Anda di halaman 1dari 10

EROSI PORSIO

. EROSI PORSIO
a) Pengertian Erosi Porsio
Erosio porsiones (EP) adalah suatu proses peradangan atau suatu luka yang terjadi pada
daerah porsio serviks uteri (mulut rahim). Penyebabnya bisa karena infeksi dengan kuman-
kuman atau virus, bisa juga karena rangsangan zat kimia /alat tertentu; umumnya disebabkan
oleh infeksi.
Erosi porsio atau disebut juga dengan erosi serviks adalah hilangnya sebagian / seluruh
permukaan epitel squamous dari serviks. Jaringan yang normal pada permukaan dan atau
mulut serviks digantikan oleh jaringan yang mengalami inflamasi dari kanalis serviks.
Jaringan endoserviks ini berwarna merah dan granuler, sehingga serviks akan tampak merah,
erosi dan terinfeksi. Erosi serviks dapat menjadi tanda awal dari kanker serviks.
Erosi serviks dapat dibagi menjadi 3:
1) Erosi ringan : meliputi 1/3 total area serviks
2) Erosi sedang : meliputi 1/3-2/3 total area serviks
3) Erosi berat : meliputi 2/3 total area serviks.
b) Penyebab erosi serviks :
1. Level estrogen : erosi serviks merupakan respons terhadap sirkulasi estrogen dalam tubuh.
a) Dalam kehamilan : erosi serviks sangat umum ditemukan dalam kehamilan karena level
estrogen yang tinggi. Erosi serviks dapat menyebabkan perdarahan minimal selama
kehamilan, biasanya saat berhubungan seksual ketika penis menyentuh serviks. Erosi akan
menghilang spontan 3-6 bulan setelah melahirkan.
b) Pada wanita yang mengkonsumsi pil KB : erosi serviks lebih umum terjadi pada wanita
yang mengkonsumsi pil KB dengan level estrogen yang tinggi.
c) Pada bayi baru lahir : erosi serviks ditemukan pada 1/3 dari bayi wanita dan akan
menghilang pada masa anak-anak oleh karena respon maternal saat bayi berada di dalam
rahim
d) Wanita yang menjalani Hormon Replacement Therapy (HRT): karena penggunaan
estrogen pengganti dalam tubuh berupa pil, krim , dll.
2. Infeksi: teori bahwa infeksi menjadi penyebab erosi serviks mulai menghilang. Bukti-bukti
menunjukkan bahwa infeksi tidak menyebabkan erosi, tapi kondisi erosi akan lebih mudah
terserang bakteri dan jamur sehingga mudah terserang infeksi.
3. Penyebab lain : infeksi kronis di vagina, douche dan kontrasepsi kimia dapat mengubah
level keasaman vagina dan sebabkan erosi serviks. Erosi serviks juga dapat disebabkan
karena trauma (hubungan seksual, penggunaan tampon, benda asing di vagina, atau terkena
speculum)
c) Gejala erosi serviks:
(1) Mayoritas tanpa gejala
(2) Perdarahan vagina abnormal (yang tidak berhubungan dengan siklus menstruasi) yang
terjadi :
Setelah berhubungan seksual (poscoital)
Diantara siklus menstruasi
Disertai keluarnya cairan mucus yang jernih / kekuningan, dapat berbau jika disertai infeksi
vagina
(3) Erosi serviks disebabkan oleh inflamasi, sehingga sekresi serviks meningkat secara
signifikan, berbentuk mucus, mengandung banyak sel darah putih, sehingga ketika sperma
melewati serviks akan mengurangi vitalitas sperma dan menyulitkan perjalanan sperma. Hal
ini dapat menyebabkan terjadinya infertilitas pada wanita.
d) Penanganan erosi porsio/erosi serviks
1) Memberikan albotyl di sekitar Erosio pada portio.
2) Melakukan penatalaksanaan pemberian obat.
Lyncopar 3 x 1 untuk infeksi berat yang disebabkan oleh bakteri /streptokokus
pneomokokus stafilokokus dan infeksi kulit dan jaringan lunak.
Ferofort 1 x 1 berfungsi untuk mengobati keputihan
Mefinal 3 x 1 berfungsi untuk menghilangkan rasa sakit
Gambar 1 : Serviks Normal
Gambar 2 : Serviks yang terkena Erosi


