Anda di halaman 1dari 4

PUISI-PUISI ACEP ZAMZAM NOOR

Selasa, 11/02/2014 - 14:00 Sastra


Seratus ...
Lain-lain |
Koleksi |
Puisi |
Acep Zamzam Noor
KASIDAH SUNYI 3

Aku letih menjengkal kesamaranmu
Menyusuri terowongan-terowongan
panjang
Waktu ternyata sebuah gurun pasir
Yang menelanku. Tapi kematian kutahan
Hingga tenggorokanku terbakar sunyi
Di antara erangan dan jeritanku yang
terpendam
Gunung batu hanya menyimpan
kedamaianmu
Aku letih memahami rahasiamu
Menghirup kepulan pasir dan debu
Langkahku telah menuruni jurang dan
suaraku
Ditenggelamkan batu karang. Kematian
masih kutahan
Tapi waktu terus membentangkan gurun
demi gurun
Dari keluasan tak bisa kujengkal jarak lagi
Matahari hanya mengisyaratkan
keagunganmu yang jauh

KUPU-KUPU

Aku tidur dalam pelukan bunga layu
Memimpikanmu melayarkan bintang-
bintang
Ke ranjangmu. Sungai-sungai
Air mata yang mengering dalam doa-
doaku
Aku menulis semua yang dibidikkan angin
Membaca semua yang dituliskan
semilirnya padaku
Bercakap dengan udara yang dingin:
Betapa cepat kuda ajal merebut semua
jalanku
Lautan itu mengandung bulan
Kaulah yang memompa perut
gelombangnya!
Ikan-ikan yang minum dari matamu
Burung-burung mabuk dalam kejaran
pandanganmu
Kembali pada debu. Kupu-kupu
Merontokkan lembar demi lembar
rambutku

RUMAH YANG TERBUKA

Jarum pengelihatanku memasuki seluruh
pori-pori
Dalam tubuhmu. Keindahan yang kugali
sering menjelma api
Yang menyalakan sumbu urat-urat
darahku
Aku memintal lagu sepanjang lorong
rahasiamu
Untuk kunyanyikan diam-diam. Tanganku
meraba ayat-ayat
Tapi setiap kunaiki tangga ke langit
terjauh
Aku selalu ditenggelamkan sinar bulan
Mengupas kemolekanmu dengan pisau
pikiran
Adalah sia-sia. Keindahan hanya bisa
kurasakan getarnya
Seperti cinta yang membakarku tiba-tiba
Aku menggali cahaya dari kuburan-
kuburan kenanganmu
Untuk kunyalakan dalam jiwa. Dengan
kaki telanjang
Kumasuki rumah batinmu yang terbuka
Di lantai pualam aku bergulingan
sepanjang malam

COLOMBELLA

Aku masih digayuti kabut yang semalam
melaju dalam tidurku Melewati petak-
petak ladang, tangki air dan lengkung biru
Pebukitan. Rumah-rumah kotak yang
kecoklatan Jalan-jalan kecil yang
melingkar serta sebuah sungai Yang
berliku membelah perkampungan
Semuanya bermuara di mataku
Ini masih awal musim semi, kureguk
Hangatnya kopi serta bait-bait pendek
Ungaretti Betapa angin telah
menggemburkan permukaan tanah
Dengan lidahnya. Topan mengkilapkan
wajah bebatuan Sebuah lapangan kota
lama yang lahir kembali Dengan
katedralnya yang lain
Ini masih awal musim semi Semburat
matahari menerobos kaca dan sayup-
sayup Kudengar dengus pepohonan yang
menahan getar birahi Akar-akarnya.
Ladang-ladang menghamparkan tikar
pandan Sungguh musim semi telah
membangunkan tidur bumi Yang panjang.
Ketika langit menguraikan rambut ikalnya
Sebuah kastil putih muncul dari balik
pebukitan Dengan air mancurnya yang
menyemburkan kilatan cahaya

1993-1997

FIRENZE

Ingin kulepaskan hasratku Ke pusat
gairahmu Seperti peristiwa-peristiwa
biasa Yang dikekalkan waktu Menjadi
patung dan lukisan. Begitu pula jalan-jalan
Kaki lima yang berliku Sungai besar
Jembatan-jembatan tua Patung-patung
serta lampu-lampunya
Sejak kulewati sebuah kastil dengan
taman bunganya Kebun anggur tumbuh di
dadaku Aku berjalan dengan lonceng di
telinga Mendirikan menara bagi
pendengaranku Lalu membayangkan
sepasang air mancur Di kedua tanganku.
Kumasuki semua butik dan museum
Hingga aku menjadi sepatu di halaman
toko buku angka-angka tahun berloncatan
Hari-hari meloloskan diri Dari perangkap
kesementaraan
Sungguh ingin kulekatkan gairahku Pada
bunyi lonceng Katedralmu. Seperti
adegan-adegan pertobatan Sepanjang
dinding marmar yang kekal Atau dilumuri
ambar dan kemiri -- Lalu aku berjalan
sendiri Ke deretan bangku-bangku kosong
itu Duduk, tersedu dan membusuk
Bersama sajak-sajakku

1993-1997

LOUVRE

Cahaya remang yang melumuri trotoar
berbatu Menyentuh juga tiang-tiang
lampu yang berukir indah Sepanjang
jembatan itu. Seperti jemari senja yang
lentik Cahaya merayapi tubuh jalanan,
memanjati dinding-dinding pualam Lalu
mengaburkan diri pada pusaran kabut
yang berwarna:
Paris berkilauan dalam sebuah piramida
kaca

