Anda di halaman 1dari 25

PUISI-PUISI AFRIZAL MALNA

Selasa, 11/02/2014 - 14:01 Sastra Seratus ...


Lain-lain |
Koleksi |
Puisi |
Afrizal Malna
PENYAIR ANWAR

Aku mengaji, anwar anwar
Hidup dari pasar terbuka dalam tubuh
Orang tanah yang ditutup senja, anwar anwar
Berlari seperti kura tak henti membawa jagat
Irama abad, anwar anwar
Berdentang-dentang dalam dagingku
Minta perawan dalam sesaji langit yang jauh
Anwar membelah tubuh jadi kota mengalir
Menyimpan tanah dari hujan dan padi-padi
Anwar mengirim tubuh kaku ke daging-daging
Dihembus pasar ke pohon-pohon sunyi
Jadi penyair seribu tahun. O
Makani Tuhan dalam kuburmu anwar anwar
Aku orang sunyi berlalu dalam cerita

EKSTASE WAKTU

Dunia membuka dunia menutup tak jadi manusia
Aku kejar ujung jalan menyebelah maut ke mana aku kejar
Dunia sendiri tanpa manusia
Berlari
Seperti perahu tak berkemudi
Terlepas dari jarak:
Beri aku orang!
Aku mau bangun di atas kemakhlukan ini
O matahari membuka matahari menutup tak jadi manusia
Berdiri di kesunyian tubuh aku kejar ke mana aku kejar
Sampai mabuk ketinggian makhluk
Direguk sampai habis tenggorok
Jiwa membuka
Seperti api menghabiskan nyala

BERI AKU KEKUASAAN

Mereka pernah berjalan dalam taman itu, membuat wortel, semangka, juga pepaya. tetapi
aku buat juga ikan-ikan plastik, angsa-angsa kayu dari Bali, juga seorang presiden dari
boneka di Afrika. Kemana saja kau bawa kolonialisme itu, dan kau beri nama : Jakarta 1945
yang terancam. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk berkuasa.
Kau lihat juga tema-tema berlepasan, dari Pulo gadung ke Sukarno Hatta, atau di Gambir :
Jakarta 1957 yang risau. Sepatuku goyah di situ. Orang bicara tentang revolusi, konfrontasi
Malaysia, Amerika dan Inggris dibenci pula. Sejarahku seperti anak-anak lahir, dari kapal
kolonial yang terbakar. Mereka mencari tema-tema pembebasan, tetapi bukan ayam goreng
dari Amerika, atau sampah dari Jerman.
Begitu saja aku pahami, seperti mendorong malam ke sebuah stasiun, membuka toko, bank
dan hotel di situ pula. Kini aku huni kota-kota dengan televisi, penuh obat dan sikat gigi.
Siapakah yang bisa membunuh ilmu pengetahuan siang ini, dari orang-orang yang tak
tergantikan dengan apapun. Beri aku waktu, beri aku waktu, untuk kekuasaan. tetapi
sepatuku goyah, menyimpan dirimu.
Mereka pernah masuki tema-tema itu, bendera terbakar, letusan di balik pintu, jerit tangis
anak-anak, dan dansa-dansi di malam hari. Lalu : Siapakah yang mengusung tubuhmu , pada
setiap kata............

1991

DAFTAR INDEKS

dan berjalan. Dan tidur. Dan melupakan. Dan menyapu. Dan makan.
Dan mengambil jemuran. Dan memotret pernikahan orang lain di
sebuah kafe di Shanghai. Dan membaca. Dan memotong kuku. Dan
memotret kucing kawin di rumah Lely. Dan menengok kuburan
temanku di surabaya. Dan anaknya sudah kuliah. Dan anaknya men-
girim sms, siapa bapakku? Dan anaknya tidak tidur dalam kamar
ibunya. Dan namanya Dya Ginting. Dan membakar sampah. Dan
memotong rumput. Dan mengambil kantong plastik yang dibuang
orang di pinggir jalan. Dan mencium anak anjing. Dan menengok
teman yang menangis di depan laptopnya. Dan ingin hidup dalam
suara Maria Callas. Dan tak punya uang. Dan menunggu honor dari
puisi. Dan bertemu mayat Caligula dalam bahasa. Dan mandi. Dan
ingin mengatakan padamu bahwa aku sudah mengatakannya.



ANTRI UANG DI BANK

Seseorang datang menemui punggungku
Membicarakan sesuatu, menghitung sesuatu,
seperti kasur yang terbakar dan hanyut di sungai.
Lalu ia meletakkan batu es dalam botol mineralku


SEMINAR PUISI DI SELAT SUNDA
Untuk Goenawan Mohamad

Sebuah meja malam dari kayu, bekas puntung rokok
yang hangus di permukaannya. Kita makan bersama.
Malam yang samar-samar di tengah kota. Sebuah
revolusi yang berganti kaki, di atas sebuah kapal
perang yang diparkir di Selat Sunda. Sebuah
perundingan untuk menjemput diri sendiri: Kaki-kaki
kanan buntung kaki-kaki kiri buntung. Tidak tahu,
atau berjalan atau tidak berjalan. Tidak tahu, atau
duduk atau berdiri. Bau belerang dari punggung
krakatau, melukis kembali peta-peta di atas kata-kata
yang menggerutu.

Sebuah kemerdekaan tidak dirancang dengan
berteriak: musuh sudah ada di luar pagar, tetapi juga
sudah ada di dalam pagar. Sebuah republik yang
terbayang di pintu belakang. Seorang lelaki di pintu
kaca: tidak tahu, apakah ia berjalan keluar atau
berjalan masuk. Hilir-mudik para peneliti Indonesia
yang kurang tidur, dalam bahasa Indonesia yang
lelah. Sebuah bank di antara tentara-tentara
perdamaian. Aku bersamamu, dalam satu mobil
tua, lelaki seperti pohon nangka itu, saling menatap
tetapi tidak saling melihat. Sebuah buku puisi,
di pangkuan seorang perempuan.

Di manakah kita, melihat kata, sebagai kematian
seorang ibu.

Sebuah pintu, entah di belakang rumah entah di
depan rumah. Sebuah pintu kaca untuk melihat
ke luar untuk melihat ke dalam. Sebuah kata untuk
membungkam selogan. Seorang Sukarnois yang me-
nyimpan kartu pos patung liberty di saku
mantelnya. Sebuah nyanyian cinta dari Leonard
Cohen yang parau: Dance me to the end of love.
Asap rokok tentang pendidikan para pemimpin, di
antara korek api dan badai sebuah pesta. Seorang
lelaki yang menggenggam tangisnya di sudut sebuah
restoran. Aku melangkah dari sebuah koran lokal,
sejak masa remajaku, di sebuah desa, antara revolusi
3 kota. Dan sebuah novel tentang kejahatan tentara
gerilya, di halaman-halaman yang dipasangi alarem.

