Anda di halaman 1dari 67

Buletin Konsumsi Pangan

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian






KATA PENGANTAR



Dalam rangka meningkatkan pelayanan data dan informasi pertanian, Pusat Data dan
Sistem Informasi Pertanian pada tahun 2014 menerbitkan Buletin Konsumsi Pangan yang
terbit setiap triwulan. Buletin konsumsi pangan ini merupakan terbitan tahun kelima, berisi
informasi gambaran umum konsumsi pangan di Indonesia, konsumsi rumah tangga dan
ketersediaan konsumsi per kapita serta ketersediaan di negara-negara dunia terutama untuk
komoditas yang banyak di konsumsi masyarakat. Pada edisi volume 5 nomor 2 tahun 2014 ini
disajikan perkembangan konsumsi Kedelai, Cabe, Nanas, Kelapa Sawit dan Daging Sapi
sampai dengan data tahun 2013 serta prediksi tahun 2014 sampai 2016 untuk Susenas,
sedangkan NBM Prediksi tahun 2013 sampai 2016. Data yang disajikan dalam buletin ini
diolah oleh Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian, Kementerian Pertanian bersumber dari
publikasi hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS) BPS, Neraca Bahan Makanan (NBM)
Badan Ketahanan Pangan, website FAO (Food Agriculture Organization) dan website USDA
(United States Departement of Agriculture).
Besar harapan kami bahwa buletin ini dapat bermanfaat bagi para pengguna baik di
lingkup Kementerian Pertanian maupun para pengguna lainnya. Kritik dan saran yang
membangun sangat kami harapkan guna penyempurnaan di masa mendatang.




Jakarta, Juni 2014
Kepala Pusat Data dan Sistem
Informasi Pertanian,




Ir. M. Tassim Billah, MSc











Buletin Konsumsi Pangan

Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian




















Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 1


BAB I. PENJELASAN UMUM
angan merupakan salah satu
kebutuhan dasar manusia, karena
itu pemenuhan atas pangan yang
cukup, bergizi dan aman menjadi hak asasi
setiap rakyat Indonesia untuk mewujudkan
sumberdaya manusia yang berkualitas
untuk melaksanakan pembangunan
nasional.
Kebutuhan pangan merupakan
penjumlahan dari kebutuhan pangan untuk
konsumsi langsung, kebutuhan industri dan
permintaan lainnya. Konsumsi langsung
adalah jumlah pangan yang dikonsumsi
langsung oleh masyarakat.
Seiring dengan peningkatan jumlah
penduduk dan kesejahteraan masyarakat,
maka kebutuhan terhadap jenis dan
kualitas produk makanan juga semakin
meningkat dan beragam. Oleh karena itu
salah satu target Kementerian Pertanian
tahun 2010 - 2014 adalah peningkatan
diversifikasi pangan, terutama untuk
mengurangi konsumsi beras dan terigu.
Selama tahun 2010-2014, konsumsi beras
ditargetkan turun 1,5% per tahun yang
diimbangi dengan peningkatan konsumsi
umbi-umbian, pangan hewani, buah-
buahan dan sayuran. Selain itu juga
diupayakan tercapainya pola konsumsi
pangan beragam, bergizi, seimbang dan
aman yang tercermin oleh meningkatnya
skor Pola Pangan Harapan (PPH) dari 86,4
pada tahun 2010 menjadi 93,3 pada tahun
2014 (Renstra Kementerian Pertanian,
2010).

Tabel 1.1. Sasaran Skor Pola Pangan Harapan (PPH)
2010 2011 2012 2013 2014
Padi-padian 54,9 53,9 52,9 51,9 51,0
Umbi-umbian 5,0 5,2 5,4 5,6 5,8
Pangan Hewani 9,6 10,1 10,6 11,1 11,5
Minyak dan Lemak 10,1 10,1 10,1 10,0 10,0
Buah/Biji Berminyak 2,8 2,9 2,9 2,9 3,0
Kacangan-kacangan 4,3 4,4 4,6 4,7 4,9
Gula 4,9 4,9 5,0 5,0 5,0
Sayur dan Buah 5,2 5,4 5,5 5,7 5,8
Lain-lain 2,9 2,9 2,9 2,9 3,0
SKOR PPH 86,4 88,1 89,8 91,5 93,3
MAKANAN
TAHUN

Sumber : Renstra Kementerian Pertanian, 2010

P
Buletin Konsumsi Pangan

2 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

1.1. Sumber Data
Data yang digunakan dalam buletin
ini adalah publikasi dari hasil Survei Sosial
Ekonomi Nasional, BPS (Data Susenas yang
digunakan terbitan bulan Maret), Neraca
Bahan Makanan (NBM-BKP), website FAO
(Food Agriculture Organization) dan
website USDA (United States Departement
of Agriculture).
Sejak tahun 2011, BPS melaksana-
kan Susenas setiap triwulan, namun dalam
publikasi buletin ini digunakan data hasil
Susenas Bulan Maret, dengan meng-
gunakan kuesioner modul konsumsi/
pengeluaran rumah tangga. Pengumpulan
data dalam Susenas dilakukan melalui
wawancara dengan kepala rumah tangga
dengan cara mengingat kembali (recall)
seminggu yang lalu pengeluaran untuk
makanan dan sebulan untuk konsumsi
bukan makanan. Data konsumsi/
pengeluaran yang dikumpulkan dibagi
menjadi 2 kelompok, yaitu (1) pengeluaran
makanan (215 komoditas yang dikumpulkan
kuantitas dan nilai rupiahnya) dan (2)
pengeluaran konsumsi bukan makanan
(yang dikumpulkan nilai rupiahnya, kecuali
listrik, gas, air dan BBM dengan
kuantitasnya).
Data konsumsi rumah tangga yang
bersumber dari Susenas (BPS) disajikan per
kapita per minggu. Selanjutnya dalam
penyajian publikasi ini untuk menjadi per
kapita per tahun dikalikan dengan 365/7.
Neraca Bahan Makanan (NBM)
memberikan informasi tentang situasi
pengadaan/penyediaan pangan, baik yang
berasal dari produksi dalam negeri, impor-
ekspor dan stok serta penggunaan pangan
untuk kebutuhan pakan, bibit, penggunaan
untuk industri, serta informasi ketersediaan
pangan untuk konsumsi penduduk suatu
negara/wilayah dalam kurun waktu
tertentu. Cara perhitungan NBM adalah
sebagai berikut :

1. Penyediaan (supply) :
Ps = P- St + I E
dimana :
Ps = total penyediaan dalam negeri
P = produksi
St = stok akhir stok awal
I = Impor
E = ekspor

2. Penggunaan (utilization)
Pg = Pk + Bt + Id + Tc + K
dimana :
Pg = total penggunaan
Pk = pakan
Bt = bibit
Id = industri
Tc = tercecer
K = ketersediaan bahan makanan.

Untuk komponen pakan, bibit dan
tercecer dapat digunakan besaran
konversi persentase terhadap
penyedian dalam negeri, seperti pada
Tabel 1.2.

3. Ketersediaan pangan per kapita,
diperoleh dari ketersediaan dibagi
dengan jumlah penduduk. Jumlah
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 3

penduduk tahun 2010 sebesar 237.641
ribu jiwa (Sensus Penduduk 2010,
BPS). Selanjutnya jumlah penduduk
tahun 2011 sampai tahun 2016 hasil
proyeksi Bappenas, seperti tersaji pada
Tabel 1.3.


Tabel 1.2. Besaran konversi komponen penggunaan
(persentase terhadap penyediaan dalam negeri)
Pakan
0,34
Tercecer 5,00
Bibit 0,71
Tercecer 5,27
Nanas Tercecer 5,20
Minyak Sawit Tercecer 2,39
Minyak Goreng Sawit Tercecer 1,55
Daging Sapi Tercecer 5,00
Komoditas Komponen
Angka Konversi
(%)
Kedelai
Cabe

Sumber : Neraca Bahan Makanan, BKP Kementan

Tabel 1.3. Proyeksi Jumlah Penduduk, 2011 2016

Tahun
Jumlah Penduduk
(000 jiwa)
Tahun
Jumlah Penduduk
(000 jiwa)
2011 241.991 2014 252.165
2012 245.425 2015 255.462
2013 248.818 2016 258.705

Sumber : Proyeksi Bappenas dan BPS

1.2. Ruang Lingkup Publikasi

Pada edisi volume 5 no. 2 tahun
2014 disajikan informasi perkembangan
pola konsumsi masyarakat Indonesia,
konsumsi rumah tangga per kapita per
tahun, ketersediaan konsumsi per kapita
per tahun dan prediksi 3 tahun ke depan
tahun 2014, 2015 dan 2016 serta konsumsi
di negara-negara di dunia untuk komoditas
yang di bahas. Komoditas yang dianalisis
antara lain kedelai, cabe, nenas, kelapa
sawit dan daging sapi. Model terpilih dalam
melakukan prediksi data konsumsi per
kapita disajikan pada Tabel 1.4 dan 1.5.



Buletin Konsumsi Pangan

4 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 1.4. Model terpilih dalam prediksi konsumsi per kapita per minggu beberapa komoditas
pangan berdasarkan data Susenas
Uraian Kedelai Tahu Tempe
Cabe
Merah
Cabe
Hijau
Cabe
Rawit
Nanas
Minyak
lainnya
(sawit)
Daging
Sapi
Model terpilih
Trend
Kuadratik
DES DES
Trend
Liniar
DES
Trend
Liniar
Trend
Eksponential
DES
Trend
Kuadratik
MAPE 15,4408 5,2299 3,9666 7,52394 7,81597 6,43348 13,866 3,6408 14,2870
MAD 0,0002 0,0071 0,0055 0,01736 0,00339 0,01457 0,001 0,0047 0,0973
MSD 0,0000 0,0001 0,0001 0,00047 0,00002 0,00035 0,000 0,0001 0,0164
Keterangan : ARIMA : Autoregressive Integrated Moving Avarage MAD : Mean Absolute Deviation
SES : Single Exponential Smoothing MSD : Mean Square Deviation
DES : Double Exponential Smoothing MA : Moving Avarage
MAPE : Mean Absolute Percentage Error



Tabel 1.5. Model terpilih prediksi penyediaan dan penggunaan beberapa komoditas pangan
berdasarkan data Neraca Bahan Makanan

Kedelai Cabe Nanas Minyak sawit Minyak Goreng Sawit Daging Sapi
Keluaran
Model
Trend
Kuadratik DES
MAPE 15,20 26,70
MAD 140,60 205,80
MSD 40381,50 89055,30
Impor
Model
DES
Trend
Kuadratik
Winter Method
Trend Linear
MAPE 27 39,95 458,23 39,95
MAD 257 19,91 23,36 19,91
MSD 119.804 810,96 721,51 810,96
Ekspor
Model Trend Linear
Trend
Eksponential
Trend
Kuadratik
MAPE 45,96 17,82 17
MAD 2,41 26,51 679
MSD 9,06 1188,57 742030
Stok
Model
Trend
Eksponential
MAPE 33
MAD 60
MSD 15463
Pakan Persentase
0,34% dr total
penyediaan
Tercecer
Persentase
5,00% dr total
penyediaan
5,27% dr total
penyediaan
5,20% dr total
penyediaan
2,39% dr total
penyediaan
1,55% dr total
penyediaan
5,00% dr total
penyediaan
Bibit
Model
MAPE
MAD
MSD
Persentase
MAPE
MAD
MSD
Model
DES DES Trend S-Curve
MAPE 96,5 263,69 40
MAD 92,2 48,66 6
MSD 24.568 3.976 58
Model
MAPE
MAD
MSD
Angka Proyeksi
Bidang Data
Komoditas
1,23% dr total
penyediaan
Angka
Proyeksi
Bidang Data
Komoditas
Asumsi tidak
terjadi
perubahan
ekspor selama
2013-2016
Bahan Makanan
Diolah untuk
Bukan Makanan
95,00% dr total
penyediaan
0,71% dr total
penyediaan
Diolah untuk
Makanan
68,28% dari masukan,
masukan mrpkn data
diolah untuk makanan
dr neraca minyak sawit
74,93% dari
masukan
Uraian

Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 5

BAB II. POLA KONSUMSI MASYARAKAT INDONESIA


2.1. Perkembangan Kesejahteraan
Masyarakat Indonesia

Sesuai hukum ekonomi yang
dinyatakan oleh Ernst Engel (1857), yaitu
bila selera tidak berbeda maka persentase
pengeluaran untuk makanan menurun
dengan semakin meningkatnya pendapatan.
Hal ini dapat digunakan dalam meng-
gambarkan kesejahteraan masyarakat.
Berdasarkan data Susenas,
pengeluaran penduduk Indonesia untuk
makanan dan non makanan selama tahun
2002 - 2013 menunjukkan pergeseran,
pada awalnya persentase pengeluaran
untuk makanan lebih besar dibandingkan
pengeluaran untuk non makanan, namun
mulai tahun 2007 menunjukkan pergeseran,
dimana persentase pengeluaran non
makanan seimbang dengan pengeluaran
makanan terhadap total pengeluaran
penduduk Indonesia per kapita per tahun.
Persentase untuk makanan pada tahun
2002 sebesar 58,47% dan non makanan
sebesar 41,53% sedangkan pada tahun
2013 persentase untuk makanan menjadi
50,66% dan non makanan sebesar 49,34%,
seperti tersaji pada Gambar 2.1.
Besarnya rata-rata pengeluaran per kapita
per bulan tahun 2013 untuk bahan
makanan sebesar Rp. 356.435,- dan non
makanan sebesar Rp. 347.126,-.


Gambar 2.1. Perkembangan persentase pengeluaran penduduk Indonesia
untuk makanan dan non makanan, tahun 2002 2013

Persentase pengeluaran penduduk
Indonesia untuk makanan tahun 2013
terbesar adalah pengeluaran untuk
makanan dan minuman jadi yaitu sebesar
25,88%, disusul padi-padian sebesar
16,26%, tembakau dan sirih sebesar
Buletin Konsumsi Pangan

6 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

16,26
0,88
7,96
3,72
6,04
8,74
2,65
4,60 3,24
3,76
1,90
2,05
25,88
12,32
Padi-padian Umbi-Umbian Ikan
Daging Telur dan susu Sayur-sayuran
Kacang-kacangan Buah-buahan Minyak dan lemak
Bahan minuman Bumbu-bumbuan Konsumsi lainnya
Makanan dan minuman jadi Tembakau dan sirih
20,61%
1,14%
7,94%
3,96%
6,03%
7,87%
2,99% 5,20%
3,42%
4,48%
2,24%
2,72%
21,28%
10,10%
Padi-padian Umbi-Umbian Ikan
Daging Telur dan susu Sayur-sayuran
Kacang-kacangan Buah-buahan Minyak dan lemak
Bahan minuman Bumbu-bumbuan Konsumsi lainnya
Makanan dan minuman jadi Tembakau dan sirih
12,32%, sayur-sayuran sebesar 8,74%,
ikan sebesar 7,96%, telur dan susu sebesar
6,04%, sementara kelompok makanan
lainnya kurang dari 5% (Gambar 2.2).

Tahun 2007 Tahun 2013

Gambar 2.2. Persentase pengeluaran kelompok pangan terhadap total pengeluaran pangan
Tahun 2007 dan 2013


Perkembangan pengeluran nominal
bahan makanan per kapita per bulan tahun
2008 sampai tahun 2013 mengalami rata-
rata pertumbuhan sebesar 12,99%,
meskipun secara riil hanya meningkat
sebesar 4,78%. Pengeluaran per kapita per
bulan untuk kelompok padi-padian, umbi-
umbian dan bumbu-bumbuan secara
nominal mengalami peningkatan namun
secara riil mengalami penurunan. Hal ini
menunjukkan terjadinnya penurunan
kuantitas konsumsi pada kelompok bahan
makanan tersebut. Indikasi penurunan
kuantitas konsumsi juga terjadi pada
kelompok bahan makanan lainnya
mengingat peningkatan pengeluaran riil
yang lebih lambat dibandingkan
peningkatan pengeluaran nominal
(Tabel 2.1).












Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 7

Tabel 2.1. Perkembangan pengeluaran nominal dan riil kelompok bahan makanan per kapita
per bulan, 2008 2013

Nominal IHK Riil Nominal IHK Riil Nominal IHK Riil Nominal IHK Riil Nominal IHK Riil Nominal IHK Riil Nominal Riil
1 Padi-padian 36.970 110 33.621 38.122 114 33.405 44.004 134 32.824 44.427 154 28.881 57.908 171 33.898 57.956 178 32.488 9,99 (0,24)
2 Umbi-Umbian 2.040 110 1.855 2.180 114 1.910 2.422 134 1.807 3.008 154 1.955 2.785 171 1.630 3.151 178 1.766 9,58 (0,50)
3 Ikan 15.315 123 12.441 18.454 132 13.994 21.467 133 16.184 25.369 143 17.690 26.600 152 17.474 28.356 167 17.015 13,29 6,72
4 Daging 7.104 125 5.694 8.114 129 6.286 10.370 137 7.585 10.972 142 7.716 13.075 152 8.599 13.252 172 7.720 13,67 6,80
5 Telur dan susu 12.048 124 9.699 14.056 124 11.314 15.834 127 12.481 17.106 133 12.830 19.024 140 13.571 21.540 149 14.420 12,36 8,36
6 Sayur-sayuran 15.539 120 12.949 16.813 129 13.069 18.995 144 13.170 25.563 157 16.332 23.949 166 14.445 31.158 194 16.090 15,91 5,11
7 Kacang-kacangan 5.978 153 3.896 6.759 155 4.361 7.387 159 4.647 7.500 170 4.404 8.443 183 4.606 9.444 204 4.620 9,66 3,63
8 Buah-buahan 8.779 115 7.651 8.821 126 7.015 12.335 137 9.005 12.759 149 8.558 15.443 159 9.712 16.379 190 8.623 14,17 3,47
9 Minyak dan lemak 8.336 131 6.344 8.416 122 6.884 9.486 122 7.759 11.342 138 8.215 12.344 141 8.766 11.545 140 8.257 7,12 5,60
10 Bahan minuman 8.221 108 7.598 8.691 126 6.895 11.195 130 8.629 10.681 133 8.015 10.934 141 7.760 13.385 147 9.110 10,94 4,60
11 Bumbu-bumbuan 4.312 117 3.691 4.643 125 3.707 5.390 164 3.280 6.268 165 3.796 6.440 151 4.274 6.783 224 3.031 9,62 (2,37)
12 Konsumsi lainnya 5.356 107 5.000 5.720 112 5.093 6.368 116 5.483 6.381 123 5.176 6.962 132 5.284 7.302 138 5.294 6,46 1,24
13 Makanan & minuman jadi 44.193 118 37.518 54.326 124 43.674 63.286 130 48.693 81.536 136 59.861 80.532 142 56.697 92.254 151 61.063 16,32 10,65
14 Tembakau dan sirih 19.636 113 17.408 22.604 121 18.618 25.982 127 20.523 30.647 137 22.378 39.038 150 26.090 43.930 161 27.221 17,58 9,43
Jumlah Makanan 193.827 121 160.706 217.719 125 173.994 254.521 137 185.890 293.556 149 197.521 323.478 157 205.618 356.435 176 202.370 12,99 4,78
Rata-rata
Pertumbuhan 2008-
2013 (%)
No. Kelompok Barang
2008 2009 2010
Pengeluaran Pengeluaran Pengeluaran
2011 2012 2013
Pengeluaran Pengeluaran Pengeluaran

Sumber: BPS, diolah Pusdatin

2.2. Perkembangan Konsumsi Kalori
& Protein Masyarakat Indonesia

Berdasarkan data Susenas,
konsumsi kalori dan protein penduduk
Indonesia memperlihatkan adanya
perubahan dari tahun 2007 dan 2013. Pada
Tabel 2.2 menunjukan adanya penurunan
konsumsi kalori dan protein per hari pada
tahun 2013 dibandingkan tahun 2007.
Pada tahun 2007 rata-rata konsumsi kalori
penduduk Indonesia sebesar 2.014,91 kkal,
sedangkan pada tahun 2013 menjadi
1.842,75 kkal atau turun sebesar 172,16
kkal. Penurunan kalori tertinggi terjadi
pada kelompok padi-padian sebesar 76,58
kkal, bahan minuman sebesar 25,59 kkal,
kacang-kacangan sebesar 21,49 kkal dan
umbi-umbian sebesar 21,40. Sementara
konsumsi kalori makanan dan minuman
jadi meningkat sebesar 45,86 kkal.

