodin, dan Astatin. Di alam, klorin berbentuk gas
kuning kehijauan.
ii. Klorin tidak pernah ditemukan dalam wujud unsur bebas, tetapi
ditemukan dalam bentuk unsur diatomik

. Klorin
membutuhkan satu tambahan elektron untuk mengisi orbit
elektron terluar, sehingga cenderung membentuk anion
bermuatan satu, dan disebut sebagai ion halida.
iii. Klorin termasuk oksidator kuat, yang secara kimia merupakan
zat paling reaktif ketika bersinggungan dengan logam dan
unsur lainnya.
iv. Klorin mudah menguap dan mudah bereaksi dengan air. Dalam
air laut maupun air sungai, klorin terhidrolisis membentuk
asam hipoklorit.
v. Tabel karakteristik Klorin
Ciri-ciri umum
Nomor atom 17
Massa atom standar 35,453
Fase Gas
Massa jenis 3,2 g/L
Titik lebur 171,6 K
Titik didih 239,11 K
Elektronegativitas 3,16 (Skala Pauling)
Energi ionisasi 1251,2 kJmol
-1

Afinitas Elektron -349 kJ/mol
Jari-jari atom 100 pm
Kelarutan dalam air 20 g/L
Potensial reduksi standar 1,36
5

(volt) X
2
+ 2e
-
2X
-

Energi ikatan X-X 242 kJ/mol


b. SIKLUS KLORIN
Klorin merupakan unsur terbanyak ke 18 di mantel bumi dan kerak
bumi. Klorin memiliki konsentrasi berbeda pada tiap batuan, misalnya
batuan beku 130 ppm, shales rocks 180 ppm, batupasir 10 ppm, dan
batu gamping 150 ppm (Bowen 1966). Klorin juga dikeluarkan melalui
emisi vulkanis gunung berapi, menjadi gas reaktif di troposfer (seperti
Klorometana) dan debu di daratan. Evaporasi air laut juga
menyebabkan klorin (dalam bentuk Cl
-
) menambah akumulasi pada
ekosistem daratan dan perairan air tawar. Proses pelapukan karena
cuaca, melarutkan Cl
-
dalam aliran sungai secara global (Graedel dan
Keene, 1966). Melalui proses antropogenik, klorin dihasilkan dari
pembakaran batu bara, proses pengabuan limbah, dan industri. Di
Amerika Serikat, pembakaran batu bara menyumbang setidaknya 1%
konsentrasi klorin dari keseluruhan total batu bara yang diolah selama
proses pembakaran (McCulloch et al, 1999)
Pada daerah yang gersang (arid area), Cl
-
terakumulasi menjadi
lapisan garam (termasuk NaCl) pada permukaan air dan permukaan
tanah. Daerah ini disebut daerah salinasi dan angin bisa menambah
luas area penyebaran klorin di daratan (Williams, 1987).
Klorin juga dibutuhkan tanaman untuk melakukan proses fotosintesis
(Kramer dan Kozlowski, 1979).
c. PENGARUH KLORIN
Klorin digunakan sebagai zat pembasmi di kolam renang dan memiliki
2 fungsi, yaitu sebagai disinfektan (membunuh bakteri) dan oksidator
(menghancurkan kotoran). Dalam aplikasi pemakaiannya pada kolam
renang, ada 3 jenis wujud:
i. Dalam bentuk cairan (Natrium hipoklorit), terkandung 12-16%
kadar klorin
6

ii. Dalam bentuk padatan (bubuk Kalsium hipoklorit), terkandung
65-75% kadar klorin
iii. Dalam bentuk gas, terkandung 100% klorin. Butuh penanganan
khusus karena klorin dalam bentuk gas sangat beracun.

Klorin berpotensi membuat iritasi pada mata, pernafasan bagian atas,
dan paru-paru. Paparan konsentrasi klorin sebesar 0,014-0,054 ppm
menimbulkan gelitikan pada hidung; 0,04-0,097 ppm menimbulkan
gelitikan pada tenggorokan; 0,06-0,3 ppm menimbulkan efek gatal
pada hidung, batuk, kekeringan hidung, dan kekeringan tenggorokan;
0,35-0,72 ppm menimbulkan iritasi pada konjungtiva mata; konsentrasi
di atas 1 ppm menyebabkan sesak nafas, batuk, dan sakit kepala
1
;
konsentrasi 46-60 ppm menimbulkan pneumonia dan edema paru
(peningkatan air di dalam alveoli paru-paru)
2

Klorin selain berdampak pada kesehatan, juga berdampak pada
lingkungan, baik itu udara, air, dan komunitas makhluk hidup yang ada
di lingkungan yang terkena dampak tersebut. Besarnya dampak yang
ditimbulkan oleh senyawa klorin sangat tergantung dari kadar, jenis
senyawa klorin dan yang terpenting adalah tingkat toksisitas dari
senyawa tersebut.
Pembuangan limbah yang mengandung klorin ke perairan, berpotensi
mencemari perairan. Gas buang dari pembakaran senyawa
organoklorin (polutan yang bersifat persisten dan dapat
terbioakumulasi di alam serta bersifat toksik terhadap manusia dan
makhluk hidup lainnya) juga dapat mengganggu habitat kehidupan di
lingkungan tersebut. Selain itu senyawa klorin juga dapat
menyebabkan masalah lingkungan yang bersifat global seperti CFC
yang terurai di atmosfer melepaskan klorin yang dapat merusak lapisan
ozon
Studi paparan klorin pada hewan menunjukkan bahwa dengan

