Anda di halaman 1dari 42

Perempuan dan Partisipasi Politik

Permasalahan keterlibatan warga negara (perempuan) dibidang politik di Indonesia telah lama
menjadi perhatian masyarakat terutama bagi yang memperjuangkan kesetaraan gender. Sebenarnya
keinginan tersebut tidak menjadi monopoli sebagai masyarakat saja tetapi sudah menjadi tuntutan
dan cita-cita kita semua yaitu bahwa laki-laki dan perempuan punya hak yang sama (khususnya
dibidang politik).
Dalam membangun sistem hukum, maka yang akan dibangun tidak hanya mampu membangun
landasan bagi proses perubahan tetapi juga harus mampu menjadi avand garde dalam mengawal dan
mengarahkan perubahan menuju masyarakat yang dicita-citakan (Yusril Ihza Mahendra)
Perubahan yang diinginkan tersebut bisa jadi bertumpu pada tingkat pembuatan kebijakan sehingga
bidang ini sangat strategis bagi perubahan perubahan atas apapun yang menjadi cita cita atau sering
disebut legal reform. Terkait dengan permasalahan diatas maka pertanyaan lanjutannya adalah apa
yang sebaiknya dilakukan perempuan? Dan mengapa perempuan perlu terlibat baik secara langsung
(aktif) maupun tidak langsung (pasif). Seperti kita ketahui jika permasalahan di masyarakat masih
menunjukkan indikasi dimana perempuan, anak menjadi korbannya bisa diartikan persoalan
ketimpangan gender masih cukup kuat di tengah tengah kita. Indikator tersebut bisa dilihat dari :
Subordinasi
Meski pun jumlah kaum perempuan mencapai lebih dari 50% dari semua penduduk, namun posisi
mereka ditentukan dan dipimpin oleh kaum lelaki. Subordinasi tersebut tidak saja secara global
melainkan juga dalam birokrasi pemerintahan, dalam masyarakat maupun dalam rumah tangga.
Banyak sekali kasus baik dalam tradisi, tafsiran keagamaan, maupun dalam birokrasi di mana kaum
perempuan diletakan sebagai subordinasi dari kaum lelaki.
Marginalisasi
Marginalisasi terjadi dalam budaya, birokrasi maupun program pembangunan. Di samping itu banyak
sekali jenis pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan perempuan, selain dianggap bernilai rendah,
juga mendapat imbalan ekonomis lebih rendah.
Stereotip atau label negatif
Stereotif adalah suatu bentuk ketidakadilan budaya, yakni pemberian “label” yang memojokkan
kaum pertempuan sehingga berakibat pada posisi dan kondisi kaum perempuan. Misalnya label kaum
perempuan sebagai “ibu rumah tangga” sangat merugikan mereka jika mereka hendak aktif dalam
“kegiatan lelaki” seperti kegiatan politik dan bisnis maupun birokrasi. Sementara label lelaki sebagai
1
“pencari nafkah” mengakibatkan apa saja yang dihasilkan kaum perempuan dianggap sebagai
“sambilan” atau “tambahan” dan cendrung tidak diperhitungkan.
Beban ganda (burden)
Jika kita lihat pada umumnya suatu rumah tangga, beberapa jenis kegiatan yang dilakukan oleh lelaki
dan beberapa yang dilakukan oleh perempuan, dari pengamatan menunjukkan perempuan
mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan domestik.
Terlebih-lebih bagi mereka yang bekerja, selain bekerja di tempat kerja mereka juga masih harus
mengerjakan pekerjaan domestik.
Kekerasan (violence)
Berbagai bentuk kekerasan baik pisik, psikis, seksual terhadap kaum perempuan akibat perbedaan
gender masih cukup tinggi.
Jika di tengah masyarakat berbagai persoalan yang disebabkan faktor faktor tersebut diatas masih
dominan, bisa diartikan perempuan masih harus berusaha memaksimalkan berbagai upaya secara
strategis untuk mencapai keadilan gender. Secara rinci keterlibatan perempuan bisa dikelompokkan
dalam berbagai bidang misalnya bagaimana upaya pemberdayaannya, pendidikan politiknya
(kesadaran atas hak sipil dan politik) dan partisipasinya sebagai pemilih dan yang dipilih, serta
keterwakilan perempuan baik di DPR/D Kabupaten, Kota dan DPD.
Secara konseptual dibedakan antara partisipasi dan keterwakilan. Partisipasi adalah agenda yang
diformulasikan dan dipengaruhi oleh perorangan (individual) dan keterwakilan adalah proses dari
berbagai pihak dalam posisinya sebagai pengambil keputusan /menyampaikan agenda politik
mewakili kelompok kepentingan (misalnya partai politik)
Beberapa hambatan keberhasilan partisipasi dan keterwakilan perempuan untuk terlibat secara di
bidang politik adalah :
� Faktor Manusianya, dalam hal ini diri perempuan sendiri yang selama ini belum terkondisikan
untuk terjun dan berperan di arena apolitik dan kehidupan publik, karena sejak kecil lebih dibiasakan
atau ”ditempatkan” dalam lingkup kehidupan rumah tangga dan keluarga, yang selalu dinilai lebih
rendah daripada yang dikerjakan oleh laki-laki di lingkup kehidupan publik; dan karenanya
kedudukan (status) perempuan dianggap lebih rendah (- subordinasi) dari laki-laki. Akibatnya,
perempuan lebih berperan sebagai objek dan pelaksana, serta tidak mendapat akses/kesempatan
untuk berperan sebagai pengambil keputusan dan penentu kebijakan publik, sehingga perempuan
tertinggal di berbagai bidang kehidupan dan tidak menerima manfaat yang sama guna mencapai

2
persamaan dan keadilan (Gender Equality and Justice) seperti yang dijamin oleh Pasal 27 jo Pasal 28
H ayat 2 Undang-undang Dasar 1945.
� Hambatan Nilai-nilai Sosial Budaya, yaitu nilai-nilai, citra-baku/Stereotype, pandangan dalam
masyarakat yang dikonstruksi/dipengaruhi oleh budaya patriarki yang ”menempatkan” laki-laki di
posisi pemimpin, penentu dan pengambil keputusan dengan kedudukan ”superior”, sehingga
perempuan menjadi warga negara kelas 2, didiskriminasikan dan dimarginalkan (Isu Gender),
termasuk tafsir ajaran agama yang bias gender. Akibatnya, posisi-posisi penentu kebijakan publik di
lembaga-lembaga perwakilan, pemerintahan, didominasi oleh laki-laki, termasuk di partai-partai
politik;
� Hambatan struktural dan kelembagaan, termasuk dalam pengertian ini ialah system politik
Indonesia yang maskulin, peraturan perundang-undangan yang diskriminatif dan bias gender, sistem
quota dalam UU Pemilu yang setengah hati. Sistem perencanaan pembangunan nasional yang ”Top-
down” dan tata pemerintahan yang tidak tanggap gender; belum optimalnya “Political Will” dari
para penentu kebijakan di pusat dan daerah untuk melaksanakan Gender Mainstreamin dalam
merumuskan program/proyek pembangunan. Akibatnya, yang Subordinat (perempuan) tetap di
bawah dan terpinggirkan.
Ketiga faktor di atas saling terkait dan saling mempengaruhi, sehingga intervensi terhadap ketiganya
harus dijalankan serempak (Simultaneously), baik dari segi manusianya, lingkungan nilai budaya dan
struktur/kelembagaannya.

Ani Purwanti, SH M Hum


Dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang

Partisipasi akan berjalan dengan baik apabila ada kesateraan pihak pihak yang terlibat, tanpa
keseteraan yang akan terjadi adalah dominasi oleh pihak pihak yang lebih kuat terhadap
3
kelompok yang lemah. Ketika terjadi dominasi dalam partisipasi yang terjadi kemudian adalah
pemandulam hak, ide, kereatifitas pihak yang didominasi. Pemandulam hak, ide, kereatifitas
pihak yang didominasi akan menggelicirkan partisipasi kedalam area mobilisasi. Partisipasi
adalah mengelola bayak pelaku yang juga berarti mengelola banyak kepentingan maka untuk
mendapatkan kesepakatan kesepakatan tentunya juga memerlukan waktu yang lebih lama dan ini
berarti juga harus tersedia pedanaan yang memadai.

HABATAN PARTISIPASI

Partisipasi tidak akan berjalan dengan baik / terhambat manakala faktor faktor penghambat
partisipasi masih bercokl. Faktor faktor yang dapat menghabat partisipasi antara lain :

Minimnya transparasi badan publikyang ada disesaν

Tidak adanya kemauan politik dari penguasa ( Pemerintah desa dan BPD )ν

Minimnya rasa saling percaya antar pelaku di tingkat desaν

Adanya perbedaan kepentinganν

Adanya perbedaan persepsi antar pelaku ditingkat desaν

Perbedaan posisi tawarν

Lemahnya pengorganisasian partisipasiν

Hambatan hambatan seperti disebutkan diatas, tentunya menjadi priorias untuk diminimalisasi
atau bahkan dihilangkan sama sekali mana kala kita ingin mewujudkan Tata Pemerintahan Desa
Yang Baik..

RUANG LINGKUP PARTISIPASI

Ruang lingkup partisipasi dalam Tata Pengelolaan Pemerintihan desa meliputi hal-hal berikut
ini :
1. Penyusunan Perencanaan Desa dalam hal ini dalam penyusunan Rencana Pembangunan
Jangka Menengah Desa ( RPJMDes) dan Rencana Kerja Pembangunan Desa ( RKP Desa )
2. Pelaksanaan, monitoring dan evaluasi pembangunan.

3. Monitoring dan evaluasi kebijakan publik ditingkat desa

4. Penyusunan Anggaran Desa

5. Penyusunan Pungutan Desa

4
6. Penyusunan Peraturan Desa

7. Penyusunan Peraturan Kepala Desa

8. Proses perumusan Kebijakan Publik Desa lainya yang langsung berdampak dengan
kepentingan hajat hidup orang banyak.

Ketika hal hal tersebut dilakukan secara partisipatif di tingkat desa maka dapat dikatakan Tata
Kelola Pemerintahn Desa tersebut sudah partisipatif

Partisipasi Masyarakat dan Keterbukaan Informasi dalam Proses AMDAL :


Sebuah usulan mekanisme penerapannya dalam konteks Indonesia

oleh :
Arimbi Heroepoetri, S.H.,LL.M

Pendahuluan
Berbicara menegenai tentang partisipasi masyarakat akan menjadi kompleks karena sangat tergantung
struktur sosial dan politik suatu masyarakat, termasuk derajat pemahaman mereka atas makna
partisipasi. Dalam konteks Indonesia, belum ada platform yang tegas akan makna partisipasi masyarakat
di tingkat proses AMDAL sekalipun. Ini bukan saja ditingkat masyarakat yang partisipasi politiknya
sengaja dimatikan selama tiga dekade ini, tetapi juga ditingkat pejabat negara yang seharusnya
mengemban amanat rakyat. Seringkali dialami bahwa makna partisipasi adalah hanya sekadar
mengundang dengar pendapat, mengadakan seminar atau sekadar mengundang rapat atas sesuatu hal.
Namun syarat utama yang melandasi adanya partisipasi malah diabaikan, yaitu ; informasi yang lengkap
dan terus-menerus dari masalah yang dibicarakan.

Kesalahkaprahan pemaknaan 'partisipasi' bisa terlihat dalam UU. No 23 Thn 1997 tentang Pengelolaan
lingkungan yang merancukan 'partisipasi' (participation) sebagai 'peran' (role). Dalam konteks ini,
merupakan suatu kemunduran ketimbang UU No. 4 Thn. 1982 yang digantikannya. Namun dalam
konteks makro terlihat adanya kemandegan dalm pola pikir dan pemahaman politik atas makna
partisipasi, karena rumusan dalam kedua UU tersebut tidak banyak berubah. Cilakanya rumusan 'sesat'
mengenai partisipasi dalam UU No. 23 Thn. 1997 menurun pula dalam RPP AMDAL yang sekarang
tengah digodog. Hal ini nampaknya dilakukan karena keberadaan PP AMDAL dilandasi oleh UU No. 23
Thn. 1997.
Karena itu, perlu dicatat dua hal mendasar ketika kita akan membicarakan masalah partisipasi. Pertama
partisipasi masyarakat adalah hak mendasar setiap warga negara (Hak Asasi Manusia) dan dijamin oleh
konstitusi (Pasal 28 UUD 1945). Jadi jika ada mekanisme atau tata cara penyampaian pendapat, itu
sebatas melempangkan implementasi hak diatas bukan sebagai pagar pembatas hak tersebut.
Mekanisme tidak boleh menjadi belenggu baru yang di'legal'kan dalam pelaksanaan HAM tersebut.
Kedua, partisipasi dalam AMDAL adalah salah satu pilar terwujudnya tujuan AMDAL, yaitu untuk
melindungi kepentingan publik dalam pemanfaatan sumber-sumber daya alam. Tanpa partisipasi yang
genuine, AMDAL semata menjadi mata rantai administrasi negara. Karena partisipasi merupakan hak
mendasar manusia, maka tidak semua pertanyaan-pertanyaan teknis mekanisme bisa tuntas dijawab.
Kertas kerja ini bukanlah maual know-how bagaimana orang atau kelompok masyarakat bertindak
sehingga bisa dikategorikan sebagai suatu bentuk partisipasi.

Tentang Partisipasi Masyarakat dalam AMDAL


Ketika banyak para sarjana mengartikan partisipasi dalam berbagai penafsiran dengan alasannya
masing-masing, saya lebih cenderung mengartikan partisipasi masyarakat sebagai bentuk kekuatan dan
5
kedaulatan rakyat. Yang menempatkan masyarakat sebagai kekuatan untuk melakukan kontrol sosial
(social control) terhadap setiap kekuatan yang diambil oleh pejabat negara. Karena itu saya lebih
condong untuk mengutip pendapat Arnstein yang menempatkan masyarakat setara dengan pengusaha
dengan menjalankan prinsip kemitraan 9partnership). Sehingga suara masyarakat mempunyai pengaruh
dalam proses pengambilan keputusan. Pada tingkat ini, masyarakat memiliki mayoritas suara dalam
proses pengambilan keputusan, bahkan sangat mungkin memiliki kewenangan penuh mengelola suatu
objek kebijaksanaan tertentu. Arnstein menyebutnya sebagai tingkat Kekuasaan Masyarakat (citizen
power), yaitu suatu bentuk partisipasi rakyat yang nyata dan genuine.

Karena itu partisipasi rakyat dalam proses AMDAL adalah bagaimana rakyat mempunyai posisi tawar
atas keputusan yang diambil pejabat negara. Bagaimana rakyat mempunyai kekuatan riil (real power)
agar suaranya didengar dan menjadi faktor penting dalam pengambilan keputusan, serta bagaimana
rakyat melakukan pengawasan sosial atas setiap keputusan-keputusan AMDAL suatu rencana kegiatan.
Tujuannya jelas, yaitu bagaimana kepentingan piblik terlindungi ketika suatukekuatan melakukan
eksploitasi atas lingkungan. Apalagi untuk kasus-kasus lingkungan, yang walau bagaimanapun setiap
aktivitas atas lingkungan akan mengganggu fungsi-fungsinya, maka tujuan AMDAL juga menyangkut
bagaimana masyarakat menjadi sadar (aware) akan dampak-dampak dari aktivitas diatas, dan
melakukan tawara (trade-off) dari dampak yang mungkin ditimbulkan.

Mempunyai posisi tawar tidaklah terlepas dari penggalangan kekuatan dalam masyarakat. Untuk itu,
rakyat harus diberdayakan, dimana salah satu syarat utama adalah penyediaan informasi yang benar,
terus-menerus dan ter-up date. Penyediaan informasi ini adalah kewajiban pemerintah 9dalam hal ini
Komisi AMDAL dan instansi terkait). Selama pembenahan mekanisme penyediaan informasi tidak pernah
dilakukan, jangan harap akan ada partisipasi rakyat yang riil dalam proses AMDAL.

• Partisipasi masyarakat dalam AMDAL di Indonesia : PP. AMDAL dan praktiknya.


