Anda di halaman 1dari 34

1

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG
Dispepsia merupakan istilah yang digunakan untuk suatu sindrom atau
kumpulan gejala/keluhan yang terdiri dari nyeri atau rasa tidak nyaman di ulu hati,
kembung, mual, muntah, sendawa, rasa cepat kenyang, perut rasa penuh.
1,2

Sindroma dispepsia dapat disebabkan oleh beberapa hal seperti faktor
ketidakteraturan makan, makanan yang pedas dan asam, minuman berkarbonasi dan
beralkohol, faktor diet, faktor stress, dan lain-lain.

Sindroma dispepsia pada umumnya banyak diderita oleh kalangan remaja dan
biasanya meningkat pada kalangan mahasiswa. Hal ini disebabkan, meningkatnya
aktivitas akademis, tugas perkuliahan sehingga pola makannya menjadi tidak teratur.
3

Kebiasaan makan yang tidak teratur dapat menjadi penyebab timbulnya sindroma
dispepsia. Jeda antara jadwal makan yang lama dan ketidakteraturan makan berkaitan
dengan gejala dispepsia.
4
Selain itu diet juga banyak menjadi faktor penyebab
timbulnya sindroma dispepsia
5
. Kurangnya pengetahuan tentang pengaturan diet
mengakibatkan jadwal dan pola makan menjadi tidak teratur. Penelitian yang
dilakukan olehS Annisa di SMA Plus Al-Azhar Medan tahun 2009, menyatakan
adanya hubungan ketidakteraturan makan dengan sindroma dispepsia.
6
Berdasarkan hasil pengamatan peneliti, mahasiswa seringkali kurang
memperhatikan pola makanan dan minuman yang dikonsumsi padahal pola konsumsi
makanan dan minuman yang tidak baik dapat meningkatkan resiko terjadinya
sindroma dispepsia, seperti kebiasaan mengkonsumsi makanan pedas, asam, minum
teh, kopi dan minuman berkarbonasi.

Sindroma dispepsia juga dipengaruhi oleh tingkat stress. Faktor stress dapat
ditimbulkan karena banyaknya tugas perkuliahan dan aktivitas akademis. Penelitian
1
2

Susanti pada mahasiswa IPB tahun 2011 menyatakan terdapat hubungan tingkat
stress dengan sindroma dispepsia.
7
Penelitian-penelitian diatas menunjukkan bahwa masih banyak penderita
sindroma dispepsia dikalangan pelajar maupun kalangan mahasiswa. Hal ini mungkin
dikarenakan terbatasnya pengetahuan dan kurangnya penyuluhan mengenai faktor-
faktor penyebab terjadinya sindroma dispepsia.

Ada beberapa faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang yaitu
pendidikan, informasi, umur, sosial budaya dan lingkungan.
8
Penelitian yang
dilakukan oleh Sebayang pada tahun 2011 di Fakultas Keperawatan USU
menunjukkan bahwa pengetahuan mahasiwa tentang faktor penyebab terjadinya
sindroma dispepsia tinggi yaitu 81 orang (92,0%).
9
Melihat bahwa Fakultas
Keperawatan merupakan pendidikan di bidang kesehatan sehingga mereka dapat
memperoleh pengetahuan dari buku-buku dan perkuliahan terkait sindroma dispepsia.
Maka, pengetahuan tentang penyakit sudah dimiliki dan diharapkan pencegahan
maupun penanggulangannya dapat dilakukan dengan baik.
Hal inilah yang mendorong peneliti tertarik untuk mengetahui bagaimana
perbandingan pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non Kedokteran
Universitas HKBP Nommensen angkatan 2013 tentang sindroma dispepsia.
Penelitian dilakukan di Universitas HKBP Nommensen Medan yang terletak
di Jalan Sutomo No.4A Medan. Alasan penentuan lokasi penelitian antara lain karena
peneliti merupakan mahasiswi di Universitas tersebut. Selain itu, belum ada
penelitian serupa yang pernah dilakukan di Universitas HKBP Nommensen Medan.

1.2 RUMUSAN MASALAH
Berdasarkan uraian dalam latar belakang diatas maka dirumuskan
permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimana perbandingan tingkat
pengetahuan mahasiwa Fakultas Kedokteran dengan Fakultas Non-Kedokteran
tentang sindroma dispepsia di Universitas HKBP Nommensen Medan.

3

1.3 HIPOTESIS
Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran angkatan 2013 lebih tinggi tingkat
pengetahuannya dibandingkan mahasiswa/i Non Fakultas Kedokteran angkatan 2013
tentang sindroma dispepsia.

1.4 TUJUAN PENELITIAN

1.4.1 Tujuan Umum
Untuk mengetahui bagaimana perbandingangan tingkat pengetahuan
mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dengan Fakultas Non Kedokteran angkatan
2013 di Universitas HKBP Nommensen Medan tentang sindroma dispepsia.

1.4.2 Tujuan Khusus
1. Menilai tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran angkatan
2013 Universitas HKBP Nommensen Medan tentang sindroma dispepsia.
2. Menilai tingkat pengetahuan mahasiswa Fakultas Non Kedokteran
angkatan 2013 Universitas HKBP Nommensen Medan tentang sindroma
dispepsia.
3. Melihat proporsi mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non Kedokteran
angkatan 2013 Universitas HKBP Nommensen Medan yang pernah
memiliki riwayat sindroma dispepsia.
4. Melihat sumber informasi terbanyak yang diperoleh mahasiswa/i Fakultas
Kedokteran dan Non Kedokteran angkatan 2013 Universitas HKBP
Nommensen Medan tentang sindroma dispepsia.





4

1.5 MANFAAT PENELITIAN

1. Bagi Penulis
Mampu menerapkan mata kuliah yang telah diajarkan dan menambah
wawasan serta pengalaman dalam melakukan penelitian.

2. Bagi Bidang Ilmiah/Akademis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat dipakai sebagai data dasar untuk
penelitian lebih lanjut tentang sindroma dispepsia.

3. Bagi Pelayanan Masyarakat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar untuk melakukan
penyuluhan tentang sindroma dispepsia.










