Anda di halaman 1dari 18

BAB I

LOKASI, LINGKUNGAN ALAM, DAN


DEMOGRAFI DAERAH



Pulau Kalimantan Secara Umum

Dalam bahasa setempat, Kalimantan berarti pulau yang memiliki
sungai-sungai besar (kali sungai; mantan besar). Pulau Kalimantan
dikenal juga dengan nama Brunai, Borneo, Tanjung Negara (pada
masa Hindu), dan dengan nama setempat Pulau Bagawan Bawi
Lewu Telo. Pulau ini merupakan pulau terbesar yang dimiliki
Indonesia, luasnya mencapai lima kali luas Pulau Jawa. Kalimantan
dikelilingi laut, di sebelah barat ada Selat Karimata, sebelah timur
Selat Makasar dan Laut Sulawesi, sebelah utara Laut Cina Selatan dan
Sulu, dan sebelah selatan Laut Jawa.
Tanah Kalimantan termasuk formasi tertier yang amat tebal,
yang mulai terbentuk di bawah permukaan laut pada zaman
purbakala. Formasi ini menyebabkan tanah Kalimantan banyak
mengandung batubara dan batu karang di kaki gunung bekas pesisir.
Pada waktu ketinggian permukaan air laut berkurang, formasi tertier
ter-erosi hingga terpotong-potong dan bergelombang menjadikannya
daratan yang terputus-putus dengan bukit-bukit dan sungai-sungai
kecil. Pada umumnya tanah seperti ini kurang subur dan sukar diairi
untuk dijadikan sawah dan hanya berair pada waktu hujan.
Karenanya daerah ini hanya cocok untuk tumbuhan yang hidup di
tanah kering.
Pada tahap selanjutnya formasi tertier di pesisir dan teluk-teluk
lambat laun tertutup dengan formasi kwartier, yaitu formasi yang
lebih muda yang terbentuk dari tanah liat yang sebagian besar
tertutup gambut dari daun-daun yang berguguran. Tanah inilah yang
disukai petani untuk dijadikan sawah bayar atau sawah pasang surut.



Pulau Kalimantan memiliki pulau-pulau kecil, gunung-gunung,
sungai-sungai dan lain-lain. Beberapa pulau yang tercatat: Pulau
Labuhan, Maya, Bunyu, Tarakan, Karimata, Laut, Sebuku, Natuna,
Subi, Serasan, Teberian, Panebangan, Damar, Karayaan, Keramayan,
Nunukan, Sebatik, Bangkudulis, Baru, Tibi, Derawan, Panjang dan
Kakaban.
Pegunungan yang ada di Kalimantan: Pegunungan Kapuas,
Schwaner, Muller, Meratus, dan Madi. Gunung yang tertinggi di
Pulau ini terletak di Kalimantan Utara yaitu Gunung Kinabalu yang
tingginya 4.175 m dan Bukit Raya 2.218 m.
Bukit Raya yang berada di wilayah Indonesia memiliki tiga
puncak, dengan puncak tertinggi yang berada di tengah-tengah,
menurut peta topografi adalah 2.278 m. Orang Eropa pertama yang
mendaki Bukit Raya adalah G.A.F. Molengraaf, yang mencapai
puncaknya pada tanggal 7 Oktober 1894, walau bukan puncak yang
tertinggi.
Baru 30 tahun kemudian, pada tanggal 22-24 Desember 1924
puncak tertinggi Bukit Raya didaki oleh ekspedisi Botanika Jerman-
Belanda dibawah pimpinan Prof. Dr. Hans Winklen. Turut serta
dalam ekspedisi itu antara lain P. Dakkus, seorang Belanda dan dua
orang Indonesia, Rachmat, ahli dari Kebun Raya Bogor dan Entja,
seorang pekerja pada Herbarium di Bogor.

2
Beberapa tanjung yang tercatat di Pulau Kalimantan: Tanjung
Sampan Mangio, Datuk, Baram, Usang, Sambar, Silat (Selatan),
Puting, Layar, Mangkalihat, dan Malatayur.
Teluk yang ada: Teluk Berunai, Balikpapan, Adang, Paitan,
Marudu, St. Lucia, Datuk, Darvel, Kumai, Sekatok, Sampit, Serban,
dan Sebangau.
Sementara sungai-sungai yang tersebar di Kalimantan terdapat
di seluruh bagian Pulau. Di Kalimantan Utara: Sungai Batang Lupar,
Trusan, Krian, Padas, Batang Rayang, Kinabatangan, Kemenah,
Kagibangan, Baram, Segama, Sugut, Kalumpang, Radas, dan
Kalapang.
Di Kalimantan Timur: Sungai Sebuku, Kayan, Sembakung Berau,
Sesayap Karangan, dan Sekatuk Mahakam. Kalimantan Tengah:
Sungai Barito atau Murung dengan anak-anak Sungai Tewe, Murung,
Lahei, Kumai, Arut/Lamandau, Jelai, Kapuas, Kahayan dengan anak-
anak sungai, Sebangau, Katingan atau Mendawai, Mentaya atau
Sampit, dan Pembuang atau Seruyan.
Di Kalimantan Selatan: Sungai Martapura, Aluh-aluh Besar, Batu
Laki, Hantu, Durian, Barito (hanya sampai Kabupaten Barito Kuala),
Kupang, Batu Licin, dan Bahan. Kalimantan Barat: Sungai Kapuas
(Kapuas Bohang), Paloh, Sambas, Sebangkau, Ambawang, Sebakuan,
Melinsan, Mempawah, Landak, Kapuas Kecil, Kawalan, Kayung,
Sengkulu, Simpang, Pawan, Air Hitam Besar, dan Kendawangan.

