Anda di halaman 1dari 14

CHOLELITHIASIS

I. PENDAHULUAN
Kolelitiasis merupakan adanya atau pembentukan batu empedu batu ini mungkin terdapat
dalam kandung empedu (cholecystolithiasis) atau dalam ductus choledochus
(choledocholithiasis).
1,2

Kolelitiasis (kalkuli/kalkulus, batu empedu) merupakan suatu keadaan dimana
terdapatnya batu empedu di dalam kandung empedu (vesica fellea) yang memiliki ukuran,
bentuk dan komposisi yang bervariasi. Kolelitiasis lebih sering dijumpai pada individu berusia
diatas 40 tahun terutama pada wanita dikarenakan memiliki factor resiko,yaitu: obesitas, usia
lanjut, diet tinggi lemak dan genetik.
1

Sinonim batu empedu adalah gallstones, biliary calculus. Istilah kolelitiasis dimaksudkan
untuk pembentukan batu di dalam kandung empedu. Batu kandung empedu merupakan
gabungan beberapa unsur yang membentuk suatu material mirip batu yang terbentuk di dalam
kandung empedu.
1,2

Gambar 1. Batu dalam kandung empedu.
Batu empedu yang mengandung material kristal atau amorf dapat mempunyai berbagai
macam bentuk. Batu itu di bentuk di dalam vesica vellea. Empedu terdiri dari larutan netraldari
garam empedu yang terikat (conjugated bile salt) dalam bentuk natrium, kolestrol, fosfolipid dan
pigmen empedu
.(buku gastro)

Sebagian besar pasien dengan batu empedu tidak mempunyai keluhan. Risiko
penyandang batu empedu untuk mengalami gejala dan komplikasi relatif kecil. Namun, sering
menimbulkan gejala sumbatan sebagian (partial obstruction), dan menimbulkan gejala kolik.
Pada dasarnya dilatasi saluran empedu sangat bergantung pada berat atau tidaknya obstruksi
yang terjadi. Pada penderita-penderita yang mengalami obstruksi parsial baik disebabkan oleh
batu duktus choledochus, tumor papilla vateri atau cholangitis sklerosis, kadang-kadang tidak
memperlihatkan pelebaran saluran empedu sama sekali, tetapi mungkin saja dijumpai pelebaran
yang berkala. Bila menimbulkan gejala sumbatan, akan timbul tanda cholestasis ekstrahepatal.
Di samping itu dapat terjadi infeksi, timbul gejala cholangitis, dan cairan empedu menjadi kental
dan berwarna coklat tua (biliary mud). Dinding dari duktus choledochus menebal dan mengalami
dilatasi disertai dengan ulserasi pada mukosa terutama di sekitar letak batu dan di ampula
vateri.
3,4

II. INSIDENS DAN EPIDEMIOLOGI
Kasus batu empedu sering ditemukan di Amerika Serikat yang mengenai 20% penduduk
dewasa. Setiap tahunnya, beberapa ratus ribu orang yang menderita penyakit ini menjalani
pembedahan saluran empedu. Batu empedu relatif jarang terjadi pada usia dua dekade pertama.
Namun, ada sumber menyatakan bahwa jumlah wanita usia 20 - 50 tahun yang menderita batu
empedu kira-kira 3 kali lebih banyak dari pada laki-laki. Setelah usia 50 tahun, rasio penderita
batu empedu hampir sama antara pria dan wanita. Insidensi batu empedu meningkat sering
bertambahnya usia. Faktor ras dan familial tampaknya berkaitan dengan semakin tinggi pada
orang Amerika asli, diikuti oleh orang kulit putih, dan akhirnya orang Afro-Amerika. Batu
saluran empedu primer lebih banyak ditemukan pada pasien di wilayah Asia dibandingkan
dengan pasien di negara barat.
3,5,6

III. ETIOLOGI
Batu Empedu hampir selalu dibentuk dalam kandung empedu dan jarang dibentuk pada
bagian saluran empedu lain. Etiologi batu empedu masih belum diketahui. Satu teori menyatakan
bahwa kolesterol dapat menyebabkan supersaturasi empedu di kandung empedu. Setelah
beberapa lama, empedu yang telah mengalami supersaturasi menjadi mengkristal dan mulai
membentuk batu. Akan tetapi, tampaknya faktor predisposisi terpenting adalah gangguan
metabolisme yang menyebabkan terjadinya perubahan komposisi empedu, stasis empedu, dan
infeksi kandung empedu.
5,6