Tabel. 2.2. Rata-rata Konsumsi Kalori (kkal) dan Protein (gram) per kapita sehari menurut
kelompok makanan, Maret 2007 dan Maret 2013
2007 2013 Perubahan 2007 2013 Perubahan
1 Padi-padian 953,16 876,58 -76,58 22,43 20,57 -1,86
2 Umbi-Umbian 52,49 31,09 -21,40 0,40 0,27 -0,13
3 Ikan 46,71 44,09 -2,62 7,77 7,34 -0,43
4 Daging 41,89 39,96 -1,93 2,62 2,47 -0,15
5 Telur dan susu 56,96 53,50 -3,46 3,23 3,08 -0,15
6 Sayur-sayuran 46,39 34,96 -11,43 3,02 2,27 -0,75
7 Kacang-kacangan 73,02 51,53 -21,49 6,51 4,93 -1,58
8 Buah-buahan 49,08 35,65 -13,43 0,57 0,40 -0,17
9 Minyak dan lemak 246,34 227,99 -18,35 0,46 0,25 -0,21
10 Bahan minuman 113,94 88,35 -25,59 1,13 1,04 -0,09
11 Bumbu-bumbuan 17,96 14,32 -3,64 0,76 0,62 -0,14
12 Konsumsi lainnya 70,93 52,83 -18,10 1,43 1,09 -0,34
13 Makanan dan minuman jadi 246,04 291,90 45,86 7,33 8,75 1,42
Jumlah 2.014,91 1.842,75 -172,16 57,66 53,08 -4,58
No. Kelompok Barang
Kalori (kkal) Protein (gram)

Sumber: Susenas, BPS
Buletin Konsumsi Pangan

8 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

47.57%
1.69%
2.39%
2.17%
2.90%
1.90%
2.80%
1.93%
12.37%
4.79%
0.78%
2.87%
15.84%
Padi-padian Umbi-Umbian Ikan
Daging Telur dan susu Sayur-sayuran
Kacang-kacangan Buah-buahan Minyak dan lemak
Bahan minuman Bumbu-bumbuan Konsumsi lainnya
Makanan dan minuman jadi
47.31%
2.61%
2.32%
2.08%
2.83%
2.30%
3.62%
2.44% 12.23%
5.65%
0.89%
3.52%
12.21%
Padi-padian Umbi-Umbian Ikan
Daging Telur dan susu Sayur-sayuran
Kacang-kacangan Buah-buahan Minyak dan lemak
Bahan minuman Bumbu-bumbuan Konsumsi lainnya
Makanan dan minuman jadi
38.75 0.51
13.83
4.65
5.80
4.28
9.29
0.75
0.47
1.96
1.17
2.05
16.48
Padi-padian Umbi-Umbian Ikan
Daging Telur dan susu Sayur-sayuran
Kacang-kacangan Buah-buahan Minyak dan lemak
Bahan minuman Bumbu-bumbuan Konsumsi lainnya
Makanan dan minuman jadi
38.90%
0.69%
13.48%
4.54%
5.60%
5.24%
11.29% 0.99%
0.80%
1.96%
1.32%
2.48%
12.71%
Padi-padian Umbi-Umbian Ikan
Daging Telur dan susu Sayur-sayuran
Kacang-kacangan Buah-buahan Minyak dan lemak
Bahan minuman Bumbu-bumbuan Konsumsi lainnya
Makanan dan minuman jadi
Pada tahun 2013 rata-rata
konsumsi protein penduduk Indonesia
sebesar 53,08 gram/hari atau turun 4,58
gram/hari dari tahun 2007 yang sebesar
57,66 gram/hari (Tabel 2.2). Penurunan
konsumsi protein tertinggi per hari terjadi
pada kelompok padi-padian sebesar 1,86
gram dan kacang-kacangan sebesar 1,58
gram, diikuti penurunan konsumsi protein
pada kelompok sayur-sayuran 0,75 gram,
serta kelompok lainnya masing-masing
dibawah 0,45 gram, sedangkan konsumsi
protein makanan dan minuman jadi
mengalami peningkatn sebesar 1,42 gram.
Secara rinci dapat dilihat pada Gambar 2.3
dan Gambar 2.4.

Tahun 2007 Tahun 2013
Gambar 2.3. Persentase konsumsi kalori penduduk Indonesia
Tahun 2007 dan 2013

Tahun 2007 Tahun 2013
Gambar 2.4. Persentase konsumsi protein penduduk Indonesia
Tahun 2007 dan 2013
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 9


BAB III. KEDELAI


edelai (Glycine max) adalah salah
satu tanaman polong-polongan
yang menjadi bahan dasar
banyak makanan dari Asia timur seperti
kecap, tahu, dan tempe. Kedelai
merupakan sumber utama protein nabati
dan minyak nabati dunia. Penghasil kedelai
utama dunia adalah Amerika Serikat
meskipun kedelai praktis baru
dibudidayakan masyarakat di luar Asia
setelah 1910 http://id.wikipedia.org/
wiki/Kedelai.
Kacang kedelai bagi industri
pengolahan pangan di Indonesia banyak
digunakan sebagai bahan baku pembuatan
tahu, tempe, kecap, tauco dll. Jenis industri
yang tergolong skala kecil - menengah
namun dalam jumlah sangat banyak
menyebabkan tingginya tingkat kebutuhan
konsumsi kedelai nasional. Pada tahun
2012, total kebutuhan kedelai nasional
diperkirakan mencapai 2,2 juta ton. Jumlah
tersebut akan diserap untuk
pangan/pengrajin tahu dan tempe sebesar
83,7% (1.849.843 ton); Industri kecap,
tauco, dan lainnya sebesar 14,7%
(325.220 ton); benih sebesar 1,2%
(25.843 ton); dan untuk pakan 0,4%
(8.319 ton) http://www.infobanknews.com.
Kapasitas produksi nasional tahun 2013
hanya mampu menghasilkan 780 ribu ton
dari areal panen kedelai seluas 551 ribu
hektar, sehingga kekurangan kebutuhan
kedelai nasional dipasok dari impor sebesar
1,11 juta ton. Lonjakan importasi kedelai
disebabkan peningkatan konsumsi produk
industri rumahan (tahu, tempe), yang jenis
makanan ini semakin banyak atau populer
digunakan sebagai substitusi untuk produk
hewani pada beberapa kondisi.


3.1. Perkembangan dan Prediksi
Konsumsi Kedelai dalam Rumah
Tangga di Indonesia

Pemanfaatan utama kedelai adalah
dari biji. Biji kedelai kaya protein dan
lemak serta beberapa bahan gizi penting
lain, misalnya vitamin (asam fitat) dan
lesitin. Olahan biji kedelai dapat dibuat
menjadi tahu, kecap, tempe, susu kedelai,
tepung kedelai, minyak, taosi dan tauco.
Pada analisis ini akan membahas konsumsi
kedelai segar dan kedelai olahan (tahu,
tempe, tauco, oncom, dan kecap).
Konsumsi wujud kedelai olahan dikompilasi
menjadi ekuivalen kedelai segar dengan
faktor konversi tersaji pada Tabel 3.1.





K
Buletin Konsumsi Pangan

10 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 3.1. Faktor konversi konsumsi
Bahan Makanan yang
Mengandung Kedelai

1 Kedelai segar kg 1000 1,00
2 Tahu kg 1000 0,35
3 Tempe kg 1000 0,50
4 Tauco ons 100 0,20
5 Oncom ons 100 8,00
6 Kecap 140ml 140 1,00
Sumber: PSKPG, IPB
No Janis Pangan Satuan
Konversi
(Gram)
Konversi ke
bentuk asal

Besarnya konsumsi kedelai segar di
tingkat rumah tangga di Indonesia selama
tahun 2002-2013 sangat rendah dan relatif
stabil. Rata-rata konsumsi kedelai segar
tahun 2002-2013 adalah sebesar 0,06
kg/kapita/th. Peningkatan terbesar
konsumsi kedelai segar terjadi pada tahun
2007 mencapai 100%.
Tahu dan tempe adalah pangan
utama dengan bahan baku dari kedelai.
Besarnya konsumsi tahu dan tempe ini
jauh berada di atas konsumsi kedelai segar
pada periode yang sama. Tahun 2002-
2013 rata-rata konsumsi tahu sebesar 7,26
kg/kapita/th walaupun terjadi laju
penurunan rata-rata 0,48% per tahun.
Demikian pula dengan rata-rata konsumsi
tempe yang tidak jauh berbeda dengan
tahu yaitu mencapai 7,57 kg/kapita/th
walaupun terjadi laju penurunan rata-rata
1,16% per tahun (Tabel 3.2).
Pangan lainnya dengan bahan baku
kedelai adalah tauco, oncom, dan kecap.
Konsumsi per kapita ketiga pangan olahan
kedelai ini jauh berada di bawah konsumsi
tahu dan tempe. Selama periode tahun
2002 2013, rata-rata konsumsi tauco
sebesar 0,032 kg/kapita/tahun, oncom
sebesar 0,08 kg/kapita/tahun, dan kecap
sebesar 0,63 kg/kapita/tahun.
Pada publikasi ini dilakukan prediksi
besaran konsumsi kedelai segar dan wujud
olahan tahun 2014 hingga 2016,
menggunakan metode analisis data deret
waktu. Pada periode tahun 2014 - 2016
konsumsi kedelai segar diperkirakan tidak
akan mengalami peningkatan yang cukup
signifikan yakni dengan rata-rata
peningkatan sebesar 1,65%. Pada tahun
2014, konsumsi kedelai segar diprediksikan
sebesar 0,054 kg/kapita dan naik menjadi
0,055 kg/kapita pada tahun 2016.
Berdasarkan hasil prediksi, konsumsi tahu
akan meningkat di tahun 2014 2016
dengan rata-rata peningkatan sebesar
1,21%. Konsumsi tahu diprediksikan
sebesar 7,14 kg/kapita pada tahun 2014
menjadi sebesar 7,30 kg/kapita pada tahun
2016. Konsumsi tempe juga diprediksikan
akan sedikit mengalami peningkatan di
tahun 2014 - 2016. Pada tahun 2014
konsumsi tempe naik 4,98% atau menjadi
sebesar 7,44 kg/kapita dibanding tahun
2013, dan di tahun 2016 menjadi sebesar
7,79 kg/kapita atau naik 2,28%. Konsumsi
tauco, oncom dan kecap diprediksikan
akan mengalami peningkatan pada tahun
2014 2016 dengan rata-rata peningkatan
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 11

masing-masing sebesar 0,34%, 3,38%,
dan 0,02%.
Apabila konsumsi pangan berbahan
baku kedelai dikonversikan ke wujud
ekuivalen kedelai dengan faktor konversi
seperti tercantum pada Tabel 3.1, maka
diperoleh konsumsi kedelai total di
Indonesia. Pada tahun 2002 2013,
konsumsi total kedelai relatif berfluktuasi
namun cenderung mengalami penurunan
sebesar 1,23%. Pada tahun 2002,
konsumsi total kedelai mencapai 8,40
kg/kapita dan menjadi 7,15 kg/kapita pada
tahun 2013. Pada tahun 2014, konsumsi
total kedelai diprediksikan akan mengalami
peningkatan 4,32% menjadi sebesar 7,45
kg/kapita dan pada tahun 2016 menjadi
sebesar 7,66 kg/kapita (Tabel 3.2 dan
Gambar 3.1).

Tabel 3.2. Perkembangan konsumsi bahan makanan yang mengandung kedelai di
rumah tangga di Indonesia, 2002 2013 serta prediksi 2014 2016


Buletin Konsumsi Pangan

12 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian


Gambar 3.1. Perkembangan konsumsi total kedelai dalam rumah tangga di
Indonesia 2002 2013, serta prediksi 2014 - 2016

Apabila ditinjau dari besaran
pengeluaran untuk konsumsi kedelai segar
dan olahannya bagi penduduk Indonesia
tahun 2008 2013 secara nominal
menunjukkan peningkatan sebesar
12,71%, yakni dari Rp. 68.776,43/kapita
pada tahun 2008 menjadi Rp.
124.047,86/kapita pada tahun 2013.
Namun demikian setelah dikoreksi dengan
faktor inflasi, pengeluaran untuk konsumsi
kedelai segar dan olahannya secara riil
sejatinya hanya mengalami peningkatan
sebesar yakni 6,61%. Hal ini menunjukkan
bahwa secara kuantitas, konsumsi per
kapita kedelai segar dan olahannya tidak
terjadi peningkatan yang signifikan.
Perkembangan pengeluaran untuk
konsumsi kedelai segar dan olahannya
secara nominal dan rill dalam rumah
tangga di Indonesia tahun 2007 2013
secara rinci tersaji pada Tabel 3.3 dan
Gambar 3.2.

Tabel 3.3. Perkembangan pengeluaran nominal dan rill rumah tangga untuk konsumsi kedelai
segar dan olahannya di Indonesia, 2008 2013
2008 2009 2010 2011 2012 2013
1 Pengeluaran Nominal 68.776,43 86.087,86 94.326,43 99.853,57 109.760,71 124.047,86 12,71
2 IHK *) 153,45 154,97 158,95 170,29 183,29 204,42 5,97
3 Pengeluaran Riil 44.821,34 55.550,41 59.345,33 58.637,08 59.882,55 60.684,07 6,61
Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Keterangan : *) IHK Kelompok kacang-kacangan
Pertumbuhan
(%)
No. Kelompok Barang


Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 13

0
20.000
40.000
60.000
80.000
100.000
120.000
140.000
2008 2009 2010 2011 2012 2013
(Rp/kapita)
Pengeluaran Nominal Pengeluaran Riil

Gambar 3.2. Perkembangan pengeluaran nominal dan rill dalam rumah tangga
untuk konsumsi kedelai segar dan olahannya, 2008 2013


3.2. Perkembangan serta Prediksi
Penyediaan, Penggunaan dan
ketersediaan Kedelai di
Indonesia

Penyediaan komoditas kedelai
diperoleh dari produksi ditambah impor,
dikurangi ekspor dan dikurangi perubahan
stok. Komponen penggunaan kedelai
adalah untuk bibit, pakan, diolah untuk
industri bukan makanan, tercecer dan
sebagai bahan makanan. Ketersediaan
data keluaran pada neraca kedelai adalah
hingga tahun 2013 (ASEM), dan untuk
indikator lainnya juga sudah tersedia data
hingga tahun 2013, kemudian dilakukan
prediksi untuk tahun 2014 dan 2016.
Penyediaan dan penggunaan
kedelai tahun 2010 2016 secara rinci
tersaji pada Tabel 3.4. Pada periode
tersebut, rata-rata lebih dari 60% total
penyediaan kedelai berasal impor dan
sisanya merupakan produksi dalam negeri.
Pada tahun 2010, total penyediaan kedelai
mencapai 2.652 ribu ton dan berfluktuasi
namun cenderung menurun hingga
menjadi 1.887 ribu ton pada tahun 2013
atau turun 6,71%.
Pada tahun berikutnya, yakni tahun
2014, total penyediaan kedelai diprediksi
akan mengalami peningkatan sebagai
kontribusi meningkatnya produksi dan
impor. Pada tahun 2014, total penyediaan
kedelai diprediksikan meningkat menjadi
2.241 ribu ton, kemudian pada tahun-
tahun berikutnya juga diprediksikan
mengalami peningkatan sehingga menjadi
2.295 ribu ton pada tahun 2016.
Komponen penggunaan kedelai
adalah untuk pakan, bibit, industri bukan
makanan, tercecer serta penyediaan untuk
bahan makanan. Pada perhitungan Neraca
Bahan Makanan (NBM), penggunaan
Buletin Konsumsi Pangan

14 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

kedelai untuk pakan diasumsikan sebesar
0,34%, dan tercecer sebesar 5% dari total
penyediaan kedelai. Sementara,
penggunaan kedelai untuk bibit didekati
dari kebutuhan bibit per hektar hasil Survei
Struktur Ongkos Usaha tani (BPS),
dikalikan dengan luas tanam kedelai pada
tahun yang bersangkutan. Penggunaan
kedelai untuk industri bukan makanan
diperoleh dari hasil survei industri besar
dan sedang (BPS). Penggunaan kedelai
untuk pakan, tercecer, bibit dan yang
terserap ke industri bukan makanan dari
tahun ke tahun dalam kuantitas yang
relatif kecil, sehingga kuantitas yang cukup
besar digunakan untuk bahan makanan.
Pada tahun 2010, penggunaan
kedelai untuk bahan makanan mencapai
2.358 ribu ton, kemudian relatif
berfluktuasi namun cenderung mengalami
penurunan dengan rata-rata sebesar
6,866% hingga tahun 2013 menjadi
sebesar 1.663 ribu ton. Pada tahun 2013
hingga 2016, penggunaan kedelai untuk
bahan makanan ini diprediksikan akan
terus mengalami peningkatan dengan rata-
rata sebesar 6,54% sehingga menjadi
sebesar 1.996 ribu ton pada tahun 2016
(Tabel 3.4).

Tabel 3.4. Penyediaan, penggunaan dan ketersediaan kedelai tahun 2010 - 2013 serta
prediksi tahun 2014 2016


Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 15

0,00
2,00
4,00
6,00
8,00
10,00
12,00
2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016
(kg/kapita/th)

Gambar 3.3. Perkembangan ketersediaan kedelai per kapita pertahun
di Indonesia 2010 2013, serta prediksi tahun 2014- 2016

Ketersediaan per kapita merupakan
rasio dari jumlah kedelai yang tersedia dan
siap dikonsumsi sebagai bahan makanan
dengan jumlah penduduk. Perkembangan
ketersediaan kedelai perkapita tahun 2010
2013 dan prediksi tahun 2014 2016
tersaji pada Gambar 3.3. Perkembangan
ketersediaan per kapita kedelai pada tahun
2010 hingga 2013 mengalami fluktuasi,
namun cenderung mengalami penurunan
dengan rata-rata sebesar 7,78%.
Ketersediaan per kapita kedelai pada tahun
2010 sebesar 9,89 kg/kapita dan turun
menjadi 6,70 kg/kapita pada tahun 2013.
Pada tahun 2014 ketersediaan
kedelai per kapita diprediksikan mengalami
sedikit peningkatan sebesar 15,42%
dibandingkan dengan tahun 2013 sehingga
menjadi 7,73 kg/kapita. Kemudian, pada
tahun 2016 sedikit turun menjadi 7,72
kg/kapita (Gambar 3.3).