1
E.J. Calabrese dan E.M. Kenyon. Air Toxics and Risk Assessment. Lewis Publishers, Chelsea, MI. 1991.
2
U.S. Department of Health and Human Services. Hazardous Substances Data Bank, National Toxicology
Information Program, National Library of Medicine, Bethesda, MD. 1993.
7

konsentrasi 0,37mg/L dapat membunuh ikan dengan cepat
3
. Sedangkan
pada tumbuhan, klorin bisa menyebabkan daun terlihat keputihan,
terjadinya nekrosis antar tulang daun, serta tepi daun nampak seperti
hangus.
4


d. SATUAN KANDUNGAN ZAT DALAM LARUTAN
i. Part per million (ppm)
PPM atau bagian per juta adalah perbandingan jumlah suatu
senyawa dalam satu juta bagian sistem.




misalkan kandungan Cu dalam air sungai adalah 20ppm, maka
dalam 1 kilogram air sungai terdapat 20 mg Cu. Ingat bahwa 1
kg=10
6
mg. Satuan mg/kg dapat diubah menjadi g/ml, asalkan
pelarutnya adalah air. Air memiliki densitas 1g/ml, sehingga
dalam 1 liter, air juga mempunyai massa 1kg.
ii. Persen volume (kadar larutan)
Persen volume (kadar larutan) merupakan perbandingan zat
terlarut dengan volume larutan dalam persen.




misalkan larutan 200gr gula 10%, maka dibutuhkan 20gr gula
dan massa pelarut adalah 180gr.
iii. Molaritas
Molaritas (M) adalah jumlah mol zat terlarut dalam 1 liter
larutan (atau jumlah milimol zat terlarut dalam 1mL larutan)




misalkan ada 0,4M HCl, maka dalam 1 liter larutan terdapat 0,4
mol HCl


3
http://www.pondplace.com/dangersofchlorine.aspx
4
http://5e.plantphys.net/article.php?id=289
8

iv. Molalitas
Molalitas (m) adalah jumlah mol terlarut dalam 1000 gr pelarut.




e. PENGERTIAAN GENOTOXIC, MUTASI, & KARSINOGEN
i. Genotoxic
Genotoxic merupakan bagian dari agen kimia yang merusak
informasi genetic di dalam sel dan menyebabkan mutasi, yang
berpotensi menyebabkan kanker. Semua mutagen adalah
genotoxic, tetapi tidak semua zat genotoxic adalah mutagen.
Perubahan pada sel dapat memiliki efek langsung maupun efek
tidak langsung pada DNA, seperti induksi mutasi dan
kerusakan DNA menuju ke arah mutasi.
ii. Mutasi
Mutasi adalah perubahan struktur materi genetis yang dapat
direproduksi dan dapat diturunkan pada generasi berikutnya.
Perubahan sifat karena mutasi dapat diturunkan apabila mutasi
terjadi pada sel-sel gamet (mutasi germina). Bila mutasi terjadi
pada sel tubuh (mutasi somatis) sifat baru yang didapat tidak
akan diturunkan. Faktor penyebab mutasi disebut mutagen, dan
individu yang mengalami mutasi disebut mutan.
iii. Karsinogen
Karsinogen adalah substansi kimia atau sebuah campuran dari
substansi kimia yang dapat memicu sel kanker atau
mempengaruhi peningkatan timbulnya kanker, oleh karena itu
juga disebut Cancer-causing Agents. Contoh karsinogen yang
sangat berbahaya adalah hidrokarbon aromatik, dan yang paling
dikenal adalah 3,4-benzpirena. Hidrokarbon karsinogenik
terbentuk selama pembakaran tidak sempurna dari hampir
setiap senyawa organik dan ditemukan dalam batubara, asap
rokok, pembakaran kendaraan bermotor, kopi, gula gosong dan
sebagainya.

9



f. NITROGEN TRIKLORIN
Nitrogen Triklorin memiliki rumus senyawa NCl
3
. NCl
3
memiliki
ikatan kovalen dan merupakan senyawa biner (karena terdiri dari 2
jenis unsur, yaitu N dan Cl).