Erosi serviks adalah suatu kondisi yang normal yang terjadi ketika sel-sel epitel
skuamosa tumbuh dari leher rahim dan meradang, merah dengan daerah yang terlihat terkikis
dan terinfeksi. Leher rahim normal memiliki bagian sempit yang disebut os yang dilapisi
dengan kelenjar sel lendir yang tersembunyi; seluruh permukaan serviks dilapisi epitel, sel
pada permukaan luar. Sementara itu terdengar menakutkan untuk berpikir bahwa Anda leher
rahim terkikis.
Berbagai jenis trauma dapat menyebabkan erosi leher rahim. hubungan seksual, penyisipan
benda-benda lainnya ke dalam vagina adalah cara-cara trauma yang mungkin terjadi.
Penyebab lain termasuk infeksi berat pada vagina atau STDS seperti herpes atau awal sifilis.
Kadang-kadang percikan bahan kimia lain pada vagina seperti krim kontrasepsi atau busa
dapat menyebabkan erosi (pengikisan) leher rahim.
Sering berganti pasangan dalam berhubungan intim atau penggunaan spray vagina atau
produk lain pada vagina dapat meningkatkan risiko mengembangkan erosi leher rahim.
Namun pada kasus lain, wanita yang tidak memiliki faktor-faktor risiko ini juga sering
mengembangkan erosi serviks.
Sementara pada umumnya beberapa gejala yang berkaitan dengan erosi atau pengikisan leher
rahim seperti mengalami abnormal pendarahan yang bukan bagian dari haid, pendarahan
setelah hubungan seksual, pendarahan antara periode haid.
Erosi serviks ini ditangani dengan berbagai cara tergantung dari penyebab. Jika infeksi hadir,
antibiotik diperlukan. Ketika erosi serviks disebabkan oleh trauma leher rahim, cedera atau
karena bahan kimia seperti spray vagina dan menghindari penyebabnya. Kadang-kadang
serviks cauterization digunakan untuk mengobati erosi leher rahim. Penyedia layanan
kesehatan juga mungkin meresepkan krim estrogen vagina untuk membantu mengentalkan
permukaan luar dari leher rahim.
Kebanyakan wanita penderita erosi serviks tidak memiliki gejala. Erosi serviks hanya diamati
selama pemeriksaan panggul secara rutin.
Gejala lain yang kadang-kadang dapat disebabkan oleh erosi serviks adalah pendarahan
setelah berhubungan intim ( postcoital bleeding ). Dalam keadaan ini, dokter Anda mungkin
menawarkan untuk mengobati leher rahim dengan menghancurkan permukaan. Namun tidak
ada jaminan bahwa perawatan ini akan mengurangi atau mengurangi gejala.
Penyakit biasanya didiagnosa oleh colposcopy. Ini adalah studi leher rahim di bawah
mikroskop yang dirancang khusus. Ahli kandungan menggunakan colposcope untuk secara