Sebuah poster pertunjukan. Di luar atau di dalamkah
pertunjukan itu berlangsung? Bagaimanakah Kunti
menghanyutkan anaknya? Karna, bagaimanakah,
Karna? Bagaimanakah matahari menciptakanmu
dari anak-anak panah, dan menjemputmu kembali
di sebuah pagi yang merah. Bagaimanakah Caligula
membenamkan akal sehat ke dalam keuangan
negara? Ceritakanlah sekali lagi, Caesonia, bagaimanakah
aku menitipkan cinta dalam pelukanmu, ketika semua
telah menjadi gila di tangan suamimu. Kekuasaan
telah mengambil cahaya bulan dari ladang pikiran
kita. Bagaimanakah puisi membuat kita bisa berjalan
bersama bayangan sendiri, melewati diri kita sendiri
yang masih tertidur di sebuah kereta.

Seorang penjaga tiket pertunjukan, juga seorang
penjual air bersih di sebuah kantor majalah. Seorang
wartawan yang membidik dengan kata. Sebuah
kamera di dasar bahasa. Dan seorang lelaki di jen-
dela kaca. Sebuah kantor majalah yang
kontruksinya tertanam di abad 19, sebelum perang
dunia, sebelum menukar rempah-rempah dengan
sebuah bangsa. Jalan gula yang membuat jalur kereta
dari Klaten ke Amsterdam. Lelaki itu, bayangannya
di luar dan bayangannya di dalam. Bau tembakau
mengubah kenangan tentang mantel yang dikena-
kannya, antara warna tanah dan lebih kelam lagi dari
warna pasir. Warna yang mengecat sejarah kembali
ke warna yang sama. Bau tembakau yang menggeng-
gam kesedihan dalam sebuah lubang pentilasi.

Apakah aku telah berdurhaka padamu, ibu, agar
kau tidak lagi melahirkan seorang pembunuh.

Udara AC jam 2 malam mengingatkannya tentang
sebuah hutan kata-kata. Sebuah republik di lantai
dua, bukan? Dan pertengkaran tentang di mana letak
tangga itu untuk naik ke lantai dua, antara musim
hujan dan perkebunan tebu yang sudah kita bakar.
Sebuah revolusi di antara kaki-kaki yang berganti.
Sebuah malam yang aku sisipkan dalam buku sejarah
puisi Indonesia modern. Dingin yang tak tercatat di
halaman itu. Dan sisa-sisa cahaya bulan sebelum
gerhana. Cukup dengan 1000 slogan untuk
menggenggam kesedihan yang menggenang di lantai
dua. Cahaya matahari pagi bertahan di atasnya.
Untuk harapan, untuk ibu-ibu penjual nasi bungkus
di pasar rakyat. Apakah. Apakah materialisme sejarah
telah mati, dalam sebuah mata kuliah psikologi
tentang kelas sosial? Apakah. Apakah revolusi telah
dihapus, dalam sebuah kapal dagang yang berlayar
di jalur api? Menciptakan milisi jadi-jadian untuk
meruntuhkan daya hidup bersama. Apakah. Tentang.
Tetapi.

Lelaki itu berdiri di atas tangga dan turun ke lantai
bawah. Dia seperti terus berjalan di tangga itu. Setiap
dia melangkah, anak-anak tangga itu seperti terus
bertambah, hampir lebih cepat dari langkahnya sendiri.
Langkah yang menciptakan anak-anak tangga
daripada melalui anak-anak tangga itu sendiri.
Apakah dia sedang turun apakah dia sedang naik.
Menambahkan waktu dalam sebuah kereta pada
setiap langkahnya. Berikan aku sebuah kata, untuk
tidak mengatakan apapun tentang luka yang
tumbuh di halaman pertama sejarah kebangsaan.
Dan tentang diriku sendiri yang masih mencium bau
pikiran dari topi yang pernah kau kenakan. Pikiran
yang berusaha mengubah sebuah tangisan menjadi
gerimis, sore yang samar-samar di antara daun-daun
yang tumbuh merambat. Kebebasan yang dirawat
dalam sebuah perjudian antara Duryudana dan
Yudhistira.

Aku mengenal lelaki itu. Seseorang yang berjalan
seperti dengan suara kertas koran yang diremas.
Suara antara puisi dan puing-puing kata. Dia seperti
sebuah pagi, di antara kerumunan malam yang
samar-samar. Dia ingin menjemput kembali revolusi
itu, dengan sebauh opera tentang kesunyian.

Kita telah melihat, seorang ibu membuat sebuah
luka di mulut seekor harimau. Untuk para sahabat,
dan sebuah kata yang tidak bisa mengatakan: angin
yang mengirim garam, menjaga musim hujan di
Utara. Di sini.


MENGGODA TUJUH KUPU-KUPU

Aku tidak berjalan dengan mata melek. Kau pergi dengan mata
tidur. Orang di sini membawa beban berat. Bukan soal melihat.
Dalam beban itu isinya sampah. Bukan pergi dan tidak tidur. Kita
sibuk mencari tempat membuang sampah itu untuk mengisinya
kembali dengan sampah. Kau pergi dengan mata tidur. Aku tidak
berjalan dengan mata melek dan tidak mengukur yang terlihat.
Kau latihan yoga dan menjadi tujuh kupu-kupu. Aku melihat kau
terbang dan tidak bisa ikut masuk ke dalam kupu-kupumu. Ke-
adaan seperti gas padat dalam lemari es. Tetapi tidak ada ledakan.
Aku tidak mendengar suara ledakan dalam puisi ini. Di sini hidup
menjadi mudah, karena memang hidup sudah tidak ada. Menjadi
benar oleh kebohongan-kebohongannya. Menjadi indah oleh
kerusakan-kerusakannya. Aku di dalam pelukanmu dan di luar
terbangmu. Membayangkan tujuh kupu-kupu mulai menanamkan
sayapnya dan menanamkan terbangnya. Mengganti bumi pertama
dengan rute sungai Marne yang membelah mimpi-mimpimu.


DI SEBERANG SELEMBAR DAUN

Aku bukan seluruh daun di pohon ini. Aku hanya
selembar daun di pohon ini. Hanya pohon ini dan
hanya selembar daun. Aku hanya selembar daun
yang tumbuh di leherku. Hanya berwarna hijau sep-
erti selembar daun. Aku hanya selembar daun yang
berbicara menggunakan mulutku. Maksudku,
mulutku adalah selembar daun yang berbicara
menggunakan mulutku. Maksudku, aku hanya
selembar daun yang selembar daun. Jangan rayu aku
untuk menjadi pohon walau kau berikan tuhan kepa-
daku. Jangan rayu aku untuk menjadi seluruh daun
pada pohon ini walau kau berikan janji kematian pa-
daku. Aku bukan soal kematian dan soal tuhan. Aku
mirip, maksudku mirip dengan pertanyaan aku hidup
bukan untuk seluruh yang kau katakan setelah
kematian. Setelah kematian aku bukan hidup dan ke-
matian bukan selembar daun yang mewakili seluruh
daun di pohon ini.

