Anda di halaman 1dari 19

Program Studi

Kedokteran gigi

Vinna Kurniawati
Sugiaman
[FISIOLOGI DASAR
JARINGAN ORAL]

23

FISIOLOGI RESEPTOR RASA
Salah satu reseptor primer yang terlibat dalam mengidentifikasi dan
mengevaluasi makanan adalah reseptor rasa. Reseptor rasa biasanya disebut
dengan taste bud, yang merupakan struktur epithelial yang menyebar pada lidah,
palatum lunak, faring, laring, dan esophagus. Fungsi dari taste bud ini adalah
untuk menganalisa komponen kimia dari makanan yang berkontak dengan sel
reseptor selama makan.
Komponen kimia ini akan menyebabkan perubahan elektik pada sel rasa yang
kemudian diubah menjadi potensial aksi pada saraf yang mempersarafi taste bud.
Potensial aksi ini akan disalurkan melalui lintasan di otak, untuk memproduksi
sensasi yang digambarkan sebagai rasa. Fungsi spesifik taste bud yang berada
pada palatum, laring, dan esophagus tidak diketahui dengan pasti, walaupun
terdapat banyak reseptor rasa pada daerah ini.
Reseptor pengecapan merupakan kemoreseptor yang berespon hanya terhadap
bahan-bahan yang larut dalam saliva di mulut, kemudian akan berkontak dengan
reseptor yang bersangkutan. Reseptor pengecapan terdiri dari reseptor yang
berespon terhadap rasa manis, asam, asin, dan pahit yang mengawali proses
pencernaan dan menimbulkan rangsangan untuk makan.

Anatomi Taste Bud
Lidah berperan penting pada kesadaran pengecapan karena pada
permukaannya ditemukan banyak sekali papila lidah tempat terdapatnya satu atau
lebih taste bud. Terdapat empat tipe papila lidah yaitu papila filiformis,
fungiformis, sirkumvalata, dan foliata, seperti terlihat pada gambar di bawah ini :


24




Papila filiformis terletak pada seluruh permukaan dorsum lidah, papila
fungiformis terletak pada 2/3 anterior lidah, papila sirkumvalata tersusun
membentuk huruf V pada batas antara mulut dan faring pada bagian lidah, papila
foliata terletak pada posterior dan batas samping lidah. Setiap papila mempunyai
bentuk yang berbeda-beda dan memiliki taste bud kecuali pada papila filiformis
yang dapat dilihat pada gambar di bawah ini :

25




Pada anak-anak taste bud tersebar luas terutama di ujung lidah. Pada orang
dewasa taste bud jumlahnya berkurang dan hampir tidak ada pada permukaan
dorsum lidah. Berkurangnya taste bud pada orang dewasa disebabkan karena taste
bud mengalami degenerasi, sehingga sensasi pengecapan menjadi kurang kritis.
Jumlah taste bud pada manusia berkisar sekitar 3000 sampai 10.000.
Berdasarkan pengujian yang telah dilakukan terhadap taste bud dapat
dibuktikan bahwa taste bud terdiri dari beberapa tipe sel dengan struktur yang
berbeda-beda berdasarkan ciri morfologinya seperti tampak pada gambar di
bawah ini :


26





27

Pada gambar skematik potongan melintang taste bud, dapat dilukiskan
bahwa taste bud pada bagian basal membuat kontak dengan saraf sensoris seperti
terlihat pada gambar di bawah ini














Diferensiasi sel-sel taste bud langsung tergantung dari hubungan dengan
terusan saraf yang mengelilinginya. Bila serabut saraf dipotong maka taste bud
akan hilang dan setelah serabut saraf tersebut mangalami regenerasi, terjadi lagi
diferensiasi sel-sel epitel menjadi sel-sel taste bud. Sel pengecap mempunyai
kecepatan regenerasi yang tinggi. Rata-rata sel pengecap mengalami penggantian
setiap 10 jam.