Keadaan Tanah dan Tumbuh-tumbuhan

Di daerah-daerah pesisir, dimana sungai bermuara lebarnya 1
sampai 2 km, terdapat rawa-rawa yang pada waktu air pasang
tergenang air dan ditimbuni endapan yang terbawa oleh sungai-
sungai. Jika endapan mencapai tebal 1 meter dan tercampur dengan
gambut, tanah itu ditanami dengan tanaman-tanaman yang berakar,
yang suka zat asam yaitu famili nyrtaceae seperti jenis galam,
palmae, rumbia, kemudian keladi air, jenis pisang, kancur-kancur,
kesisap sayur, semangka, ubi jalar dan labu (waluh). Kemudian juga
famili compositae, jenis langsat, petah kemudi, galah motawauk,
famili papiliomacena, jenis sup-supan, kangkung, genjer, bingkai dan
balaran dali, dan famili nyphacacene.
Di pantai dimana tidak ada sungai-sungai bermuara, selain
berbatu karang terdapat tanah kering dan bentuknya bergelombang.
Tumbuh-tumbuhan di tanah kering pesisir ini: famili graminae, jenis
alang-alang, gelagah, telor belalang, telor jarum, paku payung,
kangkung, hutan krokot, wedasan, karmalaha, masisin, keramunting,
sukma, hutan, tambaran-tambaran.
Sementara tanah daratan di belakang pantai dan
bergelombang termasuk bukit yang tingginya sampai 120 m, dimana

3
terdapat kebun buah-buahan, tegalan dan sawah musim hujan
(sawah tadahan). Di daerah ini terdapat (dapat tumbuh) pohon-
pohon nangka, durian, rambutan, duku/langsat, kasturi, keminting,
pisang, pepaya, dan terutama karet.
Di tanah-tanah yang kurang subur karena erosi hanya dapat
tumbuh tanaman jika zat lemas dan fosfor cukup seperti jenis: buntut
tikus, tusuk konde, bayam duri, kerokot hijau, dan kerokot merah,
jukut, maman hutan.
Danau-danau di Kalimantan dipergunakan sebagai tempat
pemeliharaan ikan-ikan, bebek (itik) dan kerbau. Tumbuhan
bydeilla-yerticellata dan diatome sangat subur dan menjadi sumber
makanan ikan. Danau-danau yang terkenal: Danau Meninjau,
Jempang, Melintang, Bulan, Semanjang, Sembuluh, Hampangen,
Kamipang, Madara, Sentarum, dan Luard.
Di tanah datar dan pegunungan dapat diusahakan padi. Jenis-
jenis padi yang digunakan termasuk jenis padi gunung yaitu:
Rantaumudik, Badagai, Lurus Raden, Manjan Delima, Gadis,
Umbang. Beberapa jenis didatangkan dari Bogor.

Hutan

Selain terkenal dengan sungai-sungainya yang lebar (ada yang
200-1500 m) dan dalam serta panjang (300-500 km), Kalimantan
juga terkenal dengan hutannya yang lebat dan sebagian besar belum
pernah diinjak oleh telapak kaki manusia.
Bila naik pesawat terbang di atas Kalimantan, akan nampak
hutan rimba belantara yang luas dan tentunya banyak binatang-
binatang buas sebagai penghuninya seperti macan dahan (hangkuliah
bahasa Dayak), orang hutan (kahiu alas), beruang, landak, ular
sawah, dan buaya.
Sampai sekarang sebagian besar Kalimantan masih terdiri dari
hutan rimba raya dengan kayu-kayunya yang besar-besar, mencapai
lebih dari satu meter garis tengahnya. Hutan ini merupakan salah
satu sumber atau gudang penghasilan dan kemakmuran rakyat dan
negaranya. Hal ini telah diperhatikan dunia luar semenjak jaman
penjajahan Belanda hingga penjajahan Jepang.
Pembukaan Kalimantan sebagai rencana raksasa dimulai dari
Bapak Gubernur Kalimantan Dr. Murdjani. Hal ini merupakan satu
ide yang besar sekali karena hasil hutan Kalimantan bukan hanya
memberikan kemakmuran dan kebahagiaan untuk beratus-ratus ribu
manusia dalam satu atau dua abad saja, tetapi akan memberikan
kemakmuran bagi beribu-ribu juta manusia sampai beratus-ratus
abad.
Hutan Kalimantan yang begitu luas, memiliki hasil alam yang
beragam. Di antaranya: kayu ulin (tabalien, bulin, onglin,

4
eusideroglon, zwageri) yang terkenal dengan nama kayu besi, kayu
damar, kayu lanan, kayu garunggang, kayu tampurau, kayu rangas,
kayu meranti, kayu bangkirai, kayu rasak, kayu palepek, kayu meran
bungkan. Kemudian ada kayu bangalan (agathis) atau pilau yang
dapat dijadikan tripleks, kertas, korek api.
Sementara rotan (uei bahasa Dayak, pekat bahasa Banjar)
banyak dikirim ke luar Kalimantan seperti ke Jawa bahkan ke luar
negeri. Beberapa jenis di antaranya: rotan taman, rotan sigi, irit,
achas, semambu, tantuwu, lilin, belatung, bajungan dan lain-lain.
Beberapa lilin, madu, kulit kayu, bermacam-macam damar dan getah
(karet) melengkapi kekayaan hasil hutan Kalimantan.
Dalam pembagian vegetasi menurut Dr. Schimper, hutan di
Kalimantan masuk ke dalam golongan hutan hujan tropis, yang
dibagi-bagi lagi dalam beberapa formasi: hutan payau, hutan nipah,
hutan rawa, hutan bukit-bukit/belukar/primer, dan hutan gunung.

