Anda di halaman 1dari 2

PERKEMBANGAN DISPERSI KASAR DALAM FARMASI

Pada saat ini, pengembangan nanoteknologi terus dilakukan oleh para peneliti dari dunia
akademik maupun dari dunia industri. Semua peneliti seolah berlomba untuk mewujudkan
karya baru dalam dunia nanoteknologi. Salah satu bidang yang menarik adalah
pengembangan metode sintesis nanopartikel. Nanopartikel dapat terjadi secara alamiah
ataupun melalui proses sintesis oleh manusia. Sintesis nanopartikel bermakna pembuatan
partikel dengan ukuran yang kurang dari 100 nm dan sekaligus mengubah sifat atau
fungsinya. Orang umumnya ingin memahami lebih mendalam mengapa nanopartikel dapat
memiliki sifat atau fungsi yang berbeda dari material sejenis dalam ukuran besar (bulk). Dua
hal utama yang membuat nanopartikel berbeda dengan material sejenis dalam ukuran besar
yaitu: (a) karena ukurannya yang kecil, nanopartikel memiliki nilai perbandingan antara luas
permukaan dan volume yang lebih besar jika dibandingkan dengan partikel sejenis dalam
ukuran besar. Ini membuat nanopartikel bersifat lebih reaktif. Reaktivitas material ditentukan
oleh atom-atom di permukaan, karena hanya atom-atom tersebut yang bersentuhan langsung
dengan material lain; (b) ketika ukuran partikel menuju orde nanometer, maka hukum fisika
yang berlaku lebih didominasi oleh hukum - hukum fisika kuantum. Sifat - sifat yang berubah
pada nanopartikel biasanya berkaitan dengan fenomena -fenomena berikut ini. Pertama
adalah fenomena kuntum sebagai akibat keterbatasan ruang gerak elektron dan pembawa
muatan lainnya dalam partikel. Fenomena ini berimbas pada beberapa sifat material seperti
perubahan warna yang dipancarkan, transparansi, kekuatan mekanik, konduktivitas listrik,
dan magnetisasi. Kedua adalah perubahan rasio jumlah atom yang menempati permukaan
terhadap jumlah total atom. Fenomena ini berimbas pada perubahan titik didih, titik beku, dan
reaktivitas kimia.
Perubahanperubahan tersebut diharapkan dapat menjadi keunggulan nanopartikel
dibandingkan dengan partikel sejenis dalam keadaan bulk. Para peneliti juga percaya bahwa
kita dapat mengontrol perubahan - perubahan tersebut ke arah yang diinginkan. Sintesis
nanopartikel dapat dilakukan dalam fasa padat, cair, maupun gas. Proses sintesis pun dapat
berlangsung secara fisika atau kimia. Proses sintesis secara fisika tidak melibatkan reaksi
kimia. Yang terjadi hanya pemecahan material besar menjadi material berukuran nanometer,
atau pengabungan material berukuran sangat kecil, seperti kluster, menjadi partikel berukuran
nanometer tanpa mengubah sifat bahan. Proses sintesis secara kimia melibatkan reaksi kimia
dari sejumlah material awal (precursor) sehingga dihasilkan material lain yang berukuran
nanometer. Contohnya adalah pembentukan nanopartikel garam dengan mereaksikan asam
dan basa yang bersesuaian.
(Abdullah, M.dkk.2008).
Secara umum, sintesis nanopartikel akan masuk dalam dua kelompok besar, yaitu:
a) Top-down
Metode top-down(pengecilan ukuran) adalah memecah partikel berukuran besar menjadi
partikel berukuran nanometer. Metoda yang digunakan pada proses top - down antara lain:
- Pearl/Ball Milling
- High pressure homogenization
- Lithography/etching
b) Bottom-up
Metode Bottom-up (penyusunan atom - atom) adalah memulai dari atomatom atau molekul-
molekul atau kluster-kluster yang diassembli membentuk partikel berukuran nanometer yang
dikehendaki. Metode pembuatan partikel nano terdiri atas beberapa proses kimia dan fisika,
yang meliputi:

1. Proses wet chemical, yaitu proses presipitasi seperti: kimia koloid,
Metoda hidrotermal, dan proses sol - gel. Proses ini intinya mencampur ion - ion dengan
jumlah tertentu dengan mengontrol suhu dan tekanan untuk membentuk
Insoluble material yang akan terbentuk endapan. Endapan dikumpulkan dengan cara
penyaringan atau spray drying untuk mendapatkan butiran kering.

2. Mechanical process, termasuk grinding, milling, dan teknik mechanical alloying.
Intinya material ditumbuk secara mekanik untuk membentuk partikel yang lebih
halus.
3. Form in place process, seperti lithography, vacum deposition process, dan spray
coating. Proses ini spesifik untuk membuat nanopartikel coating.
4. Gas - phase synthesis, termasuk didalamnya adalah mengontrol
Perkembangan carbon nanotube dengan proses catalytic cracking terhadap gas yang penuh
dengan karbon seperti methan.

Selain nanopartikel juga dikembangkan material nanostruktur, yaitu material yang tersusun
oleh beberapa material nanopartikel. Untuk menghasilkan material nanostruktur maka
partikel-partikel penyusunnya harus diproteksi sehingga apabila partikel-partikel tersebut
digabung menjadi material yang berukuran besar maka sifat individualnya dipertahankan.
Sifat material nanostruktur sangat bergantung pada (a) ukuran maupun distribusi ukuran, (b)
komponen kimiawi unsur-unsur penyusun material tersebut, (c) keberadaan interface (grain
boundary), dan (d) interaksi antar grain penyusun material nanostruktur.(mohlis.2006)

Lubis, Rodiah Ulfah. 2012. SINTESIS DAN KARAKTERISASI PERTUMBUHAN
NANOPARTIKEL ZNO DENGAN METODE SOL-GEL. Medan: upt UNIMED
digilib.unimed.ac.id. DIAKSES TANGGAL 10 JUNI 2013
Abdullah,M., Yudistira., Nirmin dan Khairurrijal.,(2008), Sintesis Nanomaterial.
Jurnal Nanosains & Nanoteknologi.1 : 3357

Mohlis, J., (2006), http://www.chem_is_try.org di akses pada tanggal 10mjuni
2013