Anda di halaman 1dari 11

CONTOH MAKALAH KEWENANGAN PEMERINTAH

DAERAH DAN PENGARUH BAGI LINGKUNGAN


Posted by : sopriadi AHMAD Kamis, 21 Maret 2013



Kata Pengantar

Syukur alhamdulillah, merupakan satu kata yang sangat pantas penulis ucakan kepada Allah
STW, yang karena bimbingannyalah maka penulis bisa menyelesaikan sebuah Makalah berjudul
"Patologi Birokrasi, Korupsi"
Makalah ini dibuat dengan berbagai observasi dalam jangka waktu tertentu sehingga
menghasilkan karya yang bisa dipertanggungjawabkan hasilnya. Saya mengucapkan terimakasih
kepada pihak terkait yang telah membantu saya dalam menghadapi berbagai tantangan dalam
penyusunan makalah ini.
Saya menyadari bahwa masih sangat banyak kekurangan yang mendasar pada makalah ini. Oleh
karna itu saya mengundang pembaca untuk memberikan kritik dan saran yang bersifat
membangun untuk kemajuan ilmu pengetahuan ini.
Terima kasih, dan semoga makalah ini bisa memberikan sumbangsih positif bagi kita semua


Pekanbaru 15 maret
2013
Penulis



BAB I
Pendahuluan
I. Latar Belakang
Dalam era otonomi daerah sesuai dengan ketentuan dalam UU No 22 Tentang Pemerintahan
Daerah, maka kewenangan daerah akan sedemikian kuat dan luas sehingga diperlukan suatu
peraturan perundang-undangan yang ketat untuk menghindari ketidakteraturan dalam menyusun
kebijakan dalam bidang lingkungan hidup terutama dalam masalah penanganan penegakan
hukum lingkungan dalam era otonomi daerah.
Kewenangan pemerintah Daerah menurut UU No 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
sangatlah besar sehingga tuntutan untuk meningkatkan kinerja dan penerapan kebijakan dalam
bidang lingkungan hidup sangatlah dibutuhkan.
Sistem Pemerintahan Daerah otonom sebelum UU No 22 tahun 1999 terbagi dalam Sistem
Pemerintahan Administratif dan Otonomi. dalam Sistem Pemerintahan Administratif Pemerintah
Daerah berperan sebagai pembantu dari penyelenggaraan pemerintah pusat yang dikenal sebagai
azas dekosentrasi dalam UU No 54 tahun 1970 tentang Pemerintah Daerah, hal ini diaplikasikan
dalam Pemerintahan Daerah Tingkat I dan Pemerintahan Daerah tingkat II.
Sedangkan dalam Sistem Pemerintahan Otonomi Pemerintahan Daerah adalah mandiri dalam
menjalankan urusan rumah tanganya. Pemerintahan Daerah memerlukan alat-alat
perlengkapannya sendiri sebagai pegawai/pejabat pejabat daerah dan bukan pegawai/pejabat
pusat. Memberikan wewenang untuk menyelenggarakan rumah tangga sendiri berarti pula
membiarkan bagi daerah untuk berinisiatif sendiri dan untuk merealisir itu, daerah memerlukan
sumber keuangan sendiri dan pendapatan-pendapatan yang diperoleh dari sumber keuangan
sendiri memerlukan pengaturan yang tegas agar di kemudian hari tidak terjadi perselisihan antara
pusat dan daerah mengenai hal hal tersebut diatas. Tetapi dalam UU No 22 tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah maka terjadi perubahan besar dalam kewenangan Pemerintahan Daerah.
Pengelolaan lingkungan hidup sangatlah penting untuk dilihat dalam era otonomi daerah
sekarang ini karena lingkungan hidup sudah menjadi isu internasional yang mempengaruhi
perekonomian suatu negara.
Pemerintahan Daerah diberikan kekuasaan yang sangat besar dalam mengelola daerahnya
terutama sekali Pemerintahan Kota atau Kabupaten. Dalam makalah ini akan dibahas masalah
lingkungan hidup di era otonomi daerah dan bagaimana Kewenangan daerah terhadap
lingkungan hidup juga akibat kewenangan yang besar tersebut.
II. Pokok Permasalahan
1. Bagaimana Kewenangan Pemerintah Daerah?
2. Dampak dari Kewenangan tersebut terhadap lingkungan hidup?