akurat menentukan ada atau tidak adanya erosi leher rahim. Instrumen ini juga digunakan
untuk mengenali formasi ganas.
Perawatan serviks erosi dengan menggunakan obat pada umumnya kurang memberikan hasil
yang memuaskan kecuali metode terapi anti-inflamasi.
Umumnya erosi serviks yang berat dan ringan perawatan terapi fisik karena terapi fisik tidak
memiliki efek samping.
Dalam proses perawatan erosi leher rahim dan setelah sembuh dari penyakit pengikisan
serviks sebaik memperhatikan hal-hal sebagai berikut:
1, memperhatikan kesehatan seksual, sesuai mengendalikan kehidupan dan menghindari
hubungan seksual selama haid.
2, Menghindari aborsi atau kecelakaan aborsi
3, Jika siklus menstruasi terjadi secara singkat, periode menstruasi akan berlangsung cukup
lama sebaiknya segera ditangani.
4, Setelah bersalin serviks yang lecet atau robek harus segera dijahit.
5, Tes ginekologi secara berkala.
6, Bila Anda menggunakan air untuk mencuci alat kelamin, usahakan agar air bilasan tidak
masuk kedalam lubang vagina anda.
Sebagai pencegahan erosi dan pseudo merekomendasikan bahwa semua wanita menyadari
kebersihan pribadi dan dua kali sehari, cuci bersih dengan sabun dan air. Menjaga toilet pada
alat kelamin jangan lupa mitra seks Anda. Perlu diingat bahwa perubahan mitra seksual,
antara lain, mengarah ke perubahan dalam vagina flora, meningkatnya risiko penyakit. Ingat
bahwa kehadiran nanah dalam air mani juga dapat menyebabkan laki-laki erosi.
Menggunakan kontrasepsi untuk menghindari kehamilan yang tidak diinginkan dan aborsi,
yang pasti akan melukai leher rahim.
Perlakuan terhadap erosi leher rahim dengan operasi laser merupakan pengobatan modern
dan metode paling efisien mengobati penyakit leher rahim.
Erosi serviks adalah pengikisan lapisan dari mulut rahim. yang diakibatkan oleh beberapa
faktor antara lain: Infeksi pada mulut rahim, misalnya karena keputihan yang lama tidak
diobati.
Akibat termanipulasi oleh penis saat berhubungan intim, akibat pemasangan IUD dan akibat
pelepasan IUD. Sehingga menyebabkan luka pada porsio karena partus atau abortus. Cara
pengobatan servik dengan obat-obatan antibiotic serta antiseptic yang dimasukkan lewat
vagina, mulut(oral) dan parenteral.
Radang erosi serviks adalah sejenis penyakit yang sering terlihat. Mengikuti statistika,
setengah dari wanita yang telah menikah mengidap radang erosi serviks yang tingkatnya
berbeda-beda. Radang erosi serviks dikarenakan melahirkan, keguguran, infeksi masa nifas
ataupun operasi yang menyebabkan luka di rahim, patogen yang menginfeksi.