Dalam PP. No. 51 Thn. 1993 tentang Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (PP. AMDAL)
peluang parisipasi masyarakat dimulai ketika :
- Pemrakarsa mengumumkan rencana proyeknya ke masyarakat sekitar,
- adanya kemungkinan masyarakat terlibat sebagai anggota Komisi Amdal,
- serta adanya pengumuman rencana kegiatan dan terbukanya akses masyarakat terhadap
dokumen-dokumen AMDAL dan keputusan yang diambilatas AMDAL yang diajukan pemrakarsa
(Pasal 22).

Namun dalam praktiknya peluang-peluang tersebut tidaklah maksimum dijalankan. Kerancuan dimulai
dari tahap awal, ketika masyarakat mengumumkan rencana proyeknya ke masyarakat sekitar misalnya,
seringkali tidak langsung ke masyarakat tersebut, melainkan ke Kepala desa (yang dianggap mewakili
masyarakat lokal). Dan Kepala Desa tersebut memobilisasi warganya, bukan ntuk mengkritisi dampak-
dampak yang mungkin terjadi dari rencana kegiatan tersebut, tetapi lebih mendukung aktivitas tersebut.
Kerancuan berlanjut, ketika pemrakarsa menuangkan 'temuan'nya dalam sebuah dokumen AMDAL (yang
biasanya dibantu oleh Konsultan Amdal), terjadi penyederhanaan kompleksitas struktur masyarakat kita
dengan membakukan analisis menjadi Dampak Positif (biasanya dengan alasan karena akan membuka
peluang kerja), dan Dampak Negatif (umumnya adanya kemungkinan konflik antara pendatang dan
penduduk asli).

Sementara kemungkinan masyarakat terlibat sebagai anggota Komisi Amdal dinihilkan dengan
menganggap Ornop senagai wakil masyarakat dalam Komisi Amdal. Jikapun masyarakat begitu ingin
untuk terlibat dalam komisi Amdal, informasi sidang-sidang komisi Amdal tidak tersedia, masyarakat
harus membiayai sendiri untuk bisa hadir dalam rapat-rapat komisi (yang umumnya berada di jakarta).
Lebih jauh, berbicara soal akses publik bagi dokumen-dokumen Amdal masih menjadi sekedar cerita,
karena faktanya belum ada mekanisme clearing house Amdal yang seyogyanya dikomandoi oleh
BAPEDAL.

6
Ruang Lingkup Partisipasi Masyarakat dalam AMDAL
Masyarakat harus ditempatkan dalam subyek pembangunan, sehingga pendekatan proaktif dan
partisipatif perlu disosialisasikan dalam proses pelibatan masyarakat dalam Amdal. Setidaknya ada lima
area yang penting untuk diperhatikan untuk menuju partisipasi masyarakat dalam Amdal yang benar-
benar partisipatif.

• Pertama, perlu dipikirkan mekanisme pelayanan informasi di masing-masing Komisi Amdal Pusat
dan daerah.
• Kedua, perlu dijalankan mekanisme pemberitahuan (notification) yang sudah dituangkan dalam
PP Amdal.
• Ketiga, Harus ada ketentuan yang mewajibkan pelibatan masyarakat sejak awal.
• Keempat, perlu dikembangkan mekanisme Banding dari masyarakat, atas setiap keputusan
Amdal yang tidak mereka setujui, dan
• Kelima, pengadaan Dana Partisipasi Masyarakat, yang mendukung masyarakat untuk
berpartisipasi dalam proses Amdal.

Strategi Pelaksanaan
Kelima lingkup partisipasi masyarakat di atas harus dirumuskan lebih lanjut dengan strategi pelaksanaan
berjenjang. Dimulai dengan lebih mengoptimalkan fungsi lembaga-lembaga Amdal yang sudah ada
(seperti Komisi Amdal), sampai melakukan tambahan (sddendum)dalam RPP AMDAL yang tengah
digarap, utamanya untuk memberikan dasar hukum mekanisme Banding bagi masyarakat. strategi
Pelaksanaan lebih detil adalah sebagai berikut :

1. Mekanisme Pelayanan Informasi


Perlu dibangun unit khusus di masing-masing Instansi yang bertangggung jawab, di BAPEDAL
maupun BAPEDALDA, dan unit khusus pelayanan informasi sebagai penunjang kegiatan Komisi
Amdal. Unit ini hanya bertugas dan berkewajiban melayani informasi AMDAL, seperti
pengelolaan perpustakaan terhadap semua dokumen AMDAL yang telah disetujui, dan up-dating
informasi mengenai status suatu AMDAL, membuat ringkasan Amdal dan suatu rencana
kegiatan. Dasar hukum pembentukan unit ini bisa dikeluarkan dalam SK Ketua BAPEDAL, yang
secara spesifik menyebutkan mandatnya sekaligus hak dan kewajiban masyarakat untuk
menikmati unit pelayanan ini. sebagai misal perlu dicantumkan secara tegas biaya-biaya apa saja
yang harus dikeluarkan jika ada untuk mendapatkan informasi dari unti pelayanan ini.
2. Mekanisme Pemberitahuan (notification)
• Pengumuman atas rencana kegiatan yang wajib memiliki AMDAL ditentukan dalam pasal
23 ayat 1 PP No. 51 Thn. 1993. Namun ketiadaan penjelasan tentang mekanisme
pemberitahuan membuat ketentuan tersebut mudah diabaikan. Dalam rancangan PP
AMDAL (yang diatur dalam Pasal 32) mewajibkan pemrakarsa untuk melakukan
pengumuman (Pasal 32 ayat 2 RPP), namun tetap saja tidak dijabarkan bagaimana
mekanisme Pengumuman tersebut. Mekanisme pengumuman dapat dijabarkan lebih
lanjut dalam Keputusan Ketua BAPEDAL dengan mengacu kepada Penjelasan Pasal 32
ayat 1 RPP.
• Kritik saya atas Pasal 32 RPP adalah kewajiban mengumumkan seharusnya bukan
hanya dibebankan kepada Pemrakarsa, tetapi juga ke instansi yang Bertanggung jawab.
Ini perlu dilakukan untuk menjaga keseimbangan sekaligus kontrol atas (check and
balance) informasi. Sehingga perlu ada paragraf dalam Pasal 32 ayat 3 RPP yang
menegaskan kewajiban diatas.
• Semetara dalam tingkat Keputusan Kepala BAPEDAL dapat mengharuskan Komisi
Amdal untuk melakukan sekurang-kurangnya satu kali Dengar Pendapat (public hearing)
untuk satu rencana kegiatan dengan melakukan pengumuman (public notification) seluas
mungkin.
3. Ketentuan yang Mewajibkan Pelibatan Masyarakat Sejak Dini.
• Perauran Pemerintah No. 51 Thn. 1993 tidak mewajubkan adanya keterlibatan
masyarakat sejak awal kegiatan Amdal. Yang ada hanyalah kemungkinan masyarakat

7
berpartisipasi dalm Komisi Amdal. Ini berarti masyarakat hanya bisa berpartisipasi di
tingkat penilaian (review), bukan sejak tahap niat pemrakarsa untuk melakukan
kegiatannya. Sehingga mereduksi kemungkinan masyarakat untuk memberikan
pendapatnya secara matang atas suatu proses Amdal.
• Syukurlah, dalam RPP Amdal nanti telah tercantum kewajiban pemrakarsa untuk
melibatkan matarakat yang diatur dalam Pasal 32 ayat 2. Walaupunsebagai suatu
Rancangan kemungkinan diubah masih bisa terjasi, namun kita bisa berharap agar Pasal
di atas dapat diperhatikan.
• Sedangkan tentang bagaimana mekanisme pemberian pendapat, saran dan tanggapan
masyarakat yang efektif, dapat diatur dalam SK Kepala BAPEDAL yang memberi ruang
tegas untuk Komisi Amdal menentukan pilihan dari alternatif-alternatif pemberiaan
pendapat, saran dan tanggapan masyarakat. Pilihan tersebut dapat dilihat dari karakter
komunikasi (communication characteristic), seperti tingkat kontak dengan publik yang
akan diraih, kemampuan untuk menangani kepentingan, dan tingkat komunikasi dua
arah. Karakter komunikasi ini yang akan menentukan tekinik-teknik partisipasi apa saja
yang cocok untuk diterapkan, juga hasil yang diharapkan dari tujuan penilaiannya.
Sebagai misal teknik Dengar Pendapat mempunyai kelebihan menjangkau masyarakat
luas, namun tingkat kontak komunikasi dua arahnya akan rendah karena jumlah orang
yang hadir dalam dengar pendapat cukup banyak. Sementara dengan teknik ini akan
didapat identifikasi masalah/nilai yangdianut dan masukan-balik dari peserta dengar
pendapat.
• Bagan yang dikembangkan oleh Canter sebagai berikut akan sangat membantu untuk
menentukan bentuk-bentuk tersebut.

Tabel 1. Kemampuan dari Teknik Peran Serta Masyarakat

Communication characteristic Impact assessment objectives


Ability Public
Level of
to Degree of two participation Get
public Identify Resolve
handle way techniques Inform/educate problems/values ideas/solve Fedback Evaluate
contract conflict/consensus
specific communication problems
achieved
interest
Public
M L L X X
hearings
Public
M L M X X X
meetings
Informal small
L M H group X X X X X X
meetings
General public
M L M information X
meetings
Presentasions
L M M to community X X X
organization
Information
L H H coordination X X
seminars
Operating field
L M L X X X X
offices
Local planning
L H H X X X
visits
Planning
L H L brochures and X X X X
workbooks
Information
M M L brochures and X
pamphlets
Field trips and
L H H X X
site visits
Public
H L M X X X
displays

8
Model
M L M demonstration X X X X
projects
Material for
H L L X
mass media
Response to
L H M public X
inquirias
Pree releases
H L L inviting X X
comments
Letter
L H L requests for X
comments
L H H Workshop X X X X X

L H H Charettes X X X
Advisory
L H H X X X X
committees
L H H Task Forces X X X
Employment
L H H of community X X X
residents
Community
L H H interest X X X
advocates
Ombudsman
L H H or X X X X X
representative

4. Mekanisme Banding Masyarakat.


• Pasal 11 PP. No. 51 Thn. 1993 memberikan hak keberatan bagi pemrakarsa
ataskeputusan penolakan yang diambil instansi yamg bertanggung jawab. Namun tidak
memberikan hak keberatan bagi masyarakat atas setiap keputusan Amdal yang tidak
menerapkan prinsip partisipasi dalam prosesnya. Dasar hukum pengajuan keberatan
masyarakat harus dicantumkan dalam PP. Amdal, sementara mekanisme dapat diatur
dalam SK. Ketua BAPEDAL. Mekanisme pengajuan keberatan dari masyarakatterhadap
keputusan yang mereka tidak setujui mutlak harus diberikan, karena dapat mendorong
pengambil keputusan untuk mempertimbangkan secara sungguh-sungguh masukan
yang didapat dari masyarakat.
• Sayangnya, jika menyimak Rancangan PP Amdal ketentuan tentang Keberatan malah
ditiadakan. Pemrakarsa tidak mempunyai jalan untuk mengajukan keberatan atas
keputusan instansi yang bertanggung jawab tentang Amdal, sementara Keberatan
masyarakat juga sama sekali tidak disentuh. Karena itu, sebaliknya ketentuan mengenai
Keberatan bagi Pemrakarsa dan bagi masyarakat sebaiknya dicantumkan dalam
Rancangan PP Amdal.
5. Dana Partisipasi Masyarakat.
• Bahwa disadari untuk mendukung suatu proses partisipasi masyarakat, diperlukan
dukungan sumber daya manusia dan sumber-sumber dana. Karena itu, diusulkan agar
dikembangkan Dana Partisipasi Masyarakat (DPM) dalam Amdal dengan skema yang
meniru Dana Reboisasi di bidang kehutanan. Namun berbeda dengan Dana Reboisasi,
DPM dikelola oleh kelompok independen (seperti Komisi Nasional Lingkungan) dimana
semua lapisan masyarakat dapat mengajukan permohonan pembiayaan agar mereka
bisa melaksanakan haknya berpartisipasi. Semisal biaya melakukan dengar pendapat ke
DPR atau ke Komisi Amdal, biaya mendapatkan informasi, atau biaya membayar ahli-ahli
lingkungan. Dana dihimpun dari pemrakarsa yang disetorkan ke DPM, dengan hitungan
sekian persen(%) dari jumlah total investasi rencana kegiatannya yang wajib amdal.
Alokasi APBN agar instansi yang terkait bisa menyediakan data yang diperlukan
masyarakat untuk berpartispasi, serta usaha pencarian dana lainnya yang dilakukan oleh
Komisi Lingkungan.

9
• Keberadaan Komisi Lingkungan perlu diatur dalam -sekurang-kurangnya- Keputusan
Presiden berikut hak, kewenangan dan kewajiban Komisi ini.

Peran Komisi AMDAL


Dalam menjalankan hak rakyat untuk berpartisipasi dalam proses Amdal, perlu pula dilihat peran Komisi
Amdal utamanyaperan Komisi sebagai dinamisator dan fasilitator agar proses Amdal dapat berjalan
secara adil, berwawasan lingkungan dan berwawasan sosial.
Jika menilik peran Komisi Amdal (dalam RPP disebut Komisi Amdal Penilai) sejak zaman PP. 29 Thn.
1986 maupun dlam RPP, komisi Amdal hanyalah berfungsi sebagai lembaga penilai tanpa mempunyai
wewenang mengambil keputusan, karena keputusan akhir tetap ada ditangan Menteri dan/atau
Gubernur. Tetapi bukan berarti komisi Amdal tidak mempunyai 'kekuasaan' untuk menentukan proses
Amdal. Sebagai lembaga penilai komisi AMdal harus menunjukkan kewibaan dan kemampuan yang
handal agar saran-sarannya bermutu dan dapat dipertanggung jawabkan (acountibility).
Dalam tangan Komisi Amdal diperlukan penilaian-penilaian berdasarkan keahlian mereka untuk
menentukan misalnya apakah suatu perbuatan pemrakarsa bisa dikategorikan partisipasi, mekanisme
seperti apa yang harus ditempuh pemrakarsa untuk menampung aspirasi rakyat dan sebagainya.
Diperlukan kreativitas mereka untuk 'menemukan' pendekatan inovatif berdasarkan dinamika masyarakat
yang tidak sekedar berpedoman pada buku atau Keputusan-keputusan Menteri.

Pembentukan Tim Partisipasi


Jika dalam PP 51 maupun RPP dimungkinkan adanya Tim Teknis, maka perlu dipikirkan untuk
membentuk Tim Partisipasi yang memikirkan dan mendalami bentuk, masalah dan teknis partisipasi
macam apa yang cocok dikembangkan untuk AMDAL sustu rencana kegiatan. Karena hanya dengan
komitmen yang terus-menerus dan sungguh-sungguh disertai pengalaman empirik saja, maka akan
dapat dikembangkan dan ditemukan bentuk partisipasi masyarakat yang cocok untuk konteks Indonesia.

Penutup
Perlu diingat bahwa partisipasi masyarakat dalam proses Amdal hanyalah satu tiang (dari banyak tiang)
untuk tegaknya aturan yang dibuat dalam AMDAL. Komisi ini tidak terlepas dari kendala lainnya yang
dihadapi dalam penerapan Amdal, sepanjang pengamatan saya sejak diberlakukannya amdal selalu
menghadapi kendala klasik seperti :
- Amdal fiktif
- Kurangnya tenaga ahli
- Masalah di tingkat konsultan dan komisi Amdal
- Masalah Pembiayaan
- Pentaatan
Sampai sekarang walau PP 29 Thn. 1986 telah diganti oleh PP. No. 51 Thn. 1993 dan akan diganti lagi
lewat RPP yang sekarang tengah digodog, tidak nampak perbaikan berarti dari kendala-kendala diatas.
Sehingga bebean Amdal ssekarang yang dikembangkan sebagai alat pengelola lingkungan akan sama
beratnya, malah semakin berat karena laju kerusakan lingkungan jauh pesat meninggalkan usaha-usaha
manusia untuk melindungi fungsi lingkungan.