BAB II
PEMBAHASAN
Kewenangan Pemerintah Daerah
I. Pengertian Pemerintah Daerah
Definisi Pemerintahan Daerah (Pasal 1 angka 2 UU Nomor 32 Tahun 2004):
Penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh pemerintah daerah dan DPRD menurut asas
otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya dalam sistem dan prinsip
Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam UUD 1945.
Definisi Pemerintah Daerah (Pasal 1 angka 3 UU Nomor 32 Tahun 2004):
Gubernur, Bupati, atau Walikota, dan perangkat daerah sebagai unsur penyelenggara
pemerintahan daerah.
Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah dan
DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya
dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
UUD 1945.
II. Kewenangan Pemerintah Daerah
Kewenangan pemerintahan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. menurut pasal 13
undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, urusan wajib yang menjadi
kewenangan pemerintah daerah provinsi adalah urusan dalam skala provinsi yang meliputi :
(1) perencanaan dan pengendalian pembangunan;
(2) perencanaan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang;
(3) penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
(4) penyediaan sarana dan prasarana umum;
(5) penanganan di bidang kesehatan;
(6) penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial;
(7) penanggulangan masalah sosial lalu litas kabupaten/kota;
(8) pelayanan bidang ketenagakerjaan lintas kabupaten/kota;
(9) fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah termasuk lintas kabupaten/kota;
(10) pengendalian lingkungan hidup;
(11) pelayanan pertanahan termasuk lintas batas kabupaten/kota;
(12) pelayanan kependudukan dan catatan sipil;
(13) pelayanan administrasi umum pemerintahan;
(14) pelayanan administrasi penanaman modal termasuk lintas kabupaten/kota;
(15) penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya yang belum dapat dilaksanakan oleh
kabupaten/kota; dan
(16) urusan wajib lainnya yang dimanfaatkan oleh peraturan perundang-undangan.

sedangkan urusan wajib yang menjadi kewenangan pemerintah daerah kabupaten/kota adalah
urusan yang berskala kabupaten/kota meliputi :
(1) perencanaan dan pengendalian pembangunan;
(2) perencanan, pemanfaatan dan pengawasan tata ruang;
(3) penyelenggaraan ketertiban umum dan ketenteraman masyarakat;
(4) penyediaan sarana dan prasarana umum;
(5) penanganan di bidang kesehatan;
(6) penyelenggaraan pendidikan dan alokasi sumber daya manusia potensial;
(7) penanggulangan masalah sosial;
(8) pelayanan bidang ketenagakerjaan;
(9) fasilitas pengembangan koperasi, usaha kecil dan menengah;
(10) pengendalian lingkungan hidup;
(11) pelayanan pertanahan;
(12) pelayanan kependudukan dan catatan sipil;
(13) pelayanan administrasi umum pemerintahan;
(14) pelayanan administrasi penanaman modal;
(15) penyelenggaraan pelayanan dasar lainnya; dan
(16) urusan wajib lainnya yang diamanatkan oleh peraturan perundang-undangan.
urusan wajib di atas, seperti halnya urusan wajib, termasuk di dalamnya pelayanan administrasi
umum pemerintahan. kemudian urusan pemerintahan kabupaten/kota yang bersifat pilihan
meliputi urusan pemerintahan yang secara nyata ada dan berpotensi untuk meningkatkan
kesejahteraan masyarakat sesuai dengan kondisi, kekhasan dan potensi unggulan daerah yang
bersangkutan.
Pemerintahan Daerah Provinsi terdiri atas Pemerintah Daerah Provinsi dan DPRD Provinsi.
Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota terdiri atas Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota dan
DPRD Kabupaten/Kota.