Mekaisme Pengecapan
Rasa dapat dikenal dan dibedakan oleh taste bud yang terdapat di dalam
papila lidah. Agar suatu senyawa yang dimakan dapat dikenal rasanya maka
senyawa tersebut harus dapat larut dalam saliva di dalam mulut, sehingga
senyawa tersebut dapat berkontak dengan mikrovilus dan impuls yang terbentuk
dapat dikirim melalui serabut saraf ke pusat susunan saraf.
28

Membran sel pengecapan memiliki muatan negatif pada bagian dalam
sedangkan pada bagian luar memiliki muatan positif. Penerimaan zat kimia oleh
rambut-rambut pengecap menyebabkan hilangnya sebagian dari muatan negatif
tersebut dan dikatakan bahwa sel pengecap mengalami depolarisasi. Perubahan
potensial pada sel pengecap merupakan potensial reseptor untuk pengecapan.
Taste bud mempunyai masa adaptasi yang sangat cepat, yaitu dalam waktu
dua detik pertama setelah kontak dengan rangsangan rasa yang akhirnya
memberikan respon berupa impuls rasa yang memungkinkan seorang individu
mampu mendeteksi rasa dari suatu zat.
Impuls saraf yang dihasilkan diteruskan ke serabut saraf pengecapan yang
kemudian diteruskan ke susunan saraf pusat yang dapat dilihat pada gambar di
bawah ini :



Impuls saraf pengecapan diteruskan ke serabut saraf sebagi berikut :
impuls pengecapan dari 2/3 anterior lidah mula-mula diteruskan ke saraf lingualis
atau saraf V, kemudian melalui korda timpani menuju ke saraf fasialis atau saraf
29

VII yang pada akhirnya menuju traktus solitarius pada batang otak. Impuls
pengecapan dari papila sirkumvalata pada bagian belakang lidah dan dari daerah
posterior rongga mulut yang lain akan diteruskankan melalui saraf glosofaringeus
atau saraf IX menuju traktus solitarius. Impuls pengecapan dari basis lidah dan
bagian-bagian lain dari daerah faring diteruskan melalui saraf vagus atau saraf X
menuju traktus solitaries.
Semua serabut saraf pengecapan bersinaps pada nukleus traktus solitarius
lalu dihantarkan melalui serabut saraf neuron kedua menuju nukleus medial
posterior sentral talamus. Dari talamus, neuron ketiga kemudian menghantarkan
serabut saraf menuju operkulum frontal dan insula anterior yang terletak pada
ujung bawah girus pascasentralis dalam fisura Sylvian yang menerima serabut
saraf dari lidah. Area ini merupakan area somatik I yang berperan dalam sensorik
somatik utama yaitu pusat pengecapan untuk mencetuskan persepsi dan
identifikasi rasa pengecap.
Di samping itu serabut saraf traktus solitarius mentransmisikan sejumlah
besar impuls pengecapan ke dalam batang otak dan langsung menuju nukleus
solitarius inferior dan superior yang akan menghantarkan impuls menuju kelenjar
submandibula, sublingual, dan parotis untuk membantu mengendalikan sekresi
saliva yang sangat penting selama proses pengecapan agar rasa makanan dapat
dikenal dan proses penting dalam penelanan makanan.
Persepsi pengecapan dapat timbul karena mekanisme penghantaran
impuls pengecapan dari reseptor pengecapan di rongga mulut menuju susunan
saraf pusat di area parietal operkulum dan insula korteks serebri yang merupakan
pusat pengecapan.






