Anda di halaman 1dari 3

Porifera

Porifera (Latin: porus = pori,fer = membawa) atau spons atau hewan berpori adalah sebuah
filum untuk hewan multiseluler yang paling sederhana.
Ciri-ciri morfologinya antara lain:
tubuhnya berpori (ostium)
multiseluler
tubuh porifera asimetri (tidak beraturan), meskipun ada yang simetri radial.
berbentuk seperti tabung, vas bunga, mangkuk, atau tumbuhan
warnanya bervariasi
tidak berpindah tempat (sesil)
Ciri-ciri anatominya antara lain:
memiliki tiga tipe saluran air, yaitu askonoid, sikonoid, dan leukonoid
pencernaan secara intraseluler di dalam koanosit dan amoebosit
Porifera hidup secara heterotrof. Makanannya adalah bakteri dan plankton. Makanan yang
masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga porifera disebut juga sebagai pemakan
cairan. Habitat porifera umumnya di laut.
Reproduksi
Porifera melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual. Reproduksi secara aseksual
terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule. Gemmule disebut juga tunas internal.
Gemmule dihasilkan menjelang musim dingin di dalam tubuh Porifera yang hidup di air
tawar. Secara seksual dengan cara peleburan sel sperma dengan sel ovum, pembuahan ini
terjadi di luar tubuh porifera.
Peran Porifera dalam kehidupan
Beberapa jenis Porifera seperti Spongia dan Hippospongia dapat digunakan sebagai spons
mandi.
Zat kimia yang dikeluarkannya memiliki potensi sebagai obat penyakit kanker dan penyakit
lainnya.




Kenozoikum (Bahasa Yunani : kainos, "baru", dan zoe, "kehidupan", atau berarti
"kehidupan baru") adalah era terakhir dari tiga era klasik geologi. Era ini berlangsung selama
65,5 juta tahun sampai sekarang, setelah peristiwa kepunahan massal Kapur-Tersier pada
akhir periode Kapur yang menandai punahnya dinosaurus tanpa bulu dan berakhirnya
era Mesozoikum. Masa Kenozoikum merupakan masa perkembangan mamalia dan tumbuhan
berbiji modern. Pada masa ini terbagi menjadi dua, yaitu zaman tersier dan zaman kuarter.
Pada zaman tersier tumbuh-tumbuhan berkembang biak dan meluas ke seluruh wilayah
kontinen, demikian juga mulai timbul dan berkembang, tumbuh-tumbuhan berbunga.
Binatang menyusui dan burung-burung mulai meluas pada zaman ini. Keadaan iklim
tidak begitu berbeda dengan zaman sekunder. Pada zaman ini batu bara muda mulai
terbentuk. Zaman tersier terbagi menjadi zaman eosen, oligosen, dan pleiosen. Zaman eosen
berumur 70 juta, oligosen 42 juta tahun, miosen 30 juta tahun, dan pleiosen 16 juta tahun.