3.3. Perbandingan Konsumsi
(Susenas) dan Ketersediaan
per kapita (NBM) Kedelai di
Indonesia

Hasil Susenas menghasilkan angka
konsumsi per kapita, sementara hasil
perhitungan pada Neraca Bahan Makanan
(NBM) menghasilkan angka penyediaan per
kapita. Perhitungan perbedaan kedua
angka tersebut untuk komoditas kedelai
pada tahun 2010 2016 disajikan pada
Tabel 3.5. Angka konsumsi total kedelai
berdasarkan hasil Susenas dari tahun 2010
hingga 2016 berfluktuasi namun cenderung
sedikit naik sebesar 1,38%, yakni dari 7,01
kg/kapita pada tahun 2010 menjadi 7,56
kg/kapita pada tahun 2016. Namun
demikian, angka ketersediaan per kapita
Buletin Konsumsi Pangan

16 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

kedelai pada tahun 2010 2016 juga
berflutuasi dan namun cenderung turun
yakni dari 9,89 kg/kapita pada tahun 2010
menjadi 7,72 kg/kapita pada tahun 2016
yang dominan disebabkan turunnya
besaran penyediaan kedelai nasional. Pada
periode tahun 2010 2016, besaran
konsumsi per kapita total kedelai rata-rata
diatas 70% dari angka ketersediaannya,
kecuali pada tahun 2013. Sisa dari
ketersediaan kedelai yang tidak dikonsumsi
tersebut adalah akan terserap ke industri
pengolahan makanan lain yang berbahan
dasar kedelai seperti: susu kedelai, tepung
kedelai, minyak, taosi, dll yang belum
tercakup pada Susenas.

Tabel 3.5. Perbandingan konsumsi per kapita rumah tangga (Susenas) dengan Ketersediaan
per kapita (NBM) kedelai di Indonesia, 2010 2016



3.4. Penyediaan Total Domestik
Kedelai di beberapa negara di
Dunia

Pada periode tahun 2007 2011,
total penyediaan kedelai dunia cukup
berfluktuasi namun cenderung mengalami
peningkatan dengan rata-rata sebesar
3,39%. Selama periode tersebut, rata-rata
total penyediaan kedelai dunia mencapai
11,54 juta ton. Sepuluh negara dengan
total penyediaan kedelai terbesar di dunia
adalah Cina, Indonesia, Jepang, Brazil,
Korea Selatan, Nigeria, Vietnam,
Bangladesh, Thailand dan Turki. Kumulatif
penyediaan kedelai kesepuluh negara
tersebut mencapai 91,65% dari total
penyediaan dunia.
Negara dengan rata-rata total
penyediaan kedelai terbesar selama
periode 2007-2011 adalah Cina yang
mencapai 5,51 juta ton yang berkontribusi
terhadap total penyediaan dunia sebesar
47,78%. Urutan kedua adalah Indonesia
dengan kontribusi terhadap total
penyediaan dunia sebesar 17,93%.
Sementara delapan negara lainnya memiliki
kontribusi terhadap total penyediaan dunia
dibawah 10%. Persentase kontribusi total
penyediaan kedelai ke-10 negara terbesar
di dunia termasuk Indonesia tersaji pada
Tabel 3.6 dan Gambar 3.4
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 17

Tabel 3.6. Negara dengan penyediaan kedelai terbesar di dunia, 2007 2011

2007 2008 2009 2010 2011
1 China 5.298.593 5.394.248 5.592.321 5.788.143 5.488.237 5.512.308 47,78 47,78
2 Indonesia 1.599.000 1.729.000 2.019.000 2.358.400 2.640.000 2.069.080 17,93 89,27
3 Jepang 1.042.354 1.031.335 989.021 971.615 944.775 995.820 8,63 62,19
4 Brasil 624.156 645.042 608.162 710.007 745.291 666.532 5,78 53,55
5 Korea Selatan 358.987 367.061 368.014 325.215 382.063 360.268 3,12 65,31
6 Nigeria 417.676 431.316 309.053 180.034 404.111 348.438 3,02 68,33
7 Viet Nam 160.193 166.729 168.625 266.530 254.229 203.261 1,76 70,09
8 Bangladesh 185.814 140.161 232.264 114.133 182.764 171.027 1,48 90,75
9 Thailand 143.161 143.376 142.611 142.163 145.891 143.440 1,24 71,33
10 Turki 110.203 113.492 108.851 101.399 83.741 103.537 0,90 91,65
11 Negara Lainnya 785.901 984.554 995.234 1.072.042 981.463 963.839 8,35 100,00
Dunia 10.726.038 11.146.314 11.533.156 12.029.681 12.252.565 11.537.551 100,00
Sumber : http://faostat.fao.org diolah Pusdatin
Share
kumulatif
(%)
Share
(%)
No Negara
Ketersediaan (Ton)
Rata-rata
2007 - 2011


47,78
17,93
8,63
5,78
3,12 3,02
1,76
1,48
1,24
0,90
8,35
China Indonesia Jepang Brasil
Korea Selatan Nigeria Viet Nam Bangladesh
Thailand Turki Negara Lainnya

Gambar 3.4. Negara dengan penyediaan kedelai terbesar di dunia,
share terhadap rata-rata 2007 - 2011


3.5. Penyediaan Kedelai per Kapita
per Tahun di Dunia

Besarnya ketersediaan per kapita
bergantung pada banyaknya jumlah
penduduk dalam suatu negara.
Perkembangan ketersediaan per kapita
negara terbesar dunia tersaji secara rinci
pada Tabel 3.7. Berdasarkan data dari
FAO, sepuluh negara dengan peringkat
ketersediaan perkapita terbesar di dunia
pada periode 2007 - 2011 adalah
Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Kuba,
Rwanda, Rep. Siria, Cina, Zambia, Korea
Utara dan Brasil. Indonesia menempati
posisi pertama sebagai negara dengan
ketersediaan per kapita kedelai terbesar di
Buletin Konsumsi Pangan

18 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

dunia, yakni dengan rata-rata sebesar 8,84
kg/kapita/tahun. Jepang menempati urutan
ke-2 dengan rata-rata ketersediaan per
kapita sebesar 7,82 kg/kapita/tahun,
disusul kemudian Korea Selatan dengan
rata-rata per kapita sebesar 7,48
kg/kapita/tahun. Jika dilihat pada Tabel
3.7, maka negara-negara berikutnya hanya
mempunyai ketersediaan kedelai per kapita
rata-rata dibawah 5 kg/kapita/tahun
(Gambar 3.5).


Tabel 3.7. Penyediaan kedelai per kapita per tahun beberapa negara di dunia,
2007 2011

2007 2008 2009 2010 2011
1 Indonesia 7,09 7,56 8,73 9,89 10,91 8,84
2 Jepang 8,20 8,10 7,80 7,60 7,40 7,82
3 Korea Selatan 7,60 7,70 7,60 6,70 7,80 7,48
4 Kuba 1,20 6,30 5,80 4,90 5,60 4,76
5 Rwanda 3,70 4,60 4,80 5,00 3,20 4,26
6 Rep. Siria 1,80 7,10 5,20 3,80 2,10 4,00
7 China 3,90 3,90 4,10 4,20 3,90 4,00
8 Zambia 0,60 3,80 3,50 5,20 5,30 3,68
9 Korea Utara 4,10 3,90 3,30 3,30 3,30 3,58
10 Brasil 3,30 3,40 3,10 3,60 3,80 3,44
Rata-rata dunia 1,05 1,24 1,33 1,27 1,26 1,23
Sumber : http://faostat.fao.org diolah Pusdatin
No Negara
Ketersediaan (kg/kapita/tahun) Rata-rata
2007 - 2011


0,00
1,00
2,00
3,00
4,00
5,00
6,00
7,00
8,00
9,00
I
n
d
o
n
e
s
i
a
J
e
p
a
n
g
K
o
r
e
a

S
e
l
a
t
a
n
K
u
b
a
R
w
a
n
d
a
R
e
p
.

S
i
r
i
a
C
h
i
n
a
Z
a
m
b
i
a
K
o
r
e
a

U
t
a
r
a
B
r
a
s
i
l
(kg/kapita/th)

Gambar 3.5. Perkembangan penyediaan kedelai per kapita di beberapa
negara di dunia, rata-rata 2007 - 2011
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 19

BAB IV. C A B E

abe merupakan salah satu
komoditas strategis sub sektor
hortikultura, dikarenakan
peranannya yang cukup penting. Hampir
semua rumah tangga di Indonesia
mengkonsumsi cabe setiap hari sebagai
bumbu utama masakannya, yang
menyebabkan cabe menjadi salah satu
komponen bumbu-bumbuan yang mem-
punyai andil besar dalam mempengaruhi
inflasi. Cabe untuk bumbu masakan
dibedakan cabe merah, cabe hijau dan
cabe rawit. Di dalam cabe merah terdapat
kandungan kapsaisin, dihidrokapsaisin,
vitamin A dan C, damar, zat warna
kapsantin, karoten, kapsarubin, zeasantin,
kriptosantin, lutein, dan mineral. Berdasar-
kan penelitian, bahan-bahan yang
dikandung oleh cabe merah memiliki
manfaat untuk membantu mengatasi
gejala sakit perut, sakit gigi dan tangan
lemah, influenza, serta meningkatkan nafsu
makan. Demikian pula cabe rawit
diketahui banyak mengandung kapsaisin,
kapsantin, karotenoid, alkaloid, resin,
minyak asiri, serta vitamin A dan C.
Dengan kandungan-nya tersebut, cabe
rawit berkhasiat untuk membantu
menambah nafsu makan, menormalkan
kembali kaki dan tangan yang lemas,
meredakan batuk berdahak, melegakan
hidung tersumbat pada sinusitis & migrain
(http://khasiatbuah.com/cabai-rawit.htm).
Konsumsi cabe di Indonesia
menunjukkan pola yang terus meningkat
seiring dengan peningkatan pendapatan
dan atau jumlah penduduk. Berdasarkan
hasil SUSENAS - BPS, konsumsi cabe
dibedakan dalam wujud cabe merah, cabe
hijau dan cabe rawit.

4.1. Perkembangan dan Prediksi
Konsumsi Cabe dalam Rumah
Tangga di Indonesia

Konsumsi cabe selama periode
tahun 2002 2016 relatif berfluktuasi
namun cenderung mengalami peningkatan
dari tahun ke tahun. Dari ketiga jenis cabe
yang dikonsumsi rumah tangga di
Indonesia, dominan adalah konsumsi cabe
merah, disusul kemudian cabe rawit dan
cabe hijau. Konsumsi cabe merah pada
tahun 2002 mencapai 1,429 kg/kapita
kemudian berfluktuatif dan menjadi 1,424
kg/kapita pada tahun 2013 atau rata-rata
meningkat sebesar 0,32% per tahun.
Selama periode tahun 2002 2013,
konsumsi cabe merah terbesar terjadi pada
tahun 2012 yang mencapai 1,653
kg/kapita, sedangkan konsumsi terendah
terjadi pada tahun 2003 hanya sebesar
1,351 kg/kapita. Pada tahun 2014,
konsumsi cabe merah diprediksikan masih
akan sedikit meningkat menjadi sebesar
C
Buletin Konsumsi Pangan

20 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

1,622 kg/kapita atau naik sebesar 13,97%
dan 1,646 kg/kapita pada tahun 2015 atau
naik sebesar 1,44% dibandingkan tahun
sebelumnya. Peningkatan konsumsi cabe
merah ini diprediksikan masih akan terus
terjadi hingga tahun 2016 menjadi sebesar
1,668 kg/kapita atau naik 1,37%
dibandingkan dengan tahun 2015. Pada
urutan kedua besarnya konsumsi rumah
tangga adalah cabe rawit. Pada tahun
2002, konsumsi rumah tangga cabe rawit
mencapai 1,126 kg/kapita kemudian
berfluktuasi namun cenderung meningkat
menjadi sebesar 1,272 kg/kapita pada
tahun 2013 atau rata-rata naik sebesar
1,80% per tahun. Peningkatan konsumsi
cabe rawit diprediksikan masih akan terjadi
pada tahun 2014 dan 2015 sehingga
menjadi sebesar 1,395 kg/kapita atau naik
9,64% dibandingkan tahun 2013 dan 1,416
kg/kapita atau naik 1,49% dibandingkan
tahun sebelumnya, kemudian diprediksikan
kembali menjadi 1,437 kg/kapita pada
tahun 2016 atau naik 1,47%. Konsumsi
cabe hijau per kapita rumah tangga di
Indonesia relatif kecil dibandingkan dengan
kedua jenis cabe sebelumnya. Konsumsi
cabe hijau pada tahun 2002 hanya sebesar
0,219 kg/kapita, kemudian berfluktuatif
namun menunjukkan pola peningkatan,
tetapi tahun 2013 mengalami penurunan
hingga sebesar 0,198 kg/kapita atau turun
rata-rata sebesar 0,12% per tahun. Pada
tahun 2014 dan 2015, besarnya konsumsi
cabe hijau diprediksikan akan sedikit
mengalami peningkatan menjadi sebesar
0,207 kg/kapita atau naik 4,56% dan
sebesar 0,211 kg/kapita atau naik 1,81%
dibandingkan tahun 2014. Kemudian
diprediksikan kembali menjadi 0,215
kg/kapita atau naik 1,78% pada tahun
2016. Perkembangan konsumsi cabe per
kapita dari tahun 2002 2013 serta
prediksinya tahun 2014 2016 disajikan
pada Tabel 4.1 dan Gambar 4.1.

Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 21

Tabel 4.1. Perkembangan konsumsi cabe dalam rumah tangga di Indonesia,
2002 2013 serta prediksi tahun 2014-2016
(Kg/Kapita/th)
Pertumbuhan
(%)
(Kg/Kapita/th)
Pertumbuhan
(%)
(Kg/Kapita/th)
Pertumbuhan
(%)
(Kg/Kapita/th)
Pertumbuhan
(%)
2002 1,429 0,219 1,126 2,774
2003 1,351 -5,47 0,229 4,76 1,199 6,48 2,779 0,19
2004 1,361 0,77 0,240 4,55 1,147 -4,35 2,748 -1,13
2005 1,564 14,94 0,261 8,70 1,272 10,91 3,097 12,71
2006 1,382 -11,67 0,235 -10,00 1,168 -8,20 2,784 -10,10
2007 1,470 6,42 0,302 28,89 1,517 29,91 3,290 18,16
2008 1,549 5,32 0,266 -12,07 1,444 -4,81 3,259 -0,95
2009 1,523 -1,68 0,235 -11,76 1,288 -10,83 3,045 -6,56
2010 1,528 0,34 0,256 8,89 1,298 0,81 3,082 1,20
2011 1,497 -2,05 0,261 2,04 1,210 -6,83 2,967 -3,72
2012 1,653 10,45 0,214 -18,00 1,403 15,95 3,269 10,19
2013 1,424 -13,88 0,198 -7,32 1,272 -9,29 2,894 -11,48
Rata-rata 1,737 0,32 0,245 -0,12 1,293 1,80 3,020 0,77
2014 *) 1,622 13,97 0,207 4,56 1,395 9,64 3,224 11,42
2015 *) 1,646 1,44 0,211 1,81 1,416 1,49 3,272 1,49
2016 *) 1,668 1,37 0,215 1,78 1,437 1,47 3,320 1,44
Total
Tahun
Cabe Merah Cabe Hijau Cabe Rawit

Sumber : Susenas, BPS diolah Pusdatin
Keterangan: *) Angka Prediksi Pusdatin


-
0,500
1,000
1,500
2,000
2,500
3,000
3,500
2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014*) 2015*) 2016*)
(Kg/Kapita)
Cabe Merah Cabe Hijau Cabe Rawit Total

Gambar 4.1. Perkembangan konsumsi cabe dalam rumah tangga di Indonesia,
2007 2013 serta prediksi 2014 - 2016



Buletin Konsumsi Pangan

22 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Apabila dilihat dari besaran
pengeluaran untuk konsumsi cabe dalam
rumah tangga bagi penduduk Indonesia
lima tahun terakhir menunjukkan
peningkatan yang positif baik untuk cabe
merah, cabe rawit maupun cabe hijau.
Pertumbuhan rata-rata pengeluaran
nominal penduduk Indonesia untuk
konsumsi cabe merah dan rawit pada
periode 2008 - 2013 sebesar 24,13%,
yakni dari Rp.29,36 ribu/kapita pada
tahun 2008 menjadi Rp.71,96 ribu/kapita
pada tahun 2013. Sementara untuk
pengeluaran nominal penduduk Indonesia
untuk konsumsi cabe hijau pada periode
yang sama meningkat 14,08%, yakni dari
Rp.3,23 ribu/kapita pada tahun 2008
menjadi Rp.4,43 ribu/kapita pada tahun
2013. Namun setelah dikoreksi dengan
faktor inflasi, pengeluaran riil untuk
konsumsi cabe merah dan cabe rawit
meningkat lebih lambat menjadi 11,24%,
demikian pula pengeluaran riil per kapita
cabe hijau meningkat 3,28%. Hal ini
menunjukkan penduduk Indonesia lebih
banyak mengkonsumsi cabe merah dan
rawit dibandingkan dengan cabe hijau dan
secara kuantitas berfluktuatif.
Perkembangan pengeluaran untuk
konsumsi cabe nominal dan riil dalam
rumah tangga di Indonedia tahun 2008
2013 secara rinci tersaji pada Tabel 4.2
dan Gambar 4.2.

Tabel 4.2. Perkembangan pengeluaran nominal dan riil rumah tangga untuk konsumsi cabe,
2008 - 2013
Pertumbuhan
2008 2009 2010 2011 2012 2013
(%)
1 Nominal 29.356,43 44.165,00 43.956,43 76.285,00 62.362,86 71.957,14 24,13
2 IHK 116,84 125,24 164,31 165,13 150,69 223,77 15,73
3 Riil 25.126,25 35.265,70 26.752,54 46.196,47 41.385,55 32.157,10 11,24
Pertumbuhan
2008 2009 2010 2011 2012 2013
(%)
1 Nominal 3.232,86 2.763,57 3.389,29 6.152,86 3.650,00 4.432,14 14,08
2 IHK 120,00 128,65 144,23 156,52 165,79 193,65 10,11
3 Riil 2.694,02 2.148,10 2.349,94 3.930,99 2.201,62 2.288,80 3,28
No. Cabe Hijau
Pengeluaran (Rupiah/kapita)
No.
Cabe Merah dan
Cabe Rawit
Pengeluaran (Rupiah/kapita/tahun)

Sumber: BPS, diolah Pusdatin
Keterangan: Indeks Harga Konsumen (IHK) yang digunakan IHK Kelompok sayur-sayuran untuk cabe hijau dan
IHK bumbu-bumbuan untuk cabe merah dan cabe rawit
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 23

0
7.500
15.000
22.500
30.000
37.500
45.000
52.500
60.000
67.500
75.000
82.500
2008 2009 2010 2011 2012 2013
(Rp/Kapita)
Pengeluaran Nominal (Cabe Merah dan Rawit) Pengeluaran Riil (Cabe Merah dan Rawit)
Pengeluaran Nominal (Cabe Hijau) Pengeluaran Riil (Cabe Hijau)

Gambar 4.2. Perkembangan pengeluaran nominal dan riil rumah tangga untuk
konsumsi cabe, 2008 - 2013


4.2. Perkembangan serta Prediksi
Penyediaan, Penggunaan dan
Ketersediaan Cabe di Indonesia

Berdasarkan hasil perhitungan
Neraca Bahan Makanan (NBM), komponen
penyediaan untuk komoditas cabe terdiri
dari produksi ditambah impor dan
dikurangi ekspor, sementara komponen
penggunaan adalah untuk bibit, diolah
sebagai bahan makanan, dan tercecer.
Penyediaan total cabe di Indonesia
dominan dipasok dari produksi dalam
negeri, walaupun ada realisasi impor
namun dalam kuantitas yang kecil,
sementara yang diekspor juga dalam
kuantitas jauh lebih kecil.
Produksi cabe segar Indonesia dari
tahun 2010 hingga 2013 menunjukkan pola
cenderung meningkat dengan rata-rata
sebesar 5,66% per tahun. Produksi cabe
pada tahun 2010 mencapai 1,33 juta ton
dan meningkat menjadi 1,48 juta ton pada
tahun 2011, 1,66 juta ton pada tahun
2012, kemudian terus meningkat menjadi
sebesar 1,72 juta ton pada tahun 2013.
Pada tahun 2014 - 2016, produksi cabe
diprediksikan akan mengalami peningkatan
dengan rata-rata sebesar 7,39% per tahun,
sehingga pada tahun 2016, produksi cabe
diprediksikan mencapai 2,15 juta ton.
Selama periode tahun 2010 2013
tersebut terdapat realisasi impor cabe yang
dilakukan oleh Indonesia dalam kuantitas
yang relatif kecil yakni berkisar antara 23 -
165 ribu ton. Pada tahun berikutnya yakni
tahun 2014 - 2016, impor cabe Indonesia
diprediksikan akan menurun menjadi
sebesar 89 100 ribu ton. Sementara,
ekspor cabe dari Indonesia pada tahun
2010 2013 masing-masing berkisar
Buletin Konsumsi Pangan

24 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

antara 2 6 ribu ton. Pada tahun
berikutnya, yakni 2014 2016
diprediksikan hanya sebesar 4 5 ribu ton.
Prediksi penyediaaan dan penggunaan
cabe secara lengkap dapat dilihat pada
Tabel Tabel 4.3.