30

Penghantaran impuls pengecapan menuju susunan saraf pusat dapat ditunjukan
secara skematis pada gambar di bawah ini :




Kelainan Sensasi Rasa
Kelainan ini dapat diklasifikasikan menjadi kehilangan sensasi rasa total
(ageusia), berkurangnya ketajaman sensasi rasa (hypogeusia), dan ketidak
nyamanan atau perubahan fungsi sensasi rasa (dysgeusia). Keadaan ini dapat
disebabkan oleh beberapa kodisi, diantaranya :
- Beberapa kondisi yang mempengaruhi mulut dan lidah
Kondisi ini diantaranya adalah ulserasi, glositis, dan terbakar. Kondisi-kondisi
ini dapat menyebabkan kehilangan rasa secara sementara.
31

Pasien-pasien yang sedang mengalami radioterapi untuk terapi kanker di
daerah kepala dan leher biasanya akan mengalami gangguan dalam sensasi
rasa, hal ini dapat terjadi karena tubuh akan mengalami kehilangan
kemampuan dalam memproduksi saliva dan kerusakan sel perasa.
- Lesi yang mempengaruhi syaraf aferen perasa
Kondisi ini dapat dilihat pada pasien yang mengalami Bells Palsy,
- Penyebab utama
Penyebab ini bisasanya disebabkan oleh adanya tumor di otak yang mengenai
area kortikal perasa, atau juga dapat terjadi pada pasien yang mengalami
epilepsy.
- Obat-obatan
Beberapa obat yang digunakan memiliki efek samping terhadap pengecapan,
tanda-tanda yang dapat dilaporkan, diantaranya yaitu : metallic taste, mulut
terasa pahit, atau juga tidak dapat menggambarkan rasa yang dirasakan.
- Penyakit
Terdapat beberapa penyakit tertentu yang berpengaruh terhadap perubahan
pengecapan, misalnya : familial diysautonomia, yang merupakan keadaan
congenital dimana tidak memiliki taste bud dan papilla pengecapan.


FISIOLOGI RESEPTOR PENGHIDU
Reseptor rasa dan reseptor penghidu memiliki fungsi yang sama yaitu
menganalisis rangsangan kimia, namun keduanya memiliki perbedaan :
rangsangan kimia terhadap reseptor penghidu merupakan rangsangan yang berupa
gas, tetapi rangsangan kimia pada reseptor pengecapan merupakan rangsangan
yang berupa larutan.
Mukosa penghidu terdapat pada atap rongga hidung, konka superior dan
sepertiga bagian atas septum yang dilapisi epitel. Epitelnya dibentuk oleh tiga
macam sel, yaitu sel penunjang, sel basal dan sel reseptor penghidu. Daerah
mukosa penghidu berwarna coklat kekuningan.
32

Sel-sel ini memiliki silia yang mengarah ke bawah (ke rongga hidung) dan
serabut saraf yang mengarah ke atas (ke bulbus olfaktorius, yang merupakan
penonjolan pada setiap saraf olfaktorius/saraf penghidu). Hidung bekerja sebagai
indra penghidu dengan adanya mukosa olfaktorius pada atap rongga hidung,
konka superior dan sepertiga bagian atas septum.

Anatomi Reseptor Olfaktorius
Hidung mengandung 10-100 miliar reseptor olfaktorius yang berfungsi
untuk penciuman, yang mengandung epitel olfaktorius. Reseptor olfaktorius
merupakan neuron pertama dalam mekanisme penciuman, yang merupakan
neuron bipolar dengan dendrite yang terbuka dan akson yang berakhir pada bulbus
olfaktorius. Bagian dari reseptor olfaktorius yang merespon terhadap bahan kimia
yang terhisap adalah rambut olfaktorius.
Bahan kimia yang berbau dan menstimulasi rambut olfaktorius disebut
sebagai odorant. Reseptor olfaktorius merespon terhadap stimulasi kimia yang
bertindak sebagai molekul odorant dengan memproduksi potensial listrik, yang
kemudian akan memulai respon olfaktorius.
Sel pendukung pada mukosa hidung merupakan sel epitel columnar yang
melapisi membrane mukosa pada hidung. Sel ini menyediakan dukungan fisik,
nutrisi, insulasi listrik untuk reseptor olfaktorius, dan juga membantu dalam
mendetoksifikasi bahan kimia yang berkontak dengan epitel olfaktorius.Sel basal
merupakan sel yang berlokasi di bawah sel pendukung, yang kemudian akan
mengalami pembelahan untuk memproduksi reseptor olfaktorius yang baru yang
dapat bertahan sekitar satu bulan.
Diantara jaringan ikat yang mendukung epitel olfaktorius, terdapat
kelenjar olfaktorius yang disebut dengan kelenjar Bowmans. kelenjar ini akan
memproduksi mucus yang akan dibawa menuju permukaan epithelium melalui
duktus. Sekresi kelenjar ini akan mengakibatkan epitel olfaktorius hidung menjadi
lembab yang akan melarutkan odorant sehingga prose transduksi dimulai. Sel
pendukung dari epitel hidung dan kelenjar olfaktorius dipersarafi oleh cabang
saraf fasial (VII).
33








