Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN PRAKTIKUM

TEKNOLOGI SEDIAAN LIQUIDA DAN SEMISOLIDA


Sediaan Salep Asam Salisilat 10%



Disusun oleh:

Nidia Puspaningrum
P17335113050








POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BANDUNG
JURUSAN FARMASI
2013/2014

SEDIAAN SALEP ASAM SALISILAT 10%

I. TUJUAN PERCOBAAN
1. Menentukan performulasi yang tepat dalam pembuatan salep asam salisilat


II. PENDAHULUAN
salep (unguenta) menurut FI edisi III adalah sediaan setengah padat yang mudah
dioleskan sebagai obat luar. Bahan obat harus terdispersi homogen ke dalam dasar
salep yang cocok.
Peraturan pembuatan salep menurut F. Van Duin :
1) Peraturan salep pertama
Zat-zat yang dapat larut dalam campuran lemak, dilarutkan ke dalamnya,
jika perlu dengan pemansan.
2) Peraturan salep kedua
Bahan-bahan yang larut dalam air, jika tidak ada peraturan lain,
dilarutkan lebih dahulu dalam air, asalkan jumlah air yang dipergunakan
dapat diserap seluruhnya oleh basis salep danjumlah air yang dipakai,
dikurangi dari basis salepnya.
3) Peraturan salep ketiga
Bahan-bahan yang sukar atau hanya sebagian dapat larut dalam lemak
atau air harus dileburkan lebih dahulu, kemudian diayak dengan pengayak
no.60.
4) Peraturan salep keempat
salep-salep yang dibuat dengan jalan mencairkan, campurannya harus
digerus sampai dingin, bahan-bahan yang ikut dilebur, penimbangannya
harus dilebihkan 10-20% untuk mencegah kekurangan bobot.
Persyaratan salep menurut FI III :
Pemerian : tidak boleh berbau tengik
Kadar : kecuali dinyatakan lain dan untuk salep yang mengandung obat
keras atau obat narkotik, kadar bahan obat adalan 10%.
Dasar salep : kecuali dinyatakan lain, sebagai bahan dasar salep digunakan
vaselin putih. Tergantung dari sifat bahan obat dan tujuan pemakaian
salep, dapat dipilih beberapa bahan dasar salep sebagai berikut:
Dasar senyawa hidrokarbon (vaselin album, vaselin flavum, cera
album (malam putih), dan cera flavum atau campurannya.)
Dasar serap (lemak bulu domba, campuranmalam putih dan 86 bag
vaselin putih atau campuranny)
Dasar yang dapat dicuci dengan air atau dasar emulsi, misalnya
emulsi o/w
Dasar yang dapat larut dalam air, misalnya PEG atau campurannya.
Homogenitas : jika dioleskan pada sekeping kaca atau bahan transparan
lain yang cocok, harus menunjukkansusunan yang homogen.
Penandaan : pada etiket harus tertera obat luar.
Penggolongan salep.
Menurut konsistensinya salep dapat dibagi :
Unguenta : salep yang mmepunyai konsistensi seperti mentega, tidak
mencair pada suhu biasa, tetapi mudah dioleskan tanpa memakai tenaga.
Cream (krim) : salep yang banyak mengandung air,mudah diserap kulit,
suatu tipe yang dapat dicuci dengan air.
Pasta : salep yang mengandung lebih dari 50% zat padat (serbuk), salep
tebal, karena merupakan penutup atau pelindung bagian kulit yang diolesi.
Cerata : salep berlemak yang mengandung presentase liin (wax) yang
tinggi sehingga konsistensinya lebih keras
Gelones.
Menurut sifat farmakologi/terapeutik dan penetrasinya salep dibagi menjadi :
Salep epidermis (epidermic ointment;salep penutup) guna melindungi kulit
dan menghasilkan efek lokan, tidak diabsorpsu, kadang-kadang
ditambahkan antiseptik, astringensia untuk meredakan rangsangan atau
anestesi lokan. Dasar salep yang baik adalah dasar salep hidrokarbon.
Salep endodermis : salep yang bahan obatnya menembus ke dalam kulit,
tetapi tidak melalui kulit, terabsorpsi sebagian, digunakan untuk
melunakkan kulit atau selaput lendir. Dasar alep yang baik adalah minyak
lemak.
Salep diadermis : salep yang bahanobatnya menembus ke dalam tubuh
melalui kulit mencapai efek yang diinginkan, misalnya salep yang
mengandung senyawa merkuri iodida, beladona.
Menurut dasar salepnya, salep dapat dibagi :
Salep hidrofobik, yaitu salep yang tidak suka air atau salep dengan dasar
salep berlemak
Salep hidrofilik, yaitu salep yang suka air atau kuat menarik air, biasanya
tipe o/w.
Syarat salep yang baik adalah :
Stabil, tidak terpengaruh oleh suhu dan kelembapan dan selama dipakai
harus bebas dari inkompatibilitas.
Lunak, harus halus dan homogen
Mudah dipakai
Dasar salepnya cocok
Dapat terdistribusi secara merata
(ILMU RESEP, p.63-66)
Asam salisilat berkhasiat fungisid terhadap banyak fungi pada konsentrasi 3-6%
dalam salep. Disamping itu, zat ini berkhasiat bakteriostatis lemah dan berdaya
keratolisis, yaitu dapat melarutkan lapisan tanduk kulit pada konsentrasi 5-10%
asam salisilat banyak digunakan dalam sediaan obat luar terhadap infeksi jamur
ringan. Sering kali asam ini dikombinasi dengan asam benzoat dan belerang yang
keduanya memiliki kerja fungistatis maupun bakteriostatis. Bila dikombinasi
dengan obat lain, misalnya kortikosteroida, asam salisilat meningkatkan
penetrasinya ke dalam kulit. Tidak dapat dikombinasi dengan sengoksida karena
akan membentuk garam sengsalisilat yang tidak aktif.
(OBAT-OBAT PENTING, p.105)
Karena asam salisilat bekerja pada stratum korneum maka saya akan menjelaskan
sedikit tentang struktur kulit manusia.
Kulit termasuk ke dalam sistem integumen. Lapisan terluar dari kulit adalah
epidermis. Bagian ini terususun dari jaringan epitel skuamosa bertingkat yang
mengalami keratinisasi; jaringan ini tidak memiliki pembuluh darah; dan sel-
selnya sangat rapat. Bagian epidermis yang paling tebal dapat ditemukan pada
telapak tangan dan kaki. 5 lapisan dari epidermis adalah :
1. Stratum basalis (lapisan tunggal sel-sel yang melekat pada jaringan ikat dari
lapisan kulit di bawahnya, dermis. Pada sel ini berlangsung pembelahan sel
yang cepat dan sel baru didorong ke lapisan selanjutnya.)
2. Stratum spinosum (lapisan sel spina atau sel tanduk. Spina adalah bagian
penghubung intraselular yang disebut desmosom)
3. Stratum granulosum
4. Stratum lusidum (lapisan jernih dan tembus cahaya dari sel-sel gepeng tidak
bernukleus yang mati atau hampir mati)
5. Stratum korneum adalah lapisan teratas, terdiri dari 25-30 lapisan sisik tidak
hidup yang sangat terkeratinasi dan semakin gepeng saat mendekati
permukaan kulit.
Kemudian dibawah epidermis ada juga dermis dan hipodermis. Dermis
mengandung reseptor sensorik taktil dan pembuluh darah.
(ANATOMI DAN FISIOLOGI UNTUK PEMULA, p.85-86)