Bab XI
PARTISIPASI MASYARAKAT
10
DALAM PENDIDIKAN
(Suatu Bahasan Kebijakan Pendidikan)
A. Pengantar
Seperti diketahui bahwa United Nation’s Development Program
(UNDP) pada tahun 2004 ini menempatkan Human Development
Index (HDI) Indonesia pada urutan 111 dari 175 negara. Bahkan
dibandingkan dengan negara tetangga seperti Malaysia, Thailand
dan Philipina, posisi Indonesia berada di bawah mereka. Tiga
komponen peningkatan HDI yakni indeks kesehatan, indeks
perekonomian, dan indeks pendidikan.
Kondisi di atas terkait dengan adanya tuntutan pengembangan
sumberdaya manusia yang terus menerus meningkat dari
waktu ke waktu. Standar mutu baik dari jenis karya, kualitas jasa,
dan produk, serta layanan mengalami dinamisasi kualitas untuk
pemenuhan kebutuhan dan kepuasan hidup manusia yang terus
meningkat pula. Ini artinya bahwa layanan pendidikan kita haruslah
mampu mengikuti perubahan yang terjadi. Hal lain yang
menjadi pertimbangan penulisan judul ini adalah belum optimalnya
partisipasi masyarakat dalam ikutserta mengembangkan
kualitas pendidikan di tanah air ini. Tanggungjawab pengembangan
pendidikan anak atau generasi bangsa yaitu berada pada orang
tua, masyarakat, dan negara. Partisipasi masyarakat di sini tercakup
di dalamnya peran orangtua dan kelompok-kelompok
masyarakat lainnya di luar sekolah atau lembaga pendidikan.
Peran dominan orang tua terutama pada saat anak-anak
mereka berada dalam masa pertumbuhan hingga menjadi orang
dewasa. Pada masa pertumbuhan orang tua harus memenuhi
kebutuhan pokok demi menjamin perkembangan yang sehat dan
baik. Menurut Russell (1993) orang tua harus mampu memenuhi
kebutuhan-kebutuhan dasar anaknya antara lain udara segar,
makanan bergizi, kesempatan bermain, kebebasan tumbuh dan
berekspresi, serta lingkungan yang aman secara fisik sehingga
bebas dari luka-luka dan bencana. Pada tahap berikutnya hingga
anak dewasa, orang tua berperan mengantarkan dan memfasilitasinya
hingga menjadi dirinya sendiri. Peran dari kelompokkelompok
masyarakat lainnya adalah membantu proses pendewasaan
dan kematangan individu sebagai anggota kelompok
dalam suatu masyarakat.
Sesuai dengan cita-cita bangsa Indonesia, kita ingin menjadikan
generasi masa depan bangsa Indonesia sebagai manusia
seutuhnya, yaitu manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap,
kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggung jawab.
Tulisan ini secara khusus bertujuan ingin menggambarkan
bahwa tanggung jawab untuk peningkatan mutu pendidikan
bukan saja oleh negara tetapi justru sebaliknya yang terpenting
adalah oleh orang tua dan masyarakat. Oleh karena itu diperlukan
reaktualisasi partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan.
11
B. PartisipasiMasyarakat
Kata “partisipasi masyarakat” dalam pembangunan menunjukkan
pengertian pada keikutsertaan mereka dalam perencanaan,
pelaksanaan, pemanfaatan hasil dan evaluasi program pembangunan
(United Nation, 1975). Dalam kebijakan nasional kenegaraan
saat ini, melibatkan masyarakat dalam berbagai kegiatan
pembangunan atau partisipasi masyarakat dalam kegiatan
pembangunan adalah merupakan suatu konsekuensi logis dari
implementasi Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang
Pemerintahan Daerah.
Partisipasi masyarakat dalam pembangunan pada umumnya
dimulai dari tahap pembuatan keputusan, penerapan keputusan,
penikmatan hasil, dan evaluasi kegiatan (Cohen dan Uphoff.
1980). Secara lebih rinci, partisipasi dalam pembangunan berarti
mengambil bagian atau peran dalam pembangunan, baik dalam
bentuk pernyataan mengikuti kegiatan, memberi masukan berupa
pemikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal, dana atau materi, serta
ikut memanfaatkan dan menikmati hasil-hasilnya (Sahidu, 1998).
Selama ini, penyelenggaraan partisipasi masyarakat di
Indonesia dalam kenyataannya masih terbatas pada keikutsertaan
anggota masyarakat dalam implementasi atau penerapan pro
gram-program pembangunan saja. Kegiatan partisipasi masyarakat
masih lebih dipahami sebagai upaya mobilisasi untuk
kepentingan pemerintah atau negara. Partisipasi tersebut idealnya
berarti masyarakat ikut menentukan kebijakan pemerintah yaitu
sebagai bagian dari kontrol masyarakat terhadap kebijakankebijakannya.
Dalam implementasi partisipasi masyarakat, seharusnya
anggota masyarakat merasa bahwa tidak hanya menjadi objek dari
kebijakan pemerintah, tetapi harus dapat mewakili masyarakat itu
sendiri sesuai dengan kepentingan mereka. Perwujudan partisipasi
masyarakat dapat dilakukan, baik secara individu atau
kelompok, bersifat spontan atau terorganisasi, secara berkelanjutan
atau sesaat, serta dengan cara-cara tertentu yang dapat
dilakukan.
Partisipasi adalah proses aktif dan inisiatif yang muncul dari
masyarakat serta akan terwujud sebagai suatu kegiatan nyata
apabila terpenuhi oleh tiga faktor pendukungnya yaitu: (1) adanya
kemauan, (2) adanya kemampuan, dan (3) adanya kesempatan
untuk berpartisipasi (Slamet, 1992).
Kemauan dan kemampuan berpartisipasi berasal dari yang
bersangkutan (warga atau kelompok masyarakat), sedangkan
kesempatan berpartisipasi datang dari pihak luar yang memberi
kesempatan. Apabila ada kemauan tapi tidak ada kemampuan
dari warga atau kelompok dalam suatu masyarakat, sungguhpun
telah diberi kesempatan oleh negara atau penyelenggara pemerintahan,
maka partisipasi tidak akan terjadi. Demikian juga, jika ada
kemauan dan kemampuan tetapi tidak ada ruang atau kesempatan
yang diberikan oleh negara atau penyelenggara pemerintahan
untuk warga atau kelompok dari suatu masyarakat, maka
tidak mungkin juga partisipasi masyarakat itu terjadi.
12
Demikian halnya dengan partisipasi masyarakat dalam
pengembangan pendidikan di Indonesia. Perlu ditumbuhkan
adanya kemauan dan kemampuan keluarga/warga atau kelompok
masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengembangan pendidikan.
Sebaliknya juga pihak penyelenggara negara atau penyelenggara
pemerintahan perlu memberikan ruang dan/atau kesempatan
dalam hal lingkup apa, seluas mana, melalui cara bagaimana,
seintensif mana, dan dengan mekanisme bagaimana partisipasi
masyarakat itu dapat dilakukan.
Ada tidaknya kemauan keluarga/warga atau kelompok
masyarakat dalam pengembangan pendidikan di Indonesia terkait
dengan paradigma pembangunan yang dominan saat ini dan
sebelumnya. Paradigma pembangunan yang sentralistik yang dianut
pemerintah sampai satu dekade yang lalu, telah menumbuhkan
opini masyarakat bahwa tanggung jawab utama pembangunan
(dalam bidang pendidikan) adalah terletak di tangan
pemerintah. Warga dan kelompok masyarakat yang lebih ditempatkan
sebagai “bukan pemain utama” telah merasa terpinggirkan,
walaupun mengurus kebutuhan dan kepentingannya
sendiri. Menurut Sutrisno (1995) perencanaan pembangunan yang
demikian telah menempatkan masyarakat hanya sebagai suatu
subsistem yang diasumsikan sebagai bagian pasif dari sistem
pembangunan. Kesan tersebut telah melemahkan kemauan berpartisipasi
warga dan kelompok-kelompok masyarakat dalam
pengembangan pendidikan.
Kini, paradigma pembangunan yang dominan telah mulai
bergeser ke paradigma desentralistik. Sejak diundangkan UU
No.22/1999 tentang Pemerintah Daerah maka menandai perlunya
desentralisasi dalam banyak urusan yang semula dikelola secara
sentralistik. Menurut Tjokroamidjoyo (dalam Jalal dan Supriyadi,
2001), bahwa salah satu tujuan dari desentralisasi adalah untuk
meningkatkan pengertian rakyat serta dukungan mereka dalam
kegiatan pembangunan dan melatih rakyat untuk dapat mengatur
urusannya sendiri. Ini artinya, bahwa kemauan berpartisipasi
masyarakat dalam pembangunan (termasuk dalam pengembangan
pendidikan) harus ditumbuhkan dan ruang partisipasi perlu
dibuka selebar-lebarnya. Kemampuan berpartisipasi terkait
dengan kepemilikan sumber daya yang diperlukan untuk dipartisipasikan,
baik menyangkut kualitas sumber daya manusia
maupun sumber daya lainnya seperti dana, tenaga, dan lain-lain.
Agar kemampuan untuk berpartisipasi dimiliki oleh masyarakat,
maka perlu peningkatan sumber daya manusia dengan cara
memperbaharui dan meluaskan tiga jenis pendidikan masyarakat
baik formal, nonformal maupun informal. Akses yang luas
terhadap tiga jenis pendidikan tersebut akan mempercepat
tingginya tingkat pendidikan dan pada gilirannya akan memampukan
masyarakat berpartisipasi dalam pembangunan (termasuk
pengembangan pendidikan).
Bagi suatu masyarakat, hakikat pendidikan diharapkan
mampu berfungsi menunjang bagi kelangsungan dan proses
13
kemajuan hidupnya. Agar masyarakat itu dapat melanjutkan
eksistensinya, maka diteruskan nilai-nilai, pengetahuan, keterampilan
dan bentuk tata perilaku lainnya kepada generasi mudanya.
Tiap masyarakat selalu berupaya meneruskan kebudayaannya
dengan proses adaptasi tertentu sesuai corak masing-masing
periode zamannya kepada generasi muda melalui pendidikan,
atau secara khusus melalui interaksi sosial. Dengan demikian
fungsi pendidikan tidak lain adalah sebagai proses sosialisasi
(Nasution, 1999).
Dalam pengertian sosialisasi tersebut, dapat disimpulkan
bahwa aktivitas pendidikan sebenarnya sudah dimulai semenjak
seorang individu pertama kali berinteraksi dengan lingkungan
eksternal di luarnya, yakni keluarga. Seorang bayi yang baru lahir
tentunya hidup dalam keadaan yang tidak berdaya sama sekali.
Menyadari hal demikian sang ibu berupaya memberikan segala
bentuk curahan kasih sayang dan buaian cinta kasih melalui air
susunya, perawatan yang lembut serta gendongan yang begitu
mesra kepada si bayi. Begitulah proses tersebut berlangsung
selama si bayi masih tetap memerlukan pertolongan intensif dari
manusia lain. Sampai pada umur tertentu ia tumbuh dan
berkembang dengan sehat di dalam mahligai cinta kasih keluarga,
perpaduan sepasang manusia yang menjadi orang tuanya.
Anggota keluarga baru itu terus menerus belajar mengetahui,
mempelajari serta melakukan berbagai reaksi terhadap stimulus
dari dunia barunya. Lalu, sang bayi juga berusaha memahami
esensi nilai-nilai kemanusiaan dari keluarganya dalam bentuk
gerak tubuh, belajar berbicara, tertawa serta semua tindak tanduk
yang menggambarkan bahwa jiwa raganya telah terpaut erat oleh
belaian kasih sayang manusia dewasa. Begitulah pendidikan
berjalan dalam keluarga. Proses tersebut berlangsung pula ketika
seseorang tumbuh menjadi manusia dewasa. Pendidikan sebagai
proses sosialisasi di masyarakat berjalan mulai dari lingkungan
yang terkecil sampai lingkungan yang terbesar dari individu
tersebut.
Akan tetapi tidak dapat dipungkiri pula ternyata masyarakat
dunia secara global telah ikut mempengaruhi iklim pendidikan.
Pengaruh modernisasi di berbagai sektor kehidupan telah
melahirkan karakter pendidikan yang hampir sama di seluruh
dunia, meskipun memiliki ciri khas tertentu di tiap-tiap negara.
Dalam masyarakat yang sudah maju, proses pendidikan sebagian
dilaksanakan dalam lembaga pendidikan yang disebut sekolah
dan pendidikan dalam lembaga-lembaga tersebut merupakan
suatu kegiatan yang lebih teratur dan terdeferensiasi. Inilah
pendidikan formal yang biasa dikenal oleh masyarakat sebagai
“schooling” (Tilaar, 2003).
Oleh karena tuntutan tugas keluarga dan masyarakat, lalu
tugas-tugas di atas diambil alih oleh sekolah, atau sebaliknya
keluarga dan masyarakat telah merasa memandatkan atau
menyerahkan tugas tersebut sepenuhnya kepada sekolah. Jadi
seakan-akan tugas sosialisasi agar suatu generasi dapat mencapai
14
prestasi tertentu, dikonotasikan menjadi tugas sekolah.
Apabila pada masa tertentu suatu generasi dengan capaian
prestasi tertentu, maka lalu dikonotasikan pula bahwa hasil
capaian tersebut adalah merupakan prestasi sekolah. Padahal,
apabila tugas pendidikan telah tercerabut dari program lingkungannya
atau masyarakatnya, dapat dipastikan akan menghasilkan
suatu capaian yang tidak memuaskan hasilnya bagi
masyarakat itu sendiri. Hal ini dapat dijelaskan bahwa antara
sekolah, keluarga, dan masyarakat saling berpacu menuju
perubahan.
Akibat perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi,
suatu keluarga dan anggotanya terkadang lebih maju di depan
daripada sekolah tempat anak-anaknya dikirim untuk diharapkan

