Anda di halaman 1dari 9

Gegerbitung adalah sebuah kecamatan di Kabupaten Sukabumi, ProvinsiJawa

Barat, Indonesia.
(http://id.wikipedia.org/wiki/Gegerbitung,_Sukabumi)
Kecamatan ini terdiri dari 8 desa: buniwangi, caringin, ciengang, cijurey, gegerbitung,
karangjaya, sukamanah
(http://id.wikipedia.org/wiki/Kategori:Gegerbitung,_Sukabumi)
Sejarah Gegerbitung
Gegerbitung berada di wilayah Kab. Sukabumi sebelah timur berbatasan dengan Kab.
Cianjur. Wilayah Gegerbitung Terdiri dari bukit lintasan antara Sukabumi Sindangbarang
(laut kidul). Gegerbitung adalah suatu kecamatan yang terdiri dari tujuh desa yang terletak
diselatan sungai Cimandiri. Mata pencaharian utama masyarakat daerah ini adalah petani.
Secara etimologi Gegerbitung diambil dari kata Geger dan Bitung. Geger memiliki arti
punggung sedangkan Bitung berarti pohon bambu yang besar dan biasa di gunakan untuk
kayu bakar dan jembatan (sasak) Orang-orang Gegerbitung pada masa dahulu sering
memakai jembatan dan talang (saluran air) dari pohon bitung. juga diatas punggung
perbukitan daerah ini banyai didapati pohon bitung serta tunas bitung atau bitung dapat
dijadikan makanan yang terkenal dengan nama "iwung".
Menurut cerita orang-orang terdahulu di Gegerbitung telah berdiri sebuah kerajaan yang
bernama Kerajaan Kuta Mandiri dengan seorang ratu bernama Nyi Teja Mantri yang
berkedudukan di kampung Kuta sekarang dengan peninggalannya:
1. Batu Kursi
2. Batu Mayit
3. Dan peninggalan yang masih belum memiliki nama
Konon menurut cerita bahwa Nyi Teja Mantri Ngaraas (menyusuri sungai) Cigeger untuk
mencari ikan beserta para punggawa. sesampainya di muara Cimandiri tempat bertemunya
sungai Cigeger dengan Sungai Cilubang Nyi Teja Mantri menelusuri sungai tersebut karena
banyak terdapat ikan Lubang. namun dia terkejut cincin yang dikenakannya hilang sehingga
sungan Cilubang semua batunya dilemparkan hingga terbentuknya gunung Pasir Pogor yang
banyak batunya dan sungai Cilubang hingga kini tidak berbatu.
Nyi Teja Mantri kemudian menelusuri sungai Cimandiri sampai ke hilir dia merasa cape,
kemudian naik dari sungai disuatu tempat yang banyak terdapat pohon arennya dan sekarang
terkenal dengan nama Kawungluwuk. Karena merasa sangat lelah berbicaranyapun pelan-
pelan sehingga terkenal orang kawungluwuk dalam berbicaranya banyak menggunakan aksen
melodis

(http://wuudart.blogspot.com/2010/07/sejarah-gegerbitung.html)






Eksploitasi Sungai Kaki Gunung Gombong Kabupaten Sukabumi
Setiap akhir pekan tiba, ada satu keinginan untuk kembali ke desa yang penuh dengan
hamparan sawah dan hembusan udara segar di kaki gunung Gombong. Ketika masih duduk di
SMA, kami berempat, Aku, Eko, Enry, dan Erwan sering berkunjung ke desa kuta di
kecamatan gegerbitung, kabupaten Sukabumi, dimana teman kami yang bernama Eko
tinggal.




Awal April 2012 kemarin, saya hendak menjenguk Eko yang sakit dan sekaligus kembali
mengingat kenangan sewaktu SMA dahulu di desa itu. Kesempatan itu tidak saya lewatkan
begitu saja. Saya menginjakkan kembali kaki di atas bebatuan alam yang begitu besar dan
pasir sungai yang memijat telapak kaki bersamaan dengan arus sungai yang tak senyaman
dulu. Sangat disayangkan sekali, pemandangan indah itu tidak abadi lagi seperti halnya di
tahun 2000 hingga 2002. Anugerah tuhan yang dititipkan pada manusia-manusia di bumi
tidak dijaga dengan baik. Sungai mengering. Bebatuan dipecah dan pasirnya diangkut untuk
untuk dijual. Saya memang tidak tahu bagaimana sejarah awalnya hingga terjadi
pengeksploitasian sumber daya alam ini dengan tepat, tapi secara logika, saya pikir ini
merupakan hal yang tidak tepat. Apakah ini merupakan kebijakan dari pemerintah atau
bahkan sebuah kegiatan yang tidak ada ijinnya?