III. FORMULASI
1. Bahan aktif
Zat Aktif Asam salisilat
Struktur

(JP, p.1096)
Rumus
molekul
C7H6O3
(JP, p.1096)
Titik lebur 158-161
o
C
(JP, p.1096)
Pemerian Hablur ringan tidak berwarna atau serbuk berwarna putih,
hampir tidak berbau,rasa agak manis dan tajam.
(FI III, p.56)
Kelarutan Larut dalam 550 bag air dan dalam 4 bagian etanol, mudah
larut dalam kloroform dan dalam eter; larut dalam larutan
amonium asetat , dinatrium hidrogen, kalium sitrat dan natrium
sitrat.
(FI III, p.56)
Stabilitas Stabil dalam udara bebas. Formulasi sediaan asam salisilat
yang efektif adalah yang memiliki pH mendekati 2.97.
(J.Indon Med ASSOC, vol : 62 nomor 7 juli 2012)
(artikel pengembangan pendidikan keprofesian berkelanjutan)
Inkompabilitas Asam salisilat tidak dapat dicampurkan ke dalam vanishing
cream sebab cincin sromatiknya akan menghancurka
komponen sabun yang diperlukan dalam pembentukan emulsi.
Pencampuran asam salisilat dengan kalsiprotein tidak
dianjurkan karena membuat senyawa tidak stabil.
(J.Indon Med ASSOC, vol : 62 nomor 7 juli 2012)
(artikel pengembangan pendidikan keprofesian berkelanjutan)
Keterangan
lain
Digunakan sebagai zat aktif.
Penyimpanan Dalam wadah terlindung dari cahaya.
(FI III, p.56)
Kadar
penggunaan
Digunakan 10% sebagai keratolitik.
(OOP, p.105)



