Anda di halaman 1dari 146

GAMBARAN PROSEDUR PENANGANAN LIMBAH DI

PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINYAK DAN


GAS BUMI LEMIGAS
CIPULIR, JAKARTA SELATAN TAHUN 2011

Laporan Magang
Diajukan untuk memenuhi persyaratan kuliah semester 8
dan menunjang gelar Sarjana Kesehatan Masyarakat (SKM)



Disusun Oleh :
NUR NAJMI LAILA
NIM : 107101000119



PEMINATAN KESELAMATAN & KESEHATAN KERJA
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
TAHUN 1432H/2011 M
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
KESELAMATAN DAN KESEHATAN KERJA
MAGANG, MEI 2011

Nur Najmi Laila, NIM : 107101000119

Gambaran Prosedur Penanganan Limbah di Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS Cipulir Jakarta Selatan Tahun
2011

xvi+ 137 halaman, 6 tabel, 9 bagan, 11 diagram, 13 gambar, 6 lampiran

ABSTRAK
PPPTMGB LEMIGAS merupakan sebuah institusi pemerintah yang
mempunyai tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan minyak dan gas bumi.
PPPTMGB LEMIGAS memiliki hampir sekitar 60 Laboratorium yang beroperasi
untuk melakukan penelitian tersebut. Sehingga pada saat prosesnya terdapat sisa hasil
kegiatan berupa Limbah. Dimana sebagian besar limbah yang dihasilkan adalah limbah
yang berasal dari Laboratorium. Adapun Limbah Laboratorium yang dihasilkan adalah
berupa limbah B3 berbentuk padat, cair, dan gas serta air pecucian alat-alat Labratorium.
Berdasarkan paparan tersebut, limbah yang ada termasuk limbah yang berasal dari
laboratorium perlu diperlukan prosedur penanganan yang benar dan sesuai dengan
standar yang telah ditetapkan.
Adapun jenis limbah yang terdapat di KPRT Proses PPPTMGB LEMIGAS
adalah Limbah cair non B3 seperti air sisa pencucian alat-alat analisis, limbah cair B3,
limbah padat B3, limbah padat non B3 serta emisi yang berasal dari lemari asam. Jenis
limbah sebagian besar berbentuk crude oil. Sedangkan untuk karateristik limbah B3
bersifat mudah terbakar dan menguap.
Adapun pada Prosedur yang dilakukan untuk penanganan limbah Cair B3, Cair
non B3, padat B3, padat non B3 dan emisi sebagian besar sudah memenuhi prosedur
yang telah ditetapkan Walaupun masih terdapat beberapa hal yang kurang sesuai dengan
prosedur yang ada. Sehingga berdasarkan hal tersebut masih perlunya dilakukan
pemastian agar semua petugas laboratorium memahami cara pengendalian limbah yang
benar sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan. Memastikan semua petugas
Laboratorium menggunakan APD yang sesuai dan lengkap saat bekerja dan begitu juga
saat penanganan Limbah yang ada demi keselamatan dan kesehatan para pekerja.
Memperbaiki terus menerus penyimpanan limbah sementara, Memperbaiki wadah untuk
limbah padat B3. Memperbaiki proses penanganan limbah padat non B3 organik.
Meningkatkan pemantauan IPAL secara berkala. mellakukan pemantauan berkala uji
kualitas limbah air dan emisi yang ada, yang dilakukan minimal 2 kali dalam setahun
oleh internal dari Lemigas sendiri. Serta memastikan pengawasan terhadap lemari asam
di seluruh laboratorium agar berfungsi dengan baik.


Kata kunci : Penanganan Limbah, PPPTMGB LEMIGAS, limbah cair, padat dan gas.
Daftar Bacaan : 29 (1985-2010)
PERNYATAAN PERSETUJUAN




GAMBARAN PROSEDUR PENANGANAN LIMBAH
PUSAT PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN TEKNOLOGI MINYAK DAN
GAS BUMILEMIGAS
CIPULIR JAKARTA SELATAN TAHUN 2011


Telah disetujui, diperiksa, dan dipertahankan dihadapan Tim Penguji Magang Program
Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Kedokteran dan Ilmu Kesehatan

Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta


Jakarta, Mei 2011


Mengetahui







Ela Laelasari, SKM, M.Kes Ir. Sugeng Riyono, M.Phil
Pembimbing Fakultas Pembimbing Lapangan

PANITIA SIDANG UJIAN MAGANG
PROGRAM STUDI KESEHATAN MASYARAKAT
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA



Jakarta, Mei 2011



Penguji I,





Ela Laelasari, SKM, M.Kes





Penguji II,




Raihana NAdra Alkaff, SKM, MMA
DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama lengkap : Nur Najmi Laila
Jenis Kelamin : Perempuan
Tempat, Tanggal lahir : Jakarta, 1 April 1989
Warganegara : Indonesia
Agama : Islam
Alamat : Jl. Irian Blok C. 73 No. 17 Sarua Permai-Benda Baru Pamulang
Tangerang Selatan
Telepon : 08569976037 / (021) 96174082
E-mail : najmi.laila01@gmail.com


Pendidikan Formal:
1. TK Islam Bukit Indah Pamulang (1994-1995)
2. SD Tirta Buaran, Sarua Permai Ciputat (1995 2001)
3. Mts Pembangunan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (2001 2004)
4. MAN 11 Jakarta (2004 2007)
5. Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan Program Studi Kesehatan Masyarakat, Peminatan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) (2007 sekarang)

KATA PENGANTAR
Puji syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang Maha Pengasih dan
Maha Penyayang, yang telah memberi kekuatan kepada penulis, sehingga penulis dapat
menyelesaikan Laporan Magang ini.
Laporan ini disusun dalam rangka menunjang sistem pembelajaran pada mata
kuliah magang Program Studi Kesehatan Masyarakat semester VIII Fakultas Kedokteran
dan Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Selama penyusunan laporan ini,
penulis sangat berterima kasih kepada berbagai pihak yang telah membantu dalam
proses penyusunan laporan ini, diantaranya :
1. Kedua orang tua penulis. Terima kasih untuk semua hal yang sudah
diberikan, yang juga senantiasa mendoakan setiap langkah yang penulis
kerjakan demi kesuksesan penulis.
2. Ibu Ela Laelasari, SKM, M.Kes selaku Dosen Pembimbing Fakultas, terima
kasih atas semua arahan dan masukkan dalam bimbingannya selama magang
dan penyusunan laporan ini.
3. Bapak Ir. Sugeng Riyono M.Phil. selaku Pembimbing Lapangan yang selalu
memberikan bimbingan, masukkan, inspirasi dan arahan kepada penulis.
4. Ibu Dr. Puspa Ratu. Selaku Pembimbing lapangan di gedung KPRT Proses.
5. Seluruh Staff Komite LK3 PPPTMGB LEMIGAS, Pak Muksis, Pak Amir,
Pak Aris, Mba Mawar, Ibu Ikha, Pak Michael dan Mba Gita. Terima kasih
atas bantuan dan saran serta informasinya.
6. Rekan-rekan mahasiswa dan segenap pihak yang telah berperan aktif
membantu Penulis dalam menyelesaikan laporan ini yang tidak dapat penulis
sebutkan dalam laporan ini.
Akhir kata, kesempurnaan hanya milik Allah SWT dan kesalahannya
datangnya dari Penulis selaku manusia yang dhaif, sehingga saran dan kritik dari
pembaca sangat Penulis harapkan demi terciptanya perbaikan di masa yang akan
datang.
Ciputat, Maret 2011
Penulis
DAFTAR ISI

ABSTRAK ........................................................................................................... i
PERNYATAAN PERSETUJUAN ...................................................................iii
PERNYATAAN PENGUJI .............................................................................. iv
DAFTAR RIWAYAT HIDUP ........................................................................... v
KATA PENGANTAR ....................................................................................... vi
DAFTAR ISI ................................................................................................... vii
DAFTAR TABEL ............................................................................................. xi
DAFTAR BAGAN .......................................................................................... xii
DAFTAR DIAGRAM ..................................................................................... xiii
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xiv
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xv
BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang ............................................................................................. 1
1.2 Tujuan Magang ............................................................................................ 3
1.2.1 Tujuan Umum .................................................................................. 3
1.2.2 Tujuan Khusus ................................................................................. 3
1.3 Manfaat Magang .......................................................................................... 4
1.3.1 Bagi mahasiswa ................................................................................ 4
1.3.2 Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat ................................... 5
1.3.3 Bagi Institusi Magang....................................................................... 6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Limbah ........................................................................................................ 7
2.1.1. Pengertian Limbah .......................................................................... 7
2.1.2. Klasifikasi dan Karateristik Limbah .............................................. 7
2.2. Limbah Cair ............................................................................................... 8
2.2.1. Pengertian Limbah Cair.................................................................. 8
2.2.2. Sumber Limbah Cair ...................................................................... 8
2.2.3. Komposisi Limbah Cair .................................................................. 9
2.2.4. Tujuan Pengolahan Limbah Cair Industri .................................... 9
2.2.5. Dampak Limbah Cair .................................................................. 10
2.2.6. Cara- cara Pengolahan Limbah cair ............................................ 12
2.3. Limbah Padat ............................................................................................ 15
2.3.1. Pengertian Limbah Padat ............................................................. 15
2.3.2. Sumber Limbah Padat ................................................................. 16
2.3.3. Kategori Limbah Padat ................................................................ 17
2.3.4. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) ............................. 17
2.3.5. Cara Pengolahan Limbah Padat .................................................. 18
2.3.6. Dampak Limbah Padat Industri .................................................. 21
2.4. Limbah Gas .............................................................................................. 22
2.4.1. Pengertian Pencemaran Udara ..................................................... 22
2.4.2. Sumber Pencemar Udara ............................................................. 22
2.4.3. Komposisi Pencemar Udara ......................................................... 23
2.4.4. Parameter Limbah Udara ............................................................ 24
2.4.4.1. Emisi Industri ................................................................. 24
2.4.4.2. Tingkat Kebauan ............................................................ 26
2.4.5. Dampak Pencemaran Udara ........................................................ 27
2.4.6. Tujuan Pengolahan Limbah Gas ................................................. 29
2.4.7. Cara-cara Pengolahan .................................................................. 29
2.6 Gambaran Umum Perusahaan .................................................................. 32
2.6.1 Sejarah PPPTMGB LEMIGAS ................................................. 32
2.6.2 Visi dan Misi PPPTMGB LEMIGAS ....................................... 34
2.6.3 Tugas Pokok PPPTMGB LEMIGAS ......................................... 34
2.6.4 Sumber Daya Manusia (SDM) PPPTMGB LEMIGAS ............ 36
2.6.5 Struktur Organisasi PPPTMGB LEMIGAS ............................. 36
2.7 Gambaran Umum Health Safety Environment (HSE) ............................. 38
2.7.1 Komite LK3 .................................................................................... 39
2.7.2 Kebijakan LK3 ............................................................................... 40
2.7.3 Tujuan dan Sasaran LK3 ............................................................... 43
2.7.4 Struktur Organisasi Komite LK3 .................................................. 45
2.8 Gambaran Umum Kelompok Program Riset Teknologi (KPRT)Proses . 47
2.9 UKL dan UPL ............................................................................................ 50
2.10 Pelaksanaan ISO 14001 : 2004 ................................................................. 51

BAB III ALUR DAN JADWAL KEGIATAN
3.1 Alur Kegiatan Magang .............................................................................. 52
3.2 Jadwal kegiatan Magang ........................................................................... 54
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1. Jenis dan Karakteristik Limbah di KPRT Proses .................................. 58
4.2. Prosedur Penanganan Limbah Cair B3 KPRT Proses ............................ 62
4.3. Prosedur Penanganan Limbah Cair Non B3 KPRT Proses .................... 75
4.3.1. IPAL KPRT Proses ....................................................................... 83
4.3.2. Pemantauan Limbah Cair KPRT Proses ..................................... 87
4.4. Prosedur Penanganan limbah padat B3 KPRT Proses ........................... 90
4.5. Prosedur Penanganan Limbah padat non B3 KPRT Proses ................... 99
4.6. Prosedur Penanganan Limbah Emisi Laboratorium KPRT Proses ..... 111
4.6.1.1 Pengukuran Cerobong Lemari Asam KPRT Proses ............... 118
4.6.1.2 Hasil Pengukuran Udara Lingkungan KPRT Proses .............. 119
4.7. Gudang Penyimpanan Limbah KPRT Proses ....................................... 120
4.8. Gambaran perbandingan hasil dari nilai prosedur penanganan
terhadap jenis limbah yang ada. ........................................................... 121
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan ............................................................................................... 124
5.2 Saran ......................................................................................................... 125
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 128
LAMPIRAN ................................................................................................... 132

DAFTAR TABEL

No. Tabel Halaman
2.7 Konsep Sistem Manajemen Limbah (SML) .............................................. 75
4.1 Prosedur penanganan limbah cair B3 dan penilaiannya terhadap
kelompok-kelompok KPRT Proses tahun 2011 ............................................63
4.2 Prosedur penanganan limbah cair non B3 dan penilaiannya terhadap
kelompok-kelompok KPRT Proses tahun 2011 ........................................ 76
4.3 Prosedur penanganan limbah Padat B3 dan penilaiannya terhadap
kelompok-kelompok KPRT Proses tahun 2011 ........................................ 92
4.4 Prosedur penanganan limbah Padat Non B3 dan penilaiannya terhadap
kelompok-kelompok KPRT Proses tahun 2011 ...................................... 101
4.5 Prosedur penanganan limbah Emisi dan penilaiannya terhadap
kelompok-kelompok KPRT Proses tahun 2011 ...................................... 114









DAFTAR BAGAN


No. Bagan Halaman
2.1 Penanganan Limbah Cair .......................................................................... 15
2.2 Skema Penaganan Limbah ........................................................................ 31
2.3 Struktur Organisasi PPPTMGB LEMIGAS tahun 2010 .................... 38
2.4 Struktur Organisasi Komite LK3 PPPTMGB LEMIGAS tahun 2011 46
2.5 Struktur Organisasi Gedung KPRT Proses tahun 2011 ........................... 48
2.6 Konsep Sistem Manajemen Limbah (SML) .............................................. 51
3.1 Alur Kegiatan Magang .............................................................................. 52
4.1 Penanganan Limbah KPRT Proses PPPTMGB LEMIGAS ................ 61
4.2 Cara Kerja IPAL ....................................................................................... 83
DAFTAR DIAGRAM
No. Diagram Halaman
4.1 Skoring Pencapaian dalam Prosedur Penanganan Limbah
Cair B3 yang dilakukan tiap Kelompok KPRT Proses ............................ 67
4.1 Pencapaian prosedur penanganan limbah cair B3 yang dilakukan
tiap Kelompok KPRT Proses ..................................................................... 74
4.2 Skoring Pencapaian dalam Prosedur Penanganan Limbah Cair non B3
yang dilakukan tiap Kelompok KPRT Proses ......................................... 77
4.3 Pencapaian prosedur penanganan limbah cair non B3 yang dilakukan
tiap Kelompok KPRT Proses ..................................................................... 82
4.4 Skoring Pencapaian dalam Prosedur Penanganan Limbah Padat B3
yang dilakukan tiap Kelompok KPRT Proses .......................................... 94
4.5 Pencapaian prosedur penanganan limbah Padat B3 yang dilakukan
tiap Kelompok KPRT Proses ..................................................................... 98
4.6 Skoring Pencapaian dalam Prosedur Penanganan Limbah Padat Non B3
yang dilakukan tiap Laboratorium KPRT Proses .................................. 103
4.7 Pencapaian prosedur penanganan limbah Padat Non B3 yang dilakukan
tiap Kelompok KPRT Proses ................................................................... 110
4.8 Skoring Pencapaian dalam Prosedur Penanganan Limbah Emisi
yang dilakukan tiap Kelompok KPRT Proses ........................................ 114
4.10 Pencapaian prosedur penanganan limbah Emisi yang dilakukan
tiap Kelompok KPRT Proses ................................................................ 117
4.11 Perbandingan persentase penanganan limbah antara kelompok ....... 121
DAFTAR GAMBAR
No. Gambar Halaman
4.9 Limbah Sisa Analisis dan Limbah B3 Sisa Sampel Di Kelompok
Analisis dan Kimia Terapan KPRT Proses .............................................. 69
4.2 Limbah B3 yang ditampung dalam botol kecil di KPRT Proses.............. 70
4.3 Autoklaf dan hasil analisis setelah dilakukan pemanasan di Autoklaf .... 79
4.4 Hasil reagen setelah dilakukan uji kinerja autoklaf ................................. 80
4.5 IPAL KPRT Proses PPPTMGB LEMIGAS ......................................... 86
4.6 Wadah Penampungan Majun di KPRT Proses ....................................... 96
4.7 Tungku pembakar dan Areal pembuangan sampah Organik ............... 104
4.8 Jenis tempat sampah organik dan anorganik di KPRT Proses .............. 107
4.9 Gerobak pengangkut sampah organik ................................................... 108
4.10Gerobak Sampah Anorganik dan Tempat Penampungan Sementara
Sampah Anorganik ............................................................................... 108
4.11 Tempat sampah tertutup di Kelompok Bioteknologi KPRT Proses .... 109
4.12 Lemari asam dan exhause KPRT Proses ............................................. 116
4.13 Gudang penyimpanan Limbah KPRT Proses....................................... 121






DAFTAR LAMPIRAN

No. Lampiran Halaman
1. Surat Perizinan magang ..................................................................... 130
2. Prosedur- prosedur terkait Pengendalian Limbah ........................... 131
3. Formulir-formulir Inspeksi Limbah.................................................. 132
4. Hasil Pengukuran Air Limbah .......................................................... 133
5. Hasil Pengukuran emisi ruang kerja dan cerobong.......................... 134
6. Surat-surat berita penyerahan limbah .............................................. 135



1
BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Kegiatan industri dan teknologi dapat memberikan dampak langsung, disamping
juga memberikan dampak tak langsung. Dikatakan dampak langsung apabila akibat
kegiatan industri dan teknologi tersebut dapat langsung dirasakan oleh manusia. Dampak
langsung yang bersifat positif memang diharapkan. Akan tetapi, dampak tak langsung
yang bersifat negatif yang mengurangi kualitas hidup manusia harus dihindari atau
dikurangi. Adapun dampak langsung yang bersifat negatif akibat kegiatan industri dan
teknologi, dapat dilihat dari terjadinya masalah-masalah pencemaran udara, pencemaran
air dan pencemaran daratan. Kegiatan pencemaran tersebut diatas mengurangi daya
dukung alam. Pencemaran air dan pencemaran daratan. Kegiatan pencemaran tersebut di
atas akan mengurangi daya dukung alam. Pencemaran udara, air dan daratan perlu
dihindari sebagai bagian usaha menjaga kelestarian lingkungan (Wardhana, 2004).
Adapun kegiatan penelitian dan pengembangan terhadap minyak dan gas
mempunyai peranan penting dalam pertumbuhan ekonomi nasional. Karena Minyak
bumi merupakan komoditas ekspor utama Indonesia yang digunakan sebagai sumber
bahan bakar dan bahan mentah bagi industri petrokimia. Kegiatan penelitian yang
dilakukan biasanya menghasilkan hasil samping seperti limbah bahan-bahan kimia yang
digunakan dalam penelitian yang dilakukan terhadap minyak dan gas bumi tersebut. Hal
ini tentunya dapat mengakibatkan terjadinya pencemaran lingkungan sekita baik itu
berupa cair, padat maupun gas. Undang-undang No 22 tahun 2001 tentang Minyak dan
2
Gas Bumi mensyaratkan pengelolaan lingkungan hidup, yakni pencegahan dan
penanggulangan pencemaran serta pemulihan atas terjadinya kerusakan lingkungan
hidup sebagai akibat kegiatan pertambangan, bagi badan usaha yang menjalankan usaha
di bidang eksploitasi minyak bumi.
Adapun Dampak pencemaran terhadap kesehatan manusia adalah seperti dapat
menyebabkan seseorang sakit kepala dan pusing, menimbulkan keracunan, jika orang
tersebut terlambat ditolong dapat mengakibatkan kematian, kanker kulit, katarak, infeksi
saluran pernafasan, penyakit kulit, kolera, disentri, hati, ginjal, dan tulang, cacat pada
saraf mata, kerusakan hati, ginjal, dan tulang, buta, dan hipertensi.
Limbah B3 merupakan salah satu yang dihasilkan saat penelitian dilakukan, yang
biasanya didalamnya masih mengandung bahan kimia yang masih berbahaya. Dimana
bahan kimia (400 zat/senyawa) merupakan penyebab kanker pada manusia yang
diantaranya adalah : Benzen, formaldehyde arsen dan lain-lain. Oleh karenanya limbah
ini harus dikelola secara benar agar tidak menimbulkan pencemaran lingkungan dan
gangguan kesehatan masyarakat. (IARC, 2003).
PPPTMGB LEMIGAS merupakan sebuah institusi pemerintah yang mempunyai
tugas melaksanakan penelitian dan pengembangan minyak dan gas bumi. Dalam
melaksanakan tugas tersebut, PPPTMGB LEMIGAS menyelenggarakan fungsi
perumusan rencana program penelitian dan pengembangan, pelayanan jasa penelitian
dan pengembangan teknologi. Karenanya sebagai lembaga penelitian dan
pengembangan, PPPTMGB LEMIGAS memiliki hampir sekitar 60 Laboratorium
yang beroperasi untuk melakukan penelitian tersebut. Sehingga pada saat prosesnya
terdapat sisa hasil kegiatan berupa Limbah. Dimana sebagian besar limbah yang
3
dihasilkan adalah limbah yang berasal dari Laboratorium. Aadapun Limbah
Laboratorium yang dihasilkan adalah berupa limbah B3 berbentuk padat, cair, dan gas
serta air pecucian alat-alat Labratorium.
Berdasarkan paparan tersebut, limbah yang ada termasuk limbah yang berasal dari
laboratorium perlu dilakukan penanganan yang benar dan sesuai dengan standar yang
telah ditetapkan. Hal ini sangat penting untuk menghindari pencemaran baik air, udara
maupun darat yang tentunya juga berdampak kepada pekerja yang menanganinya secara
langsung. Oleh karena itu, penulis tertarik untuk mengangkat tema permasalahan
Limbah saat magang berlangsung dengan judul, Gambaran Prosedur Penanganan
Limbah Di Pusat Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Minyak Dan Gas Bumi
(PPPTMGB) LEMIGAS Cipulir Jakarta Selatan Tahun 2011.

1.2 Tujuan Magang
1.2.1 Tujuan Umum
Mengetahui Gambaran Prosedur Penanganan Limbah Di Pusat Penelitian Dan
Pengembangan Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB) LEMIGAS
Cipulir Jakarta Selatan Tahun 2011
1.2.2 Tujuan Khusus
1. Diketahuinya jenis dan karakteristik Limbah di Di Pusat Penelitian Dan
Pengembangan Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB) LEMIGAS
Cipulir Jakarta Selatan tahun 2011
4
2. Diketahuinya Prosedur Penanganan Limbah Cair B3 di Di Pusat Penelitian Dan
Pengembangan Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB) LEMIGAS
Cipulir Jakarta Selatan tahun 2011
3. Diketahuinya Prosedur Penanganan Limbah Cair non B3 di Di Pusat Penelitian
Dan Pengembangan Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB)
LEMIGAS Cipulir Jakarta Selatan tahun 2011
4. Diketahuinya Prosedur Penanganan Limbah Padat B3 di Di Pusat Penelitian Dan
Pengembangan Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB) LEMIGAS
Cipulir Jakarta Selatan tahun 2011
5. Diketahuinya Prosedur Penanganan Limbah Padat non B3 di Di Pusat Penelitian
Dan Pengembangan Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB)
LEMIGAS Cipulir Jakarta Selatan tahun 2011
6. Diketahuinya Prosedur Penanganan Limbah Gas di Di Pusat Penelitian Dan
Pengembangan Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB) LEMIGAS
Cipulir Jakarta Selatan tahun 2011

1.3 Manfaat Magang
1.3.1. Bagi Mahasiswa
1. Dapat mengaplikasikan ilmu khususnya Keselamatan dan Kesehatan Kerja ( K3)
dan pengetahuan yang telah diperoleh diperkuliahan pada tempat kerja yang
sesungguhnya.
2. Mengenal secara dekat dan nyata karakteristik dan kondisi lingkungan dunia
kerja sesungguhnya.
5
3. Mendapatkan pengalaman bekerja sesuai dengan topik yang akan diteliti Pusat
Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB)
LEMIGAS
4. Memperoleh kesempatan bekerja sama dengan profesi lain yang ada di Pusat
Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB)
LEMIGAS
5. Mendapatkan pengalaman bekerja sesuai dengan topik yang aka diteliti di Pusat
Penelitian Dan Pengembangan Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB)
LEMIGAS
6. Dapat menjadi masukan dalam pelaksanaan aplikasi ilmu dan teori serta merubah
wawasan dan pengalaman mahasiswa di Pusat Penelitian Dan Pengembangan
Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB) LEMIGAS
7. Dapat menjadi masukan dalam pelaksanaan aplikasi ilmu dan teori serta merubah
wawasan dan pengalaman mahasiswa di Pusat Penelitian Dan Pengembangan
Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB) LEMIGAS
1.3.2 Bagi Program Studi Kesehatan Masyarakat
1. Laporan magang dapat dijadikan sebagai bahan tambahan bacaan mengenai
gambaran penanganan limbah di Di Pusat Penelitian Dan Pengembangan
Teknologi Minyak Dan Gas Bumi (PPPTMGB) LEMIGAS
2. Terbinanya kerja sama dengan instansi perusahaan lahan magang guna
menambah pengetahuan dan keterampilan sumber daya manusia yang
dibutuhkan
6
3. Meningkatkan kualitas pendidikan dan melibatkan tenaga tenaga terampil dan
tenaga lapangan dalam kegiatan magang
4. Memperoleh masukan yang positif untuk dapat ditetapkan dalam program
magang selanjutnya
1.3.3. Bagi Institusi Magang
1. Perusahaan dapat menjalankan program perusahaan yang berada di sector
edukasi.
2. Perusahaan dapat melakukan koreksi terhadap dilingkungan kerja yang telah
mereka miliki.
3. Menciptakan kerjasama yang saling menguntungkan dan bermanfaat antara
perusahaan dengan Program Studi Kesehatan Masyarakat FKIK UIN Jakarta.
4. Hasil dari kegiatan magang dapat dijadikan suatu sumber ilmu baru yang lebih
akurat dan dapat dijadikan masukan yang bermanfaat tentang gambaran
pengolahan limbah
5. Hasil dari magang yang dilakukan penulis dapat dijadikan referensi masukan
yang bermanfaat tentang kajian dalam aspek Lindungan Lingkungan Komite
LK3.