5

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dispepsia
2.1.1 Definisi

Definisi dispepsia sampai saat ini telah disepakati oleh para pakar
dibidang gastroenterology adalah kumpulan keluhan/gejala klinis (sindrom)
rasa tidak nyaman yang dirasakan didaerah abdomen bagian atas yang disertai
dengan keluhan lain yaitu perasaan panas di dada dan perut, regurgitas
kembung, perut terasa penuh, cepat kenyang, sendawa, anoreksia, mual,
muntah, dan banyak mengeluarkan gas asam dari mulut. Sindroma dispepsia
ini biasanya diderita hingga beberapa minggu/bulan yang sifatnya hilang
timbul atau terus-menerus.
1,10
2.1.2 Etiologi
Sindroma dispepsia merupakan keluhan gastrointestinal yang sangat
umum disemua kalangan masyarakat, khususnya golongan remaja. Sindroma
dispepsia menunjukkan adanya kelainan dalam proses cerna. Penyebab
dispepsia dapat diklasifikasikan menjadi dispepsia organik dan dispepsia
fungsional. Penyebab dispepsia organik antara lain esofagitis, ulkus peptikum,
striktura esophagus jinak, keganasan saluran cerna bagian atas, iskemia usus
kronik dan penyakit pankreatobilier.
11,12,13
Sedangkan dispepsia fungsional
mengeksklusi semua penyebab organik.
1

Berdasarkan konsensus terakhir (kriteria Roma) gejala heartburn atau
pirosis yang diduga karena penyakit refluks gastroesofageal, tidak
dimasukkan dalam sindroma dispepsia.
1
Penyebab timbulnya gejala dispepsia
ini dapat dilihat pada tabel 2.1.2.
5
6

Tabel 2.1.2 Penyebab Dispepsia
a. Dispepsia Organik
Gangguan atau penyakit dalam lumen saluran cerna
Tukak peptik
Gastritis
Tumor
Obat-obatan
Anti inflamasi non steroid (OAINS)
Antibiotic
Digitalis
Teofilin
Hepatobilier
Hepatitis
Kolesistitis
Keadaan sistemik
Diabetes Mellitus
Penyakit Tiroid
Penyakit Jantung Koroner
b. Dispepsia Fungsional
Sekresi asam lambung
Dismolitas gastrointestinal
Diet dan faktor lingkungan
Psikologik
Selain itu sekresi asam lambung juga mempengaruhi terjadinya sindroma
dispepsia. Asam lambung adalah cairan yang dihasilkan oleh lambung dan bersifat
iritatif dengan fungsi utama untuk pencernaan dan membunuh kuman yang masuk
bersama makanan.
14
Selain faktor asam, efek proteolitik pepsin sesuai dengan sifat
7

korosif asam lambung yang disekresikan merupakan komponen integral yang
menyebabkan cidera jaringan. Kebanykan agen yang merangsang sekresi asam
lambung juga meningkatkan sekresi pepsinogen. Walaupun sekresi asam lambung
dihambat, sekretin tetap merangsang sekresi pepsinogen.

Lambung melaksanakan 3
fungsi utama. Fungsi utama lambung yang paling penting adalah menyimpan
makanan yang telah dicerna hingga makanan tersebut dikosongkan kedalam usus
Halus pada kecepatan normal untuk proses cerna dan absorpsi. Lambung akan
mesekresikan asam klorida (HCL) dan enzim untuk memulai pencernaan protein.
Lambung memiliki motilitas khusus untuk gerakan pencampuran antara makanan
yang dicerna dan cairan lambung untuk membentuk cairan padat yang dinamakan
kimus. Seluruh isi lambung harus diubah menjadi kimus sebelum dikosongkan ke
duodenum.
15
Penghasilan asam lambung diantaranya dipengaruhi oleh pengaturan
sefalik, yaitu pengaturan oleh otak. Adanya makanan dalam mulut secara refleks akan
merangsang sekresi asam lambung
12
.
2.1.3 Manifestasi/Gejala klinis
Klasifikasi klinis didasarkan atas keluhan/gejala yang dominan ,
membagi dispepsia menjadi tiga tipe :
1. Dispepsia dengan keluhan seperti ulkus (ulkus like dyspepsia), dengan
gejala :
Nyeri epigastrium terlokalisasi
Nyeri hilang setelah makan atau pemberian antacid
Nyeri saat lapar
Nyeri episodik
2. Dispepsia dengan gejala seperti dismotilitas (dysmotility like dyspepsia),
dengan gejala :
Mudah kenyang
Perut cepat terasa penuh saaat makan
8

Mual
Muntah
Upper abdominal bloating
Rasa tak nyaman bertambah saat makan
3. Dispepsia nonspesifik (tidak ada gejala seperti kedua tipe di atas)
2.1.4 Penatalaksanaan
1,16
Penatalaksanaan non farmakologis :

1. Menghindari makanan yang dapat meningkatkan asam lambung
2. Menghindari faktor resiko seperti alkohol, makanan yang pedas, obat-
obatan yang berlebihan, nikotin rokok dan stress
3. Atur pola makan
Penatalaksanaan farmakologis
17
Pengobatan dispepsia mengenal beberapa golongan obat,yaitu :
a. Antasid (menetralkan asam lambung)
Golongan obat ini mudah didapat dan murah. Antasid akan
menetralisir sekresi asam lambung.
18
Antasid akan menetralisir sekresi
asam lambung. Antasid biasanya mengandung Na bikarbonat, AL(OH)3,
Mg(OH)2 dan Mg Triksilat. Pemberian antasid jangan terus-menerus
sifatnya hanya simtomatis untuk mengurangi rasa nyeri. Mg triksilat dapat
dipakai dalam waktu lebih lama juga berkhasiat sebagai adsorben
sehingga bersifat nontoksik namun dalam dosis besar akan menyebapkan
diare karena terbentuk senyawa MgCl
2
. Contohnya :Al,Mg, Ca, OH,
Almagate, Hidrotalcite.
b. Golongan antikolinergik (menghambat pengeluaran asam lamabung)
Obat yang termasuk golongan ini adalah pirenzepin bekerja sebagai
reseptor muskarinik yang dapat menekan sekresi asam lambung sekitar
28-43%. Pirenzepin juga memiliki efek sitoprotektif.