Kewenangan Propinsi terdiri dari :
I. Kewenangan dalam bidang pemerintahan yang bersifat lintas Kabupaten/Kota;
II. Kewenangan dalam bidang tertentu, seperti perencanaan pengendalian pembangunan
regional secara makro, penentuan baku mutu lingkungan propinsi, yang harus sama atau lebih
ketat dari baku mutu lingkungan nasional, menetapkan pedoman teknis untuk menjamin
keseimbangan lingkungan yang ditetapkan dalam rencana tata ruang propinsi dan sebagainya.
III. Kewenangan dekonsentrasi seperti pembinaan AMDAL untuk usaha atau dan kegiatan di
luar kewenangan pusat.
Kewenangan Kabupaten/Kota terdiri dari :
I. Perencanaan pengelolaan lingkungan hidup;
II. Pengendalian pengelolaan lingkungan hidup;
III. Pemantauan dan evaluasi kualitas lingkungan;
IV. Konservasi seperti pelaksanaan pengelolaan kawasan lindung dan konservasi, rehabilitasi
lahan dsb.
V. Penegakan hukum lingkungan hidup
VI. Pengembangan SDM pengelolaan lingkungan hidup.
III. Pelaksanaan Kewenangan Pemerintah Daerah dalam melakukan pengelolaan lingkungan
hidup.
Pemerintah Pusat dalam melakukan kewenangannya di bidang pengelolaan lingkungan hidup
harus mengikuti kebijakan yang telah diterapkan oleh Menko Wasbangpan dan Menteri Negara
Lingkungan Hidup. Jangan sampai pengurangan kewenangan pemerintah Pusat di bidang
lingkungan hidup tidak bisa mencegah kesalahan pengelolaan lingkungan hidup demi mengejar
Pemasukan APBD khususnya dalam pos Pendapatan Asli Daerah.
Menurut Menteri Negara Lingkungan Hidup Sonny Keraf, bahwa desentralisasi adalah
mendelegasikan secara bertahap wewenang pemerintah pusat kepada pemda dalam pelaksanaan
pengelolaan sumber daya alam secara selektif. Dalam penerapan desentralisasi itu, menurut
Sonny harus tercakup pula pemeliharaan lingkungan hidup sehingga kualitas ekosistem tetap
terjaga dan lestari. Dengan demikian, kendati desentralisasi ala Indonesia tersebut pada awalnya
merupakan reaksi politik untuk mempertahankan stabilitas dan integritas teritorial, namun
paradigma otonomi demi kesejahteraan masyarakat lokal tetap bisa diwujudkan tanpa merusak
kualitas lingkungan hidup setempat.
Permasalahan yang dihadapi oleh Pemerintah Daerah sekarang adalah Pemerintahan daerah
harus meningkatkan Pendapatan Asli Daerah mereka untuk memenuhi target APBD (Anggaran
Penerimaan dan Belanja Daerah) sehingga jalan termudah untuk memenuhi itu semua adalah
mengeksploitasi kembali lingkungan hidup karena cara tersebut adalah cara yang biasa dilakukan
pemerintah pusat untuk memenuhi APBN, dan cara ini akan terus dilakukan oleh Pemerintah
daerah dengan baik.
Sehingga jika waktu yang lalu pemusatan eksploitasi lingkungan hidup hanya di daerah-daerah
tertentu seperti Daerah Istimewa Aceh, Riau, Irian Jaya/ Papua, Kalimantan dan sebagian
Proponsi di Pulau Jawa maka sekarang semua Pemerintah daerah di Indonesia akan
mengekspoitasi lingkungan hidup sebesar-besarnya untuk memenuhi target APBD untuk daerah-
daerah yang mempunyai sumber kekayaan lingkungan hidup yang besar, sehingga akan dapat
terbayang semua daerah kota dan kabupaten di Indonesia akan melakukan eksploitasi lingkungan
hidup secara besar-besaran.
Kewenangan yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam pengelolaan
lingkungan tidak bisa dijadikan suatu kesempatan untuk mengeksploitasi lingkungan sehingga
lingkungan menjadi rusak dan tidak bisa dipergunakan lagi bagi kelangsungan bangsa ini dan hal
ini dilakukan hanya untuk mengejar Anggaran dan Pendapatan dan Belanja Daerah sehingga
hanya untuk hal yang jangka pendek investasi jangka panjang dikuras habis.
Jika dilihat Kewenangan Pemerintah Pusat juga besar dalam hal ini sehingga perlu diberdayakan
peran pemerintah dalam pengelolaan lingkungan dan juga fungsi dari pemerintah sebagai suatu
instansi pengawas jika terjadi pengelolaan lingkungan yang tidak baik pad pemerintah daerah.
Dalam hal ini perlu dikaji kembali berbagai kebijakan yang ada pada pemerintah Daerah
sehingga tidak ada kebijkan-kebijakan yang berupa peraturan daerah yang merugikan lingkungan
dan tidak memperhatikan keadaan masyarakat.
Seperti dijelaskan diatas maka kewenangan pemerintah daerah dalam melaksanakan otonomi
daerah sangatlah penting dalam lingkungan hidup. Sehingga jika terjadi berbagai permaslahan
yang timbul pemerintahan pusat harus menanganinya secara baik karena pemrintah pusat masih
mempunyai kewenangan untuk mengadakan berbagi evaluasi kebijakan yang dilakukan oleh
pemerintah daerah sehingga pemerintah daerah dapat menjalankan kewenanganya secara
proporsional dalam bidang pengelolaan lingkungan hidup.