Paleosen, "awal fajar masa kini", adalah kala yang berlangsung antara 65,5 0,3
hingga 55,8 0,2 juta tahun yang lalu. Paleosen merupakan kala pertama dari periode
Paleogen di era modern Kenozoikum. Seperti halnya skala waktu geologi lainnya, stratum
yang menunjukkan awal dan akhir kala ini terdefinisi dengan jelas, tapi waktu pasti akhirnya
tidak terlalu jelas.
Paleosen dimulai langsung setelah kepunahan massal pada akhir periode Kapur yang dikenal
dengan nama batas K-T (Kapur - Tersier), yang menandai punahnya dinosaurus. Kepunahan
ini menyebabkan timbulnya kekosongan niche ekologi di bumi dan karenanya namanya
diberikan. "Paleosen" berasal dari bahasa Yunani yaitu merujuk kepada fauna "(lebih) tua"
(, palaios) dan "baru" (, kainos) yang muncul pada kala ini, sebelum
munculnya mamalia modern pada kala Eosen.
Eosen adalah suatu kala pada skala waktu geologi yang berlangsung 55,8 0,2 hingga
33,9 0,1 juta tahun yang lalu yang merupakan kala kedua pada periode Paleogen di era
Kenozoikum. Kala ini berlangsung mulai akhir kala Paleosen hingga awal Oligosen. Awal
Eosen ditandai dengan kemunculan mamalia modern pertama. Akhir Eosen adalah suatu
kepunahan massal yang disebut Grande Coupure, yang mungkin berhubungan dengan satu
atau lebih bolide (meteor besar) yang ditemukan di Siberia dan Chesapeake Bay. Seperti
halnya periode geologi lain, stratum yang menentukan awal dan akhir kala ini terdefinisi
dengan jelas, walaupun waktu tepatnya kurang dapat dipastikan.
Nama "Eosen" berasal dari bahasa Yunani eos (fajar) and ceno (baru) dan merujuk
pada "kebangkitan" mamalia modern ("baru") yang muncul pada kala ini
Oligosen adalah suatu kala pada skala waktu geologi yang berlangsung dari sekitar 34 hingga
23 juta tahun yang lalu. Seperti periode geologi yang lebih tua lainnya, lapisan batuan yang
membedakan periode ini terdefinisi dengan jelas, tapi waktu awal dan akhirnya agak kurang
dapat dipastikan. Namanya berasal dari bahasa Yunani oligos ("beberapa") dan ceno ("baru"),
dan merujuk pada sedikitnya penambahan mamalia modern setelah peledakan evolusi pada
kala Eosen. Oligosen melanjutkan kala Eosen dan diikuti oleh Miosen dan merupakan kala
ketiga dan terakhir pada periode Paleogen.
Awal Oligosen ditandai dengan kepunahan massal yang mungkin berhubungan
dengan tumbukan objek luar angkasa yang ditemukan di Siberia dan dekat Chesapeake Bay.
Batas antara Oligosen dan Miosen tidak dapat ditentukan secara mudah dengan suatu
peristiwa, melainkan merupakan batas yang semu antara Oligosen yang lebih hangat dengan
Miosen yang relatif lebih dingin.
Oligosen sering dianggap merupakan masa transisi yang penting, suatu penghubung antara
"[the] archaic world of the tropical Eocene and the more modern-looking ecosystems of the
Miocene. (Haines)"
Miosen adalah suatu kala pada skala waktu geologi yang berlangsung antara 23,03
hingga 5,332 juta tahun yang lalu. Seperti halnya periode geologi yang lebih tua lainnya,
lapisan batuan yang membedakan awal dan akhir kala ini dapat teridentifikasi, tapi waktu
tepat awal dan akhirnya tidak dapat terlalu dipastikan. Miosen dinamai oleh Sir Charles Lyell
dan berasal dari kata bahasa Yunani (meioon, "kurang") dan (kainos, "baru")
dan kurang lebih merujuk pada "kurang baru" karena hanya memiliki 18% (kurang dari
Pliosen) invertebrata laut modern. Miosen mengikuti Oligosen dan diikuti oleh Pliosen dan
merupakan kala pertama pada periode Neogen.
Pliosen adalah suatu kala dalam skala waktu geologi yang berlangsung 5,332 hingga
1,806 juta tahun yang lalu. Kala ini merupakan kala kedua pada periode Neogen di era
Kenozoikum. Pliosen berlangsung setelah Miosen dan diikuti oleh kala Pleistosen.
Namanya diberikan oleh Sir Charles Lyell dan berasal dari kata bahasa Yunani
(pleion, "lebih") dan (kainos, "baru") dan kurang lebih berarti "kelanjutan dari
sekarang", merujuk pada fauna laut moluska yang relatif modern yang hidup pada zaman ini.

Bantamian
Lokasi tipe Jenjang Bantamian terletak di daerah Bojong dan sekitarnya. Kabupaten Lebak-
Pandeglang. Jawa Barat yang secara geologi termasuk dalam Formasi Bojong.
Kolom stratigrafi terukur telah dibuat di beberapa lokasi (Bojong I, Bojong II, Cipadung, Sungai
Ciperem, Karag, Sungai Pasirawibeas dan Gumuruh) dengan ketebalan total 55,5 m. fosil moluska
telah ditemukan sebanyak 189 spesies dari Kelas Gastropoda, dan 29 spesies dari Kelas Bivalvia di
lokasi-lokasi tersebut.
Berdasarkan kandungan fosil mullosca dan foraminifera, jenjang ini berumur pliosen akhir sampai
plistosen awal(2-1 juta tahun yang lalu).