Aku hanya selembar warna hijau dari pohon yang
aku tak tahu namanya. Pohon yang membuat aku
tahu aku berada di sini dan hidup di sini. Maksudku,
jangan kau takuti aku seperti kanak-kanak yang
berlari di seberang kematian. Aku mengingatnya,
waktu-waktu, dan, lihatlah di luar sana, lihatlah
orang-orang berjalan dengan kakinya, pohon-pohon
tumbuh, anak-anak bermain merasakan kebahagiaan
memiliki tawa, langit yang dibuat dari rambut
perempuan. Aku adalah selembar daun yang dijahit
pada sebatang pohon.


PROPOSAL POLITIK UNTUK POLISI

Toean-toean, saja mendjamin bahwa pemerintahan kita
tidak lagi popoeler, baik di antara rakjat ketjil maoepoen
pedjabat boemiputra rendahan ataoe pedjabat tinggi
rasa tidak puas jang merebak, baik di kalangan para bang-
sawan maoepoen rakjat djelata, terhadap bagaimana tjara
pemerintah dikelola dan keadilan ditegakkan. Sedjak akhir
1900, muntjul sematjam gerakan terorisme ataoepoen
gerakan perlawanan terhadap pemerintah. Tampaknja di
pusat birokrasi pemerintahan tidak memahami makna ini
semua. (P.J.F. van Heutsz, 1904-06)

Aku dilanda kedatangan diriku sendiri, di sana dan di sini. Melihat
kegagalan yang terus-terang di setiap yang kuciptakan. Antara
mesin-mesin dan sistem dalam lubang kesunyian, pembelian dan
penjualan yang saling membuang. Hiburan dan barang-barang
yang dibeli di sana dan di sini. Kenangan dalam puing-puing
perubahan. Sisa-sisa hutang dalam peti mati tak terkunci. Pidato
musim hujan di semua saluran keadilan yang tenggelam. Tanah
dan suara api di atas meja makan. Kau dan aku berdiri di sini.
Tetapi tidak pernah berdiri bersama.

Aku memotret telapak tanganku sendiri, seperti memotret sebuah
kepulauan terbuat dari bubur kertas. Pengeluaran terus-menerus
di sana dan di sini, lebih panjang dari jalan yang kulalui ke depan
dan ke belakang. Suara gesekan butir-butir beras dalam panci,
seperti data-data ekonomi yang kehilangan mesin hitung. Hatiku
tenggelam dalam permainan sejarah dan baju untuk masuk surga.
Laporan keuangan yang berjalan-jalan di akhir tahun. Daya hidup
yang menjadi puing-puing dalam perdagangan ilmu pengetahuan,
data-data di sana dan di sini. Kesehatan yang diramalkan vitamin C
dan sikat gigi. Aku dilanda kedatangan diriku sendiri,
untuk membeli kesunyian, udara bersih dan lapangan
kerja.

Tuan-tuan, bisakah kegagalan dipotret, untuk melihat
bagaimana caranya kita tertawa dan tersenyum.
Bisakah kita memotret sikat gigi di tengah puing-
puing daya hidup yang terus digempur dari sana dan
dari sini. Daya hidup yang menjadi mainan pendaya-
gunaan kekerasan. Laporan pertumbuhan penduduk
yang menjadi api pada jam makan malam kita.

Tuan-tuan, bisakah kita membaca sekali lagi, dari
huruf-huruf tak bermakna. Dan mereka menciptakan
bahasa, dari setiap kegagalan, dari setiap sejarah luka
di sana dan di sini, dari dansa perpisahan di malam
minggu. Berdirilah kita di sini, seperti tanaman yang
menunggu tukang kebun. Tidak membiarkan sebuah
kepulauan menjadi saluran got bersama.

Tuan-tuan. Di sana dan di sini. Musim hujan yang
telah berwarna biru di kotamu.


MESIN PENGHANCUR DOKUMEN

Ayo, minumlah. Tidak. Saya tidak sedang es kelapa
muda. Makanlah kalau begitu, tolonglah. Tidak. Saya
tidak sedang nasi rames. Masuklah ke kamar mandi
saya, tolonglah kalau tidak haus, kalau tidak lapar,
kalau bosan makan. Perkenankan aku memberikan
keramahan padamu, untuk seluruh kerinduan yang
menghancurkan dinding-dinding egoku. Bagaimana
aku bisa keluar kalau kamu tidak masuk.

Kamu bisa mendengar kamar mandiku memandikan
tata bahasa, di tangan penggoda seorang penyiar TV.
Perkenankan aku membimbing tanganmu. Masuk-
lah di sini yang di sana. Masakini yang di masalalu.
Masuklah kalau kamu tak suka tata bahasa. Tolonglah
kalau begitu, ganti bajumu dengan bajuku. Mesin
cuci telah mencucinya setelah aku mabuk, setelah
aku menangis, setelah aku bunuh diri 12 menit yang
lalu. Bayangkan tubuhku dalam baju kekosongan itu.
Tolonglah bacakan kesedihan-kesedihanmu:

Kemarin aku bosan, hari ini aku bosan, besok akan
kembali lagi bosan yang kemarin. Apa tata bahasa
harus diubah menjadi museum es krim supaya kamu
tidak bosan. Tolonglah. Semua yang dilakukan atas
nama bahasa, adalah topeng api. Pasar yang
mengganti tubuhmu menjadi mesin penghancur
dokumen. Tolonglah, aku hanya seseorang dalam
prosa-prosa seperti ini, seorang pelancong yang
meledak dalam sebuah kamus. Sebuah puisi murung
dalam mulut mayat seorang penyair.
Tolonglah, tidurkan aku dalam kesunyianmu yang
tak terjemahkan. Mesin penghancur dokumen yang
sendirian dalam kisah-kisahmu.


MANTEL HUJAN DUA KOTA

Kota itu telah jadi Semarang sejak air laut ingin
mendaki bukit, dan pesta tahun baru di ruang dalam
bangunan-bangunan kolonial. Minum persahabatan
dan melukis fotomu pada dinding musim hujan.
Sepanjang malam ia mengenakan mantel dari listrik:
kota yang mengapung 45 derajat di atas sejarah.
Dalam mantelnya, rokok kretek dan kartu atm.
Mahasiswa bergerombol di warung kopi, mengambil
ilmu sastra, ilmu komunikasi, antropologi dan
jam-jam belajar dari pecahan kaca. Akulah anak
muda yang bisa memainkan bas elektrik, blues
dengan sisa-sisa kerusuhan dan sisir yang patah. Aku
telah banjir di lapangan kerja dan kenaikan gaji
pegawai negeri. Para arsitek yang membuat desain
kota bersama air laut dan hujan.