7
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Limbah
2.1.1. Pengertian Limbah
Secara umum yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu
kegiatan dan proses produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan,
dan sebagainya. Bentuk limbah tersebut dapat berupa gas dandebu, cair atau padat. Di
antara berbagai jenis limbah ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal
sebagai limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3) Definisi dari limbah B3
berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa (limbah) suatu kegiatan proses
produksi yang mengandung bahan berbahaya dan beracun (B3) karena sifat (toxicity,
flammability, reactivity, dan corrosivity) serta konsentrasi atau jumlahnya yang baik
secara langsung maupun tidak langsung dapat merusak, mencemarkan lingkungan, atau
membahayakan kesehatan manusia.
2.1.2. Klasifikasi dan Karateristik Limbah
Berdasarkan nilai ekonominya limbah dibedakan menjadi limbah yang mempunyai nilai
ekonomis dan limbah yang tidak memiliki nilai ekonomis. Limbah yang memiliki nilai
ekonomis yaitu limbah dimana dengan melalui suatu proses lanjut akan memberikan
suatu nilai tambah. Limbah non ekonomis adalah suatu limbah walaupun telah dilakukan
proses lanjut dengan cara apapun tidak akan memberikan nilai tambah kecuali sekedar
mempermudah sistem pembuangan. Limbah jenis ini sering menimbulkan masalah
pencemaran dan kerusakan lingkungan (Kristanto, 2002). Berdasarkan karakteristik
8
limbah industri dapat digolongkan menjadi tiga bagian yaitu limbah cair, limbah padat
dan limbah gas (Darmono, 2001).
Pendapat lain menyatakan bahwa Limbah industri dapat digolongkan kedalam
tiga golongan yaitu limbah cair, limbah padat, dan limbah gas yang dapat mencemari
lingkungan (Djajadiningrat dan Harsono, 1990).
2.2. Limbah Cair
2.2.1. Pengertian Limbah Cair
Berdasarkan pasal 1 Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Nomor :
KEP-51/MENLH/10/1995 tentang Baku Mutu Limbah Cair Kegiatan Industri,
Pengertian Limbah cair adalah limbah dalam wuju cair yang dihasilkan oleh kegiatan
industri yang dibuang ke lingkungan dan diduga dapat menurunkan kualitas lingkungan
(BAPEDAL 1997). Sedangkan menurut Keputusan Gubernur Kepala Daerah Khusus
Ibu Kota Jakarta Nomor 582 Tahun 1995, Limbah cair adalah limbah yang berasal dari
sisa kegiatan proses produksi dan usaha lainnya yang tidak dimanfaatkan kembali
(KPPL 1995). Sehingga dapat dikatakan bahwa limbah cair adalah limbah yang berasal
dari kegiatan yang menggunakan air, dimana hal tersebut merupakan sisa hasil dari
kegiatan tersebut.
2.2.2. Sumber Limbah Cair
Beberapa sumber dari air buangan antara lain adalah (Kusnoputranto, 1985) :
1. Air buangan rumah tangga (domestic wastes water).
2. Air buangan kota praja (municipal wastes water).
3. Air buangan industri (industrial wastes water).

9
2.2.3. Komposisi Limbah Cair
Limbah Cair mempunyai komposisi yang bervariasi dari setiap tempat dan setiap
saat sesuai dengan sumber asalnya. Komposisi Limbah cair sebagian besar terdiri dari
air (99,9%) dan sisanya terdiri dari partikel-partikel padat terlarut dan tidak terlarut
sebesar (0,1%). Partikel-partikel padat terdiri dari (70 %) zat organik dan (30 %) zat
anorganik. Zat-zat organik tersebut sebagian besar mudah terurai (degredable) yang
merupakan sumber makanan dan media yang baik bagi bakteri dan organisme lainnya.
Sedangkan zat-zat anorganik terdiri dari grift, salt dan metal (logam) yang merupakan
bahan pencemar yang penting (Djabu, 1990).
2.2.5. Tujuan Pengolahan Limbah Cair Industri
Pengolahan limbah cair industri mempunyai tujuan (Pandia, 1995):
1. Penghilangan bahan tersuspensi dan terapung.
2. Penghilangan organisme patogen.
3. Pengolahan bahan organik yang terbiodegradasi.
4. Peningkatan pengertian tentang dampak pembuangan limbahan yang tidak diolah
atau sebagian diolah terhadap lingkungan.
5. Peningkatan pengetahuan dan pemikiran tentang efek jangka panjang yang
mungkin ditimbulkan oleh komponen tertentu dalam limbah yang dibuang ke
badan air.
6. Peningkatan kepedulian nasional untuk perlindungan lingkungan.
7. Pengembangan berbagai metoda yang sesuai untuk pengolahan limbah.


10
2.2.6. Dampak Limbah Cair
1. Terhadap Badan Air
a. Limbah cair organik
Kandungan senyawa organik dalam badan air penerima akan meningkat,
akan terjadi kadar parameter menyimpang dari standard maka akan terjadi
penguraian yang tidak seimbang dan akan menimbulkan kondisi septik
(suatu keadaan dimana kadar oksigen terlarut nol) dan timbul bau busuk
(H
2
S).
b. Limbah cair anorganik
Pada badan air penerima, kandungan unsur kimia beracun, logam berat, dan
lain-lain meningkat. Kadang-kadang diikuti dengan kenaikan temperatur,
kenaikan/penurunan pH. Keadaan ini akan mengganggu kehidupan air
misalnya tumbuhan dan hewan akan punah ataupun ada senyawa beracun/
logam berat dalam kehidupan air. Bila air tersebut mempunyai kesadahan
tinggi atau partikel yang dapat mengendap cukup banyak, hal ini akan
mengakibatkan pendangkalan, sehingga dapat menimbulkan banjir di
musim hujan. Selain itu senyawa beracun/ logam berat sangat
membahayakan bagi masyarakat yang menggunakan air sungai sebagai
badan air penerima yang dipergunakan sebagai sumber penyediaan air
bersih (Depkes RI, 1987).
2. Terhadap Kesehatan Manusia
Limbah cair berperan dalam kehidupan karena selain mengandung air
juga terdapat di dalamnya zat-zat organik dan anorganik yang diperlukan dalam
11
batas-batas tertentu, oleh sebab itu ada dua peranan Limbah cair dalam
kehidupan yaitu peranan positif dan negatif. Peranan positif apabila Limbah cair
dengan kualitas parameter yang dikandungnya sesuai dengan peruntukannya
antara lain untuk irigasi, perikanan, perkebunan, perindustrian, rumah tangga,
rekreasi, dan lain-lain.
Peranan Limbah cair yang lain selain lebih banyak negatifnya karena
manusia tidak merasa berkepentingan akan Limbah cair tersebut. Limbah cair
dianggap sebagai air yang tidak berguna lagi atau tidak diperuntukkan lagi, oleh
karena itu membuangnya begitu saja tanpa mempertimbangkan segi negatifnya
yang mungkin timbul baik terhadap sumber alam hayati dan non hayati yang
berguna bagi kehidupan. Peranan negatif tersebut termasuk pengaruhnya
terhadap kesehatan manusia dan lingkungannya baik secara langsung maupun
tidak langsung. Badan air yang menerima limbah cair industri, mempunyai
potensi untuk menyebabkan gangguan saluran pencernaan makanan, kulit, dan
sistem tubuh lain.
Ada beberapa penyakit yang ditularkan melalui Limbah cair antara lain
(Soedjono, 1991) : Penyakit Amoebiasis, Ascariasis, Cholera, penyakit cacing
tambang, Leptospirosis, Shigellosis, Strongyloidiasis, Tetanus, Trichuriasis, dan
Thypus.

2.2.7. Cara- cara Pengolahan Limbah cair
Menurut Soeparman, 2002 pengolahan limbah dapat dikelompokkan menjadi
empat kelompok yaitu :
12
1. Pengolahan pendahuluan
Pengolahan pendahuluan digunakan untuk memisahkan padatan kasar, mengurangi
ukuran padatan, memisahkan minyak atau lemak, dan proses menyetarakan fluktuasi
aliran limbah pada bak penampung. Unit yang terdapat dalam pengolahan
pendahuluan adalah :
a. Saringan (bar screen)
b. Pencacah (communitor)
c. Bak penangkap pasir (grit chamber)
d. Penangkap lemak dan minyak (skimmer and grease trap)
e. Bak penyetaraan (equalization basin)
2. Pengolahan tahap pertama
Pengolahan tahap pertama bertujuan untuk mengurangi kandungan padatan
tersuspensi melalui proses pengendapan (sedimentation). Pada proses pengendapan
partikel padat dibiarkan mengendap ke dasar tangki. Bahan kimia biasanya
ditambahkan untuk menetralisasi dan meningkatkan kemampuan pengurangan
padatan tersuspensi. Dalam unit ini pengurangan BOD dapat mencapai 35 %
sedangkan suspended solid berkurang sampai 60 %. Pengurangan BOD dan padatan
pada tahap awal ini selanjutnya akan membantu mengurangi beban pengolahan tahap
kedua.
3. Pengolahan tahap kedua
Pengolahan tahap kedua berupa aplikasi proses biologis yang bertujuan untuk
mengurangi zat organik melalui mekanisme oksidasi biologis. Proses biologis yang
dipilih didasarkan atas pertimbangan kuantitas limbah cair yang masuk unit
13
pengolahan, kemampuan penguraian zat organik yang ada pada limbah tersebut serta
tersedianya lahan. Pada unit ini diperkirakan terjadi pengurangan kandungan BOD
dalam rentang 35 95 % bergantung pada kapasitas unit pengolahnya. Unit yang
biasa digunakan pada pengolahan tahap kedua berupa saringan tetes (trickling
filters), unit lumpur aktif dan kolam stabilisasi.
4. Pengolahan tahap ketiga atau pengolahan lanjutan
Pengolahan tahap ketiga disamping masih dibutuhkan untuk menurunkan kandungan
BOD juga dimaksudkan untuk menghilangkan senyawa fosfor dengan bahan kimia
sebagai koagulan, menghilangkan senyawa Nitrogen melalui proses amonia
stripping menggunakan udara ataupun Nitrifikasi-Denitrifikasi dengan
memanfaatkan reaktor biologis, menghilangkan sisa bahan organik dan senyawa
penyebab warna melalui proses absorbsi menggunakan karbon aktif, menghilangkan
padatan terlarut melalui proses pertukaran ion, osmosis balik maupun elektrodialisis.
Beberapa tahap pengolahan lanjutan antara lain (Soeparman, 2002) :
1. Proses pemekatan yang bertujuan mengurangi kadar air yaitu dengan cara
pengapungan.
2. Proses stabilisasi yang menggunakan proses biologis, baik secara aerob maupun
anaerob.
3. Proses pengaturan/conditioning yang bertujuan untuk mengurangi kadar air
dengan cara penggumpalan yang menggunakan polimer sehingga dapat
mempermudah proses pengangkutan.
4. Proses pengurangan air yang bertujuan mengurangi kadar air dari lumpur. Cara
yang dapat dilakukan untuk mengambil air yang terdapat di dalam lumpur
14
dengan cara alamiah maupun cara mekanis misalnya penyaringan dengan
penekanan, gerakan kapiler, saringan hampa udara, pemutaran dan pemadatan.
5. Proses penyaringan yang menggunakan bak pengering.
6. Proses pembuangan yang dapat dilakukan di laut dan di tanah.
7. Pembunuhan bakteri yang bertujuan untuk mengurangi atau membunuh
mikroorganisme patogen yang ada di air limbah. Bahan yang umum dipakai
adalah desinfektan antara lain klorin yang tujuannya untuk merusak enzim dan
dinding mikroorganisme.















15
Bagan 2.1
Penanganan Limbah Cair


Sumber : Soeparman, 2002
2.3. Limbah Padat
2.3.1. Pengertian Limbah Padat
Limbah padat adalah benda yang tidak terpakai, tidak diinginkan dan dibuang
yang berasal dari suatu aktifitas dan bersifat padat (Kusnoputranto, 2002). Secara umum
Limbah
Pencemaran
Industri
TEKNOLOGI
Primary Treatment
Secondary Treatment
Tertiary Treatment
Proses
Fisika
Kimia
Biologi
BAKU MUTU LIMBAH
16
yang disebut limbah adalah bahan sisa yang dihasilkan dari suatu kegiatan dan proses
produksi, baik pada skala rumah tangga, industri, pertambangan, dan sebagainya. Bentuk
limbah tersebut dapat berupa gas, debu, cair atau padat. Di antara berbagai jenis limbah
ini ada yang bersifat beracun atau berbahaya dan dikenal sebagai limbah
Bahan Berbahaya dan Beracun (Limbah B3).
Definisi dari limbah B3 berdasarkan BAPEDAL (1995) ialah setiap bahan sisa
(limbah) suatu kegiatan proses produksi yang mengandung bahan berbahaya dan
beracun (B3) karena sifat (toxicity,flammabi lity, reactivity, dan corrosivity) serta
konsentrasi atau jumlahnya yang baik secara langsung maupun tidak langsung dapat
merusak, mencemarkan lingkungan, atau membahayakan kesehatan manusia.
2.3.2. Sumber Limbah Padat
Beberapa sumber dari limbah padat antara lain (Kusnoputranto, 2002) :
1. Sampah buangan rumah tangga termasuk sisa bahan makanan, sisa pembungkus
makanan dan pembungkus perabotan rumah tangga sampai sisa tumbuhan kebun
dan sebagainya.
2. Sampah buangan pasar dan tempat-tempat umum (warung, toko dan sebagainya)
termasuk sisa makanan, sampah pembungkus makanan dan sampah pembungkus
lainnya, sisa bangunan, sampah tanaman dan sebagainya.
3. Sampah buangan jalanan termasuk diantaranya sampah berupa debu jalan,
sampah sisa tumbuhan taman, sampah pembungkus bahan makanan dan bahan
lainnya, sampah sisa makanan, sampah berupa kotoran serta bangkai hewan.
4. Sampah industri termasuk diantaranya air limbah industri, debu industri. Sisa
bahan baku dan bahan jadi dan sebagainya.
17
5. Pertanian
2.3.4. Kategori Limbah Padat
Adapun kategori untuk limbah padat pada industri adalah :
1. Limbah padat non B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) diantaranya lumpur,
boiler ash, sampah kantor, sampah rumah tangga, spare part alat berat, sarung
tangan, dan sebagainya.
2. Limbah padat B3 (Bahan Berbahaya dan Beracun) diantaranya bahan radioaktif,
bahan kimia, toner catridge, minyak, dan sebagainya.
2.3.5. Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3)
Menurut sumbernya limbah B3 dibagi atas :
1. Limbah B3 dari sumber tidak spesifik adalah berasal bukan dari proses
utamanya, tetapi dari kegiatan pemeliharaan alat, pencucian, pencegahan korosi,
dan lain-lain.
2. Limbah B3 dari sumber spesifik adalah sisa proses suatu industri atau kegiatan
yang dapat ditentukan.
3. Limbah B3 dari bahan kimia kadaluarsa, tumpahan, bekas kemasan, dan buangan
produk yang tidak memenuhi spesifikasi.
Limbah yang termasuk sebagai limbah B3 apabila memiliki salah satu atau lebih
karakteristik sebagai berikut :
1. Mudah meledak
2. Mudah terbakar
3. Bersifat reaktif
4. Beracun
18
5. Menyebabkan infeksi dan
6. Bersifat korosif (PPRI No. 18 Tahun 1999).
2.3.8. Cara Pengolahan Limbah Padat
Berdasarkan sifatnya pengolahan limbah padat dapat dilakukan melalui 2 cara
(Kristanto, 2002) :
1. Limbah padat tanpa pengolahan.
2. Limbah padat dengan pengolahan.
Limbah padat tanpa pengolahan dapat dibuang ke tempat tertentu yang
difungsikan sebagai tempat pembuangan akhir karena limbah tersebut tidak mengandung
unsur kimia yang beracun dan berbahaya. Tempat pembuangan limbah semacam ini
dapat di daratan ataupun di laut. Berbeda dengan limbah padat yang mengandung
senyawa kimia berbahaya atau yang setidak-tidaknya menimbulkan reaksi kimia baru.
Limbah semacam ini harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang ke tempat
pembuangan akhir.
Faktor-faktor yang perlu dipertimbangkan sebelum limbah diolah :
a. Jumlah limbah, jika jumlah limbahnya sedikit maka tidak membutuhkan
penanganan khusus seperti tempat dan sarana pembuangannya, tetapi jika limbah
yang dibuang misalnya 4 meter kubik perhari sudah tentu membutuhkan tempat
pembuangan akhir dan sarana pengangkutan tersendiri.
b. Sifat fisik dan kimia limbah, dapat merusak dan mencemari lingkungan, secara
kimia dapat menimbulkan reaksi saat membentuk senyawa baru. Limbah padat
yang berupa lumpur akan mencemari air tanah melalui penyerapan ke dalam
tanah.
19
c. Kemungkinan pencemaran dan kerusakan lingkungan, perlu diketahui komponen
lingkungan yang rusak akibat pencemaran pada tempat pembuangan akhir. Unsur
mana yang terkena dampak dan bagaimana tingkat pencemaran yang
ditimbulkan.
d. Tujuan akhir yang hendak dicapai, tujuan yang hendak dicapai tergantung dari
kondisi limbah, bersifat ekonomis atau non ekonomis. Untuk limbah yang
memiliki nilai ekonomis mempunyai tujuan untuk meningkatkan efisiensi dan
untuk memanfaatkan kembali bahan yang masih berguna. Sedangkan limbah non
ekonomis pengolahan ditujukan untuk pencegahan perusakan lingkungan.
Berdasarkan beberapa pertimbangan di atas pengelolaan limbah padat dapat
dilakukan proses-proses sebagai berikut :
1. Pemisahan
Pemisahan perlu dilakukan karena dalam limbah terdapat berbagai ukuran dan
kandungan bahan tertentu. Proses pemisahan dapat dilakukan dengan cara-cara
sebagai berikut :
a. Sistem Balistik
Pemisahan cara ini dilakukan untuk mendapatkan ukuran yang lebih
seragam, misalnya atas berat dan volumenya.
b. Sistem Gravitasi
Pemisahan dilakukan berdasarkan gaya beratnya, misalnya terhadap
bahan yang terapung dan bahan yang tenggelam dalam air yang karena
gravitasi akan mengendap.
c. Sistem Magnetis
20
Bahan yang bersifat magnetis akan menempel pada magnet yang terdapat
pada peralatan sedangkan yang tidak mempunyai akan langsung terpisah.
2. Penyusutan Ukuran
Ukuran bahan diperkecil untuk mendapatkan ukuran yang lebih homogen
sehingga mempermudah pemberian perlakuan pada pengolahan berikutnya
dengan maksud antara lain :
a. Ukuran bahan menjadi lebih kecil
b. Volume bahan lebih kecil
c. berat dan volume bahan lebih kecil. Cara ini umumnya dilakukan dengan
pembakaran (insenerasi) pada alat insenerator.
3. Pengomposan
Bahan kimia yang terdapat di dalam limbah diuraikan secara biokoimia, sehingga
menghasilkan bahan organik baru yang lebih bermanfaat. Pengomposan banyak
dilakukan terhadap limbah yang sudah membusuk, buangan industri, lumpur
pabrik dan sebagainya. Untuk beberapa jenis buangan tertentu barang kali tidak
membutuhkan pengomposan, tetapi pembakaran (insenerasi) dengan tahap
sebagai berikut :
a. Pemekatan
b. Penghancuran
c. Pengurangan air
d. Pembakaran
e. Pembuangan.

21
2.3.9. Dampak Limbah Padat Industri
1. Terhadap Lingkungan
a. Dampak Menguntungkan
Dapat dipakai sebagai penyubur tanah, penimbun tanah dan dapat
memperbanyak sumber daya alam melalui proses daur ulang (Slamet,
2000).
b. Dampak merugikan
Limbah padat organik akan menyebabkan bau yang tidak sedap akibat
penguraian limbah tersebut. Timbunan limbah padat dalam jumlah besar
akan menimbulkan pemandangan yang tidak sedap, kotor dan kumuh.
Dapat juga menimbulkan pendangkalan pada badan air bila dibuang ke
badan air (Wardhana, 2004).
2. Terhadap Manusia
a. Dampak menguntungkan
Dapat digunakan sebagai bahan makanan ternak, dapat berperan sebagai
sumber energi dan benda yang dibuang dapat diambil kembali untuk
dimanfaatkan (Slamet, 2000).
b. Dampak merugikan
Limbah padat dapat menjadi media bagi perkembangan vektor dan
binatang pengguna. Baik tikus, lalat, nyamuk yang dapat menimbulkan
penyakit menular bagi manusia diantaranya Demam berdarah, Malaria,
Pilariasis, Pes, dan sebagainya (Wardhana, 2004).

22
2.4. Limbah Gas
2.4.1. Pengertian Pencemaran Udara
Pencemaran udara adalah masuk atau dimasukkannya mahluk hidup, zat, energi
dan atau komponen lain ke dalam udara dan atau berubahnya tatanan (komposisi) udara
oleh kegiatan manusia atau proses alam, sehingga kualitas udara menjadi kurang atau
tidak dapat berfungsi lagi sesuai dengan peruntukannya (Kristanto, 2002).
2.4.2. Sumber Pencemar Udara
Berdasarkan asal dan kelanjutannya di udara pencemar udara dapat dibedakan
menjadi pencemar udara primer dan pencemar udara sekunder. Pencemar udara primer
yaitu pencemar di udara yang ada dalam bentuk yang hampir tidak berubah, sama seperti
pada saat dibebaskan dari sumbernya sebagai hasil dari suatu proses tertentu. Pencemar
udara primer umumnya berasal dari sumber-sumber yang diakibatkan oleh aktifitas
manusia seperti dari industri (cerobong asap industri), dari sektor industri transportasi.
Pencemar udara sekunder adalah semua pencemar di udara yang sudah berubah
karena reaksi tertentu antara dua atau lebih kontaminan/ polutan. Umumnya polutan
sekunder merupakan hasil antara polutan primer dengan polutan lain yang ada di udara.
Reaksi-reaksi yang menimbulkan polutan sekunder diantaranya adalah reaksi fotokimia
dan reaksi oksida katalis. Reaksi fotokimia misalnya oleh pembentukan ozon, reaksi-
reaksi oksida katalis diwakili oleh polutan berbentuk oksida gas (Kristanto, 2002).
2.4.3. Komposisi Pencemar Udara
Pencemar udara primer dapat digolongkan menjadi lima kelompok yaitu
(Wardhana, 2004):
23
1. Karbon Monoksida (CO), komponen ini mempunyai berat sebesar 96,5% dari
berat air dan tidak dapat larut dalam air. CO yang terdapat di alam terbentuk
dari satu proses sebagai berikut pembakaran tidak sempurna terhadap karbon
atau komponen yang mengandung karbon, reaksi antara karbon dioksida dan
komponen yang mengandung karbon pada suhu tinggi. Pada suhu tinggi
karbon dioksida terurai menjadi karbon monoksida dan atom O.
2. Nitrogen Oksida (Nox), Nox adalah kelompok gas yang terdapat di atmosfir,
terdiri dari gas NO dan NO
2
. NO merupakan gas yang tidak berwarna dan
tidak berbau, sebaliknya NO
2
mempunyai warna coklat kemerahan dan
berbau tajam.
3. Hidrokarbon (HC), yaitu komponen-komponen hidrokarbon terdiri dari
elemen hidrogen dan karbon. Hidrokarbon yang sering menimbulkan
masalah dalam pencemaran udara adalah yang berbentuk gas pada suhu
normal atmosfir atau hidrokarbon yang bersifat sangat volatil (mudah
berubah menjadi gas) pada suhu tersebut.
4. Sulfur Oksida (Sox), yaitu pencemaran olah Sox terutama disebabkan oleh
dua komponen gas yang tidak berwarna yaitu SO
2
dan SO
3
. SO
2
mempunyai
karakteristik bau yang tajam dan tidak terbakar di udara sedangkan
SO
3
merupakan komponen yang tidak reaktif.
5. Partikel, polutan udara disamping berwujud gas dapat pula berbentuk
partikel-partikel kecil padat dan dropled cairan yang terdapat dalam jumlah
cukup besar di udara.
Gas dan uap dibedakan menjadi :
24
a. Yang larut dalam air, misalnya oksigen larut dalam air.
b. Yang tidak larut dalam air. Dibedakan lagi menjadi yang tidak larut tetapi
berekasi dengan salah satu komponen dalam air lambat sekali, misalnya benzena.
2.4.4. Parameter Limbah Udara
2.4.4.1. Emisi Industri
Udara alamiah selain terdiri dari gas dan uap air juga mengandung campuran
partikel padat dan cair yang sangat halus yang disebut aerosol. Baku mutu emisi adalah
batas kadar yang dikeluarkan dari zat-zat atau bahan pencemar yang dikeluarkan
langsung dari sumber pencemar udara, sehingga kadar zat-zat atau bahan-bahan tersebut
tidak menimbulkan gangguan pada manusia, hewan, tumbuhan dan benda-benda serta
tidak melampaui baku mutu udara ambien (MenLH, 2002).
Emisi sebagai salah satu penentu mutu udara berperan penting dalam
menentukan kualitas udara. Sumber emisi bahan pencemar dalam hal ini dapat
disebabkan oleh setiap orang atau kegiatan usaha yang menimbulkan emisi bahan
pencemar. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa emisi merupakan akibat dari
aktifitas manusia yaitu pabrik-pabrik, kendaraan bermotor, pembakaran.
Bahan pencemar yang dapat ditimbulkan oleh sumber stasioner (tak bergerak)
tersebut adalah (BPLHD DKI, 2000):
Non Logam
1. Amonia (NH)
2. Gas Chlorin
3. Hidrogen Klorida (HO)
4. Hidrogen Fluorida (HF)
25
5. Nitrogen Dioksida (N02)
6. Opasitas
7. Partikel
8. Sulfur Dioksida (S02)
9. Total Sulfur Tereduksi (HAS)
(total Reduced Sulphur)
Logam
1. Air Raksa (Hg)
2. Arsem (As)
3. Antimon (Sb)
4. Kadmium (Cd)
5. Seng (Zn)
6. Timah Hitam (Pb)
Bahan pencemar tersebut di atas walaupun akumulasinya banyak dipengaruhi
oleh keadaan alam setempat (misalnya arah angin) tetapi asal bahan pencemar tetap
(stationer) maka lingkungan sekitar terdekat dengan kegiatan yang potensil
menimbulkan bahan pencemar, merupakan kelompok yang mempunyai resiko tinggi
yang mendapat dampak negatif.
2.4.4.2. Tingkat Kebauan
Kebauan adalah bau yang tidak diinginkan dalam kadar dan waktu tertentu yang
dapat mengganggu kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Baku mutu tingkat
kebauan adalah batas maksimal bau dalam udara yang diperbolehkan yang tidak
mengganggu kesehatan manusia dan kenyamanan lingkungan. Dalam KepmeLH No.50
26
tahun 1996 baku tingkat kebauan diatur dalam dua jenis zat odoran bau yaitu berupa zat
odoran tunggal dan zat odoran campuran.
a. Parameter bau dari odoran tunggal
1. Amoniak (NH3)
2. Metil Merkaptan (CH3SH)
3. Hidrogen
4. Metil Sulfida ((CH3)2)S
5. Stirena (C6H5CHCH2)
b. Bau dari odoran campuran
Tingkat kebauan yang dihasilkan oleh campuran odoran dinyatakan sebagai ambang
bau yang dapat dideteksi secara sensorik oleh lebih dari 50% anggota penguji yang
berjumlah minimal 8 orang.
2.4.5. Dampak Pencemaran Udara
1. Terhadap Lingkungan
a. Partikel
Partikel di atmosfir membuat dampak yang terbatas pada sejumlah radiasi
matahari yang mencapai permukaan bumi. Satu prinsip efek adalah pengurangan
kenampakan. Intensitas cahaya yang diterima dari benda dan latar belakang
menjadi kurang. Jumlah polusi partikel tergantung pada musim ataupun lokasi
sumber polusi dan emisinya. Debu pada daun jika terkena kabut atau hujan
ringan akan membuat kerak yang tebal pada permukaan daun dapat mengganggu
proses fotosintesis dengan menghalangi sinar matahari yang diperlukan daun dan
mengacaukan proses pertukaran CO.
27
b. SO
2