Berbagai faktor yang mempengaruhi pembentukan batu empedu, di nataranya:
1. Eksresi garam empedu
Setiap faktor yang menurunkan konsentrasi berbagai garam empedu atau fosfolipid dalam
empedu. Asam empedu dihidroksi atau dihydroxy bile acids adalah kurang polar dari pada asam
trihidroksi. Jadi dengan bertambahnya kadar asam empedu dihidroksi mungkin menyebabkan
terbentuknya batu empedu.
2. Kholestrol empedu
Apa bila binatanang percobaan di beri diet tinggi kolestrol, sehingga kadar kolesrtol dalam
vesika vellea sangat tinggi, dapatlah terjadi batu empedu kolestrol yang ringan. Kenaikan
kholestrol empedu dapat di jumpai pada orang gemuk, dan diet kaya lemak.
3. Substansia mukus
Perubahan dalam banyaknya dan komposisi substansia mukus dalam empedu mungkin penting
dalam pembentukan batuempedu.
4. Pigmen empedu
Pada anak muda terjadinya batu empedu mungkin di sebabkan karena bertambahya pigmen
empedu. Kenaikan pigmen empedu dapat terjadi karena hemolisis yang kronis. Eksresi bilirubin
adalah berupa larutan bilirubin glukorunid.
5. Infeksi
Adanya infeksi dapat menyebabkan krusakan dinding kandung empedu, sehinggamenyebabkan
terjadinya stasis dan dengan demikian menaikan pembentukan batu.
IV. ANATOMI DAN FISIOLOGI
Kandung empedu (Vesica fellea) adalah kantong berbentuk buah pear yang terletak pada
permukaan visceral hepar, panjangnya sekitar 7 10 cm. Kapasitasnya sekitar 30-50 cc dan
dalam keadaan terobstruksi dapat menggembung sampai 300 cc. Vesica fellea dibagi menjadi
fundus, corpus dan collum. Fundus berbentuk bulat dan biasanya menonjol dibawah pinggir
inferior hepar yang dimana fundus berhubungan dengan dinding anterior abdomen setinggi ujung
rawan costa IX kanan. Corpus bersentuhan dengan permukaan visceral hati dan arahnya keatas,
belakang dan kiri. Collum dilanjutkan sebagai duktus cysticus yang berjalan dalam omentum
minus untuk bersatu dengan sisi kanan ductus hepaticus comunis membentuk duktus koledokus.
Peritoneum mengelilingi fundus vesica fellea dengan sempurna menghubungkan corpus dan
collum dengan permukaan visceral hati.
1,2,3

Pembuluh arteri kandung empedu adalah arteri cystica, cabang arteri hepatica kanan.
Vena cystica mengalirkan darah lengsung kedalam vena porta. Sejumlah arteri yang sangat kecil
dan vena vena juga berjalan antara hati dan kandung empedu. Pembuluh limfe berjalan menuju
ke nodi lymphatici cysticae yang terletak dekat collum vesica fellea. Dari sini, pembuluh limfe
berjalan melalui nodi lymphatici hepaticum sepanjang perjalanan arteri hepatica menuju ke nodi
lymphatici coeliacus. Saraf yang menuju kekandung empedu berasal dari plexus coeliacus.
1,2,3

Gambar 2. Anatomi empedu.
Vesica fellea berperan sebagai resevoir empedu dengan kapasitas sekitar 50 ml. Vesica
fellea mempunya kemampuan memekatkan empedu. Dan untuk membantu proses ini,
mukosanya mempunyai lipatan-lipatan permanen yang satu sama lain saling berhubungan.
Sehingga permukaanya tampak seperti sarang tawon. Sel- sel thorak yang membatasinya juga
mempunyai banyak mikrovilli. Empedu dibentuk oleh sel-sel hati ditampung di dalam kanalikuli.
Kemudian disalurkan ke duktus biliaris terminalis yang terletak di dalam septum interlobaris.
Saluran ini kemudian keluar dari hati sebagai duktus hepatikus kanan dan kiri. Kemudian
keduanya membentuk duktus biliaris komunis. Pada saluran ini sebelum mencapai doudenum
terdapat cabang ke kandung empedu yaitu duktus sistikus yang berfungsi sebagai tempat
penyimpanan empedu sebelum disalurkan ke duodenum.
1,2