Berdasarkan tingkat radang dibagi ke tiga tingkat yaitu tingkat ringan, tingkat menengah dan
tingkat berat, erosi tingkat berat berarti permukaan erosi telah mencapai 2/3 atau lebih dari
permukaan rahim. Erosi tingkat berat biasanya pengobatan melalui obat konsumsi efek nya
kurang jelas, memilih pengobatan erosi rahim yang tepat sangat penting.
Jika terjadi erosi terlalu luas, selain diberikan obat-obatan antibiotic juga perlu di kauterisasi.
Ditetelin Albhotyl Cair dan suntikan Sankorbin (Vit. C dosis tinggi) sama dimasukin
Albhotyl Ovula selama 8x (2x seminggu pengobatan.
Erosi serviks uteri (cervicitis) adalah perubahan yang terjadi di mulut rahim dan biasanya di
diagnosis pada saat pemeriksaan dalam vagina (pemeriksaan ginekologi). Beberapa keluhan
yang dialami adalah keputihan berbau atau gatal, nyeri pinggang, nyeri perut bagian bawah,
infeksi saluran kencing berulang, nyeri saat hubungan seksual, sampai infertilitas.
Keluhan keputihan bisa sangat mengganggu dan bisa sampai bertahun-tahun. Keputihan yang
kental, dan berbau. Cairan ini berisi sel-sel darah putih, sel mati, sekresi peradangan, bakteri,
jamur, parasit atupun virus. Cairan ini sangat tidak sehat bagi kehidupan sperma, dan akan
sangat menyulitkan sperma untuk bergerak.
Erosi servik dapat menyebabkan terjadinya infertilitas oleh karena sebab tidak langsung,
yaitu infeksi yang biasanya ada bersama dengannya. Bila infeksi ini belum di terapi dengan
benar, maka erosi servik dapat menjadi penyebab kegagalan kehamilan spontan, inseminasi
bahkan bayi tabung. Namun disamping itu ada banyak faktor kegagalan bayi tabung, mulai
dari kualitas embryo, reseptivitas endometrium, dukungan fase luteal, sampai dengan faktor
imunologis dapat berpengaruh, disamping faktor-faktor yang lain.
Disamping itu, Erosi serviks disebabkan oleh inflamasi, sehingga sekresi serviks meningkat
secara signifikan, berbentuk mucus, mengandung banyak sel darah putih, sehingga ketika
sperma melewati serviks akan mengurangi vitalitas sperma dan menyulitkan perjalanan
sperma. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya infertilitas pada wanita.
Selama hamil, serviks menjadi lebih lunak, rapuh dan lebih rentan terhadap kuman dan
mudah erosi jika tersentuh. Erosi ini menimbulkan spotting/flek, misalnya karena
pemeriksaan dengan spekulum atau setelah senggama. Erosi juga bisa menyebabkan
peradangan/cervicitis.
article from: metropolehospital.com
Erosi servik adalah suatu proses peradangan atau suatu luka yang terjadi pada daerah porsio
serviks uteri (mulut rahim). Bila ibu sedang hamil, maka dapat ditemukan gejala erosi porsio
yang berupa keputihan. Hal ini disebabkan karena level estrogen yang tinggi dan berdampak
pada pelunakan serviks. Pada hubungan seksual dapat terjadi perdarahan karena serviks yang
lunak terkena trauma karena tekananan penis.
Pada wanita yang mengkonsumsi pil KB, erosi servik lebih umum terjadi pada wanita yang
mengkonsumsi pil KB dengan level estrogen yang tinggi, Pada ibu pengguna AKDR berisiko
terjadi erosi porsio karena iritasi porsio oleh benang AKDR, Bila ibu sudah menopause,
dikaji tentang penggunaan HRT (Hormone Replacement Therapy).
Infeksi kronis di vagina berisiko mengalami erosi porsio. Penggunaan ring enstrogen pada
serviks berisiko meningkatnya risiko erosi porsio. Ada riwayat keluarga yang menderita
kanker serviks, maka bila didapati tanda dan gejala dari erosi porsio maka perlu dicurigai
adanya tanda awal dari proses keganasan.
Frekuensi koitus dikaji untuk berapa kali ibu berhubungan seksual. Semakin sering ibu
berhubungan seksual, maka akan semakin tinggi risiko terjadinya erosi porsio karena trauma
dan tekanan dari penis ke area porsio menjadi semakin sering. Ibu yang mengalami erosi
porsio mayoritas mengeluhkan gejala:
1 Keputihan yang banyak dan lama, berbau (bila disertai infeksi jamur)
2 Perdarahan sedikit hingga banyak setelah berhubungan seksual
3 Perdarahan diantara siklus menstruasi, dapat berjumlah banyak atau sedikit.
4 Riwayat Menstruasi. Siklus mentruasi yang normal kadng dikacaukan dengan perdarahan
antara siklus adanya erosi servik