Fisiologi Penghidu
Reseptor olfaktorius akan bereaksi dengan molekul dari odorant melalui
mekanisme yang sama dengan reaksi reseptor sensoris terhadap stimulus spesifik.
Mula-mula akan terjadi potensial listrik (depolarisasi) dan menjadi pencetus
terhadap timbulnya impuls saraf. Pada beberapa kasus, odoran dapat berikatan
dengan protein reseptor olfaktorius pada membrane plasma di rambut olfaktorius.

34




Protein reseptor olfaktorius berpasangan dengan protein membrane yang
disebut dengan protein G yang akan mengaktivasi enzim adenylate cyclase.
Sebagai hasilnya, maka akan terjadi beberapa hal : terbentuknya cyclic adenosine
monophosphate (cAMP) yang akan menyebabkan terbukanya chanel ion sodium
yang menyebabkan masuknya ion Na
+
sehingga terjadi depolarisasi dan
terbangkitnya impuls saraf.

Mekanisme Penghidu
Pada satu sisi hidung, bundelan kecil akson tidak bermielin dari reseptor
olfaktorius keluar melalui foramen olfaktorius pada lempeng cribiformis di tulang
etmoidalis. Bundle akson ini secara bersamaan akan membentuk saraf olfaktorius
yang berakhir di otak yang membentuk masa berwarna abu-abu dan disebut
dengan bulbus olfaktorius yang berlokasi di bawah lobus frontal cerebrum dan di
lateral Krista gali tulang etmoidalis.
Akson dari saraf bulbus olfaktorius meluas ke posterior dan membentuk
traktus olfaktorius. Beberapa akson dari traktus olfaktorius berproyeksi menuju
35

area olfaktorius primer pada korteks serebri (yang berlokasi di bawah dan mesial
permukaan lobus temporalis). Pada area olfaltorius primer ini, bau mulai disadari.
Dari area olfaktorius primer, perjalanan akan meluas menuju lobus
frontalis otak. Ini merupakan region yang penting dalam mengidentifikasi bau.
Sedangkan region yang berperan dalam mendiskriminasi bau adalah area
orbitofrontal. Manusia yang mengalami kerusakan pada area ini akan sulit dalam
mengidentifikasi bau yang berbeda.