Biarlah aku sampai ke batas tepi ini, untuk jejak yang
membuat lubangnya sendiri.

Kereta keluar dari mulut stasiun Yogyakarta, bau
tembakau dari pesta seni rupa dan sapi goreng. Aku
kembali bernapas setelah ribuan billboard kota
adalah mataku yang terus berputar, waktu yang
terasa perih. Rel kereta api masih menyimpan saham-
saham VOC sampai Semarang. Tanah keraton yang
menyimpan telur ayam, mantel biru masih
menyanyikan keroncong Portugis. Bau tebu, bau padi,
bata merah yang dibakar. Aku telah Yogyakarta
setelah berhasil menjadi orang sibuk tidak mandi 2
hari, menggunakan excel untuk agenda-agenda
padat. Dan bir dingin di antara janji-janji.
Aku telah dua kota dalam perjalanan dua jam
bersambung sepeda 6 jam pagi. Biarlah aku sampai
ke batas tepi ini. Sebuah kota yang terbuat dari jam
6 pagi, dan aku mempercayainya seperti genta yang
berbunyi tanpa berbunyi, bayangan gunung sebelum
biru dan sebelum kelabu dan sebelum di sini.


TEKNIK MENGHIBUR PENONTON

Kebahagiaan peti mati mengucapkan selamat tahun baru.
Maksudku, peti mati dan tahun baru.
Kata-kata melintasinya dan jatuh seperti burung yang
ditembaki dalam mata pelajaran biologi.
Intelektualitas yang merasa bisa menjadi mediator
antara tubuh dan realitas, terjungkal dari rak buku.
Maksudku terjungkal dan rak buku.
Titik dan koma tersesat dalam perangkap titik dan koma.
Kata-kata telah ditundukkan oleh badai kamus.
Dipisahkan lagi antara badai dan kamus.
Sebuah bossanoba di tengah api perpustakaan.
Dipisahkan lagi antara musik dan api dalam perpustakaan.
Tuan penghibur, kataku, untuk melihat rohku
di antara kumpulan harga apartemen dan tiket
pertandingan sepak bola.
Baskom dalam timbunan penduduk kota.
Tepuk tangan para pembuat parfum
dan mesin pencetak dari rumah sakit.

Thank you.
Tuan penghibur.
Thank you.


TUBUH LUBLINSKIE DI LORONG ES HITAM
Untuk gas

Musim panas berjalan-jalan di luar bajumu.
Dari seluruh warna merah yang dipadatkan.
Baju dengan jahitan tentang ketakutan
dan kesedihan. Lorong es hitam pelarian Yahudi
di Grodzka, jadi jalan turis.
Musim panas yang masih menjahit gerimis,
setiap jendela cuaca dibukan dan ditutup.
Tidak tentang yang terkunci di luar atau di dalam.
Tentang bibirmu
meninggalkan biji cengkeh di lidahku.
Membisikkan puisi-puisi Wislawa Szymborska,
dengan tas koper terus memunguti bayangan kita
di belakang. Tidak memisahkan kalimat dengan koma,
setelah masa lalu dan masa kini.
Kita meminjam sayap burung untuk tidak
berbahasa lagi seperti manusia.
Terbang.
Seperti dalam ruang di luar suhu kematian.
Seperti matahari menawarkan ilusi tentang bayangan,
dan sebuah bis yang membawa malam ke Warsawa.

Malam yang terus direnovasi dalam lampu-lampu
kota yang sedih.
Menggeser musim panas ke tangga menuju
kastil-kastil kesunyian,
kafe-kafe yang menyembunyikan teriakan
dari tenggorokan terluka.
Mata lelaki dalam kantong plastik
mulai berkerumun di taman kota.
Pelayan kafe membawa menu sejarah,
secangkir kopi dan ice cream tentang kita.
Lukisan sejarah perang dan kunci besi
di Museum Lublinskie.
Kita berjalan di sebuah kota yang telah menjadi
selembar menu makanan.

Deru pesawat dan kereta masih merenovasi pelukan
kita, antara passport, peta perjalanan dan gereja-
gereja tua. Aku tidak tahu lagi bedanya antara
memeluk dan bersujud memuja kesedihanmu.
Di tas koperku masih peti mati yang meminta visa
untuk kebebasan bernapas.

Sayangku, tidur tidak bisa mengecat mimpi kita.
Lublin telah menjadi piano kesunyian di luar malam.


WORKSHOP 5: TAWANAN AKU

gema suaranya kembali lagi membuat dinding bunyi
dari suaranya
berdiri melingkar
di depan bulatan penuh perangkap waktu
jari-jari yang menggenggam tikus
dan perangkapnya di belakang membuat makan malam
seperti bayangan yang meninggalkan bentuknya
memecah, tertawa, kisah-kisah perang yang
dimuntahkan kembali dari ketakutannya
cermin yang menjadi buta ketika melihat
dinding di dalamnya
dan selembar rambut di atas koran pagi
air yang menyeberang di atas jembatan
melintasi sungai
melintasi tetesannya
tanpa prasangka di hadapan daun kering yang
menyimpan gema dari

hutannya


JEMBATAN REMPAH-REMPAH

Adas manis Akar wangi Andaliman Asam jawa
Asam kandis Bangle Bawang bombay Bunga la-
wang Bawang merah Bawang putih Cabe Ceng-
keh Cendana Damar Daun bawang Daun pandan
Daun salam Jembatan dari bumbu dapur ke darah
Colombus Gaharu Gambir Jahe Jeruk limo Jeruk
nipis Jeruk purut Jintan Kapulaga Kayu manis
Kayu putih Kayu mesoyi Kecombrang Kemenyan
Kemiri Kenanga Kencur Kesumba Ketumbar Ko-
pal Kunyit Lada Jembatan dari parfum ke darah
Vasco da Gama Tabasco Laurel Lempuyang Leng-
kuas Mawar Merica Mustar Pala Pandan wangi
Secang Selasih Serai Suji Tarum Temu giring
Temu hitam Temu kunci Temu lawak Temu mang-
ga Temu putih Temu putri Temu rapet Jembatan
dari obat-obatan ke benteng perempuan berkalung
mawar merah Adas manis Akar wangi Andaliman
Asam jawa Asam kandis Bangle Bunga lawang
Bawang putih Cabe Cengkeh Cendana Damar
Temu tis Vanila Wijen Jembatan dari Diogo Lopes
de Mesquita ke darah Ternate Gaharu Gambir
Jahe Jeruk nipis Jintan Kapulaga Kayu manis
Kayu putih Kemenyan Kemiri Kenanga Kencur
Kesumba Ketumbar Kunyit Lada Jembatan api
yang terus mengirim kapal ke arsip-arsipmu.