Pengosongan Kandung Empedu
Empedu dialirkan sebagai akibat kontraksi dan pengosongan parsial kandung empedu.
Mekanisme ini diawali dengan masuknya makanan berlemak kedalam duodenum. Lemak
menyebabkan pengeluaran hormon kolesistokinin dari mukosa duodenum, hormon kemudian
masuk kedalam darah, menyebabkan kandung empedu berkontraksi. Pada saat yang sama, otot
polos yang terletak pada ujung distal duktus coledokus dan ampula relaksasi, sehingga
memungkinkan masuknya empedu yang kental ke dalam duodenum. Garam garam empedu
dalam cairan empedu penting untuk emulsifikasi lemak dalam usus halus dan membantu
pencernaan dan absorbsi lemak. Proses koordinasi kedua aktifitas ini disebabkan oleh dua hal
yaitu:
1,2

a) Hormonal: Zat lemak yang terdapat pada makanan setelah sampai duodenum akan merangsang
mukosa sehingga hormon Cholecystokinin akan terlepas. Hormon ini yang paling besar
peranannya dalam kontraksi kandung empedu.
b) Neurogen:
Stimulasi vagal yang berhubungan dengan fase Cephalik dari sekresi cairan lambung
atau dengan refleks intestino-intestinal akan menyebabkan kontraksi dari kandung
empedu.
1,

Rangsangan langsung dari makanan yang masuk sampai ke duodenum dan mengenai
Sphincter Oddi. Sehingga pada keadaan dimana kandung empedu lumpuh, cairan
empedu akan tetap keluar walaupun sedikit.
1

V. PATOGENESIS DAN TIPE BATU
Pada umumnya batu empedu dapat dibagi menjadi 3 tipe, yaitu :
1,3,7

1. Tipe kolesterol
2. Tipe pigmen empedu
3. Tipe campuran
Untuk batu saluran empedu dapat diklasifikasikan menjadi tiga kategori mayor, yaitu:
3,7

1) Batu kolesterol di mana komposisi kolesterol melebihi 70%. Terjadinya batu kolesterol adalah
akibat gangguan hati yang mengekskresikan kolesterol berlebihan hingga kadarnya di atas nilai
kritis kelarutan kolesterol dalam empedu.
2) Batu pigmen coklat atau batu calcium bilirubinate yang mengandung Ca-bilirubinate sebagai
komponen utama. Tipe pigmen biasanya adalah akibat proses hemolitik atau infestasi
Escherichia coli atau Ascaris lumbricoides ke dalam empedu yang dapat mengubah bilirubin
diglukuronida menjadi bilirubin bebas yang mungkin dapat menjadi kristal kalsium bilirubin.
3) Batu pigmen hitam yang kaya akan residu hitam tak terekstraksi.
Ada tiga faktor penting yang berperan dalam patogenesis batu kolesterol : 1) hipersaturasi
kolesterol dalam kandung empedu, 2) percepatan terjadinya kristalisasi kolesterol dan 3)
gangguan motilitas kandung empedu dan usus.
3

Patogenesis batu pigmen melibatkan infeksi saluran empedu, stasis empedu, malnutrisi,
dan faktor diet. Kelebihan aktifitas enzim -glucuronidase bakteri dan manusia (endogen)
memegang peran kunci dalam patogenesis batu pigmen pada pasien di negara timur. Hidrolisis
bilirubin oleh enzim tersebut akan membentuk bilirubin tak terkonjugasi yang akan mengendap
sebagai calcium bilirubinate. Enzim -glucuronidase bakteri berasal dari kuman E. coli dan
kuman lainnya di saluran empedu. Enzim ini dapat dihambat oleh glucarolactone yang
konsentrasinya meningkat pada pasien dengan diet rendah protein dan rendah lemak.
3

Beberapa faktor risiko terjadinya batu empedu antara lain jenis kelamin, umur, hormon
wanita, infeksi (cholecystitis), kegemukan, kehamilan, terapi hormon, kehilangan berat badan
yang cepat, penyakit crohn, trigliserida darah yang meningkat serta faktor genetik.
3,7