dapat mengembangkan diri. Demikian juga dengan kelompokkelompok


masyarakat, baik itu dari jasa industri, kelompok
profesi atau kelompok-kelompok masyarakat lainnya terkadang
telah lebih dahulu maju di depan daripada sekolah itu sendiri.
Perkembangan teknologi (terutama teknologi informasi)
menyebabkan peranan sekolah sebagai lembaga pendidikan akan
mulai bergeser. Sekolah tidak lagi akan menjadi satu-satunya
pusat pembelajaran karena aktivitas belajar tidak lagi terbatasi
oleh ruang dan waktu. Peran guru juga tidak akan menjadi satusatunya
sumber belajar karena banyak sumber belajar dan sumber
informasi yang mampu memfasilitasi seseorang untuk belajar.
Wen (2003) seorang usahawan teknologi mempunyai gagasan
mereformasi sistem pendidikan masa depan. Menurutnya, apabila
anak diajarkan untuk mampu belajar sendiri, mencipta, dan
menjalani kehidupannya dengan berani dan percaya diri atas
fasilitasi lingkungannya (keluarga dan masyarakat) serta peran
sekolah tidak hanya menekankan untuk mendapatkan nilai-nilai
ujian yang baik saja, maka akan jauh lebih baik dapat menghasilkan
generasi masa depan. Orientasi pendidikan yang terlupakan
adalah bagaimana agar lulusan suatu sekolah dapat cukup
pengetahuannya dan kompeten dalam bidangnya, tapi juga
matang dan sehat kepribadiannya. Bahkan konsep tentang sekolah
di masa yang akan datang, menurutnya akan berubah secara
drastis. Secara fisik, sekolah tidak perlu lagi menyediakan sumbersumber
daya yang secara tradisional berisi bangunan-bangunan
besar, tenaga yang banyak dan perangkat lainnya. Sekolah harus
bekerja sama secara komplementer dengan sumber belajar lain
terutama fasilitas internet yang telah menjadi “sekolah maya”.
Bagaimanapun kemajuan teknologi informasi di masa yang
akan datang, keberadaan sekolah tetap akan diperlukan oleh
masyarakat. Kita tidak dapat menghapus sekolah, karena dengan
alasan telah ada teknologi informasi yang maju. Ada sisi-sisi
tertentu dari fungsi dan peranan sekolah yang tidak dapat tergantikan,
misalnya hubungan guru-murid dalam fungsi mengembangkan
kepribadian atau membina hubungan sosial, rasa
15
kebersamaan, kohesi sosial, dan lain-lain.
Teknologi informasi hanya mungkin menjadi pengganti
fungsi penyebaran informasi dan sumber belajar atau sumber
bahan ajar. Bahan ajar yang semula disampaikan di sekolah secara
klasikal, lalu dapat diubah menjadi pembelajaran yang diindividualisasikan
melalui jaringan internet yang dapat diakses oleh
siapapun dari manapun secara individu.
Memperhatikan hal-hal tersebut di atas, maka diperlukan
reaktualisasi partisipasi masyarakat dalam rangka perbaikan mutu
layanan dan output pendidikan. Dikatakan sebagai reaktualisasi
karena sebenarnya dalam usaha pendidikan pada dasarnya sudah
menjadi bagian dari tugas mereka (yaitu para orang tua dan
kelompok-kelompok masyarakat lainnya).
D. Reaktualisasi Partisipasi Masyarakat dalam Pengembangan
Pendidikan di Indonesia
Seperti dijelaskan sebelumnya bahwa bergesernya paradigma
pembangunan yang sentralistik ke desentralistik telah mengubah
cara pandang penyelenggara negara dan masyarakat dalam
penyelenggaraan pembangunan. Pembangunan harus dipandang
sebagai bagian dari kebutuhan masyarakat itu sendiri dan bukan
semata kepentingan negara. Pembangunan seharusnya mengandung
arti bahwa manusia ditempatkan pada posisi pelaku dan
sekaligus penerima manfaat dari proses mencari solusi dan meraih
hasil pembangunan untuk dirinya dan lingkungannya dalam arti
yang lebih luas. Dengan demikian, masyarakat harus mampu
meningkatkan kualitas kemandirian mengatasi masalah yang
dihadapinya, baik secara individual maupun secara kolektif.
Namun dalam kenyataannya, arti pembangunan mengalami
gelombang pasang sesuai kebutuhan dan tuntutannya. Pada saat
di mana suatu program pembangunan didominasi oleh peran
pemerintah dan peran masyarakat lemah, maka masyarakat lalu
hanya ditempatkan sebagai saluran mempercepat program-program
pembangunan itu. Sebaliknya, apabila kemudian peran
masyarakat kuat dan ditempatkan sebagai subjek, maka akan
bermakna sebagai upaya pemberdayaan atau penguatan masyarakat,
baik secara institusional maupun perseorangan anggota
masyarakat (Karsidi, 2002).
Penguatan masyarakat secara institusional bisa diartikan
sebagai pengelompokan anggota masyarakat sebagai warga
negara mandiri yang dapat dengan bebas dan egaliter bertindak
aktif dalam wacana dan praksis mengenai segala hal yang berkaitan
dengan masalah kemasyarakatan pada umumnya.

menyusun program, dan bekerja secara sistematis, serta bisa


merasakan adanya perkembangan dan kemajuan sebagai hasil
kegiatan mereka.
Pembentukan dan pengembangan kelompok masyarakat
dapat dikatakan sebagai basis dari strategi pembangunan dari
bawah. Dari kelompok-kelompok itu diharapkan akan timbul
16
dinamika dari bawah. Hal yang mendasar dalam kelompok
adalah perlunya penyadaran warga masyarakat untuk mau dan
mampu berpartisipasi sehingga dalam kelompok terjadi dinamika
sebagai institusi masyarakat.
Pada dasarnya, partisipasi masyarakat telah terjadi di sekolah
dalam praktik penyelenggaraan musyawarah maupun pembentukan
institusi lokal. Dua jenis kebijakan pemerintah tentang
Manajemen Berbasis Sekolah (MBS) di sekolah-sekolah tingkat
dasar dan menengah serta Majelis Wali Amanah (MWA) di
perguruan tinggi BHMN adalah contoh dari bentuk perwujudan
mekanisme dan struktur kelembagaan untuk menyalurkan partisipasi
masyarakat dalam penyelengaraan pendidikan.
Masalahnya adalah apakah kedua contoh kelembagaan tersebut
telah mampu menjadi saluran partisipasi yang benar-benar
mewakili masyarakat yang seharusnya diwakilinya. Lebih dari itu,
apakah lembaga-lembaga tersebut telah menjalankan fungsi
penyaluran partisipasi masyarakat dari yang seharusnya disalurkan.
Selama ini keterwakilan dalam suatu organisasi atau forum
biasanya diserahkan kepada warga negara yang digolongkan
sebagai tokoh masyarakat atau elit. Namun cara seperti ini
terkadang justru menyebabkan warga biasa (yang bukan tokoh)
tidak akan mampu menjadi bagian dari forum dan pada gilirannya
tidak tersalurkan pula aspirasinya. Komponen-komponen
masyarakat baik orang tua siswa, atau kelompok-kelompok
masyarakat lainnya di luar sekolah, seharusnya mempunyai
tanggung jawab mengembangkan pendidikan secara mikro yaitu
dalam lingkup pendidikan di sekolah dan secara makro adalah
untuk pengembangan sumber daya manusia bangsa.
Dalam hal apa saja seharusnya mereka berpartisipasi?
Sebagaimana telah diuraikan sebelumnya bahwa tanggung jawab
pengembangan pendidikan sebagai proses sosialisasi adalah
berada pada orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat yang
berkepentingan. Tanggung jawab tersebut tidak pernah lepas
tetapi pernah mengendor, sejalan dengan dominannya paradigma
pembangunan sentralistik. Oleh karena paradigma tersebut telah
bergeser menuju kepada peluang yang lebar bagi teraktualisasikannya
kembali partisipasi masyarakat, maka perlu segera
dilakukan upaya pemulihan dan pengembalian tanggung jawab
masyarakat terhadap pengembangan pendidikan baik dalam skala
mikro maupun skala makro. Inilah yang saya sebut sebagai
reaktualisasi partisipasi masyarakat, karena sebenarnya yang
bertanggung jawab dalam hal ini adalah justru masyarakat itu
sendiri. Mengacu pada lingkup partisipasi masyarakat, maka
dalam pengembangan pendidikan, masyarakat harus dilibatkan
sejak dari proses perencanaan, pelaksanaan, pemanfaatan hasil
dan evaluasinya.
Program-program pembelajaran di sekolah berupa desain
kurikulum dan pelaksanaannya, kegiatan-kegiatan nonkurikuler
sampai pada pengadaan kebutuhan sumber daya untuk suatu
sekolah agar dapat berjalan lancar, tampaknya harus sudah mulai
17
diberikan ruang partisipasi bagi pihak-pihak yang berkepentingan.
Demikian pula di lembaga-lembaga pendidikan lainnya
nonsekolah, ruang partisipasi tersebut harus dibuka lebar agar
tanggung jawab pengembangan pendidikan tidak tertumpu pada
lembaga pendidikan itu sendiri, lebih-lebih pada pemerintah
sebagai penyelenggara negara.
Cara untuk penyaluran partisipasi dapat diciptakan dengan
berbagai variasi cara sesuai dengan kondisi masing-masing
wilayah atau komunitas tempat masyarakat dan lembaga pendidikan
itu berada. Kondisi ini menuntut kesigapan para pemegang
kebijakan dan manajer pendidikan untuk mendistribusi peran dan
kekuasaannya agar bisa menampung sumbangan partisipasi
masyarakat. Sebaliknya, dari pihak masyarakat (termasuk orang
tua dan kelompok-kelompok masyarakat) juga harus belajar untuk
kemudian bisa memiliki kemauan dan kemampuan berpartisipasi
dalam pengembangan pendidikan.
Sebagai contoh adalah tanggungjawab dunia usaha/industri.
Mereka tidak bisa tinggal diam menunggu dari suatu lembaga
pendidikan/sekolah sampai dapat meluluskan alumninya, lalu
menggunakannya jika menghasilkan output yang baik dan mengkritiknya
jika terdapat output yang tidak baik. Partisipasi dunia
usaha/industri terhadap lembaga pendidikan harus ikut ber

tanggung jawab untuk menghasilkan output yang baik sesuai


dengan rumusan harapan bersama. Demikian juga kelompokkelompok
masyarakat lain, termasuk orang tua siswa. Dengan
cara demikian, maka mutu pendidikan suatu lembaga pendidikan
menjadi tanggung jawab bersama antara lembaga pendidikan dan
komponen-komponen lainnya di masyarakat tersebut.
Bagaimana dengan tanggungjawab negara terhadap pengembangan
pendidikan? Uraian di atas bukan bermaksud untuk
mengurangi tanggung jawab pemerintah sebagai penyelenggara
negara dalam bidang pendidikan. Sebagaimana diamanatkan oleh
UU Sisdiknas, 2003 bahwa pemerintah dan pemerintah daerah
berhak mengarahkan, membimbing, membantu, dan mengawasi
penyelenggaraan pendidikan, serta berkewajiban memberikan
layanan dan kemudahan penyelenggaraan pendidikan yang bermutu
bagi setiap warga negara tanpa diskriminasi. Pemerintah
dan pemerintah daerah juga wajib menjamin tersedianya dana
guna terselenggaranya pendidikan bagi setiap warga negara dari
usia tujuh sampai usia lima belas tahun. Lebih dari itu, sebenarnya
peluang bagi orang tua/warga dan kelompok masyarakat
masih sangatlah luas.
Untuk itu, maka dalam kondisi kualitas layanan dan output
pendidikan sedang banyak dipertanyakan mutu dan relevansinya,
maka pemerintah seharusnya memberikan peluang yang luas bagi
partisipasi masyarakat. Lebih dari itu, pemerintah perlu menyusun
mekanisme sehingga orang tua dan kelompok-kelompok
masyarakat dapat berpartisipasi secara optimal dalam pengembangan
18
pendidikan di Indonesia.
E. Kesimpulan
1. Adanya opini masyarakat bahwa tanggung jawab utama
pembangunan (dalam bidang pendidikan) hanya terletak di
tangan pemerintah, menyebabkan masyarakat merasa hanya
ditempatkan sebagai “bukan pemain utama” dan berakibat
melemahkan kemauan berpartisipasi warga dan kelompokkelompok
masyarakat dalam pengembangan pendidikan.
Kondisi ini telah merugikan pengembangan pendidikan itu
sendiri dan semakin memberatkan pemerintah sebagai penyelenggara
negara.
2. Perkembangan teknologi (terutama di bidang teknologi
informasi) menyebabkan peranan sekolah sebagai lembaga
pendidikan mulai bergeser. Di kemudian hari sekolah tidak
lagi akan menjadi satu-satunya pusat pembelajaran karena
aktivitas belajar tidak lagi terbatasi oleh ruang dan waktu.
Peran guru juga tidak akan menjadi satu-satunya sumber
belajar karena banyak sumber belajar dan sumber informasi
yang mampu memfasilitasi seseorang untuk belajar. Peranan
orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat menjadi
sangat penting untuk mengisi kekosongan peran yang tidak
lagi mampu diambil oleh sekolah/lembaga pendidikan.
3. Bergesernya paradigma pembangunan sentralistik ke desentralistik
telah membuka peluang yang lebar bagi teraktualisasikannya
kembali partisipasi masyarakat dalam pengembangan
pendidikan.
4. Orang tua dan kelompok-kelompok masyarakat harus dilibatkan
dalam pengembangan pendidikan sejak dari proses perencanaan,
pelaksanaan, pemanfaatan hasil dan evaluasinya.
5. Media dan forum yang dapat dimanfaatkan untuk penyaluran
partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan
antara lain adalah media musyawarah dan pembentukan
institusi masyarakat yang mampu menampung aspirasi
masyarakat, terutama di wilayah atau komunitas tempat
sekolah/lembaga pendidikan berada.
6. Diperlukan adanya peraturan perundangan yang mengatur
mekanisme partisipasi masyarakat terhadap pengembangan
pendidikan baik dalam skala nasional, daerah, maupun tingkat
penyelenggara pendidikan.

PARTISIPASI DAN KETERLIBATAN POLITIK

Oleh: Gatut Priyowidodo

Pengertian Partisipasi Politik


Perspektif pertama diwakili Almond dan Verba (1965), Weiner (1977) yang menjelaskan bahwa
partisipasi politik merupakan kegiatan warga negara yang bersifat sukarela dalam mempengaruhi
proses politik. Bahkan Weiner, secara agak radikal menyatakan bahwa pemberian suara (dalam
19
pemilu) tidak termasuk ke dalam bentuk partisipasi politik. Ini antara lain disebabkan warga
negara tidak diperbolehkan membuat pilihan terhadap calon. Lebih tepatnya partisipasi demikian
disebut support participation atau mass mobilitation pada sistem politik yang otoriter.
Sementara kutub kontemporer diwakili Nelson dan Hutington (1994) yang menolak pandangan
jika seremonial dan mobilisasi bisa dikategorikan sebagai wujud partisipasi politik. Menurutnya,
sulit untuk memisahkan kegiatan yang bersifat volunter dengan kegiatan yang bersifat coercion
terselubung, sebab keduanya dalam satu spektrum.

Faktor Yang Berpengaruh Dalam Partisipasi :


• Pendidikan
• Sosialisasi pengalaman berorganisasi.
• Kultur
Pendidikan merupakan faktor sosial yang menentukan tingkat partisipasi seseorang. Sementara
pendapatan, agama, suku jenis kelamin, asal-usul merupakan faktor demografik yang
mempunyai korelasi terhadap keaktifan seseorang .

Burgess dan Locke (1990) membedakan pola hubungan antar peran dalam keluarga menjadi dua
yakni;
• pola hubungan yang lebih didasarkan pada faktor yang bersifat eksternal seperti adat;
• pola hubungan di mana peran di dasarkan atas pengertian dan kesepakatanbersama anggota
keluarga.

Partisipasi politik itu apa ? Menurut Verba adalah kegiatan pribadi wrga negara yang legal yang
sedikit banyak langsung bertujuan untuk mempengaruhi seleksi pejabat-pejabat negara dan/
tindakan-tindakan yang diambil oleh mereka (By political participation we refer to those legal
activities by private citizen which are more or less directly aimed at influencing the selection of
govermmental personel and/ or the actions they take).
Sementara Hutington secara sederhana memberikan pengertian partisipasi politik sebagai
kegiatan warga negara preman (private citizen) yang bertujuan mempengaruhi pengambilan
keputusan oleh pemerintah.
Empat hal pokok dalam partisipasi politik :

• Pertama, ia mencakup kegiatan-kegiatan dan bukannya sikap-sikap. pengetahuan tentang


politik, minat terhadap politik, perasaan-perasaan mengenai kompetisi dan kefektifan politik,
persepsi-persepsi tentang relevansi politik, itu semua seringkali dapat berkaitan erat dengan
tindakan politik, namun juga seringkali tidak.
• Kedua adalah kegiatan-kegiatan warga negara preman (private citizen), sesuatu yang dibedakan
orang-orang profesional di bidang politik. .
• Ketiga, kegiatan yang bisa secara langsung mempengaruhi pengambilan keputusan pemerintah.
Kegiatan yang demikian difokuskan terhadap pejabat-pejabat umum, yang diakui mempunyai
wewenang dalam pengambilan keputusan danKeempat, Pengalokasian nilai-nilai secara otoritatif
di dalam masyarakat.

• Keempat, definisi tersebut juga mencakup semua kegiatan yang dimaksud untuk
mempengaruhi pemerintah, tidak peduli apakah kegiatan tersebut mempunyai efek atau tidak.
Berhasil atau tidak, bisa berkuasa atau tidak semua bisa dikategorikan bentuk partisipasi politik.
20
Sebab itu, partisipasi politik yang luas dalam politik tidak perlu berarti bahwa pemerintahan yang
bersangkutan demokratis, bertanggung-jawab atau representatif.