9

c. Golongan obat antagonis reseptor H
2

Golongan obat ini banyak digunakan untuk dispepsia organic atau
esensial seperti tukak peptic. Obat yang termasuk golongan antagonis
reseptor H
2
antara lain simetidin,roksatidin,ranitidine,dan famotidin.
d. Golongan Penghambat pompa asam (Proton Pump Inhibitor (PPI) )
Golongan obat ini mengatur sekresi asam lambung pada stadium akhir
dari proses sekresi asam lambung. Obat-obat yang termasuk golongan PPI
adalah omeperazol,lansoprazol,dan pantoprazol.
e. Golongan sitoprotektif
Protaglandin sintetik seperti misoprostol (PGE
2
) selain bersifat
sitroprotektif, juga menekan sekresi asam lambung oleh sel pariental.Yang
termasuk golongan ini seperti ini Sukralfat. Sukralfat berfungsi
meningkatkan sekresi prostaglandin endogen, yang selanjutnya
memperbaiki mikrosirkulasi, meningkatkan produksi mukus dan
meningkatnya sekresi bikarbonat mukosa serta membentuk lapisan
protektif (Site Protective) yang bersenyawa dengan protein sekitar lesi
mukosa saluran cerna bagian atas.
2.1.5 Pencegahan
16
1. Pencegahan primer (Primary Preventation)
Tujuan pencegahan primer adalah mencegah timbulnya faktor
resiko dispepsia bagi individu yang belum ataupun mempunyai faktor-
faktor resiko dengan melaksanakan pola hidup sehat, promosi kesehatan
(health promotion) kepada masyarakat mengenai :
a.) Modifikasi pola hidup dimana perlu diberi penjelasan bagaimana
mengenali dan menghindari keadaan yang potensial mencetuskan
serangan dispepsia.
b.) Menjaga sanitasi lingkungan agar tetap bersih, perbaikan sosio-
ekonomi dan gizi dan penyediaan air bersih.
10

c.) Mengurangi makan-makanan yang pedas, asam dan minuman yang
beralkohol, kopi serta merokok.

2. Pencegahan sekunder (Secondary Preventation)
Pencegahan sekunder dapat dilakukan dengan diagnosis dini dan
pengobatan segera (Early Diagnosis and Prompt Treatment).

3. Pencegahan tersier
a) Rehabilitasi mental melalui konseling dengan psikiater, dilakukan bagi
penderita gangguan mental akibat tekanan yang dialami penderita
sindroma dispepsia terhadap masalah yang dihadapi.
b) Rehabilitasi sosial dan fisik dilakukan bagi pasien yang sudah lama
dirawat dirumah sakit agar tidak mengalami gangguan ketika kembali
ke masyarakat.
2.2 Pengetahuan
2.2.1 Definisi
Pengetahuan adalah hasil pengindraan manusia atau hasil tahu
seseorang terhadap objek melalui indra yang dimiliknya (mata, hidung,
telinga, dan sebagainya). Intensitas perhatian dan persepsi terhadap objek
sangat mempengaruhi dihasilkannya suatu pengetahuan.
19

Secara garis besar tingkat pengetahuan dapat dibagi dalam 6 tingkatan, yaitu :
a. Tahu
Tahu diartikan hanya sebagai recall (mengingat) kembali memori
yang telah ada sebelumnya sataelah mengamati sesuatu.Misalnya : tahu
bahwa buah tomat banyak mengandung vitamin C, jamban adalah tempat
membuang air besar, penyakit demam berdarah ditularkan oleh gigitan
nyamuk aedes aegepty, dsb. Untuk mengetahui atau mengukur bahwa
orang tahu sesuatu dapat menggunakan pertanyaan misalnya : apa tanda-
11

tanda anak kurang gizi, apa penyebab TBC, bagaimana cara melakukan
PSN (pemberantasan sarang nyamuk), dsb.

b. Memahami
Memahami sesuatu objek bukan sekedar tahu terhdapa objek
tersebut, tidak sekedar dapat menyebutkan, tetapi orang tersebut harus
dapat menginpretasikan secara benar tentang objek yang diketahui
tersebut. Misalnya: orang yang memahami cara pemberantasan penyakit
demam berdarah bukan hanya sekedar menyebutkan 3M (mengubur,
menutup dan menguras), tetapi harus dapat menjelaskan mengapa harus
mengubur, menutup, menguras tempat-tempat penampungan air tersebut,
dsb.
c. Aplikasi
Aplikasi diartikan apabila orang yang telah memahami objek yang
dimaksud dapat menggunakan atau mengaplikasikan prinsip yang
diketahui tersebut pada situasi yang lain. Misalnya seseorang yang telah
paham tentang proses perencanaan, dia harus dapat membuat perencanaan
program kesehatan ditempat dia bekarja atau dimana saja, orang yang
telah paham metode penelitian, ia akan mudah membuat proposal
penelitian dimana saja, dan seterusnya.
d. Analisis
Analisis adalah kemampuan seseorang untuk menjabarkan dan atau
memisahkan, kemudian mencari hubungan antara komponen-komponen
yang terdapat dalam suatu masalah atau objek yang diketahui. Indikasi
bahwa pengetahuan seseorang itu sudah sampai pada tingkat analisis
adalah apabila orang tersebut telah dapat membedakan, atau memisahkan
atau mengelompokkan, membuat diagram (bagan) terhadap pengetahuan
atas objek tersebut. Misalnya : dapat membedakan antara nyamuk aedes
12