Iklim

Menurut Dr. A.H. Schmit dan Ir. J.H.A. Ferfuson dalam
verhandelingen no. 42 dari Jawatan Meteorologi dan Geofisika, iklim
di Kalimantan masuk dalam tipe A dan sebagian tipe B.
Tipe A adalah iklim yang mempunyai 12 bulan penghujan dalam
setahun, yaitu bulan yang hujannya lebih dari 100 mm. Sementara
tipe B adalah iklim yang memiliki 10-11 bulan penghujan dalam
setahun dengan 1-2 bulan kemarau.
Sementara menurut Dr. Mohr, iklim di Kalimantan termasuk
tipe I dan IA. Tipe I tidak mempunyai bulan kemarau sementara tipe
IA mempunyai 1-2 bulan kemarau.
Menurut alamnya, iklim dari tipe-tipe di atas ditumbuhi hutan
hujan tropis.

Kalimantan Utara

Daerah Kalimantan Utara sekarang adalah daerah Malaysia
Timur, berbatasan langsung dengan daratan Kalimantan wilayah
Republik Indonesia yaitu daerah Sabah. Kerajaan Brunai berbatas
langsung dengan daerah Kalimantan Timur. Daerah Serawak
1
,
berbatas langsung dengan daerah Kalimantan Barat dan Kalimantan
Timur.
Abad kelima belas negeri Brunai, termasuk semua daerah
Kalimantan Utara dan Serawak yang sekarang, merupakan daerah
Kerajaan Melayu Malaka dan diperintah oleh seorang besar yang

1
Kuching.

5
bergelar Sang Aji. Setelah kerajaan Malaka jatuh, Brunai mendirikan
kerajaan sendiri dan merupakan pusat kebudayaan orang-orang
Melayu dan Solok Islam, di daerah Kalimantan Barat dan Pulau-
pulau Solok. Dari sinilah ajaran Islam menyebar sampai ke
Mindanau. Abad tujuh belas dan delapan belas masehi, kapal-kapal
Portugis dan Spanyol sudah pernah berlabuh di Brunai tapi tidak
dapat menaklukkannya.
2
Setelah tahun 1800 masehi, Inggris sampai di daerah itu dan
mencoba membuka daerah Labuhan atas persetujuan Raja Brunai.
Akan tetapi hal tersebut tidak berlangsung lama dan pada akhirnya
hanya ditinggalkan begitu saja. Pada tahun 1830 masehi, seorang
berkebangsaan Inggris pegawai dari East India Company, bernama
James Brooke, datang ke Brunai dan bersahabat dengan Pangeran
Hasyim yang memerintah negeri Brunai. James Brooke akhirnya
berhasil menjadi Raja Putih dan memerintah di bagian selatan negeri
Brunai yang kemudian daerah kekuasaannya diperluas sampai negeri
Serawak atau Kuching sehingga menjadi daerah naungan Inggris.
Akhirnya tahun 1889, Brunai pun bernaung dibawah kekuasaan
Inggris. Daerah ujung Kalimantan Utara yang disebut British North
Borneo, awalnya dikuasai Raja Brunai, yang kemudian takluk kepada
Sultan Solok
3
. Daerah itu kemudian dibeli oleh British North Borneo
Company dari Sultan Solok dan kemudian menjadi jajahan Inggris.
4

Keadaan Daerah

Keadaan daerah di Kalimantan Utara umumnya sama dengan
keadaan daerah-daerah Kalimantan wilayah Indonesia. Daerah-
daerah pesisir adalah daerah berlumpur/rawa yang pada umumnya
ditumbuhi oleh nipah-nipah. Makin masuk pedalaman, terdapat
tanah-tanah yang berombak dengan pegunungan. Pada umumnya
ketinggian maksimal 2000 meter dengan hutan belantara yang lebat.
Di daerah perbatasan ditemukan daerah pegunungan yang terpotong-
potong dengan lereng-lereng yang curam.
Lalu lintas darat sangat terbatas, dan hanya dijumpai pada daerah
perkotaan. Lalu lintas yang utama adalah di air, dengan
menggunakan perahu-perahu kecil atau speed boat. Sungai besar
adalah: Rajang, Baram, Limbang, Batang Lupat.

Sosial Ekonomi


2
D.Iken.D, Kompeni Belanda, Depok 1906, hlm.14 16 dan 220 221.
3
Masuk Philiphine
4
Sinar Harapan, 1 Juli 1978, KNI AP.

6
Bangsa kulit putih dan pendatang lainnya bermukim di daerah
perkotaan. Bangsa Melayu, banyak yang bermukim di pedalaman.
Penduduk daerah pantai ialah suku Dayak Laut, yang terdiri dari
suku-suku Melayu, Kenyah, Kelambit, dan Murut. Adapun suku-suku
Dayak Darat terdiri dari suku-suku Iban, Punan, Kayan dan Bahau,
tinggal di daerah perbatasan atau pedalaman. Yang terbesar adalah
suku Iban, yang memiliki hubungan darah dengan suku Dayak di
Kalimantan Timur, seperti Bahau, Iban, Kayan, Punan.
Tiap-tiap suku Dayak memakai bahasa daerahnya masing-masing
yang satu sama lain berbeda. Bahasa pengantar ialah bahasa Iban.
Pada umumnya adat istiadat suku Dayak pada dasarnya baik. Mereka
berwatak keras dan jujur. Cara bergaul menunjukan keakraban, tetapi
kadang-kadang terjadi juga kekacauan hanya karena salah
pengertian. Dalam pergaulan mereka bersifat ramah tamah, tetapi
mudah tersinggung dan dendam.
Adat istiadatnya memiliki banyak persamaan dengan adat istiadat
suku Dayak di wilayah Kalimantan, yaitu berpegang teguh pada
ajaran nenek moyang, dan percaya kepada roh-roh yang sudah
meninggal. Bila dipandang dari adat istiadat yang sama dengan suku
Dayak di wilayah Indonesia, nampaknya semua berasal dari satu
turunan.
Pengaruh agama Kristen atau Islam terlihat pada suku Melayu
dan Tionghoa yang menempati sepanjang pesisir dan sepanjang
sungai. Untuk suku Dayak di daerah pedalaman sudah mulai
mengenal agama nasrani, akan tetapi sebagian masih beragama
Kaharingan.
Sistim pendidikan bagi penduduk pribumi di Kalimantan Utara,
sekolah dasar tiga atau enam tahun. Bahasa pengantar yang
dipergunakan di sekolah ialah bahasa Inggris atau bahasa Tionghoa.
Yang bisa melanjutkan ke pendidikan lanjutan hanyalah anak-anak
pejabat dan anak-anak orang berada saja. Untuk pendidikan agama
Islam diberikan oleh Kiai-kiai, sedang ajaran rohani agama Kristen
dan Katholik, diberikan oleh Zending dan Misi yang terdiri dari
orang-orang asing.
Dengan adanya pembatasan pendidikan di sekolah lanjutan, dan
bahasa yang dipakai adalah bahasa Inggris, serta kurangnya
penanaman tentang kebangsaan, mengakibatkan keinginan
penduduk untuk dapat berbahasa Inggris sangat besar. Bagi
penduduk pribumi, apabila ingin mencapai kemajuan, terlebih
dahulu harus mampu berbahasa Inggris.
Kebudayaan suku Dayak Kalimantan Utara, banyak
persamaannya dengan suku Dayak di wilayah Indonesia. Mereka
masih sangat memelihara tari-tarian, nyanyi-nyanyian dalam bahasa
daerah, mereka belajar dari nenek moyang. Kaum pelajar lebih
menyukai kebudayaan yang berbau asing, seperti dansa dan