CHANEL OO

Permisi,
saya sedang bunuh diri sebentar,
Bunga dan bensin di halaman

Teruslah mengaji,
dalam televisi berwarna itu,
dada.

1983


KEBIASAAN KECIL MAKAN COKLAT

Aku tak suka kakimu berbunyi.
Ini coklat, seperti cintaku padamu.

James Saunders membuat drama dari kereta dan permen coklat di situ, menyusun
persahabatan dari orang-orang yang tak bisa saling menemani: Kita adalah kegugupan
bersama, sejak berusaha mencari arti lewat permen coklat, dan kutu pada lipatan baju.
Jangan menyusun flu di situ, seperti menyusun jendela kereta dari dialog-dialog Romeo.
Tetapi Suyatna ingin menemani sebuah dunia, sebuah pentas, dengan dekor dan baju-baju,
pita- pita pada jalinan rambut sebahu.

Tak ada stasiun kereta pada kerut keningmu, seperti kegelisahan membuat pesta di malam
hari. Lihat di luar sana, orang masih percaya pada semacam kebahagiaan, seperti
memasukkan seni peran dalam tas koper. Tetapi kenapa kau tinggalkan dirimu dalam toilet.
Jangan ledakkan sapu tanganmu, dari kebiasaan kecil seperti itu.

Aih, biarlah kaki itu terus berbunyi, makan coklat terus berlalu, kutu-kutu di baju, cinta yang
penuh kegugupan ditonton orang. Tetapi jangan simpan terus ia di situ, seperti dewa-dewa
berdebu dalam koper, berusaha memberi arti dengan mengisap permen gula.

Ini coklat untukmu.

Jangan mengenang diri seperti itu.

1994



WARISAN KITA

Bicara lagi kambingku, pisauku, ladangku, komporku, rumahku, payungku, gergajiku,
empang ikanku, genting kacaku, emberku, geretan gasku. Bicara lagi cerminku, kampakku,
meja makanku, alat-alat tulisku, gelas minumku, album foto keluargaku, ayam-ayamku,
lumbung berasku, ani-aniku.

Bicara lagi suara nenek-moyangku, linggisku, kambingku, kitab-kitabku, piring makanku,
pompa airku, paluku, paculku, gudangku, sangkar burungku, sepedaku, bunga-bungaku,
talang airku, ranjang tidurku. Bicara lagi kerbauku, lampu senterku, para kerabat-
tetanggaku, guntingku, pahatku, lemariku, gerobakku, sandal jepitku, penyerut kayuku, ani-
aniku.

Bicara lagi kursi tamuku, penggorenganku, tembakauku, pe-numbuk padiku, selimutku, baju
dinginku, panci masakku, to- piku. Bicara lagi kucing-kucingku... pisau

1989


MASYARAKAT ROSA

Dari manakah aku belajar jadi seseorang yang tidak aku kenal, seperti belajar menyimpan
diri sendiri. Dan seperti usiamu kini, mereka mulai mengira dan meyakini orang banyak,
bahwa aku bernama Rosa.

Tetapi Rosa hanyalah penyanyi dangdut, yang menghisap keyakinan baru setelah memiliki
kartu nama. Di situ Rosa menjelma, dimiliki setiap orang. Mahluk baru itu kian membesar
jadi se- jumlah pabrik, hotel, dan lintasan kabel-kabel telpon. Rosa membuat aku menggigil
saat mendendangkan sebuah lagu, menghisap siapa pun yang mendengarnya. Rosa
membesar jadi sebuah dunia, seperti Rosa mengecil jadi dirimu.

Ayahku bernama Rosa pula, ibuku bernama Rosa pula, seperti para kekasihku pula bernama
Rosa. Mereka memanggilku pula sebagai Rosa, seperti memanggil diri dan anak-anak
mereka. Dan aku beli diriku setiap saat, agar aku jadi seseorang yang selalu baru.

Rosa berhembus dari gaun biru dan rambut basah, dari bibir yang memahami setiap kata,
lalu menyebarkan berlembar-lembar cermin jadi Rosa. Tetapi jari-jemarinya kemudian
basah dan membiru, ketika menggenggam mikropon yang menghisap dirinya. Di depan layar
televisi, ia menggenang: Itu adalah Rosa, seperti menyerupai diriku. Gelombang Rosa
berhembus, turun seperti pecahan-pecahan kaca. Rosa menjelma jadi lelaki di situ, seperti
perempuan yang menjelma jadi Rosa.

Rosa, tontonlah aku. Rosa tidak akan pernah ada tanpa kamera dan fotocopy. Tetapi
kemudian Rosa berbicara mengenai kemanusiaan, nasionalisme, keadilan dan kemakmuran,
seperti me- nyebut nama-nama jalan dari sebuah kota yang telah melahirkannya. Semua
nama-nama jalan itu, kini telah bernama Rosa pula.

Hujan kemudian turun bersama Rosa, mengucuri tubuh sendiri. Orang-orang bernama Rosa,
menepi saling memperbanyak diri. Mereka bertatapan: Rosa ... dunia wanita dan lelaki itu,
mengenakan kacamata hitam. Mereka mengunyah permen karet, turun dari layar-layar
film, dan bernyanyi: seperti lagu, yang menyimpan suaramu dalam mikropon pecah itu.

1989


LEMBU YANG BERJALAN

Aku bersalaman. Burung berita telah terbang memeluk sayapnya sendiri. Kota telah pergi
jauh sampai ke senja. Aku bersalaman. Matahari yang bukan lagi pusat, waktu yang bukan
lagi hitungan. Angin telah pergi, tidak lagi ucapkan kotamu, tak lagi ucapkan namamu. Aku
bersalaman. Mengecup pesawat TV sendiri... tak ada lagi, berita manusia.

1984


MITOS-MITOS KECEMASAN

Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi kenangan tersendiri di hati kami, yang
akan kembali membuat cerita, saat- saat kami kesepian. Kami telah belajar membaca dan
menulis di situ. Tetapi kami sering mengalami kebutaan, saat merambahi hari-hari gelap
gulita. Lalu kami berdoa, seluruh kerbau bergoyang menggetarkan tanah ini. burung-burung
beterbangan memburu langit, mengarak gunung-gunung keliling kota.

Negeri kami menunggu hotel-hotel bergerak membelah waktu, mengucap diri dengan
bahasa asing. O, impian yang sedang membagi diri dengan daerah-daerah tak dikenal,
siapakah pengusaha besar yang memborong tanah ini. Kami ingin tahu di mana anak-anak
kami dilebur jadi bensin. Jalan-jalan bergetar, membuat kota-kota baru sepanjang hari.