36

FISIOLOGI RESEPTOR TAKTIL
Taktil di daerah orofasial penting saat kita makan dan sensasi pada wajah
secara umum. Sehingga reseptor taktil penting selama pengunyahan, memberikan
informasi posisi makanan di dalam mulut, dan selama berbicara untuk memonitor
posisi lidah. Reseptor taktil ini secara umum disebut sebagai mekanoreseptor,
istilah ini digunakan karena reseptor ini merespon stimulasi non noksius
mekanikal dengan ambang rangsang yang rendah.
Sensasi taktil ini termasuk : sentuh, tekan, getar, gatal, dan geli. Walaupun
terdapat beberapa sensasi yang berbeda, biasanya itu timbul dengan mengaktivasi
beberapa tipe reseptor yang sama. Misalnya : beberapa tipe mekanoreseptor tidak
berkapsul yang melekat pada serabut saraf A bermielin dengan diameter besar
yang akan memediasi sensasi sentuh, tekan, getar. Sensasi taktil lainnya seperti
gatal dan geli akan dideteksi oleh saraf berujung bebas yang melekat pada serabut
saraf C tidak bermielin dengan dimeter kecil.
Jaringan pada regio orofasial memiliki sensitifitas yang lebih tinggi
dibandingkan dengan bagian tubuh lainnya. Nilai ambang untuk sensasi sentuh di
lidah, palatum keras, dan bibir adalah 10-20mg atau kurang, gigi incisivus 0,5-
1gram dan bertambah kearah posterior. Sensitivitas diskriminasi dua titik di ujung
lidah adalah 1-2mm, hampir sama dengan di ujung jari. Di daerah wajah (cuping
hidung : 3,3mm).
Reseptor pada kulit wajah, mukosa oral, periodonsium, dan sendi
temporomandibular yang bertanggung jawab terhadap sensitibilitas terhadap
stimulus mekanik dikategorikan dalam reseptor tipe saraf berujung bebas dan
korpuskulus yang dibedakan secara anatomis. Secara fungsional berbagai
mekanoreseptor yang di temukan di regio orofasial, terutama berhubungan dengan
serabut saraf aferen tipe A-beta dan A-delta yang dapat mendeteksi percepatan,
posisi statik stimulus mekanik yang diaplikasikan ke region orofasial.
Jalur aferen dari mekanoreseptor regio orofasial adalah saraf trigeminus
yang berjalan melalui ganglion trigeminal (neuron orde-I) ke nucleus kompleks
sensorik trigeminal di batang otak (neuron orde-II). Transmisi sinaptik terjadi di
nukleus tersebut.
37




Sentuh
Sensasi sentuh biasanya dihasilkan dari stimulasi reseptor taktil pada kulit
atau laipsan subkutaneus.
Terdapat dua tipe reseptor sentuh yang beradaptasi secara cepat, yaitu :
- Korpuskulus Meissner
Merupakan reseptor sentuh yang berlokasi di permukaan dermal kulit yang
tidak berrambut. Reseptor ini berbentuk seperti telur dengan dendrite tertutup
kapsul jaringan ikat. Reseptor ini biasanya terdapat pada ujung jari, tangan,
kelopak mata, ujung lidah, bibir, puting payudara, dan alat genital.
- Hair Root plexus
Reseptor ini ditemukan pada daerah kulit yang berrambut, reseptor ini terdiri
dari saraf berujung bebas yang dibungkus sekeliling folikel rambut. Reseptor
ini dapat mendeteksi perpindahan pada permukaan kulit.
Terdapat dua tipe reseptor sentuh yang beradaptasi secara lambat, yaitu :
- Diskus Merkel (mekanoreseptor kulit tipe I)
38

Berbentuk seperti piring, akhiran saraf bebas yang datar berkontak dengan sel
Merkel pada stratum basale. Reseptor ini banyak terdapat pada ujung jari,
tangan, bibir, alat genital bagian luar.
- Korpuskulus Ruffini (mekanoreseptor kulit tipe II)
Merupakan reseptor yang tidak berkapsul yang berlokasi di bagian dalam
dermis, ligament, dan tendon. Reseptor ini terdapat pada tangan, dan sangat
banyak pada telapak kaki.

Takan
Tekan merupakan sensasi berkelanjutan, yang terasa pada area lebih luas
dibandingkan dengan sentuhan dan terjadi perubahan bentuk jaringan yang lebih
dalam. Reseptor yang terlibat dalam sensasi tekan ini adalah korpuskulus
Meissner, diskus Merkel, dan korpuskulus Pacini.
Korpuskulus Pacini merupakan suatu struktur berbentuk oval yang disusun
oleh kapsul jaringan ikat yang berlapis-lapis yang melindungi dendrite. Sama
seperti korpuskulus Meissner, korpuskulus Pacini dapat cepat beradaptasi.
Korpuskulus Pacini ini tersebar luas di tubuh : pada lapisan dermis dan
subkutaneus, jaringan submukosa, sekeliling sendi, tendon, dan otot, periosteum,
kelenjar di payudara, genitalia eksternal, dan juga organ dalam (pancreas dan
kandung kemih).