7
menguasai lagu-lagu barat. Untuk daerah pedalaman, cara
pengobatan masih secara tradisional, dengan menggunakan akar-
akar kayu dan daun-daunan. Pengobatan secara modern mereka
lakukan hanya apabila mendapat bantuan dari pemerintah, misi dan
zending.

Kalimantan Barat

Ada teori yang mengatakan bahwa suku-suku Dayak pedalaman
yang pertama mendiami Kalimantan, sebelum Kalimantan terpisah
dengan Penisula Malaya, berasal dari daerah perbatasan yang
terbentang luas dari perbatasan Cina dan India sampai Tibet. Suku-
suku ini kemudian mengadakan perkawinan dengan bangsa Kaukasia
dan Mongolia. Dari keturunan ini lahir suku Punan dan Kenya
5
.
Kemudian datang imigran suku bangsa Murud dan Kayan, dari benua
Asia yang hampir menyerupai bangsa Mongol. Selain itu, menurut
para ahli etnologi, suku Karen di Birma dan suku Kayan di
Kalimantan, berasal dari turunan yang sama.
Penduduk pedalaman Kalimantan Barat yang tinggal di Kapuas
Hulu, terbagi dari beberapa Nanga suku dan berasal dari suku Punan
:
1. Nanga Enap berasal dari suku Punan Uhing.
2. Nanga Erah, berasal dari suku Punan Uhing.
3. Nanga Balang, berasal dari suku Buket.
4. Nanga Mentalunai, berasal dari suku Buket.
5. Nanga Talai, berasal dari suku Punan Kerco.
6. Nanga Belatung, berasal dari suku Punan Howong.
7. Nanga Tanjung Lakung, berasal dari suku Punan Howong.

Lokasi Wilayah dan Keadaan Daerah

Kalimantan Barat berbatasan di sebelah barat dengan Karimata.
Sebelah utara dengan Pegunungan Kapuas Hulu. Sebelah selatan
dengan Kalimantan Tengah. Sebelah timur dengan Pegunungan
Muller, Schwaner, Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.
Gunung-gunung yang ditemukan di daerah Kalimantan Barat :
Gunung Lawit, tinggi 1767 m.
Gunung Saran, tinggi 1758 m
Gunung Kerihun, tinggi 1790 m
Gunung Nuit, tinggi 1700 m.


5
Tipe tengkorak brashyphal .

8
Daerah Kalimantan Barat terbagi atas tanah pegunungan
tinggi, tanah pegunungan rendah dan tanah dataran rendah. Tanah
pegunungan tinggi dan rendah, terdiri dari batu-batu beku, batu-batu
sendimen, dan batu-batu yang terjadi dari perubahan batu tersebut.
6

Batu-batu beku, ditemukan di pegunungan Paloh, pegunungan
Singkawang, Batas Landak, Tayan, Sanggau, Pegunungan
Kempayang, Pegunungan Gramiet, Semberuang, Semitu Hulu,
Schwaner, Muller.
Di tengah-tengah batu sendimen banyak ditemukan batu-
batu beku, dan di tempat ini banyak ditemukan juga gunung-gunung
yang bentuknya tidak seperti biasanya. Yang terkenal ialah Bukit
Kelam dekat Sintang. Batu-batu beku sebagian besar terdiri dari batu
dalam yang asa, misalnya granit dan kwartdioriet. Batu-batu yang
kelat terdapat di gunung yang sudah mati, yaitu Gunung Nait.
Letaknya sebelah timur laut Bangka, dikelilingi pegunungan Bayang.
Terdapat batu pasir, batu sendimen, batu lempeng, batu liat, dan
perubahan dari batu-batu tersebut.
Di beberapa tempat ditemukan marmer, yaitu di Gunung
Bayang, Pegunungan Hulu, sebagian besar dari Pegunungan Muller,
Pegunungan Tinggi Madi, Pegunungan rendah dari Bengkayang,
Landak, Sanggau, Melawi Utara dari batuan pasir. Lapisan-lapisan
dari batuan sendimen, sangat besar dan bergelombang besar dan
dalam.
Tanah datar rendah dibagi dua yaitu tanah datar rendah yang
muda, yang terletak dekat pantai dan tanah datar rendah dekat
Kapuas Tengah. Tanah datar rendah dekat petani ini, paling lebar
terletak di delta Sngai Kapuas dan di tempat yang di bukit-bukitnya ,
sampai di tepi laut dekat Singkawang, Sukadana. Yang tidak luas
dekat Kandawangan. Sungai-sungai yang mengalir melalui tanah
rendah tersebut, membuat pagung overwallen ditepinya. Diwaktu air
pasang, tanah di belakang pagung tergenang air, yang pada waktu
surut, air tersebut sulit untuk kembali ke sungai. Di Paloh dekat
Sambas, juga di Pontianak, terdapat sapok yang tebalnya bermeter-
meter.
Di tempat-tempat yang tidak digenangi air, terdapat tanah-tanah
autochtoom yang artinya tanah yang tidak beralih tempat. Asalnya
dari batu sungai, karena proses alam, batu tersebut berubah menjadi
tanah, dan jenis tanah ini tebal sekali. Batu-batu pasir dan
kwartsieten, lama-lama berubah menjadi pasir putih. Pasir putih
ditemukan banyak di daerah Kalimantan Barat. Di lembah banyak
dijumpai tanah persawahan yang subur.
Kesuburan tanah dapat dipertahankan karena pengaruh aliran air
yang membawa zat-zat makanan dari tanah yang berada disebelah

