Anda di halaman 1dari 3

CATATAN BUAT PGRI SULSEL

Oleh : Umar Ibsal


Konferensi Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) wilayah Sulawesi Selatan telah
berlangsung hingga Jumat (17/7) kemarin. Dari hasil konferensi tersebut, tentunya
menghasilkan beberapa rekomendasi yang harus segera dilaksanakan oleh pengurus
PGRI dalam menjalani masa baktinya hingga tahun 2014. Sebelum kita membahas
mengenai apa saja yang seharusnya digagas dan dilakukan oleh PGRI, terlebih dahulu
kita menengok sejarah terbentuknya organisasi guru.
Sejarah Organisasi Guru
Pembentukan organisasi guru dimulai dari Inggris bermula ketika tarjadi revolusi
Industri pada abad ke XVII dimana untuk menjamin hak-hak kaum buruh (guru) dari
kemungkinan tindak kesewenang-wenangan kaum majikan dan bahkan rejim yang
berkuasa pada waktu itu. Melihat efektiftas dan efsiensi organisasi buruh inilah
negara-negara lain kemudian mengikutinya sehingga kini hampir semua negara
memiliki sedikitnya satu organisasi guru di seluruh dunia. Perkembangan organisasi
guru di berbagai negara mengusahakan adanya kerja sama masing-masing organisasi
yang pada tahun 1952 berhasil membentuk sebuah organisasi guru se dunia dengan
nama World Confederation of Organization of Teaching Profession (WCOTP) yang didirikan
di Copenhagen, Denmark.
Tujuannya adalah menghimpun guru dari semua tingkatan pendidikan, di dalam
tingkatan pendidikan, di dalam suatu organisasi yang kuat dengan maksud agar
mereka dapat menjalankan pengaruh yang sejalan dengan pentingnya fungsi sosial
mereka yang meliputi penggalakan konsepsi pendidikan, menyempurnakan metode
mengajar, membela hak-hak dan kepentingan moril dan materil profesi guru serta
meningkatkan hubungan yang lebih erat di antara kaum guru di berbagai negara.
Indonesia juga mempunyai organisasi guru yang disebut Persatuan Guru Republik
Indonesia (PGRI). PGRI merupakan organisasi yang menghimpun para guru di seluruh
indonesia yang dibentuk pada 25 November 1945 yang kemudian dijadikan sebagai hari
guru nasional. Dalam pembentukannya, PGRI membawa asas yang bersifat
nasionalisme, profesionalisme dan unitaris. Pada Pasal 1 ayat 6 PP No. 74 tentang Guru,
Organisasi Profesi Guru adalah perkumpulan yang berbadan hukum yang didirikan
dan diurus oleh Guru untuk mengembangkan profesionalitas Guru.
Jika menengok sejarah pembentukan organisasi guru di Indonesia dan di dunia, kita
dapat melihat bahwa tujuan pembentukan organisasi ini adalah bermuara pada
peningkatan profesionalisme guru yang pada akhirnya akan menjadi modal (capital)
dalam meningkatkan rasa nasionalisme bangsa indonesia.
Problem Anggota PGRI
Namun jika melihat realita yang terjadi sejak didirikannya organisasi guru ini, tujuan-
tujuan di atas masih jauh panggang dari api. Di berbagai media cetak maupun
elektronik, kita dapat melihat begitu banyak kasus-kasus yang melibatkan guru dimana
PGRI tidak berada di sana untuk membela anggotanya. Keterlambatan pembayaran
tunjangan profesi guru di Sulawesi Selatan seharusnya diadvokasi oleh PGRI sebagai
organisasi yang menampung dan menyalurkan aspirasi anggotanya. Termasuk pula
advokasi bagi guru kontrak dan guru honor yang upahnya masih berada di bawah
Upah Minimun Regional (UMR).
Kita masih ingat aksi para guru honorer menuntut kesejahteraannya dengan berunjuk
rasa di Gedung DPRD Sulawesi Selatan. Mereka menuntut persamaan hak dengan guru
PNS. Setiap bulannya mereka hanya mendapat gaji tidak lebih dari Rp 300 ribu rupiah.
Sekadar diketahui, jumlah guru honorer di Provinsi Sulsel mencapai 35 ribu orang.
Sebanyak 4 ribu di antaranya berada di Makassar. (detiknews, 2007)
Perjuangan guru honorer serta Guru Tidak Tetap masih panjang untuk bisa menikmati
janji-janji UU Guru dan Dosen. Meskipun pada tahun 2009, pemerintah berencana akan
mengangkat mereka sebagai CPNS. Dengan kesejahteraan yang amat minim,
ketidakpastian pekerjaan dan beban biaya hidup kian berat, mungkinkan kita menuntut
para guru untuk menjadi sumber inspirasi pengembangan diri bagi murid-muridnya?
Membincang mengenai problematika pendidikan di negeri ini, khususnya guru
memang tak ada habisnya. PGRI sebagai organisasi guru terbesar dan tertua di
Indonesia seharusnya mengambil peran penting dalam melakukan inventarisasi
permasalahan yang dihadapi oleh guru. Permasalahan yang saya urai di atas hanya
secuil diantara banyaknya masalah yang dihadapi oleh guru seperti yang pernah
diungkapkan oleh Prof, Arismunandar dalam desertasinya yang mengatakan bahwa
30,27 persen atau sekitar 24 ribu guru di Sulsel mengalami stress. Stress tersebut
tentunya distimulus dari banyaknya masalah yang dihadapi oleh guru dalam
menjalankan tugasnya sebagai pendidik. Termasuk banyaknya potongan gaji yang
harus mereka terima seperti potongan uang arisan, potongan uang PGRI, potongan
asuransi, serta potongan-potongan lain.
Peran Politik Guru
Melihat realitas tersebut, sudah sepatutnya PGRI kembali ke khittahnya sebagai
organisasi perjuangan aspirasi serta pemersatu guru. Masih ada guru yang upahnya
lebih rendah dari buruh yang tidak tamat SD sekalipun. Perjuangan untuk
menyalurkan aspirasi guru harus lebih intensif kepada pemerintah sebagai pengambil
kebijakan (decision maker). Mungkin sudah saatnya kita memilih pemimpin atau
legislator dari kalangan guru yang pernah merasakan pahitnya menjadi guru sehingga
nuraninya dapat memperjuangkan ketidakadilan yang sering dialaminya. Bahkan
Ketua Umum PB PGRI ketika baru terpilih pada Kongres XX PGRI, 1-4 Juli 2008, di
Palembang, Dr Sulistiyo MPd, menyerukan agar organisasi ini turut bermain di arena
politk praktis untuk menyalurkan dan memperjuangkan aspirasi guru. Meski ada
aturan menteri Pendayagunan Aparatur Negara bahwa Guru PNS tidak boleh terjun
ke ranah politik praktis. Jangan sampai status PGRI saat ini seperti yang pernah
diungkapkan oleh Hadi supeno bukunya pendidikan dalam belenggu kekuasaan
yang menyatakan bahwa PGRI penyalur aspirasi atau hanya kepanjangan tangan
birokrasi?
Penulis adalah Dewan Pendamping Lembaga Penelitian Mahasiswa (LPM) Penalaran
Universitas Negeri Makassar