Tabel 4.3. Penyediaan, penggunaan dan ketersediaan cabe tahun 2010-2013 serta prediksi
tahun 2014 - 2016
2010 2011 2012 2013*) 2014**) 2015**) 2016**)
A. Penyediaan (000 Ton) 1.454 1.644 1.786 1.740 1.956 2.090 2.231
1. Produksi
- Masukan - - - - - - -
- Keluaran 1.329 1.483 1.657 1.719 1.861 1.999 2.146
2. Impor 131 165 133 23 100 95 89
3. Ekspor 6 5 3 2 5 4 4
4. Perubahan Stok - - - - - - -
B. Penggunaan (000 Ton) 1.454 1.644 1.786 1.740 1.956 2.090 2.231
1. Pakan (ton) - - - - - - -
2. Bibit (ton) 10 12 13 12 14 15 16
3. Diolah untuk :
- makanan - - - - - - -
- bukan makanan - - - - - - -
4. Tercecer 77 87 94 92 103 110 118
5. Bahan Makanan 1.367 1.545 1.679 1.636 1.839 1.965 2.098
Ketersediaan per kapita 5,66 6,39 6,84 6,58 7,29 7,69 8,11
(Kg/kapita/tahun)
No. Uraian
Tahun
C.

Sumber : Neraca Bahan Makanan, BKP Kementan
Keterangan: *) Angka sementara **) Angka Prediksi Pusdatin


Berdasarkan keragaan data
komponen penyediaan cabe tersebut maka
penyediaan dalam negeri komoditas cabe
pada tahun 2010 hingga 2013 berfluktuasi
namun cenderung meningkat sebesar
7,89%. Pada tahun 2010, penyediaan
dalam negeri cabe mencapai 1,45 juta ton
dan naik menjadi sebesar 1,64 juta ton
pada tahun 2011, kemudian meningkat
menjadi 1,79 juta ton pada tahun 2012,
meskipun kemudian menurun menjadi 1,74
juta ton pada tahun 2013, secara dominan
kontribusi terbesar berasal dari produksi
cabe dalam negeri. Pada tahun
berikutnya, penyediaan dalam negeri cabe
diprediksikan akan mengalami peningkatan
menjadi sebesar 1,96 juta ton pada tahun
2014, kemudian menjadi 2,09 juta ton
tahun 2015 dan kembali naik menjadi
sebesar 2,23 juta ton pada tahun 2016
atau naik 6,79% per tahun.
Pada periode tahun 2010 2013,
dari jumlah penyediaan cabe tersebut
sekitar 0,72% digunakan untuk bibit serta
5,56% merupakan cabe yang tercecer,
sehingga sekitar 93,72% siap dikonsumsi
sebagai bahan makanan. Berdasarkan
konversi angka penggunaan untuk bibit
dan tercecer tersebut di atas, maka pada
tahun 2010, total cabe yang tersedia untuk
bahan makanan mencapai 1,37 juta ton,
selanjutnya sedikit mengalami peningkatan
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 25

menjadi 1,54 juta ton pada tahun 2011,
kemudian terus mengalami kenaikan pada
tahun 2012 menjadi 1,68 juta ton, namun
pada tahun 2013 mengalami penurunan
menjadi sebesar 1,64 juta ton. Dengan
menggunakan angka konversi yang sama
untuk penggunaan bibit dan tercecer,
maka pada tahun 2014, penggunaan cabe
untuk bahan makanan diprediksikan
menjadi sebesar 1,84 juta ton atau naik
12,39% dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada tahun 2015, penggunaan cabe untuk
bahan makanan diprediksikan kembali naik
menjadi 1,96 juta ton atau naik 6,83%,
kemudian pada tahun 2016 terus
mengalami kenaikan menjadi sebesar 2,10
juta ton atau naik sebesar 6,76%
dibandingkan tahun 2015 (Tabel 4.3).
Angka penyediaan untuk bahan makanan
kemudian dibagi dengan jumlah penduduk
maka bisa diketahui total penyedian per
kapita. Pada tahun 2010, total penyediaan
per kapita cabe hanya sebesar 5,66
kg/kapita, kemudian sedikit mengalami
peningkatan pada tahun 2011 menjadi
6,39 kg/kapita, kemudian mengalami
peningkatan kembali pada tahun 2012
menjadi sebesar 6,84 kg/kapita namun
pada tahun 2013 mengalami penurunan
menjadi sebesar 6,58 kg/kapita. Pada
tahun 2014 hingga 2016, penyediaan cabe
per kapita diprediksikan masih mengalami
peningkatan dibandingkan tahun
sebelumnya yakni masing-masing menjadi
sebesar 7,29 kg/kapita, pada tahun 2014,
7,69 kg/kapita pada tahun 2015, dan 8,11
kg/kapita pada tahun 2016.

4,05
4,55
5,05
5,55
6,05
6,55
7,05
7,55
8,05
2010 2011 2012 2013*) 2014**) 2015**) 2016**)
(Kg/Kapita/Thn)

Gambar 4.3. Perkembangan ketersediaan cabe per kapita tahun 2010 2013
serta prediksi tahun 2014 - 2016

Buletin Konsumsi Pangan

26 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

4.3. Perbandingan Konsumsi
(Susenas) dan Ketersediaan
per kapita (NBM) Cabe di
Indonesia

Pada periode 2010 2016,
konsumsi per kapita cabe berdasarkan hasil
Survei Sosial Ekonomi Nasional (SUSENAS)
menunjukkan angka yang lebih kecil bila
dibandingkan dengan ketersediaan dari
Necara Bahan Makanan (NBM), ini berarti
ketersediaan cabe dapat memenuhi
kebutuhan konsumsi masyarakat di
Indonesia. Angka konsumsi cabe
berdasarkan hasil Susenas dari tahun 2010
hingga 2016 cenderung meningkat, yakni
dari 3,08 kg/kapita pada tahun 2010
menjadi 3,32 kg/kapita pada tahun 2016.
Begitu juga angka ketersediaan per kapita
cabe pada tahun 2010 2016 cenderung
meningkat dari 5,66 kg/kapita pada tahun
2010 menjadi 8,11 kg/kapita. Selisih atau
beda dari ketersediaan cabe dari tahun
2010 hingga 2016 terlihat cukup besar,
perbedaan tersebut diduga terserap pada
industri makanan seperti industri saos dan
mi instan. Perbandingan konsumsi per
kapita rumah rnagga (SUSENAS) dengan
ketersediaan (NBM) komoditas cabe dapat
dilihat pada Tabel 4.4.

Tabel 4.4. Perbandingan konsumsi cabe per kapita rumah tangga (Susenas) dengan
ketersediaan (NBM), tahun 2010 2016

2010 2011 2012 2013*) 2014**) 2015**) 2016**)
Susenas (kg/kapita/tahun)
3,08 2,97 3,27 2,89 3,22 3,27 3,32
NBM (kg/kapita/tahun)
5,66 6,39 6,84 6,58 7,29 7,69 8,11
Selisih 2,58 3,42 3,57 3,68 4,07 4,42 4,79
Variabel
Tahun
Sumber: Susenas, BPS dan Neraca Bahan Makanan, BKP
Keterangan : *) Angka Sementara **) Angka Prediksi Pusdatin




Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 27


BAB V. NANAS


anas adalah sejenis tumbuhan
tropis yang berasal dari Brasil,
Bolivia dan Paraguay. Buah
nanas yang mempunyai rasa manis dan
agak asam ini banyak mengandung vitamin
A dan C sebagai antioksidan. Buah nanas
juga mengandung kalsium, fosfor,
magnesium, besi, natrium, kalium,
dekstrosa, sukrosa, dan enzim bromelain.
Selain itu, nanas juga kaya akan serat.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Nanas).
Buah nanas adalah buah yang
rendah kalori dan tidak mengandung lemak
jenuh atau kolesterol, tetapi merupakan
sumber yang kaya serat larut dan tidak
larut seperti pektin. Selain itu, buah ini
kaya vitamin B-kompleks seperti folates,
thiamin, piridoksin, riboflavin dan mineral
seperti tembaga, mangan dan kalium.
Tingkat konsumsi buah nanas di
Indonesia masih sangat rendah padahal
buah nanas ini mudah dijumpai di pasar
buah tradisioal dengan harga yang relatif
murah. Selain dikonsumsi dalam wujud
segar, nanas juga banyak digunakan
sebagai bahan baku industri pertanian
dengan berbagai hasil produk olahan
nanas. Produksi nanas di Indonesia yang
bersumber dari Direktorat Jenderal
Hortikultura tahun 2013 sebesar 1,84 juta
ton.
Manfaat buah nanas untuk tubuh antara
lain membantu melunakkan makanan di
dalam lambung, menurunkan berat badan,
menjaga kesehatan gigi, meningkatkan
gula darah, mengatasi sembelit, mengatasi
kembung, mengatasi peradangan kulit dan
menguatkan kekebalan tubuh.

5.1. Perkembangan serta Prediksi
Konsumsi Nanas dalam Rumah
Tangga di Indonesia

Perkembangan konsumsi nanas di
tingkat rumah tangga di Indonesia selama
tahun 2002-2013 berfluktuasi namun rata-
rata mengalami peningkatan sebesar
1,82% per tahun. Peningkatan terbesar
untuk nanas terjadi di tahun 2011 dimana
konsumsi dalam rumah tangga naik
sebesar 133,33% dibandingkan tahun
sebelumnya. Penurunan konsumsi nanas
rumah tangga terbesar terjadi di tahun
2012 yaitu 57,14%. Selama periode 2002-
2013, konsumsi nanas terbesar terjadi
pada tahun 2005 yang mencapai 0,574
kg/kapita/tahun, sedangkan konsumsi
terendah terjadi pada tahun 2010 dan
2012 sebesar 0,156 kg/kapita/tahun. Pada
tahun 2013, konsumsi nanas yaitu sebesar
0,209 kg/kapita/tahun. Prediksi konsumsi
nanas untuk tahun 2014 hingga 2016 akan
terus mengalami penurunan. Konsumsi
nanas tahun 2014, 2015 dan 2016
N
Buletin Konsumsi Pangan

28 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

diprediksi masing-masing sebesar 0,173
kg/kapita/tahun, 0,158 kg/kapita/tahun
dan 0,145 kg/kapita/tahun. Perkembangan
konsumsi nanas dari tahun 2002-2013
serta prediksinya tahun 2014 2016
disajikan pada Tabel 5.1 dan Gambar 5.1.

Tabel 5.1. Perkembangan konsumsi nanas dalam rumah tangga
di Indonesia, Tahun 2002 2013, serta prediksi tahun 2014 -2016

(kg/kapita/minggu) (kg/kapita/tahun)
2002 0,0090 0,4693
2003 0,0090 0,4693 0,00
2004 0,0100 0,5214 11,11
2005 0,0110 0,5736 10,00
2006 0,0080 0,4171 -27,27
2007 0,0060 0,3129 -25,00
2008 0,0060 0,3129 0,00
2009 0,0040 0,2086 -33,33
2010 0,0030 0,1564 -25,00
2011 0,0070 0,3650 133,33
2012 0,0030 0,1564 -57,14
2013 0,0040 0,2086 33,33
rata-rata 0,0067 0,3476 1,82
2014*) 0,0033 0,1735 -16,84
2015*) 0,0030 0,1583 -8,71
2016*) 0,0028 0,1445 -8,72
Tahun
Konsumsi Pertumbuhan
(%)

Sumber: Susenas, BPS
Keterangan: *) Angka Prediksi Pusdatin


0.00
0.20
0.40
0.60
0.47 0.47
0.52
0.57
0.42
0.31 0.31
0.21
0.16
0.37
0.16
0.21
0.17
0.16
0.14
k
g
/
k
a
p
i
t
a
/
t
h
n

Gambar 5.1. Perkembangan konsumsi nanas dalam rumah tangga
di Indonesia, 2002 2013 serta prediksi 2014 2016


Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 29


Apabila dilihat dari besarnya
pengeluaran untuk konsumsi nanas bagi
penduduk Indonesia tahun 2008 2013
secara nominal menunjukkan peningkatan
sebesar 20,63%, yakni dari Rp. 886 per
kapita pada tahun 2008 menjadi Rp. 1.095
per kapita pada tahun 2013. Pada tahun
2011, secara nominal pengeluaran
konsumsi nanas meningkat cukup tinggi
yaitu sebesar Rp. 1.773 per kapita. Setelah
dikoreksi dengan faktor inflasi,
pengeluaran untuk konsumsi nanas secara
riil sejatinya mengalami peningkatan
sebesar 9,12%. Hal ini menunjukan bahwa
secara kuantitas, konsumsi per kapita
nanas segar penduduk Indonesia terjadi
penurunan karena dimungkinkan penduduk
Indonesia sekarang ini cenderung
mengkonsumsi nanas olahan.

Tabel 5.2. Perkembangan pengeluaran nominal dan riil rumah tangga untuk konsumsi nanas,
2008 - 2013

Pertumbuhan
2008 2009 2010 2011 2012 2013
(%)
1 Nominal 886,43 730,00 677,86 1.772,86 990,71 1.095,00 20,63
2 IHK 114,75 125,74 136,98 149,09 159,01 189,94 10,69
3 Riil 772,47 580,55 494,88 1.189,12 623,07 576,51 9,12
No. Uraian
Pengeluaran (rupiah/kapita/th)

Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Keterangan: IHK (indeks Harga Konsumen) yang digunakan IHK Kelompok buah-buahan


-
200,00
400,00
600,00
800,00
1.000,00
1.200,00
1.400,00
1.600,00
1.800,00
2.000,00
2008 2009 2010 2011 2012 2013
(Rupiah/kapita)
Pengeluaran Nominal Pengeluaran Riil


Gambar 5.2. Perkembangan pengeluaran nominal dan riil dalam rumah tangga untuk
konsumsi nanas di Indonesia, 2008 2013


Buletin Konsumsi Pangan

30 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

5.2. Perkembangan serta Prediksi
Penyediaan, Penggunaan dan
Ketersediaan per Kapita Nanas
di Indonesia

Penyediaan nanas Indonesia berasal
dari produksi dalam negeri ditambah impor
kemudian dikurangi ekspor dan perubahan
stok. Untuk komponen impor nanas sangat
rendah dan komponen perubahan stok
juga tidak ada, dikarenakan kualitas nanas
yang mudah rusak.
Produksi nanas periode tahun 2010
2013 cenderung mengalami peningkatan.
Produksi nanas pada tahun 2010 yaitu
sebesar 1,41 juta ton dan terus mengalami
peningkatan menjadi 1,84 juta ton pada
tahun 2013. Ini menyebabkan penyediaan
nanas pada tahun 2013 juga meningkat
sehingga lebih besar dibandingkan
penyediaan tahun sebelumnya. Pada tahun
berikutnya, yakni tahun 2014 hingga tahun
2016, produksi nanas diprediksi akan terus
mengalami peningkatan diikuti dengan
peningkatan penyediaan nanas. Produksi
nanas tahun 2014 diprediksi mencapai 1,93
juta ton dengan penyediaan sebesar 1,77
juta ton. Prediksi ekspor nanas tahun 2014
yaitu 162 ribu ton, jumlah ini lebih besar di
bandingkan tahun 2013. Demikian pula
pada tahun berikutnya ekspor nanas
diprediksikan terus meningkat menjadi 164
ribu ton pada tahun 2015 dan 165 ribu ton
pada tahun 2016. Sementara untuk impor
nanas sangat kecil.
Penggunaan nanas di Indonesia
terutama adalah digunakan sebagai bahan
makanan atau langsung dikonsumsi
sebagai bahan makanan dengan
persentase kurang lebih 94,8% dari total
penyediaan dalam negeri dan yang
tercecer mempunyai persentase sebesar
5,2%, sementara untuk penggunaan nanas
olahan baik untuk makanan maupun bukan
makanan datanya belum tersedia. Dari
perhitungan tersebut, maka nanas yang
tercecer pada tahun 2010 hingga tahun
2013 mengalami peningkatan dari 73 ribu
ton pada tahun 2010 hingga 88 ribu ton
pada tahun 2013 seiring dengan pola
peningkatan produksinya. Pada tahun 2014
nanas yang tercecer diprediksikan juga
terus meningkat sebesar 92 ribu ton pada
tahun 2014 hingga tahun 2016 menjadi
101 ribu ton. Nanas yang digunakan untuk
bahan makanan mencapai 1,33 juta ton
pada tahun 2010 dan mengalami
peningkatan hingga menjadi 1,59 juta ton
pada tahun 2013. Prediksi tahun 2014
hingga tahun 2016 memperlihatkan adanya
peningkatan dalam penggunaan nanas
sebagai bahan makanan sebesar 1,85 juta
ton pada tahun 2016. Secara rinci
penyediaan dan penggunaan nanas tahun
2010 2016 dapat dilihat pada Tabel 5.3.
Ketersediaan per kapita adalah
jumlah suatu produk atau komoditas yang
digunakan sebagai bahan makanan dibagi
dengan jumlah penduduk. Pada tahun
2010 ketersediaan nanas per kapita
sebesar 5,52 kg/kapita/tahun dan terus
meningkat pada tahun 2013 menjadi
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 31

sebesar 6,41 kg/kapita/tahun. Pada tahun
2014 ketersediaan nanas diprediksikan
meningkat begitu juga tahun berikutnya
hingga 2016 ketersediaan nanas per kapita
diprediksikan meningkat menjadi sebesar
7,14 kg/kapita/tahun (Gambar 5.3)


Tabel 5.3. Penyediaan, penggunaan dan ketersediaan nanas tahun 2010 2013 serta
prediksi tahun 2014 - 2016
2010 2011 2012 2013*) 2014**) 2015**) 2016**)
A. Penyediaan (000 ton) 1.406 1.541 1.620 1.683 1.768 1.859 1.949
1. Produksi
- Masukan
- Keluaran 1.406 1.541 1.782 1.837 1.930 2.022 2.114
2. Impor
3. Ekspor - - 162 154 162 164 165
4. Perubahan Stok
B. Penggunaan (000 ton) 1406 1.541 1.620 1.683 1.768 1.859 1.949
1. Pakan - - - - - - -
2. Bibit - - - - - - -
3. Diolah untuk :
- makanan - - - - - - -
- bukan makanan - - - - - - -
4. Tercecer 73 80 84 88 92 97 101
5. Bahan Makanan 1.333 1.461 1.536 1.595 1.676 1.762 1.848
C. Ketersediaan (kg/kap/tahun) 5,52 6,04 6,26 6,41 6,65 6,90 7,14
No. Uraian
Tahun

Sumber : Neraca Bahan Makanan, BKP Kementan
Keterangan : *) Angka Sementara **) Angka Prediksi Pusdatin

0,00
2,00
4,00
6,00
8,00
5,52
6,04
6,26
6,41
6,65
6,90
7,14
k
g
/
k
a
p
i
t
a
/
t
h
n
Gambar 5.3. Perkembangan ketersediaan nanas per kapita, tahun 2010 2013
serta prediksi tahun 2014 2016