Kerusakan tanaman dapat terjadi oleh sulfur dioksida (SO
2
). Uap asap sulfat
dapat merusak tanaman dan dapat terlihat pada daun. Kerusakan kronis dapat
terjadi bila kontak dengan SO
2
dalam waktu yang lama ditandai dengan warna
daun kuning karena terhambatnya pembentukan klorofil kemudian dapat
mengakibatkan gugurnya daun. Pengaruh SO
2
antara lain terhadap cat, dimana
waktu pengeringan dan pengerasan beberapa cat meningkat jika mengalami
kontak dengan SO
2
, beberapa film cat menjadi lunak dan rapuh jika dikeringkan,
serat tekstil terutama yang terbuat dari serta tumbuhan menjadi lapuk. Kondisi
lingkungan yang tercemar SO
2
merangsang kecepatan korosi teruma besi, baja,
dan zink (Sunu, 2001) dengan atmosfer. Dengan demikian pertumbuhan tanaman
akan terhenti. Partikulat debu yang ada juga dapat menimbulkan kerusakan
material/bahan secara luas. Partikulat mempercepat korosi terutama adanya
campuran yang mengandung sulfur.
c. NO
2

Adanya konsentrasi NO
2
di udara dapat menimbulkan kerusakan tanaman.
Percobaan cara fumigasi tanaman-tanaman dengan NO
2
menunjukkan adanya
bintik-bintik pada daun. Pencemaran udara oleh gas NO
X
juga menyebabkan
timbulnya fotokimian yang sangat mengganggu lingkungan (Sunu, 2001)
2. Terhadap Kesehatan Manusia
a. Partikel
Partikel (debu) yang masuk atau mengendap dalam paru-paru dapat
mengakibatkan Pneumoniosis, dan iritasi pada mata.efek tidak langsung terhadap
28
manusia bila partikel polutan yang mengandung zat kimia mengendap pada daun
dan daun digunakan sebagai bahan makanan oleh manusia
b. SO
2

SO
2
mempunyai sifat iritasi/perangsangan, gangguan yang lebih kuat. SO
2
merupakan polutan yang berbahaya bagi kesehatan terutama bagi penderita
penyakit kronis sistem pernafasan dan kardiofaskuler.
c. NO
2

Organ tubuh yang paling peka terhadap pencemaran gas Nitrogen Oksida adalah
paru-paru. Paru-paru terkontaminasi oleh gas NO
2
akan membengkak sehingga
penderita sulit bernafas dan mengakibatkan kematian. Pengaruhnya terhadap
kesehatan yaitu terganggunya sistem pernafasan, bila kondisinya kronis dapat
berpotensi terjadi Bronkhitis serta akan terjadi penimbunan Nitrogen Oksida dan
dapat merupakan sumber Karsinogenik (Sunu, 2001).
2.4.6. Tujuan Pengolahan Limbah Gas
1. Mencegah terjadinya penurunan kualitas udara di dalam area pabrik maupun
di desa-desa sekitarnya yang dekat dengan area pabrik sehingga berguna bagi
hajat hidup orang banyak.
2. Minimalisasi atau mengurangi bau yang tidak menyenangkan yang
disebabkan kegiatan operasional.
3. Minimalisasi atau mengurangi tingkat kebisingan di dalam area pabrik
maupun di daerah sekitarnya.


29
2.4.7. Cara-cara Pengolahan
Ada beberapa metode yang telah dikembangkan untuk penyederhanaan buangan
gas. Dasar pengembangan yang dilakukan adalah penyapuan partikel (particulate
scrubber), penyerapan absorbsi, pembakaran, penutupan bau, dilusi, penyerapan ion
excanger, dan kolam netralisasi.
Beberapa jenis peralatan yang digunakan untuk pengolahan limbah gas :
1. Scrubber, alat ini digunakan untuk membersihkan gas yang mudah bereaksi dengan
air.Prinsip kerjanya adalah mencampur air dengan uap/gas dalam suatu wadah. Alat
ini terdiri dari beberapa tipe seperti wet scrubber, ventury scrubber dan vertical
scrubber, spray tower, package tower, plate tower dan cyclon.
2. Menara isi, terdiri dari yang berbentuk silinder yang diisi dengan butiran pengisi
untuk memperluas permukaan kontak antara gas dan cairan penyerap.
3. Menara semprot (spray tower), pemakaiannya lebih banyak untuk keperluan
perpindahan panas.
4. Penyerapan berdasarkan tarikan cairan. Cara ini banyak dipakai untuk gas klor yang
membawa partikel-partikel kapur.
5. Ruang penyerapan berbentuk siklon. Cara ini adalah perpaduan antara teknik
penyemprotan dengan prinsip mekanis dari gaya sentrifugal. Alat ini bisa dipakai
untuk menyerap buangan dalam bentuk gas seperti gas klor atau gas yang membawa
partikel.
6. Penyerapan secara mekanis, dispersi cairan penyerap ke dalam gas pada alat ini
dilakukan dengan cara mekanis.
30
Untuk menghilangkan bau gas yang mengganggu dilakukan dengan cara
penutupan (counter of odor). Apabila bau yang keluar tidak efektif untuk dihilangkan
dengan cara kimia, pembakaran atau absorbsi maka perlu diberi zat lain yang berbau
lebih enak misalnya essens, parfum dan lain-lain yang dapat menutupi bau yang
mengganggu tersebut. Penambahan zat tersebut dapat dilakukan dengan penyemprotan
pada dasar cerobong dengan konsentrasi sampai 2%. Cara lain dapat pula dengan
penambahan pada scrubber zat tambahan kimiawi yang mudah menguap dan dapat
menetralkan bau
Pembakaran dilakukan terhadap gas buangan yang mengganggu tetapi tidak
mengandung pencemar yang berbahaya atau terhadap gas buangan yang sulit diolah
tetapi mengandung zat-zat yang dapat dibakar dan biasanya dilakukan pembakaran
sebalum dibuang ke udara. Pembakaran merupakan cara yang sangat efektif untuk
menghilangkan pencemar yang dapat terbakar, bau, senyawa beracun dan dapat
mengurangi bahaya ledakan.
31

Bagan 2.2
Skema Penanganan Limbah







Air Limbah Air Buangan
(PP 82/2001)





Sumber: HMTL UPN"V" Yogyakarta ( 2008)
Bahan baku
Pp74/2001
Proses
Produksi
*limbah padat
*limbah Cair
Limbah B3 (PP 18/1999 jo. 85/1999)
Limbah gas PP41/1999
IPAL
Produk
sludge
32
2.6 Gambaran Umum Perusahaan
2.6.1 Sejarah PPPTMGB LEMIGAS
Adanya perkembangan pengusahaan pertambangan Minyak dan Gas Bumi di
Indonesia yang harus dipercepat karena adanya proyek B yang tercantum dalam dasar
pembangunan nasional berebcana tahapan pertama 1964-1969 sebagai mana ditetapkan
dalam rencana Depennas tanggal 3 Desember 1963 yang garis-garis besarnya telah di
sahkan dengan ketetapan MPRS No.11/MPRS/1960 dalam bidang minyak bumi harus
dilakukan pembangunan kilang minyak dan pelaksaan eksplorasi minyak bumi.
Perencanaan dan penelitian dari pembangunan tersebut akan ditampung dalam satu
lembaga, yang memerlukan tenaga-tenaga dan kader-kader terdidik dan terlatih. Untuk
merealisasikannya, salah satunya dibentuk Panitia Persiapan Research Laboratorium
Minyak dan Gas Bumi dangan Keputusan Menteri Perdatam No. 301/62 tanggal 26
Oktober 1962.
Sebagai pelaksana dan keputusan no.17/M/Migas/65 khusus untuk LEMIGAS,
maka dikeluarkanlah Keputusan Mentreri urusan Minyak dan Gas Bumi No.
2088a/M/Migas/65 tanggal 16 Desember 1665 tentang Tugas dan Susunan Organisasi
LEMIGAS. Kemudian berdasarkan keputusan Menteri Pertambangan
No.261/Kpst/M/Pertamb/68 tanggal 22 Agustus 1968 dibentuklah lembaga Minyak dan
Gas Bumi, yang di dasarkan pada Instruksi Presiden No.17 tahun 1967 tanggal 28
Desember 1967 untuk segera mengadakan persiapan/penyempurnaan usaha/proyek
Negara yang diarahkan kepada salah satu dari tiga bentuk pokok usaha Negara yaitu ke
dalam bentuk perusahaan (Negara) Jawatan.
33
Dalam keputusan ini disebutkan bahwa lapangan usaha LEMIGAS adalah
pendidikan atau latihan, riset dan dokumentasi/publikasi. LEMIGAS Berkedudukan di
Jakarta. Dengan letak geografis PPPTMGB LEMIGAS, berdiri di atas lahan yang
luasnya 124,940 yang terdiri dari 53 units (54.534 m) gedung perkantoran,
laboratorium 30 unitt, dan sarana laboratorium 1.085 Units. Terletak di jalan Cileduk
Raya kav.109 Cipulir, Kebayoran Lama, Jakarta Selatan 12230, Indonesia.
Dengan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi No.1092 tahun 1984
tanggal 5 novenber 1984 tentang organisasi dan tata kerja departemen pertambangan dan
energi, maka Pusat Pertambangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi LEMIGAS
(PPTMGB LEMIGAS) berubah menjadi Pusat Penelitian dan Pengembangan
Teknologi Minyak dan Gas Bumi. LEMIGAS (PPPTMGB LEMIGAS). LEMIGAS
sendiri tidak lagi disebut dengan kepanjangan Lembaga Minyak dan Gas Bumi, tetapi
sudah menjadi sebuah nama. Berdasarkan Keputusan Menteri Pertambangan dan Energi
No. 1748 tahun 1992 Tanggal 31 Desember 1992 maka struktur organisasi Departemen
Pertambangan dan Energi mengalami penyempurnaan lagi.
Dengan ditetapkan keputusan presiden No. 177 tahun 2000 tanggal 15 Desember
2000 tentang susunan dan organisasi dan tugas Departemen dan keputusan Menteri
Energi dan Sumber Daya Mineral No. 150 tahun 2001 tanggan 2 Maret 2001 tentang
organisasi dan tata kerja Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, maka
PPPTMGB LEMIGAS dibawah Badan Penelitian Pengembangan Energi Sumber
Daya dan Mineral.


34
2.6.2 Visi dan Misi PPPTMGB LEMIGAS
Visi yang ingin dicapai oleh PPPTMGB LEMIGAS adalah menjadi lembaga
penelitian dan pengembangan yang unggul, profesional dan bertaraf internasional di
bidang minyak dan gas.
Sedangkan misi PPPTMGB LEMIGAS diantaranya adalah :
1. Meningkatkan peran lemigas dalam memberikan masukan kepada
pemerintah guna meningkatkan iklm yang kondusif bagi pengembangan
industri migas.
2. Meningkatkan kualitas jasa litbang untuk memberikan nilai tambah bagi
pelanggan.
3. Menciptakan produk unggulan dan mengenbangkan produk andalan.
4. Meningkatkan iklim kerja yang kondusif melalui sinergi koordinasi serta
penerapan sistim manajemen secara konsisten
2.6.3 Tugas Pokok PPPTMGB LEMIGAS
Tugas pokok suatu kegiatan seputar penelitian dari PPPTMGB LEMIGAS
adalah melaksanakan :
1. Penelitian dan Pengembangan
Penelitian dan pengembangan meliputi Kelompok Program Riset Teknologi
Eksplorasi, Ekspoitasi, Proses, Aplikasi Produk dan Teknologi Gas bagi perindustrian
minyak dan gas bumi.
2. Dokumentasi dan Informasi Ilmiah
35
Tugasnya mendokumentasikan kegiatan-kegiatan yang dijalankan oleh
PPPTMGB LEMIGAS seperti perayaan hari-hari besar agama, workshop, kegiatan-
kegiatan olahraga, penelitian dan pengembangan dan lainnya serta memberikan
informasi dalam bentuk publikasi dan situs internet.
3. Pelayanan Jasa Teknologi di Bidang Pertambangan Minyak dan Gas Bumi.
Tugas ini merupakan tugas utama dalam memberikan layanan konsultasi
teknologi dalam industri Migas
4. Aktifitas PPPTMGB LEMIGAS
Berbagai aktifitas penelitian dan pengembangan yang dilakukan oleh PPPTMGB
LEMIGAS di fokuskan pada kegiatan di bidang Migas. hal tersebut direalisasikan
dalam tujuan program penelitian, yaitu :
a. Mengidentifikasi cadangan sumber Migas
b. Meningkatkan Penemuan Kembali Sumber-sumber Migas.
c. Meningkatkan Kualitas Produk Migas.
d. Melakukan Konservasi
e. Mencari energi alternatif
f. Pemanfaatan Lingkungan
g. Menyediakan alat-alat teknologi


36
Sumber Daya Manusia (SDM) PPPTMGB LEMIGAS
Karyawan merupakan sumber daya penggerak utama dalam kegiatan di
PPPTMGB LEMIGAS. Total sumber daya manusia yang ada di PPPTMGB
LEMIGAS adalah sebanyak 775 orang.
2.6.5 Struktur Organisasi PPPTMGB LEMIGAS
Pusat penelitian dan pengembangan teknologi minyak dan gas bumi LEMIGAS
terdiri dari :
a. Bagian Tata Usaha
Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melaksanakan urusan kepegawaian, keuangan,
rumah tangga kantor, serta pemeliharaan sarana dan prasarana di lingkungan Pusat.
b. Bidang Program
Bidang program mempunyai tugas melaksanakan penyusunan serta kerja sama
penelitian dan pengembangan.
c. Bidang Afiliasi
Bidang Afiliasi mempunyai tugas melaksanakan pengelolaan dokumentasi dan publikasi
di bidang teknologi minyak dan gas bumi.
d. Bidang Sarana Penelitian dan Pengembangan
Bidang Sarana Laboratorium dan Mutu mempunyai tugas melaksanakan Pengembangan
dan pemeliharaan sarana laboratorium serta perumusan dan evaluasi pelaksanaan sistem
mutu.
e. Kelompok Program Riset dan Teknologi (KPRT)
37
Kelompok Program Riset dan Teknologi (KPRT) atau kelompok-kelompok
fungsional mempunyai tugas melaksanakan dan memberikan pelayanan jasa penelitian
dan pengembangan di bidang minyak dan gas bumi, yang terdiri dari :
a. Kelompok Program Riset Teknologi Eksplorasi
b. Kelompok Program Riset Teknologi Eksploitasi
c. Kelompok Program Riset Teknologi Proses
d. Kelompok Program Riset Teknologi Aplikasi
e. Kelompok Program Riset Teknologi Gas
Untuk lebih jelasnya, struktur organisasi PPPTMGB LEMIGAS dapat dilihat dalam
bagan 2.3 berikut.











38
Bagan 2.3
Struktur Organisasi PPPTMGB LEMIGAS Tahun 2010

Sumber : Bidang Afiliasi Tahun 2010
2.7 Gambaran Umum Health Safety Environment (HSE)
PPPTMGB LEMIGAS merupakan institusi pemerintah yang mempunyai tugas
melaksanakan penelitian dan pengembangan teknologi di bidang minyak dan gas bumi.
Dalam melaksanakan tugas tersebut, PPPTMGB LEMIGAS menyelenggarakan fungsi
perumusan rencana program penelitian dan pengembangan, pelayanan jasa penelitian
dan pengembangan teknologi, pengelolaan sarana dan prasarana, pengembangan kerja
39
sama kemitraan serta kebijakan sistem manajemen lingkungan keselamatan dan
kesehatan kerja (SMLK3).
Dalam pelayanan jasa litbang, PPPTMGB LEMIGAS melaksanakan jasa
penelitian dan pengembangan di bidang minyak dan gas bumi dengan menyediakan jasa
studi, jasa laboratorium, jasa perbantuan tenaga ahli, dan jasa penyewaan alat atau
laboratorium yang konsisten dan memenuhi persyaratan sesuai kebutuhan pelanggan.
Sebagai lembaga yang memberikan pelayanan jasa dalam penelitian dan
pengembangan di bidang minyak dan gas bumi, PPPTMGB LEMIGAS mempunyai
komitmen terhadap aspek lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja dalam
menghasilkan produk atau jasa litbang dan selalu konsisten dalam menerapkan Sistem
manajemen LK3 (SMLK3) yang mengacu pada standar ISO 14001:2004 dan OHSAS
18001:2007, serta berusaha menjadi organisasi yang efektif, efesien dan professional.
Dalam menjalankan komitmen terhadap Sstem Manajemen Lingkungan,
Keselamatan dan Kesehatan kerja PPPTMGB LEMIGAS melaksanakan tugas dan
fungsi SMLK3 di bawah naungan komite LK3.
2.7.1 Komite LK3
K3 telah dilaksanakan dengan sepenuhnya mulai dari awal didirikannya
LEMIGAS sebagai lembaga minyak dan gas bumi tahun 1965, untuk memenuhi
standard safety sebagaimana dipersyaratkan di dunia industri perminyakan. Kedudukan
LEMIGAS adalah di Cipulir Jakarta Selatan serta Cepu, Jawa Tengah. Keadaan tersebut
berlangsung sehingga LEMIGAS ditetapkan sebagai institusi pemerintah dengan nama
Pusat Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi (PPPTMGB) pada tahun 1977.
Pada tahun 1988 LEMIGAS dipecah menjadi dua institusi : berkedudukan di Cipulir
40
Jakarta dan Pusat Pengembangan Tenaga Perminyakan dan Gas Bumi (PPPTMGB)
Cepu, Jawa Tengah. Namun kedua institusi tersebut tetap menerapkan K3 dengan
standar industri perminyakan sebagaimana sebelumnya.
Tahun 2002 LEMIGAS mulai menerapkan ISO 17025, kemudian ISO 9000-
2001 mulai tahun 2003 dan pada tahun 2004-2005 LEMIGAS mulai dibentuknya
SMLK3 berdasarkan OHSAS 18001 dan ISO 14001. PPPTMGB LEMIGAS
mempunyai komitmen terhadap aspek mutu, keselamatan dan lindungan dalam
menghasilkan produk atau jasa dan berusaha menjadi organisasi yang efektif dan efisien
dan professional.
2.7.2 Kebijakan LK3
Berdasarkan Visi dan Misi organisasi yang telah ditetapkan untuk memberikan
kepuasan terhadap pelanggan maupun stakeholder, maka kepala PPPTMGB
LEMIGAS menetapkan kebijakan K3 sebagai berikut :
PPPTMGB LEMIGAS menjamin bahwa dalam melaksanakan kegiatannya selalu
berupaya memenuhi persyaratan standar serta peraturan yang berlaku menyangkut
aspek lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja, termasuk pecegahan terhadap luka
(injury) maupun gangguan kesehatan (ill health) serta larangan penggunaan narkotika
dan obat-obatan psikotropika lainnya, melaksanakan perbaikan berkelanjutan terhadap
keefektifan system manajemen lingkungan, keselamatan dan kesehatan kerja, dan
kinerja LK3 serta memastikan bahwa seluruh personil berperan aktif dan bertanggung
jawab terhadap pencapaian tujuan dan sasarn LK3 sesuai tugas fungsinya.
Bersamaan dengan ini PPPTMGB LEMIGAS mempunyai komitmen dan
berjanji untuk memenuhi semua peraturan pemerintah pusat, daerah dan persyaratan
41
tenaga LK3, menghasilkan produk maupun proses yang aman juga ramah lingkungan
bagi pelanggan dan semua orang yang berada di lingkungan PPPTMGB LEMIGAS.
Untuk menunjang aktifitas di atas, PPPTMGB LEMIGAS berupaya terus
menerus melakukan perbaikan kondisi kelestarian LK3 dengan melaksanakan program-
program LK3, meminimalisasi pencemaran lingkungan dari sumbernya,
mengefisiensikan sumber energi, daur ulang bahan baku utama, serta menghilangkan
resiko bahaya kerja dengan melibatkan peran aktif seluruh pegawai. Setiap pegawai
diberikan alat pelindung diri dan pengetahuan tentang green company serta ditanamkan
kepedulian terhadap LK3, sehingga pegawai mampu turut serta dalam penyelenggaraan
tempat kerja yang bersih, rapih, sehat, aman dan nyaman.
Kepala Pusat PPPTMGB LEMIGAS menentukan kebijakan dan menjamin bahwa
kebijakan ini :
a) Sesuai dengan sifat, skala dan dampak lingkungan serta bahaya kerja dari
kegiatan yang dilaksanakan di lingkungan PPPTMGB LEMIGAS.
b) Mencakup komitmen untuk mencegah terhadap cidera (injury) dan gangguan
kesehatan (ill health), dan melaksanakan perbaikan berkelanjutan terhadap
keefektifan Sistem Manajemen Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja,
dan Kinerja Kerja LK3.
c) Mencakup komitmen dalam larangan penggunaan narkotika dan obat-obatan
psikotropika lainnya.
42
d) Mencakup komitmen untuk memenuhi perundang-undangan dan peraturan LK3
yang relevan dan persyaratan lain yang ditetapkan oleh PPPTMGB
LEMIGAS.
e) Merupakan kerangka untuk menyusun dan mengkaji tujuan dan sasaran LK3.
f) Didokumentasikan, dilaksanakan, dipelihara.
g) Dikomunikasikan kepada seluruh personel untuk bertanggung jawab secara
dalam pribadi dalam mencegah hal-hal yang dapat mencelakakan dirinya sendiri,
dan orang lain dibawah kendali organisasi.
h) Berlaku untuk pihak-pihak terkait.
i) Ditinjau ulang secara periodik untuk menyakinkan kesesuaian penerapan LK3
dengan kebutuhan organisasi.
2.7.3 Tujuan dan Sasaran LK3
Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, komite LK3 memiliki tujuan dan
sasaran yang sudah ditetapkan dalam Program Manajemen (PM) LK3. Tujuan dan
sasaran LK3 PPPTMGB LEMIGAS periode 2008-2009 diantaranya sebagai berikut :
1. Mencegah terjadinya keadaan bahaya dan kecelakaan kerja.
- Memastikan peralatan kompresor memenuhi peraturan yang berlaku sebanyak
50% dari total kompressor yang ada.
- Memastikan peralatan angkat hoist memenuhi peraturan yang berlaku sebanyak
100% dari total pesawat yang ada.
43
- Memastikan Genset memenuhi peraturan yang berlaku.
- Memastikan penanganan tabung gas bertekanan memenuhi peraturan yang
berlaku sebanyak 75% dari total tabung gas bertekanan yang ada.
- Memastikan kelistrikan di lingkungan sesuai peraturan yang berlaku sebanyak
75% dari total tabung gas bertekanan yang ada.
- Memastikan peralatan instalasi penyalur petir memenuhi peraturan yang berlaku
sebanyak 100% dari total penyalur petir yang ada.
- Memenuhi peraturan depnaker mengenai pengurus P2K3 sebanyak 100%.
- Mengidentifikasi dan mengendalikan kecelakaan kerja akibat paparan B3
sebanyak 100%.
- Mengidentifikasikan dan mengendalikan potensi hazard penyebab kecelakaan
kerja sebanyak 75%.
- Meningkatkan kepedulian pegawai terhadap potensi bahaya K3.
2. Mencegah terjadinya PAK (Penyakit Akibat Kerja) terhadap pegawai PPPTMGB
LEMIGAS
- Menciptakan kondisi kerja yang sehat dengan memenuhi peraturan yang berlaku.
3. Mencegah terjadinya pencemaran lingkungan
- Memastikan pengendalian limbah labratorium memenuhi peraturan yang berlaku
sebanyak 50%.
44
- Memastikan pengendalian limbah domestik mematuhi peraturan yang berlaku
sebanyak 50%.
- Memastikan pengendalian limbah udara memenuhi peraturan yang berlaku
sebanyak 50%.
4. Mencegah dan menanggulangi terjadinya keadaan darurat
- Mentaati peraturan perudang-undangan pengendalian kebakaran dan keadaan
darurat
- Mengendalikan potensi bahaya penyebab kebakaran
- Meningkatkan kepedulian pegawai terhadap keadaan darurat
5. Mengembangkan dan meningkatkan program komunikasi tentang LK3
- Mengkomunikasikan program LK3 kepada seluruh pegawai, supplier, kontraktor
dan konsumen dan instansi terkait (Depnaker, Instansi pemberi izin) secara
berkelanjutan.
2.7.4 Struktur Organisasi Komite LK3
Kepala Komite LK3 merupakan pimpinan puncak implementasi LK3 PPPTMGB
LEMIGAS yang bertanggung jawab terhadap masalah lingkungan, Kesehatan dan
Keselamatan Kerja. Koordinator Komite LK3 yang dijabat oleh Ir. Sugeng Riyono,
M.Phil membawahi unit-unit yang berhubungan dengan LK3. Unit-unit tersebut adalah
unit Administrasi, unit Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) dan Unit Lindungan
Lingkungan (LL).
45
Setiap unit membawahi sub unit dibidangnya. Unit Administrasi membawahi
Sub Unit TI yang mengurus masalah administrasi dan pendokumentasian. Sub unit
Kecelakaan Kerja dan Kesiagaan Tanggap Darurat (KKTD) bersama dengan Sub Unit
Hygene dan Kesehatan Kerja (HKK) berada di bawah naungan Unit K3. Unit LL
membawahi Sub unit Pengelolaan dan Pengolahan Limbah (PPL) dan Sub Unit
Konservasi Lingkungan (KL). Untuk lebih jelas mengenal struktur organisasi Komite
LK3 dapat dilihat dalam bagan 2.4 berikut :
46
Bagan 2.4
Struktur Organisasi Komite LK3 PPPTMGB LEMIGAS Tahun 2011





