6
Metamorposen.

9
atasnya. Tanah liat laut yang masih muda sangat subur, seperti di
daerah mempawah yang dimanfaatkan sebagai daerah persawahan.
Tanah liat laut yang sudah tua, terletak agak jauh dari pantai. Tanah
tersebut tidak subur karena banyak zat-zat tanah yang hanyut oleh
rambang.

Iklim, Pertanian, Pengairan, Pertambangan

Kalimantan Barat adalah daerah yang banyak mengandung curah
hujan. Rata-rata setiap bulan 100 mm bahkan mencapai 350mm.
Pada bulan Januari- Pebruari, dan Juni Agustus, curah hujan
sangat sedikit. Saat itu disebut musim kemarau pendek dan musim
kemarau panjang.
Pertanian yang dilaksanakan oleh penduduk :
Pertanian yang tanamannya berumur panjang, misal, karet,
kelapa.
Pertanian yang tanamannya berumur pendek.

Di Kalimantan Barat, ditemukan pengairan pasang surut, rawa sungai
dan pengairan tehnis. Yang banyak dijumpai ialah pengairan rawa
pantai, dan sungai.
Bahan tambang yang banyak ditemukan di daerah Kalimantan
Barat: intan, emas, koaline, sanstone, batubara, tembaga, mica,
mangan, bauksit, molydenite, cinnabar.

Kalimantan Timur

Penyebaran Penduduk

Penyebaran penduduk tidak merata. Penduduk yang menetap di
Kalimantan Timur, banyak pendatang yang berasal dari seluruh
Nusantara. Suku Banjar, hidup berkelompok. Mata pencarian utama,
menangkap ikan di laut. Penduduk Kubang Solok, keturunan Solok
dan Piliphine, menetap di sebelah timur pantai Berau. Suku Bugis
dan Mandar menetap di pinggir pantai. Suku Jawa, kebanyakan
bekerja di pertambangan batu bara. Di Kabupaten Kutai,
penduduknya didominasi oleh orang-orang Kutai sendiri. Suku
Punan, hidupnya masih mengembara, banyak berdiam di daerah
Kabupaten Kutai, Berau dan Bulongan. Suku Punan, sebagian besar
telah mengenal mata uang serta masih menggunakan sistim barter.
Mata pencariannya, berburu, menangkap ikan serta mencari
umbut-umbut kayu. Diantara suku Punan, ada yang mengenal satu
Tuhan MaTau, tetapi pengaruh firasat yang dihubungkan dengan
kejadian-kejadian masih sangat besar artinya bagi mereka. Suku

10
Basap, terdapat di daerah Kutai, tetapi mereka lebih maju daripada
suku Punan. Suku-suku lainnya yang terdapat di Kutai ialah: suku
Benoa, suku Bahau, suku Tunjung, suku Kenyah, suku Ulon Dayo,
suku Berau. Yang terdapat di daerah Pasir ialah suku Pasir.
Orang-orang Melayu yang berada di Kalimantan Tmur, banyak
yang beragama Islam. Suku Dayak banyak yang beragama
Kaharingan, Kristen Protestan, Katholik. Keyakinan lama masih
sangat besar pengaruhnya. Adanya satu Tuhan, yang di beberapa
tempat terkenal dengan nama Tuhan Singei. Mereka juga masih
mempercayai mahluk-mahluk penjaga kampung, rawa, sungai, hutan,
pohon, dan sebagainya.


Perpindahan Penduduk

Penduduk yang mendiami Kalimantan Timur, didominasi oleh
suku Dayak, akan tetapi penyebaran tidak merata. Hal ini disebabkan
karena sumber kekayaan alam tidak merata. Juga adanya
perpindahan penduduk yang disebabkan karena usaha penduduk
dalam mencukupi kebutuhan ekonomi. Adanya keyakinan dalam
masyarakat yang menghubungkan firasat dengan gejala-gejala alam,
dan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi.
Tahun 1967 terjadi perpindahan penduduk di wilayah Kalimantan
Timur yaitu dari kampung Long Puti
7
, ke kampung Lung Urug dan ke
kampung Long Lees
8
, sejumlah 328 jiwa. Dari kampung Long
Nawang, ke daerah Tabang dan Malinau berjumlah 4000 jiwa. Dari
Long Berang dan Long Heban Kabupaten Bulongan ke Muara Wahau
Kabupaten Kutai sejumlah 1500 jiwa.
Transmigrasi tertua di Kutai berasal dari suku Bugis. Banyak
mendiami daerah pantai, dan hidup sebagai nelayan. Walau mereka
berdomisili di Kutai, namun adat istiadat dan bahasa tetap mereka
pelihara dan pertahankan. Pendatang lain ialah suku Banjar, mereka
hidup terpencar di seluruh Kutai, dengan mata pencarian utama
berdagang. Suku Bajau, dalam jumlah kecil berdiam di Pamengkaran
dan Bontang dengan mata pencarian utama, menangkap ikan. Suku
Pasir berdiam di Sepan, Sotek dan Pemaluan. Bangsa Tionghoa,
menyebar di seluruh pelosok Kutai. Sebagian besar mata pencarian
mereka adalah berdagang.