Erosi serviks uteri (cervicitis) adalah perubahan yang terjadi di mulut rahim dan biasanya di
diagnosis pada saat pemeriksaan dalam vagina (pemeriksaan ginekologi). Beberapa keluhan
yang dialami adalah keputihan berbau atau gatal, nyeri pinggang, nyeri perut bagian bawah,
infeksi saluran kencing berulang, nyeri saat hubungan seksual, sampai infertilitas. Keluhan
keputihan bisa sangat mengganggu dan bisa sampai bertahun-tahun.
Cairan ini berisi sel-sel darah putih, sel mati, sekresi peradangan, jamur,bakteri, parasit
atupun virus. Cairan ini sangat tidak sehat bagi kehidupan sperma, dan akan sangat
menyulitkan sperma untuk bergerak. Servik terletak dibagian antara vagina dan rahim(uterus)
yang berfungsi untuk sebagai tempat lalu lintas atau jalam vegina ke rahim seperti halnya
melintasnya darah haid, sperma, atau pun saat bayi keluar dari rahim.
Servik merupakan sebutan untuk leher rahim manusia, erosi servik atau disebut juga erosi
porsio adalah hilangnya sebagian atau seluruh permukaan epital squamous dari servik. Erosi
porsio disebut juga suatu proses peradangan atau suatu luka yang terjadi pada daerah porsio
servik uteri atau mulut rahim. Jaringan yang normal pada pada permukaan dan mulut servik
digantikan oleh jaringan yang mengalami inflamasi dari kanalis serviks.
Proses terjadinya erosi portio dapat disebabkanjuga karena adanya rangsangan dari luar
misalnya IUD. IUD yang mengandung polyethilien yang sudah berkarat membentuk ion Ca,
kemudian bereaksi dengan ion sel sehat PO4 sehingga terjadi denaturasi / koalugasi
membaran sel dan terjadilah erosi portio.
Bisa juga dari gesekan benang IUD yang menyebabkan iritasi lokal sehingga menyebabkan
sel superfisialis terkelupas dan terjadilah erosi portio. Dari posisi IUD yang tidak tepat
menyebabkan reaksi radang non spesifik sehingga menimbulkan sekresi sekret vagina yang
meningkat dan menyebabkan kerentanan sel superfisialis dan terjadilah erosi portio.
Etiologi
Servisitis disebabkan oleh kuman-kuman seperti : trikomonas vaginalis,
kandida dan mikoplasma atau mikroorganisme aerob dan anaerob endogen vagina seperti
streptococcus, enterococus, e.coli, dan stapilococus . Kuman-kuman ini menyebabkan
deskuamasi pada epitel gepeng dan perubahan inflamasi kromik dalam jaringan serviks yang
mengalami trauma.
Dapat juga disebabkan oleh robekan serviks terutama yang menyebabkan ectropion, alat-alat
atau alat kontrasepsi, tindakan intrauterine seperti dilatasi, dan lain-lain.
Servicitis dapat disebabkan oleh salah satu dari sejumlah infeksi, yang paling umum adalah :
a. Klamidia dan gonore, klamidia dengan akuntansi untuk sekitar 40% kasus. Gonorroe,
sediaan hapus dari fluor cerviks terutama purulen.
b. Trichomonas vaginalis dan herpes simpleks adalah penyebab yang kurang
umum dari cervicitis.
c. Peran Mycoplasma genitalium dan vaginosis bakteri dalam menyebabkan
servisitis masih dalam penyelidikan.
d. Sekunder terhadap kolpitis.
e. Tindakan intra dilatasi dll.
f. Alat-alat atau obat kontrasepsi.
g. Robekan serviks terutama yang menyebabkan ectroption/ extropin
Patofisiologi
Penyakit ini dijumpai pada sebagian besar wanita yang pernah melahirkan
dengan luka-luka kecil atau besra pada cerviks karena partus atau abortus memudahkan
masuknya kuman-kuman kedalam endocerviks dan kelenjar-kelenjarnya, lalu menyebabkan
infeksi menahun.