Akibat Eksploitasi Sungai di Kaki Gunung Gombong, Desa Pamoyanan Kecamatan
Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi



Saya fikir, kita semua paham bahwa sungai adalah salah satu sumber pengairan yang sangat
dibutuhkan oleh manusia. Sungai memberikan sumbangan pasokan air yang besar untuk
industry dan rumah tangga. Dalam sebuah penelitian, Wahyono (Manajemen Bioregional
Jabodetabek, Problema Pengelolaan Sungai di Indonesia: Antara Eksploitasi dan Pelestarian
Fungsi Sungai) menyatakan menurut Bank Dunia (World Bank Country Study, 2004),
kebutuhan air di Indonesia akan meningkat tajam di dua decade ke depan, namun demikian
kebutuhan air hanya dapat dipenuhi sekitar 5% dari total kebutuhan air pada tahun 2010.
Arya juga menyatakan bahwa kerusakan sungai jauh berada di bawah rata-rata bahkan ada
yang menjadi kering. Faktanya dapat dilihat dalam poto-poto yang sudah saya
dokumentasikan ketika membesuk alam yang sudah memberikan banayk penghidupan untuk
warga desa Pamoyanan, Kecamatan Geger Bitung, Kabupaten Sukabumi.

Saya pun menemukan beberapa peraturan yang bisa digunakan jika ternyata benar bahwa
eksploitasi yang dilakukan di desa Pamoyanan itu tidak resmi, makan bisa dijerat dengan
ketentuan hukum Pasal 15 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1974 dan peraturan
perundangan lainnya (Wahyono), diantaranya adalah:
Barangsiapa untuk keperluan usahanya hanya melakukan pembangunan bangunan sungai
tanpa ijin sebagaimana diatur dalam Pasal 12 ayat 2 dan pasal 15 ayat 3;
Barangsiapa melakukan pengusahaan sungai dan bangunan sungai tanpa ijin sebagaimana
dimaksud dalam Pasal 14 ayat 3;
Barangsiapa mengubah aliran sungai, mendirikan, mengubah, atau membongkar bangunan-
bangunan di dalam atau melintas sungai, mengambil dan menggunakan air sungai untuk
keperluan usahanya yang bersifat komersial tanpa ijin sebagaimana dimaksud dalam Pasal
25, Pasal 26, dan Pasal 27,
dan mungkin beberapa sekelumit Pasal-Pasal yang tidak saya ketahui.


Dari keseluruhan essay yang saya baca
(Red- Problema Pengelolaan Sungai di Indonesia: Antara Eksploitasi dan Pelestarian Fungsi
Sungai), hukum yang ada belum bisa melindungi Sumber Daya Alam, tetapi lebih condong
memposisikannya hanya sebagai alat pembuat uang, tanpa mencerminkan kepedulian untuk
melindunginya.


Saya sungguh miris dan prihatin ketika mengetahui tentang fakta yang ada. Saya hanya bisa
menyayangkan bahwa pendidikan warga setempat yang hanya mengeksploitasi sungai di kaki
gunung Gombong tanpa mengetahui cara pengelolaan yang tepat agar alam masih bisa
diselamatkan, bukan dihancurkan. Karena pada kenyatannya, gejala yang sudah tampak dari
ekploitasi liar ini bisa merugikan masyrakat itu sendiri pada khususnya, dan warga
Sukabumi-Cianjur pada umumnya. Debit air yang bisa dikatakan semakin kecil, bahkan
cenderung kering apabila musim kemarau. Semoga dengan adanya tulisan yang saya buat ini
bisa menyadarkan banyak pihak agar tidak merusak alam dengan seenaknya. Mari kita
bersama menyelamatkan bumi dengan cara dan kemampuan kita. Semoga ada cendikiawan
yang lebih memahami permasalahan ini dan bisa memberikan solusi agar kita di masa
mendatang tidak dirugikan.