Latar Belakang Sejarah
9


7
Long Nawang.
8
Muara Ancalong.
9
Monografi Kalimantan Timur, 1967, hal 12-14.

11
Sebelum Patih Gajah Mada dari Majapahit, melaksanakan
usahanya untuk mempersatukan seluruh Nusantara, di Kalimantan
Timur ditemukan tiga buah kerajaan kecil yaitu:
1. Kerajaan Kutai.
2. Berau.
3. Pasir.
Namun kemudian ketiga kerajaan tersebut bernaung di bawah
kekuasaan Majapahit. Akan tetapi pada masa penjajahan ketika
Belanda, Inggris, Portugis menginjakkan kakinya di bumi Nusantara,
ketiganya terpecah lagi. Tahun 1870, akibat adanya politik kontrak
yang ditandatangani oleh Sultan Sulaiman, secara yuridis lenyaplah
kekuasaan kerajaan, walau sebelumnya ada perlawanan dari Sultan
Salahudin dan Panglima Perang Awang Lor, yang kemudian gugur
sebagai pahlawan.

Lokasi Wilayah dan Kondisi Daerah

Letak Kalimantan Timur, membujur dari barat ke timur antara
113 derajat 47 menit lintang utara dan 119 derajat bujur timur. Dari
utara ke selatan, antara 4 derajat 21 menit lintang utara dan 1 derajat
20 menit lintang selatan. Perbatasan-perbatasan:
Sebelah barat dengan Kalimantan Barat dan Kalimantan Utara-
Pegunungan Kapuas Muller.
Sebelah timur dengan Selat Makasar.
Sebelah selatan dengan Kalimantan Selatan dan Kalimantan
Tengah.
Sebelah utara dengan Kalimantan Utara.
10


Perbatasan dengan Serawak, diatur dan ditentukan dengan suatu
perjanjian antara pemerintah kerajaan Belanda dan Inggris.
Perjanjian tersebut terdapat di dalam lembaran negara tahun 1892
No. 211. Pelaksanaannya dilakukan oleh panitia bersama dari kedua
kerajaan, sebagaimana tersebut dalam lembaran negara tahun 1916
No.145.
Beberapa gunung yang ditemui di Kalimantan Timur:
1. Gunung Kong Kemul, tinggi 2053 meter, Bukit Batu Tiban, tinggi
1704 meter, Gunung Kerihun, tinggi 1790, terletak di Kabupaten
Kutai.
2. Gunung Kundas, tinggi 1600 meter, gunung Cimanis, Gunung
Benua, perbatasan antara Kabupaten Berau dengan Kabupaten
Bulongan. Pegunungan Iban, perbatasan Kabupaten Berau

10
Malaysia Timur, Serawak, Brunai, dan Sabah.

12
dengan Apu Kayan
11
, Pegunungan Lasan, Suaran Gunung Mapa
dan Gunung Berum, Pegunungan Candi Hantu, Gunung
Tambalang, Gunung Sarati, Gunung Siagung.
3. Gunung Lumut, tingginya 1233 meter, dan Gunung Saren Pala,
tingginya 1380 meter. Di daerah Kabupaten Pasir, perbatasan
Pasir dengan Kabupaten Kutai dan Tabalong, yang masih aktif,
terletak di Kampung Baju
12
. Pegunungan Iban yang juga disebut
Pegunungan Kapuas Hulu merupakan perbatasan dengan daerah
Serawak
13
.

Sungai terbesar ialah Sungai Mahakam, terletak di Samarinda.
Sungai ini bersumber dari Gunung Iban
14
, dan bermuara di dekat
Selat Makasar. Sungai Mahakam, dari muara sampai ke Long Iram,
panjangnya 223 mil, bagian yang paling dalam 38 meter, dan yang
paling dangkal 4 meter. Kapal seberat 1500 ton dapat berlayar sampai
batu dinding yang letaknya lima puluh mil dari Samarinda.

Kalimantan Selatan

Keadaan Tanah

1. Dataran dan Lembah Alluvial Daerah rawa, terdapat di sepanjang
kaki pegunungan Meratus
15
, dan sebelah barat, berbatas dengan
daerah rawa. Enam puluh persen, terdiri dari tanah pematang,
kebun karet, belukar, dan kampung-kampung. Daerah
pegunungan seluas 212.750 Ha. Tinggi 800-2000 meter dari
permukaan laut, terdapat di pegubungan Meratus Babaris, di tepi
barat dan timur Pegunungan Babaris.
2. Berbukit berat. 50-300 meter dari permukaan laut, letaknya di
tepi barat Pegunungan Babaris, Pegunungan Meratus, juga di
bagian utara sepanjang Pegunungan Meratus
16
.
3. Berbukit ringan. 5-100 meter dari permukaan laut, letaknya di
tepi barat Pegunungan Babaris, Maratus. Kelanjutan
Pegunungan Maratus-Kusan-Babaris di bagian selatan. Bagian
timur berdaratan alluvial, sejak batas Kabupaten Banjar dan
Amuntai
4. Daerah batu/ tanah kapur/karang. Terdapat di daerah yang
berbukit-bukit dan daerah sepanjang tepi lembah Barito dari

11
Kabupaten Bulongan.
12
Kecamatan Talisayan.
13
Malaysia Timur.
14
Pegunungan Kapuas.
15
Barabai
16
Babaris, Amuntai, Tanjung.

13
Hulu Sungai sampai Martapura. Dari daerah ke daerah,
membentang jalur tanah kapur. Dari Mataraman hingga
sepanjang Riam Kiwa, melalui Pengarus sampai ke Koah, hingga
ke goa-goa kapur, terdapat gunung batu kapur. Endapan kapur
terdapat antara kedua sisi tembok tanah margel
17
.