Namun begitu seringkali kata partisipasi politik mengalami pembiasan makna, ketika harus
diinterpertasi dengan paradigma kepentingan yang berbeda.
Karenanya agar terjadi sinkronisasi pemahaman sekurangnya ada enam rambu-rambu yang harus
disepakati kedua belah pihak.
• Pertama, partisipasi yang dimaksudkan berupa kegiatan atau perilaku luar individu warga
negara biasa yang dapat diamati, bukan perilaku dalam yang berupa sikap dan orientasi. Hal ini
perlu ditegaskan karena sikap dan orientasi individu tidak selalu termanifestasikan dalam
perilakunya.
• Kedua, kegiatan itu diarahkan untuk mempengaruhi pemerintah selaku pembuat dan pelaksana
keputusan politik. Termasuk dalam pengertian ini, seperti kegiatan mengajukan alternatif
kebijakan umum, alternatif pembuat dan pelaksana keputusan politik dan kegiatan mendukung
ataupun menentang keputusan politik yang dibuat pemerintah.
• Kegiatan yang berhasil (efektif) maupun yang gagal mempengaruhi pemerintah termasuk
dalam konsep partisipasi politik.
• Keempat, kegiatan mempengaruhi pemerintah dapat dilakukan secara langsung. Kegiatan yang
langsung berarti individu mempengaruhi pemerintah tanpa menggunakan perantara, sedangkan
secara tidak langsung berarti mempengaruhi pemerintah melalui pihak lain yang diangap dapat
meyakinkan pemerintah. Keduanya termasuk dalam kategori partisipasi politik.

Kendatipun rambu-rambu yang dipasang tersebut sudah jelas, namun tetap pula harus disadari
bahwa kualitas ataupun kuantitas partisipasi politik itupun amat beragam di masing-masing
negara. Bahkan lebih spesifik lagi antara orang kota dengan orang desa ataupun orang yang
berpendidikan dengan yang kurang berpendidikan bisa secara jelas menggambarkan ranking
perbedaan tersebut. Studi yang dilakukan Lipset di Amerika Serikat maupun di negara-negara
Eropa seperti Jerman, Swedia, Norwegia, Finladia ternyata menemukan pola umum yang hampir
sama. Ia menemukan bahwa orang kota memiliki partisipasi lebih tinggi dibanding dengan orang
desa. Begitu pula halnya mereka yang berumur di atas 35 dan 55 tahun lebih banyak memberikan
suara daripada yang usianya di bawah 35 tahun. Pria ternyata memiliki tingkat partisipasi yang
lebih tinggi dibanding perempuan. Demikian juga mereka yang berpendidikan, berincome dan
berstatus tinggi, ditemukan memiliki tingkat partisipasi politik lebih tinggi dibanding mereka
yang berpedidikan, berincome dan berstatus sosial rendah.

Tipologi Partisipasi Politik


Menurut Milbrath dan Goel partisipasi politik ternyata dibedakan sekurangnya dalam empat
kategori.
• Pertama apatis artinya orang yang tidak berpartisipasi dan menarik diri dari proses politik.
• Kedua spektator artinya orang yang setidak-tidaknya ikut memilih dalam pemilihan umum.
• Ketiga gladiator artinya mereka yang secara aktif terlibat dalam proses politik yakni
komunikator, spesialis mengadakan kontak tatap muka, aktivis partai dan pekerja kampanye dan
aktivis masyarakat.
• Keempat pengritik artinya dalam bentuk partisipasi tak konvensional.

21
Sementara menurut Muller partisipasi politik dapat dikategorikan berdasarkan jumlah pelaku
yakni individual dan kolektif.
Partisipasi politik individual adalah bersifat perorangan, dalam pengertian siapapun berhak
mengajukan protes atas setiap kebijakan yang diambil oleh pemerintah jika dirasa itu tidak dalam
koridor perlindungan hak-hak publik. Mekanisme yang bisa ditempuh boleh melalui surat
pembaca, saluran hotline khusus yang biasanya dibuka untuk menjaring komplain masyarakat
atau bisa pula melalaui e-mail dan umunya bersifat sementara.
Beda halnya dengan partisipasi politik kolektif yang terbagi atas partisipasi konvensional yang
tercermin dalam pelaksanaan pemilu dan yang non konvensional (agresif) seperti pada
pemogokan yang tak sah, menguasai bangunan umum dan huru-hara, waktu yang dibutuhkanpun
agak lebih lama.

Model Partisipasi Politik

Menurut Hutington (1990:45,75), konsep partisipasi politik mengandung ukuran intensitas dan
lingkup partisipasi dan model atau bentuk partisipasi politik. Intensistas dan model partisipasi
tercermin dalam bentuk pemberian suara (voting), memberikan dukungan, membuat petisi,
diskusi politik, lobi, kontak formal dan informal serta aktivitas kerjasama (almon and Powell,
1980). Intensitas dan model partisipasi politik tersebut mampu menghasilkan keputusan yang
dapat mengubah dan mempertahankan tatanan politik (Manheim, 1975). Bahkan model dan
intensitas partisipasi politik tersebut akan menghasilkan tiga klasifikasi pola partisi[pasi politik
yang berbeda yaitu partisipasi politik otonom, mobilisasi dan demokratik.
Sekarang terserah seluruh konstituen di Indonesia, apakah mereka akan mau berpartisipasi dalam
Pemilu Legislatif 9 April 2009 dan 8 Juli 2009 dalam Pilpres nanti? Semua tergantung pada
rakyat dalam melihat makna peritiwa politik tersebut bagi kepentingan mereka kedepan.

Perempuan dan Partisipasi Politik


Ani Purwanti
Permasalahan keterlibatan warga negara (perempuan) dibidang politik di Indonesia
telah lama menjadi perhatian masyarakat terutama bagi yang memperjuangkan kesetaraan
gender. Sebenarnya keinginan tersebut tidak menjadi monopoli sebagai masyarakat saja tetapi
sudah menjadi tuntutan dan cita-cita kita semua yaitu bahwa laki-laki dan perempuan punya
hak yang sama (khususnya dibidang politik).
Dalam membangun sistem hukum, maka yang akan dibangun tidak hanya mampu
membangun landasan bagi proses perubahan tetapi juga harus mampu menjadi avand garde
dalam mengawal dan mengarahkan perubahan menuju masyarakat yang dicita-citakan (Yusril
Ihza Mahendra)
Perubahan yang diinginkan tersebut bisa jadi bertumpu pada tingkat pembuatan
kebijakan sehingga bidang ini sangat strategis bagi perubahan perubahan atas apapun yang
menjadi cita cita atau sering disebut legal reform. Terkait dengan permasalahan diatas maka
pertanyaan lanjutannya adalah apa yang sebaiknya dilakukan perempuan? Dan mengapa
perempuan perlu terlibat baik secara langsung (aktif) maupun tidak langsung (pasif). Seperti
kita ketahui jika permasalahan di masyarakat masih menunjukkan indikasi dimana
perempuan, anak menjadi korbannya bisa diartikan persoalan ketimpangan gender masih
cukup kuat di tengah tengah kita. Indikator tersebut bisa dilihat dari :

22
Subordinasi
Meski pun jumlah kaum perempuan mencapai lebih dari 50% dari semua penduduk,
namun posisi mereka ditentukan dan dipimpin oleh kaum lelaki. Subordinasi tersebut tidak
saja secara global melainkan juga dalam birokrasi pemerintahan, dalam masyarakat maupun
dalam rumah tangga. Banyak sekali kasus baik dalam tradisi, tafsiran keagamaan, maupun
dalam birokrasi di mana kaum perempuan diletakan sebagai subordinasi dari kaum lelaki.
Marginalisasi
Marginalisasi terjadi dalam budaya, birokrasi maupun program pembangunan. Di
samping itu banyak sekali jenis pekerjaan yang dianggap sebagai pekerjaan
perempuan, selain dianggap bernilai rendah, juga mendapat imbalan ekonomis lebih
rendah.
Stereotip atau label negatif
Stereotif adalah suatu bentuk ketidakadilan budaya, yakni pemberian “label” yang
memojokkan kaum pertempuan sehingga berakibat pada posisi dan kondisi kaum
perempuan. Misalnya label kaum perempuan sebagai “ibu rumah tangga” sangat
merugikan mereka jika mereka hendak aktif dalam “kegiatan lelaki” seperti kegiatan
politik dan bisnis maupun birokrasi. Sementara label lelaki sebagai “pencari nafkah”
mengakibatkan apa saja yang dihasilkan kaum perempuan dianggap sebagai
“sambilan” atau “tambahan” dan cendrung tidak diperhitungkan.
Beban ganda (burden)
Jika kita lihat pada umumnya suatu rumah tangga, beberapa jenis kegiatan yang
dilakukan oleh lelaki dan beberapa yang dilakukan oleh perempuan, dari pengamatan
menunjukkan perempuan mengerjakan hampir 90% dari pekerjaan domestik.
Terlebih-lebih bagi mereka yang bekerja, selain bekerja di tempat kerja mereka juga
masih harus mengerjakan pekerjaan domestik.
Kekerasan (violence)
Berbagai bentuk kekerasan baik pisik, psikis, seksual terhadap kaum perempuan
akibat perbedaan gender masih cukup tinggi.
Jika di tengah masyarakat berbagai persoalan yang disebabkan faktor faktor tersebut
diatas masih dominan, bisa diartikan perempuan masih harus berusaha memaksimalkan
berbagai upaya secara strategis untuk mencapai keadilan gender. Secara rinci keterlibatan
perempuan bisa dikelompokkan dalam berbagai bidang misalnya bagaimana upaya
pemberdayaannya, pendidikan politiknya (kesadaran atas hak sipil dan politik) dan
partisipasinya sebagai pemilih dan yang dipilih, serta keterwakilan perempuan baik di DPR/D
Kabupaten, Kota dan DPD.
Secara konseptual dibedakan antara partisipasi dan keterwakilan. Partisipasi adalah
agenda yang diformulasikan dan dipengaruhi oleh perorangan (individual) dan keterwakilan
adalah proses dari berbagai pihak dalam posisinya sebagai pengambil keputusan
/menyampaikan agenda politik mewakili kelompok kepentingan (misalnya partai politik)
Beberapa hambatan keberhasilan partisipasi dan keterwakilan perempuan untuk terlibat
secara di bidang politik adalah :
� Faktor Manusianya, dalam hal ini diri perempuan sendiri yang selama ini belum
terkondisikan untuk terjun dan berperan di arena apolitik dan kehidupan publik,
karena sejak kecil lebih dibiasakan atau ”ditempatkan” dalam lingkup kehidupan
rumah tangga dan keluarga, yang selalu dinilai lebih rendah daripada yang dikerjakan
oleh laki-laki di lingkup kehidupan publik; dan karenanya kedudukan (status)
perempuan dianggap lebih rendah (- subordinasi) dari laki-laki. Akibatnya, perempuan
lebih berperan sebagai objek dan pelaksana, serta tidak mendapat akses/kesempatan

23
untuk berperan sebagai pengambil keputusan dan penentu kebijakan publik, sehingga
perempuan tertinggal di berbagai bidang kehidupan dan tidak menerima manfaat yang
sama guna mencapai persamaan dan keadilan (Gender Equality and Justice) seperti
yang dijamin oleh Pasal 27 jo Pasal 28 H ayat 2 Undang-undang Dasar 1945.
� Hambatan Nilai-nilai Sosial Budaya, yaitu nilai-nilai, citra-baku/Stereotype,
pandangan dalam masyarakat yang dikonstruksi/dipengaruhi oleh budaya patriarki
yang ”menempatkan” laki-laki di posisi pemimpin, penentu dan pengambil keputusan
dengan kedudukan ”superior”, sehingga perempuan menjadi warga negara kelas 2,
didiskriminasikan dan dimarginalkan (Isu Gender), termasuk tafsir ajaran agama yang
bias gender. Akibatnya, posisi-posisi penentu kebijakan publik di lembaga-lembaga
perwakilan, pemerintahan, didominasi oleh laki-laki, termasuk di partai-partai politik;
� Hambatan struktural dan kelembagaan, termasuk dalam pengertian ini ialah system
politik Indonesia yang maskulin, peraturan perundang-undangan yang diskriminatif
dan bias gender, sistem quota dalam UU Pemilu yang setengah hati. Sistem
perencanaan pembangunan nasional yang ”Top-down” dan tata pemerintahan yang
tidak tanggap gender; belum optimalnya “Political Will” dari para penentu kebijakan
di pusat dan daerah untuk melaksanakan Gender Mainstreamin dalam merumuskan
program/proyek pembangunan. Akibatnya, yang Subordinat (perempuan) tetap di
bawah dan terpinggirkan.
Ketiga faktor di atas saling terkait dan saling mempengaruhi, sehingga intervensi terhadap
ketiganya harus dijalankan serempak (Simultaneously), baik dari segi manusianya,
lingkungan nilai budaya dan struktur/kelembagaannya.
Ani Purwanti, SH M Hum
Dosen Fakultas Hukum Universitas Diponegoro Semarang

Penutup: Model Partisipasi Masyarakat Dalam Pendidikan Nasional

Arti kata partisipasi masyarakat seringkali diberikan pada pengertian keterlibatan atau peran
serta masyarakat. Atau, partisipasi dalam pengertian ini dapat juga berarti mengambil bagian
atau peran dalam pendidikan, baik dalam bentuk pernyataan mengikuti kegiatan, memberi
masukan berupa pemikiran, tenaga, waktu, keahlian, modal, dana atau materi, serta ikut
memanfaatkan dan menikmati hasil-hasilnya.

Dalam realitasnya itu, pengertian partisipasi sepertinya masih terbatas pada keikutsertaan
masyarakat dalam implementasi atau penerapan pelbagai program pendidikan yang dicanangkan
pemerintah. Itu artinya, pula bahwa partisipasi dalam pengertian ini lebih dipahami sebagai
upaya mobilisasi untuk kepentingan pemerintah atau negara. Partisipasi dalam pengertian yang
lebih ideal berarti masyarakat ikut serta dalam merumuskan kebijakan. Dalam implementasi
partisipasi masyarakat, seharusnya anggota masyarakat merasa bahwa tidak hanya menjadi objek
dari kebijakan pemerintah, tetapi harus dapat mewakili masyarakat itu sendiri sesuai dengan
kepentingan mereka.

Partisipasi adalah proses aktif dan inisiatif yang muncul dari masyarakat serta akan terwujud
sebagai suatu kegiatan nyata apabila terpenuhi oleh tiga faktor pendukungnya yaitu: (1) adanya

24
kemauan, (2) adanya kemampuan, dan (3) adanya kesempatan untuk berpartisipasi. Kemauan
dan kemampuan berpartisipasi lebih berasal dari masyarakat yang dalam hal ini dimaksudkan
sebagai badan dunia dan lembaga swadaya masyarakat, sedangkan kesempatan berpartisipasi
datang dari pihak luar yang memberi kesempatan, yang dimaksud ini adalah pihak pemerintah.
Apabila ada kemauan tetapi tidak ada kemampuan dari pihak luar yang dalam hal ini masyarakat,
sungguhpun telah diberi kesempatan oleh negara atau penyelenggara pemerintahan, maka
partisipasi tidak akan terjadi. Demikian juga, jika ada kemauan dan kemampuan tetapi tidak ada
ruang atau kesempatan yang diberikan oleh negara atau penyelenggara pemerintahan, maka tidak
mungkin juga partisipasi masyarakat itu terjadi.

Demikian halnya dengan partisipasi masyarakat dalam pengembangan pendidikan di Indonesia,


pemerintahan perlu memberikan ruang atau kesempatan kepada masyarakt untuk berpatisipasi.
Namun demikian, kesempatan untuk berpartisipasi itu pun perlu pembatasan dalam hal lingkup
apa, seluas mana, melalui cara bagaimana, seintensif mana, dan dengan mekanisme bagaimana.

Dalam tataran partisipasi masyarakat yang terkait dengan bidang pendidikan nasional menilik
pengalaman Malaysia, seluruh jenjang pendidikan diselenggarakan secara nasional. Ini artinya,
pendidikan mulai peringkat sekolah dasar hingga pendidikan tinggi dilakukan sepenuhnya oleh
negara. Hal itu terkait dengan filosofi pendidikan mereka yang meletakkan pendidikan nasional
sebagai wahana utama internalisasi wawasan kebangsaan dalam kerangka pembentukan identitas
bangsa.