VI. DIAGNOSIS
VI.1. Gambaran Klinis
Kebanyakan orang dengan batu empedu (60% sampai 80%) tidak memiliki gejala. Pada
kenyataannya, mereka biasanya tidak menyadari bahwa mereka memiliki batu empedu kecuali
gejala-gejala muncul. Ini di namakan "silent gallstones" biasanya tidak memerlukan
pengobatan.
8

Gejala umumnya terjadi setelah komplikasi. Gejala yang paling umum adalah nyeri di
bagian atas kanan perut. Karena nyeri yang terjadi berepisode, sering sebagai serangan.
3,8

Serangan dapat terjadi setiap beberapa hari, minggu, atau bulan, mereka bahkan
mungkin dipisahkan oleh tahun.
Rasa sakit biasanya dimulai dalam waktu 30 menit setelah makanan berlemak atau
berminyak.
Rasa sakit ini biasanya memberat, nyeri tumpul, dan menetap, dan dapat berlangsung
dari satu sampai lima jam.
Nyeri ini dapat menjalar ke bahu kanan atau punggung belakang.
Ini sering terjadi pada malam hari dan dapat membangunkan orang dari tidur .
Rasa sakit dapat membuat orang bergerak disekelilingnya untuk mencari bantuan, tetapi
banyak pasien lebih memilih untuk berbaring diam dan menunggu serangan mereda.
Gejala umum lainnya dari batu empedu adalah sebagai berikut:
8

mual dan muntah ,
demam ,
gangguan pencernaan , sendawa , kembung,
intoleransi makanan berlemak atau berminyak, dan
sakit kuning (menguningnya kulit atau putih mata).
Penderita dapat berkeringat banyak atau berjalan mondar-mandir atau berguling ke kanan
dan ke kiri di atas tempat tidur. Pasien sering memiliki riwayat dispepsia, intoleransi lemak,
nyeri ulu hati, atau flatulen yang berlangsung lama.
5

VI.2. Pemeriksaan Fisik
Batu kandung empedu
Apabila ditemukan kelainan, biasanya berhubungan dengan komplikasi, seperti
kolesistitis akut dengan peritonitis lokal atau umum, hidrop kandung empedu, empiema kandung
empedu, atau pangkretitis. Pada pemeriksaan ditemukan nyeri tekan dengan punktum maksimum
didaerah letak anatomis kandung empedu. Tanda murphy positif apabila nyeri tekan bertambah
sewaktu penderita menarik nafas panjang karena kandung empedu yang meradang tersentuh
ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik nafas.
1,2

Batu saluran empedu
Baru saluran empedu tidak menimbulkan gejala dalam fase tenang. Kadang teraba
hatidan sklera ikterik. Perlu diktahui bahwa bila kadar bilirubin darah kurang dari 3 mg/dl, gejal
ikterik tidak jelas. Apabila sumbatan saluran empedu bertambah berat, akan timbul ikterus klinis.

1,2

VI.3. Pemeriksaan Radiologis
Manfaat pemeriksaan radiologi intervensional, diantaranya :
Digunakan pemeriksaan endoscopic retrograde cholangiopancreatography dan percutaneous
transhepatic cholangiography.
Radiologi intervensional memiliki keakuratan yang sangat tinggi untuk mendeteksi cholelithiasis
dan sebagai akses dalam memberikan terapi.
Merupakan suatu tatacara yang invasif dengan risiko terjadinya pankreatitis, hemoragik dan sepsis.
Pemeriksaan untuk menunjukkan lokasi batu dalam saluran empedu, antara lain:
6

a. CT Scan Abdominal
b. Endoscopic retrograde cholangiography (ERCP)
c. Magnetic resonance cholangiopancreatography (MRCP)
d. Percutaneous transhepatic cholangiogram (PTCA)
VI.3.a. Ultrasonografi
Ultrasonografi mempunyai derajat spesifisitas dan sensitifitas yang tinggi untuk
mendeteksi batu kandung empedu dan pelebaran saluran empedu intrahepatik maupun ekstra
hepatik. Dengan USG juga dapat dilihat dinding kandung empedu yang menebal karena fibrosis
atau udem yang diakibatkan oleh peradangan maupun sebab lain. Batu yang terdapat pada duktus
koledukus distal kadang sulit dideteksi karena terhalang oleh udara di dalam usus. Dengan USG
punktum maksimum rasa nyeri pada batu kandung empedu yang ganggren lebih jelas daripada
dengan palpasi biasa.
1,2