Koordinator Komite LK3
Ir. Sugeng Riyono, M.Phil
Ka. PPPTMGB LEMIGAS
Dra. Yani Kussuryani M.Si
Sub Unit Konservasi
Lingkungan (KL)
Gitafajar Saptyani. ST
Sub Unit pengelolaan
dan Pengolahan Limbah
(PPL)
Ikha Novita MS,
Sub Unit Kecelakaan
Kerja dan Kesiagaan
Tanggap Darurat (KKTD)
Aristian Ayubi

Sub Unit TI
Unit Lindungan
Lingkungan (LL)
Michael C. Willem, ST
Unit Keselamatan dan
Kesehatan Kerja (K3)
Muksis
Unit Administrasi
Amirullah
Sub Unit Hygene dan
Kesehatan Kerja (HKK)
Dr. Bibit Suripto, Sp.,KJ
47
Gambaran Umum Kelompok Program Riset Teknologi (KPRT)Proses
Kelompok Program Riset Teknologi Proses merupakan kelompok kegiatannya yang
berada di bagian hilir industri minyak dan gas bumi. Terdiri dari beberapa kegiatan
kelompok fungsional dan didukung oleh jasa laboratorium. Kegiatan jasa studi dan
laboratorium KPRT proses meliputi teknik separasi, proses konversi dan katalitik, disain
dan modeling proses, Bioteknologi dan kimia analitik dan terapan serta lingkungan
hidup. Dalam melaksanakan aktivitas, laboratorium memiliki Dokumen Internal yang
dibuat dan ditetapkan oleh satuan kerja untuk memenuhi persyaratan standar dan
peraturan yang berlaku. Dokumen Internal dapat dibagi menjadi :
a. Pedoman Mutu
b. Prosedur dan Instruksi Kerja Khusus
c. Instruksi Kerja Alat (IKA) dan Metode Uji/kalibrasi
d. Dokumen Pendukung Sistem Manajemen Mutu.
Penggunaan Gedung KPRT Proses sebagai tempat penelitian dan pengembangan
sumber daya Alam, diharapkan dapat lebih efisien dan efektif apabila setiap pegawai dan
tamu secara sadar mengikuti ketentuan-ketentuan umum maupun khusus penggunaan
ruang yang ada di dalam gedung.
Sesuai dengan misi PPPTMGB LEMIGAS dibidang proses, pemanfaatan
Gedung KPRT Proses lebih berorientasi sebagai wahana penelitian yang pada
laboratorium dan eksperimental, dimana tenaga pelaksanaannya merupakan satu
kesatuan dengan peralatan. Karena itu pada dasarnya semua ruangan adalah untuk
48
sarana penelitian atau laboratorium tanpa ada pemisahan antara alat dan manusia.
Adapun struktur organisasi Gedung KPRT Proses meliputi :
49
Di KPRT Proses terdapat beberapa kelompok yang terdiri dari :
1. Kelompok Proses Separasi
2. Kelompok Proses Konversi dan Katalisa
3. Kelompok Analitik dan Kimia Terapan
4. Kelompok Bioteknologi
5. Kelompok Pemodelan dan Perancangan Proses
6. Kelompok Lingkungan
Enam kelompok tersebut kemudian terdiri lagi atas beberapa laboratorium yang
melakukan penelitian dan alisis. Terdapat sekitar 12 laboratorium yang beroperasi di
Gedung KPRT Proses, untuk melakukan penelitian dan pengembangan di bidang
minyak dan gas bumi.
Semua laboratorium yang ada di Gedung KPRT Proses dapat membantu dalam
pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan adanya pengembangan ilmu pengetahuan
tersebut, tentunya hasil samping yang ada berupa limbah juga perlu diberi perhatian
khusus terhadap penanganannya sebagai bentuk pencegahan terhadap pencemaran yang
dimungkinkan akan timbul. Mengingat sebagian besar limbah yang ada merupakan hasil
samping dari proses analisis yaitu limbah laboratorium, sehingga sangat dimungkinkan
adanya bahan B3 yang terkandung dalam limbah tersebut yang dapat membahayakan
lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik. .
Hasil indentifikasi dan evaluasi Aspek Lingkungan yang ada, dapat berasal dari
limbah cair sisa analisis, limbah cair sisa alat pencucian gelas, emisi lemari asam,
konsumsi air dan penggunaan energi Listrik, emisi gas buang pemanasan, limbah padat
50
pipet bekas/pecah, kertas saring, kemasan bekas, majun B3, tissue B3, penurunan SDA
dan pencemaran tanah.
2.9 UKL dan UPL
Dalam melaksanakan kegiatan atau aktifitas laboratorium. PPPTMGB
LEMIGAS juga melakukan kajian dokumen UKL dan UPL. Dimana dokumen UKL
dan UPL ini merupakan acuan bagi perusahaan untuk melaksanakan pengelolaan dan
pemantauan lingkungan, sehingga dampak negatif yang timbul dari kegiatan usaha ini
dapat diminimalkan sekecil mungkin dan dampak positif yang akan terjadi dapat
dikembangkan. Adapun dampak lingkungan yang sudah diperhatikan dari PPPTMGB
LEMIGAS terhadap kegiatan usaha yang telah beroperasi diantaranya akibat unit-unit
kegiatan produksi, kegiatan workshop, kegiatan domestik pendukung usaha, dan lain-
lain diantaranya dengan melakukan pengukuran terhadap :
Pencemaran udara dan kebisingan
Penurunan kualitas air permukaan dan sumber air lainnya.
Pengelolaan Bahan dan Limbah berbahaya dan beracun (B3).
Pengelolaan aspek-aspek lingkungan yang relevan dengan tipologi operasional
perusahaan
Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Lingkungan Hidup No 11 Tahun 2006,
dimana sebuah kegiatan usaha sepanjang sesuai harus memiliki Dokumen Upaya
Pengelolaan Lingkungan dan Upaya Pemantauan Lingkungan (UKL dan UPL) yang up
to date sesuai keadaan sesungguhnya yang akan menjadi pedoman dalam upaya
pengelolaan dan pemantauan lingkungan perusahaan.

51
2.10 Pelaksanaan ISO 14001 : 2004
Adapun semua aktifitas pemantauan terhadap lingkungan kerja, yang dalam hal
ini adalah penanganan limbah, PPPTMGB LEMIGAS berbasis pada standar ISO
14001 : 2004. Sistem Manajemen Lingkungan (SML) ISO 14001 sudah dilakukan
dimana semua kompartemen struktural yang berada dalam struktur organisasi direktorat
produksi dituntut untuk senantiasa patuh dan memenuhi persyaratan yang diinginkan
termasuk didalamnya laboratorium yang merupakan unit kerja pendukung operasional
perusahaan. Hal ini dibuktikan dengan PPPTMGB LEMIGAS telah mendapatkan
sertifikat ISO 14001 : 2004. yang memuat semua persyaratan sistem manajemen yang
berkaitan dengan pemeliharaan lingkungan. Standard ini berdasarkan kepada metodologi
yang dikenal sebagai beberapa tahapan yaitu, Rencanakan-Lakukan-Periksa-Tindakan
(PDCA).
Bagan 2.6
Konsep Sistem Manajemen Limbah (SML)





52
BAB III
RENCANA KEGIATAN MAGANG

3.1. Alur Kegiatan Magang
















Bagan 3.1 Alur Kegiatan Magang
Dalam kegiatan magang ini, diperlukan rencana kegiatan magang yang dibuat
sebelum turun ke lapangan magang. Hal ini adalah untuk dilakukan dapat
Pemberian pengarahan
magang serta Induction dari
pembimbing lapangan

Studi Literatur dan menelaah
dokumen, pengambilan data,
observasi dan wawancara
terkait tema magang

Pengamatan penanganan limbah
Cair B3 dan Non B3. Limbah
padat B3 dan Non B3. dan
Limbah Emisi gas.
Penyusunan Laporan Magang

Pencarian serta pengumpulan
kelengkapan data serta
pendokumentasian
penanganan limbah

Presentasi laporan magang
(sidang)

53
dimanfaatkan secara efektif dan efisien. Adapun rencana kegiatan magang dibuat
secara terstruktur dalam tahap-tahap tertentu.
Adapun tahap pertama adalah melakukan Pengenalan dengan staff
PPPTMGB LEMIGAS dan pemberian pengarahan magang serta Induction dari
pembimbing lapangan.
Sebelum melakukan observasi lapangan, terlebih dahulu melakukan studi
Literatur serta telaah dokumen tentang sistem Manajemen Lingkungan dan
Keselamatan dan kesehatan Kerja (SMLK3) Komite LK3 PPPTMGB LEMIGAS.
Hal ini dilakukan untuk memahami prosedur LK3 yang berlaku di institusi magang,
untuk kemudian sebagai referensi pada saat melakukan pencarian data sekunder,
serta observasi dan wawancara dengan pihak-pihak tertentu terkait tema magang.
Tahapan selanjutnya adalah Pengamatan penanganan limbah Cair B3 dan
Non B3. Limbah padat B3 dan Non B3. dan Limbah Emisi gas yang dilakukan di
KPRT Proses PPPTMGB LEMIGAS.
Kemudian setelah itu melakukan Pencarian serta pengumpulan kelengkapan
data serta pendokumentasian penanganan limbah. Setelah itu melakukan
penyusunan laporan. Selama penyusunan laporan magang, dilakukan kembali telaah
dokumen, studi literature serta observasi dan wawancara untuk melengkapi data dan
informasi yang kurang.
Tahap terakhir adalah presentasi hasil laporan magang dengan melakukan
sidang magang.
54
3.2 Jadwal Kegiatan Magang
Berikut dibawah ini adalah jadwal kegiatan magang.
No Hari Tanggal Kegiatan Tempat
1. Senin 31 Januari 2011 - Mengurus perizinan magang dengan
pihak Afiliasi
- Induction dan safety briefing pengenalan
dasar-dasar K3 dengan pembimbing
lapangan
- Silaturahmi dan pengenalan dengan staff
Komite LK3 LEMIGAS
- Mempelajari Dokumen Sistem
Manajemen Lingkungan dan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMLK3)
- Menentukan topik magang
- Membuat Rencana Kegiatan Magang

- Gedung
Afilias
- Ruang Rapat
Komite LK3

2. Selasa 1 Februari 2011 - Mempelajari Dokumen Sistem
Manajemen Lingkungan dan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMLK3)
- Mencari Literatur tentang Profil
LEMIGAS dan organisasi LEMIGAS
- Melakukan konsultasi dengan
pembimbing lapangan terkait judul
Magang

- Ruang Rapat
Komite LK3

- Ruang
Afiliasi dan
Perpustakaan
Lemigas
3. Rabu 2 Februari 2011 - Mempelajari Dokumen Sistem
Manajemen Lingkungan dan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMLK3)
- Mencari Literatur tentang Profil
LEMIGAS dan organisasi LEMIGAS
- Studi Literatur terkait judul magang

- Ruang Rapat
Komite LK3
- Ruang
Afiliasi
4. Jumat 4 Februari 2011 - Mempelajari Dokumen Sistem
Manajemen Lingkungan dan
Keselamatan dan Kesehatan Kerja
(SMLK3)
- Mencari Literatur tentang Profil
LEMIGAS dan organisasi LEMIGAS
- Studi Literatur terkait judul magang
- Ruang Rapat
Komite LK3
- Perpustakaan
Lemigas
55

5. Sabtu 5 Februari 2011 - Studi Literatur terkait judul magang

homebase
6. Senin 7 Februari 2011 - Studi Literatur terkait judul magang
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan

- Ruang Rapat
Komite LK3

7. Selasa 8 Februari 2011 - Studi Literatur terkait judul magang
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan
- Ruang Rapat
Komite LK3

8. Rabu 9 Februari 2011 - Studi Literatur terkait judul magang
- Telaah dokumen SMLK3 dan Dokumen
LL
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan
- Ruang Rapat
Komite LK3


9. Kamis 10 Februari
2011
- Studi Literatur terkait judul magang
- Telaah dokumen SMLK3 dan Dokumen
LL
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan

- Ruang Rapat
Komite LK3

10. Jumat 11 Februari 2011 - Mengikuti Training Induction dan
pengenalan Lemigas
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan

- Ruang Rapat
Komite LK3

11. Sabtu 12 Februari 2011 - Mencari referensi dan studi Literatur
terkait laporan magang

homebase
12. Senin 14 Februari 2011 - Studi Literatur terkait judul magang
- Telaah dokumen SMLK3 dan Dokumen
IAB aspek lingkungan
Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan

- Ruang Rapat
Komite LK3


13. Rabu 16 Februari 2011 - Observasi Lapangan ke Gedung KPRT
Proses PPPTMGB LEMIGAS
- Mengobservasi penanganan limbah pada
kelompok analitik dan kimia terapan
- Wawancara dengan pihak penanganan
Limbah
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan

- Gedung
KPRT Proses

56
14 Kamis 17 Februari 2011 - Observasi Lapangan ke Gedung KPRT
Proses PPPTMGB LEMIGAS
- Mengobservasi penanganan limbah pada
kelompok analitik dan kimia terapan
- Wawancara dengan pihak penanganan
Limbah
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan
Gedung
KPRT Proses
15 Jumat 18 Februari 2011 - Observasi Lapangan ke Gedung KPRT
Proses PPPTMGB LEMIGAS
- Mengobservasi penanganan limbah pada
kelompok Separasi
- Wawancara dengan pihak penanganan
Limbah
Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan
- Gedung
KPRT Proses
16 Sabtu 19 Januari - Studi Literatur terkait judul magang
- Pencarian data terkait penanganan
Limbah

homebase
17 Senin 21 Februari - Observasi Lapangan ke Gedung KPRT
Proses PPPTMGB LEMIGAS
- Mengobservasi penanganan limbah pada
kelompok Separasi
- Wawancara dengan pihak penanganan
Limbah
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan Lapangan

- Gedung
KPRT Proses
18 Selasa 22 Februari 2011 - Observasi Lapangan ke Gedung KPRT
Proses PPPTMGB LEMIGAS
- Mengobservasi penanganan limbah pada
kelompok Bioteknologi
- Wawancara dengan pihak penanganan
Limbah
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan Lapangan

- Gedung
KPRT Proses
19 Rabu 23 Februari 2011 - Observasi Lapangan melihat penanganan
limbah dari gedung KPRT ke gudang
penyimpanan limbah
- Wawancara dengan pihak penanganan
Limbah
- Konsultasi dengan pembimbing
- KPRT
Eksploitasi
- Gudang
penyimpanan
limbah
57
Lapangan

20 Kamis 24 Februari 2011 - Penyusunan hasil observasi dan telaah
dokumen IAB kelompok Bioteknologi
- Pencarian dokumen-dokumen terkait
penanganan Limbah
- Pembuatan Laporan magang
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan
- Ruang Rapat
Komite LK3

21 Jumat 25 Februari 2011 - Observasi lapangan ke Gedung KPRT
Proses untuk melihat cara kerja IPAL
- Pembuatan Laporan magang
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan
- Ruang Rapat
Komite LK3
- Gedung
KPRT Proses
22 Sabtu 26 Februari 2011 - Pembuatan Laporan magang
- Studi literature

homebase
23 Senin 28 Februari 2011 - Pembuatan Laporan magang
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan
- Ruang Rapat
Komite LK3

24 Selasa 1 Maret 2011 - Mengikuti HSE Meeting
- Pembuatan Laporan magang
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan
- Gedung
Komite LK3
25 Rabu 2 Maret 2011 - Pembuatan Laporan magang
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan

- Gedung
Komite LK3
26 Kamis 3 Maret
2011
- Pembuatan Laporan magang
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan

- Gedung
Komite LK3

27. Jumat 4 Maret
2011
- Pembuatan Laporan magang
- Konsultasi dengan pembimbing
Lapangan
- Pengurusan pemberitahuan selesai
magang

- Gedung
Komite LK3
- Gedung
Afiliasi




58
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Jenis dan Karakteristik Limbah di KPRT Proses
Semua laboratorium yang ada di Gedung KPRT Proses dapat membantu dalam
pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan adanya pengembangan ilmu pengetahuan
tersebut, tentunya hasil samping yang ada berupa limbah juga perlu diberi perhatian
khusus terhadap penanganannya sebagai bentuk pencegahan terhadap pencemaran yang
dimungkinkan akan timbul. Mengingat sebagian besar limbah yang ada merupakan hasil
samping dari proses analisis yaitu limbah laboratorium, sehingga sangat dimungkinkan
adanya bahan B3 yang terkandung dalam limbah tersebut yang dapat membahayakan
lingkungan apabila tidak ditangani dengan baik.
Hasil indentifikasi dan evaluasi Aspek Lingkungan yang berasal dari KPRT
Proses, limbah yang dihasilkan dapat berasal dari limbah cair sisa analisis, limbah cair
sisa alat pencucian gelas, emisi lemari asam, konsumsi air dan penggunaan energi
Listrik, emisi gas buang pemanasan, limbah padat pipet bekas/pecah, kertas saring,
kemasan bekas, majun B3, tissue B3, penurunan SDA dan pencemaran tanah.
Adapun berdasarkan wawancara yang dilakukan di lapangan dengan Pengurus
PJU LK3 Gedung KPRT Proses, dikatakan bahwa sebagian limbah yang dihasilkan oleh
KPRT Proses mempunyai karateristik yang sama, yaitu yang berasal dari laboratorium
berupa Limbah B3, Limbah non B3 cair dan Limbah hasil pencucian alat-alat analisis.
Jenis limbah sebagian besar berbentuk crude oil. Sedangkan untuk karateristik limbah
B3 bersifat mudah terbakar dan menguap.
59
Sedangkan untuk masalah penanganan limbah yang ada, sedikit berbeda
penanganannya antara kelompok yang satu dengan yang lainnya. Yaitu pada Kelompok
Proses Separasi di lantai 2 yang terdiri dari laboratorium uji sifat fisika dan kimia dan
Laboratorium Destilasi. Kelompok Analitik dan Kimia Terapan di Lantai 3 yang terdiri
dari Laboratorium Spektroskopi, Laboratorium Kimia Umum dan Limbah dan
Laboratorium Kromatografi. Serta pada lantai 5 yakni Kelompok Bioteknologi yang
terdiri atas Laboratorium Mikrobiologi dan Laboratorium bio-Proses. Hal ini
dikarenakan proses yang dilakukan dan penggunaan bahan analisis berbeda-beda pada
tiap kelompok tersebut.
Pada kelompok analitik dan kimia terapan, kelompok ini lebih banyak
menggunakan metode secara kimia dalam melakukan analisisnya. Pada kelompok proses
separasi, kelompok ini menggunakan metode secara fisika dalam melakukan kegiatan
analisis dan penelitiannya. Sedangkan pada kelompok Bioteknologi lebih kepada aspek
biologi dalam melakukan kegiatan dan aktivitas analisis dan penelitian.
Adapun untuk proses penanganan Limbah yang dihasilkan di Gedung KPRT
Proses, sudah terdapat prosedur Penanganan Limbah dalam Dokumen Sistem
Manajemen Lingkungan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (Dokumen SMLK3)
PPPTMGB LEMIGAS. Adapun tujuan dibuatnya Prosedur ini adalah untuk
memastikan seluruh pegawai mengendalikan semua limbah yang ditimbulkan dan
aktivitas operasional PPPTMGB LEMIGAS dan menjamin penanganan limbah tidak
mencemari Lingkungan dengan mengacu pada Perundang-undangan dan Peraturan yang
berlaku mencakup pengendalian limbah cair, padat dan udara yang ditimbulkan dari
kegiatan operasional di lingkungan perkantoran PPPTMGB LEMIGAS.
60
Adapun Limbah yang dihasilkan oleh kegiatan KPRT Proses PPPTMGB
LEMIGAS dapat dikelompokkan menjadi 2 bagian yakni diantaranya :
1. Limbah Domestik, contoh Limbah dari toilet, debu, dapur, udara tungku
pembakar, air hujan
2. Limbah Laboratorium, contoh B3 berbentuk padat, cair dan gas, air pencucian
alat-alat Laboratorium.
Sebagian besar limbah yang dihasilkan oleh KPRT Proses banyak berasal dari
kegiatan-kegiatan Laboratorium biasanya menggunakan bahan B3. Sehingga limbah
laboratorium yang ada mengandung B3 baik itu sudah berbentuk cair, padat maupun
gas. Berikut akan dijelaskan penanganan limbah-limbah tersebut berdasarkan jenisnya.
61
Bagan 4.1
Bagan Penanganan Limbah KPRT Proses PPPTMGB LEMIGAS








































Sumber : Dokumen SMLK3 PPPTMGB LEMIGAS
Bahan baku
Limbah Cair
non B3 (air
sisa pencucian
alat-alat
analisis)
Emisi
(cerobong)
Limbah cair
B3
(cairan/bahan
kimia sisa
analisis
maupun
kadaluarsa, oli
bekas, bahan
bakar bekas
Limbah padat
B3 (majun,
sarung tangan,
masker dll)
Limbah padat
non B3
Proses
produksi dan
analisis
Organic
(limbah kantin,
kardus, kertas,
majun daun
dan kayu)
Non organic
(plastic, sarung
tangan, APD
bekas yang
tidak
terkontaminasi
B3
IPAL
Sungai
Pesanggarahan
Gudang
sementara
Pihak Ketiga
seperti Dinas
Kebersihan
DKI Jakarta
Pihak Ketiga
seperti PPLI
Tungku
pembakar
Lemari Asam Udara
62
Berikut akan dijelaskan mengenai prosedur pengendalian Limbah cair dan padat
B3, cair dan padat non B3 dan emisi yang dibahas berdasarkan kelompok laboratorium
yang ada yaitu kelompok Analitik dan Kimia Terapan, kelompok Teknologi Separasi
dan kelompok Bioteknologi. Prosedur pengendalian yang akan dijelaskan mencakup
pada Penanganan, Penampungan dan penyimpanan Limbah yang dilakukan, untuk
kemudian hal yang dilakukan di lapangan oleh para pekerja akan dibandingkan dengan
Prosedur dan Peraturan yang ada terhadap kesesuaian dengan prosedur dan peraturan
yang ada tersebut dengan cara pemberian nilai/skoring.

4.2. Prosedur Penanganan limbah Cair B3 KPRT Proses PPPTMGB LEMIGAS.
Limbah Cair Laboratorium adalah Limbah yang dihasilkan dari kegiatan yang
dilakukan laboratorium- laboratorium yang ada di KPRT Proses. Termasuk didalamnya
limbah cair B3. Limbah cair B3 disini adalah berupa cairan/bahan kimia sisa analisis
maupun kadaluarsa, oli bekas, dan bahan baker bekas. Berikut adalah Prosedur
penanganan limbah cair B3 yang dihasilkan gedung KPRT Proses, saat dilakukannya
pengamatan lapangan pada Laboratorium kelompok Analitik dan Kimia Terapan,
Laboratorium kelompok Teknologi Separasi dan Laboratorium kelompok Bioteknologi.
Adapun proses penanganan limbah Cair B3 KPRT proses yang dilakukan adalah sebagai
berikut :
63
Tabel 4.1 prosedur penanganan limbah cair B3 dan penilaiannya terhadap kelompok-kelompok KPRT Proses tahun 2011
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
PP No 18 jo. 85 1999 tentang
Pengelolaan Limbah B3.
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
1. Limbah B3 yang ada, setelah
digunakan untuk analisis,
dibuang sesuai dengan
jenisnya pada drum khusus
bewarna biru yang telah
diberi label. Dan Drum yang
digunakan adalah drum
bewarna biru dengan volume
sekitar 50 liter dan 100 liter
Limbah cair B3 berupa bahan
atau cairan kimia sisa analisis
maupun kadaluarsa, oli
bekas, bahan bakar bekas,
dan lain-lain ditempatkan ke
dalam jerigen atau drum
khusus yang telah diberi
label jenis limbah dan ditutup
rapat.