aegepty dengan nyamuk biasa, dapat membuat diagram (flow chart) siklus
hidup cacing kremi, dan sebagainya.
e. Sintesis
Sintesis menunjuk suatu kemampuan seseorang untuk merangkum
atau meletakkan dalam satu hubungan yang logis dari komponen-
komponen pengetahuan yang dimiliki. Dengan kata lain sintesis adalah
suatu kemampuan untuk menyusun formulasi yang telah ada. Misalnya
dapat membuat atau meringkas dengan kata-kata atau kalimat sendiri
tentang hal-hal yang telah dibaca atau didengar dan dapat membuat
kesimpulan tentang artikel yang telah dibaca.
f. Evaluasi
Evaluasi berkaitan dengan kemampuan seseorang untuk melakukan
justifikasi atau penilaian terhadap suatu objek tertentu.Penilaian dengan
sendirinya didasarkan pada suatu kriteria yang ditentukan sendiri atau
norma-norma yang berlaku di masyarakat.Misalnya, seseorang ibu dapat
menilai atau menetukan seorang anak menderita malnutrisi atau tidak,
seseorang dapat menilai manfaat ikut keluarga berencana bagi keluarga
dan sebagainya.
2.2.2 Faktor-faktor yang mempengaruhi pengetahuan
Pengetahuan seseorang dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu :
a. Pendidikan
Pendidikan adalah suatu usaha mengembangkan kepribadian dan
kemampuan didalam maupun diluar lingkungan kampus dan berlangsung
seumur hidup. Pengetahuan erat kaitannya dengan pendidikan. Semakin
tinggi pendidikan seseorang semakin tinggi pula informasi yang dapat
diserap dan tingginya informasi yang diserap maka mempengaruh
pengetahuannya, dan sebaliknya.
19
Orang yang memiliki pendidikan
13

tinggi, memiliki kepedulian yang lebih besar terhadap masalah
kesehatan.
20,21
b. Pengalaman
Pengalaman sebagai sumber pengetahuan merupakan suatu cara
memperoleh kebenaran pengetahuan dengan cara mengulang kembali
pengetahuan yang diperoleh dalam memecahkan permasalahan di masa
lalu.
8

c. Informasi
Informasi yang diperoleh baik dari pendidikan formal maupun non
formal dapat memberikan peningkatan pengetahuan. Kemajuan teknologi
akan menyediakan munculnya media massa seperti televisi, radio, surat
kabar, majalah dan lain-lain yang dapat mempengaruhi pengetahuan
masyarakat tentang inovasi baru.
d. Umur
Semakin cukup umur seseorang, tingkat kematangan dan kekuatan
seseorang akan lebih matang untuk berpikir. Penelitian yang dilakukan
oleh Consentius et al bahwa kelompok umur muda memiliki pengetahuan
lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok usia lebih tua.
1
e. Sosial budaya
Sosial budaya yang ada pada masyarakat dapat mempengaruhi dari
sikap dalam menerima informasi.
f. Faktor Lingkungan
Lingkungan merupakan seluruh kondisi yang ada disekitar manusia
dan pengaruhnya yang dapat mempengaruhi perkembangan dan perilaku
orang atau kelompok.



14

2.3 Kerangka Konsep



















Tingkat pengetahuan
tentang sindroma
dispepsia
Mahasiswa/i Fakultas Non
Kedokteran angkatan 2013
Universitas HKBP Nommensen
Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran
angkatan 2013 Universitas HKBP
Nommensen
15

BAB 3
METODE PENELITIAN

3.1 Desain Penelitian
Desain penelitian yang digunakan adalah penelitian yang bersifat
analitik dengan pendekatan cross sectional, dimana penelitian dilakukan satu
kali dalam satu saat.
3.2 Lokasi dan Waktu Penelitian
3.2.1 Lokasi Penelitian
Lokasi penelitian ini dilakukan di Universitas HKBP Nommensen
Medan yang terletak di Jl.Sutomo No. 4A Medan, provinsi Sumatera Utara.
3.2.2 Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada bulan Februari 2014.
3.3 Populasi
3.3.1 Populasi Target
Seluruh mahasiswa/i Universitas HKBP Nommensen Medan.
3.3.2 Populasi Terjangkau
Populasi terjangkau pada penelitian ini adalah mahasiswa Fakultas
Kedokteran dan Non Kedokteran angkatan 2013.
3.4 Sampel dan Cara Pemilihan Sampel
3.4.1 Sampel
Sampel yang digunakan pada penelitian ini dibagi menjadi 2
kelompok yaitu Fakultas Kedokteran dan Non Kedokteran angkatan 2013
yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi.

15
16

3.4.2 Cara Pemilihan Sampel
Cara pemilihan sampel yang digunakan pada kedua kelompok sampel
dalam penelitian ini adalah seluruh mahasiswa/i Fakultas Kedokteran pada
kelompok pertama (Fakultas Kedokteran) sedangkan pada kelompok kedua
(Fakultas Non Kedokteran) menggunakan teknik probability sampling, yaitu
simple random sampling.
3.5 Variabel Penelitian
3.5.1 Variabel Bebas
Mahasiswa/i angkatan 2013.
3.5.2 Variabel Terikat
Tingkat Pengetahuan mahasiswa tentang sindroma dispepsia.
3.6 Kriteria Inklusi dan Eksklusi
3.6.1 Kriteria Inklusi
1. Fakultas Kedokteran
a. Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen
angkatan 2013
b. Bersedia menjadi responden dengan menandatangani lembar
persetujuan.
2. Fakultas Non Kedokteran
a. Mahasiswa/i Fakultas Non Kedokteran Universitas HKBP
Nommensen angkatan 2013
b. Bersedia menjadi responden dengan menandatangani lembar
persetujuan.
3.6.2 Kriteria Eksklusi
1. Fakultas Kedokteran
a. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen
Medan angkatan 2013 yang sedang sakit
b. Mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas HKBP Nommensen
Medan angkatan 2013 yang sedang cuti/izin (selain sakit)
17

2. Fakultas Non Kedokteran
a. Mahasiswa Fakultas Non Kedokteran Universitas HKBP
Nommensen Medan angkatan 2013 yang sedang sakit
b. Mahasiswa Fakultas Non Kedokteran Universitas HKBP
Nommensen Medan angkatan 2013 yang sedang cuti/izin (selain
sakit)