Terkait dengan pengalaman itu, bagi Indonesia yang penduduknya terdiri atas pelbagai suku-
bangsa peran negara dalam pendidikan nasional jelas menjadi penentu utama pembentuk
identitas bangsa. Walaupun dalam prakteknya bisa saja peran negara tidak dilakukan pada setiap
jenjang pendidikan. Dalam konteks itu, pendidikan dasar dan menengah secara nasional peran
negara harus begitu kuat, karena yang menjadi landasan filosofi pendidikan ini adalah bagaimana
nilai-nilai yang berhubungan dengan wawasan kebangsaan ditanamkan sejak awal untuk
membetuk identitas keindonesiaan. Sedangkan, bagi pendidikan tinggi peran masyarakat dalam
hal ini badan dunia atau lembaga swadaya masyarakat dapat menompang filosofi pendidikan
tinggi untuk kepentingan inovasi dan kreativitas dengan pendekatan pemikiran kritis.

Simpulannya, adalah pendidikan nasional sebagai upaya membentuk semangat nasionalisme,


tampaknya porsi besar ditanggung sepenuhnya oleh negara. Lain halnya yang tidak menyangkut
misi bukan pengembangan semangat nasionalisme atau pembentukan identitas bangsa dapat
diberikan kesempatan berpartisipasi kepada masyarakat baik yang datang dari badan dunia
maupun lembaga swadaya masyarakat. Dalam konteks itu, partisipasi yang bernuansa
masyarakat lebih diarahkan pada bagaimana mewujudkan keindonesiaan bagi seluruh peserta
didik dengan tidak mengabaikan proses terbentuknya keseimbangan nilai-nilai kebangsaan dan
nilai ilmu pengetahuan.

Mengelola Partisipasi Menuju Good Governance


Senin, Desember 3, 2007 WIB

Print Halaman ini

25
Oleh : Mashudi SR

Demokratisasi yang terus menggeliat di negeri ini, tidak akan berhasil tanpa adanya dukungan,
kepercayaan dan keterlibatan semua warga negara. Keterlibatan tersebut menjadikan upaya
konsolidasi demokrasi bisa terlaksana. Mengutip Saiful Mujani (2007), bahwa demokrasi adalah
sikap sekaligus tindakan. Dengan demikian, sejauhmana demokrasi terkonsolidasi, ditentukan
pada tingkat perilaku, yakni tindakan demokratis atau partisipasi politik yang reguler.
Eratnya kaitan partisipasi masyarakat dengan stabilitas politik dan demokrasi, memang sebuah
hal yang niscaya. Tanpa kepedulian dari masyarakat, sulit rasanya akan lahir sebuah tatanan
kehidupan yang saling menghormati dalam semagat egaliter. Sebaliknya yang muncul adalah
ketertindasan, ketidaknyamanan, menyempitnya ruang publik dan kemiskinan serta
ketidakadilan.
Perubahan iklim kehidupan demokrasi pasca kejatuhan Soeharto pada media mei 1998, telah
merubah wajah dan perilaku kehidupan negeri ini. Masyarakat yang sebelumnya dirumuskan
sebagai penerima manfaat, saat ini mereka sudah harus di(me)posisikan pada pihak yang ikut
terlibat dalam merumuskan kebijakan pembangunan. Kehadiran mereka menjadi sesuatu yang
niscaya. Secara perlahan pula, konsep pembangunan berubah menjadi pembangunan yang
partisipatif.

Pengikutsertaan publik dalam proses penentuan kebijakan publik, karenanya telah dianggap
sebagai salah satu cara yang efektif untuk menampung dan mengakomodasi beragam
kepentingan. Dengan kata lain, upaya pengikutsertaan publik yang terwujud melalui perencanaan
partisipatif dapat membawa keuntungan substantif dimana keputusan publik yang diambil akan
lebih efektif disamping akan memberi sebuah rasa kepuasan dan dukungan publik yang cukup
kuat terhadap suatu proses pembangunan.

Hadirnya masyarakat dalam proses tersebut saat ini telah menjadi sebuah gerakan yang terus
disuarakan. Bahwa hal itu adalah hak yang sudah semestinya dilakukan. Tanggungjawab negara
memastikan hak tersebut berada pada tempat yang aman dan nyaman. Dengan kata lain, ruang
keterlibatan publik harus diberikan dan dijaga oleh negara sebagai bagian dari
tanggungjawabnya. Karena itu, partisipasi publik bukanlah hadiah dari negara, melainkan hak
yang sejatinya selalu melekat kapan dan dimanapun warga masyarakat berada.
Indonesia yang sedang berproses menjadi negara demokratis, tentunya berkepentingan agar
ruang partisipasi publik tetap terjamin. Meski harus pula disadari, dalam prakteknya institusi-
institusi negara seringkali mengabaikan hal tersebut. Masyarakat diberi ruang untuk terlibat
hanya sebatas pada keikutsertaan dalam pelaksanaan program-program atau kegiatan pemerintah.
padahal partisipasi masyarakat tidak hanya diperlukan pada saat pelaksanaan tapi juga mulai
tahap perencanaan bahkan pengambilan keputusan.

Begitulah, partisipasi saat ini menjadi seperti endemi yang menyerang setiap ruang pusat
kesadaran masyarakat. Disemua daerah dan level pemerintahan, kata ini menjadi ikon yang
begitu populer dan karenanya harus dipatenkan dalam sebuah produk hukum berskala daerah. Ini
seakan menjadi bukti bahwa pengakuan negara akan hak tersebut sebagaimana tercantum dalam
konstitusi dan peraturan perundang-undangan lainnya, belum melahirkan keyakinan dari
masyarakat. Karena itu, lahirlah berbagai produk hukum daerah yang secara khusus mengatur
segala seluk-beluk tentang keterlibatan masyarakat dalam proyek pembangunan daerah. Mulai
26
dari perencanaan, penyusunan, pembahasan dan pelaksanaan.
Revolusi Kesadaran
Persoalan mendasar dari pelaksanaan partisipasi ini adalah, belum adanya kesadaran bersama
yang tumbuh dikalangan pembuat kebijakan. Aparatur pemerintah di semua institusi negara
masih menganggap kehadiran masyarakat dalam sebuah proses perumusan kebijakan berpotensi
mengganggu dan memperlambat proses tersebut. Karena itu, keterlibatan mereka harus dibatasi.
Hampir semua proses yang terjadi di tubuh pemerintahan berkaitan dengan proses membangun
perekonomian, pendidikan, kesehatan dan hak-hak masyarakat lainnya, sepi dari keterlibatan
publik. Perencanaan yang dilakukan berjalan sendiri. Idem dito dengan pelaksanaannya.
Pemerintah begitu rapat menutup pintu bagi terbukanya ruang-ruang keterlibatan tersebut.
Kalaupun dibuka, masih setengah-setengah.
Dalam upaya membangun tata pemerintahan yang baik, dimana prinsip transparansi dan
akuntabilitas diperlukan, tentu saja kondisi di atas menjadi bertolak belakang. Terlebih dalam
semangat otonomi daerah, hal mana perencanaan pembangunan partisipatif lahir guna
memaksimalkan peran dan fungsi daerah otonom, dengan menentukan sendiri strategi
perencanaan daerahnya. Karenanya pertimbangan-pertimbangan kebutuhan kapasitas, keragaman
pelaku dalam pelaksanaan proses perencanaan di tingkat daerah dalam kerangka desentralisasi
dan otonomi daerah menjadi sangat penting. Strategi perencanaan tersebut mengadopsi prinsip
pemerintahan yang baik seperti pembuatan keputusan yang demokratis, partisipasi, transparansi
dan sistem pertanggungjawaban dan mencoba menyerapkannya pada kondisi lokal.
Situasi ketertutupan juga terjadi diwilayah legislatif. Ruang-ruang keterlibatan publik selalu
dipenuhi dengan aroma politik. Begitu susah mendapatkan akses informasi dari rumah rakyat
tersebut yang berkaitan dengan keberlangsungan hajat hidup mayarakat. Dilibatkannya publik
oleh para wakil rakyat dalam proses pembahasan sebuah peraturan, masih terkesan setengah hati.
Sekadar menggugurkan kewajiban bahwa peraturan yang sedang dibahas dan nantinya akan
diberlakukan itu, sudah terlebih dahulu melalui konsultasi publik.
Sesungguhnya sempitnya ruang keteribatan publik adalah cermin dari belum berjalannya
demokrasi. Sebab sistem ini mensyaratkan adanya kebebasan masyarakat dalam
mengejawantahkan hak-haknya. Termasuk hak untuk terlibat dalam proses perumusan dan
pelaksanaan proyek pembangunan dan kebijakan. Sejatinya pendekatan partisipatif dalam
konteks apapun, termasuk dalam perencanaan, selalu dikaitkan dengan proses demokratisasi, di
mana masyarakat sebagai elemen terbesar dalam suatu tatanan masyarakat diharapkan dapat ikut
dalam proses penentuan arah pembangunan.
Dengan pemikiran ini, menjadi penting untuk melakukan perubahan secara besar dan sungguh-
sungguh terutama dilingkungan birokrasi pemerintahan dan legislatif. Komponen masyarakat
yang sudah mengalami pencerahan berkepentingan membalik situasi ini kearah yang lebih
demokratis. Pada titik ini sinergisitas merupakan hal mendasar dalam melakukan upaya
membalik kesadaran tersebut.
Ini memang bukan pekerjaan yang mudah. Dibutuhkan strategi dan waktu yang panjang. Sebab
merubah sesuatu yang sudah mapan dalam cara pikir dan bertindak di tubuh eksekutif dan
legislatif, akan melahirkan perlawanan yang kuat. Karena itu strategi menjadi penting
diperhatikan. Bagaimana menemukan pola yang tepat guna mendesain model dan bentuk
keterlibatan publik pada proses pembangunan. Intinya bagaimana memberikan kesempatan
positif kepada masyarakat untuk terlibat dalam proses mengidentifikasi, membahas,
menyampaikan persepsi, kebutuhan dan tujuan-tujuan bagi pembangunan.
Tidak Cukup Dengan Aturan

27
Dengan semangat tersebut, maka upaya mendorong terbukanya ruang keterlibatan publik tidak
berhenti ketika aturan hukum yang mengatur tentang itu lahir. Sebab semua norma-norma yang
ada dalam peraturan perundang-undangan itu, tidak akan bermakna apabila para penyelenggaran
tata pemerintahan ini tidak memiliki kesadaran tersebut.
Khusus untuk Aceh yang telah memiliki payung hukum berupa Qanun No.3/2007 tentang Tata
Cara Pembentukan Qanun, belumlah cukup untuk memastikan bahwa keterlibatan masyarakat
akan bisa berjalan dengan baik. pada prakteknya pasca qanun tersebut disahkan, masih tetap
terjadi pengabaian hak-hak masyarakat. Karenanya, dibutuhkan upaya untuk mendesain model
partisipasi publik yang sesuai dengan kebutuhan, terutama menyangkut lingkup partisipasi yang
sesuai. Dari sini kebutuhan untuk mengembangkan kapasitas di tingkat sistem, institusi, dan
individu untuk menjamin kontinuitas perkembangan inovasi dan konsepnya pada masa yang
akan datang, harus sesegera mungkin dijawab. Jawaban dari semua itu akan bermuara pada
terwujudnya kehidupan demokrasi yang cita-citakan dan tata pemerintahan yang baik yang
diidam-idamkan. Fastabiqu al-Khairat

**Anggota Koalisi Kebijakan Partisipatif (KKP) Aceh

BEBERAPA TEKNIK PEMBELAJARAN PARTISIPATIF


3 02 2009

BEBERAPA TEKNIK PEMBELAJARAN PARTISIPATIF

3 02 2009

Banyak sekali teknik pembelajaran yang dapat dipakai dalam pembelajaran


partisipatif. Masing-masing teknik mempunyai kekuatan dan kelemahan. Selain itu,
masing-masing teknik mungkin lebih cocok dilakukan pada tahap tertentu, tetapi
beberapa teknik dapat dipakai pada beberapa tahap pembelajaran yang berbeda.

Untuk menyederhanakan pembahasan, dan untuk memusatkan perhatian pembaca,


di sini hanya dipilih beberapa teknik yang biasa digunakan dalam pelatihan-
pelatihan yang diadakan oleh penulis. Sebaiknya Anda mendalami teknik-teknik
pembelajaran yang dibahas di sini, dan berusaha untuk menerapkannya dalam
pelatihan yang akan Anda adakan, sampai Anda merasa mantap menggunakannya.
Setelah itu Anda dapat menambah perbendaharaan teknik pembelajaran yang Anda
kuasai dengan memperlajari teknik-teknik yang lain. Hal ini sesuai dengan prinsip
pembelajaran tuntas (mastery learning) yang sudah terbukti unggul dalam
meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan peserta didik.
28
Berikut ini diberikan gambaran umum tentang beberapa teknik pembelajaran
partisipatif.

1. Teknik Delphi:

Teknik Delphi digunakan untuk menghimpun keputusan-keputusan tertulis yang


diajukan oleh sejumlah calon peserta didik atau para pakar yang tempat tinggalnya
terpisah-pisah dan mereka tidak dapat berkumpul atau tidak dapat bertemu muka
dalam menentukan keputusan-keputusan itu. Keputusan-keputusan tersebut
menyangkut tujuan kegiatan belajar, perencanaan kegiatan, pemecahan masalah
yang dihadapi bersama, dan lain sebagainya. Karena itu teknik ini sangat cocok
dipakai pada tahap perencanaan program.

Teknik Delphi pada dasarnya merupakan proses kegiatan kelompok dengan


menggunakan jawaban-jawaban tertulis dari para calon peserta didik atau para
pakar terhadap pertanyaan-pertanyaan tertulis yang diajukan kepada mereka.
Kegiatan ini bertujuan untuk melibatkan para calon peserta didik atau para pakar
dalam membuat keputusan bersama sehingga keputusan-keputusan itu lebih
berbobot dan menjadi milik bersama.

Teknik Delphi tidak mensyaratkan peserta didik dan para pakar untuk berkumpul
atau bertemu muka. Karena itu teknik ini sangat berguna untuk melibatkan
pimpinan lembaga dan masyarakat dalam memberika masukan terhadap rencana
pelatihan.

Teknik Delphi pada dasarnya merupakan rangkain pertanyaan yang bertahap dan
berkelanjutan. Pertanyaan-pertanyaan pertama memerlukan jawaban-jawaban yang
bersifat umum seperti tentang tujuan program kegiatan belajar, masalah dan
pemecahannya. Pertanyaan berikutnya disusun dan dikirimkan kembali kepada
responden berdasarkan jawaban-jawaban terhadap pertanyaan pertama. Proses
tanya jawab ini berakhir apabila kesepakatan di antara calon peserta didik atau
para pakar telah tercapai setelah informasi yang lengkap terkumpul.

Langkah-langkah pelaksanaan teknik ini adalah sebagai berikut:


29
a. Pelatih atau perencana program menyusun daftar pertanyaan yang berkaitan
dengan kemampuan, kebutuhan belajar, tujuan belajar, masalah dan hambatan,
serta hal-hal lain yang berkaitan dengan rencana program.

b. Pelatih atau perencana program menghubungi para calon peserta didik atau para
pakar yang akan terlibat dalam pelatihan. Untuk itu dapat dipakai berbagai sarana
komunikasi yang tersedia, seperti surat, telepon, e-mail dan lain-lain. Pada
kesempatan ini pelatih memperkenalkan diri kepada calon peserta, menjelaskan
kepada peserta bahwa mereka akan dikirimi daftar pertanyaan. Pelatih juga perlu
menjelaskan bahwa informasi yang diberikan oleh peserta akan berguna untuk
merancang pelatihan yang akan memenuhi kebutuhan mereka, dan memotivasi
mereka untuk melibatkan diri secara aktif dalam menjawab pertanyaan-pertanyaan
yang akan diajukan.

c. Pelatih atau perencana program mengirimkan daftar pertanyaan, dan meminta


peserta untuk mengisi dan mengembalikan daftar pertanyaan tersebut kepada
pelatih.

d. Pelatih atau perencana program menganalisa jawaban-jawaban yang diberikan,


dan merumuskan kesimpulan.

e. Berdasarkan hasil analisa di atas, pelatih atau perencana program membuat lagi
pertanyaan-pertanyaan yang lebih khusus dan terperinci.

f. Pelatih atau perencana program melakukan langka (c) dan (d).

g. Pelatih atau perencana program merumuskan dan menetapkan keputusan


berdasarkan informasi tersebut.