Gambar 4.US Abdomen
Pelebaran saluran empedu merupakan tabung (tubulus) yang anekoik (cairan) dengan
dinding hiperekoik yang berkelok-kelok dan sering berlobulasi. Kadang-kadang berkonfluensi
membentuk gambaran stellata yang tidak terdapat pada vena porta. Pada dinding bawah bagian
posteriornya mengalami penguatan akustik (acoustic enhancement).

Bila kita ragu-ragu apakah
suatu duktus choledochus melebar atau tidak, maka pemeriksaan dilakukan setelah penderita
diberi makan lemak terlebih dahulu. Pada keadaan obstruksi duktus choledochus, maka setelah
fatty meal tersebut akan terlihat lebih lebar; sedangkan pelebaran fisiologik, misalnya pada usia
tua, di mana elastisitas dinding saluran sudah berkurang, maka diameternya akan menjadi lebih
kecil. Prosedur ini akan memberikan hasil yang paling akurat jika pasien sudah berpuasa pada
malam harinya sehingga kandung empedunya berada dalam keadaan distensi.
6

VI.3.b. Foto Polos Abdomen
Foto polos abdomen biasanya tidak memberikan gambaran yang khas karena hanya
sekitar 10-15% batu kandung empedu yang bersifat radioopak. Kadang kandung empedu yang
mengandung cairan empedu berkadar kalsium tinggi dapat dilihat dengan foto polos. Pada
peradangan akut dengan kandung empedu yang membesar atau hidrops, kandung empedu
kadang terlihat sebagai massa jaringan lunak di kuadran kanan atas yang menekan gambaran
udara dalam usus besar, di fleksura hepatica.
1,2

Gambar 5. X-ray opaque gallstones.
VI.3.c. Computed Tomography (CT)
Batu ginjal dengan kalsifikasi memberikan gambaran yang khas pada pemeriksaan CT
scan tapi tidak jelas menggambarkan batu ginjal tanpa kalsifikasi.
Komplikasi seperti sumbatan saluran empedu dan kolesistitis juga dapat terlihat pada
pemeriksaan ini tapi USG merupakan tes investigasi yang utama.
9

Gambar 6: CT Scan abdomen
VI.3.d. Pemeriksaan Cholecystography
Untuk penderita tertentu, kolesistografi dengan kontras cukup baik karena relatif murah,
sederhana, dan cukup akurat untuk melihat batu radiolusen sehingga dapat dihitung jumlah dan
ukuran batu. Kolesistografi oral akan gagal pada keadaan ileus paralitik, muntah, kadar bilirubun
serum diatas 2 mg/dl, okstruksi pilorus, dan hepatitis karena pada keadaan-keadaan tersebut
kontras tidak dapat mencapai hati. Pemeriksaan kolesitografi oral lebih bermakna pada penilaian
fungsi kandung empedu.
2

Gambar 7: Kolesistografi
VI.3.e. Endoscopic Retrograde Cholangiopancreatography (ERCP)
ERCP terutama digunakan untuk mendiagnosa dan mengobati penyakit-penyakit saluran
empedu termasuk batu empedu. Sampai saat ini, endoscopic retrograde
cholangiopancreatography (ERCP) menjadi kriteria standar untuk diagnosis dan terap. Karena
ERCP merupakan pedoman tehnik diagnostik untuk visualisasi lithiasis traktus biliaris.
Bagaimanapun ini merupakan teknik yang invasif dan dihubungkan dengan kelahiran maupun
kematian.
6

ERCP merupakan kombinasi antara sebuah endoskopi (panjang,fleksibel, pipa bercahaya)
dengan prosedur fluoroskopi yang menggunakan sinar X pada biliaris memberikan efek yang
sama seperti MRCP, tetapi keuntungan yang didapatkan pada sesuai dengan prosedur terapi
seperti sfingterotomi dengan pengangkatan batu dan penempatan biliaris. ERCP dikerjakan
dengan menyuntikkan bahan kontras di bawah fluoroskopi melalui jarum sempit, gauge berada
di dalam parenkim hati. Ini penting, keuntungannya memungkinkan operator mengadakan
drainage empedu, bila perlu biopsi jarum (needle biopsy). Drainage dari kumpulan cairan dan
menempatkan eksternal dan internal drainage stents dapat dikerjakan secara perkutan.
6,10