Buletin Konsumsi Pangan

32 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

5.3. Perbandingan Konsumsi
(Susenas) dan Ketersediaan
Per Kapita (NBM) Komoditas
Nanas

Pada periode 2010 2016, konsumsi
per kapita nanas berdasarkan hasil
Susenas, BPS menunjukkan angka yang
lebih kecil jika dibandingkan angka
ketersediaan (NBM), ini berarti
ketersediaan nanas dapat memenuhi
kebutuhan konsumsi masyarakat di
Indonesia. Angka konsumsi nanas
berdasarkan hasil Susenas dari tahun 2010
hingga 2016 berfluktuasi namun cenderung
menurun, yakni dari 0,16 kg/kapita pada
tahun 2010 menjadi 0,14 kg/kapita pada
tahun 2016. Sementara angka ketersediaan
per kapita nanas pada tahun 2010 2016
terus meningkat dari 5,52 kg/kapita pada
tahun 2010 menjadi 7,14 kg/kapita pada
tahun 2016. Selisih atau beda dari
ketersediaan nanas dari tahun 2010 hingga
2016 terlihat cukup tinggi, perbedaan
tersebut diduga terserap pada sektor
industri makanan dan minuman serta
restoran. Hasil produk olahan nanas antara
lain selai, manisan, sirop, dodol, keripik,
buah kaleng dan lain-lain.
Perbandingan konsumsi per kapita
rumah tangga (SUSENAS) dengan
ketersediaan (NBM) komoditas nanas dapat
di lihat pada Tabel 5.4.
Tabel 5.4. Perbandingan konsumsi nanas perkapita dalam rumah tangga (SUSENAS)
dengan ketersediaan (NBM), 2010- 2016
2010 2011 2012 2013 2014*) 2015*) 2016*)
Konsumsi Rumah Tangga, Susenas 0,16 0,37 0,16 0,21 0,17 0,16 0,14
Ketersediaan, NBM 5,52 6,04 6,26 6,41 6,65 6,90 7,14
Selisih 5,36 5,68 6,10 6,20 6,47 6,74 7,00
Variabel
Tahun (kg/kapita/tahun)
Sumber: Susenas, BPS dan Ketersediaan NBM, BKP-Kementan
Keterangan: *) Angka Prediksi Pusdatin


5.4. Penyediaan Nanas di Beberapa
Negara di Dunia

Berdasarkan data dari FAO, rata
rata penyediaan nanas dunia selama lima
tahun (2007 2011) sebesar 18,12 juta
ton. Pada periode ini total penyediaan
nanas dunia terlihat meningkat dari tahun
ke tahun. Kumulatif penyediaan nanas ke-
10 negara ini mencapai 68,91% dari total
penyediaan dunia. Amerika merupakan
negara terbesar dalam penyediaan nanas
pada periode tersebut. Lima negara
dengan total penyediaan terbesar di dunia
secara rinci dapat dilihat pada Tabel 5.5.
Lima negara tersebut adalah Amerika,
Brazil, Indonesia, India dan Cina. Rata-rata
total penyediaan nanas di Amerika pada
periode tahun 2007 - 2011 mencapai 1,99
juta ton per tahun atau 11,00% dari total
penyedian nanas dunia.
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 33

Negara berikutnya adalah Brazil
dengan penyediaan mencapai 1,87 juta ton
dengan kontribusi terhadap total
penyediaan dunia sebesar 10,33%. Rata-
rata total penyediaan Indonesia yang
diperoleh dari data NBM, BKP yaitu sebesar
1,64 juta ton dengan kontribusi sebesar
9,03%. Negara India memiliki kontribusi
terhadap total penyediaan dunia sebesar
7,45%. Sementara negara lainnya
menyumbang kurang dari 7%. Persentase
kontribusi total penyediaan nanas di 10
negara terbesar di dunia dapat dilihat pada
Gambar 5.4.


Tabel 5.5. Negara dengan penyediaan nanas terbesar di dunia, 2007 2011
2007 2008 2009 2010 2011
1 USA 1.815.521 2.083.188 2.142.345 1.931.341 1.993.584 1.993.196 11,00 11,00
2 Brazil 2.055.223 1.983.153 1.699.882 1.735.126 1.881.953 1.871.067 10,33 21,33
3 Indonesia *) 2.238.000 1.433.000 1.558.000 1.406.000 1.541.000 1.635.200 9,03 30,36
4 India 1.358.047 1.241.341 1.341.946 1.386.917 1.416.103 1.348.871 7,45 37,80
5 Cina 1.197.768 1.215.920 1.317.628 1.263.704 1.265.143 1.252.033 6,91 44,72
6 Thailand 1.654.758 1.203.001 1.009.138 1.100.586 965.879 1.186.672 6,55 51,27
7 Philiphina 929.103 1.159.292 1.183.296 1.185.786 1.086.935 1.108.882 6,12 57,39
8 Nigeria 814.328 818.540 901.657 1.341.228 1.266.805 1.028.512 5,68 63,07
9 Meksiko 606.455 637.235 639.923 607.939 668.454 632.001 3,49 66,55
10 Viet Nam 409.360 405.589 425.254 451.006 444.461 427.134 2,36 68,91
Negara lain 4.703.096 5.424.321 5.603.820 6.010.275 6.416.723 5.631.647 31,09 100,00
Total Dunia 17.781.659 17.604.580 17.822.889 18.419.908 18.947.040 18.115.215
No Negara
Tahun (Ton)
Rata2
Share
(%)
Kumulatif
(%)

Sumber : http://faostat.fao.org diolah Pusdatin
Keterangan : *) Data NBM, BKP

11,00%
10,33%
9,03%
7,45%
6,91%
6,55%
6,12%
5,68%
3,49%
2,36%
31,09%
USA Brazil Indonesia India Cina Thailand
Philiphina Nigeria Meksiko Viet Nam Lainnya

Gambar 5.4. Negara dengan penyediaan nanas terbesar
di dunia, rata-rata 2007 2011
Buletin Konsumsi Pangan

34 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian


5.5 Ketersediaan Nanas per Kapita
di Beberapa Negara di Dunia

Pada periode tahun 2007-2011 lima
negara dengan peringkat ketersediaan per
kapita terbesar dunia untuk komoditas
nanas adalah Costa Rica, Benin, Samoa,
Thailand dan Swaziland. Rata-rata
ketersediaan per kapita dunia sebesar 3,35
kg/kapita/tahun sedangkan kelima negara
terbesar tersebut jauh lebih tinggi di atas
rata-rata dunia. Perkembangan
ketersediaan nanas per kapita di dunia
tahun 2007 -2011 dapat dilihat pada Tabel
5.6 di bawah ini.
Selama periode 2007-2011 terlihat
negara Costa Rica merupakan negara
dengan rata-rata ketersediaan nanas per
kapita terbesar di dunia yakni 25,90
kg/kapita/tahun. Negara selanjutnya
adalah Benin, Samoa, Thailand dan
Swaziland dengan rata-rata ketersediaan
perkapita masing-masing sebesar 19,24
kg/kapita/tahun, 18,84 kg/kapita/tahun,
17,90 kg/kapita/tahun dan 17,06
kg/kapita/tahun.
Jika dilihat untuk negara Asia, yaitu
Malaysia, India dan Cina masing- masing
menempati urutan ke-9, 94 dan 104.
Malaysia dengan rata-rata ketersediaan
perkapita 10,74 kg/kapita/tahun dan India
1,16 kg/kapita/tahun, sementara Cina
memiliki rata-rata kurang dari 1
kg/kapita/tahun. Ketersedian nanas di
Indonesia pada periode 2007 2011
terlihat masih di atas rata-rata dunia yaitu
sebesar 6,66 kg/kapita/tahun.
Perkembangan ketersediaan nanas per
kapita negara-negara di dunia tahun 2007-
2011 tersaji secara lengkap pada Gambar
5.5.

Tabel 5.6. Ketersediaan nanas per kapita per tahun beberapa negara di dunia, 2007 2011

2007 2008 2009 2010 2011
1
Costa Rica 13,90 15,70 15,70 36,10 48,10
25,90
2
Benin 13,40 13,40 21,60 25,30 22,50
19,24
3
Samoa 20,40 19,70 16,90 18,60 18,60
18,84
4
Thailand 25,00 18,20 15,20 16,60 14,50
17,90
5
Swaziland 15,30 15,60 15,90 17,30 21,20
17,06

9 Malaysia 9,90 12,70 11,50 10,10 9,50 10,74
Indonesia *) 9,40 5,95 6,38 5,52 6,04 6,66
94 India 1,20 1,10 1,10 1,20 1,20 1,16
104 Cina 0,90 0,90 1,00 0,90 0,90 0,92
Rata-rata Dunia 3,19 3,17 3,25 3,47 3,68 3,35
No Negara
Ketersediaan (Kg/kapita/tahun)
Rata -rata

Sumber : http://faostat.fao.org diolah Pusdatin
Keterangan : *) Data NBM, BKP


Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 35


0,00
5,00
10,00
15,00
20,00
25,00
30,00
25,90
19,24
18,84 17,90
17,06
10,74
6,66
1,16
0,92
3,35
k
g
/
k
a
p
i
t
a
/
t
h
n

Gambar 5.5. Ketersediaan nanas per kapita per tahun beberapa negara di dunia,
rata-rata 2007 2011
Buletin Konsumsi Pangan

36 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

BAB VI. KELAPA SAWIT

elapa sawit (Elaeis guineensis)
berasal dari Afrika Barat,
merupakan tanaman
penghasil utama minyak nabati yang
mempunyai produktivitas lebih tinggi
dibandingkan tanaman penghasil minyak
nabati lainnya. Luas perkebunan kelapa
sawit terus berkembang dan kini Indonesia
menjadi salah satu negara terbesar di
dunia penghasil minyak kelapa sawit.
Industri kelapa sawit memberikan
kontribusi yang cukup signifikan bagi
perekonomian nasional. Selain merupakan
penyumbang devisa ekspor non migas
terbesar, industri kelapa sawit Indonesia
dilakukan dengan sistem tata kelola
lingkungan yang baik menuju industri
kelapa sawit Indonesia yang lestari atau
sustainable palm oil.
Bagian yang paling utama untuk
diolah dari kelapa sawit adalah buahnya,
bagian daging buah menghasilkan minyak
kelapa sawit mentah yang diolah menjadi
bahan baku minyak goreng. Kelebihan
minyak nabati dari sawit adalah harga yang
murah, rendah kolesterol, dan memiliki
kandungan karoten tinggi. Minyak sawit
juga dapat diolah menjadi bahan baku
minyak alkohol, sabun, lilin, dan industri
kosmetika. Sisa pengolahan buah sawit
sangat potensial menjadi bahan campuran
makanan ternak dan difermentasikan
menjadi kompos. Tandan kosong dapat
dimanfaatkan untuk mulsa tanaman kelapa
sawit, sebagai bahan baku pembuatan pulp
dan pelarut organik, dan tempurung kelapa
sawit dapat dimanfaatkan sebagai bahan
bakar dan pembuatan arang aktif.
Buah kelapa sawit merupakan buah
yang kaya dengan minyak. Dalam tandan
buah sawit yang dipanen terdiri dari kulit
dan tandan (29%), biji atau inti sawit
(11%) dan daging buah (60%). Hal ini
merupakan karakteristik unik dan unggul
dari buah kelapa sawit jika dibandingkan
dengan jenis tanaman penghasil minyak
lainnya, karena kelapa sawit bisa
menghasilkan dua jenis minyak dari buah
yang sama. Proses pengepresan daging
buah sawit akan menghasilkan minyak
sawit kasar (crude palm oil, CPO) dan inti
sawit akan menghasilkan minyak inti sawit
kasar (crude palm kernel oil, CPKO). Kedua
jenis minyak ini (CPO dan CPKO)
mempunyai karakteristik kimia, fisik, dan
gizi yang berbeda. CPO kaya dengan asam
palmitat sedangkan CPKO kaya dengan
asam laurat dan asam miristat
(http://www.gapki.or.id).
Kelapa sawit mempunyai
produktivitas lebih tinggi dibandingkan
tanaman penghasil minyak nabati lainnya
(seperti kacang kedelai, kacang tanah dan
lain-lain), sehingga harga produksi menjadi
K
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 37

lebih ringan. Masa produksi kelapa sawit
yang cukup panjang (22 tahun) juga akan
turut mempengaruhi ringannya biaya
produksi yang dikeluarkan oleh pengusaha
kelapa sawit. Kelapa sawit juga merupakan
tanaman yang paling tahan hama dan
penyakit dibandingkan tanaman penghasil
minyak nabati lainnya. Jika dilihat dari
konsumsi per kapita minyak nabati dunia
mencapai angka rata-rata 25 kg/th setiap
orangnya, kebutuhan ini akan terus
meningkat sejalan dengan pertumbuhan
penduduk dan meningkatnya konsumsi per
kapita (http://www.ideelok.com/budidaya-
tanaman/kelapa-sawit).

6.1. Perkembangan dan Prediksi
Konsumsi Minyak Goreng
Lainnya (Sawit) dalam Rumah
Tangga di Indonesia

Konsumsi minyak goreng lainnya
yang dimaksud dalam Susenas-BPS adalah
konsumsi minyak goreng sawit.
Perkembangan konsumsi minyak goreng
sawit di tingkat rumah tangga di Indonesia
selama tahun 2002-2013 pada umumnya
mengalami peningkatan dengan rata-rata
peningkatan 4,80% per tahun. Peningkatan
terbesar terjadi di tahun 2007 dimana
konsumsi dalam rumah tangga naik
sebesar 23,48% dibandingkan tahun
sebelumnya. Sebaliknya penurunan
konsumsi minyak goreng sawit dalam
rumah tangga terjadi di tahun 2003, 2010
dan 2013 dengan penurunan konsumsi
terbesar terjadi pada tahun 2013 yaitu
4,47%. Pada tahun 2013, konsumsi
minyak goreng sawit sebesar 8,92
liter/kapita/tahun. Prediksi konsumsi
minyak goreng sawit di tingkat rumah
tangga untuk tahun 2014 yaitu sebesar
9,21 liter/kapita/tahun, konsumsi ini
mengalami peningkatan dibandingkan
tahun 2013, begitu juga tahun 2015 dan
2016 memperlihatkan bahwa konsumsi
minyak goreng sawit mengalami sedikit
peningkatan. Konsumsi minyak goreng
sawit tahun 2015 dan 2016 diprediksi
masing-masing sebesar 9,44 liter/kapita/
tahun dan 9,66 liter/kapita/tahun tersaji
secara lengkap pada Tabel 6.1 dan
Gambar 6.1.












Buletin Konsumsi Pangan

38 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 6.1. Perkembangan konsumsi minyak goreng lainnya (sawit) dalam rumah
tangga di Indonesia tahun 2002-2013 serta prediksi tahun 2014 - 2016

Seminggu
(Liter/kapita/minggu)
Setahun
(Liter/kapita/tahun)
2002 0.105 5.475
2003 0.104 5.423 -0.95
2004 0.112 5.840 7.69
2005 0.115 5.996 2.68
2006 0.115 5.996 0.00
2007 0.142 7.404 23.48
2008 0.153 7.978 7.75
2009 0.157 8.186 2.61
2010 0.154 8.030 -1.91
2011 0.158 8.239 2.60
2012 0.179 9.334 13.29
2013 0.171 8.916 -4.47
Rata-rata 0.139
7.235
4.80
2014*) 0.177 9.212 3.31
2015*) 0.181 9.436 2.43
2016*) 0.185 9.660 2.38
Tahun
Konsumsi
Pertumbuhan
(%)

Sumber : SUSENAS, BPS
Keterangan: *) Angka Prediksi Pusdatin

0.000
1.000
2.000
3.000
4.000
5.000
6.000
7.000
8.000
9.000
10.000
2002 2003 2004 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014*) 2015*) 2016*)
(Liter/Kapita/tahun)

Gambar 6.1. Perkembangan konsumsi minyak goreng lainnya (sawit) dalam rumah
tangga di Indonesia, 2002 2016


Apabila dilihat dari besarnya
pengeluaran untuk konsumsi minyak
goreng lainnya (minyak sawit) bagi
penduduk Indonesia tahun 2008 2013
secara nominal menunjukkan peningkatan
sebesar 14,68%, yakni dari Rp.
55.010/kapita pada tahun 2008 menjadi
Rp. 105.015/kapita pada tahun 2013. Pada
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 39

tahun 2011, secara nominal pengeluaran
konsumsi minyak sawit meningkat cukup
tinggi yaitu sebesar Rp. 99.697,-/kapita.
Setelah dikoreksi dengan faktor inflasi,
pengeluaran untuk konsumsi minyak
goreng lainnya (minyak sawit) pada tahun
2008 2013 secara riil sejatinya
mengalami peningkatan sebesar 13,41%.
Hal ini menunjukan bahwa secara
kuantitas, konsumsi per kapita minyak
goreng sawit penduduk Indonesia terjadi
penurunan karena disamping
mengkonsumsi minyak goreng sawit juga
menggunakan minyak goreng kelapa/kopra
dan juga margarin (blue band) yang juga
terbuat dari lemak nabati.