2. Diad

30
Teknik diad atau berpasangan merupakan teknik belajar partisipatif yang
melibatkan dua orang yang berkomunikasi secara lisan maupun tulisan. Teknik diad
sangat cocok dilakukan pada tahap pembinaan keakraban, khususnya kalau peserta
belum saling mengenal. Teknik ini digunakan agar peserta lebih mengenal satu
sama lain dan lebih akrab, sehingga akan mengurangi atau meniadakan hambatan
komunikasi di antara para peserta. Hal ini perlu dilakukan agar peserta pelatihan
dapat lebih ikut terlibat dalam setiap kegiatan pembelajaran. Tetapi teknik diad
bukan hanya dipakai pada tahap perkenalan, melainkan dapat dipakai pada tahap
pembelajaran lain yang menuntut pemikiran yang tajam dan mendalam.

Teknik diad dapat dilakukan dengan cara yang cukup sederhana, bahkan oleh
orang-orang yang belum berkenalan satu sama lain. Pada tahap perkenalan, teknik
ini dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Mula-mula pelatih meminta peserta untuk mencari seorang pasangan dari antara
peserta yang lain. Kalau dilakukan pada tahap pembinaan keakraban, sebaiknya
peserta mencari pasangan yang belum dikenal.

b. Kemudian pelatih memberikan pokok-pokok yang harus ditanyakan secara


bergantian oleh masing-masing pasangan, misalnya: nama, umur, pendidikan,
pekerjaan, minat, kegemaran, latar belakang keluarga, alasan mengikuti pelatihan,
dll. Untuk membuat pembelajaran lebih menarik, dapat pula ditanyakan
pengalaman yang paling lucu atau berkesan. Hasil wawancara disusun secara
tertulis berdasarkan urutan pertanyaannya.

c. Apabila pasangan diad sudah selesai saling mewawancarai, masing-masing


peserta diminta memperkenalkan pasangannya kepada seluruh kelompok. Cara
memperkenalkannya dapat diselingi dengan guyonan, nyanyian, deklamasi, dan
sebagainya.

d. Pelatih dapat memberikan komentar singkat setelah setiap pasangan melaporkan


hasil wawancaranya. Sebaiknya komentar yang diberikan merupakan humor, tetapi
jangan sampai menyakiti hati orang yang dikomentari.

3. Curah Pendapat (Brainsorming):

31
Curah pendapat adalah teknik pembelajaran yang dipakai untuk menghimpun
gagasan dan pendapat untuk menjawab pertanyaan tertentu, dengan cara
mengajukan pendapat atau gagasan sebanyak-banyaknya. Curah pendapat
dilakukan dalam kelompok yang pesertanya memiliki latar belakang yang berbeda-
beda. Hal ini akan memberikan peluang untuk mendapatkan sebanyak mungkin
pendapat atau gagasan yang berbeda. Pada kegiatan curah pendapat, yang
ditekankan adalah menghasilkan pendapat atau gagasan yang sebanyak-
banyaknya dalam waktu yang singkat.

Dalam pelaksanaan teknik ini setiap peserta diberi kesempatan untuk


menyampaikan pendapatnya atau gagasannya. Pelatih atau fasilitator atau peserta
yang tidak sedang menyampaikan pendapat tidak boleh menyanggah atau
memberikan komentar terhadap pendapat atau gagasan yang disampaikan oleh
peserta yang sedang berbicara, tetapi menerima saja setiap pendapat atau
gagasan yang disampaikan.

Kegiatan curah pendapat dilakukan sebagai berikut:

a. Pelatih menyusun pertanyaan-pertanyaan yang berkaitan dengan pembelajaran.


Sebagai contoh, pelatih dapat menanyakan apa yang diperlukan peserta untuk
meningkatkan kemampuan melaksanakan tugas atau pekerjaannya.

b. Pelatih mengajukan pertanyaan tersebut kepada peserta. Kemudian pelatih


memberikan waktu 2-3 menit kepada setiap peserta untuk memikirkan jawaban
terhadap pertanyaan tersebut. Perlu pula dijelaskan bahwa setiap peserta hanya
perlu menyampaikan pendapatnya, tidak boleh megkritik atau menyela pendapat
orang lain.

c. Pelatih dapat berperan sebagai juru tulis yang mencatat pendapat atau gagasan
itu di papan tulis atau pada kertas (flipchart) yang disediakan, atau menunjukkan
seorang dari peserta untuk melaksanakan tugas tersebut.

d. Sesudah peserta diberi kesempatan untuk memikirkan jawabannya, peserta


diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya secara bebas. Setiap
32
pendapat akan ditulis di papan tulis atau kertas yang sudah disediakan. Pelatih
dapat memberi batasan waktu untuk melakukan kegiatan ini, misalnya 5 atau 10
menit.

e. Sesudah waktu habis, pendapat atau gagasan yang terkumpul dapat


dikelompokkan berdasarkan kategori-kategori tertentu. Pada akhirnya tim dapat
memgevaluasi pendapat-pendapat yang sudah terkumpul.

4. Kelompok Kecil:

Kelompok kecil terdiri dari dua orang atau lebih. Kelompok ini dapat terdiri dari
orang-orang yang memiliki minat dan keahlian yang sama (homogen), dapat juga
terdiri dari orang-orang yang memiliki minat atau keahlian yang berbeda
(heterogen). Pemilihan kelompok homogen atau heterogen ditentukan oleh tugas
yang diberikan atau masalah yang dihadapi. Kalau tugas yang diberikan masih
dalam tahap penjajagan dan memerlukan pemikiran yang meluas, lebih baik kalau
membentuk kelompok-kelompok yang heterogen. Tetapi kalau tugas atau masalah
yang dihadapi memerlukan pemikiran yang tajam dan mendalam, mungkin lebih
baik kalau membentuk kelompok-kelompok yang homogen.

Setiap kelompok dapat membahas pokok pikiran atau topik bahasan tertentu.
Dalam kelompok kecil peserta dapat mengungkapkan pikiran, gagasan atau
pendapat tentang pokok pikiran atau topik yang dibahas. Melalui kegiatan ini
peserta dapat tukar menukar informasi tentang topik yang dibahas sehingga dapat
dicapai kesepakatan di antara peserta. Hasil dari diskusi kelompok kecil ini
kemudian dapat dibagikan dalam kelompok besar, yaitu di hadapan seluruh peserta
yang lain.

Kegiatan diskusi kelompok kecil dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Sebelum diskusi dilangsungkan, pelatih menghimpun sebanyak-banyaknya


informasi yang berhubungan dengan pokok pikiran atau topik yang akan dibahas.

33
b. Pelatih menyusun uraian suatu topik dan masalah yang ada. Uraian topik ini
mungkin berupa pernyataan-pernyataan atau uraian pendek dalam bentuk cerita.
Pada akhir uraian, pelatih melontarkan masalah, baik dalam bentuk pertanyaan
maupun dalam bentuk tugas yang harus dikerjakan oleh masing-masing kelompok.
Perlu pula dicantumkan lamanya waktu yang disediakan untuk membahas topik itu.

c. Sebelum meminta peserta untuk memulai diskusi, pelatih perlu menjelaskan


topik yang akan dibahas, tujuan pembahasan dan cara-cara diskusi secara
demokratis, serta mendorong semua peserta untuk ikut terlibat secara aktif dalam
diskusi.

d. Kemudian pelatih menyarankan agar peserta membentuk kelompok-kelompok


yang terdiri dari 3-5 orang anggota. Dapat pula ditunjuk seorang yang menjadi
pemimpin kelompok, dan seorang yang menjadi penulis.

e. Pelatih membagikan lembaran yang berisi uraian topik serta tugas atau masalah
yang harus dijawab oleh masing-masing kelompok, dan mempersilakan masing-
masing kelompok untuk melakukan diskusi. Pelatih perlu mengingatkan masing-
masing kelompok bahwa hasil diskusi mereka akan dilaporkan dalam kelompok
besar atau di hadapan semua peserta yang lain. Pelatih perlu pula mengingatkan
peserta lamanya waktu yang disediakan untuk melakukan diskusi.

f. Ketika diskusi berjalan, pelatih perlu sesekali berjalan menghampiri kelompok-


kelompok yang sedang berdiskusi, dan memperhatikan jalannya diskusi. Ada
kalanya pelatih perlu memberikan arahan atau mengingatkan kembali topik yang
sedang dibahas kalau pembicaraan terlihat menyimpang dari yang diharapkan.
Tetapi pelatih perlu membatasi komentar yang diberikan. Penelitian menunjukkan
bahwa semakin sedikit komentar atau arahan yang diberikan pelatih, semakin
hidup pembahasan yang dilakukan. Karena itu arahan atau komentar dari pelatih
hanya perlu diberikan kalau pembahasan sudah cukup jauh menyimpang, atau
kalau ada satu orang peserta yang mendominasi pembicaraan.

g. Kalau waktu sudah habis dan pembahasan belum selesai, pelatih mungkin perlu
menawarkan tambahan waktu. Tetapi perlu diingat bahwa tambahan waktu
sebaiknya tidak diberikan terlalu banyak, karena akan menggangu jalannya
kegiatan pembelajaran. Karena itu pada waktu persiapan pelatih perlu memikirkan
dan merencanakan alokasi waktu ini dengan sangat cermat.
34
h. Sesudah pembahasan dalam kelompok kecil selesai, pelatih meminta setiap
kelompok untuk membagikan hasil diskusi mereka dalam kelompok besar. Pelatih
dapat memimpin diskusi kelompok besar ini.

i. Pelatih bersama peserta membahas dan menyimpulkan hasil-hasil diskusi


kelompok kecil, sehingga menghasilkan kesimpulan bersama.

j. Pelatih perlu pula memberi kesempatan bagi peserta untuk mengevaluasi


jalannya diskusi dan hasil, baik dalam kelompok kecil maupun dalam kelompok
besar. Hal ini akan memberikan kesempatan peserta untuk merenungkan kembali
proses belajarnya dan mengambil pelajaran yang penting dari kegiatan itu.

5. Kunjungan Lapangan dan Praktek Lapangan:

Kunjungan lapangan dan praktek lapangan adalah teknik yang digunakan untuk
melatih dan meningkatkan kemampuan para peserta didik dalam menerapkan
pengetahuan dan ketrampilan yang telah mereka peroleh, dengan
mempraktekkannya di lapangan atau dalam kehidupan nyata, dalam pekerjaan
atau tugas yang sebenarnya. Teknik ini sangat tepat digunakan untuk membina dan
meningkatkan kemampuan peserta dengan menerapkan pengetahuan dan
ketrampilannya dalam memecahkan masalah dalam kehidupan nyata sehari-hari.

Penyusunan rencana kunjungan lapangan dan praktek lapangan didasarkan atas


kebutuhan belajar yang dirasakan dan diungkapkan oleh para peserta didik.
Kebutuhan belajar itu dapat pula ditambah dengan kebutuhan yang diungkapkan
pelatih, lembaga pengutus peserta dan masyarakat. Dengan demikian rencana itu
dapat disetujui oleh peserta dan pelatih serta lembaga dan masyarakat. Rencana
itu memuat komponen-komponen antara lain tujuan belajar yang ingin dicapai
melalui kunjungan lapangan dan praktek lapangan, kegiatan-kegiatan yang akan
dilakukan, pembagian tugas, pengaturan penempatan peserta di lapangan, jadwal
dan waktu kegiatan, laporan proses dan hasil studi, serta tindak lanjut yang perlu
dilakukan.

35
Tujuan penggunaan teknik ini adalah agar para peserta memperoleh pengalaman
langsung dari daerah-daerah yang dikunjungi serta memperoleh pengalaman
belajar dari kegiatan lapangan, seperti tentang latihan dan pekerjaan dalam dunia
nyata. Di samping itu teknik ini dapat digunakan untuk menerapkan pengetahuan
dan ketrampilan yang baru diperoleh peserta dalam memecahkan masalah yang
dihadapi dalam kehidupan nyata.

Dalam kunjungan dan praktek lapangan, peserta melakukan kegiatan yang


dilakukan dalam kehidupan nyata sehari-hari, tetapi peserta masih mendapatkan
pengawasan dan bimbingan pelatih. Karena itu peserta dapat memperoleh
keuntungan dari pengalaman nyata sekaligus rasa aman karena tersedianya
pengawasan dan bimbingan pelatih, yang memungkinkannya berkonsultasi bila
memghadapi masalah yang terlalu rumit untuk dipecahkannya sendiri.

Kegiatan kunjungan lapangan dan praktek lapangan dapat dilakukan sebagai


berikut:

a. Pelatih bersama peserta didik mengidentifikasi kebutuhan belajar dari peserta


didik yang dapat dijadikan dasar untuk menyusun rencana kunjungan lapangan dan
praktek lapangan.

b. Atas dasar kebutuhan belajar itu pelatih bersama peserta menyusun rencana
kunjungan lapangan dan praktek lapangan. Rencana ini mencakup tujuan
kunjungan dan praktek lapangan, lokasi, keahlian atau ketrampilan yang akan
diterapkan, rangkaian kegiatan yang akan dilakukan, orang-orang yang terlibat,
fasilitas dan alat-alat, dana, jadwal dan waktu kegiatan, dan lain sebagainya.

c. Pelatih menugaskan kepada peserta untuk menjajagi obyek yang akan


dikunjungi, guna menyampaikan informasi tentang kunjungan dan untuk
mengindentifikasi informasi yang berhubungan dengan kunjungan untuk dijadikan
masukan guna memodifikasi dan menyempurnakan rencana pelaksanaan
kunjungan lapangan.

d. Pelatih membantu peserta dalam melaksanakan kunjungan dan praktek


lapangan, dengan kegiatan antara lain:

36
Ø Mengarahkan dan memotivasi peserta untuk melakukan tugas dan kegiatan
sebagaimana tercantum dalam rencana

Ø Melakukan monitoring, supervisi dan evaluasi pelaksanaan kunjungan lapangan

e. Selaesai kunjungan lapangan, peserta menyusun laporan pelaksanaan tugas


kunjungan lapangan.

f. Peserta mendiskusikan proses, hasil dan pengaruh kunjungan dan praktek


lapangan.

g. Pelatih bersama peserta melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil


pelaksanaan kunjungan dan praktek lapangan.:

6. Evaluasi Diri (Self Evaluation):

Teknik ini secara khusus dipakai untuk mengevaluasi proses dan hasil
pembelajaran. Penggunaan teknik ini menuntut partisipasi yang sungguh-sungguh
dari peserta didik. Evaluasi diri dilakukan dengan menjawab pernyataan-pernyataan
yang sudah disediakan pada lembaran khusus. Evaluasi ini dapat dilakukan untuk
menghimpun pendapat peserta didik antara lain terhadap proses kegiatan
pembelajaran, bahan pelajar, penampilan pendidik, dan pengaruh kegiatan belajar
yang dirasakan oleh peserta didik. Evaluasi ini juga dapat digunakan untuk
mengetahui pendapat peserta didik tentang perubahan pengetahuan, ketrampilan,
sikap dan nilai-nilai yang dirasakan setelah mengikuti kegiatan pembelajaran
dibandingkan dengan sebelum mengikuti kegiatan pembelajaran.