(Prosedur P.16, No. 6.2.2.1
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)

Setiap kemasan limbah B3 wajib
diberi simbol dan label yang
menunjukkan karakteristik dan jenis
limbah B3.

1) Kemasan untuk limbah B3 harus
dalam kondisi baik, tidak rusak,
dan bebas dari pengkaratan serta
kebocoran.
2) Kemasan dapat terbuat dari
bahan plastik (HDPE, PP atau
PVC) atau bahan logam (teflon,
baja karbon, SS304, SS316 atau
SS440) dengan syarat bahan
kemasan yang dipergunakan
tersebut tidak bereaksi dengan
limbah B3 yang disimpannya.

(kepdal 01/BAPEDAL/09 tahun
1995)

Kemasan yang digunakan untuk
pengemasan limbah dapat berupa
drum/tong dengan volume 50 liter,
100 liter atau 200 liter, atau
dapat pula berupa bak kontainer
berpenutup dengan kapasitas 2
M3, 4 M3 atau 8 M3,
100 100 100
64
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
PP No 18 jo. 85 1999 tentang
Pengelolaan Limbah B3.
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
2. Beberapa petugas saat
mengemas limbah cair B3
memang menggunakan jas
Lab dan sarung tangan,
tetapi ada masih ada pegawai
yang tidak menggunakan
APD lengkap seperti tidak
menggunakan sepatu dan
masker.
Selama melakukan
pekerjaan, operator atau
personil penanganan limbah
wajib menggunakan APD
sesuai dengan kebutuhan.

(Prosedur IKK. 12 No. 6.1.4
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)
- 75 65 80
3. Rekaman jerigen berisi
limbah dibuat rekamannya
yang diserahkan kepada PJU
LL Komite LK3 saat akan
mengangkut limbah menuju
gudang penyimpanan
sementara.
Jerigen berisi limbah tersebut
dibuat rekamannya oleh
Pengelola Laboratorium,
kemudian diserahkan kepada
Komite LK3 sesuai dengan
instruksi Kerja Khusus
Pengendalian Limbah
Laboratorium.

(Prosedur P.16, No. 6.2.2.2
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)
Penghasil limbah B3 wajib
menyampaikan catatan
sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) sekurang-kurangnya
sekali dalam enam bulan kepada
instansi yang bertanggung jawab
dengan tembusan kepada instansi
yang terkait
danBupati/ Walikotamadya
Kepala Daerah Tingkat II yang
bersangkutan.
100 100 100
4. Diadakan Inspeksi setiap 3
bulan sekali terhadap limbah
untuk kemudian dibuat
laporannya dalam formulir
inspeksi berkala. (Lampiran
3).
Setiap 3 bulan sekali
diadakan inspeksi terhadap
limbah B3 yang telah ada.

(Prosedur IKK.12, No. 6.1.1
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.5.1)
Penghasil limbah B3 wajib
menyampaikan catatan sekurang-
kurangnya
sekali dalam enam bulan kepada
instansi yang bertanggung jawab.
100 100 100
65
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
PP No 18 jo. 85 1999 tentang
Pengelolaan Limbah B3.
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
5.



Penyimpanan limbah
sementara dilakukan selama
kurang lebih 6 bulan di
gudang penyimpanan
sementara.

Secara berkala (6 bulan
sekali) PJU LL Komite LK3
menyerahkan limbah ke
pengumpul.

(Prosedur IKK.12, No. 6.1.1
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)

Bila limbah B3 yang dihasilkan
kurang dari 50 (lima puluh)
kilogram per hari, penghasil
limbah B3 dapat
menyimpan limbah B3 yang
dihasilkannya lebih dari sembilan
pu1uh hari sebelum diserahkan
kepada
pemanfaat atau pengolah atau
penimbun limbah B3, dengan
persetujuan Kepa1a instansi yang
bertanggung
jawab.
69 69 69
6. Pengumpulan Limbah cair
B3 dilakukan oleh LK3
selanjutnya diserahkan
kepada pihak yang mendapat
ijin dari pemerintah seperti
PPLI
Limbah cair B3 oleh LK3
akan diserahkan kepada
pihak yang mendapat ijin dari
pemerintah seperti PPLI.

(Prosedur P.16, No. 6.2.2.3
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)
Pengumpul limbah B3 dilakukan
oleh badan usaha yang
melakukan kegiatan
pengumpulan limbah B3.
100 100 100
7. Pekerja membersihkan area
bekerja sesaat sebelum jam
pulang dengan mengelap jika
ada ceceran.
Sesudah pekerjaan selesai
operator/personil laboran
wajib membersihkan area
bekerja dengan cara disapu,
diserap dan kotoran
ditempatkan ditempat
tertentu.

- 100 100 100
66
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
PP No 18 jo. 85 1999 tentang
Pengelolaan Limbah B3.
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
(Prosedur IKK. 12 No. 6.1.4
point a, terkait dengan
klausul ISO 14001 : 2004
butir 4.4.6)
8. Ada kelompok yang terdapat
ceceran crude oil tidak
langsung dilakukan
penanganan dengan benda
kering.
Apabila terjadi ceceran atau
tumpahan oli, minyak dan
lain-lain, segera diangkat,
diserap dengan benda kering.
Dan masukkan ke tempat
yang telah ditemtukan.

(Prosedur IKK. 12 No. 6.1.4
point b, terkait dengan
klausul ISO 14001 : 2004
butir 4.4.6)
80 60 80
9. Pekerja merapikan APD
dengan menggantung jas lab
pada tempat yang tersedia
dan meletakkan sarung
tangan serta masker yang
digunakan di lemari APD
yang tersedia
Merapikan peralatan kerja
dan alat pelindung diri ke
tempat yang telah disediakan.

(Prosedur IKK. 12 No. 6.1.4
point d, terkait dengan
klausul ISO 14001 : 2004
butir 4.4.6)

80 80 80
Total 804 774 809


67
804
774
809
750
760
770
780
790
800
810
analitik dan kimia
terapan
teknologi separasi
bioteknologi
*Keterangan Nilai:
50-59 = kurang sesuai dilaksanakan, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
60-69 = Cukup sesuai dilaksanakan, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
70-79 = prosedur yang dilaksanakan sudah baik dan sesuai , dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
80-100 = Prosedur yang dilaksanakan sudah sangat baik dan sesuai, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah
yang ada

Diagram 4.1
Skoring Pencapaian dalam Prosedur Penanganan Limbah Cair B3 yang dilakukan tiap Kelompok KPRT Proses
tahun 2011









68
Berdasarkan hasil scoring yang dilakukan terhadap pemenuhan prosedur
penanganan limbah Cair B3 pada tiap kelompok yaitu kelompok analitik dan kimia
terapan, kelompok teknologi Separasi dan Bioteknologi, didapatkan nilai skor
pemenuhan bagi kelompok analitik dan kimia terapan adalah 804, pada kelompok
teknologi separasi didapatkan nilai 774 sedangkan pada kelompok bioteknologi
didapatkan nilai 809 dari nilai total 900 jika prosedur dijalankan dengan baik dan sesuai
dengan standar yang ada. .Sehingga, dapat dikatakan untuk kelompok yang menerapkan
prosedur lebih baik dan mendekati standar yang ada pada penanganan limbah cair B3
adalah pada kelompok Bioteknologi. Berikut akan dijelaskan mengenai pemberian nilai
terhadap kelompok-kelompok yang ada sesuai dengan item-item prosedur yang ada.
Adapun penjelasan mengenani penaganan Limbah Cair B3 sesuai dengan
prosedur pengendalian limbah (Lampiran 1) dokumen sistem manajemen Lingkungan
dan Keselamatan dan kesehatan Kerja (SMLK3) Komite LK3 PPPTMGB LEMIGAS
adalah sebagai berikut :
1. Limbah cair B3 berupa bahan atau cairan kimia sisa analisis maupun
kadaluarsa, oli bekas, bahan bakar bekas, dan lain-lain ditempatkan ke dalam
jerigen atau drum khusus yang telah diberi label jenis limbah dan ditutup rapat.
Pada Prosedur ini semua kelompok telah menempatkan limbah cair yang
mengandung B3 di sebuah drum khusus yang telah diberi label.
Pada limbah sisa analisis dan limbah B3 sisa sampel yang telah digunakan,
limbah tersebut langsung dimasukkan ke dalam jerigen yang ditempeli label
merah yang bertuliskan limbah sisa analisis dan jerigen dengan label orange
yang bertuliskan limbah B3 sisa sampel (gambar 4.1) yang letaknya biasa tidak
69
jauh dari wastafel. Ini dikarenakan bahwa tidak boleh membuang sampel atau
limbah yang mengandung B3 langsung ke dalam wastafel. Hal ini telah
dilakukan oleh masing-masing kelompok. Sehingga para pekerja yang bekerja
bisa terhindar dari bahaya paparan limbah B3 yang ada.
Gambar 4. 1
Limbah Sisa Analisis dan Limbah B3 Sisa Sampel Di Kelompok Analisis dan
Kimia Terapan KPRT Proses
Tahun 2011




Sumber : pengamatan lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
Penanganan Limbah Cair B3 pada kelompok teknologi separasi dan Bioteknologi
sedikit berbeda dengan penanganan limbah cair B3 pada kelompok analitik dan
kimia terapan. Dikarenakan pada kedua kelompok ini, penelitian dilakukan
dengan proses fisika dan biologi, sehingga pada penggunaan bahan B3 yang
dipakai sedikit. Sehingga limbah B3 setelah digunakan kemudian ditampung di
dalam botol kaca gelap yang diberi label limbah B3.
70
Gambar 4. 2
Limbah B3 yang ditampung dalam botol kaca gelap di KPRT Proses
Tahun 2011




Sumber : pengamatan lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
Karena alasan itulah sehingga kemudian diberikan nilai 100 bagi masing-
maasing kelompok karena telah melakukan penanganan limbah cair B3 sesuai
dengan prosedur yang ada, baik itu prosedur dari dokumen SMLK3 Lemigas
maupun prosedur yang ada pada PP no 18 tahun 1995 tentang pengolahan limbah
B3.
2. Selama melakukan pekerjaan, operator atau personil penanganan limbah wajib
menggunakan APD sesuai dengan kebutuhan. Pada prosedur ini, kebanyakan
tidak menggunakan sepatu saat didalam lab, dan juga tidak menggunakan masker
saat bekerja menganalisis. Sehingga untuk itulah diberikan nilai yang beragam
terhadap kelompok-kelompok tersebut sesuai dengan kelengkapan APD yang
digunakan para pekerja saat bekerja di dalam laboratorium. Karena sesuai safety
warning yang ada di temple di setiap ruangan laboratorium, APD yang wajib
digunakan saat akan bekerja adalah masker, sarung tangan, jas lab, sepatu safety,
dan kacamata google. Akan tetapi para pekerja biasanya hanya memakai sarung
tangan, masker dan jas lab saja. Walaupun ada juga pekerja yang memakai
71
sepatu saat bekerja. Pemakaian APD tentunya tidak selalu bosan untuk
diingatkan kepada pekerja agar selalu mematuhi peraturan yang ada. Karena
pekerjaan yang dilakukan disini mengandung bahaya B3 yang apabila terjadi
sesuatu seperti kecelakaan, dampaknya dapat diminimalisir dengan pemakain
APD yang baik serta tepat.
3. Jerigen berisi limbah tersebut dibuat rekamannya oleh Pengelola Laboratorium,
kemudian diserahkan kepada Komite LK3 sesuai dengan instruksi Kerja Khusus
Pengendalian Limbah Laboratorium (Lampiran 6). Pada prosedur ini, semua
kelompok menyatakan, setelah jerigen limbah sisa analisis dan jerigen limbah B3
sisa sampel penuh, jerigen-jerigen tersebut ditutup rapat serta diberi label khusus.
Kemudian Jerigen-jerigen berisi limbah tersebut dibuat rekamannya oleh
Pengelola Laboratorium. Setelah itu diserahkan kepada Komite LK3 sesuai
dengan instruksi Kerja Khusus Pengendalian Limbah Laboratorium (lampiran 2,
IKK 12-A). Selanjutnya limbah tersebut dibawa ke lantai 1 di ruang pengambilan
contoh sampel, untuk disimpan sekitar kurang lebih 6 bulan. Pada pelaksanaan
terhadap rposedur ini juga, semua kelompok diberi nilai 100 karena telah
melakukan penanganan limbah cair B3 sesuai dengan prosedur yang ada, baik itu
prosedur dari dokumen SMLK3 Lemigas maupun prosedur yang ada pada PP no
18 tahun 1995 tentang pengolahan limbah B3.
4. Setiap 3 bulan sekali diadakan inspeksi terhadap limbah B3 yang telah ada. Dan
setiap 6 bulan sekali limbah B3 tersebut diberikan kepada pihak terkait (PPLI)
untuk dilakukan pemusnahan. Pada prosedur ini, telah dilakukan dengan baik
oleh semua kelompok. Hal ini dapat dilihat dari laporan seperti yang
72
ditunjukkan pada lampiran 6. sehingga diberikan skor 100 karena telah
melakukan sesuai dengan prosedur yang ada. Adapun inspeksi ini dilakukan
adalah untuk melihat dan melakukan pengecekan terhadap limbah yang ada
apakah sudah penuh atau belum dan juga inspeksi terhadap wadah yang
menampungnya. Apakah wadah sudah bocor atau sudah tidak layak pakai.
Sehingga inspeksi ini sangat penting untuk dilakukan dalam penanganan limbah.
Karena jika wadah yang menyimpan limbah mengalami kebocoran, akan
berkemungkinan berdampak negative bagi pekerja yang ada.
5. Secara berkala (6 bulan sekali) PJU LL Komite LK3 menyerahkan limbah ke
pengumpul. Hal ini diberikan nilai 69 kepada semua kelompok. Karena semua
kelompok memiliki gudang yang sama. Sehingga diberikan nilai 69. Mengapa?
karena berdasarkan hasil wawancara. Limbah yang ada di gudang diangkut bisa
setiap 6 bulan sekali atau 12 bulan sekali. Sehingga limbah yang ada dapat
tersimpan lebih dari 6 bulan. Hal ini lah yang menyebabkan semua kelompok
diberi nilai sama yaitu 69. karena tidak sesuai dengan PP yang ada yang
menyatakan limbah disimpan paling lama 90 hari. Meski jika limbah yang
dihasilkan tidak lebih dari 50 Kg perhari, limbah dapat disimpan lebih dari 90
hari. Tetapi jika disimpan terlalu lama hingga sampai 1 tahun dikhawatirkan
terjadi hal-hal yang dapat menyebabkan pencemaran dari limbah yang terlalu
lama disimpan itu. Sehingga hal ini sebaiknya dilakukan 6 bulan sekali. Jangan
sampai berjangka waktu hingga lebih dari 6 bulan sekali. Karena hal ini dapat
memungkinkan limbah-limbah yang ada yang sudah tersimpan lama dapat
73
bereaksi dengan limbah lainnya, sehingga dikhawatirkan dapat menimbulkan
pencemaran yang tidak diinginkan yang berasal dari limbah yang ada.
6. Limbah cair B3 oleh LK3 akan diserahkan kepada pihak yang mendapat ijin dari
pemerintah seperti PPLI. (lampiran 6). Jika ruang tersebut sudah penuh, limbah-
limbah tersebut di pindahkan untuk disimpan di gudang sementara LK3 yang
terletak di luar gedung Proses. Kemudian Limbah cair B3 oleh LK3 selanjutnya
akan diserahkan kepada pihak ketiga yang mendapat ijin dari pemerintah seperti
PPLI. Pada prosedur ini, pengumpulan dilakukan oleh LK3 LEMIGAS untuk
selanjutnya di serahkan kepada pihak yang telah mendapat ijin dario pemerintah
yang dalam hal ini adalah PPLI. Sehingga semua kelompok diberikan nilai 100,
karena sudah melakukan dengan baik prosedur ini.
7. Sesudah pekerjaan selesai operator/personil laboran wajib membersihkan area
bekerja dengan cara disapu, diserap dan kotoran ditempatkan ditempat tertentu.
Pada prosedur ini diberikan nilai bagi semua kelompok 100 karena Pekerja
membersihkan area bekerja sesaat sebelum jam pulang dengan mengelap jika ada
ceceran.
8. Apabila terjadi ceceran atau tumpahan oli, minyak dan lain-lain, segera diangkat,
diserap dengan benda kering. Dan masukkan ke tempat yang telah ditentukan.
Pada prosedur poin ini, pada kelompok teknologi separasi banyak ditemukan
ceceran tumpahan oli yang tidak segera diangkat. Hal ini dapat terjadi karena
sebagian besar bahan yang ada di lab ini adalah crude oil. Sehingga diberikan
nilai 60 bagi kelompok teknologi separasi. Mau bagaimana pun, tumpahan oli
yang ada harus segera dibersihkan. Karena dimungkinkan dapat terjadi pekerja
74
analitik dan
kimia terapan,
89.3
teknologi
Separasi, 86
Bioteknologi,
89.8
analitik dan kimia
terapan
teknologi Separasi
Bioteknologi
yang terpleset atau hal-hal lain yang dapat terjadi karena adanya ceceran dari
crude oil ini. Untuk kedua kelompok lainnya diberikan nilai 80 karena
kebersihan yang ada sudah cukup baik dan sesuai dengan prosedur. Akan tetapi
untuk kebersihan terlihat masih kurang. Karena lingkungan kerja yang bersih
jika dijaga dapat membuat lingkungan pekerjaan menjadi baik, sehingga dapat
membuat pekerja menjadi nyaman dan aman saat bekerja. Sehingga prrduktifitas
pekerja pun dapat meningkat.
9. Merapikan peralatan kerja dan alat pelindung diri ke tempat yang telah
disediakan. Pada prosedur ini diberikan nilai bagi semua kelompok sebesar 80
karena pekerja yang ada merapikan APD dengan menggantung jas lab pada
tempat yang tersedia dan meletakkan sarung tangan serta masker yang digunakan
di lemari APD yang tersedia.
Sehingga berdasarkan penjelasan yang telah dipaparkan dan nilai yang ada maka
didapatkan presentasi kecukupan pencapaian prosedur yang dilakukan terhadap
penanganan limbah cair B3 dari masing-masing kelompok adalah sebagai berikut :
Diagram 4.2
Pencapaian prosedur penanganan limbah cair B3 yang dilakukan tiap Kelompok
KPRT Proses
tahun 2011
(dalam Persentase)




75
Kelompok Bioteknologi memegang presentase terbesar yaitu 89,8 % dari 100%
dalam pencapaian pelaksanaan prosedur penanganan limbah cair B3 yang dilakukan.
Kemudian kelompok analitik dan kimia terapan sebesar 89,3%. dan yang terakhir adalah
kelompok teknologi separasi yaitu sebesar 86 % dalam pencapaian prosedur pelaksanaan
penanganan limbah cair B3 yang dilakukan. Sehingga dengan adanya penilaian ini
diharapkan dapat membuat masing-masing kelompok melengkapi kekurangan yang ada
dalam rangka pencapain prosedur penanganan limbah cair B3 agar tercipta tempat kerja
yang aman dan sehat dan terhindar dari bahaya yang dapat dihasilkan dari limbah yang
ada apabila limbah tersebut tidak ditangani dengan baik.

4.3. Prosedur Penanganan limbah Cair non B3 KPRT Proses
Limbah Cair non B3 adalah Limbah yang dihasilkan dari kegiatan yang
dilakukan baik dari kegiatan laboratorium maupun hasil kegiatan lainnya yang tidak
mengandung B3 yang ada di KPRT Proses. Limbah Cair non B3 disini merupakan air
sisa pencucian alat-alat analisis. Berikut adalah Prosedur penanganan limbah cair non B3
yang dihasilkan gedung KPRT, saat dilakukannya pengamatan lapangan pada
Laboratorium kelompok Analitik dan Kimia Terapan, Laboratorium kelompok
Teknologi Separasi dan Laboratorium kelompok Bioteknologi.
Adapun proses penanganan limbah Cair non B3 KPRT proses yang dilakukan
adalah sebagai berikut :

76
Tabel 4.2 prosedur penanganan limbah cair non B3 dan penilaiannya terhadap kelompok-kelompok KPRT Proses tahun 2011
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS LEMIGAS /
Klausul ISO 14001 : 2004
Keputusan Menteri
KesehatanNo.61/MENKES/
SK/II/1998 Tentang :
Persyaratan Kesehatan
Lingkungan Kerja
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai* Nilai* Nilai*
1. Setelah melakukan
analisis, alat-alat yang
digunakan untuk analisis
tersebut kemudian dicuci
dengan fraksi untuk
menghilangkan sisa-sisa
sampel pada alat tersebut,
dan hasil cuciannya juga
dibuang ke dalam jerigen
khusus limbah sisa
analisis. Setelah itu, alat
tersebut kemudian dicuci
lagi dengan sabun dan
airnya dibuang ke wastafel.
Air sisa pencucian alat-alat
analisis dialirkan melalui
wastafel pencucian untuk
kemudian ditampung dalam
bak control limbah yang
tersedia dan dilakukan
pemeriksaan kualitas air. Jika
hasil pemeriksaan dibawah
baku mutu maka air dibuang
langsung ke badan air. Jika
lebih tinggi dari baku mutu,
maka dilakukan pengolahan
air sisa pencucian alat-alat di
IPAL.

(Prosedur P.16, No. 6.2.1.1
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)
Limbah cair harus diolah
dalam instansi pengolahan
limbah cair secara sendiri-
endiri atau dialirkan untuk
diolah secara terpusat.
100 100 100
2. Adapun berdasarkan hasil
wawancara dengan PJU LL
Komite LK3, dikatakan
bahwa pemantauan dan
pengukuran kualitas
limbah cair dari outlet
IPAL dilakukan setahun
sekali oleh pihak eksternal,
Komite LK3 memantau dan
mengukur kualitas limbah
cair dari outlet IPAL yang
dibuang melalui saluran
langsung ke badan air sungai
setiap enam bulan.