3.7 Defenisi Operasional
1. Pengetahuan
Pengetahuan merupakan hasil tahu seseorang yang berasal dari
pengindraan terhadap sesuatu objek tertentu. Pengetahuan yang dimaksud
dalam penelitian ini adalah pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran
dan Non Kedokteran angkatan 2013 di Universitas HKBP Nommensen
Medan. Data berskala ordinal.
Tingkat pengetahuan diukur dengan menggunakan kuesioner yang
sudah diisi oleh responden. Apabila responden menjawab :
- Benar skornya adalah 1
- Salah skornya adalah 0
Tingkat pengetahuan diukur menggunakan scoring yakni ; baik,
cukup, kurang.
a. Kategori baik yaitu menjawab benar 8-10 atau > 76% dari total
pertanyaan yang diberikan
b. Kategori cukup yaitu menjawab benar 6-7 atau 56%-75% dari
total pertanyaan yang diberikan
c. Kategori kurang yaitu menjawab benar 1-4 atau < 56% dari total
pertanyaan yang diberikan.



18

2. Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran
Mahasiswa yang terdaftar di Fakultas Kedokteran Universitas
HKBP Nommensen angkatan 2013.
3. Mahasiswa/i Fakultas Non Kedokteran
Seluruh mahasiswa yang terdaftar di Fakultas Non Kedokteran
Universitas HKBP Nommensen angkatan 2013
4. Sindroma dispepsia
Sindroma dispepsia merupakan kumpulan yang terdiri dari nyeri ulu
hati, mual, muntah, kembung, rasa penuh, atau cepat kenyang dan
sendawa.

3.8 Metode Pengumpulan Data
3.8.1 Alat Penelitian
Penelitian ini menggunakan daftar pertanyaan (kuesioner) tentang
tingkat pengetahuan mahasiswa terhadap sindroma dispepsia yang sudah
dilakukan uji validitas dan dibagikan kepada responden yang sudah
memenuhi kriteria dan menandatangani lembar persetujuan.
3.8.2 Jenis Data
Data primer merupakan data yang diperoleh dari responden penelitian
melalui kuesioner. Data primer meliputi karakteristik responden dan data
mengenai tingkat pengetahuan mahasiswa. Sedangkan data sekunder
diperoleh dari data umum populasi berupa jumlah dan nama mahasiswa/i
Fakultas Kedokteran dan Non Kedokteran angkatan 2013.
3.8.3 Cara Kerja
Sampel dipilih sesuai dengan kriteria yang telah ditentukan oleh
peneliti. Responden yang bersedia mengikuti penelitian dibuktikan dengan
kesediaan menandatangani lembar persetujuan. Pengambilan data dilakukan
dengan menggunakan kuesioner yang sudah diuji validitas. Kuesioner
dibagikan secara langsung kepada responden dan diberikan penjelasan secara
19

lisan mengenai butir pertanyaan. Setelah jumlah sampel yang dibutuhkan
terpenuhi, dilakukan input data ke komputer untuk pengolahan dan analisis
data.

3.9 Pengolahan dan Analisis Data
3.9.1 Pengolahan Data
Setelah dilakukan pengumpulan data, maka dilakukan pengoreksian
apakah data yang diperoleh dari hasil kuesioner mahasiswa sudah lengkap.
3.9.2 Analisis Data
Pengolahan dan analisis data pada penelitian ini menggunakan
program SPSS versi 20.0 sebagai program analisis data. Kemudian,
berdasarkan data yang diperoleh akan dilihat perbandingan tingkat
pengetahuan mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Non Kedokteran dan
dilakukan uji hipotesis. Uji hipotesis menggunakan uji chi square (x
2
). Uji ini
dipilih karena variabel bebas dan terikat berskala kategorial. Hasil
pengamatan akan disusun dalam tabel 2 x 3.












20

BAB 4
HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Penelitian
4.1.1 Deskripsi Lokasi Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Universitas HKBP Nommensen Medan
yang terletak di Jl.Sutomo No.4 A Medan, provinsi Sumatera Utara.
4.1.2 Deskripsi Karakteristik Responden
Responden yang menjadi sampel dalam penelitian ini adalah
Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non Kedokteran angkatan 2013 di
Universitas HKBP Nommensen Medan. Jumlah sampel sebanyak 100 orang
yang terdiri dari 50 orang mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan 50 orang
mahasiswa/i Non Fakultas Kedokteran. Terdapat 1 responden yang tidak
hadir pada saat dilakukan penelitian di Fakultas Kedokteran. Sehingga hanya
99 responden yang memenuhi kriteria inklusi dan 1 responden termasuk
kriteria eksklusi.







20
21

4.1.3 Distribusi, Frekuensi Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non
Kedokteran angkatan 2013 yang pernah memiliki riwayat sindroma
dispepsia/maag
Data lengkap distribusi mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non
Kedokteran angkatan 2013 yang pernah memiliki sindroma dispepsia/maag
dapat dilihat pada tabel 4.4.
Tabel 4.1 Riwayat Sindroma Dispepsia/Maag
Riwayat Penyakit
Maag
FK Non FK
N % N %
Ya 13 26 31 62 %
Tidak 36 74 19 38 %
Total 49 100 50 100 %

Dari Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki riwayat
sindroma dispepsia/maag terbanyak terdapat pada mahasiswa/i Non Fakultas
Kedokteran yaitu sebanyak 31 orang (62%) dan responden yang tidak
memiliki riwayat sindroma dispepsia/maag terbanyak terdapat pada
mahasiwa/i Fakultas Kedokteran yaitu sebanyak 36 orang (74%).
4.1.4 Sumber Informasi Terbanyak Yang Diperoleh Mahasiswa/i Fakultas
Kedokteran dan Non Kedokteran Tentang Sindroma Dispepsia
Data distribusi frekuensi sumber informasi terbanyak yang diperoleh
mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non Kedokteran angkatan 2013
tentang sindroma dispepsia/maag pada tabel 4.2.