Kegiatan evaluasi diri dapat dilakukan sebagai berikut:

a. Pelatih menyusun lembaran tertulis yang berisi daftar pernyataan pendapat


peserta.
37
b. Pelatih menyediakan lembaran tersebut sesuai dengan jumlah peserta.

c. Pelatih menyebarkan lembaran itu pada waktu yang bersamaan kepada para
peserta didik untuk selanjutnya diisi oleh para peserta didik.

d. Setelah jawaban-jawaban itu dihimpun dan diolah, pelatih bersama peserta didik
mendiskusikan hasil evaluasi. Hasil diskusi dijadikan bahan untuk perbaikan atau
pengembangan program kegiatan pembelajaran.

e. Selesai melaksanakan langkah-langkah di atas, pelatih bersama peserta didik


melakukan evaluasi terhadap proses dan hasil penggunaan teknik ini.

Daftar Pustaka

Sudjana, D. (2000). Strategi Pembelajaran. Bandung : Falah Production

Kepemimpinan Transformasional

Sebelum membahas tentang gaya kepemimpinan transformasional, perlu juga membahas tentang
gaya kepemimpinan. Menurut Stoner, dkk (1996), gaya kepemimpinan adalah berbagai pola
tingkah laku yang disukai oleh pemimpin dalam proses mengarahkan dan mempengaruhi
karyawan.

Menurut Thoha (2001), gaya kepemimpinan adalah norma perilaku yang digunakan oleh
seseorang pada saat orang tersebut mencoba mempengaruhi perilaku orang lain.
Berdasarkan definisi gaya kepemimpinan di atas, maka dapat disimpulkan bahwa gaya
kepemimpinan adalah suatu pola kepemimpinan yang digunakan oleh seseorang pemimpin untuk
memimpin suatu organisasi.

Kepemimpinan transaksional dan transformasional tidak dapat dipandang sebagai pendekatan


yang berlawanan dengan penyelesaian pekerjaan. Kepemimpinan transformasional dibangun di
atas puncak kepemimpinan transaksional. Kepemimpinan transaksional adalah hubungan antara
pemimpin dan bawahan yang berlandaskan pada pertukaran antara pemimpin dan bawahan
(Robbins, 1996). Menurut Burns (Patty, 2001), kepemimpinan transaksional memungkinkan

38
pemimpin memotivasi dan mempengaruhi bawahan dengan cara mempertukarkan reward dengan
kinerja tertentu. Artinya dalam sebuah transaksi bawahan dijanjikan untuk diberi reward bila
bawahan mampu menyelesaikan tugasnya sesuai dengan kesepakatan yang telah dibuat bersama.
Proses kepemimpinan transaksional dapat ditunjukkan melalui sejumlah dimensi perilaku
kepemimpinan yakni contingent reward, active management by exception, passive management
by exception, Laissez-Faire. Burns (Patty, 2001) mengemukakan bahwa kepemimpinan
transaksional menekankan proses hubungan pertukaran yang bernilai ekonomis untuk memenuhi
kebutuhan biologis dan psikologis sesuai dengan kontrak yang telah mereka setujui bersama. Hal
ini didukung juga oleh pendapat Kunhert dan Lewis (Patty, 2001) kebutuhan bawahan yang lebih
rendah, seperti kebutuhan fisik, rasa aman dan afiliasi dapat terpenuhi melalui praktik
kepemimpinan transaksional.
Konsep awal tentang kepemimpinan transformasional telah dikemukakan oleh Burns (Patty,
2001). Menurut Burns, kepemimpinan transformasional merupakan sebuah proses yang padanya
para pemimpin dan pengikut saling menaikkan diri ke tingkat moralitas dan motivasi yang lebih
tinggi. Dalam hubungannya dengan tingkat kebutuhan Maslow, maka pemimpin
transformasional perlu meningkatkan kebutuhan bawahan dari tingkat yang paling dasar ke
tingkatan puncak yakni aktualisasi diri. Jadi dengan adanya kepemimpinan transformasional,
maka kebutuhan yang lebih tinggi dari para bawahan akan dapat terpenuhi. Dengan
menumbuhkan aktualisasi diri, pemimpin juga menumbuhkan keterikatan bawahan pada tujuan
organisasi.

Bass (1985) mengatakan bahwa walaupun meningkatkannya kebutuhan merupakan bukti


terjadinya proses transformasional, tetapi hal ini bukan kondisi yang mutlak ada. Hal yang
penting dan terutama dalam kepemimpinan transformasional adalah bagaimana pemimpin
mengubah persepsi, sikap dan perilaku bawahan terlepas dari meningkat tidaknya perubahan
yang terjadi sesuai dengan teori Maslow. Secara konseptual, kepemimpinan transformasional
didefinisikan Bass sebagai kemampuan pemimpin mengubah lingkungan kerja, motivasi kerja,
pola kerja dan nilai-nilai kerja yang dipersepsikan bawahan sehingga mereka lebih mampu
mengoptimalkan kinerja untuk mencapai tujuan organisasi. Berarti sebuah proses
transformasional terjadi dalam hubungan kepemimpinan manakala pemimpin membangun
kesadaran bawahan akan pentingnya nilai kerja, memperluas dan meningkatkan kebutuhan
melampaui minat pribadi serta mendorong perubahan tersebut ke arah kepentingan bersama
termasuk kepentingan organisasi. Dengan cara demikian, antara pemimpin dan bawahan ada
persepsi yang sama untuk mengoptimalkan usaha mereka ke arah tujuan yang ingin dicapai
organisasi. Akibatnya, tumbuh kepercayaan, kebanggaan, komitmen, rasa hormat dan loyal
kepada atasan sehingga mereka mampu mengoptimalkan usaha dan kinerja mereka ke arah yang
lebih baik dari sebelumnya.

Berdasarkan uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa kepemimpinan transformasional


adalah kepemimpinan yang melibatkan perubahan dalam organisasi. Kepemimpinan ini juga
didefinisikan sebagai kepemimpinan yang membutuhkan tindakan memotivasi para bawahan
agar bekerja demi sasaran-sasaran “tingkat tinggi” yang dianggap melampui kepentingan
pribadinya saat itu (Bass, 1985).

Aspek-aspek Kepemimpinan Transformasional

39
Menurut Bass dan Avolio (Patty, 2001) ada empat aspek yang mendasari kepemimpinan
transformasional, yaitu :

i. Karisma (charisma)
Kepemimpinan Karismatik merupakan proses pemimpin mempengaruhi bawahan dengan
menimbulkan emosi-emosi yang kuat (Yukl, 1998) kepemimpinan karismatik berkaitan dengan
reaksi bawahan terhadap pemimpin dan pada pemimpin. Pemimpin di identifikasikan dengan
dijadikan sebagai penutan oleh bawahan, dipercaya, dihormati dan mempunyai misi dan visi
yang jelas menurut persepsi bawahan dapat diwujudkan. Pemimpin mendapatkan standard yang
tinggi dan sasaran yang menantang bagi bawahan (Bass,1985).
House (Purwanto, 2000) berpendapat bahwa pemimpin karismatik berdampak besar bagi para
pengikutnya. Para pengikut merasa bahwa keyakinan pemimpin benar, sehingga meningkatkan
ketaatan pada diri bawahan dalam menjalankan misinya. Pemimpin mempunyai kebutuhan akan
kekuasaan yang tinggi, pendirian yang kuat, rasa percaya diri yang tinggi dan keyakinan
terhadap nilai-nilai yang dianut, kesemuanya ini akhirnya berdampak pada peningkatan
kepercayaan para pengikut terhadap apa yang dikemukakan oleh pemimpin tersebut.

Karisma merupakan kekuatan pemimpin yang besar untuk memotivasi mitra kerjanya dalam
melaksanakan tugasnya. Bawahan mempercayai atasan karena mempunyai pandangan, nilai dan
tujuan yang dianggap benar, oleh karena itu pemimpin yang mempunyai karisma lebih besar
akan lebih mudah mempengaruhi dan mengarahkan mitra usahanya agar bertindak sesuai dengan
apa yang diinginkan oleh pemimpinnya.

Pemimpin yang berkarisma adalah seorang pemimpin yang dapat memperlihatkan visi,
kemampuan dan keahliannya serta tindakan mendahulukan kepentingan perusahaan dan
kepentingan orang lain dari para kepentingan pribadi. Pemimpin yang berkarisma dapat
dijadikan suri teladan, idola dan model bagi bawahannya.

ii. Rangsangan intelektual (intellectual stimulation)


Menurut Bass (1985) rangsangan intelektual, berarti mengenalkan cara pemecahan masalah
secara cerdik, rasional dan hati-hati sehingga anggota mampu berpikir tentang masalah dengan
cara baru dan menghasilkan pemecahan yang kreatif. Rangsangan intelektual berarti menghargai
kecerdasan mengembangkan rasionalitas dan pengambilan keputusan secara hati-hati.

Kemampuan sang pemimpin untuk menstimuli pemikiran atau ide-ide bawahannya (intellectual
stimulation), pemimpin transformasional dalam bahasa sederhana adalah seorang pemimpin yang
cerdas sehingga ide-idenya atau analisanya mampu membuat pencerahan intelektual pada mitra
usahanya. Seperti diterangkan oleh Seltzer dan Bass (1990) bahwa stimulasi intelektual ini,
pemimpin merangsang kreatifitas bawahan dan mendorong untuk menemukan pendekatan-
pendekatan baru terhadap masalah lama. Menurut Bass (1985) melalui pendekatan ini bawahan
di dorong utnuk berpikir tentang relevansi rasa, sistem nilai, kepercayaan, harapan dan bentuk
organisasi yang ada saat ini. Bawahan juga didorong melakukan inovasi dalam menyelesaikan
persoalan dan berkreasi untuk mengembangkan kemampuan diri, serta didorong untuk
menetapkan tujuan atau sasarannya yang menantang. Rangsangan intelektual adalah upaya
pemimpin meningkatkan kesadaran bawahan terhadap persoalan-persoalan dan mempengaruhi
bawahan untuk melihat persoalan tersebut melalui perspektif baru (Yukl, 1989).

40
Dengan ini maka dibutuhkan pula pemimpin yang dengan sendirinya terus menerus menjadi
manusia pembelajar. Schein (Bagus, 2001) mengatakan pemimpin dengan sendirinya adalah
seorang “perceptual learner” atau pembelajar yang terus menerus yang tidak kenal lelah sehingga
pemimpin harus perseptif atau tanggap terhadap persoalan, mampu memotivasi, memiliki
kekuatan emosional dalam memenangkan kecemasan, mengubah asumsi budaya (mampu
menjual visi dan konsep baru) dan mampu menciptakan keterlibatan dan partisipasi serta
mempelajari budaya baru.

Ukuran dan efektifitas pemimpin adalah seberapa banyak kemampuan bawahan dalam
menyelesaikan tugas tanpa kehadiran pemimpin (Bass dan Avolio, 1990). Bawahan belajar
memecahkan masalah dengan cara sendiri secara kreatif dan inovatif. Melalui praktik intelektual
ini, mitra kerja kita diberi kesempatan seluas-luasnya oleh pemimpinnya untuk bertindak secara
kreatif dan inovatif dalam menyelesaikan masalahnya. Dengan kata lain bawahan diberi
kesempatan oleh pemimpin untuk berekspresi diri dan mengembangkan diri.

iii. Inspirasi (Inspiration)


Pemimpin inspirasional adalah seorang pemimpin yang bertindak dengan cara memotivasi dan
menginspirasi bawahan yang berarti mampu mengkomunikasikan harapan-harapan yang tinggi
dari bawahannya, menggunakan simbol-simbol untuk memfokuskan pada kerja keras,
mengekspresikan tujuan dengan cara sederhana.

Pemimpin inspirasional mampu mendorong bawahan untuk menetapkan suatu tujuan yang
menantang dengan standard yang tinggi. Adanya tujuan yang menantang ini diharapkan akan
mampu mendorong bawahan untuk memfokuskan pada usaha yang keras dalam mencapai target
tersebut. Pemimpin inspirasional mengembangkan suatu pemecahan masalah dengan
menggunakan simbol-simbol untuk lebih mempermudah pemecahannya. Selain itu dalam upaya
pemecahan masalah, seorang pemimpin harus menunjukkan kesan sebagai pemimpin yang
pandai. Pemimpin inspirasional mampu memberikan arti yang jelas terhadap tindakan yang
direncanakan, bersikap tenang dalam menghadapi krisis, memberi penghargaan terhadap
tindakan bawahan yang berprestasi, menekankan pada persaingan yang sehat, memberikan
gambaran mengenai masa depan yang menarik dan dapat dicapai dan menjelaskan mengenai
langkah-langkah yang harus ditempuh untuk mencapai tujuan tersebut (Bass, 1990).
Pemimpin yang inspirasional oleh Bass dan Avolio (Yukl, 1994) diartikan sebagai sejauh mana
seorang pemimpin mampu mengkomunikasikan suatu visi yang menarik, mampu menggunakan
simbol-simbol untuk memfokuskan usaha-usaha mitra kerjanya dan memodelkan perilaku yang
sesuai.

Perilaku pemimpin yang inspirasional menurut Yukl dan Fleet (Bass, 1985) dapat merangsang
antusiasme bawahan terhadap tugas kelompok dan mengatakan hal-hal yang dapat
menumbuhkan kepercayaan terhadap kemampuannya untuk menyelesaikan tugas dan mencapai
tujuan kelompok. Masih menurut Yukl (1989) membangun kepercayaan diri bawahan seperti itu
merupakan elemen utama dari pemimpin yang inspirasional. Keyakinan diri yang besar terhadap
apa yang dilakukan akan menimbulkan motif untuk berprestasi serta loyalitas dan usaha yang
melebihi biasanya.

41
iv. Perhatian Individual (Individualized consideration)
Perhatian secara individual merupakan cara yang digunakan oleh pemimpin untuk memperoleh
kekuasaan dengan bertindak sebagai pembimbing, memberi perhatian secara individual dan
dukungan secara pribadi kepada bawahannya.
Menurut Bass (1985) pertimbangan individual berarti cara pemimpin memperoleh kekuasaan
dengan bertindak sebagai pelatih, guru dan pembimbing yang memberikan perhatian secara
individual dan dukungan kepada anggotanya secara pribadi. Lebih lanjut Bass (1990)
mengemukakan pertimbangan individu berarti memberi perhatian secara personal,
memperlakukan bawahan secara individu, memberi saran dan memberikan bimbingan. Menurut
Bass (1997) pemimpin melakukan hubungan dengan bawahan secara individual,
mempertimbangkan kebutuhan, kemampuan dan aspirasi individu, mendengarkan dengan penuh
perhatian, pengembangan jangka panjang, menasehati, mengajar, membina dan melatih.

Avolio (Purwanto, 2000) berpendapat bahwa pendelegasian wewenang merupakan focus dari
pertimbangan individual. Pendelegasian sebagai tugas untuk diselesaikan bawahan merupakan
tantangan kerja bagi bawahan dan sekaligus memberi kesempatan kepada bawahan untuk belajar.
Pendelegasian sebagian wewenang kepada bawahan menurut Bass (1990) dapat melalui orientasi
terhadap pengembangan bawahan, orientasi terhadap individu dan mentoring. Perhatian yang
berorientasi pada pengembangan bawahan ditunjukkan melalui pendelegasian sebagian tugas
kepada bawahan. Perhatian yang berorientasi kepada individu ditunjukkan dengan memberi
dukungan dan memperlakukan bawahan secara individu. Dengan demikian pemimpin dapat
melihat adanya perbedaan yang terdapat pada bawahannya atau mitra kerjanya. Hal ini akan
mempermudah pemimpin dalam memberikan perlakuan terhadap masing-masing bawahannya.
Sedangkan mentoring merupakan bentuk perhatian yang individual yang ditunjukkan melalui
konsultasi atasan kepada bawahan.

Perhatian seorang atasan kepada bawahannya merupakan kewajiban, karena sebagai figur
pemimpin dituntut untuk senantiasa bisa memberikan bimbingan dan saran yang diperlukan bagi
perkembangan bawahannya. Pemimpin transformasional membangkitkan rasa hormat dan
pengabdian dari dalam diri tiap-tiap orang dengan menyediakan waktu untuk menyatakan bahwa
mereka itu penting.

42