1997

PERNYATAAN CINTA

Kau yang diselubungi asap
Kau yang mengendap seperti candu
Kau yang bersenandung dari balik penjara
Tanganmu buntung karena menyentuh
matahari
Sedang kakimu lumpuh
Aku mencintaimu
Dengan lambung yang perih
Pikiran yang dikacaukan harga susu
Pemogokan serta kerusuhan yang meletus
Di mana-mana. Darah dan airmataku
tumpah
Seperti timah panas yang dikucurkan ke
telingan
Kubayangkan tanganmu yang buntung
serta kakimu
Yang lumpuh. Tanpa menunggu seorang
pemimpin
Aku mereguk bensin dan
menyemburkannya ke udara
Lalu bersama mereka akumelempari toko
Membakar pasar, gudang dan pabrik
Sebagai pernyataan cinta
Betapa menyedihkan mencintaimu tanpa
kartu kredit
Tanpa kamar hotel atau jadwal
penerbangan
Para serdadu berebut ingin
menyelamatkan bumi
Dari gempa dahsyat. Kuda-kuda
menerobos pagar besi
Anjing-anjing memercikkan api dari sorot
matanya
Sementara aku melepaskan pakaian dan
sepatu
Ternyata mencintaimu tak semudah turun
ke jalan raya
Menentang penguasa atau memindahkan
gunung berapi
ke tengah-tengah kota
Aku berjalan dengan membawa kayu di
punggungku
Seperti kereta yang menyeret gerbong-
gerbong kesedihan
Melintasi stasiun-stasiun yang sudah
berganti nama
Kudengar bunyi rel yang pedih tengah
menciptakan lagu
Gumpalan mendung meloloskan diri dari
mataku
Menjadi halilintar yang meledakkan
kemarahan
Pada tembok dan spanduk. Aku
mencintaimu
Dengan mengerat lengan dan melubangi
paru-paru
Aku mencintaimu dengan menghisap
knalpot
Dan menelan butiran peluru
Wahai kau yang diselubungi asap
Wahai kau yang mengendap seperti candu
Wahai kau yang terus bersenandung
meskipun sakit dan miskin
Wahai kau yang merindukan datangnya
seorang pemimpin
Tunggulah aku yang akan segra
menjemputmu
Dengan sebotol minuman keras

1998

RUE DE RIVOLI

Kita melaju dalam rintik gerimis Yang
menghapus semua alamat Dari ingatanku.
Udara seperti berombak Sungai
memantulkan gema Napasmu gemetar Di
ranting-ranting poplar
Jembatan itu mengangakan rahang
Menyeret musim Yang meluncurkan
perahu Dalam cuaca dingin. Senja menjadi
ajaib Di tengah kebisuanmu Dan redupnya
angin
Ke sudut-sudut kafe Tak ada yang perlu
dilabuhkan Kecuali jejak matahari.
Sementara kau dan aku Mungkin tak akan
mengubah arah sunyi Dengan mencari
kehangatan Pada gelas dan ciuman

1997

ZIKIR

Aku mengapung
Ringan
Meninggi padamu. Bagai kapas menari-
nari
Dalam angin
Jumpalitan bagai ikan
Bagai lidah api

Bau busuk mulutku, Anne
Seratus tahun memanggi-manggil
Namamu

Inilah zikirku:
Lelehan aspal kealpaanku, cairan timah
Kekeliruanku, gemuruh mesin keliaranku
Tumpukan sampah keterpurukanku
Selokan mampat kesia-siaanku

Aku tak tidur padahal ngantuk, tak makan
Padahal lapar, tak minum padahal haus
Tak menangis padahal sedih, tak berobat
Padahal luka, tak bunuh diri
Padahal patah hati

Anne! Anne! Anne!

Zikirku seribu sepi menombakmu
Menembus lapisan langitmu,
membongkar
Gumpalan megamu, membakar pusaran
Kabutmu, menghanguskan jarak
Ruang dan waktu

Aku mencair
Bagai air
Mengalir padamu. Bagai hujan
Tumpah ke bumi
Menggelinding bagai batu
Bagai hantu

Anne! Anne! Anne!

Inilah rentetan tembakan kerinduanku,
lemparan
Granat ketakutanku, dentuman meriam
kemabukanku
Luapan minyak kegairahanku, kobaran
tungku kecintaanku
Semburan asap kepunahanku

Aku tak mengemis padahal miskin, tak
mencuri
Padahal terdesak, tak merampok padahal
banyak utang
Tak menipu padahal ada kesempatan, tak
menuntut
Padahal punya hak, tak memaksa
Padahal putus asa

Anne! Anne! Anne!

Zikirku seribu sunyi mengejarmu
Menggedor barikade pertahananmu,
menerobos
Dinding persembunyianmu, mengobrak-
abrik ruang
Semadimu, menghancurkan singgasana
Kekhusyukanmu

Bau busuk mulutku, Anne
Seratus tahun memanggil-manggil
Namamu

LE NAUSEE
Buat Wing Kardjo

Jejak bulan telah hapus
Bumi tinggal rawa peradaban
Kata-kata menjadi belantara nilai
Tak terbaca. Bencana demi bencana
Bahkan pertikaian antar sesama
Telah membunuh bahasa. Sungai-sungai
Yang mengalirkan lumpur dan lahar
Sumbernya berasal dari kemarahan

Tahun-tahun lindap, abad-abad gelap
Mengekalkan kesumat. Langit merendah
Berkaca pada lembaran sejarah
Yang penuh darah. Harimau dan ular
Mengaum dan menjalar
Tak tertahan. Naik-turun gunung
Keluar-masuk hutan
Merambah dunia tanpa peta

1983