Radio menyampaikan suara-suara ganjil di situ, dari kecemasan menggenang, seperti tak
ada, yang bisa disapa lagi esok pagi.

1985


MIGRASI DARI KAMAR MANDI

Kita lihat Sartre malam itu, lewat Pintu Tertutup: menawarkan manusia mati dalam sejarah
orang lain. Tetapi wajah-wajah Dunia Ketiga yang memerankannya, masih merasa heran
dengan ke- matian dalam pikiran: Neraka adalah orang-orang lain. Tak ada yang memberi
tahu di situ, bagaimana masa lalu berjalan, memposisikan mereka di sudut sana. Lalu aku
kutip butir-butir kacang dari atas pangkuanmu: Mereka telah melebihi diriku sendiri.

Wajahmu penuh cerita malam itu, menyempatkan aku mengingat juga: sebuah revolusi
setelah hari-hari kemerdekaan, di Peka- longan, Tegal, Brebes; yang mengubah tatanan
lama dari tebu, udang dan batik. Kita minum orange juice tanpa masa lalu di situ, di bawah
tatapan Sartre yang menurunkan kapak, rantai penyiksa, alat-alat pembakar bahasa. Tetapi
mikropon meraihku, mengumumkan migrasi berbahaya, dari kamar mandi ke jalan-jalan tak
terduga.

Di Ciledug, Sidoarjo, Denpasar, orang-orang berbenah meninggallkan dirinya sendiri. Migrasi
telah kehilangan waktu, kekasihku. Dan aku sibuk mencari lenganmu di situ, dari rotasi-
rotasi yang hilang, dari sebuah puisi, yang mengirim kamar mandi ke dalam sejarah orang
lain.

1993


GADIS KITA

O gadisku ke mana gadisku. Kau telah pergi ke kota lipstik gadisku. Kau pergi ke kota parfum
gadisku. Aku silau tubuhmu kemilau neon gadisku. Tubuhmu keramaian pasar gadisku. Ja-
ngan buat pantai sepanjang bibirmu merah gadisku. Nanti engkau dibawa laut, nanti engkau
dibawa sabun. Jangan tempel tanda-tanda jalan pada lalulintas dadamu gadisku. Nanti polisi
marah. Nanti polisi marah. Nanti kucing menggigit kuning pita rambutmu. Jangan mau
tubuhmu adalah plastik warna-warni gadisku. Tubuhmu madu, tubuhmu candu. Nanti kita
semua tidak punya tuhan, nanti kita semua dibawa hantu gadisku. Kita semua cinta padamu.
Kita semua cinta padamu. Jangan terbang terlalu jauh ke pita-pita rambutmu gadisku, ke
renda-renda bajumu, ke nyaring bunyi sepatumu. Nanti ibu kita mati. Nanti ibu kita mati.
Nanti ibu kita mati.

1985


BUKU HARIAN DARI GURINDAM DUABELAS

Kau telah ambil lenganku dari sungai Siak, sebelum Raja Ali Haji berkata: Bismillah
permulaan kalam. Dan kapal-kapal bergerak membawa Islam, membawa para nabi, sutra,
barang-barang elektronik juga. Tetapi seseorang mencarimu hingga Piz Gloria, kubah-kubah
putih yang mengirimku hingga Senggigi. 150 tahun kematian Friedrich Holderlin, jadi penyair
lagi di situ, hanya untuk menjaga cinta. Gerimis membawa kota-kota lain lagi, tanaman
palma dan kenangan di jendela: Siti berlari-lari, menyapu halaman jadi buah mangga, apel,
dan kecapi juga.

Kini dia bukan lagi kisah batu-batu, pelarian tempo dulu, atau seorang biu mengajar
menyapu. Kini setiap tubhnya membaca Gurindam Duabelas, mengirim buku harian, untuk
masa silam seluruh unggas. Kita saling mencari, di antara pikiran yang dicurigai, lebih dari
letusan, menumbangkan sebuah bahasa di malam hari. Puan-puan dan Tuan-tuan, kata
Siti,aku melayu dari Pejanggi. ... Dan sungai Siak jadi sepi, jadi lebih dalam lagi dari
Gurindam Duabelas.
Lenganmu, membuat bahasa lain lagi di situ; untuk orang-orang di pelabuhan, menjual
beras, sayuran, radio, ikan-ikan juga. Dan aku berlari-lari. Ada rumah di situ, setelah jalan
berkelok.Ini untukmu, bahasa dari letusan itu, penuh suaramu melulu.
1993


ASIA MEMBACA
Matahari telah berlepasan dari dekor-dekornya. Tapi kami masih hadapi langit yang sama,
tanah yang sama. Asia. Setelah dewa-dewa pergi, jadi batu dalam pesawat-pesawat TV;
setelah waktu-waktu yang menghancurkan, dan cerita lama memanggili lagi dari negeri lain,
setiap kata jadi berbau bensin di situ. Dan kami terurai lagi lewat baju-baju lain. Asia. Kapal-
kapal membuka pasar, mengganti naga dan lembu dengan minyak bumi. Membawa kami
ke depan telpon berdering.
Di situ kami meranggas, dalam taruhan berbagai kekuatan.Mengantar pembisuan jadi jalan-
jalan di malam hari. Asia. Lalu kami masuki dekor-dekor baru, bendera-bendera baru, cinta
yang lain lagi, mendapatkan hari yang melebihi waktu: Membaca yang tak boleh dibaca,
menulis yang tak boleh ditulis.
Tanah berkaca-kaca di situ, mencium bau manusia, menyimpan kami dari segala jaman.
Asia. Kami pahami lagi debur laut, tempat para leluhur mengirim burung-burung, mencipta
kata. Asia hanya ditemui, seperti malam-malam mencari segumpal tanah yang hilang:
Tempat bahasa dilahirkan.
Asia.

1985

Apartemen Identitas

Aku ingin bisa melihat angin. Melihatnya. Menggenggamnya.
Menatapnya. Menghembuskan setiap pecahan aku ke aku yang
lain. Biji-biji bahasa berjatuhan. Seseorang melihatku melalui
mata sebuah bangsa dari jendela apartemennya, di jalan Eugene
Sue, telah berlalu meninggalkan yang telah berlalu. Empat
kelompok angin besar, kelabu, bergerak. Membuat perempatan
angin di langit. Kelompok awan putih dibaliknya, menyimpan
perpustakaan Utara dan Selatan. Bergerak dari empat arah. Biji-
biji bahasa memecah identitas, kamus-kamus tercabik, setelah
Perancis dan Afrika. Malam datang bersama suara
ambulan. Kita belajar sendiri-sendiri ketika bersama. Udara dari
tubuhmu membuat biji-biji bahasa tumbuh di atas debu-debu
yang berkumpul di balkon apartemen. Asap tembakau
menjemput seorang penyair yang bermukin dalam tas kopernya.
Burung-burung, anak-anak musim yang setia, menjaganya
dengan cerita-cerita botanikal. Penggaris yang mengukur
kematian, dan pidato seorang pengangguran di kreta metro,
melintasi stasiun Stalingrad.