Kualitas efluen harus
memenuhi syarat sesuai
ketentuan
peraturan perundang-
undangan yang berlaku.
Laporan tentang pembuangan
limbah cair dan hasil
analisisnya sekurang-
50 50 50
77
dan tidak dilakukan
pengukuran dari pihak
internal. Dikarenakan
kurangnya alat yang dapat
digunakan untuk
pengukuran
(Prosedur P.16, No. 6.2.1.2
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)
kurangnya
sekali dalam 6 (enam)
bulan.(PP no 20 thn 1990)
Total 150 150 150
*Keterangan Nilai:
50-59 = kurang sesuai dilaksanakan, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
60-69 = Cukup sesuai dilaksanakan, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
70-79 = prosedur yang dilaksanakan sudah baik dan sesuai , ibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
80-100 = Prosedur yang dilaksanakan sudah sangat baik dan sesuai, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
Diagram 4.3
Skoring Pencapaian dalam Prosedur Penanganan Limbah Cair non B3 yang dilakukan tiap Kelompok KPRT Proses
Tahun 2011
150150150
0
20
40
60
80
100
120
140
160
Kelompok
KPRT Proses
analitik dan kimia terapan
Teknologi separasi
bioteknologi
78
Berdasarkan hasil scoring yang dilakukan terhadap pemenuhan prosedur
penanganan limbah Cair non B3 pada tiap kelompok yaitu kelompok analitik dan kimia
terapan, kelompok teknologi Separasi dan Bioteknologi, didapatkan nilai skor
pemenuhan bagi kelompok analitik dan kimia terapan adalah 150, pada kelompok
teknologi separasi didapatkan nilai 150 sedangkan pada kelompok bioteknologi
didapatkan nilai 150 dari nilai total 200 jika prosedur dijalankan dengan baik dan sesuai
dengan standar yang ada. Sehingga, dapat dikatakan untuk ketiga kelompok tersebut
memiliki skor yang sama dalam yang menerapkan prosedur yang ada pada penanganan
limbah cair non B3. Berikut akan dijelaskan mengenai pemberian nilai terhadap
kelompok-kelompok yang ada sesuai dengan item-item prosedur yang ada.
Adapun penjelasan mengenani penaganan Limbah Cair non B3 sesuai dengan
prosedur pengendalian limbah (Lampiran 1) dokumen sistem manajemen Lingkungan
dan Keselamatan dan kesehatan Kerja (SMLK3) Komite LK3 PPPTMGB LEMIGAS
adalah sebagai berikut :
1. Air sisa pencucian alat-alat analisis dialirkan melalui wastafel pencucian untuk
kemudian ditampung dalam bak control limbah yang tersedia dan dilakukan
pemeriksaan kualitas air. Jika hasil pemeriksaan dibawah baku mutu maka air
dibuang langsung ke badan air. Jika lebih tinggi dari baku mutu, maka
dilakukan pengolahan air sisa pencucian alat-alat di IPAL. Pada prosedur ini
ketiga kelompok yang ada telah sangan baik melaksanakan prosedur ini.
Dimana hal ini dilakukan dengan cara setelah melakukan analisis, alat-alat
yang digunakan untuk analisis tersebut kemudian dicuci dengan fraksi untuk
menghilangkan sisa-sisa sampel pada alat tersebut, dan hasil cuciannya juga
79
dibuang ke dalam jerigen khusus limbah sisa analisis. Setelah itu, alat tersebut
kemudian dicuci lagi dengan sabun dan airnya dibuang ke wastafel.
Pada kelompok Bioteknologi, limbah cair non B3 juga dapat berasal dari hasil
analisis yang menggunakan mikobiologi seperti kapang, jamur dan bakteri.
Sehingga penanganan terhadap limbah cair non B3 pada kelompok ini sedikit
berbeda dengan dua kelompok yang lain.
Adapun penanganannya adalah setelah melakukan analisis, kelompok
Bioteknologi memusnahkan limbah yang ada (destruk), menggunakan autoklaf
dengan pemanasan 121C selama 15 menit. Setelah itu limbah cair tersebut
dibuang melalui wastafel karena bakteri yang ada sudah dianggap mati.
Sehingga aman jika dibuang melalui wastafel tersebut. (gambar 4.8)
Gambar 4.3
Autoklaf dan hasil analisis setelah dilakukan pemanasan di Autoklaf
KPRT Proses tahun 2011

Sumber : pengamatan lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
Adapun cara untuk mengetahui apakah hasil analisis yang telah di destruk sudah
bagus atau masih dapat mencemari adalah dengan cara dilakukan uji kinerja
autoklaf. (lampiran 5). Caranya adalah dengan menggunakan reagen yang
80
dimana jika dilakukan pemanasan dengan autoklaf, reagen tersebut akan
berwarna ungu, yang artinya autoklaf tersebut masih bekerja dengan baik.
Sedangkan jika berwarna kuning artinya autoklaf tersebut bekerja tidak
maksimal. Sehingga harus dilakukan maintenance terhadap Autoklaf tersebut.
(gambar 4. 9)
Gambar 4. 4
Hasil reagen setelah dilakukan uji kinerja autoklaf yang berwarna kuning

Sumber : pengamatan lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
Berdasarkan hasil pengamatan yang ada terhadap prosedur yang
dilakukan untuk penanganan limbah cair non B3, prosedur-prosedur yang ada
sangat penting untuk dilakukan, karena jika air sisa pencucian alat-alat analisis
dialirkan langsung melalui wastafel tanpa sebelumnya dilakukan pencucian
dengan fraksi atau tanpa dilakukan pemanansan sebelumnya, akan dapat
menyebabkan pencemaran lingkungan terhadap masyarakat sekitar yang ada di
perusahaan ini. Karena Peranan Limbah cair yang lain selain lebih banyak
negatifnya karena manusia tidak merasa berkepentingan akan Limbah cair
tersebut. Limbah cair dianggap sebagai air yang tidak berguna lagi atau tidak
diperuntukkan lagi, oleh karena itu membuangnya begitu saja tanpa
81
mempertimbangkan segi negatifnya yang mungkin timbul baik terhadap sumber
alam hayati dan non hayati yang berguna bagi kehidupan. Peranan negatif
tersebut termasuk pengaruhnya terhadap kesehatan manusia dan lingkungannya
baik secara langsung maupun tidak langsung. Badan air yang menerima limbah
cair industri, mempunyai potensi untuk menyebabkan gangguan saluran
pencernaan makanan, kulit, dan sistem tubuh lain. Karenanya juga ada beberapa
penyakit yang ditularkan melalui Limbah cair antara lain seperti : Penyakit
Amoebiasis, Ascariasis, Cholera, penyakit cacing tambang, Leptospirosis,
Shigellosis, Strongyloidiasis, Tetanus, Trichuriasis, dan Thypus (Soedjono,
1991).
2. Komite LK3 memantau dan mengukur kualitas limbah cair dari outlet IPAL
yang dibuang melalui saluran langsung ke badan air sungai setiap enam bulan.
Pada prosedur ini, berdasarkan hasil wawancara dengan PJU LL Komite LK3,
dikatakan bahwa pemantauan dan pengukuran kualitas limbah cair dari outlet
IPAL dilakukan setahun sekali oleh pihak eksternal, dan tidak dilakukan
pengukuran dari pihak internal. Sehingga karena itulah diberikan nilai 50 untuk
semua kelompok. karena hal ini sudah tidak sesuai dengan prosedur yang
dibuat oleh Lemigas dan juga PP no 20 tahun 1990 yang menyatakan bahwa
hasil analisis limbah dilaporkan sekurang-kurangnya 6 bulan sekali. Sehingga
jika pengukuran hanya dilakukan sekali tentunya sudah tidak sesuai juga
dengan PP yang ada. Sebaiknya diusahakan agar dapat dilakukan pengukuran
yang dilaksanakan oleh pihak dari internal lemigas tersendiri. Dengan
pengadaan alat-alat dan penambahan skill pegawai. Hal ini perlu dilakukan
82
75
75
75
analitik dan
kimia terapan
teknologi
separasi
bioteknologi
juga, karena walaupun hasil pengukuran yang dilakukan oleh pihak eksternal
selalu menunjukkan hasil yang tidak melewati baku mutu, ada baiknya
pengukuran internal juga dilakukan seperti yang ditulis dalam prosedur
pengendalian limbah SMLK3 Lemigas. Agar hasil yang didapatkan mengenai
limbah cair non B3 dapat lebih valid. Pasalnya jika terjadi pencemaran air, hal
ini merupakan kejadian yang harus sangat diperhatikan. Karena jangan sampai
warga yang ada disekitar Lemigas terkena dampak dari pencemaran limbah
cair non B3.
Diagram 4.4
Pencapaian prosedur penanganan limbah cair non B3 yang dilakukan tiap
Kelompok KPRT Proses tahun 2011
(dalam Persentase)





Semua Kelompok memiliki jumlah persentase yang sama yakni 75% dari total
100 %. dalam pencapaian prosedur pelaksanaan penanganan limbah cair B3 yang
dilakukan. Sehingga dapat dikatakan bahwa ketiga kelompok masih memilkki
kekurangan yang sama dalam hal pemeriksaan limbah secara Internal. Diharapkan
dengan adanya penilaian ini diharapkan dapat membuat masing-masing kelompok
melengkapi kekurangan yang ada dalam rangka pencapain prosedur penanganan limbah
cair B3 agar tercipta tempat kerja yang aman dan sehat dan terhindar dari bahaya yang
83
dapat dihasilkan dari limbah yang ada apabila limbah tersebut tidak ditangani dengan
baik.
4.3.1. IPAL KPRT Proses PPPTMGB LEMIGAS
Instalasi pengolahan Air Limbah (IPAL) di gedung KPRT Proses telah berjalan
kurang lebih 3 tahun, dengan limbah kurang lebih 10m/perminggunya. Maksud dan
tujuan dari proses IPAL adalah suatu sistem proses pengolahan limbah cair kegiatan :
Laboratorium sehingga limbah cair yang dihasilkan aman sebelum dibuang ke sungai
Pesanggrahan dan sudah memenuhi syarat atau baku mutu air buangan yang ditetapkan
oleh pemerintah (BAPEDAL) Badan Pengelola dan Pengendali Dampak Lingkungan.
Dengan demikian pencemaram terhadap lingkungan dapat terkontrol dan dapat
dikendalikan.
Bagan 4.2
Cara kerja IPAL








Sumber : PJU LK3 KPRT Proses 2010.
Proses Kimia
Limbah sisa
sampel
Sisa Limbah
Cair
Sisa
Pencucian di
Lab
Proses
Biologi
Gudang
Limbah
sementara
Bak Kontrol
Sungai
PPLI
Sampel
84
Proses IPAL yang menggunakan pengolahan secara proses biologi ini yaitu
menggunakan bakteri dalam prosesnya, pada sistem ini terdiri dari beberapa tahapan
yaitu :
1. Bak Perangkap Lemak
2. Bak Aerasi
3. Bak Pengendapan
4. Chlorinator
5. Bak Effluent
1. Bak Perangkap Lemak
Air Limbah yang berasal dari pencucian peralatan laboratorium dari beberapa lab,
dialirkan melalui instalasi pipa, dan digabungkan menjadi satu lalu dialirkan
menuju bak perangkap lemak atau minyak. Bak tersebut dirancang untuk berfungsi
sebagai bak pengendapan, penyaringan, dan memisahkan minyak. Jika air limbah
bekas pencucian peralatan laboratorium terdapat kandungan pertikel-partikel yang
sangat berat seperti pasir, lumpur, atau sebagainya, maka partikel tersebut akan
mengendap pada bak tersebut. Kemudian jika bekas pencucian tersebut terdapat
kandungan minyaknya, maka bak tersebut dapat juga memisahkannya antara
minyak dan air. Setelah itu air tersebut dialirkan menuju bak aerasi.
2. Bak Aerasi.
Setelah proses awal yang ada dalam point 1, maka proses selanjtunya adalah proses
aerasi, dimana proses ini dirancang dengan metode Aerobik. Maksud dan tujuannya
adalah proses ini menggunakan bakteri yang ada pada limbah cair itu sendiri. Lalu
bakteri tersebut dikembangbiakkan dengan cara melarutkan oksigen atau udara ke
85
dalam air tersebut, yang dailirkan ke air seal defizer sehingga bakteri yang ada di
dalam air kotor akan tumbuh dan berkembang biak serta merubah zat-zat organik
menjadi anorganik yang mudah di endapkan. Karena kebutuhan oksigen tersebut
juga untuk proses biologi (BOD) akan menururn hingga lebih kurang 90-93%
3. Bak Pengendapan.
Dalam proses pengendapan terjadi pemisahan partikel yang terlarut dalam air.
Untuk partikel yang tenggelam (lumpur) berhubung dengan lumpur tersebut adalah
lumpur aktif dan mengandung bakteri, maka dikembalikan lagi ke Bak Aerasi,
dengan cara di vakum dengan alat yaitu pompa udara begitu pula lumpur yang
mengapung di vakum, juga dikembalikan ke bak aerasi. Lalu air yang bersih di
alirkan ke bak berikutnya.
4. Chlorinator
Air yang mengalir dari bak pengendapan tersebut masih terdapat bakteri yang
hidup. Maka sebelum dialirkan ke bak selanjutnya, bakteri tersebut tidak diperlukan
lagi. Sehingga harus dimatikan dengan cara membubuhkan chlorine atau kaporit
supaya bakteri tersebut mati.
5. Bak Effluent
Bak Effluent sebagau penampung air dari hasil terakhir proses IPAL. Air tersebut
siap di buang ke saluran umum setelah memenuhi persyaratan, dengan
menggunakan effluent Pump, dan pompa tersebut dapat bekerja secara automatic
dab manual.
86
IPAL selalu di pantau dan dievaluasi oleh Komite LK3, agar berjalan dengan
baik. Berikut merupakan digram alir yang menerangkan mulai dari contoh masuk dari
laboratorium hingga ke IPAL.
IPAL di Gedung KPRT Proses diperiksa setiap 3 bulan sekali, minimal setahun
sekali diperiksa ke laboratorium luar untuk membandingkan antara laboratorium di
KPRT proses dengan laboratorium luar dan memastikan hasil limbah yang telah diolah
benar-benar aman untuk dibuang ke sungai terdekat (sungai Pesanggrahan).
Gambar 4. 5
IPAL KPRT Proses PPPTMGB LEMIGAS
Tahun 2011

Sumber : pengamatan lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
Secara prosedur IPAL sudah baik namun ada sedikit kelemahan pada operator
yang bertanggung jawab terhadap perngoperasian IPAL. Karena yang bertanggung
jawab untuk menyalakan panel IPAL tidak ada penunjukkan secara resmi atau khusus
dari KPRT Proses. Hanya bagian utilities atau office boy yang secara bergantian
memantau aerator IPAL ini.


87
4.3.2 Pemantauan Limbah Cair KPRT Proses PPPTMGB LEMIGAS
Limbah cair dalam kegiatan operasional PPPTMGB LEMIGAS berpotensi
menimbulkan dampak terhadap perairan. Sehingga perusahaan melakukan pemantauan
limbah cair dengan pengambilan contoh dan analisis air limbah, sekali dalam setahun
yang dilakukan oleh pihak eksternal.
Sebenarnya pemantauan limbah, termasuk limbah cair seharusnya juga dilakukan
oleh pihak internal yaitu PPPTMGB LEMIGAS itu sendiri sesuai dengan dokumen
SMLK3 PPPTMGB LEMIGAS yang sudah dibuat. Dimana pengukuran yang
seharusnya dilakukan setiap tiga bulan sekali. Akan tetapi berdasarkan hasil wawancara
dengan pihak LL Komite LK3 PPPTMGB LEMIGAS, pengukuran tersebut tidak
dilakukan.
Hal ini dikarenakan, dengan melihat hasil pengukuran sebelum-sebelumnya yang
dilakukan pihak eksternal, dikatakan limbah cair yag dihasilkan oleh KPRT Proses
biasanya selalu dibawah baku mutu. PPPTMGB LEMIGAS berikut KPRT Proses,
juga telah memiliki izin pembuangan limbah cair sesuai Kepgub. Provinsi DKI Jakarta
No.582 tahun 1995 tentang penetapan Peruntukkan dan Baku mutu air sungai/badan Air
serta Baku Mutu Limbah cair di Wilayah DKI.
Untuk mengetahui apakah prosedur penanganan limbah yang telah dilakukan sudah
benar, Lemigas kemudian melakukan pengukuran kualitas limbah cair dari KPRT Proses .
hal ini dilakukan dengan cara pihak eksternal melakukan sampling terhadap kalitas air IPAL
dan air sungai sekitar Lemigas. Selanjutnya dianalisis dilaboratorium dibandingkan dengan
Kepgub. Provinsi DKI Jakarta No.582 tahun 1995 tentang penetapan Peruntukkan dan
Baku mutu air sungai/badan Air serta Baku Mutu Limbah cair di Wilayah DKI.
88
Adapun Hasil pengukuran yang dilakukan terhadap limbah cair di KPRT Proses
dapat dilihat pada lampiran 4. Dimana didapatkan hasil analisis terhadap Air limbah yang
berasal dari Outlet gedung Proses sudah sesuai dan dibawah baku mutu yang diteapkan
berdasarkan KEP. GUB. KDKI Jakarta no 582/1995 tentang penetapan Peruntukkan dan
Baku mutu air sungai/badan Air serta Baku Mutu Limbah cair di Wilayah DKI .
Dilakukan juga pemantauan terhadap Bak control atau IPAL gedung proses juga
yang dimana pengukurannya juga dilakukan oleh pihak eksternal. Untuk hasil dari
pengukuran tersebut dapat dilihat dalam lampiran 4. Berdasarkan seluruh hasil analisis
parameter limbah cair yang merupakan Air limbah yang berasal dari Bak Kontrol/IPAL
gedung Proses sudah sesuai dan dibawah baku mutu yang diteapkan berdasarkan *KEP.
GUB. KDKI Jakarta no 582/1995 tentang penetapan Peruntukkan dan Baku mutu air
sungai/badan Air serta Baku Mutu Limbah cair di Wilayah DKI .
Pengukuran Air permukaan Up and Down Stream Sungai Pesanggrahan PPPTMGB
LEMIGAS juga dilakukan. Adapun fungsi tujuan dilakukannya analisis pada pengukuran
up and down stream yang dilakukan pada sungai Pesanggrahan adalah untuk mengetahui
seberapa jauh hasil buangan pabrik terhadap pencemaran yang ada di sungai pesanggarahan.
Dengan melakukan test tersebut, PPPTMGB LEMIGAS dapat memastikan kegiatan yang
telah dilakukan menghasilkan cemaran atau tidak bagi sungai pesanggrahan tersebut. Hasil
pengukuran terhadap Up and Down Stream sungai Pesanggrahan dapat dilihat dalam
lampiran 4.
Berdasarkan hasil analisis parameter limbah cair yang dilakukan terhadap Air
permukaan sungai Pesanggrahan-Up Stream, sebagian besar sudah sesuai dan dibawah
baku mutu yang diteapkan berdasarkan KEP. GUB. KDKI Jakarta no 582/1995 tentang
89
penetapan Peruntukkan dan Baku mutu air sungai/badan Air serta Baku Mutu Limbah
cair di Wilayah DKI . hanya saja pada Nilai Permanganat (KMnO4) serta COD
melewati baku mutu yang telah ditetapkan. Juga BOD yang nilainya sudah sama dengan
baku mutu. Minyak dan lemak walaupun hasil ukurnya < 0,02 tetap saja telah melewati
baku mutu yang telah ditetapkan yaitu nihil.
Sedangkan pada hasil analisis parameter limbah cair yang merupakan Air
permukaan sungai Pesanggrahan-Down Stream sebagian besar sudah sesuai dan
dibawah baku mutu yang ditetapkan berdasarkan KEP. GUB. KDKI Jakarta no
582/1995 tentang penetapan Peruntukkan dan Baku mutu air sungai/badan Air serta
Baku Mutu Limbah cair di Wilayah DKI . hanya saja pada Nilai Permanganat (KMnO4)
nilainya sudah cukup tinggi yaitu 13, 9 mg/L mendekati nilai baku mutu yaitu 15mg/L.
Serta COD memiliki hasil dengan nilai yang sama dengan baku mutu yang telah
ditetapkan yaitu sebesar 20mg/L. Minyak dan lemak walaupun hasil ukurnya < 0,02
tetap saja telah melewati baku mutu yang telah ditetapkan yaitu nihil.
Yang perlu diperhatikan disini adalah angka hasil pengukuran antara hulu dan
hilir tidak begitu jauh. Sebagian besar nilainya sama. Sedangkan berdasarkan penelitian
Rani Apryanti Lubis (2007) diketahui nilai BOD, COD dan Fecal coli di bagian hulu,
tengah dan hilir DAS Ciliwung dari tahun 2003 sampai dengan 2005 mempunyai
sebaran bervariasi, berdasarkan nilai baku mutu air PP RI No. 82 tahun 2001. akan
tetapi pada hasil pengukuran yang ada ini tidak menunjukkan adanya nilai
variasi pada total coliform yang ada. Sehingga bagaimana hasil bisa
menunjukkan seperti ini, penulis tidak dapat mengetahui secara pasti.
90
Dengan melihat hasil pengukuran seperti ini, sebaiknya perlu dilakukan
penyelidikan terhadap prosedur penanganan limbah yang ada. apakah ada
bagian prosedur yang terlewati. Karena hasil pengukuran yang ditunjukkan
bisa jadi karena adanya prosedur penanganan limbah yang terlewati atau tidak
dijalankan dengan baik dan tuntas.

4.4 Prosedur Penanganan limbah Padat B3 KPRT Proses
Limbah Padat B3 adalah semua jenis sampah/sisa dari suatu kegiatan/aktivitas
berupa padatan dan sudah tidak bisa dimanfaatkan kembali yang mengandung bahan
berbahaya dan/atau beracun yang karena sifat dan/atau konsentrasinya dan/atau
jumlahnya, baik secara langsung maupun tidak langsung dapat mencemari dan/atau
merusak lingkungan hidup dan/atau dapat membahayakan lingkungan hidup, kesehatan,
kelangsungan hidup manusia serta makhluk hidup lain.
Limbah padat B3 yang dihasilkan disini dapat berupa majun, sarung tangan, masker
dan lain-lainnya yang mengandung B3. Berikut adalah Prosedur penanganan limbah Padat
B3 yang dihasilkan gedung KPRT Proses sesuai dengan jenisnya, saat dilakukannya
pengamatan lapangan pada Laboratorium kelompok Analitik dan Kimia Terapan,
Laboratorium kelompok Teknologi Separasi dan Laboratorium kelompok Bioteknologi.
Adapun proses penanganan limbah Padat B3 KPRT proses yang dilakukan
adalah sebagai berikut :


91
Tabel 4.3 Prosedur penanganan limbah Padat B3 dan penilaiannya terhadap kelompok-kelompok KPRT Proses tahun 2011
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
PP No 18 jo. 85 1999
tentang Pengelolaan
Limbah B3.
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
1. Untuk limbah padat B3
seperti majun sudah
diletakkan pada tempat
khusus berbeda tempatnya
dengan tempat sampah
organik dan non organik.
Hanya saja hal ini kurang
sesuai dengan peraturan
yang ada. Karena majun B3
yang ada hanya diletakkan
di kardus-kardus. Bukan
wadah khusus yang
tertutup yang seharusnya
disediakan untuk tempat
majun B3 tersebut.
Limbah padat B3 yang
termasuk dalam daftar limbah
B3 sesuai dengan Peraturan
Perundang-undangan,
kemasan bekas B3 dan
limbah padat terkontaminasi
B3 (majun, sarung tangan,
masker dan lain-lain)
dikumpulkan dan dikemas
dalam drum khusus yang
diberi label.

(Prosedur P.16, No. 6.2.4
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)
Setiap kemasan limbah B3 wajib
diberi simbol dan label yang
menunjukkan karakteristik dan
jenis limbah B3.
1) Kemasan untuk limbah B3
harus dalam kondisi baik,
tidak rusak,
dan bebas dari pengkaratan
serta kebocoran.
2) Kemasan dapat terbuat dari
bahan plastik (HDPE, PP atau
PVC)
atau bahan logam (teflon,
baja karbon, SS304, SS316
atau SS440)
dengan syarat bahan kemasan
yang dipergunakan tersebut
tidak
bereaksi dengan limbah B3
yang disimpannya.
(kepdal 01/BAPEDAL/09
tahun 1995)
50 50 70
2. Rekaman kemasan berisi
limbah dibuat rekamannya
yang diserahkan kepada
PJU LL Komite LK3 saat
akan mengangkut limbah
Setiap 3 bulan sekali diadakan
inspeksi terhadap limbah B3
yang telah ada. kemudian
kemasan Jerigen berisi limbah
tersebut dibuat rekamannya
Penghasil limbah B3 wajib
menyampaikan catatan
sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) sekurang-kurangnya
sekali dalam enam bulan
80 80 80
92
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
PP No 18 jo. 85 1999
tentang Pengelolaan
Limbah B3.
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
menuju gudang
penyimpanan sementara.
oleh Pengelola Laboratorium,
kemudian diserahkan kepada
Komite LK3 sesuai dengan
instruksi Kerja Khusus
Pengendalian Limbah
Laboratorium.

(Prosedur IKK.12, No. 6.1.1
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.5.1)
kepada instansi yang
bertanggung jawab dengan
tembusan kepada instansi
yang terkait
danBupati/ Walikotamadya
Kepala Daerah Tingkat II
yang bersangkutan.
3 Berdasarkan hasil
wawancara, terkadang
limbah yang ada di gudang
dapat tersimpan lebih dari
6 bulan
Dan setiap 6 bulan sekali
limbah B3 tersebut diberikan
kepada pihak terkait (PPLI)
untuk dilakukan pemusnahan.

(Prosedur IKK.12, No. 6.1.1
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.5.1)

Penghasil limbah B3 wajib
menyampaikan catatan
sekurang-kurangnya
sekali dalam enam bulan
kepada instansi yang
bertanggung jawab. Dan Bila
limbah B3 yang dihasilkan
kurang dari 50 (lima puluh)
kilogram per hari, penghasil
limbah B3 dapat
menyimpan limbah B3 yang
dihasilkannya lebih dari
sembilan pu1uh hari sebelum
diserahkan kepada
pemanfaat atau pengolah atau
penimbun limbah B3, dengan
persetujuan Kepa1a instansi
yang bertanggung
jawab.
69 69 69
93
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
PP No 18 jo. 85 1999
tentang Pengelolaan
Limbah B3.
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
4 Pengumpulan Limbah
padat B3 dilakukan oleh
LK3 selanjutnya
diserahkan kepada pihak
yang mendapat ijin dari
pemerintah seperti PPLI
limbah padat B3 disimpan di
Gudang Limbah untuk
selanjutnya diserahkan
kepada pihak yang mendapat
ijin Pemerintah.