Pemeriksaan ERCP memerlukan waktu sekitar 30 menit hingga 2 jam. Sebaiknya untuk
prosedur yang aman dan akurat, perut dan duodenum harus dikosongkan. Tidak boleh makan
atau minum apapun setelah tengah malam sebelum malam melakukan prosedur, atau untuk 6
hingga 8 jam sebelumnya, tergantung dari waktu sesuai dengan prosedur dan juga operator harus
mengetahui adanya alergi atau tidak, khususnya terhadap iodine.
11

Gambar 9. Cholelithiasis (panah) dideteksi oleh endoscopic retrograde
cholangiopancreatography (ERCP).
VI.4. Pemeriksaan Laboratorium
Tes laboratorium sangat membantu, tetapi memberikan hasil yang tidak spesifik untuk
diagnosis cholelithiasis. Karena pasien dengan cholelithiasis tidak menimbulkan gejala atau
sering asimptomatik sehingga hasil tes laboratorium normal berarti tidak ditemukan kelainan.
Pada pasien dilakukan pemeriksaan darah yaitu bilirubin, tes fungsi hati, dan enzim pankreatik.
Hasil yang diperoleh, diantaranya :
3,6

o Meningkatnya serum kolesterol
o Meningkatnya fosfolipid
o Menurunnya ester kolesterol
o Meningkatnya protrombin serum time
o Tes fungsi hati ; meningkatnya bilirubin total lebih dari 3mg/dL, transaminase (serum glumatic-
pyruvic transaminase dan serum glutamic-oxaloacetic transaminase) meningkat pada pasien
choledocholithiasis dengan komplikasi cholangitis, pankreatitis atau keduanya.
o Menurunnya urobilirubin
o Jumlah darah ; meningkatnya sel darah putih sebagai tanda adanya infeksi atau inflamasi, tapi
penemuan ini non-spesifik.
o Kultur darah ; seringkali positif pada cholangitis.
VII. KOMPLIKASI
Komplikasi yang dapat terjadi pada penderita kolelitiasis:
2

a. Asimtomatik
b. Obstruksi duktus sistikus
c. Kolik bilier
d. Kolesistitis akut
Empiema
Perikolesistitis
Perforasi
e. Kolesistitis kronis
Hidrop kandung empedu
Empiema kandung empedu
Fistel kolesistoenterik
Ileus batu empedu (gallstone ileus)
Kolesistokinin yang disekresi oleh duodenum karena adanya makanan mengakibatkan/
menghasilkan kontraksi kandung empedu, sehingga batu yang tadi ada dalam kandung empedu
terdorong dan dapat menutupi duktus sistikus, batu dapat menetap ataupun dapat terlepas lagi.
Apabila batu menutupi duktus sitikus secara menetap maka mungkin akan dapat terjadi mukokel,
bila terjadi infeksi maka mukokel dapat menjadi suatu empiema, biasanya kandung empedu
dikelilingi dan ditutupi oleh alat-alat perut (kolon, omentum), dan dapat juga membentuk suatu
fistel kolesistoduodenal. Penyumbatan duktus sistikus dapat juga berakibat terjadinya kolesistitis
akut yang dapat sembuh atau dapat mengakibatkan nekrosis sebagian dinding (dapat ditutupi alat
sekiatrnya) dan dapat membentuk suatu fistel kolesistoduodenal ataupun dapat terjadi perforasi
kandung empedu yang berakibat terjadinya peritonitis generalisata.
1,2

Batu kandung empedu dapat maju masuk ke dalam duktus sistikus pada saat kontraksi
dari kandung empedu. Batu ini dapat terus maju sampai duktus koledokus kemudian menetap
asimtomatis atau kadang dapat menyebabkan kolik. Batu yang menyumbat di duktus koledokus
juga berakibat terjadinya ikterus obstruktif, kolangitis, kolangiolitis, dan pankretitis.
1,2