BAB III
PENUTUP
I. Kesimpulan
Pemerintahan Daerah adalah penyelenggaraan urusan pemerintahan oleh Pemerintah Daerah
dan DPRD menurut asas otonomi dan tugas pembantuan dengan prinsip otonomi seluas-luasnya
dalam sistem dan prinsip Negara Kesatuan Republik Indonesia sebagaimana dimaksud dalam
UUD 1945.
Kewenangan pemerintahan daerah terdiri dari urusan wajib dan urusan pilihan. menurut pasal
13 undang-undang nomor 32 tahun 2004 tentang pemerintahan daerah, urusan wajib yang
menjadi kewenangan pemerintah daerah provinsi n Kabupaten.
Kewenangan yang diberikan pemerintah pusat kepada pemerintah daerah dalam pengelolaan
lingkungan tidak bisa dijadikan suatu kesempatan untuk mengeksploitasi lingkungan hidup
hanya di daerah-daerah tertentu seperti Daerah Istimewa Aceh, Riau, Irian Jaya/ Papua,
Kalimantan dan sebagian Proponsi di Pulau Jawa maka sekarang semua Pemerintah daerah di
Indonesia akan mengekspoitasi lingkungan hidup sebesar-besarnya untuk memenuhi target
APBD untuk daerah-daerah yang mempunyai sumber kekayaan lingkungan hidup yang besar,
sehingga akan dapat terbayang semua daerah kota dan kabupaten di Indonesia akan melakukan
eksploitasi lingkungan hidup secara besar-besaran.







DAFTAR PUSTAKA
M. Kusnardi dan Harmaily Ibrahim, Pengantar Hukum Tata Negara Indonesia, Jakarta: Pusat
Studi Hukum Tata Negara FHUI dan CV Sinar Bakti , 1988,h.256
UU NO 22 tahun 1999 tentang Pemerintahan Daerah
Irawan Soejito, Pengawasan Terhadap Peraturan Daerah dan Keputusan Kepala Daerah, Bina
Aksara, Jakarta, 1983