Apartemen itu berisi:
-Pemberontakan tali sepatu daerah kubusmu
-Slide cincin pernikahan di atas lidah
-Tarian tak selesai Henri Matisse
-Bung-bunga bunuh diri di Saint Muchel, Notre-Dame
-Seorang tua berkulit hitam bicara dengan dua tas besarnya di
Stasiun metro, Duroc
-Kematian post-modernisme dalam aliran keuangan
internasional.

Alarm apartemen merontokkan semua bunyi di dinding, minyak
goreng yang hangus di kompor elektrik. Asapnya mengumpal,
tak bisa kulihat, tak bisa kugenggam, tak bisa kutatap,
menjemput identitas dalam tas koper yang terus bergerak tanpa
rekening bank. Membuat perempatan angin untuk potret-potret
luka setiap bangsa.

Lupakan aku. Lupakan aku, setelah semua kultur membisu.

Mesin Jahit Bayangan
Hello Ulrike Draesner

Malam, sebelum agak malam. Buku-buku mengaborsi suami,
setelah suami mulai kehilangan lelaki. Radius yang tidak pernah
berubah antara daftar surat masuk dan surat keluar. Pisau bedah
di ujung bahasa, botol infus dari balik gerbang Berlin,
mengaborsi lampu-lampu malam. Ukuran kemeja yang tidak bisa
memperbesar bayangan lelaki di luar rumah. Apakah puisi,
tanyamu: di antara kursus-kursus bahasa, memindahkan kultur
kota dari mural East Side Gallery ke tembok yang lain, dan bau
mentega yang menciptakan lidah di antara pisau. Dekontruksi
memori dari rahim ke bekas reruntuhan pesawat. Lebih turun
lagi ke rasa berantakan. Kau rasakan, puisi mengambil jiwaku
untuk mendapatkan bayangan bahasa, ruangnya yang tak punya
luar dan tak punya dalam. Gravitasi cinta yang melampaui benua,
menyentuh seorang anak India dalam pelukanmu. Lebih naik
lagi, kata yang meruntuhkan setiap representasi. Agak malam
setelah malam. Kau rasakan dinding-dinding rumah masih
merasakan setiap memori yang melepaskan diri dari sejarah,
dengan membaca, melalui dan mengalami membaca, jembatan-
jembatan yang mengantar cerita. Apakah puisi, tanyaku: sebuah
potongan tiket kereta di stasiun Beusselstrasse, menciptakan
bayangan angin ke Rosenthaler Platz. Memindahkan puisi antar
benua dari perangkap kata, dari setiap terjemahan yang mencium
bau luka. Aku masukkan lenganku ke dalam bahasa, kau tanam
musim berwarna putih dalam senyummu. Aku masih bisa
mencium rempah-rempah yang melangkah di belakangku,
memunggungi waktu, merayuku antara dekorasi Jawa dan aku
yang diperbanyak dalam mesin foto copy. Malam, setelah
melalui malam. Apakah puisi. Kita potret bahasa. Banyangan
mengelupas. Mengaborsi cahaya dari setiap rahim yang ingin
melahirkannya. Apakah puisi: mesin jahit yang terus menjahit
bayangan antara tubuh dan setelah tubuh. Membuat kobaran
sunyi dalam pakaian yang telah ditinggalkan. Malam, setelah
malam tak lagi di sini.

Jembatan Iblis dari Keningku
Buat BOT, Marianne dan Elia

Sebuah gereja dalam salju. Kursinya membekukan kekosongan.
Pintunya menutup musim dingin. Salin masih terus membekukkan
sunyi. Di Gotthard, melewati Zurich ke Andemartt, sebuah hotel
dalam salju. Albergo San Gottardo. Pintunya menutup musim
dingin dari 5 menit musim panas. Lima jam mendaki,
menyesatkan diri dalam lubang-lubang udara. Kota telah berlalu
dalam kenangan memasak dan mesin printer. Lembah-lembah
Urseren dan Laventina. Setiap belokan, melingkar. Arsitektur
kesunyian, melingkar. Konstruksi kesedihan, melingkar.
Mengubah warna kenangan dan gua-gua bekas peninggalan
militer. Melingkar di bawah tebing-tebing batu di atas tebing-
tebing batu yang kembali ke bawah dan ke atas. Ke luar dan ke
dalam.

Cahaya dari bukit-bukit batu, mengelupas melewati erangan
Salju di musim panas, benturan antara yang berlalu dan
berkelanjutan. Ruang di sini terus menciptakan dirinya berulang-
ulang, untuk menyesatkan waktu dalam perjanjian antara iblis
dan pendeta suci Gottardo, antara monumen kesunyian dan
tebing-tebing sejarah. 800 tahun lalu melewati tebing-tebing
Schollenen dan Reuss, di atas jembatan Teufelsbrucke, iblis yang
tertipu seekor kambing. Di bawahnya, air dari lelehan salju
masih terus mengalirkan potret-potret perang Napoleon. Tubuh
melawan tubuh, membuktikan waktu. Jiwa melawan jiwa,
membuktikan yang berulang. Udara menjadi begitu curam, 9
derajat di bawah kultur yang ketakutan.

6 jam berjalan kaki, turun dari kecuraman waktu, sampai di
Airolo. Makan malam di Lauzers, di tepi sungai. Di tepi
Bayanganku yang curam.

Aku Setelah Aku
:eyelight

Aku berdiri sebagai reruntuhan, atau, mungkin sebagai
reruntuhan yang duduk di depan monitor kesunyian. Gelombang-
gelombang memori masih bergerak, seperti mesin scanner yang
mondar-mandir di atas keningku. Batas kematianku dan batas
kecantikanmu, membuat tikungan yang pernah dilalui para
petapa. Aku masih reruntuhan dalam pelukanmu. Batu-batu
bergema dalam puing-puingnya. Menuntunku dari yang jatuh.
Berenang, dalam yang tenggelam. Menghidupkan gamelan mati
di mataku.

Ketukan-ketukan kecil, putaran di kening, lembah-lembah yang
belum pernah kulihat. Aku berdiri melihat garis bibirmu dari
matamu, garis yang dilalui sebuah truk. Seorang perempuan
menyetirnya dengan lengan kirinya yang patah. Ia gulingkan
cermin-cermin busuk ke dalam keca: aku pada batas-batas
berakhirnya aku. Perempuan yang kecantikannya melumpuhkan
batas-batas militer. Parit-parit bekas peperangan, membuat mata
rantai baru ke telaga. Bebaskanlah aku, bebaskanlah aku dari
kultur yang menawan kebinatanganku.