Batu kandung empedu dapat lolos ke dalam saluran cerna melalui terbentuknya fistel
kolesitoduodenal. Apabila batu empedu cukup besar dapat menyumbat pada bagian tersempit
saluran cerna (ileum terminal) dan menimbulkan ileus obstruksi.
1,2

VIII. PENATALAKSANAAN
Jika tidak ditemukan gejala, maka tidak perlu dilakukan pengobatan. Nyeri yang hilang-
timbul bisa dihindari atau dikurangi dengan menghindari atau mengurangi makanan berlemak.
Pilihan penatalaksanaak antara lain :
1,2

1. Kolesistektomi terbuka
Operasi ini merupakan standar terbaik untuk penanganan pasien denga kolelitiasis
simtomatik. Komplikasi yang paling bermakna yang dapat terjadi adalah cedera duktus biliaris
yang terjadi pada 0,2% pasien. Angka mortalitas yang dilaporkan untuk prosedur ini kurang dari
0,5%. Indikasi yang paling umum untuk kolesistektomi adalah kolik biliaris rekuren, diikuti oleh
kolesistitis akut.
1,2

2. Kolesistektomi laparaskopi
Indikasi awal hanya pasien dengan kolelitiasis simtomatik tanpa adanya kolesistitis akut.
Karena semakin bertambahnya pengalaman, banyak ahli bedah mulai melakukan prosedur ini
pada pasien dengan kolesistitis akut dan pasien dengan batu duktus koledokus. Secara teoritis
keuntungan tindakan ini dibandingkan prosedur konvensional adalah dapat mengurangi
perawatan di rumah sakit dan biaya yang dikeluarkan, pasien dapat cepat kembali bekerja, nyeri
menurun dan perbaikan kosmetik. Masalah yang belum terpecahkan adalah kemanan dari
prosedur ini, berhubungan dengan insiden komplikasi seperti cedera duktus biliaris yang
mungkin dapat terjadi lebih sering selama olesistektomi laparaskopi.
1,2

3. Disolusi medis
Masalah umum yang mengganggu semua zat yang pernah digunakan adalah angka
kekambuhan yang tinggi dan biaya yang dikeluarkan. Zat disolusi hanya memperlihatkan
manfaatnya untuk batu empedu jenis kolesterol. Penelitian prospektif acak dari asam
xenodeoksikolat telah mengindikasikan bahwa disolusi dan hilangnnya batu secara lengkap
terjadi sekitar 15%. Jika obat ini dihentikan,
kekambuhan batu tejadi pada 50% pasien.
1,2

4. Disolusi kontak
Meskipun pengalaman masih terbatas, infus pelarut kolesterol yang poten (metil-ter-butil-
eter (MTBE)) ke dalam kandung empedu melalui kateter yang diletakkan per kutan telah terlihat
efektif dalam melarutkan batu empedu pada pasien-pasien tertentu. Prosedur ini invasif dan
kerugian utamanya adalah angka kekambuhan yang tinggi (50% dalam 5 tahun).
1,2

5. Litotripsi Gelombang Elektrosyok (ESWL)
Sangat populer digunakan beberapa tahun yang lalu, analisis biaya-manfaat pad saat ini
memperlihatkan bahwa prosedur ini hanya terbatas pada pasien yang telah benar-benar
dipertimbangkan untuk menjalani terapi ini.
1,2

6. Kolesistotomi
Kolesistotomi yang dapat dilakukan dengan anestesia local bahkan di samping tempat
tidur pasien terus berlanjut sebagai prosedur yang bermanfaat, terutama untuk pasien yang
sakitnya kritis.
1,2

IX. PROGNOSIS
Pada cholelithiasis sendiri tidak perlu dihubungkan dengan meningkatnya kematian atau
ditandai dengan kecacatan. Bagaimanapun, bisa disebabkan karena adanya komplikasi. Jadi
prognosis cholelithiasis tergantung dari ada/tidak dan berat/ringannya komplikasi. Namun,
adanya infeksi dan halangan disebabkan oleh batu yang berada di dalam saluran biliaris sehingga
dapat mengancam jiwa. Walaupun demikian, dengan diagnosis dan pengobatan yang cepat serta
tepat, hasil yang didapatkan biasanya sangat b