Tabel 6.2. Perkembangan pengeluaran nominal dan riil rumah tangga untuk konsumsi minyak
sawit, 2008 - 2013

Pertumb.
2008 2009 2010 2011 2012 2013 (%)
1 Nominal 55.010,71 71.852,86 78.631,43 99.697,14 114.453,57 105.015,71 14,68
2 IHK 131,40 122,25 122,26 138,07 140,82 139,82 1,45
3 Riil 41.865,08 58.773,74 64.314,93 72.210,29 81.275,06 75.106,45 13,41
No. Uraian
Pengeluaran (Rupiah/kapita/th)
20.000,00
40.000,00
60.000,00
80.000,00
100.000,00
120.000,00
2008 2009 2010 2011 2012 2013
Pengeluaran Nominal Pengeluaran Riil

Sumber : BPS, diolah Pusdatin
Keterangan: IHK (indeks Harga Konsumen) yang digunakan IHK Kelompok lemak dan minyak

20,000.00
40,000.00
60,000.00
80,000.00
100,000.00
120,000.00
2008 2009 2010 2011 2012 2013
Pengeluaran Nominal Pengeluaran Riil

Gambar 6.2. Perkembangan pengeluaran nominal dan riil dalam rumah tangga untuk
konsumsi minyak sawit di Indonesia, 2008 2013


5.2. Perkembangan serta Prediksi
Penyediaan dan Penggunaan
Minyak Sawit di Indonesia

Berdasarkan hasil perhitungan
Neraca Bahan Makanan (NBM), komponen
penyediaan minyak sawit terdiri dari
produksi ditambah impor dikurangi ekspor
dan perubahan stok, sementara komponen
penggunaan minyak sawit adalah untuk
diolah sebagai makanan dan bukan
makanan serta tercecer. Penyediaan
minyak sawit di Indonesia seluruhnya
Buletin Konsumsi Pangan

40 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

dipasok dari produksi dalam negeri,
walaupun ada realisasi impor namun dalam
kuantitas yang sangat kecil.
Produksi minyak sawit dari tahun
2010 hingga 2013 menunjukkan pola
berfluktuatif namun cenderung mengalami
peningkatan dengan rata-rata sebesar
8,16% per tahun. Produksi minyak sawit
pada tahun 2010 mencapai 21,96 juta ton
dan meningkat menjadi 23,10 juta ton
pada tahun 2011, yang kemudian
meningkat secara signifikan menjadi 26,02
juta ton pada tahun 2012, serta pada
tahun 2013 (angka sementara) meningkat
menjadi sebesar 27,75 juta ton.
Produksi minyak sawit dari tahun
2014 hingga 2016 diprediksi akan
mengalami peningkatan rata-rata sebesar
6,28% per tahun. Produksi minyak sawit
pada tahun 2014 mencapai 29,51 juta ton
dan meningkat menjadi 31,54 juta ton
pada tahun 2015, yang kemudian
meningkat lagi menjadi 33,31 juta ton
pada tahun 2016 (Tabel 6.3).
Tabel 6.3. Penyediaan dan penggunaan minyak sawit tahun 2010 - 2013 serta prediksi
tahun 2014 2016
2010 2011 2012*) 2013*) 2014**) 2015**) 2016**)
A. Penyediaan (000 ton) 5.613 6.102 6.937 6.484 6.167 6.298 6.054
1. Produksi
- Masukan - - - - - - -
- Keluaran 21.958 23.097 26.016 27.746 29.513 31.540 33.311
2. Impor 47 23 1 47 25 45 30
3. Ekspor 16.292 16.436 18.845 21.030 23.041 24.897 26.825
4. Perubahan Stok 100 582 235 279 330 390 462
B. Penggunaan (000 ton) 5.613 6.102 6.937 6.484 6.167 6.298 6.054
1. Pakan - - - - - - -
2. Bibit - - - - - - -
3. Diolah untuk : - - - - - - -
- makanan 5.255 5.722 6.516 6.055 5.725 5.835 5.577
- bukan makanan 224 234 255 274 294 313 332
4. Tercecer 134 146 166 155 147 151 145
5. Bahan Makanan - - - - - - -
C. Ketersediaan
kapita/tahun (kg) - - - - - - -
No. Uraian
Tahun

Sumber : NBM, BKP Kementan diolah Pusdatin
Keterangan: *) Angka sementara **) Angka Prediksi Pusdatin

Penggunaan minyak sawit menurut
data Neraca Bahan Makanan (NBM) adalah
sebagian besar diolah dalam industri
makanan menjadi minyak goreng sawit,
dan juga digunakan dalam industri non
makanan dan tercecer. Pada tahun 2010,
penggunaan minyak sawit untuk diolah
dalam industri makanan sebesar 5,26 juta
ton dan diolah bukan makanan sebesar
224 ribu ton, serta tercecer 134 ribu ton.
pada tahun 2012 untuk diolah dalam
industri makanan sebesar 6,52 juta ton dan
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 41

diolah bukan makanan sebesar 255 ribu
ton, serta tercecer 166 ribu ton,
selanjutnya pada tahun 2013 untuk diolah
dalam industri makanan sebesar 6,06 juta
ton dan diolah bukan makanan sebesar
274 ribu ton, serta tercecer 155 ribu ton.
Pada tahun 2014 2016, peng-
gunaan minyak sawit diperkirakan untuk
keperluan industri bukan makanan
diprediksikan akan mengalami peningkatan
dengan rata-rata sebesar 6,61%.
Sedangkan tercecer diprediksikan
mengalami penurunan dengan rata-rata
sebesar 2,21% per tahun. Demikian juga,
penggunaan untuk bahan makanan
diprediksikan cenderung mengalami
penurunan dengan rata-rata sebesar
2,65% per tahun. Pada periode tahun
2010 2013, dari jumlah penyediaan
minyak sawit domestik tersebut sekitar
3,93% digunakan untuk industri non
makanan dan sebesar 2,39% tercecer,
sehingga 93,68% digunakan untuk diolah
industri makanan yang nantinya sebagai
masukan dalam neraca minyak goreng
sawit (Tabel 6.3).

6.3. Perkembangan serta Prediksi
Penyediaan, Penggunaan dan
Ketersediaan Minyak Goreng
Sawit di Indonesia

Berdasarkan hasil perhitungan Neraca
Bahan Makanan (NBM) minyak sawit di atas,
selanjutnya komponen penggunaan diolah
untuk industri makanan inilah yang akan
menjadi masukan (produksi) dalam neraca
minyak goreng sawit. Selanjutnya dari
masukan minyak sawit tersebut dengan
menggunakan angka konversi sebesar 68,28
persen menjadi minyak goreng sawit.
Komponen penyediaan minyak goreng sawit
terdiri dari produksi, sementara impor,
ekspor dan data perubahan stok tidak
tersedia. Penyediaan minyak goreng sawit
di Indonesia seluruhnya bisa dipasok dari
produksi dalam negeri. Produksi minyak
goreng sawit dari tahun 2010 hingga 2013
menunjukkan pola berfluktuatif namun
cenderung mengalami peningkatan dengan
rata-rata sebesar 5,23% per tahun. Produksi
minyak goreng pada tahun 2010 mencapai
3,59 juta ton dan meningkat menjadi 3,91
juta ton pada tahun 2011, yang kemudian
meningkat menjadi 4,45 juta ton pada tahun
2012 serta 4,13 juta ton pada tahun 2013.
Penggunaan minyak goreng sawit
menurut data Neraca Bahan Makanan (NBM)
adalah diolah dalam industri bukan
makanan, tercecer dan sisanya merupakan
bahan yang tersedia untuk dikonsumsi
menjadi bahan makanan. Pada tahun 2010,
penggunaan minyak goreng sawit diolah
untuk industri bukan makanan sebesar 22
ribu ton, tercecer sebesar 56 ribu ton,
sehingga ketersediaan yang digunakan
sebagai bahan makanan sebesar 3,51 juta
ton. Pada tahun 2012 terjadi peningkatan
produksi minyak sawit secara signifikan,
yang berakibat produksi minyak goreng
sawit meningkat, sementara penggunaan
Buletin Konsumsi Pangan

42 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

diolah industri bukan makanan relatif tetap
sehingga penggunaan minyak goreng sawit
untuk bahan makanan mengalami
peningkatan.
Selanjutnya pada tahun 2014 2016,
penggunaan minyak goreng sawit untuk
keperluan industri bukan makanan
diprediksikan akan mengalami sedikit
peningkatan dengan rata-rata sebesar
7,72%. Sedangkan penggunaan minyak
goreng sawit yang tercecer mengalami
penurunan dengan rata-rata sebesar 2,65%,
demikian juga penggunaan minyak goreng
sawit untuk bahan makanan diprediksikan
mengalami penurunan dengan rata-rata
sebesar 2,72% per tahun. Dengan membagi
angka penggunaan minyak goreng sawit
yang siap digunakan sebagai bahan
makanan dengan jumlah penduduk maka
diperoleh angka ketersediaan per kapita
minyak goreng sawit (Tabel 6.4).

Tabel 6.4. Penyediaan, penggunaan dan ketersediaan minyak goreng sawit, tahun 2010
2013 dan prediksi tahun 2014 - 2016
2010 2011 2012*) 2013*) 2014**) 2015**) 2016**)
A. Penyediaan (000 ton) 3.588 3.907 4.449 4.134 3.909 3.984 3.808
1. Produksi
- Masukan 5.255 5.722 6.516 6.055 5.725 5.835 5.577
- Keluaran 3.588 3.907 4.449 4.134 3.909 3.984 3.808
2. Impor - - - - - - -
3. Ekspor - - - - - - -
4. Perubahan Stok - - - - - - -
B. Penggunaan (000 ton) 3.588 3.907 4.449 4.134 3.909 3.984 3.808
1. Pakan - - - - - - -
2. Bibit - - - - - - -
3. Diolah untuk : - - - - - - -
- makanan
- bukan makanan 22 17 19 24 26 28 30
4. Tercecer 56 61 69 64 61 62 59
5. Bahan Makanan 3.510 3.829 4.361 4.046 3.823 3.894 3.719
C. Ketersediaan
kapita/tahun (kg) 14,72 15,82 17,77 16,26 15,16 15,24 14,38
No. Uraian
Tahun

Sumber : NBM, BKP Kementan diolah Pusdatin
Keterangan: *) Angka sementara **) Angka Prediksi Pusdatin


Pada tahun 2010 ketersediaan
minyak goreng sawit mencapai 14,72
kg/kapita/tahun yang kemudian meningkat
menjadi 15,82 kg/kapita/tahun pada tahun
2011 serta mengalami peningkatan secara
signifikan pada tahun 2012 menjadi
sebesar 17,77 kg/kapita/tahun, kemudian
pada tahun 2013 mengalami penurunan
menjadi sebesar 16,26 kg/kapita/tahun.
Ketersediaan minyak goreng sawit pada
periode 2014 2016 diprediksikan
mengalami penurunan dengan rata-rata
sebesar 3,97%. Pada tahun 2014,
ketersediaan per kapita minyak goreng
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 43

sawit diprediksikan sebesar 15,16
kg/kapita/tahun, kemudian turun menjadi
15,24 kg/kapita/tahun pada tahun 2015
dan diprediksi mengalami penurunan
kembali pada tahun 2016 menjadi sebesar
14,38 kg/kapita/tahun, secara lengkap
disajikan pada Gambar 6.3.


0,00
2,00
4,00
6,00
8,00
10,00
12,00
14,00
16,00
18,00
2010 2011 2012* 2013** 2014** 2015** 2016**
(kg/kap/tahun)

Gambar 6.3. Ketersediaan konsumsi minyak goreng sawit perkapita pertahun di
Indonesia, tahun 20102013 dan prediksi 2014-2016

6.3. Perbandingan Konsumsi
Perkapita (Susenas) dengan
Ketersediaan Perkapita (NBM)
Minyak Goreng Sawit


Pada periode 2010 2016, konsumsi
per kapita minyak goreng sawit
berdasarkan hasil susenas, BPS
menunjukkan angka yang lebih kecil jika
dibandingkan angka ketersediaan (NBM),
ini berarti ketersediaan minyak goreng
sawit dapat memenuhi kebutuhan
konsumsi masyarakat di Indonesia. Angka
konsumsi minyak goreng sawit
berdasarkan hasil Susenas dari tahun 2010
hingga 2016 cenderung meningkat, yakni
dari 8,03 kg/kapita pada tahun 2010
menjadi 9,44 kg/kapita pada tahun 2016.
Sementara angka ketersediaan per kapita
minyak goreng sawit pada tahun 2010
2016 berfluktuasi namun cenderung
meningkat dari 14,72 kg/kapita pada tahun
2010 menjadi 15,54 kg/kapita pada tahun
2016. Selisih atau beda dari ketersediaan
minyak goreng sawit dari tahun 2010
hingga 2016 terlihat cukup tinggi,
perbedaan tersebut diduga terserap pada
sektor industri makanan, non makanan dan
restoran.
Perbandingan konsumsi per kapita
rumah tangga (SUSENAS) dengan
ketersediaan (NBM) komoditas minyak
goreng sawit tahun 2010-2016 dapat di
lihat pada Tabel 6.5.
Buletin Konsumsi Pangan

44 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian


Tabel 6.5. Perbandingan konsumsi perkapita rumah tangga (SUSENAS) dengan ketersediaan
per kapita (NBM) minyak goring sawit, 2010 2016
2010 2011 2012 2013 2014* 2015* 2016*
Konsumsi Rumah Tangga, Susenas 8,03 8,24 9,33 8,92 9,21 9,44 9,66
Ketersediaan, NBM 14,72 15,82 17,77 16,26 15,16 15,24 14,38
Selisih 6,69 7,58 8,44 7,35 5,95 5,81 4,72
Variabel
Tahun (kg/kapita/tahun)

Sumber : Susenas (BPS) dan NBM (BKP)
Keterangan: *) Angka Prediksi Pusdatin


6.4. Penyediaan Minyak Sawit di
beberapa negara di Dunia

Rata-rata penyediaan minyak sawit
dunia berdasarkan sumber USDA, periode
tahun 2009 2013 sebesar 50,74 juta ton.
Pada periode ini total penyediaan minyak
sawit dunia terlihat meningkat dari tahun
ke tahun. Kumulatif penyediaan minyak
sawit ke-10 negara terbesar mencapai
62,43% dari total penyediaan dunia. India
merupakan negara terbesar dalam
penyediaan minyak sawit pada periode
tersebut. Lima negara dengan total
penyediaan terbesar di dunia secara rinci
dapat dilihat pada Tabel 6.6. Lima negara
tersebut adalah India, Indonesia, Cina,
Malaysia dan Pakistan. Rata-rata total
penyediaan minyak sawit di India pada
periode tahun 2009 - 2013 mencapai 7,55
juta ton per tahun atau 14,89% dari total
penyedian minyak sawit dunia.
Dua negara berikutnya adalah
Indonesia dan Cina masing-masing sebesar
7,33 juta ton dan 6,07 juta ton dengan
kontribusi terhadap total penyediaan dunia
masing-masing sebesar 14,46% dan
11,96%. Negara terbesar keempat dan
kelima adalah Malaysia dan Pakistan
dengan kontribusi masing-masing sebesar
4,59% dan 4,25%. Negara lainnya memiliki
kontribusi terhadap total penyediaan dunia
dibawah 3%. Persentase kontribusi total
penyediaan minyak sawit di 10 negara
terbesar di dunia dapat dilihat pada Tabel
6.6 dan Gambar 6.4.











Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 45

Tabel 6.6. Negara dengan penyediaan minyak sawit terbesar di dunia, 2009 2013

Rata-rata Share Kumulatif
2009 2010 2011 2012 2013 2009-2013
(%) (%)
1 India 6.440 7.080 7.425 8.225 8.600 7.554 14,89 14,89
2 Indonesia 5.494 6.414 7.129 7.852 9.780 7.334 14,46 29,34
3 China 5.930 5.797 5.841 6.389 6.379 6.067 11,96 41,30
4 Malaysia 2.301 2.204 2.150 2.451 2.530 2.327 4,59 45,89
5 Pakistan 1.957 2.077 2.110 2.235 2.405 2.157 4,25 50,14
6 Thailand 1.255 1.457 1.518 1.605 1.675 1.502 2,96 53,10
7 Nigeria 1.252 1.267 1.285 1.375 1.405 1.317 2,60 55,70
8 Mesir 1.171 1.380 1.355 1.260 1.295 1.292 2,55 58,24
9 Amerika Serikat 957 957 1.043 1.230 1.364 1.110 2,19 60,43
10 Bangladesh 921 980 1.030 1.030 1.100 1.012 2,00 62,43
Negara Lainnya 16.843 17.615 19.128 20.992 20.733 19.062 37,57 100,00
Dunia 44.521 47.228 50.014 54.644 57.266 50.735 100,00
No Negara
Total Ketersediaan (000 Ton)

Sumber : http://apps.fas.usda.gov/psdonline, diolah pusdatin

14,89%
14,46%
11,96%
4,59%
4,25%
2,96% 2,60%
2,55%
2,19%
2,00%
37,57%
India Indonesia China Malaysia
Pakistan Thailand Nigeria Mesir
Amerika Serikat Bangladesh Negara Lainnya

Gambar 6.4. Negara dengan penyediaan minyak sawit terbesar di dunia, share
terhadap rata-rata 2009 - 2013

6.5. Ketersediaan Minyak Sawit per
Kapita per Tahun di Dunia

Menurut data FAO, pada periode
tahun 2007 - 2011 lima negara dengan
peringkat ketersediaan per kapita terbesar
dunia untuk komoditas minyak sawit
adalah Liberia, Indonesia, Hoduras, Pantai
Gading dan Sierra Leone. Rata-rata
ketersediaan per kapita dunia sebesar 3,08
kg/kapita/tahun sedangkan kelima negara
terbesar tersebut jauh lebih tinggi di atas
rata-rata dunia.
Selama periode 2007 - 2011 terlihat
negara Liberia merupakan negara dengan
Buletin Konsumsi Pangan

46 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

rata-rata ketersediaan minyak sawit per
kapita terbesar di dunia yakni 14,14
kg/kapita/tahun. Indonesia dengan
menggunakan data ketersediaan per kapita
per tahun yang bersumber dari Neraca
Bahan Makanan, BKP menempati urutan ke
2 (dua) dengan rata-rata ketersediaan
minyak sawit per kapita sebesar 13,00
kg/kapita/tahun. Negara berikutnya adalah
Hoduras, Pantai Gading dan Sierra Leone
dengan rata-rata ketersediaan per kapita
masing-masing sebesar 9,34 kg/kapita/
tahun, 9,26 kg/kapita/tahun dan 9,26 kg/
kapita/tahun. Perkembangan ketersediaan
minyak sawit per kapita negara-negara di
dunia tahun 2007 - 2011 tersaji secara
lengkap pada Tabel 6.7 dan Gambar 6.5.

Tabel 6.7. Ketersediaan minyak sawit per kapita per tahun di beberapa negara di dunia,
2007 2011
Rata-rata
2007 2008 2009 2010 2011 2007-2011
1 Liberia 13,60 13,70 14,00 14,60 14,80 14,14
2 Indonesia *) 15,17 13,20 6,08 14,72 15,82 13,00
3 Honduras 9,30 9,30 9,40 9,30 9,40 9,34
4 Pantai Gading 10,20 9,50 8,70 9,00 8,90 9,26
5 Sierra Leone 8,70 9,30 9,20 9,60 9,50 9,26
6 Ekuador 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00 9,00
7 Djibouti 7,70 8,00 8,00 8,30 8,30 8,06
8 Saudi Arabia 7,20 8,10 8,60 8,10 7,90 7,98
9 Gambia 7,60 7,00 8,10 7,30 8,60 7,72
10 Kolombia 5,80 6,00 6,00 9,50 9,70 7,40
: : : : : : :
14 Brunei Darussalam 6,60 6,70 6,70 6,70 6,80 6,70
15 Malaysia 5,90 6,70 6,60 6,60 6,60 6,48
Dunia 2,92 3,15 3,15 3,33 3,38 3,08
No Negara
Ketersediaan (Kg/kapita/tahun)

Sumber : http://faostat.fao.org diolah Pusdatin
Keterangan : *) Data NBM, BKP

14%
13%
10%
10%
9%
9%
8%
8%
8%
8%
3%
Liberia Indonesia *) Honduras Pantai Gading
Sierra Leone Ekuador Djibouti Saudi Arabia
Gambia Kolombia Dunia

Gambar 6.5. Perkembangan ketersediaan minyak sawit per kapita beberapa
negara di dunia, rata-rata 2007 2011
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 47

BAB VII. DAGING SAPI

aging sapi merupakan salah satu
komoditas yang selama ini
memberi andil pada perbaikan
gizi masyarakat, khususnya kebutuhan
protein hewani. Protein hewani sangat
dibutuhkan dalam pembangunan manusia
Indonesia karena erat hubungannya
dengan kesehatan fisik dan perkembangan
kecerdasan manusia. Selama ini kebutuhan
daging sapi di Indonesia dipenuhi dari tiga
sumber yaitu: sapi lokal, sapi impor, dan
daging impor (Hadi dan Ilham, 2000).
Manfaat daging sapi bagi tubuh
manusia Setiap 100 gram daging sapi
mengandung protein 18,8 gram. Protein
dari daging sapi ini disebut protein hewani
yang mempunyai struktur asam amino
yang mirip dengan manusia, tidak dapat
dibuat oleh tubuh (essensial), susunan
asam aminonya relatif lebih lengkap dan
seimbang. Daya cerna protein hewani
lebih baik dibanding dengan protein nabati
(dari tumbuh-tumbuhan). Pada tubuh
makluk hidup seperti manusia, protein
merupakan penyusun bagian besar organ
tubuh, seperti: otot, kulit, rambut, jantung,
paru-paru, otak, dan lain-lain. Adapun
fungsi protein yang penting bagi tubuh
manusia, antara lain untuk: 1)
pertumbuhan; 2) memperbaiki sel-sel yang
rusak, 3) sebagai bahan pembentuk
plasma kelenjar, hormon dan enzim; 4)
sebagian sebagai cadangan energi, jika
karbohidrat sebagai sumber energi utama
tidak mencukupi; dan 5) menjaga
keseimbangan asam basa darah.
Anak-anak yang sering memakan
bahan pangan yang mengandung protein
hewani akan terlihat tumbuh cepat,
mempunyai daya tahan tubuh kuat, dan
cerdas dibanding dengan anak yang jarang
makan makanan berprotein tinggi. Tumbuh
cepat ditandai dengan badannya berisi,
segar dan lebih gemuk serta tinggi.
Sedangkan mempunyai daya tahan tubuh
kuat biasanya ditandai dengan jarang
sakit-sakitan dan aktif atau banyak
beraktifitas/lincah. Kemudian cerdas
ditandai dengan pandai di sekolah dan
cepat tanggap terhadap pertanyaan.
Selain protein tersebut, lemak juga
bermanfaat bagi tubuh manusia, yaitu
sebagai simpanan energi/tenaga. Lemak
yang terdapat dalam daging sapi berfungsi
sebagai sumber energi yang padat bagi
tubuh manusia, setiap gram lemak
menghasilkan energi sebanyak 9 kkal.
Selain itu lemak juga berfungsi bagi tubuh
manusia untuk menghemat protein dan
thiamin, serta membuat rasa kenyang yang
lebih lama. Konsumsi daging sapi
langsung dapat dihitung dengan
mengalikan konsumsi daging sapi per
kapita dengan jumlah penduduk, dimana
D
Buletin Konsumsi Pangan