(Prosedur P.16, No. 6.2.4
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)

Pengumpul limbah B3
dilakukan oleh badan usaha
yang melakukan kegiatan
pengumpulan limbah B3.
100 100 100
Total 299 299 319

*Keterangan Nilai:
50-59 = kurang sesuai dilaksanakan, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
60-69 = Cukup sesuai dilaksanakan, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
70-79 = prosedur yang dilaksanakan sudah baik dan sesuai , ibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
80-100 = Prosedur yang dilaksanakan sudah sangat baik dan sesuai, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah
yang ada

94
299 299
319
285
290
295
300
305
310
315
320
kelompok KPRT proses
analitik dan kimia terapan
teknologi Separasi
Bioteknologi
Diagram 4.5
Skoring Pencapaian dalam Prosedur Penanganan Limbah Padat B3 yang
dilakukan tiap Kelompok KPRT Proses
tahun 2011






Berdasarkan hasil scoring yang dilakukan terhadap pemenuhan prosedur
penanganan limbah Padat B3 pada tiap kelompok yaitu kelompok analitik dan kimia
terapan, kelompok teknologi Separasi dan Bioteknologi, didapatkan nilai skor
pemenuhan bagi kelompok analitik dan kimia terapan dan Teknologi Separasi adalah
299, sedangkan pada kelompok bioteknologi didapatkan nilai 319 dari nilai total 400
jika prosedur dijalankan dengan baik dan sesuai dengan standar yang ada. Sehingga,
dapat dikatakan untuk kelompok yang menerapkan prosedur lebih baik dan mendekati
standar yang ada pada penanganan limbah Padat B3 adalah pada kelompok
Bioteknologi.. Berikut akan dijelaskan mengenai pemberian nilai terhadap kelompok-
kelompok yang ada sesuai dengan item-item prosedur yang ada.
Adapun penjelasan mengenani penaganan Limbah padat B3 sesuai dengan
prosedur pengendalian limbah (Lampiran 1) dokumen sistem manajemen Lingkungan
dan Keselamatan dan kesehatan Kerja (SMLK3) Komite LK3 PPPTMGB LEMIGAS
adalah sebagai berikut :
95
1. Limbah padat B3 yang termasuk dalam daftar limbah B3 sesuai dengan
Peraturan Perundang-undangan, kemasan bekas B3 dan limbah padat
terkontaminasi B3 (majun, sarung tangan, masker dan lain-lain) dikumpulkan
dan dikemas dalam drum khusus yang diberi label. Pada prosedur ini Untuk
limbah padat B3 seperti majun sudah diletakkan pada tempat khusus berbeda
tempatnya dengan tempat sampah organik dan non organik. Hanya saja hal ini
kurang sesuai dengan peraturan yang ada. Karena majun B3 yang ada hanya
diletakkan di kardus-kardus dan keranjang sampah. Bukan wadah khusus yang
tertutup yang seharusnya disediakan untuk tempat majun B3 tersebut.
Seharusnya limbah padat B3 yang ada diberikan wadah tertutup. Bukan kardus
yang terbuka. Karena hal ini dapat memungkinkan adanya paparan B3 yang bisa
dapat berasal dari limbah padat B3 pada wadah yang terbuka tersebut. Karena hal
inilah yang membuat kedua kelompok yang ada diberikan nilai 50 karena
menggunakan wadah kardus besar yang terbuka. (gambar 4.11). Sedangkan pada
bioteknologi sudah tersedia wadah berupa tempat sampah tertutup. Hanya saja
ukurannya kecil dan kurang banyak. Sehingga di berikan nilai 70.
96
Gambar 4.6
Gambar Wadah Penampungan Majun di KPRT Proses
Tahun 2011




Sumber : pengamatan lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
2. Setiap 3 bulan sekali diadakan inspeksi terhadap limbah B3 yang telah ada. Dan
setiap 6 bulan sekali limbah B3 tersebut diberikan kepada pihak terkait (PPLI)
untuk dilakukan pemusnahan. Pada prosedur ini, telah dilakukan dengan baik
oleh semua kelompok. Hal ini dapat dilihat dari laporan seperti yang
ditunjukkan pada lampiran 6. sehingga diberikan skor 80 karena telah melakukan
sesuai dengan prosedur yang ada. Adapun inspeksi ini dilakukan adalah untuk
melihat dan melakukan pengecekan terhadap limbah yang ada apakah sudah
penuh atau belum dan juga inspeksi terhadap wadah yang menampungnya.
Apakah wadah sudah bocor atau sudah tidak layak pakai. Sehingga inspeksi ini
sangat penting untuk dilakukan dalam penanganan limbah. Karena jika wadah
yang menyimpan limbah mengalami kebocoran, akan berkemungkinan
berdampak negative bagi pekerja yang ada. sebenarnya inspeksi untuk wadah
penampungan limbah padat ini sudah disadari bahwa tempat yang ada tidak
layak. Hanya saja dalam pelaksanaannya untuk pergantian wadah tersebut
97
memelukan waktu dan masalah internal Lemigas yang tidak dapat dijelaskan
dalam laporan ini.
3. Secara berkala (6 bulan sekali) PJU LL Komite LK3 menyerahkan limbah ke
pengumpul. Hal ini diberikan nilai 69 kepada semua kelompok. Karena semua
kelompok memiliki gudang yang sama. Sehingga diberikan nilai 69. mengapa?
Pada prosedur ini, Berdasarkan hasil wawancara Penyimpanan limbah sementara
dilakukan selama kurang lebih 6 bulan di gudang penyimpanan sementara.
Terkadang bisa 1 tahun sekali baru diserahkan ke pengumpul, sehingga limbah
yang ada dapat tersimpan lebih dari 6 bulan. Hal ini lah yang menyebabkan
semua kelompok diberi nilai sama yaitu 69. karena tidak sesuai dengan PP yang
ada yang menyatakan limbah disimpan paling lama 90 hari. Meski jika limbah
yang dihasilkan tidak lebih dari 50 Kg perhari, limbah dapat disimpan lebih dari
90 hari. Tetapi jika disimpan terlalu lama hingga sampai 1 tahun dikhawatirkan
terjadi hal-hal yang dapat menyebabkan pencemaran dari limbah yang terlalu
lama disimpan itu.
4. Limbah Padat B3 oleh LK3 akan diserahkan kepada pihak yang mendapat ijin
dari pemerintah seperti PPLI. (lampiran 6). Jika ruang tersebut sudah penuh,
limbah-limbah tersebut di pindahkan untuk disimpan di gudang sementara LK3
yang terletak di luar gedung Proses. Kemudian Limbah cair B3 oleh LK3
selanjutnya akan diserahkan kepada pihak ketiga yang mendapat ijin dari
pemerintah seperti PPLI. Sudah sesuai dengan prosedur yang ada. karenanya
diberikan nilai 100 terhadap semua kelompok.

98
74.8
74.8
79.8
Analitik dan
Kimia terapan
teknologi
Separasi
Bioteknologi
Diagram 4.6
Pencapaian prosedur penanganan limbah Padat B3 yang dilakukan tiap
Kelompok KPRT Proses tahun 2011
(dalam Persentase)





Kelompok Bioteknologi memegang presentase terbesar yaitu 79,8 % dari 100%
dalam pencapaian pelaksanaan prosedur penanganan limbah padat B3 yang dilakukan.
Kemudian kelompok analitik dan kimia terapan dan kelompok teknologi separasi
mempunyai presentasi dalam penanganan limbah padat yaitu sebesar 74,8% dalam
pencapaian prosedur pelaksanaan penanganan limbah Padat B3 yang dilakukan.
Sehingga dengan adanya penilaian ini diharapkan dapat membuat masing-masing
kelompok melengkapi kekurangan yang ada dalam rangka pencapain prosedur
penanganan limbah Padat B3 agar tercipta tempat kerja yang aman dan sehat dan
terhindar dari bahaya yang dapat dihasilkan dari limbah yang ada apabila limbah
tersebut tidak ditangani dengan baik.




99
4.5 Proses Penanganan limbah Padat non B3 KPRT Proses
Pengertian Limbah Padat non B3 disini adalah semua jenis sampah/sisa dari
suatu kegiatan/aktivitas berupa padatan dan sudah tidak bisa dimanfaatkan kembali.
Limbah padat non B3 yang dihasilkan disini terbagi menjadi dua yaitu limbah padat organic
seperti limbah kantin, kardus, kertas, majun, daun dan kayu. Sedangkan limbah padat
anorganik seperti plastic, sarung tangan, APD bekas yang tidak terkontaminasi B3. Berikut
adalah Prosedur penanganan limbah Padat B3 yang dihasilkan gedung KPRT Proses sesuai
dengan jenisnya, saat dilakukannya pengamatan lapangan pada Laboratorium kelompok
Analitik dan Kimia Terapan, Laboratorium kelompok Teknologi Separasi dan
Laboratorium kelompok Bioteknologi.
Adapun proses penanganan limbah Padat B3 KPRT proses yang dilakukan adalah
sebagai berikut :



100
Tabel 4.4 Prosedur penanganan limbah Padat Non B3 dan penilaiannya terhadap kelompok-kelompok KPRT Proses tahun 2011
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
Keputusan Menteri Kesehatan
No.61/MENKES/SK/II/1998
Tentang : Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
1. Limbah padat Organik
(Limbah kantin, kerdus
kertas, daun dan kayu,
majun) dibuang ke tempat
penampungan sementara
organik. Limbah padat
organik selanjutnya tidak
dibakar dengan tungku
pembakar lagi, melainkan
hanya ditimbun diarea
tanah lemigas.
Limbah padat Organik
(Limbah kantin, kerdus
kertas, daun dan kayu, majun)
dibuang ke tempat
penampungan sementara
organik. Limbah padat
organik selanjutnya dibakar
di tungku pembakar.

(Prosedur P.16, No. 6.2.3.1
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)
- 69 69 69
2. Limbah padat anorganik
(plastic, karet, gelas/kaca,
sarung tangan, APD bekas
yang tidak terkontaminasi
B3) dibuang ke tempat
penampungan sementara
anorganik

Limbah padat anorganik
(plastic, karet, gelas/kaca,
sarung tangan, APD bekas
yang tidak terkontaminasi
B3) dibuang ke tempat
penampungan sementara
anorganik
(Prosedur P.16, No. 6.2.3.2,
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)
- 100 100 100
3. Limbah padat berupa seng,
besi drum, kaleng, pelat tali
diserahkan kepada pihak
ke-3.
Limbah padat yang
Limbah padat berupa seng,
besi drum, kaleng, pelat tali
diserahkan kepada pihak ke-
3.
Limbah padat yang dihasilkan
- 100 100 100
101
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
Keputusan Menteri Kesehatan
No.61/MENKES/SK/II/1998
Tentang : Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
dihasilkan oleh kontraktor,
pembuangannya menjadi
tanggung jawab kontraktor
terkait yang diawasi oleh
PJU LK3 terkait dan
Komite LK3

oleh kontraktor,
pembuangannya menjadi
tanggung jawab kontraktor
terkait yang diawasi oleh PJU
LK3 terkait dan Komite LK3
(Prosedur P.16, No. 6.2.3.3
dan 6.2.3.4 terkait dengan
klausul ISO 14001 : 2004
butir 4.4.6)
4. Lemigas sudah dilengkapi
dengan tempat
sampah. Tempat sampah
terbuat dari bahan yang
kuat, cukup ringan,
berbakan plastik, kedap air
dan mempunyai permukaan
yang halus pada bagian
dalamnya serta dilengkapi
dengan penutup.
- Setiap perkantoran harus
dilengkapi dengan tempat
sampah. Tempat sampah
terbuat dari bahan yang kuat,
cukup ringan, tahan karat,
kedap air dan mempunyai
permukaan yang halus pada
bagian dalamnya serta
dilengkapi dengan penutup.

75 75 75
5. Tidak ada pemisahan
terhadap sampah kering
dan sampah basah, yang
ada adalah pemisahan
terhadap sampah organic
dan sampah non organic,
dan ada tempat sampah
yang sudah dilapisi
kantong palstik hitam ada
yang belum dilapisi
- Sampah kering dan sampah
basah ditampung dalam
tempat sampah yang terpisah
dan dilapisi kantong plastik
berwarna hitam.
75 75 75
102
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
Keputusan Menteri Kesehatan
No.61/MENKES/SK/II/1998
Tentang : Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
6. Berdasarkan hasil
wawancara dan hasil
pengamatan, Sampah
organic dibuang setiap hari
pada pagi hari. Sampah non
organic dibuang setiap 3
kali dalam seminggu yang
dilakukan setiap sore hari
- Sampah dibuang setiap hari
atau apabila 2/3 bagian
tempat sampah telah terisi
oleh sampah.
80 80 80
7. Di Lemigas sudah tersedia
tempat pengumpulan
sampah sementara. Sampah
ornganik ada yang
ditimbun dan secara
berkala sampah organic
dan non organic diambil
oleh dinas kebersihan DKI
Jakarta, dan ini tidak
diangkut setiap hari.
- Tersedia tempat pengumpulan
sampah sementara. Sampah
dari tempat penampungan
sementara harus
diangkut setiap hari.
70 70 70
Total 569 569 569

*Keterangan Nilai:
50-59 = kurang sesuai dilaksanakan, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
60-69 = Cukup sesuai dilaksanakan, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
70-79 = prosedur yang dilaksanakan sudah baik dan sesuai , ibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
80-100 = Prosedur yang dilaksanakan sudah sangat baik dan sesuai, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
103
569 569 569
0
100
200
300
400
500
600
kelompok KPRT proses
analitik dan kimia
terapan
teknologi Separasi
Bioteknologi
Diagram 4.7
Skoring Pencapaian dalam Prosedur Penanganan Limbah non Padat B3 yang
dilakukan tiap Kelompok KPRT Proses
Tahun 2011







Berdasarkan hasil scoring yang dilakukan terhadap pemenuhan prosedur
penanganan limbah Padat non B3 pada tiap kelompok yaitu kelompok analitik dan kimia
terapan, kelompok teknologi Separasi dan Bioteknologi, didapatkan nilai skor
pemenuhan bagi kelompok analitik dan kimia terapan adalah 569, pada kelompok
teknologi separasi didapatkan nilai 569 sedangkan pada kelompok bioteknologi
didapatkan nilai 569 dari nilai total 700 jika prosedur dijalankan dengan baik dan sesuai
dengan standar yang ada. Sehingga, dapat dikatakan untuk ketiga kelompok tersebut
memiliki skor yang sama dalam yang menerapkan prosedur yang ada pada penanganan
limbah Padat non B3. Berikut akan dijelaskan mengenai pemberian nilai terhadap
kelompok-kelompok yang ada sesuai dengan item-item prosedur yang ada.
Adapun penjelasan mengenani penaganan Limbah padat non B3 sesuai dengan
prosedur pengendalian limbah (Lampiran 1) dokumen sistem manajemen Lingkungan
104
dan Keselamatan dan kesehatan Kerja (SMLK3) Komite LK3 PPPTMGB LEMIGAS
adalah sebagai berikut :
1. Limbah padat Organik (Limbah kantin, kerdus kertas, daun dan kayu, majun)
dibuang ke tempat penampungan sementara organik. Limbah padat organik
selanjutnya dibakar di tungku pembakar. Pada prosedur ini ketiga kelompok
diberikan nilai yang sama karena untuk penanganan limbah organic terpusat kepada
Komite LK3 Lemigas. Sehingga semua limbah padat yang ada seperti Limbah padat
Organik (Limbah kantin, kerdus kertas, daun dan kayu, majun) dibuang ke tempat
penampungan sementara organik. Adapun Limbah padat organik selanjutnya tidak
dibakar di tungku pembakar lagi saat ini seperti yang dituliskan dalam dokumen
SMLK3 Lemigas. Dikarenakan cerobong asap tungku pembakaran sangat pendek.
Dimana saat pembakaran berlangsung, Asapnya mengganggu pekerja yang ada
dilingkungan sekitar. Sehingga saat ini Limbah padat non B3 organik dibuang
kemudian di sebuah areal yang ada di LEMIGAS dengan cara dikubur dan kemudian
diratakan dengan tanah (gambar 4.14).
Gambar 4.7
Tungku pembakar dan Areal pembuangan sampah Organik PPPTMGB
LEMIGAS
Tahun 2011

Sumber : Pengamatan Lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
105
Sehingga, untuk penanganan limbah padat non B3 agar lebih baik, disarankan
menggunakan insenerator agar sampah padat yang ada diolah oleh insenerator
tersebut dan lebih baik penggunaannya dibandingkan dengan penggunaan tungku
pembakar yang ada saat ini yang memiliki cerobong yang pendek. Dan
penggunaan insenerator juga lebih baik dibandingkan ditimbun. Atau dapat juga
dilakukan dengan cara pengomposan sampah padat organik yang ada. Hal ini
lebih mudah dilakukan karena sudah dilakukan pemisahan antara sampah
organik dan anorganik di Lemigas.
Karena sampah yang ditimbun begitu saja tanpa menggunakan system sanitary
landfill dan tidak dilakukan pemeriksaan terhadap kondisi tanah dan air tanah,
dikhawatirkan akan dapat beresiko terhadap adanya pencemaran air tanah. Untuk
itulah prosedur penanganan terhadap limbah padat non B3 ini juga sangat perlu
diperhatikan dengan seksama. Perlu juga diadakan pengukuran terhadap air tanah
yang ada disekitar areal Lemigas ini. Karena berdasarkan wawancara dengan
komite LL, untuk pengukuran limbah padat terhadap pencemaran tanah belum
ada. Sehingga tidak didapatkan data mengenai adanya pencemaran tanah akibat
limbah padat di KPRT Proses PPPTMGB LEMIGAS.
2. Limbah padat anorganik (plastic, karet, gelas/kaca, sarung tangan, APD bekas
yang tidak terkontaminasi B3) dibuang ke tempat penampungan sementara
anorganik. Pada prosedur ini ketiga kelompok telah sesuai dengan prosedur dan
peraturan yang ada yaitu Limbah padat anorganik (plastic, karet, gelas/kaca,
sarung tangan, APD bekas yang tidak terkontaminasi B3) dibuang ke tempat
penampungan sementara anorganik. Sehingga karenanya diberikan nilai 100.
106
3. Limbah padat berupa seng, besi drum, kaleng, pelat tali diserahkan kepada pihak
ke-3. Limbah padat yang dihasilkan oleh kontraktor, pembuangannya menjadi
tanggung jawab kontraktor terkait yang diawasi oleh PJU LK3 terkait dan
Komite LK3. pada rpsedur ini juga ketiga kelompok telah melakukan sesuai
dengan prosedur dan peraturan yang ada.
Adapun penjelasan mengenani penaganan Limbah padat non B3 sesuai dengan
Keputusan Menteri Kesehatan No.61/MENKES/SK/II/1998 Tentang : Persyaratan
Kesehatan Lingkungan Kerja yang digunakan karena prosedur ini dilakukan di lemigas,
tetapi tidak ada di dalam dokumen SMLK3 adalah sebagai berikut :
4. Setiap perkantoran harus dilengkapi dengan tempat sampah. Tempat sampah
terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, tahan karat, kedap air dan
mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya serta dilengkapi
dengan penutup. Lemigas sudah dilengkapi dengan tempat sampah. Tempat
sampah terbuat dari bahan yang kuat, cukup ringan, berbakan plastik, kedap air
dan mempunyai permukaan yang halus pada bagian dalamnya serta dilengkapi
dengan penutup. Tetapi pada tempat sampah yang ada di lab-lab tidak dilengkapi
dengan penutup. Hanya berupa keranjang sampah biasa. Untuk itulah maka
diberikan nilai 75 bagi tempah sampah ini.
5. Sampah kering dan sampah basah ditampung dalam tempat sampah yang
terpisah dan dilapisi kantong plastic berwarna hitam. Pada prosedur ini bila
dibandingkan dengan Kemenkes yang ada, di Lemigas tidak ada pemisahan
terhadap sampah kering dan sampah basah, yang ada adalah pemisahan terhadap
sampah organic bewarna hijau dan sampah non organic bewarna orange. (gambar
107
4.12), dan ada tempat sampah yang sudah dilapisi kantong palstik hitam ada
yang belum dilapisi. Sehingga diberikan nilai 75.
Gambar 4. 12
Jenis tempat sampah organik dan anorganik di KPRT Proses PPPTMGB
LEMIGAS Tahun 2011.

Sumber : pengamatan lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
Sampah-sampah padat non B3 yang ada di lemigas, dipisahkan dalam bentuk
organik dan anorganik agar lebih mudah penanganannya.
6. Sampah dibuang setiap hari atau apabila 2/3 bagian tempat sampah telah terisi
oleh sampah. Pada prosedur ini jika dibandingkan dengan Kemenkes,
penanganan yang dilakukan Lemigas adalah dengan cara sampah organik yang
ada diangkut setiap hari di waktu pagi dengan menggunakan gerobak sampah
berwarna hijau (gambar 4.13). Biasanya limbah padat Organik (Limbah kantin,
kerdus kertas, daun dan kayu, majun) yang ada kemudian dibuang ke tempat
penampungan sementara organik.
108
Gambar 4.9
Gerobak Pengangkut Sampah Organik PPPTMGB LEMIGAS Tahun 2011

Sumber : pengamatan lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
Sedangkan sampah anorganik diangkut setiap 3 kali dalam seminggu. Hal ini
dikarenakan sampah jenis ini tidak sebanyak jenis sampah organik yang harus
diangkut setiap hari. Sampah organik diangkut oleh gerobak berwarna orange
(gambar 4.15). Penanganan limbah padat anorganik seperti plastik, karet, gelas
atau kaca, sarung tangan, APD bekas yang tidak terkontaminasi B3 dibuang ke
tempat penampungan sementara anorganik (gambar 4.15) yang kemudian secara
berkala akan diserahkan kepada Suku Dinas Kebersihan DKI Jakarta selatan dan
Perusahaan lainnya yang juga menggunakan limbah tersebut.(lampiran).
Gambar 4.10
Gerobak Sampah Anorganik dan Tempat Penampungan Sementara
Sampah Anorganik PPPTMGB LEMIGAS tahun 2011.

Sumber : pengamatan lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
109
Adapun Penanganan limbah padat non B3 pada kelompok analitik dan
kimia terapan, kelompok laboratorium teknologi proses separasi dan kelompok
Bioteknologi sebagian besar sama, limbah padat non B3 yang dihasilkan dari
kelompok-kelompok tersebut sebagian besar mempunyai karateristik yang sama,
seperti tissue, kertas, kertas saring dan limbah organik lainnya. Hanya saja ada
jenis sampah lain yang dihasilkan dari kelompok Bioteknologi.
Sampah organik dari kelompok mikrobiologi merupakan sampah organik
berupa media agar yang sebelumnya digunakan untuk pertumbuhan bakteri,
jamur atau kapang untuk proses analisis. Dimana setelah analisis selesai
dilakukan, media agar yang sudah digunakan untuk proses analisis tersebut
kemudian di destruk atau dilakukan pemanasan dengan autoklaf selama 15 menit
dengan suhu 121 C. hal ini digunakan untuk mematikan bakteri, jamur dan
kapang yang ada, sehingga media agar tersebut dapat dibuang dengan aman ke
tempat sampah organik yang khusus berbentuk tempat sampah tertutup yang ada
di dalam ruang laboratorium mikrobiologi (gambar 4.16).
Gambar 4.11
Tempat sampah tertutup di Kelompok Bioteknologi KPRT Proses
Tahun 2011

Sumber : pengamatan lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
110

7. Tersedia tempat pengumpulan sampah sementara. Sampah dari tempat
penampungan sementara harus diangkut setiap hari. Pada prosedur ini yang jika
dibandingkan dengan Kemenkes yang ada Di Lemigas sudah tersedia tempat
pengumpulan sampah sementara. Sampah ornganik ada yang ditimbun dan
secara berkala sampah organic dan non organic diambil oleh dinas kebersihan
DKI Jakarta, dan ini tidak diangkut setiap hari. Hal inilah yang membuat
penilaian pada prosedur ini diberikan 70. karena pengangkutan yang tidak
dilakukan setiap hari. Karena jika terlalu lama sampah tidak diangkut
dikhawatirkan akan menimbulkan gas H2S yang dapat timbul dari timbunan
sampah yang ada.
Diagram 4.8
Pencapaian prosedur penanganan limbah Padat non B3 yang dilakukan tiap
Kelompok KPRT Proses Tahun 2011
(dalam Persentase)
80
80
80
Analitik dan
Kimia terapan
teknologi
Separasi
Bioteknologi
111

Semua Kelompok memiliki jumlah persentase yang sama yakni 80% dari total
100 %. dalam pencapaian prosedur pelaksanaan penanganan limbah padat non B3 yang
dilakukan. Sehingga dapat dikatakan bahwa ketiga kelompok masih memilkki
kekurangan yang sama dalam hal prosedur penanganan limbah padat non B3 yang ada.
Diharapkan dengan adanya penilaian ini dapat memberikan masukan bagi Komite LK3
yang memegang peranan juga dalam prosedur penanganan limbah padat non B3 yang
ada di gedung Proses ini agar dapat membuat masing-masing kelompok melengkapi
kekurangan yang ada dalam rangka pencapain prosedur penanganan limbah padat non
B3 agar tercipta tempat kerja yang aman dan sehat dan terhindar dari bahaya yang dapat
dihasilkan dari limbah yang ada apabila limbah tersebut tidak ditangani dengan baik.