22

Tabel 4.2 Distribusi Karakteristik Responden Berdasarkan Sumber Informasi
Yang Diperoleh
Sumber Informasi
FK Non FK
N % N %
Media Elektronik 10 20 14 28
Media Cetak 2 4 10 20
Petugas Kesehatan 27 56 9 18
Teman/Tetangga/Keluarga 10 20 13 26
Iklan/Spanduk/Phamplet 0 0 4 8
Total 49 100 100 100

Dari Tabel 4.2 dapat dilihat bahwa sumber informasi terbanyak adalah
dari petugas kesehatan yaitu sebanyak 27 orang (56%), dari meida elektronik
14 orang (28%), dari teman/tetangga/keluarga sebanyak 13 orang (26%), dari
Iklan/spanduk/phamplet 4 orang (8%) dan dari media cetak 2 orang (4%).
4.1.5 Tingkat Pengetahuan Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non
Kedokteran tentang sindroma dispepsia/maag
Tingkat pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non
Kedokteran tentang sindroma dispepsia/maag yang telah di uji dengan
menggunakan kuesioner dapat dilihat pada tabel 4.3.



23

Tabel 4.3 Distribusi Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas
Kedokteran dan Non Kedokteran angkatan 2013 tentang sindroma
dispepsia/maag





Dari tabel 4.3 dapat dilihat bahwa responden yang memiliki
pengetahuan baik terbanyak terdapat pada mahasiswa/i Fakultas Kedokteran
yaitu sebanyak 42 orang (84%) sedangkan berpengetahuan cukup terbanyak
terdapat pada mahasiswa/i Non Fakultas Kedokteran yaitu sebanyak 30 orang
(16%) dan yang berpengetahuan kurang juga terdapat pada mahasiswa/i Non
Fakultas Kedokteran yang berjumlah 5 orang (10%).







Tingkat
Pengetahuan
FK Non FK
N % N %
Baik 42 84% 15 30 %
Cukup 7 16% 30 60 %
Kurang 0 0% 5 10 %
Total 49 100% 50 100 %
24

4.1.6 Tingkat Pengetahuan Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non
Fakultas Kedokteran berdasarkan riwayat sindroma dispepsia/maag
Tingkat Pengetahuan Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non
Kedokteran tentang sindroma dispepsia/maag berdasarkan riwayat sindroma
dispepsia/maag dapat dilihat pada tabel 4.4
Tabel 4.4 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Mahasiswa/i
berdasarkan riwayat sindroma dispepsia/maag
Tingkat Pengetahuan
Riwayat Penyakit
Ya Tidak
N % N %
Baik 12 27 45 82
Cukup 27 62 10 18
Kurang 5 11 0 0
Total 44 100 55 100

Dari tabel 4.4 diatas dapat dilihat bahwa mahasiswa/i yang memiliki
tingkat pengetahuan baik terbanyak adalah pada mahasiswa/i yang tidak
memiliki riwayat sindroma dispepsia/maag yaitu sebanyak 45 orang (82%)
sedangkan yang memiliki pengetahuan cukup terbanyak terdapat pada
mahasiswa/i yang memiliki riwayat sindroma dispepsia/maag yaitu sebanyak
27 orang (62%) dan yang memiliki pengetahuan kurang juga terdapat pada
mahasiswa/i yang memiliki riwayat sindroma dispepsia/maag yang
berjumlah 5 orang (11%).


25

4.1.7 Tingkat Pengetahuan Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non
Kedokteran berdasarkan sumber informasi yang diperoleh
Tingkat Pengetahuan Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non
Kedokteran tentang sindroma dispepsia/maag berdasarkan sumber informasi
yang diperoleh dapat dilihat pada tabel 4.5
Tabel 4.5 Distribusi Frekuensi Tingkat Pengetahuan Mahasiswa/i
berdasarkan sumber informasi yang diperoleh

Dari tabel 4.5 diatas dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan baik
terbanyak terdapat pada mahasiswa/i yang memperoleh informasi terbanyak
dari petugas kesehatan yaitu sebanyak 32 orang (89%), sedangkan tingkat
pengetahuan cukup terbanyak terdapat pada mahasiswa/i yang memperoleh
sumber informasi terbanyak dari media elektronik yaitu sebanyak 15 orang
(63%) dan hanya 1 orang (8%) yang memiliki pengetahuan kurang yaitu pada
mahasiswa/i yang memperoleh informasi dari media cetak.

Tingkat
Pengetahuan
Sumber Informasi
Media
Elektronik
Media
Cetak
Petugas
Kesehatan
Tetangga/Teman/
Keluarga/
Iklan/Spanduk/
Phamplet
N % N % N % N % N %
Baik 7 29 2 17 32 89 15 65 0 0
Cukup 15 63 9 75 4 11 8 35 1 25
Kurang 2 8 1 8 0 0 0 0 3 75
Total 24 100 12 100 36 100 23 100 4 100
26

Tabel 4.6 Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Fakultas Kedokteran dan Non
Kedokteran angkatan 2013 tentang sindroma dispepsia/maag
Tingkat Pengetahuan
Baik Cukup Kurang
**p
N % N % N %
Kedokteran 42 85,7 7 14,2 0 0 0,000
Non-Kedokteran 15 30 30 60 5 10
Total 57 115,7 37 74,2 5 10
**Uji Kolmogorov-Smirnov
Tabel 4.6 menyajikan hasil analisis Kolmogorov-Smirnov. Nilai
significancy p < 0,05, maka dapat diambil kesimpulan bahwa terdapat
perbedaan antara tingkat pengetahuan Fakultas Kedokteran dan Non Fakultas
Kedokteran
4.2 Pembahasan
Berdasarkan tingkat pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran
dapat dilihat bahwa pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran tentang
sindroma dispesia/maag termasuk kategori baik yaitu sebanyak 42 orang
84%, sedangkan mahasiswa/i dengan pengetahuan cukup sebanyak 7 orang
(16%) dan tidak ada mahasiswa/i yang berpengetahuan kurang.
Hasil penelitian ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh
Sebayang pada tahun 2011 di Fakultas Keperawatan USU yang
menunjukkan bahwa pengetahuan mahasiwa/i Fakultas Keperawatan USU
tentang faktor penyebab terjadinya sindroma dispepsia diketahui baik yaitu
81 orang (92,0%).
9