48 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

untuk data konsumsi per kapita
menggunakan data Susenas BPS. Daging
sapi juga merupakan salah satu komoditas
yang menjadi andalan sub sektor
Peternakan. Berdasarkan program yang
disusun oleh Ditjen Peternakan, tahun
2014 diharapkan Indonesia dapat
mencapai swasembada daging sapi. Upaya
untuk merealisasikan program tersebut
sebenarnya sudah direncanakan sejak
tahun 2008, namun sampai saat ini masih
belum tercapai, sehingga diharapkan pada
tahun 2014 swasembada daging sapi dapat
terealisasi.
Pendekatan pada kajian konsumsi
daging sapi ini adalah dengan pendekatan
pengeluaran konsumsi di perkotaan dan
perdesaan serta konsumsi perkapita di
perdesaan dan perkotaan untuk
menggambarkan konsumsi daging sapi di
Indonesia.
Selain konsumsi dalam wujud
daging sapi segar, data Susenas juga
mencakup konsumsi daging sapi dalam
bentuk yang diawetkan dan makanan jadi.
Menurut konsep definisi Permentan
No.50/Permentan/OT.140/9/2011 dijelas-
kan bahwa yang dimaksud dengan daging
adalah bagian dari otot skeletal karkas
yang lazim, aman, dan layak dikonsumsi
oleh manusia, terdiri atas potongan daging
bertulang, daging tanpa tulang, dan daging
variasi, berupa daging segar, daging beku,
atau daging olahan. Dengan demikian
dapat dikategorkan menjadi tiga kategori
yaitu (a) daging sapi segar; (b) daging sapi
awetan dan (c) daging sapi dari makanan
jadi. Daging sapi segar terdiri dari daging
sapi tanpa tulang, tetelan dan tulang,
sementara daging sapi awetan terdiri dari
dendeng, abon, daging dalam kaleng, dan
lainnya (daging awetan). Daging sapi dari
makanan jadi seperti soto/gule/sop/rawon,
sate, daging bakar dan lain-lain. Perlu
dijelaskan khusus untuk konsumsi hati dan
jeroan dalam analisis ini tidak dihitung
sebagai konsumsi daging sapi karena
wujudnya sudah bukan daging sapi tapi
sudah masuk edibel oval. Dengan demikian
konsumsi daging sapi dapat
diakumulasikan antara konsumsi daging
sapi segar ditambah konsumsi daging sapi
awetan dan daging sapi dari makanan jadi.
Dari Tabel 7.1 terlihat angka konversi
terbesar adalah abon yaitu mencapai 2%.
Selain abon konsumsi olahan daging sapi
yang memiliki konversi 2% juga adalah
dendeng, namun sayang data untuk
konsumsi dendeng tidak tersedia dalam
Susenas sehingga tidak dapat kami
cantumkan. Konversi daging sapi lainnya
secara rinci dapat dilihat pada Tabel 7.1.





Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 49

Tabel 7.1. Besaran konversi wujud daging sapi segar, awetan dan makanan jadi

Bentuk Konversi ke
Konversi Bentuk asal
1 Abon Daging 2,00
2 Daging dalam kaleng Daging 1,00
3 Lainnya (daging awetan) Daging 0,50
4 Tetelan Daging 0,20
5 Tulang Daging 0,05
6 Soto/gule/sop/rawon Daging 0,20
7 Sate/tongseng Daging 1,00
8 Mie bakso/rebus/goreng Daging 0,13
9 Ayam/Daging (goreng, bakar, dll)/2 Daging 1,00
No Janis Pangan


7.1. Perkembangan dan Prediksi
Konsumsi Total Daging Sapi
dalam Rumah Tangga di
Perdesaaan Indonesia


Berdasarkan keragaan data hasil
Susenas - BPS, total konsumsi daging sapi
selama periode tahun 20022013
cenderung fluktuatif dengan rata-rata
peningkatan sebesar 1,07 kg/kapita/tahun.
Fluktuasi tersebut dipengaruhi juga oleh
ketersediaan dalam negeri yang belum
mencapai wasembada, sehingga masih
terus bergantung kepada impor.
Rendahnya total konsumsi daging sapi di
perdesaan memang sangat difahami
karena harga daging sapi yang terus
meningkat terutama pada hari-hari besar
seperti lebaran, hari natal dan tahun baru.
Tingginya harga daging sapi juga
dipengaruhi oleh ketersediaan daging sapi
dalam negeri. Konsumsi daging sapi di
perdesaan sangat berkaitan dengan rata-
rata tingkat pendapatan penduduk di
perdesaan. Hal ini karena sebagian besar
pendapatan penduduk di perdesaan masih
bergantung kepada sektor pertanian.
Sementara lahan pertanian semakin sempit
dari tahun ke tahun, dengan upah buruh
yang jauh lebih rendah dibandingkan
dengan upah buruh industri di perkotaan.
Hal ini dimungkinkan sebagai salah satu
penyebab terbatasnya daya jangkau
masyarakat perdesaan dalam
mengkonsumsi daging sapi.
Selama periode tersebut total
konsumsi daging sapi perkapita paling tingi
tercatat di tahun 2011 yaitu mencapai 1,35
kg/kapita/tahun. Pada tahun 2013
konsumsi total daging sapi mengalami
penunurunan hanya 1,11 kg/kapita/tahun
atau turun sekitar 3,52%. Namun demikian
diperkirakan pada tahun 2014-2016 akan
mengalami peningkatan. Peningkatan pada
tahun 2014 diperkirakan menjadi sebesar
1,26 kg/kapita/tahun atau sekitar 12,98%.
Sementara pada tahun 2016, konsumsi
daging sapi diperkirakan akan meningkat
menjadi sebesar 1,32 kg/kapita/tahun atau
naik sekitar 2,43% (Tabel 7.2 dan Gambar
7.1).
Buletin Konsumsi Pangan

50 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 7.2. Perkembangan konsumsi total daging sapi
**)
dalam rumah tangga di
perdesaan Indonesia, 2002 2013 serta prediksi 2014 - 2016
Konsumsi Pertumbuhan Konsumsi Pertumbuhan
Kg/kap/mgg (%) Kg/kap/thn (%)
2002 0,20 0,89
2003 0,19 (3,03) 0,95 7,10
2004 0,23 18,75 1,15 20,51
2005 0,22 (4,82) 0,91 (20,75)
2006 0,20 (6,68) 0,84 (8,02)
2007 0,24 18,02 1,04 24,46
2008 0,25 5,44 1,10 5,52
2009 0,25 (1,39) 1,12 2,29
2010 0,26 3,22 1,18 5,49
2011 0,28 7,60 1,35 14,29
2012 0,25 (10,69) 1,15 (14,71)
2013 0,24 (1,83) 1,11 (3,52)
Rata-rata 0,23 2,24 1,07 2,97
2014*) 0,27 10,76 1,26 12,98
2015*) 0,27 1,57 1,29 2,44
2016*) 0,28 1,45 1,32 2,43
Tahun

Sumber : Susenas, BPS
Keterangan: *) Angka Prediksi Pusdatin
**) Total konsumsi: penjumlahan konsumsi daging sapi segar, olahan dan awetan

-
0,20
0,40
0,60
0,80
1,00
1,20
1,40
0,89
0,95
1,15
0,91
0,84
1,04
1,10
1,12
1,18
1,35
1,15
1,11
1,26
1,29
1,32
(Kg/Kap/Thn)

Gambar 7.1. Perkembangan konsumsi daging sapi dalam rumah tangga di Perdesaan
Indonesia, 2002 2013 dan prediksi tahun 2014 - 2016

7.2. Perkembangan dan Prediksi
Konsumsi Total Daging Sapi
dalam Rumah Tangga di
Perkotaan Indonesia


Pola konsumsi daging sapi di
perkotaan berbeda dengan perdesaan.
Hal ini sangat dimungkinkan oleh karena
fakor harga daging sapi relatif mahal,
sementara masyarakat perdesaan
sebagian besar sumber penghasilannya
adalah petani atau buruh tani. Hal
tersebut membatasi masyarakat
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 51

perdesaan terhadap keterjangkauan
dalam mengkonsumsi daging sapi. Selain
itu juga dimungkinkan kesadaran akan
pemenuhan nutrisi (gizi) penduduk di
perkotaan lebih baik ketimbang penduduk
di perdesaan. Dari Tabel 7.3 total
konsumsi daging sapi di perkotaan selama
periode tahun 2002 2013 cenderung
terus meningkat dengan rata-rata sebesar
2,89 kg/kapita/tahun. Hal ini
dimungkinkan sangat berkaitan dengan
rata-rata tingkat pendapatan penduduk di
perkotaan, sehingga besaran konsumsi di
perkotaan hampir tiga kalinya konsumsi
daging sapi di perdesaan.
Selama periode tersebut total
konsumsi daging sapi perkapita paling
tinggi tercatat di tahun 2011 yaitu
mencapai 3,48 kg/kapita/tahun. Selama
periode tahun 2002-2013 rata-rata total
konsumsi perkapita penduduk Indonesia di
perkotaan meningkat sebesar 8,31%.
Pada tahun 2014 konsumsi daging sapi
diprediksi meningkat menjadi 3,13
kg/kapita/tahun atau naik sekitar 0,88%
dari tahun sebelumnya. Namun demikian
pada tahun 2016 diprediksi sedikit
menurun yaitu hanya sebesar 3,11
kg/kapita/tahun, atau turun sebesar
3,92%.

Tabel 7.3. Perkembangan konsumsi total daging sapi
**)
dalam rumah tangga di
perkotaan Indonesia, 2002 2013 serta prediksi 2014 - 2016
Konsumsi Pertumbuhan Konsumsi Pertumbuhan
Kg/kap/mgg (%) Kg/kap/thn (%)
2002 0,21 1,51
2003 0,50 136,43 2,54 67,84
2004 0,50 (0,20) 2,84 11,96
2005 0,53 7,77 2,56 (10,16)
2006 0,50 (6,27) 2,68 4,71
2007 0,57 14,19 3,12 16,46
2008 0,61 7,00 3,14 0,92
2009 0,60 (1,23) 3,24 3,11
2010 0,62 2,32 3,43 5,64
2011 0,59 (4,05) 3,48 1,66
2012 0,54 (8,77) 3,06 (12,26)
2013 0,56 4,25 3,10 1,55
Rata-rata 0,53 13,77 2,89 8,31
2014*) 0,56 0,11 3,13 0,88
2015*) 0,57 0,14 3,24 3,38
2016*) 0,56 (1,61) 3,11 (3,92)
Tahun

Sumber : Susenas Tw. 1/Maret, BPS
Keterangan: *) Angka Prediksi Pusdatin
**) Total konsumsi: penjumlahan konsumsi daging sapi segar, olahan dan awetan






Buletin Konsumsi Pangan

52 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian


-
0,50
1,00
1,50
2,00
2,50
3,00
3,50
1,51
2,54
2,84
2,56
2,68
3,12
3,14
3,24
3,43
3,48
3,06
3,10
3,13
3,24
3,11
(Kg/Kap/Thn)

Gambar 7.2. Perkembangan konsumsi daging sapi dalam rumah tangga di Perkotaan
Indonesia, 2002 2013 dan prediksi tahun 2014 - 2016


7.3. Perkembangan dan Prediksi
Total Konsumsi Daging Sapi
dalam Rumah Tangga (di
Perdesaan dan Perkotaan)

Dari Tabel 7.4 dan Gambar 7.3,
Konsumsi total daging sapi di Indonesia
merupakan angka konsumsi nasional
(perkotaan dan perdesaan, BPS). Tampak
bahwa total konsumsi daging sapi
nasional berkisar antara 1,67-2,63
kg/kapita/tahun. Bila dicermati
perkembangan konsumsi daging sapi
selama periode 2002-2013 diperoleh
rata-rata sebesar 2,01 kg/kapita/tahun
dengan rata-rata pertumbuhan perkapita
total konsumsi daging sapi selama
periode tersebut sebesar 2,98%. Total
konsumsi daging sapi paling tinggi
selama periode tersebut terjadi pada
tahun 2012 mencapai 2,63
kg/kapita/tahun dengan pertumbuhan
sebesar 8,32%. Pada tahun 2014 total
konsumsi daging sapi diprediksi
meningkat menjadi 2,34 kg/kapita/tahun
atau naik sekitar 9,17%. Sementara
pada tahun 2016 diprediksi sebesar 2,27
kg/kapita/tahun atau turun sebesar
1,60%.







Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 53

Tabel 7.4. Perkembangan total konsumsi daging sapi
**)
dalam rumah tangga di Indonesia,
20022013 serta prediksi 2014 2016


Sumber : Susenas, BPS
Keterangan: *) Angka Prediksi Pusdatin
**) Total konsumsi: penjumlahan konsumsi daging sapi segar, olahan dan awetan

-
0,500
1,000
1,500
2,000
2,500
3,000
3,500
(
k
g
/
k
a
p
i
t
a
/
t
a
h
u
n
)
Perkotaan Perdesaan Nasional

Gambar 7.3. Perkembangan total konsumsi daging sapi dalam rumah tangga di Indonesia,
2002 2016

Dari gambar 7.3 terlihat bahwa
peningkatan total konsumsi nasional
merupakan akumulasi dari daging sapi
(segar+olahan+awetan) menunjukkan
bahwa perkembangan konsumsi daging
sapi di perdesaan cenderung konstan
diangka sekitar 1 kg/kapita/tahun.
Sementara kosumsi daging sapi di
perkotaan terlihat 2-3 kali lebih besar
dibandingkan konsumsi daging sapi di
Buletin Konsumsi Pangan

54 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

perdesaan. Sementara untuk total daging
sapi nasional sekitar 1-2 kg/kapita/tahun.
Perkembangan rata-rata konsumsi
daging sapi segar antar wilayah
diperdesaan dan perkotaaan tercatat
bahwa rata-rata konsumsi daging sapi
segar di perdesaan selama periode 2002-
2013 hanya 0,20 kg/kapita/tahun.
Sementara rata-rata konsumsi daging sapi
segar diperkotaan pada periode yang sama
mencapai sekitar 0,65 kg/kapita/tahun.
Untuk rata-rata konsumsi daging sapi segar
nasional yaitu sebesar 0,41 kg/kapita/
tahun.
Apabila dibandingkan antara rata-
rata konsumsi daging sapi segar nasional
dengan rata-rata total konsumsi daging
sapi nasional (segar+olahan+awetan,
maka tampak bahwa ada selisih sekitar
1,60 kg/kapita/tahun. Besaran tersebut
dapat diasumsikan merupakan konsumsi
dalam bentuk daging sapi olahan dan
awetan (Tabel 7.5).

Tabel 7.5. Perkembangan konsumsi daging sapi segar dalam rumah tangga di perdesaan,
perkotaan dan Indonesia, 2002 2013 serta prediksi 2014 2016

Konsumsi Perkotaan Pertumbuhan Konsumsi Perdesaan Pertumbuhan Konsumsi Nasional Pertumbuhan
(Kg/kp/Thn) (%) (Kg/kp/Thn) (%) (Kg/kp/Thn) (%)
2002 0,89 0,26 0,52
2003 0,78 -11,76 0,37 40,00 0,57 10,00
2004 0,99 26,67 0,37 0,00 0,63 9,09
2005 0,63 -36,84 0,21 -42,86 0,42 -33,33
2006 0,57 -8,33 0,10 -50,00 0,31 -25,00
2007 0,68 18,18 0,16 50,00 0,42 33,33
2008 0,57 -15,38 0,16 0,00 0,37 -12,50
2009 0,52 -9,09 0,16 0,00 0,31 -14,29
2010 0,57 10,00 0,16 0,00 0,37 16,67
2011 0,63 9,09 0,21 33,33 0,42 14,29
2012 0,57 -8,33 0,16 -25,00 0,37 -12,50
2013 0,42 -27,27 0,10 -33,33 0,26 -28,57
Rata-rata 0,65 -4,83 0,20 -2,53 0,41 -3,89
2014*) 0,53 26,14 0,16 52,28 0,37 42,42
2015*) 0,51 -2,15 0,17 9,18 0,38 2,72
2016*) 0,50 -2,20 0,19 10,99 0,40 3,73
Tahun

Sumber : SUSENAS, BPS
Keterangan : *) Angka Prediksi Pusdatin


Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 55

-
0,100
0,200
0,300
0,400
0,500
0,600
0,700
0,800
0,900
1,000
(
k
g
/
k
a
p
/
t
a
h
u
n
)
Perkotaan Perdesaan Nasional

Gambar 7.4. Perkembangan konsumsi daging sapi segar dalam rumah tangga di
Indonesia, 2002 2016

Apabila dilihat dari besaran
pengeluaran untuk konsumsi daging sapi
bagi penduduk Indonesia selama lima
tahun terakhir menunjukkan peningkatan
yang positif. Peningkatan pertumbuhan
rata-rata pengeluaran penduduk Indonesia
untuk konsumsi daging sapi pada periode
2008-2013 sebesar 12,25 %, yakni dari
Rp. 13.088,-/kapita pada tahun 2008
menjadi Rp. 22.474,-/kapita pada tahun
2013. Namun setelah dikoreksi oleh faktor
inflasi, pengeluaran untuk konsumsi daging
sapi hanya meningkat sebesar 51,62%
saja. Meskipun pada tahun 2013 terjadi
penurunan dibandingkan 3 tahun
sebelumnya (Tabel 7.6 dan Gambar 7.5).