Iklim

Sebagai daerah khatulistiwa, beriklim tropis yang umumnya
panas. Ukuran kelembaban :
Banyak hujan, tiap-tiap bulan rata-rata enam sampai
limabelas hari dengan ukuran 156 343 mm.
Pada musim hujan, suhunya rata-rata 17 celcius, musim
panas 30 celcius.

Kalimantan Tengah


Lokasi dan Lingkungan Alam

Propinsi Kalimantan Tengah secara astronomi berada pada
posisi 0
0
45 Lintang Utara (LU) - 3
0
31 Lintang Selatan (LS) dan
antara 111
0
- 116
0
Bujur Timur (BT). Secara geografis berbatasan
dengan Propinsi Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur di sebelah
utara, Laut Jawa di sebelah Selatan, Propinsi Kalimantan Barat di
sebelah barat, Propinsi Kalimantan Selatan dan Propinsi Kalimantan
Timur di sebelah timur.
Luas wilayah Propinsi Kalimantan Tengah secara keseluruhan
sekitar 153.564 km
2
atau lebih kurang 7,95% dari keseluruhan luas
Indonesia, terdiri dari hutan belantara seluas 126.200 km
2
, rawa-
rawa 18.115 km
2
, sungai, danau, dan genangan air lainnya seluas
4.563 km
2
serta pertanahan lainnya seluas 4.686 km
2
. Secara
administratif propinsi ini dibagi dalam 13 kabupaten dan satu kota
yaitu Palangka Raya yang menjadi ibu kota propinsi ini (pemekaran
wilayah tahun 2002).
Klimatologis Kalimantan Tengah termasuk daerah equatorial
yang beriklim basah dengan rata-rata delapan bulan basah dan empat
bulan kering. Rata-rata curah hujan, 2.814,6 mm, 145 hari dalam
setahun.

Demografi


17
Lempung kapur terdapat di Bulangan.

14
Penduduk utama adalah suku Dayak yang menggunakan lingua
franca bahasa Dayak Ngaju. Setelah Propinsi Kalimantan Tengah
terbentuk, kegiatan pembangunan mulai dilaksanakan. Jalan-jalan
mulai dibangun di Kalimantan Tengah yang wilayahnya sebagian
besar masih berupa hutan rimba belantara, seperti jalan dengan lebar
empat puluh meter yang menghubungkan Palangka Raya dengan
Tangkiling. Kemudian prasarana lainnya juga dibangun seperti
pembuatan bandara udara di Palangka Raya dan Pangkalanbun.
Untuk daerah-daerah yang belum mempunyai bandara udara,
pesawat terpaksa mendarat di air.
18
Namun tentu saja, saat itu,
pesawat udara belum merupakan sarana transportasi umum.
Pengerukan untuk pembuatan terusan yang menghubungkan satu
sungai besar dengan lainnya, mulai dilaksanakan, misalnya Terusan
Basarang yang kemudian diberi nama Terusan Milono
19
, untuk
mempersiapkan irigasi bagi program transmigrasi yang segera akan
dijalankan dengan mendatangkan para transmigran dari Jawa dan
Bali.
Kekayaan Kalimantan Tengah yang utama bukan hanya
kesuburan tanahnya, namun juga kekayaan isi buminya yang
mengandung minyak bumi, emas, batu arang (batu bara), tembaga,
kecubung dan intan, juga hasil hutan berupa kayu, damar dan rotan.
Kalimantan Tengah adalah propinsi ke 17 untuk wilayah
Republik Indonesia, yang di masa awal lahirnya propinsi ini, hanya
terdiri dari 6 daerah tingkat II yaitu:
1. Kabupaten Kotawaringin Barat
2. Kabupaten Kotawaringin timur
3. Kabupaten Kapuas
4. Kabupaten Barito Utara
5. Kabupaten Barito Selatan dan,
6. Kotamadya Palangka Raya.

Kalimantan adalah pulau terbesar ke tiga setelah Green Land dan
Irian Jaya. Sebagai akibat kolonialisme barat, bekas wilayah Inggris
di utara, menjadi wilayah negara Malaysia dan Kesultanan Brunei,
sedangkan bekas jajahan Belanda di selatan, menjadi wilayah
Republik Indonesia, yang terbagi menjadi empat propinsi, yaitu
Kalimantan Barat, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan
Kalimantan Tengah.
Suku Dayak di Kalimantan Tengah terbagi menjadi beberapa
suku, diantaranya Manyan, Ot Danum dan Ngaju. Suku Dayak Ngaju
mendiami daerah sepanjang Sungai Kapuas, Kahayan, Rungan
Manuhing, Barito dan Katingan. Suku Dayak Ot Danum mendiami