Menurut Notoadmodjo, salah satu faktor yang mempengaruhi tingkat
pengetahuan seseorang adalah pendidikan.
19
Bila dilihat dari pendidikan,
27

Fakultas Keperawatan dan Fakultas Kedokteran merupakan pendidikan
dengan latar belakang kesehatan sehingga pengetahuan tentang suatu
penyakit sudah dimiliki.
Berdasarkan tingkat pengetahuan mahasiswa/i Non Fakultas
Kedokteran dapat dilihat bahwa tingkat pengetahuan mahasiswa/i Fakultas
Non Kedokteran angkatan 2013 tentang sindroma dispepsia/maag termasuk
kategori cukup yaitu sebanyak 30 orang (82%), berpengetahuan baik 15
orang (30%) dan berpengetahuan kurang 5 orang (10%) yang
berpengetahuan kurang.
Dari penelitian yang telah dilakukan oleh peneliti dapat dilihat bahwa
tingkat pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran angkatan 2013
tentang sindroma dispepsia/maag lebih tinggi bila dibandingkan dengan
tingkat pengetahuan mahasiswa/i Non Fakultas Kedokteran angkatan 2013.
Pengetahuan sangat erat kaitannya dengan pendidikan.
19
Perlu
ditekankan bahwa Fakultas Keperawatan dan Fakultas Kedokteran
merupakan pendidikan dengan latar belakang kesehatan sehingga
pengetahuan tentang suatu penyakit pun sudah dimiliki. Pengetahuan
tersebut dapat diperoleh dari kuliah yang diberikan dikampus, dari buku-
buku pelajaran, maupun dari lingkungan sekitar yang sehari-hari
berhubungan dengan orang-orang yang memiliki latar belakang di bidang
kesehatan, baik teman-teman kuliah ataupun keluarga.
Akan tetapi perlu ditekankan bahwa meskipun mahasiswa/i Non
Fakultas Kedokteran merupakan pendidikan yang bukan dengan latar
belakang kesehatan mutlak berpengetahuan kurang pula. Oleh karena
pengetahuan tidak hanya didapatkan dari pendidikan formal saja. Akan
Menurut Notoadmodjo, faktor pengalaman, sumber informasi dan
lingkungan juga dapat mempengaruhi pengetahuan seseorang.
19

28

Berdasarkan riwayat sindroma dispepsia/maag dapat dilihat bahwa
persentase mahasiswa/i Fakultas Kedokteran dan Non Fakultas Kedokteran
angkatan 2013 yang memiliki riwayat sindroma dispepsia/maag terbanyak
terdapat pada mahasiswa/i Non Fakultas Kedokteran yaitu 31 orang (62%)
sedangkan mahasiswa/i yang tidak memiliki riwayat sindroma
dispepsia/maag terbanyakn terdapat pada mahasiswa/i Fakultas Kedokteran
angkatan 2013 yaitu sebanyak 36 orang (74%). Hasil penelitian ini
membuktikan bahwa mahasiswa/i yang memiliki riwayat sindroma
dispepsia/maag di Fakultas Kedokteran angkatan 2013 lebih sedikit bila
dibandingkan dengan mahasiswa/i di Fakultas Non Kedokteran angkatan
2013.
Hasil Penelitian ini justru berbeda dengan pernyataan yang
dikemukakan oleh Notoadmodjo yang menyatakan bahwa pengalaman
merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengetahuan seseorang.
19

Dari tabel diatas dapat dilihat bahwa mahasiswa/i yang memiliki riwayat
sindroma dispepsia diketahui sebanyak 12 orang (27%) berpengetahuan
baik, berpengetahuan cukup 27 orang (62%) dan berpengetahuan kurang 5
orang (11%). Sementara mahasiswa/i yang tidak memiliki riwayat sindroma
dispepsia/maag diketahui sebanyak 45 orang (82%) berpengetahuan baik,
berpengetahuan cukup 10 orang (18%) dan tidak ada mahasiswa yang
memiliki pengetahuan kurang.
Berdasarkan sumber informasi yang diperoleh, mahasiswa/i yang
memiliki pengetahuan baik terbanyak adalah yang memperoleh sumber
informasi dari petugas kesehatan yaitu sebanyak 27 orang (56%),
berpengetahuan cukup terbanyak adalah yang memperoleh informasi dari
dari media elektronik sebanyak 15 orang (63%) dan yang memperoleh
sumber informasi dari media cetak 1 orang (8%) diketahui berpengetahuan
kurang. Hal ini sesuai dengan pernyataan yang dikemukakan oleh
Notoadmodjo (2007), bahwa sumber informasi merupakan salah satu faktor
29

yang dapat mempengaruh tingkat pengetahuan seseorang. Berdasarkan hasil
penelitian yang telah dilakukan mahasiswa/i yang memperoleh sumber
informasi dari petugas kesehatan memiliki pengetahuan baik. Adapun
mahasiswa/i yang memperoleh informasi dari media elektronik dan dari
teman/tetangga/keluarga juga menjawab pertanyaan dengan benar.
Berdasarkan tabel 4.6 didapati p-value dari analisis perbedaan tingkat
pengetahuan Fakultas Kedokteran dan Non Fakultas Kedokteran angkatan
2013 adalah < 0,05 yaitu sebesar 0,000 yang menunjukkan adanya
perbedaan antara tingkat pengetahuan mahasiwa/i Fakultas Kedokteran dan
Non Fakultas Kedokteran angkatan 2013 tentang sindrom dispepsia/maag.
Berdasarkan tabel dapat dilihat bahwa mahasiswa/i Fakultas
Kedokteran yang memiliki pengetahuan baik sebanyak 42 orang ( 86%),
berpengetahuan cukup sebanyak 7 orang (14%) dan tidak ada mahasiswa/i
yang berpengetahuan kurang. Sementara mahasiswa/i Non Fakultas
Kedokteran yang memiliki pengetahuan baik diketahui sebanyak 15 orang
(30%), berpengetahuan cukup sebanyak 30 orang (60%) dan 5 orang (10%)
mahasiswa/i yang berpengetahuan kurang.