Beberapa gambaran patologis dapat ditemukan:
a. Cerviks kelihatan normal, hanya pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan infiltrasi
endokopik dalam stroma endocerviks. Cervicitis ini tidak menimbulkan gejala, kecuali
pengeluaran sekret yang agak putih kekuningan.
b. Disini pada portio uteri sekitar ostium uteri eksternum tampak daerah
kemerah-merahan yang tidak terpisah secara jelas dan epitel portio
disekitarnya, sekret dikeluarkan terdiri atas mukus bercampur nanah.
c. Sobekan pada cerviks uteri disini lebih luas dan mucosa endocerviks lebih
kelihatan dari luar (eksotropion). Mukosa dalam keadaan demikian itu mudah
kena infeksi dari vagina, karena radang menahun, cerviks bisa menjadi
hipertropis dan mengeras : sekret bertambah banyak.

D. Klasifikasi.
1. Cervicitis Akut.
Cervicities akut dalam pengertian yang lazim ialah infeksi yang diawali di
endocerviks dan ditemukan pada gonorrhoe, dan pada infeksi post-abortum atau post-partum
yang disebabkan oleh Streptoccocus, Stafilococcus, dan lain-lain. Dalam hal ini, serviks
memerah dan bengkak dengan mengeluarkan cairan mukopurulent. Akan tetapi, gejala-gejala
pada serviks biasanya tidak seberapa tampak di tengah gejala-gejala lain dari infeksi yang
bersangkutan.
Pengobatan dilakukan dalam rangka pengobatan infeksi tersebut. Penyakitnya dapat
sembuh tanpa bekas atau menjadi cervicitis kronis. Cervicitis akut sering terjadi dan dicirikan
dengan eritema, pembengkakan, sebukan neutrofil, dan ulserasi epitel fokal. Endocerviks
lebih sering terserang dibandingkan ektocerviks. Cervicitis akut biasanya merupakan infeksi
yang ditularkan secara seksual, umumnya oleh Gonoccocus, Chlamydia trachomatis, Candida
albicans, Trichomonas vaginalis, dan Herpes simpleks. Agen yang ditularkan secara non-
seksual, seperti E. Coli dan Stafilococcus dapat pula diisolasi dari cerviks yang meradang
akut, tetapi perannya tidak jelas. Cervicitis akut juga terjadi setelah melahirkan dan
pembedahan.
Secara klinis, terdapat secret vagina purulen dan rasa nyeri. Beratnya gejala tidak terkait erat
dengan derajat peradangan.
2. Cervicitis Kronis.
Penyakit ini dijumpai pada wanita yang pernah melahirkan. Luka-luka kecil atau
besar pada serviks karena partus abortus memudahkan masuknya kuman-kuman ke dalam
endocerviks dan kelenjar-kelenjarnya, lalu menyebabkan infeksi menahun. Beberapa
gambaran patologis dapat ditemukan :
a. Serviks kelihatan normal; hanya pada pemeriksaan mikroskopik ditemukan infiltrasi leukosit
dalam stroma endoserviks. Cervicitis ini tidak menimbulkan gejala, kecuali pengeluaran
secret yang agak putih-kuning.
b. Disini pada portio uteri sekitar ostium uteri eksternum tampak daerah kemerah-merahan yang
tidak dipisahkan secara jelas dari epitel portio disekitarnya, secret yang ditularkan terdiri atas
mucus bercampur nanah.
c. Sobekan pada serviks uteri disini lebih luas dan mukosa endosekviks lebih kelihatan dari
luar. Mukosa dalam keadaan demikian mudah kena infeksi dari vagina. Karena radang
menahun, serviks bisa menjadi hipertrofis dan mengeras ; secret mukopurulen bertambah
pendek.

Pada proses penyembuhan, epitel tatah dari bagian vaginal portio uteri dengan tanda-
tanda metaplasia mendesak epitel torak, tumbuh kedalam stroma dibawah epitel dan menutup
saluran kelenjar-kelenjar, sehingga terjadi kista kecil berisi cairan yang kadang-kadang keruh.
Limfosit, sel plasma, dan histiosit terdapat dalam jumlah sedang didalam serviks semua
wanita. Oleh karena itu, cervisitis kronis sulit ditentukan secara patologis keberadaan
kelainan serviks yang dapat dideteksi seperti granularitas dan penebalan seiring dengan
meningkatnya jumlah sel radang kronis didalam specimen biopsy dianggap penting untuk
memastikan diagnosis cervisitis kronis.
Cervisitis kronis paling sering terlihat pada ostium eksternal dan canalis endoserviks.
Hal tersebut dapat terkait dengan stenosis fibrosa saluran kelenjar, yang menyebabkan kista
retensi (nabothian). Bila terdapat folikel limfoid pada pemeriksaan mikroskopik, istilah
cervisitis folikular terkadang digunakan. Secara klinis, cervisitis kronis sering kali merupakan
temuan kebetulan. Namun, cervisitis tersebut dapat menimbulkan secret vaginal, dan
beberapa kasus fibrosis yang terdapat pada canalis endoserviks dapat menyebabkan stenosis,
yang menimbulkan inferilitas.

E. Gejala Klinis
1. Keputihan hebat, biasanya kental dan biasanya berbau, sering menimbulkan erosi pada portio
yang tampak seperti daerah merah menyala. Pada pemeriksaan inspekulo kadang-kadang
dapat dilihat keputihan yang kental keluar dari kanalis servikalis. Kalau portio normal tidak
ada ectropion (mukosa kanalis servikalis tampak dari luar), maka harus diingat kemungkinan
gonorroe
2. Gejala-gejala non spesifik seperti nyeri punggung, dan gangguan kemih, perdarahan saat
melakukan hubungan seks.