Reaksi pembentukan Nitrogen triklorida adalah sebagai berikut :


Klorin bisa membentuk senyawa bersama unsur-unsur organik (unsur
karbon, kecuali karbida dan karbonat) membentuk organoklorin.
Organoklorin tidak larut dalam air, tetapi larut dalam lemak. Beberapa
organoklorin dalam kehidupan sehari-hari adalah ;
i. DDT (Dikloro difenil trikloroetana)
DDT biasa digunakan sebagai pestisida pada bidang pertanian.
Tetapi semenjak 1 Januari 1973, DDT dilarang penggunaannya
karena efek akumulasi residu pada rantai makanan yang
berkepanjangan.
ii. DDE (Dikloro difenil dikloroetana)
DDE adalah mekanisme pemecahan DDT pada tubuh
organisme ketika tubuh organisme menolak DDT itu sendiri.
iii. Klorofenol
Klorofenol memiliki fungsi fungisida dan bakterisida.
iv. Heksaklorobenzena
Heksaklorobenzena berfungsi sebagai fungisida pada
penyimpanan biji-bijian pertanian di Australia



10

g. PENGGANTI KLORIN
i. Bromin
Bromin biasa digunakan pada disinfektan kolam renang pada
skala yang terbatas. Departemen Kesehatan Illinois telah
melaksanakan beberapa studi dengan Bromin. Hasilnya, efek
terhadap iritasi mata berkurang dan bau berkurang dibanding
dengan kolam renang yang telah diberi klorin. Efek bakterisida
pada bromin lebih superior terhadap klorin.
ii. Iodin
Dari studi Black (1959) dan Marshall (1960), kadar iodin
dengan konsentrasi 0,2mg/L cukup untuk memperbaiki air
kolam renang dengan tingkat bakteriologi tertentu.
iii. Klorin dioksida (ClO
2
)
Klorin dioksida (ClO
2
) merupakan gas yang bisa digunakan
sebagai disinfektan kolam renang. Klorin dioksida diperoleh
dari kombinasi senyawa klorat atau senyawa klorit dengan
asam tertentu. Klorin dioksida merupakan oksidator yang
cukup kuat dan tidak tergantung pH kolam renang.
iv. Ozon
Ozon (O
3
) merupakan gas yang tidak stabil dan akan berubah
wujud menjadi oksigen (O
2
) secara alami dalam durasi kira-kira
20 menit. Dalam pembentukan ozon, terdapat 2 metode; yaitu
memberikan tegangan listrik pada molekul oksigen (corona
discharge) dan penyinaran oksigen dengan sinar UV. Ketika
ozon dilepaskan ke dalam air kolam renang, ozon akan bereaksi
dengan cepat dengan zat pengotor (contaminants) dan
mengurangi kadarnya di dalam air.

h. GAS DALAM KOLAM RENANG
i. Bromin
Dalam jumlah kecil, bromin akan terbentuk ketika klorin
digunakan sebagai disinfektan kolam renang. Klorin akan
mengoksidasi bromin dan akan membentuk HOBr. HOBr bisa
11

bersenyawa dengan HClO (Asam hipoklorit) dan menghasilkan
CHBr
3
(Bromoform)
5

ii. Trihalometana
Trihalometana terbentuk ketika halogen (bromin dan klorin)
bereaksi dengan senyawa organik. Hasil akhir rekasi biasanya
berbentuk kloroform (CHCl
3
), bromodiklorometana (CHBrCl
2
),
dibromoklorometana (CHBr
2
Cl), atau bromoform (CHBr
3
).
Trihalometana bisa larut dengan mudah di dalam air ataupun
menguap di udara.

III. PENUTUP
Kesimpulan
a. Klorin dapat bersenyawa dengan hampir semua unsur dan merupakan
zat korosif dan reaktif. Klorin mudah menguap dan sangat mudah
bereaksi dengan air.
b. Klorin dapat masuk ke tubuh manusia dan hewan karena klorin bisa
diabsorbsi kulit, kontak dengan mata dan kulit, serta melalui saluran
pernafasan.
c. Ketika klorin bersenyawa dengan zat organik di dalam air (seperti urin,
keringat, dan lainnya) akan terbentuk sejenis senyawa nitrogen
triklorin yang bisa mengakibatkan iritasi hebat pada kulit, mata,
hidung, dan saluran pernafasan.









5
W. A. Weaver, J.Li, Y. Wen, J. Johnston, M. R. Blatchley, E. R. Blatchley III. Volatile disinfection by-
product analysis from chlorinated indoor swimming pools. Water research Volume 43, Issue 13
(2009) p. 3308-3318
12

IV. DAFTAR PUSTAKA
Springer-Verlag (2002). The Natural Chlorine Cycle-Fitting the Scattered
Pieces. Mini Review Appl Microbiol Biotechnol DOI 10.1007/s00253-001-
0895-2
Connecticut US Department of Public Health (2011). Environmental Health
Techical Brief : Indoor Air Pollution at Indoor Swimming Pools
Stottmeister (2005). Nitrogen trichloride in the air of german indoor pools, is
there a health problem?. International Conference on Health and Water
Quality Aspects of the Man Made Recreational Water Environment, Budapest.
http://biologimediacentre.com/mutasi/ (diunduh pada tanggal 28 September
2014, pada pukul 17.32)
http://www.epa.gov/ttn/atw/hlthef/chlorine.html (diunduh pada tanggal 28
September 2014, pada pukul 18.15)
http://www.fws.gov/pacific/ecoservices/envicon/pim/reports/contaminantinfo/
contaminants.html (diunduh pada tanggal 28 September 2014, pada pukul
18.30)
http://www.triogen.co.uk/qa-ozone.html (diunduh pada tanggal 29 September
2014, pada pukul 15.43)