Ia bergerak, kejutan-kejutan pendek dari setiap bayangan puisi.
Garis pantai lurus dari matanya, semakin lurus dalam horison
keheningan: batas setelah manusia menyerahkan dirinya kembali
sebagai binatang. Perempuan yang kecantikkannya menyihirku
sebagai lelaki setelah lelaki, sebagai aku setelah aku. Kecantikan
yang mengisi kembali botol-botol kosong dalam puisi, setelah
kekejaman di luar tutup botol.

Aku ambil kembali manyatku dari lidahnya. Perempuan yang
kecantikannya terus menerus merajut pecahan-pecahan kaca. Aku tak
percaya, tubuh penuh jahitan setelah aku di depanku.
Perempuan yang kecantikannya membangun sebuah hutan di
mataku, siang-malam, mengisinya dengan binatang-binatang
kecil, pagar jiwa dalam cincin yang mengusir kehancuran makna.
Gua bagi pemuja tubuh dan burung-burung dalam kicauannya.
Di dalam sarangnya, aku dan waktu menjadi purba.

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Selain
Menulis puisi dan prosa, ia banyak bekerja untuk teater,
tari, dan seni rupa. Buku puisinya antara lain
Pada Bantal Berasap: Empat Kumpulan Puisi (2010)

PUISI KOMPAS, MINGGU, 3 FEBRUARI 2013

ESEI-ESEI YANG HILANG_Afrizal Malna
AGUSTUS 20, 2013

Kalau pagi hari datang memesan riwayat hidupmu,
saya seperti memasang sebuah cermin. Saya dibuatnya
ada di situ. Saya dibuatnya ada. Di situ saya belajar
bercinta : waktu-waktu yang terbelah datang lagi, jadi
mahkluk asing di jalan-jalan yang saya lalui. Lalu datang
kata-kata mati, membawanya pergi ke daerah-daerah
tanpa pengucapan.
Mereka mulai membayangi lagi sebuah kepercayaan,
yang akan mengirim kereta padamu untuk berangkat :
Semua akan berlalu, semua akan berlalu. Sejak itu, saya
Merasa tak pernah lepas dari mahkluk asing, yang selalu
datang dari setiap daerah kehilangan pengucapan.
Saya telah temui orang-orang berbaris di tepi dirinya sendiri
di situ, melambai-lambaikan tangan, seperti lembaran-
lembaran kain yang basah.
1988
Posted in Kumpulan Puisi Afrizal Malna. Tagged Esei-esei yang hilang afrizal malna.
MITOS-MITOS KECEMASAN_Afrizal Malna
AGUSTUS 20, 2013
Kota kami dijaga mitos-mitos kecemasan. Senjata jadi
kenangan tersendiri di hati kami, yang akan kembali
membuat cerita, saat-saat kami kesepian. Kami telah
belajar membaca dan menulis di situ. Tetapi kami sering
mengalami kebutaan, saat merambahi hari-hari gelap
gulita. Lalu kami berdoa, seluruh kerbau bergoyang
menggetarkan tanah ini. Burung-burung beterbangan
memburu langit, mengarak gunung-gunung keliling
kota.
Negeri kami menunggu hotel-hotel bergerak
membelah waktu, mengucap diri dengan bahasa asing.
O, impian yang sedang membagi diri dengan daerah-
daerah tak dikenal, siapakah pengusaha besar yang
memborong tanah ini. Kami ingin tahu di mana anak-
anak kami dilebur jadi bensin. Jalan-jalan bergetar,
membuat kota-kota baru sepanjang hari.
Radio menyampaikan suara-suara ganjil di situ, dari
kecemasan menggenang. Seperti tak ada, yang bisa
disapa lagi esok pagi
1985
Posted in Kumpulan Puisi Afrizal Malna. Tagged kecemasan, mitos-mitos, puisi-puisi afrizal malna.
Abad Yang Berlari_Afrizal Malna
AGUSTUS 16, 2013
palu. waktu tak mau berhenti, palu. waktu tak mau berhenti. seribu jam menunjuk waktu yang bedaberbeda. semua berjalan sendiri-
sendiri, palu.
orang-orang nonton televisi, palu. nonton kematian yang dibuka di jalan-jalan, telah bernyanyi bangku-bangku sekolah, telah
bernyanyi di pasar-pasar, anak-anak kematian yang mau merubah sorga. manusia sunyi yang disimpan waktu.
palu. peta lariberlarian dari kota datang dari kota pergi, mengejar waktu, palu, dari tanah kerja dari laut kerja dari mesin kerja.
kematian yang bekerja di jalan-jalan, palu. kematian yang bekerja di jalan-jalan.
dada yang bekerja di dalam waktu.
dunia berlari.. dunia berlari
seribu manusia dipacu tak habis mengejar.
1984



TENTANG AFRIZAL MALNA

Afrizal Malna lahir di Jakarta, 7 Juni 1957. Sejak menamatkan SLA pada tahun 1976, Afrizal
Malna tidak melanjutkan sekolah. Pada tahun 1981, ia belajar di Sekolah Tinggi Filsafat
Driyarkara, Jakarta, sebagai mahasiswa khusus hingga pertengahan dikeluarkan pada
tahun 1983. Pada usia 27 tahun, Afrizal Malna menikah. Selama kurang lebih sepuluh tahun
ia pernah bekerja di perusahaan kontraktor bangunan, ekspedisi muatan kapal laut, dan
asuransi jiwa. Sekarang lebih banyak berkiprah di bidang seni, sebagai sutradara
pertunjukan seni, kurator seni instalasi, penyair dan penulis. Bukunya antara lain: Abad Yang
Berlari (1984), Perdebatan Sastra kontekstual (1986), Yang Berdiam Dalam
Mikropon(1990), Arsitektur Hujan (1995), Biography of Reading (1995), Kalung Dari
Teman (1998), Sesuatu Indonesia, Esei-esei dari pembaca yang tak bersih (2000), Seperti
Sebuah Novel yang Malas Mengisahkan Manusia, kumpulan prosa (2003), Dalam Rahim
Ibuku Tak Ada Anjing (2003), Novel Yang Malas Menceritakan Manusia (2004), Lubang dari
Separuh Langit (2005). Penghargaan yang pernah diterima: Kincir Perunggu untuk naskah
monolog dari Radio Nederland Wereldomroep (1981), Republika Award untuk esei dalam
Senimania Republika, harian Republika (1994), Esei majalah Sastra Horison (1997), Dewan
Kesenian Jakarta (1984).