Getar
Sensasi getar ini dihasilkan dari sinyal sensoris yang berulang-ulang secara
cepat dari reseptor taktil. Reseptor yang berperan untuk sensasi getar ini adalah
korpuskulus Meissner dan korpuskulus Pacini. Korpuskulus Meissner akan
mendeteksi getaran dengan frekuensi yang rendah, sedangkan korpuskulus Pacini
akan mendeteksi getaran dengan frekuensi yang tinggi.




39

Gatal
Sensasi gatal merupakan hasil dari stimulasi terhadap saraf berujung bebas
oleh bradikinin atau juga karena adanya respon inflamasi local (bradikinin dan
kinin yang merupakan vasodilator yang kuat).

Geli
Saraf berujung bebas juga bertindak dalam memperantarai sensasi geli. Ini
merupakan sensasi yang terjadi hanya ketika orang lain menyentuh kamu, tidak
ketika kamu menyentuh dirimu sendiri.


FISIOLOGI RESEPTOR SUHU
Rongga mulut tidak hanya sensitive terhadap rasa, bau, dan tekstur dari
makanan, tetapi juga sensitive terhadap suhu dari makanan. Reseptor suhu di
rongga mulut sangat penting dalam melindungi mulut dari suhu panas atau dingin
yang ekstrim. Reseptor suhu ini dikenal dengan sebutan termoreseptor merupakan
saraf berujung bebas. Terdapat dua sensasi termal yang berbeda, yaitu panas dan
dingin yang dapat dideteksi oleh dua reseptor yang berbeda.
Reseptor dingin terdapat pada stratum basale epidermis dan melekat pada
serabut A bermielin diameter sedang, walaupun ada juga beberapa yang melekat
pada serabut C tidak bermielin diameter kecil. Suhu yang berkisar diantara 10
O
C
dan 40
O
C (50-105
O
F) akan mengaktifkan reseptor dingin. Reseptor panas tidak
sebanyak reseptor dingin, reseptor ini berlokasi pada dermis dan melekat pada
serabut C tidak bermielin diameter kecil yang dapat diaktivasi oleh temperature
yang berkisar antara 32
O
C dan 48
O
C (90-118
O
F).
Reseptor panas dan dingin keduanya dapat beradaptasi dengan cepat
terhadap stimulus. Temperature dibawah 10
O
C dan diatas 48
O
C akan lebih
menstimulasi reseptor nyeri daripada termoreseptor yang kemudian akan
memproduksi sensasi nyeri.


40

Sensasi Temperatur (suhu)
Besarnya perubahan temperature dibawah 1
O
C akan segera dapat dideteksi
dan didiskriminasi dengan baik di regio orofasial. deteksi dan diskriminasi
temperatur sangat bervariasi bergantung pada kecepatan dan besarnya perubahan
suhu dan area termal yang distimulasi. Kecepatan perubahan temperatur untuk
mendeteksi hangat dan dingin adalah 0,1
O
C perdetik.
Semakin besar/lebih besar area yang distimulasi, maka dapat lebih kecil
intensitas rangsang suhu yang diperlukan untuk menimbulkan sensasi pada tingkat
yang sama. Pada suhu 29-37
O
C akan terjadi adaptasi suhu, dan serabut saraf yang
terlibat dalam sensitivitas termal adalah serabut saraf aferen terutama serabut saraf
A-delta dan tipe C. Serabut saraf ini sensitif terhadap perubahan termal, walaupun
perubahan yang terjadi sangat sedikit, baik pada serabut saraf penghantar impuls
dingin maupun hangat yang disampaikan secara langsung ke otak untuk
dipersepsi, sesuai dengan informasi rangsangnya, lokasi, besarnya rangsang, dan
kecepatan perubahan temperatur.