F. Faktor Resiko
Beberapa faktor yang mempengaruhi insiden kanker serviks yaitu:
1. Usia.
2. Jumlah perkawinan
3. Hygiene dan sirkumsisi
4. Status sosial ekonomi
5. Pola seksual
6. Terpajan virus terutama virus HIV
7. Merokok
G. Tanda dan Gejala
1. Perdarahan
2. Keputihan yang berbau dan tidak gatal
3. Cepat lelah
4. Kehilangan berat badan
5. Anemia

H. Manifestasi Klinis
Dari anamnesis didapatkan keluhan metroragi, keputihan warna putih atau
puralen yang berbau dan tidak gatal, perdarahan pascakoitus, perdarahan spontan, dan bau
busuk yang khas. Dapat juga ditemukan keluhan cepat lelah, kehilangan berat badan, dan
anemia. Pada pemeriksaan fisik serviks dapat teraba membesar, ireguler, terraba lunak. Bila
tumor tumbuh eksofitik maka terlihat lesi pada porsio atau sudah sampai vagina. Diagnosis
harus dipastikan dengan pemeriksaan histologi dan jaringan yang diperoleh dari biopsi.

I. Prognosis
Karsinoma serviks yang tidak dapat diobati atau tidak memberikan respons
terhadap pengobatan 95% akan mengalami kematian dalam 2 tahun setelah timbul gejala.
Pasien yang menjalani histerektomi dan memiliki rasio tinggi terjadinya rekurensi harus terus
diawasi karena lewat deteksi dini dapat diobati dengan radioterapi. Setelah histerektomi
radikal, terjadinya 80% rekurensi dalam 2 tahun.

J. Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan Khusus:
a. Pemeriksaan dengan speculum
b. Sediaan hapus untuk biakan dan tes kepekaan
c. Pap smear
d. Biakan damedia
e. Biopsy
2. Sitologi, dengan cara tes pap
Tes Pap : Tes ini merupakan penapisan untuk mendeteksi infeksi HPV dan prakanker serviks.
Ketepatan diagnostik sitologinya 90% pada displasia keras (karsinoma in situ) dan 76% pada
dysplasia ringan / sedang. Didapatkan hasil negatif palsu 5-50% sebagian besar disebabkan
pengambilan sediaan yang tidak adekuat. Sedangkan hasil positif palsu sebesar 3-15%.
3. Kolposkopi
4. Servikografi
5. Pemeriksaan visual langsung
6. Gineskopi
7. Pap net (Pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive)

K. Diagnosa Banding
1. Karsinoma
2. Lesi tuberculosis
3. Herpes progenitalis

L. Pencegahan
Pencegahan terhadap kanker serviks dapat dilakukan dengan program skrinning dan
pemberian vaksinasi. Di negara maju, kasus kanker jenis ini sudah mulai menurun berkat
adanya program deteksi dini melalui pap smear. Vaksin HPV akan diberikan pada
perempuan usia 10 hingga 55 tahun melalui suntikan sebanyak tiga kali, yaitu pada bulan ke
nol, satu, dan enam. Dari penelitian yang dilakukan, terbukti bahwa respon imun bekerja dua
kali lebih tinggi pada remaja putri berusia 10 hingga 14 tahun dibanding yang berusia 15
hingga 25 tahun.



M. Pengobatan
Luka yang terinfeksi seperti halnya luka bedah yang terinfeksi lainnya, harus
diatasi dengan pemasangan brainase. Salah satu terapi kombinasi antibiotik berspektrum luas.
Harus diberikan kepada keadaan ini. Rasa nyeri diringankan dengan penggunaan preparat
analgesik yng efektif dan bila terjadi retensi urin, pemasangan indwelling catheter harus
dilakukan.
Penatalaksanaan juga dapat melakukan :
1. Antibiotika terutama kalau dapat ditemukan gonococcus dalam secret
2. Kalau cervicitis tidak spesifik dapat diobati dengan rendaman dalam AgNO
3
10 % dan
irigasi.
3. Cervicis yang tak mau sembuh ditolong operatif dengan melakukan konisasi, kalau sebabnya
ekstropion dapat dilakukan lastik atau amputasi.
4. Erosion dapat disembuhkan dengan obat keras seperti, AgNO
3
10 % atau Albothyl yang
menyebabkan nekrose epitel silindris dengan harapan bahwa kemudian diganti dengan epitel
gepeng berlapis banyak
5. Servisitis kronika pengobatannya lebih baik dilakukan dengan jalan kauterisasi-radial dengan
termokauter atau dengan krioterapi.