Tabel 7.6. Perkembangan pengeluaran untuk konsumsi daging sapi dengan harga nominal
dan riil dalam rumah tangga di Indonesia, 2008-2013
Pertumbuhan
2008 2009 2010 2011 2012 2013
(%)
1 Nominal 13.087,86 16.737,86 21.326,43 21.795,71 23.985,71 22.473,57 12,25
2 IHK 124,77 129,09 136,71 142,20 152,06 171,65 6,64
3 Riil 10.489,71 12.965,70 15.599,57 15.328,05 15.774,02 13.092,86 5,62
No. Uraian
Pengeluaran (Rupiah/kapita/tahun)
-
5.000,00
10.000,00
15.000,00
20.000,00
25.000,00
30.000,00
2008 2009 2010 2011 2012 2013
Pengeluaran Nominal Pengeluaran Riil



Buletin Konsumsi Pangan

56 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

8.000
11.000
14.000
17.000
20.000
23.000
26.000
2008 2009 2010 2011 2012 2013
(Rupiah/kapita/th)
Pengeluaran Nominal Pengeluaran Riil

Gambar 7.5. Perkembangan pengeluaran untuk konsumsi daging sapi dengan harga
nominal dan riil dalam rumah tangga di Indonesia, 2008 - 2013


7.4. Perkembangan serta Prediksi
Penyediaan, Penggunaan dan
Ketersediaan Daging Sapi di
Indonesia

Dalam perhitungan NBM, yang
dimaksud dengan penyediaan daging sapi
adalah dalam wujud daging sapi segar.
Berdasarkan hasil perhitungan Neraca
Bahan Makanan (NBM), komponen
penyediaan daging sapi hanya terdiri dari
produksi ditambah impor, hal ini
dikarenakan Indonesia belum mampu
melakukan ekspor bahkan untuk
memenuhi konsumsi dalam negeri saja
masih tergantung kepada impor.
Sementara data perubahan stok tidak
tersedia. Komponen penggunaan daging
sapi adalah untuk bahan makanan dan
tercecer, karena penggunaan untuk diolah
menjadi bahan makanan dan bukan
makanan tidak tersedia datanya.
Penyediaan daging sapi di Indonesia tidak
seluruhnya dapat dipenuhi dari produksi
dalam negeri, sehingga ketergantungan
terhadap impor masih relatif besar.
Penyediaan daging sapi dari tahun
2010 hingga 2013 (angka sementara)
menunjukkan pola yang terus meningkat
dengan rata-rata pertumbuhan sebesar
6,72% per tahun. Penyediaan daging sapi
pada tahun 2010 tercatat sebesar 352 ribu
ton dan meningkat menjadi 356 ribu ton
pada tahun 2011. Selanjutnya meningkat
lagi menjadi 401 ribu ton pada tahun 2012,
sedangkan angka sementara produksi pada
tahun 2013 menjadi 427 ribu ton. Selama
periode tahun 2010 2013 tersebut tidak
terdapat realisasi ekspor daging sapi yang
dilakukan oleh Indonesia. Namun
sebaliknya realisasi impor daging sapi terus
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 57

dilakukan oleh pemerintah Indonesia dalam
memenuhi kebutuhan konsumsi dalam
negeri. Selama kurun waktu 2010-2013
realisai impor daging sapi Indonesia
berkisar antara 91 - 46 ribu ton, terlihat
ada kecendrungan menurun. Dengan
kondisi tersebut, rata-rata impor daging
sapi selama kurun waktu 2010-2016
mencapai 12% dari total penyediaan yang
harus disediakan setiap tahunnya. Dengan
prediksi bahwa besarnya impor daging sapi
pada tahun 2015 dan 2016 masing-masing
sebesar 49 ribu ton ribu ton dan tidak ada
stok daging sapi maka prediksi besarnya
penyediaan daging sapi pada tahun 2015
2016 adalah masing-masing sebesar 455
ribu ton dan 482 ribu ton (Tabel 7.7).
Penggunaan daging sapi menurut
data Neraca Bahan Makanan (NBM) hanya
terdiri dari komponen bahan makanan dan
tercecer. Pada tahun 2010, penggunaan
daging sapi untuk bahan makanan sebesar
355 ribu ton. Kemudian, pada tahun 2011
2013 terus mengalami peningkatan
penggunaan daging sapi untuk bahan
makanan, yaitu antara 338 ribu ton - 405
ribu ton. Pada tahun 2014 2016,
penggunaan daging sapi untuk bahan
makanan diprediksikan akan mengalami
peningkatan dengan rata-rata peningkatan
sebesar 3,96% pertahun. Penggunaan
daging sapi sebagai bahan makanan yang
paling tinggi pertumbuhannya selama
periode 2010-2016 tercatat pada tahun
2012 yaitu sebesar 11,34% dari tahun
sebelumnya atau menjadi 381 ribu ton.
Sementara itu, rata-rata komponen
tercecer daging sapi selama periode 2010-
2013 tercatat sebesar 19 ribu ton.
Sementara rata-rata tercecer selama tahun
2013-2014 diprediksi sebesar 23 ribu ton.
Trend tercecer terus meningkat dari tahun
ke tahun seiring dengan peningkatan
penyediaan bahan makanan.


















Buletin Konsumsi Pangan

58 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

Tabel 7.7. Penyediaan, penggunaan dan ketersediaan daging sapi tahun 2010-2014 serta
prediksi tahun 2015 2016
2010 2011 2012 2013*) 2014*) 2015**) 2016**)
A. Penyediaan (000 Ton) 352 356 401 427 447 455 482
1 Produksi
- Masukan 349 388 485 509 531 541 578
- Keluaran 262 291 364 381 398 405 433
2 Impor 91 65 38 46 49 49 49
3 Ekspor - - - - - - -
4 Perubahan Stok - - - - - - -
B. Penggunaan (000 Ton) 352 356 401 427 447 455 482
1 Pakan - - - - - - -
2 Bibit - - - - - - -
3 Diolah untuk :
- makanan - - - - - - -
- bukan makanan - - - - - - -
4 Tercecer 18 18 20 21 22 23 24
5 Bahan Makanan 335 338 381 405 425 432 458
C. Ketersediaan per kapita 1,39 1,40 1,55 1,63 1,69 1,69 1,77
(Kg/kapita/tahun)
Uraian
Tahun
No.

Sumber : NBM, Kementerian Pertanian diolah Pusdatin
Keterangan : *) Angka sementara/prognosa **) Angka Prediksi Pusdatin

0,00
0,20
0,40
0,60
0,80
1,00
1,20
1,40
1,60
1,80
2010 2011 2012 2013*) 2014*) 2015**) 2016**)
(kg/kapita/tahun)

Gambar 7.6. Perkembangan ketersediaan daging sapi per kapita per
tahun di Indonesia, tahun 2010 2016


7.5. Perbandingan Konsumsi dan
Ketersediaan Per Kapita
Komoditas Daging Sapi

a) Perbandingan ketersediaan konsumsi
daging sapi dengan kosumsi daging
sapi segar perkapita

Pada tahun 2010 ketersediaan
daging sapi segar (NBM) mencapai 1,39
kg/kapita yang kemudian meningkat
menjadi 1,40 kg/kapita pada tahun 2011.
Ketersediaan daging sapi pada periode
2014 2016 diprediksi terus mengalami
peningkatan. Pada tahun 2014,
ketersediaan per kapita daging sapi
diprediksi sebesar 1,69 kg/kapita,
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 59

kemudian naik menjadi 1,77 kg/kapita
pada tahun 2016.
Sementara konsumsi perkapita
daging sapi segar rumah tangga (Susenas)
pada tahun 2010 hanya sebesar 0,37
kg/kapita/tahun kemudian naik menjadi
0,42 kg/kapita/tahun. Konsumsi perkapita
rumah tangga periode 2014-2016
mengalami peningkatan. Pada tahun 2014,
ketersediaan per kapita daging sapi
diprediksi sebesar 0,37 kg/kapita,
kemudian naik menjadi 0,40 kg/kapita
pada tahun 2016.

Tabel 7.8. Perbandingan konsumsi daging sapi segar per kapita rumah tangga (SUSENAS)
dengan ketersediaan daging sapi (NBM), 2010 2016
No. Tahun 2010 2011 2012 2013 2014*) 2015*) 2016*)
1 Ketersediaan daging sapi (Kg/kapita/tahun)-NBM 1,39 1,40 1,55 1,63 1,69 1,69 1,77
2
Konsumsi daging sapi segar (Kg/kapita/tahun)-Nasional-
Susenas
0,37 0,42 0,37 0,26 0,37 0,38 0,40
Selisih
1,03 0,98 1,19 1,37 1,31 1,31 1,37
Sumber : Susenas, BPS dan NBM, BKP Kementan
Keterangan : *) Angka Prediksi Pusdatin


Dari Tabel 7.8. terlihat bahwa
ketersediaan konsumsi daging sapi
perkapita (NBM) dibandingkan dengan
konsumsi daging sapi murni perkapita riil
rumah tangga (Susenas), masih mengalami
surplus untuk setiap tahunnya. Surplus
terbesar selama periode 2010-2016
diprediksi akan terjadi pada tahun 2016
yaitu sebesar 1,37 kg/kap/tahun seiring
dengan pertambahan jumlah penduduk.
Namun perlu dicatat bahwa surplus
tersebut belum termasuk konsumsi riil
rumah tangga untuk daging sapi yang
berupa daging sapi olahan dan awetan.

b) Perbandingan ketersediaan konsumsi
daging sapi (NBM) dengan kosumsi
daging sapi perkapita (segar+olahan+
awetan) -Susenas

Pada kenyataannya masyarakat
Indonesia tidak hanya mengkonsumsi
daging sapi segar. Seringkali panganan
berupa olahan maupun awetan dari
berbagai macam panganan termasuk
daging sapi sangat diminati oleh sebagian
masyarakat Indonesia. Dengan demikian
terlihat sangat berbeda hasil analisisnya
bila dibandingkan dengan Tabel 7.9.
Konsumsi riil daging sapi masyarakat
Indonesia baik di perkotaan maupun di
perdesaan mengkonsumsi daging sapi,
bukan saja daging sapi segar tetapi
seringkali mengkonsumsi daging sapi
dalam bentuk olahan seperti: bakso, sate,
soto, daging bakar (stik), atau abon,
dendeng dan lainnya. Wujud panganan
yang di konsumsi tersebut perlu
diperhitungkan sesuai dengan masing
Buletin Konsumsi Pangan

60 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

konverisinya ke bentuk asal (daging segar),
sehingga konsumsi daging sapi masyarakat
Indonesia menjadi lebih besar
dibandingkan dengan hanya konsumsi
dalam bentuk daging sapi segar.
Dari hasil konversi dan
penghitungan total konsumsi daging sapi
(segar+olahan+awetan) pada tahun 2010
tercatat sebesar 2,30 kg/kapita/tahun,
sementara diwaktu yang sama
ketersediaan daging sapi menurut (NBM)
hanya 1,39 kg/kapita/tahun. Selama
periode tahun 2010-2013 konsumsi daging
sapi rumah tangga terlihat mengalami
kecendrungan menurun, walaupun
ketersediaan (NBM) mengalami
peningkatan, namun tetap saja mengalami
defisit yang signifikan bila dibandingkan
dengan total konsumsi rumah tangga. Hal
ini sangat dimungkinkan pada perhitungan
NBM belum di pertimbangkan konsumsi
daging sapi olahan dan awetan sehingga
angka ketersediaan (NBM) menjadi relatif
kecil. Kekurangan ketersediaan pada
periode tersebut yang paling tinggi terjadi
pada tahun 2012, dimana konsumsi riil
rumah tangga/kapita mencapai 2,63
kg/kapita/tahun, sementara ketersediaan
(NBM) hanya 1,55 kg/kapita/tahun, dengan
demikian terjadi defisit sekitar 1,08
kg/kapita/tahun.

Tabel 7.9. Perbandingan konsumsi daging sapi total per kapita rumah tangga (SUSENAS)
dengan ketersediaan daging sapi (NBM), 2010 2016
No. Tahun 2010 2011 2012 2013 2014*) 2015*) 2016*)
1 Ketersediaan daging sapi (Kg/kapita/tahun)-NBM 1,39 1,40 1,55 1,63 1,69 1,69 1,77
2
Konsumsi total daging sapi nasional
(segar+awetan+olahan)-Kg/kapita/tahun-Susenas
**)
2,30 2,43 2,63 2,14 2,34 2,31 2,27
Selisih
-0,91 -1,03 -1,08 -0,51 -0,65 -0,62 -0,50
Sumber : Susenas, BPS dan NBM, BKP Kementan
Keterangan : *) Angka Prediksi **) Total konsumsi : akumulasi konsumsi daging sapi segar, awetan dan olahan nasional



7.6. Penyediaan Daging Sapi di
beberapa negara di Dunia

Menurut data FAO, negara penyedia
terbesar daging sapi selama periode tahun
2007-2011 adalah negara Amerika Serikat
mencapai 12,23 juta ton per tahun atau
19,18% dari seluruh total penyediaan di
daging sapi dunia. Lima besar negara
berikutnya adalah Brazil, China, Federasi
Rusia, Argentina, dan Meksiko dengan
rata-rata total penyediaan berkisar antara
7,45-2,19 juta ton. Negara-negara
berikutnya adalah India, Prancis, Pakistan,
dan Italia dengan rata-rata total
penyediaan masing-masing di bawah 3%
dari total penyediaan dunia. Sementara
Indonesia dengan jumlah penduduk yang
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 61

besar menduduki urutan ke 35, dengan
rata-rata penyediaan sebesar 309 ribu ton
atau sekitar 0,48% dari total penyediaan
dunia (Tabel 7.10 dan Gambar 7.7).

Tabel 7.10. Negara dengan penyediaan daging sapi terbesar di dunia, 2007 2011

Rata-rata Share Kumulatif
2007 2008 2009 2010 2011 (%) (%) (%)
1
Amerika Serikat
12.727 12.445 12.258 12.071 11.665 12.233 19,18 19,18
2 Brazil 7.066 7.175 7.779 7.553 7.694 7.453 11,68 30,86
3 Cina 6.234 6.275 6.558 6.816 6.725 6.522 10,22 41,08
4 Rusia 2.519 2.714 2.499 2.464 2.330 2.505 3,93 45,01
5 Argentina 2.168 2.170 2.184 2.206 2.238 2.193 3,44 48,45
6 Meksiko 1.959 1.995 1.950 1.922 1.915 1.948 3,05 51,50
7 India 1.939 1.997 1.964 1.790 1.546 1.847 2,90 54,40
8 Francis 1.659 1.616 1.642 1.639 1.612 1.634 2,56 56,96
9 Pakistan 1.347 1.381 1.421 1.463 1.512 1.425 2,23 59,19
10 Italia 1.430 1.372 1.420 1.400 1.308 1.386 2,17 61,36
: - - - - - - -
35
Indonesia 243 281 313 352 356 309 0,48 61,85
Negara Lainnya 24.270 23.945 23.842 24.519 25.121 24.340 38,15 100,00
Total Dunia 63.560 63.365 63.829 64.196 64.022 63.795 100,00
Ketersediaan (000 Ton)
No. Negara

Sumber : http://faostat.fao.org diolah Pusdatin

19,27%
11,74%
10,27%
3,95%
3,45%
3,07%
2,91%
2,57%
2,24%
2,18%
38,34%
Amerika Serikat Brazil Cina Rusia
Argentina Meksiko India Francis
Pakistan Italia negara Lainnya

Gambar 7.7. Negara dengan penyediaan daging sapi terbesar di dunia,
share terhadap rata-rata 2007 - 2011

7.7. Ketersediaan Daging Sapi Per
Kapita per Tahun di Dunia

Menurut data dari FAO, ketersediaan
daging sapi perkapita dominan di negara-
negara Amerika. Berdasarkan data rata-
rata selama lima tahun (2007 - 2011),
tercatat bahwa Argentina merupakan
negara dengan penyediaan daging sapi
perkapita terbesar di dunia yakni mencapai
54,8 kg/kapita/tahun. Empat Negara
terbesar berikutnya adalah Amerika
Serikat, Australia, Brazil dan Bermuda
Buletin Konsumsi Pangan

62 Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian

masing-masing antara 39,6 kg/kapita/
tahun hingga 36,4 kg/kapita/tahun.
Sementara negara-negara di Asia Tenggara
seperti Malaysia ,Vietnam dan Thailand
berkisar antara 5,7 sampai 2,9
kg/kapita/tahun. Indonesia menduduki
urutan ke-161 sebagai negara dengan
penyediaan daging sapi terbesar di dunia
dengan rata-rata tahun 2007 - 2011
sebesar 3,00 kg/kapita/tahun.
Perkembangan ketersediaan daging sapi
perkapita di negara-negara di dunia selama
tahun 2007 2011 secara lengkap
disajikan pada Tabel 7.11 dan Gambar 7.8.


Tabel 7.11. Ketersediaan daging sapi per kapita per tahun di beberapa negara di dunia,
2007 2011
Rata-rata
2007 2008 2009 2010 2011 2007-2011
1 Argentina 55,1 54,7 54,6 54,7 54,9 54,8
2 Amerika Serikat 41,9 40,6 39,6 38,7 37 39,6
3 Australia 43,2 37,8 38,5 37,3 40,6 39,5
4 Brazil 37,2 37,4 40,2 38,7 39,1 38,5
5 Bermuda 37 35,8 34,2 26,7 48,2 36,4
6 French Polynesia 40,5 36,5 34,6 32,3 33,9 35,6
: : : : : : : :
116 Malaysia 6 5,3 5,6 5,6 5,9 5,7
122 Viet Nam 4,3 5,1 5,6 5,4 7,2 5,5
157 Thailand 2,7 3 3,1 3,1 2,6 2,9
161 Indonesia 2,8 2,9 2,9 3,1 3,2 3,0
Rata-rata Dunia 11,6 11,4 11,1 11,1 11,3 11,3
No. Negara
Ketersediaan (kg/kap/tahun)

Sumber : http://faostat.fao.org diolah Pusdatin


-
10,0
20,0
30,0
40,0
50,0
60,0
(kg/kapita/th)

Gambar 7.7. Perkembangan ketersediaan daging sapi per kapita beberapa
negara di dunia, rata-rata 2007 2011
Buletin Konsumsi Pangan
Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian 63

DAFTAR PUSTAKA


Badan Pusat Statistik. Survei Sosial Ekonomi Nasional, Pengeluaran untuk Konsumsi Penduduk
Indonesia tahun 1993 sampai dengan tahun 2013. Jakarta.

Badan Pusat Statistik. Survei Sosial Ekonomi Nasional, Konsumsi Kalori dan Protein Penduduk
Indonesia tahun 2007 sampai dengan tahun 2013. Jakarta.

Badan Ketahanan Pangan. Kementerian Pertanian. Neraca Bahan Makanan Indonesia Tahun
1993 sampai dengan Tahun 2013. Jakarta

Badan Pusat Statistik. 2013. Statistik Indonesia. Jakarta.

EKAS CORNER. Komoditas Cabai di Indonesia. http://ekaagustianingsih.blogspot.com/
2011/11/komoditas-cabai-di-indonesia.html [terhubung berkala].

http://apps.fas.usda.gov/psdonline/psdQuery.aspx [terhubung berkala].

http://faostat.fao.org/site/609/default.aspx#ancor [terhubung berkala].

http://www.gapki.or.id/assets/upload/Buku-Mengenal-Minyak-Sawit-Dengan-Beberapa-
Karakter-Unggulnya-GAPKI.pdf [terhubung berkala].

http://www.infobanknews.com [terhubung berkala].

http://www.ideelok.com/budidaya-tanaman/kelapa-sawit. [terhubung berkala].

http://cybex.deptan.go.id/penyuluhan/manfaat-daging-sapi-bagi-tubuh-manusia [terhubung
berkala].

http://syahlanbro.blogspot.com/2013/03/analisis-terhadap-melonjaknya-harga.html
[terhubung berkala].

Kementerian Pertanian. 2010. Rencana Strategis Kementerian Pertanian 2010 2014. Jakarta.

Khasiat buah dan sayuran untuk kesehatan tubuh. 2010. Khasiat Cabai Rawit.
http://khasiatbuah.com/cabai-rawit.htm [terhubung berkala].

Saliem,H P, M. Ariani, Y.Marisa dan T.B. Purwantini. 2002. Analisis Kerawanan Pangan
Wilayah dalam Perspektif Desentralisasi Pembangunan. Laporan Hasil Penelitian. Pusat
Penelitian dan Pengembangan Sosial Ekonomi Pertanian. Bogor.

Wikipedia. 2014. Kedelai. http://id.wikipedia.org/wiki/Kedelai. [terhubung berkala].

Wikipedia. 2014. Nanas. http://id.wikipedia.org/wiki/nanas. [terhubung berkala].

Wikipedia. 2014. Kelapa Sawit. http://id.wikipedia.org/wiki/Kelapa_sawit. [terhubung berkala].
Wikipedia. 2014. Minyak Sawit. http://id.wikipedia.org/wiki/Minyak_sawit. [terhubung
berkala].