18
Ada jenis pesawat tertentu yang dapat mendarat di air.
19
Nama Gubernur Kalimantan ketiga.

15
daerah sepanjang hulu-hulu sungai besar seperti Sungai Kahayan,
Rungan, Barito, dan Kapuas, juga di hulu Sungai Mahakam, sekitar
Long Pahangei di pedalaman. Suku Dayak Ngaju adalah mereka yang
berdiam di sebelah hilir, dan suku Dayak Ot Danum adalah mereka
yang berdiam di sebelah hulu. Batas kediaman suku Dayak Ngaju di
hulu Kahayan, hanya sampai desa Tumbang Miri
20
saja. Letak
kediaman suku Ot Danum di hulu Kahayan, yaitu di daerah utara
Tumbang Miri, dan di hulu Sungai Katingan, yaitu Sungai Samba,
hulu Sungai Kapuas, dan sebagian hulu Sungai Seruyan
21
, di Sungai
Kale, Desa Tumbang Sabetung.
Berbeda dengan perkampungan suku Dayak Ot Danum yang
pada umumnya merupakan daerah tersendiri
22
, maka suku Dayak
Maanyan tersebar di seluruh Kabupaten Barito Selatan, yaitu di tepi
timur Sungai Barito, terutama diantara anak-anak Sungai Patai,
Telang, Karau, Ayuh. Di timur suku Maanyan bersentuhan dengan
wilayah suku Banjar, yaitu di daerah Hulu Sungai Kalimantan
Selatan. Di barat, berbatasan dengan suku Dayak Bakumpai dan
suku Banjar daerah Hulu Sungai dari Sungai Barito. Di daerah aliran
Sungai Karau dan Ayu, suku Dayak Maanyan banyak bercampur
dengan suku Dayak lainnya, misalnya suku Dayak Lawangan yang
memang telah mendiami daerah itu sebelum suku Dayak Maanyan
memasukinya.
Menurut Mallinckrods, suku Dayak Ngaju, Dayak Maanyan,
Dayak Ot Danum berasal dari satu stramras, yaitu stramras Ot
Danum. Untuk hal ini perlu diadakan penelitian lebih lanjut dan
mendalam.
Suku Dayak Ngaju berasal dari suku Dayak Ot Danum juga,
tetapi kemudian karena mereka berdiam di daerah hilir, lambat laun
mereka mengalami perubahan kebudayaan sebagai akibat
berakulturasi dengan kebudayaan orang-orang Dayak di seluruh
Kalimantan. Di sini kelompok suku yang hidup di pedalaman
sesungguhnya mempunyai satu corak kebudayaan. Kesatuan mereka
ini adalah berdasarkan persamaan dalam beberapa unsur
kebudayaan, prinsip keturunan yang berdasarkan ambilinaal,
peralatan perang seperti mandau dan sumpitan, upacara kematian
yang bersifat potlatch dan kepercayaan asli yaitu agama Kaharingan.
Menurut Mallinckrodt
23
, suku Bakumpai adalah suku Dayak
Ngaju yang telah beragama Islam. Suku Bakumpai banyak mendiami
sepanjang Sungai Barito, di Tumbang Samba Sungai Katingan, di
sepanjang sungai Mahakam bagian tengah, diantaranya di Long Iram.

20
Sebagai desa terakhir.
21
Pembuang.
22
Khas Dayak Ot Danum.
23
Mallinckrodt , Adatreht van Borneo, 1928 .

16
Mallinckrodt menganggap bahwa yang termasuk stramras Ot Danum
adalah stammen groep der Ot Danom, stammen groep der Ngaju,
stammen groep der Maanyan dan Lawangan.
Dusun Barito, keluarga bahasa ini dipergunakan di
Kalimantan Tengah dan sebagian lagi di Kalimantan Selatan yaitu di
suatu wilayah yang di bagian barat di batasi oleh Sungai Sampit
24
; di
utara dengan pegunungan Schwaner dan Muller, sungai-sungai
Busang, Murung dan Mahakam; di selatan dan timur
25
dibatasi oleh
laut Jawa dan Selat Makasar. Daerah keluarga Barito itu, menurut
Kennedy didiami oleh suku Dayak Ngaju, sedang menurut
Mallinckrodt oleh suku Dayak Ot Danum. Menurut klasifikasi
Hudson, bahasa Dayak Ngaju, termasuk dalam isolek bahasa Barito
Barat Laut, dan bahasa Maanyan termasuk dalam isolek Barito
Tenggara.
Di antara bahasa tersebut, bahasa Dayak Ngaju telah lama
menjadi lingua franca suku Dayak di Kalimantan Tengah, walaupun
akhir-akhir ini setelah Negara Kesatuan Republik Indonesia
terbentuk, bahasa Indonesia mulai menggantikannya. Peranan
bahasa Dayak Ngaju menjadi penting untuk daerah Kalimantan
Tengah berkat usaha zending Protestan dari Jerman dan basel yaitu
baselsche zending. Mereka telah memilih bahasa Dayak Ngaju dalam
penyebaran agama, antara lain dengan menterjemahkan Kitab Suci
ke dalam bahasa Dayak Ngaju.

Suku-suku Dayak yang ada di Kalimantan Tengah:
1. Dayak Ngaju.
2. Dayak Maanyan.
3. Dayak Lawangan.
4. Dayak Dusun.
5. Dayak Klementen.
6. Dayak Ot Danum.
7. Dayak Siang.
8. Dayak Witu.
9. Dayak Katingan.
10. Dayak Kapuas.

Bahasa daerah yang seringkali digunakan untuk
berkomunikasi:
1. Bahasa Dayak Ngaju, meliputi delapan puluh delapan suku kecil-
kecil.

24
Mentaya.
25
Tanpa menghiraukan bahasa-bahasa Melayu dan Bugis yang juga berada
di situ.

17
2. Bahasa Dayak Maanyan, meliputi empat puluh satu suku kecil-
kecil.
3. Bahasa Dayak Dusun, meliputi enam puluh suku kecil-kecil.
4. Bahasa Dayak Katingan, meliputi enam puluh delapan suku kecil-
kecil.

Peta Kalimantan Tengah

Dengan adanya pemekaran wilayah sesuai otonomi daerah,
wilayah Propinsi Kalimantan Tengah dipecah menjadi 14 daerah
setingkat kabupaten/kota. Selain lima kabupaten dan satu kota yang
sudah ada, delapan kabupaten pemekaran dibentuk dengan
menggabungkan beberapa kecamatan dari daerah kabupaten asal.
Daerah kabupaten yang baru tersebut adalah Kabupaten Barito
Timur, Kabupaten Murung Raya, Kabupaten Gunung Mas,
Kabupaten Katingan, Kabupaten Lamandau, Kabupaten Pulang
Pisau, Kabupaten Seruyan, dan Kabupaten Sukamara.



Peta Kalimantan Tengah.
(Sumber : BAPPEDA Propinsi Kalimantan Tengah, 2003)


18