4.6 Prosedur Penanganan limbah Emisi KPRT Proses
Pengertian Limbah Emisi disini adalah hasil gas buang yang dihasilkan dari
proses kegiatan yang dilakukan. Berikut adalah Prosedur penanganan limbah emisi yang
dihasilkan gedung KPRT Proses, saat dilakukannya pengamatan lapangan pada
Laboratorium kelompok Analitik dan Kimia Terapan, Laboratorium kelompok
Teknologi Separasi dan Laboratorium kelompok Bioteknologi.
Adapun proses penanganan limbah emisi Padat B3 KPRT proses yang dilakukan adalah
sebagai berikut :
112
Tabel 4.5 Prosedur penanganan limbah Emisi dan penilaiannya terhadap kelompok-kelompok KPRT Proses tahun 2011
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
Kep. 13 MenLH/3/95 tentang
Kualitas Udara Emisi
Cerobong
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
1. Emisi, meliputi emisi
cerobong yang ada di
lingkungan perkantoran
PPPTMGB
LEMIGAS dilakukan
pemeriksaan sesuai
dengan Dokumen
Pengelolaan dan
Pemantauan Lingkungan
Emisi, meliputi emisi
cerobong yang ada di
lingkungan perkantoran
PPPTMGB LEMIGAS
dilakukan pemeriksaan sesuai
dengan Dokumen Pengelolaan
dan Pemantauan Lingkungan

(Prosedur P.16, No. 6.2.5.1,
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)
Setiap penanggung jawab jenis
kegiatan wajib memenuhi
ketentuan sebagaimana berikut :
a. membuat cerobong emisi
yang dilengkapi dengan sarana
pendukung dan alat pengaman;
b. memasang alat ukur
pemantauan yang melitputi
kadar dan laju alir volume
untuk setiap cerobong emisi
yang tersedia serta alat ukur
arah dan kecepatan angin;
c. melakukan pencatatan harian
hasil emisi yang dikeluarkan
dari setiap cerobong emisi;
65 65 75
2. Penanganan emisi pada
ketiga kelompok
tersebut sebagian besar
sama, yaitu dengan
menggunakan lemari
asam pada saat
melakukan analisis. Gas
hasil lemari asam
dibuang langsung ke
udara. Untuk
mengendalikan sistem
ventilasi di laboratorium
Pengendalian pencemaran
Udara dalam ruangan akibat
debu atau paparan uap/asap
bahan exhaust fan dan
pengukuran konsentrasi
polutan-polutan yang relevan
sesuai dengan Dokumen
Pengelolaan dan Pemantauan
Lingkungan



- 75 75 75
113
No Pengelolaan
Limbah di lapangan
Dokumen SMLK3
LEMIGAS / Klausul ISO
14001 : 2004
Kep. 13 MenLH/3/95 tentang
Kualitas Udara Emisi
Cerobong
Kelompok
Analitik dan
kimia terapan
Kelompok
Teknologi
Separasi
Kelompok
Bioteknologi
Nilai Nilai Nilai
digunakan pemasangan
AC dan juga exhause.
(Prosedur P.16, No. 6.2.5.2,
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)

3 Debu yang ditimbulkan
dalam kegiatan
penyimpanan arsip atau
barang di gudang harus
dilakukan pemeriksaan
setiap enam bulan sekali
oleh Komite LK3 dan
satu tahun sekali oleh
PJK3, sesuai dengan
peraturan pemerintah
yang dalam hal ini
dilakukan oleh pihak
eksternal dalam setahun
sekali. dan tidak
dilakukan pengukuran
dari pihak internal.
Dikarenakan kurangnya
alat yang dapat
digunakan untuk
pengukuran
Debu yang ditimbulkan dalam
kegiatan penyimpanan arsip
atau barang di gudang harus
dilakukan pemeriksaan setiap
enam bulan sekali oleh
Komite LK3 dan satu tahun
sekali oleh PJK3, sesuai
dengan peraturan pemerintah

(Prosedur P.16, No. 6.2.5.3
terkait dengan klausul ISO
14001 : 2004 butir 4.4.6)
- 69 69 69
Total 209 209 219

114
209 209
219
204
206
208
210
212
214
216
218
220
kelompok KPRT proses
analitik dan
kimia terapan
teknologi
Separasi
Bioteknologi
*Keterangan Nilai:
50-59 = kurang sesuai dilaksanakan, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
60-69 = Cukup sesuai dilaksanakan, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
70-79 = prosedur yang dilaksanakan sudah baik dan sesuai , ibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah yang ada
80-100 = Prosedur yang dilaksanakan sudah sangat baik dan sesuai, dibandingkan dengan prosedur dan ketentuan pemerintah
yang ada

Diagram 4.9
Skoring Pencapaian dalam Prosedur Penanganan Limbah Emisi yang dilakukan tiap Kelompok KPRT Proses
Tahun 2011




115
Berdasarkan hasil scoring yang dilakukan terhadap pemenuhan prosedur
penanganan limbah emisi pada tiap kelompok yaitu kelompok analitik dan kimia
terapan, kelompok teknologi Separasi dan Bioteknologi, didapatkan nilai skor
pemenuhan bagi kelompok analitik dan kimia terapan dan Teknologi Separasi adalah
209, sedangkan pada kelompok bioteknologi didapatkan nilai 219 dari nilai total 300
jika prosedur dijalankan dengan baik dan sesuai dengan standar yang ada. Sehingga,
dapat dikatakan untuk kelompok yang menerapkan prosedur lebih baik dan mendekati
standar yang ada pada penanganan limbah emisi adalah pada kelompok Bioteknologi..
Berikut akan dijelaskan mengenai pemberian nilai terhadap kelompok-kelompok yang
ada sesuai dengan item-item prosedur yang ada.
Berdasarkan hasil pengamatan yang dilakukan terhadap penanganan limbah Emisi
1. Pada prosedur emisi meliputi emisi cerobong yang ada di lingkungan
perkantoran PPPTMGB LEMIGAS dilakukan pemriksaan sesuai dengan
Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan. Penanganan yang
dilakukan pada kelompok analitik dan kimia terapan dan kelompok pada
laboratorium teknologi separasi memiliki cara yang sama, yaitu sudah memiliki
emisi cerobong, karena disini banyak digunakan bahan B3. sehingga diberikan
skor yang sama ditiap kelompoknya. Sedangkan terdapat sedikit perbedaan
dalam penanganan limbah emisi pada kelompok Bioteknologi. Disini digunakan
lemari asam yang dapat mengendalikan hasil buangannya tanpa dihubungkan
dengan cerobong. Karena lemari asam tersebut digunakan untuk pekerjaan yang
mengandung mikrobiologi. Sehingga lemari asam yang dihubungkan ke
cerobong sudah tidak ada lagi di kelompok ini. Hal inilah yang membuat penulis


116
memberikan nilai lebih bagi kelompok ini dimana penanganan pada emisi yang
dilakukan sudah cukup baik.
2. Pada prosedur engendalian pencemaran Udara dalam ruangan akibat debu atau
paparan uap/asap bahan exhaust fan dan pengukuran konsentrasi polutan-polutan
yang relevan sesuai dengan Dokumen Pengelolaan dan Pemantauan Lingkungan.
Penanganan emisi pada ketiga kelompok tersebut sebagian besar sama, yaitu
dengan menggunakan lemari asam pada saat melakukan analisis. Gas hasil
lemari asam dibuang langsung ke udara. Untuk mengendalikan sistem ventilasi
di laboratorium digunakan pemasangan AC dan juga exhause. Exhause terlihat
ada sebagian yang rusak dan sebagian juga sudah diganti dengan yang baru.
(gambar 4.17). Sehingga pengendalian emisi dengan exhause fan, karena semua
kelompok sudah memiliki sehingga diberi nilai yang sama.
Gambar 4.12
Lemari asam dan exhause KPRT Proses
Tahun 2011

Sumber : pengamatan lapangan oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
3. Debu yang ditimbulkan dalam kegiatan penyimpanan arsip atau barang di
gudang harus dilakukan pemeriksaan setiap enam bulan sekali oleh Komite LK3


117
69.6
69.6
73
Analitik dan
Kimia terapan
teknologi
Separasi
Bioteknologi
dan satu tahun sekali oleh PJK3, sesuai dengan peraturan pemerintah.
Berdasarkan hasil pengamatan lapangan dan wawancara dengan pekerja,
pengukuran terhadap kualitas udara dilakukan sebanyak 1 kali dalam setahun dan
baru dilaksanakan oleh pihak eksternal. Sebaiknya diusahakan juga agar dapat
dilakukan pengukuran yang dilaksanakan oleh pihak dari internal lemigas
tersendiri. Dengan pengadaan alat-alat dan penambahan skill pegawai. Walaupun
hasil pengukuran yang dilakukan oleh pihak eksternal selalu menunjukkan hasil
yang tidak melewati baku mutu, ada baiknya pengukuran internal juga dilakukan
seperti yang ditulis dalam prosedur pengendalian limbah SMLK3 Lemigas. Agar
hasil yang didapatkan mengenai pencemaran gas dapat lebih valid. Pasalnya
pencemaran udara merupakan hal yang harus sangat diperhatikan. Terlebih lagi
perusahaan ini menggunakan Bahan B3 dalam sebagian besar pekerjaannya. Hal
inilah yang membuat penulis memberikan skor 69 karena tidak adanya
pengukuran yang dilakukan secara internal.
Diagram 4.10
Pencapaian prosedur penanganan limbah emisi yang dilakukan tiap Kelompok
Laboratorium KPRT Proses
tahun 2011
(dalam Persentase)







118
Kelompok Bioteknologi memegang presentase terbesar yaitu 73% dari 100%
dalam pencapaian pelaksanaan prosedur penanganan limbah emisi yang dilakukan.
Kemudian kelompok analitik dan kimia terapan dan kelompok teknologi separasi
mempunyai presentasi dalam penanganan limbah emisi yaitu sebesar 69,6% dalam
pencapaian prosedur pelaksanaan penanganan limbah emisi yang dilakukan. Sehingga
dengan adanya penilaian ini diharapkan dapat membuat masing-masing kelompok
melengkapi kekurangan yang ada dalam rangka pencapain prosedur penanganan limbah
emisi agar tercipta tempat kerja yang aman dan sehat bagi pekerja serta terhindar dari
bahaya yang dapat dihasilkan dari limbah yang ada apabila limbah tersebut tidak
ditangani dengan baik.

4.6.1 Pengukuran cerobong Lemari Asam
Untuk mengetahui apakah prosedur terhadap penanganan limbah sudah baik
dilakukan, PPPTMGB Lemigas melakukan pengecekan terhadap kualitas emisi dari
KPRT Proses. Dimana pengukuran ini tidak dilakukan oleh pihak internal, tetapi dilakukan
oleh pihak eksternal dimana setelah diambil sampel oleh pihak eksternal dan selanjutnya
dianalisis dilaboratorium dibandingkan dengan Kep. 13 MenLH/3/95 tentang Kualitas
Udara Emisi Cerobong. Adapun Hasil pengukuran yang dilakukan terhadap emisi di
KPRT Proses dapat dilihat dalam lampiran 4.
Berdasarkan hasil analisis parameter emisi yang merupakan hasil pengukuran pada
cerobong Lemari Asam Laboratorium Elementer sudah sesuai dan dibawah baku mutu yang
ditetapkan berdasarkan Kep. 13 MenLH/3/95 tentang Kualitas Udara Emisi Cerobong.
Akan tetapi pada hasil pengukuran terhadap suhu ruangan, terlihat hasil pengukuran


119
sebesar 38C, tentunya hal ini sudah terlalu melebihi suhu normal ruangan yaitu sebesar
25C. sehingga ada baiknya hal ini perlu segera dilakukan pengecekan ruangan,
mengapa suhu ruangan laboratorium tersebut bisa sampai sebesar 38 C.
Adapun untuk hasil pengukuran pada emisi cerobong tidak dilakukan pada tahun
2010, dikarenakan lemari asam yang biasa digunakan untuk proses, sedang rusak.
Sehingga tidak dihasilkan emisi dari cerobong yang ada.

4.6.2 Hasil pengukuran Udara Lingkungan Kerja KPRT Proses
Pengukuran emisi Udara Lingkungan dilakukan setahun sekali oleh pihak
ekstenal. Kecuali pada kelompok Bioteknologi, pada kelompok ini dilakukan juga
pengukuran udara yang dilaksanakan oleh pihak intenal dengan melihat perhitungan
jumlah koloni yang tumbuh (lampiran 5). Pengukuran emisi udara lingkungan penting
untuk dilakukan. Karena dengan mengetahui emisi Udara lingkungan yang ada, dapat
dilakukan penilaian terhadap prosedur penanganan limbah yang telah dilakukan sudah
sesuai atau belum.
Adapun untuk hasil Pengukuran Udara Lingkungan Kerja dapat dilihat dalam lampiran
4. Berdasarkan hasil pengukuran Udara Lingkungan Kerja KPRT Proses yang dilakukan
oleh pihak eksternal ini didapatkan hasil yang sudah sesuai dan dibawah baku mutu yang
diteapkan berdasarkan Surat Edaran Menteri Tenaga Kerja No. SE-01/MEN/1997.
tentang Nilai Ambang Batas Factor Kimia Di Udara Lingkungan Kerja.
Walaupun hasil pengukuran yang dilakukan oleh pihak eksternal selalu
menunjukkan hasil yang tidak melewati baku mutu, ada baiknya pengukuran internal
juga dilakukan seperti yang ditulis dalam prosedur pengendalian limbah SMLK3


120
Lemigas. Agar hasil yang didapatkan mengenai pencemaran gas dapat lebih valid.
Pasalnya pencemaran udara merupakan hal yang harus sangat diperhatikan. Terlebih lagi
perusahaan ini menggunakan Bahan B3 dalam sebagian besar pekerjaannya.

4.7 Gudang penyimpanan Limbah KPRT Proses
Adapun untuk gudang penyimpanan limbah yang ada sudah kedap air sesuai
dengan ketentuan PPRI No. 18/99 jo PPRI No. 85/99 dan keputusan kepala Bapedal No.
1/BAPEDAL/09/95 untuk menyimpan limbah-limbah yang ada sebelum ke perusahaan
pengumpul limbah yangg mempunyai izin dari Mentri Lingkungan hidup.
Gudang limbah ini jika dilihat, limbah-limbah yang disimpan didalamnya sangat
tidak rapi. Rak-rak yang sudah disediakan justru tidak digunakan untuk menyimpan
limbah-limbah yang ada. Hal ini tentunya harus diberikan perhatian khusus untuk
merapikan gudang penyimpanan limbah yang ada. Karena penyimpanan limbah yang
tidak rapi dikhawatirkan akan menimbulkan masalah yang tidak diinginkan. Seperti
kemungkinan terjadinya kerusakan wadah limbah yang dapat menimbulkan kebocoran
dan bau limbah.
Sehingga, setelah diadakan rapat evaluasi Komite LK3, dari hasil dari rapat tersebut
yang membahas masalah gudang ini, pun akhirnya diperbaiki dalam 2 minggu.


121
0
1 0
2 0
3 0
4 0
5 0
6 0
7 0
8 0
9 0
C a i r
B 3
C a i r
n o n
B 3
P a d a t
B 3
P a d a t
N o n
B 3
E m i s i
A n a l i t i k d a n k i m i a
t e r a p a n
T e k n o l o g i
S e p a r a s i
B i o t e k n o l o g i
Gambar 4.13
Gudang penyimpanan Limbah KPRT Proses
Tahun 2011




Sumber : pengamatan lapangan. oleh Nur Najmi Laila, Februari 2011
4.8 Gambaran perbandingan hasil dari nilai prosedur penanganan terhadap jenis
limbah yang ada.
LimbahBerdasarkan prosedur yang dijalankan terhadap limbah cair dan padat
B3, limbah cair dan padat non B3 serta emisi dari tiap-tiap kelompok yang ada, akan
dapat dilihat dalam grafik, tentang kelompok manakah yang paling tinggi presentasenya
terhadap pekerja yang menjalankan prosedur penanganan yang ada dengan baik, yang
akan ditunjukkan pada grafik berikut :
Diagram 4.11
Perbandingan persentase penanganan limbah antara kelompok KPRT Proses
tahun 2011
(dalam persentase)







122
Jika dilihat, perbadingan persentase antara ketiga kelompok yang ada terhadap
pemenuhan pelaksanaan prosedur penanganan limbah yang ada hanya sedikit perbedaan
nilai yang ditunjukkan. Kemudian jika nilai tingkat presentase yang ada dari
pelaksanaan penanganan dari lima jenis yang ada dirata-ratakan, jumlah presentase yang
didapat kelompok analitik dan kimia terapan adalah 76,42 %, kemudian kelompok
teknologi separasi adalah 75,76 % dan kemudian Kelompok Bioteknologi sebesar
78,24% tingkat pemenuhan pelaksanaan prosedur penanganan limbah yang telah
dilaksanakan. Memang sedikit jarak antara nilai persentase yang ada. karena memang
karakteristik gedung yang sama dapat saja memperngaruhi hasil ini dan juga karena ada
pada beberapa penanganan limbah yang ditangani langsung oleh Komite LK3 Lemigas
secara terpusat. Hal inilah yang memungkinkan nilai yang ada tidak terlalu jauh berbeda.
Sehingga dengan adanya gambaran mengenai tingkat prosedur penanganan
limbah yang telah dilakukan, diharapkan laporan ini dapat menjadi pertimbangan
Komite LK3 untuk mengevaluasi penanganan limbah yang ada di ketiga kelompok ini.
Agar penanganan limbah yang telah dilakukan dapat lebih maksimal dan lebih baik dari
yang sebelumnya.


123
76.42
75.76
78.24
74.5
75
75.5
76
76.5
77
77.5
78
78.5
persentase perbandingan
Analitik dan Kimia
Terapan
Teknologi
Separasi
Bioteknologi
Diagram 4.12
Perbandingan tingkat presentase keseluruhan pelaksanaan penanganan
limbah kelompok KPRT Proses tahun 2011
(dalam persentase)






Berdasarkan Hasil persentase Keseluruhan pelaksanaan penanganan limbah kelompok
yang ada di KPRT Proses, hal ini sudah mencapai target tujuan dan sasaran komite LK3
dalam mencegah terjadinya pencemaran lingkungan yaitu :
- Memastikan pengendalian limbah labratorium memenuhi peraturan yang berlaku
sebanyak 50%.
- Memastikan pengendalian limbah domestik mematuhi peraturan yang berlaku
sebanyak 50%.
- Memastikan pengendalian limbah udara memenuhi peraturan yang berlaku
sebanyak 50%.


124
BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan
7. Adapun jenis dan karakteristik limbah yang terdapat di KPRT Proses PPPTMGB
LEMIGAS adalah Limbah cair non B3 seperti air sisa pencucian alat-alat
analisis, limbah cair B3, limbah padat B3, limbah padat non B3 serta emisi yang
berasal dari lemari asam. Adapun jenis limbah yang terdapat di KPRT Proses
PPPTMGB LEMIGAS adalah Limbah cair non B3 seperti air sisa pencucian
alat-alat analisis, limbah cair B3, limbah padat B3, limbah padat non B3 serta
emisi yang berasal dari lemari asam. Jenis limbah sebagian besar berbentuk
crude oil. Sedangkan untuk karateristik limbah B3 bersifat mudah terbakar dan
menguap.
8. Untuk prosedur mengenai penanganan limbah cair, penanganan limbah cair B3
dilakukan dengan menampung limbah sesuai jenisnya ke dalam jerigen khusus
yang telah dilabeli, kemudian disimpan didalam gudang penyimpanan limbah
sementara selama 6 bulan, untuk kemudian diserahkan kepada pihak ketiga
seperti PPLI.
Untuk Prosedur terhadap penanganan limbah cair non B3 seperti air sisa
pencucian alat-alat analisis dilakukan dengan cara setelah melakukan analisis,
alat yang ada dicuci dahulu dengan fraksi. Kemudian fraksi tersebut dimasukkan
kedalam jerigen khusus. Lalu setelah itu alat-alat dicuci lagi dengan air dan
sabun kemudian sisa air pencucian analisis tersebut dialirkan melalui wastafel


125
untuk kemudian ditampung dalam bak kontrol yang tersedia. Kemudian
dilakukan pengolahan dengan menggunakan IPAL KPRT Proses.
4. Untuk prosedur penanganan Limbah Padat B3 seperti kain majun yang
mengandung B3 masih menggunakan wadah seperti kardus yang terbuka. Tidak
menggunakan wadah atau drum khusus yang tertutup untuk limbah padat B3 ini.
Adapun untuk penanganannya diserahkan kepada pihak ketiga seperti PPLI.
5. Untuk prosedur penanganan limbah padat non B3 dilakukan pemisahan antara
sampah organik dan non organik yang dimana pada penanganannya sampah
organik tidak lagi dibakar di tungku pembakar, akan tetapi hanya di timbun di
area penampungan sampah organik. Walaupun sebagian sampah ada juga yang
diangkut oleh pihak ketiga juga seperti Dinas Kebersihan DKI jakarta.
6. Untuk prosedur penanganan limbah emisi dilakukan dengan menggunakan
lemari asam dan local exhause.
5.2 Saran
1. Memastikan semua petugas laboratorium memahami cara pengendalian limbah
yang benar sesuai dengan prosedur yang telah ditetapkan.
2. Memastikan semua petugas Laboratorium menggunakan APD yang sesuai dan
lengkap saat bekerja dan begitu juga saat penanganan Limbah yang ada demi
keselamatan dan kesehatan para pekerja.
3. Memperbaiki terus menerus penyimpanan limbah sementara di gudang Limbah
dengan baik dan teratur dan tidak menyimpan limbah yang ada terlalu lama tidak
lebih dari 90 hari atau bahkan lebih dari 6 bulan. Minimal 2 kali dalam setahun
sudah diberikan kepada pihak pengumpul limbah cair B3 dan padat B3.


126
4. Memperbaiki wadah untuk limbah padat B3 seperti majun yang ada dengan drum
khusus yang tertutup, agar paparan yang dimungkinkan muncul dari limbah
padat B3 yang ada dapat diminimalisir. Atau jika dimungkinkan limbah padat B3
yang ada seperti majun tersebut dapat dilakukan penanganannya dengan
menggunakan insenerator.
5. Memperbaiki proses penanganan limbah padat non B3 organik seperti dengan
cara memperbaiki tungku pembakar agar asap yang dihasilkan tidak lagi
menganggu, pengolahan dengan bakteri untuk dijadikan kompos, atau dengan
lahan urukan seperti sanitary landfill. Atau tetap dilakukan pembakaran dengan
insenerator jika memungkinkan.
6. Meningkatkan pemantauan IPAL secara berkala sesuai dengan prosedur yang
sudah ada.
7. Perlunya dilakukan pemantauan berkala uji kualitas limbah air dan emisi yang
ada, yang dilakukan minimal 2 kali dalam setahun oleh internal dari Lemigas
sendiri dengan jika dimungkinkan dapat dilakukan pengadaan alat ukur serta
pelatihan terhadap skill pegawai untuk melakukan pengukuran tersebut.
8. Memastikan pengawasan terhadap lemari asam di seluruh laboratorium agar
berfungsi dengan baik.



127
DAFTAR PUSTAKA
Komite LK3 PPPTMGB LEMIGAS. 2010. Dokumen Identifikasi Aspek Bahaya
BLM 7 KPRT Proses.
Indrasti, N dan Fauzi, A. 2009. Produksi Bersih. Bogor; IPB Press
Komite LK3 PPPTMGB LEMIGAS. 2008. Dokumen Sistem Manajemen
Lingkungan, Keselamatan dan Kesehatan Kerja (SMLK3).
Damayanti, Ruth. 2008. Sistem Pengolahan Limbah Cair, Padat dan Gas di Bagian
Eksplorasi Produksi (EP)-I Pertamina Pangkalan Susu. USU Repository.
Himpunan Mahasiswa Teknik Lingkungan (HMTL) UPN V Yogyakarta. 2008.
Pengertian Limbah. http://hmtlupnv.blogspot.com/. Diakses tanggal 15 Maret
2011.
Kementrian Negara Lingkungan Hidup, KepmenLH No. 04/MENLH/2007, Tentang
Baku Mutu Air Limbah Bagi Usaha Dan/Atau Kegiatan Minyak dan Gas Serta
Panas Bumi. Kementrian Lingkungan Hidup, Jakarta
Lubis, Rany Apryyanti. 2007. Model Perubahan Kualitas Air Sungai di Daerah Aliran
Sungai ( DAS) Ciliwung. Fakultas Teknik Pertanian IPB, Bogor
Prijambada dan Jaka Widada, 2006. Mitigasi dan bioremediasi lahan tambang
minyak. UGM Press Lab. Mikrobiologi Tanah dan Lingkungan. Fakultas
Pertanian Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta
Wardhana, Wisnu Arya, 2004. Dampak Pencemaran Lingkungan. Andi, Yogyakarta.
Pramudyanto, Bambang, 2003. Pemeriksaan Industri dalam Pengendalian
Pencemaran. Agung, Semarang.


128
International Agency for Research on cancer (IARC) kelas 1. 2003. Tentang Bahan
yang terdaftar sebagai mutagen atau karsinogen pada manusia dan hewan.
IARC.
Soeparman, Suparmin, 2002. Pembuangan Tinja dan Limbah Cair. Buku Kedokteran
EGC, Jakarta.
Kristanto, Philip, 2002. Ekologi Industri. Andi, Yogyakarta.
Darmono, 2001. Lingkungan Hidup dan Pencemaran : Hubungannya dengan
Toksikologi Senyawa Logam. UI Press, Jakarta.
Sunu, Pramudya, 2001. Melindungi Lingkungan dengan Menerapkan ISO 14001. PT
Grasindo, Jakarta.
Slamet, Juli Soemirat, 2000. Kesehatan Lingkungan. Gajahmada University,
Yogyakarta
Depkes Republik Indonesia, 1999. Penanganan Limbah Bahan Berbahaya dan
Beracun (B3). Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Sanitasi Pusat,
Jakarta.
Depkes Republik Indonesia, 1999. Peraturan Pemerintah republik Indonesia
No.18/1999, Tentang Pengelolaan Limbah Bahan berbahaya dan Beracun,
Jakarta.
Rustama et al; 1998. Kelestarian Alam. Jakarta: Departemen Lingkungan Hidup
Sastrawijaya, Tresna. 1997. Pencemaran Lingkungan. Rineka Cipta, Jakarta. Badan
Pengendalian
Kusnoputranto, H. 1997. Air Limbah dan Ekskreta Manusia : Aspek Kesehatan
Masyarakat dan pengelolaannya. Jakarta : Dirjen Dikti Depdikbud;


129
BBLH Setwidasu. 1997. UU No. 23 Tahun 1997, tentang ketentuan-ketentuan pokok
pengelolaan lingkungan hidup pada Bab V pasal 16, ayat 1. BBLH Sekretaris
wilayah daerah Sumatera Utara.
Kementrian Negara Lingkungan Hidup, KepmeLH No.50 tahun 1996 tentang baku
tingkat kebauan. Kementrian Lingkungan Hidup, Jakarta.
Kantor Pengkajian Perkotaan dan Lingkungan (KPPL). Keputusan Gubernur
Kepala Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta Nomor : 582 Tahun 1995 tentang
Penetapan Peruntukan dan Baku Mutu Air Sungai/ badan Air serta Baku Mutu
Limbah Cair di wilayah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta : KPPL; 1995.
Pandia, Setyati et all, 1995. Kimia Lingkungan. Direktorat Jendral Pendidikan Tinggi,
Depdikbud, Jakarta
Gintings, Perdana 1992. Mencegah dan Mengendalikan Pencemaran Industri. Pustaka
Sinar Harapan, Jakarta.
Metcalf and Eddy Inc. 1991. Wastewater Enginering: Treatment, Disposal and Reuse.
3
rd
ed. McGraws Hill, Singapore.
UNEP dan UNIDO. 1991. Audit and Reduction Manual for Industrial Emission and
Wastes Technical Report No 7 UNEP, Paris ISBN 92-807-1303-5
Soedjono, 1991. Pedoman Bidang Studi Pengawasan Pencemaran Lingkungan Fisik.
Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga Sanitasi Pusat, Jakarta.
Djajadiningrat, Surna T. dan Harsono, H. 1990. Penilaian Secara Tepat Sumber-
sumber Pencemaran Air, Tanah, dan Udara. Yogyakarta; Gadjah Mada
University Press.


130
Djabu, Udin dkk, 1990. Pedoman Bidang Studi Pembuangan Tinja dan Air Limbah.
Pusdiknakes Depkes RI., Jakarta.
Depkes RI, 1987. Pembuangan Sampah. Proyek Pengembangan Pendidikan Tenaga
Sanitasi Pusat, Jakarta.
Kusnoputranto, Haryoto, 1985. Kesehatan Lingkungan. FKM UI, Jakarta.