(http://achdimerdianto.blogspot.com/2012/04/eksploitasi-sungai-kaki-gunung-gombong.html)
KANTOR KECAMATAN GEGERBITUNG
Nearby cities: CISARUA GIRANG, BTN Kota Baru Cianjur, Sukabumi City
Coordinates: 658'48"S 1070'57"E
(http://wikimapia.org/9812954/Kantor-Kecamatan-GEGERBITUNG)


























Tanggapan Kecamatan Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat. 11 Nov 2013
12 November 2013
Share
Facebook
twitter
Bersama ini kami sampaikan tanggapan bencana gerakan tanah di Kecamatan Gegerbitung,
Kabupaten Sukabumi, Provinsi Jawa Barat, berdasarkan pemberitaan HU Pikiran Rakyat,
Sabtu, 9 November 2013, sebagai berikut :
1. Lokasi dan waktu kejadian :
Bencana gerakan tanah terjadi di Kp. Cipari dan Kp. Cisayang, Desa Cijurai, Kecamatan
Gegerbitung, Kabupaten Sukabumi terjadi pada November 2013. Gerakan tanah pernah
terjadi di lokasi ini pada tahun 1996, berulang di tahun 2000, Maret 2007, dan Desember
2009.
2. Jenis gerakan tanah :
Gerakan tanah yang terjadi berupa nendatan disertai retakan dan longsoran tanah dan batuan
pada bukit Curug Tilu yang berada di atas pemukiman warga.
3. Dampak gerakan tanah :
2 (dua) rumah rusak berat di Kp. Cipari.
9 (sembilan) jiwa mengungsi.
712 Kepala keluarga terancam.
4. Kondisi daerah bencana :
Secara umum daerah bencana dan sekitarnya berupa daerah perbukitan, pada bagian
puncak berkemiringan lereng landai antara 3 - 30, pada bagian tengah membentuk
gawir dengan kemiringan lereng terjal antara 45 - 75. Dan pada bagian kaki berlereng
landai hingga datar, antara 0 - 15. Ketinggian tempat antara 600 950 m dpl.
Batuan penyusun di daerah bencana merupakan Formasi Nyalindung yang terdiri dari
batupasir glauokonit gampingan berwarna hijau, batulempung, napal, napal pasiran,
breksi dan batugamping (Tmn), dan endapan Aluvium (Qa). (A.C. Efendi dkk, Peta
Geologi Lembar Bogor, Puslitbang Geologi, 1998).
Berdasarkan Peta Prakiraan Wilayah Potensi Terjadi Gerakan Tanah pada bulan
November 2013 di Provinsi Jawa Barat (Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana
Geologi), daerah gerakan tanah terletak pada zona kerentanan gerakan tanah
Menengah-Tinggi, artinya di daerah yang mempunyai potensi Menengah Tinggi
untuk terjadi Gerakan Tanah. Pada zona ini dapat terjadi gerakan tanah jika curah hujan
diatas normal, sedangkan gerakan tanah lama dapat aktif kembali.
5. Faktor penyebab terjadinya gerakan tanah diperkirakan :
Curah hujan yang tinggi pada saat dan sebelum kejadian gerakan tanah.
Kemiringan lereng yang terjal, menyebabkan material mudah bergerak.
Tanah pelapukan yang lunak dan lepas-lepas sehingga mudah longsor.
Lahan pesawahan di atas lereng, sehingga kondisi lereng menjadi jenuh air.
6. Tim Tanggap Darurat Bencana gerakan tanah siap diberangkatkan ke lokasi bencana,
untuk melakukan :
Pemeriksaan guna mengetahui penyebab terjadinya gerakan tanah
Memberikan rekomendasi teknis penanganan bencana gerakan tanah.
Memberikan sosialisasi mengenai kondisi gerakan tanah yang terjadi kepada
masyarakat yang terkena bencana.

Tanggapan ini dapat di unduh/ di download di www.vsi.esdm.go.id.
Demikian tanggap darurat ini kami sampaikan terimakasih atas perhatiannya.


(http://pvmbg.bgl.esdm.go.id/index.php/gerakan-tanah/kejadian-gerakan-tanah/258-td-
kecgegerbitung-kab-sukabumi-jawa-barat-11-nov-2013)