30

BAB 5
KESIMPULAN DAN SARAN
5.1 Kesimpulan

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, kesimpulan yang
diperoleh penulis adalah :
1. Tingkat pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Kedokteran angkatan 2013
Universitas HKBP Nommensen tentang sindroma dispepsia termasuk kategori
baik.
2. Tingkat pengetahuan mahasiswa/i Fakultas Non Kedokteran angkatan 2013
Universitas HKBP Nommensen tentang sindroma dispepsia termasuk kategori
cukup.
3. Mahasiswa/i Fakultas Non Kedokteran angakatan 2013 lebih banyak memiliki
riwayat sindroma dispepsia/maag bila dibandingkan dengan mahasiswa/i
Fakultas Kedokteran angkatan 2013.
4. Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran memperoleh informasi paling banyak dari
petugas kesehatan sedangkan mahasiswa/i Fakultas Non Kedokteran
memperoleh informasi paling banyak dari media elektronik.
5. Mahasiswa/i Fakultas Kedokteran angakatan 2013 lebih tinggi tingkat
pengetahuannya bila dibandingkan dengan mahasiswa/i Fakultas Non
Kedokteran angkatan 2013.







30
31

5.2 Saran
1. Bagi Fakultas Kedokteran
Perlu dilakukan penelitian lanjutan tentang sindroma dispepsia,
seperti faktor-faktor penyebab timbulnya sindroma dispepsia.
2. Bagi Fakultas Non Kedokteran
a. Diharapkan agar mahasiswa/i lebih memperbanyak informasi tentang
penyakit, khususnya sindroma dispepsia/maag sehingga
penanggulangan maupun pencegahannya dapat dilakukan dengan baik.
b. Diharapkan agar dilakukan penyuluhan terkait sindroma
dispepsia/maag sehingga dapat menambah wawasan mahasiswa
tentang sindroma dispepsia/maag.
3. Bagi Pelayanan Kesehatan
Diharapkan agar memasukkan mahasiswa/i sebagai salah satu target
promosi kesehatan. Kegiatan yang dapat disarankan untuk dilakukan
adalah penyuluhan tentang sindroma dispepsia/maag.











32

DAFTAR PUSTAKA
1. Djojoningrat, D. Dispepsia fungsional. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam.
Edisi 4, Jilid 1. Jakarta : Penerbit FKUI ; 2006.h 352-5

2. Feldman M, Sleisenger & Fordtran's. Gastrointestinal and Liver Disease.
Defenition, Pathophysiology, Diagnosis, Management.[Cited: May
1th
2013].
Available from :
http://www.mayoclinic.org/diseasesconditions/indigestion/basics/definition/co
n-20034440

3. Sayogo, S. Gizi Remaja Putri. Jakarta : FKUI ; 2006. h. 42-47

4. Reshetnikov, O.V, Kurilovich S.A. Population Based Study. Made of Dieting
and Dyspepsia. [Cited : Feb
27th
2009] . Available from :
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/17802773

5. Roberts, W.B, Williams S.R. Nutrition Throughout the Life Cycle. 4
th
ed.
Singapore : Mc Graw Hill, 2000. h 262-67,272,294

6. Annisa. Hubungan Ketidakteraturan Makan dengan Sindroma Dispepsia di
SMA PLUS AL AZHAR. Skripsi. Medan : Fakultas Kedokteran Universitas
Sumatera Utara ; 2009

7. Susanti. Hubungan Tingkat Stress dengan Sindroma Dispepsia pada
Mahasiswa IPB. Skripsi. Bandung : Fakultas Kedokteran Universitas
Padjajaran ; 2010

8. Wawan A, Dewi M. Teori dan pengukuran pengetahuan, sikap, dan perilaku
manusia. Yogyakarta: Nuha Medik; 2010. h 11-18

9. Sebayang. Faktor-Faktor Penyebab Terjadinya Sindroma Dispepsia di
Fakultas Keperawatan USU. Skripsi. Medan : Fakultas Keperawatan
Universitas Sumatera Utara ; 2011

33

10. Julian Katz, MD. Clinical professor of Medicine. Signs and symptomps of
Dyspepsia. [Cited : Jul
8th
2013]. Available from :
http://emedicine.medscape.com/174223

11. Kurt J Isselbacher. Prinsip-prinsip Ilmu Penyakit Dalam Vol.4. 13
th
ed.
Jakarta. EGC; 2002. h 244

12. Kenneth E.L. Helicobacter pylori infection. [Cited : April 29
th
2010].
Available from : http://www.nejm.org/doi/full/10.1056/NEJMcp1001110

13. Jens Kurt Johansen, Ane Sehested, Torben Myrhoz, Karin Ladefoged.
Helicobacter infection. [Cited : Sept 17
th
2004]. Available from :
www.circumpolarhealthjournal.net/index.php/ijch/17906

14. Shaib Y, Serag H.B. The Prevalence and Risk Factors of Functional
Dyspepsia. [Cited : February
28th
2009] Available from:
http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/15555004

15. Michael P. Jones. Evaluation and treatment of dyspepsia. [Cited : January 26
th

2014] . h 25-9. Available from :
http://pmj.bmj.com/content/79/927/25.full.pdf+html

16. Sheerwood, L. Human Physiology. From Cells to system. 6
th
ed. China:
Thomson Brooks; 2007. h 590-602

17. Moshiree B, Barbojza J. pharmacotherapy options for dyspepsia. [Cited :
September
14
2013] . Available from : http://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed

18. Ganong, W.F. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran . Review of Medical
Physiology. Edisi 20. Jakarta: EGC; 2000.h 450, 473-7

19. Notoadmojo S. Pendidikan dan perilaku kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta;
2003. h. 114-34

20. Sungkar, Saleha, Rawina W, Agnes K. Pengaruh penyuluhan terhadap
tingkatan pengetahuan masyarakat. Banten: Makara UI; 2010. h. 81

34

21. Constantianus JM, Wieteke T, Ratana S, Udom K, James W, Thomas WS.
Knowledge and Practice. Thailand: Am J Hyg; 2006. h 692