2. Antioksidan
Zat BHT (Butil Hidroksi Toluen)
Sinonim Agidol; BHT; 2,6-bis(1,1-dimethylethyl)-4-methylphenol;
butylhydroxytoluene;
butylhydroxytoluenum; Dalpac; dibutylated
hydroxytoluene; 2,6-di-tert-butyl-p-cresol; 3,5-di-tert-butyl-4-
hydroxytoluene; E321; Embanox BHT; Impruvol; Ionol CP;
Nipanox BHT; OHS28890; Sustane; Tenox BHT; Topanol;
Vianol.
(HOPE 6th ed 2009, p.75)

Struktur

(HOPE 6th ed 2009, p.75)
Rumus
molekul
C15H24O
(HOPE 6th ed 2009, p.75)
Titik lebur 70
o
C
(HOPE 6th ed 2009, p.75)
Pemerian Hablur padat, putih, bau khas.
(FI III, p.664)
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air dan propilenglikol. Larut dalam
alkohol, kloroform dan eter.
(FI III, p.664)
Stabilitas Bila terpapar cahaya dan suhu ekstrim dapat mengubah warna
dan menyebabkan ketidakefektifan.
(HOPE 6th ed 2009, p.76)
Inkompabilitas Inkompatibel dengan oksidator kuatseperti peroksida dan
permanganat. Garam besi dapat merubah warna dan
menghilangkan aktivitas. Pemanasan dengan katalis
menyebabkan peningkatan dekomposisi dengan keluarnya gas
isobuten.
(HOPE 6th ed 2009, p.76)
Keterangan
lain
Digunakan sebagai antioksidan pada sediaan kali ini.
Penyimpanan Wadah tertutup rapat, sejuk, terlindung dari cahaya dan
kering.
(HOPE 6th ed 2009, p.76)
Kadar
penggunaan

Digunakan 0,1% dalam sediaan ini.
(HOPE 6th ed 2009, p.75)


3. Preservative
Zat Asam benzoat
Sinonim Acidum benzoicum; benzenecarboxylic acid; benzeneformic
acid;
carboxybenzene; dracylic acid; E210; phenylcarboxylic acid;
phenylformic acid.
(HOPE 6th ed 2009, p.61)

Struktur

(HOPE 6th ed 2009, p.61)
Rumus
molekul
C7H6O2
(HOPE 6th ed 2009, p.61)
Titik lebur 122
o
C (mulai menyublim pada suhu 100
o
C)
(HOPE 6th ed 2009, p.61)
Pemerian Serbuk putih atau kristal tidak berwarna. Tidak berasa dan
berwarna, dengan bau khas benzoin.
(HOPE 6th ed 2009, p.62)
Kelarutan Kelarutan dapat ditingkatkan dengan penambahan asam sitrik
dan asam asetat ke dalam larutan. Larut dalam 1:300 bagian
air. 1:3,72 dalam etanol 76%.
(HOPE 6th ed 2009, p.62)
Stabilitas Larutan asam benzoat dapat disterilkan dengan autoclave atau
filtrasi. 0,1% larutan yang mengandung asam benzoat dapat
bertahan selama 8 minggu jika disimpan dalam wadah
polivinil dan suhu ruangan.
(HOPE 6th ed 2009, p.62)
Inkompabilitas Bereaksi bila dicampur asam organik. Aktivitasnya sebagai
pengawet dapat menurun bila dicampur kaolin.
(HOPE 6th ed 2009, p.62)
Keterangan
lain
Digunakan sebagai pengawet pada sediaan kali ini.
Penyimpanan Disimpan di wadah tertutup rapat, sejuk dan kering.
(HOPE 6th ed 2009, p.62)
Kadar
penggunaan

Pada sediaan kali ini digunakan sebanyak 0,2%
(HOPE 6th ed 2009, p.61)

4. Pelarut
Zat Etanol
Sinonim Ethanolum (96 per centum); ethyl alcohol; ethyl hydroxide;
grain
alcohol; methyl carbinol.
(HOPE 6th ed 2009, p.17)

Struktur

(HOPE 6th ed 2009, p.17)
Rumus
molekul
C2H6O
(HOPE 6th ed 2009, p.17)
Titik lebur -112
o
C
(HOPE 6th ed 2009, p.18)
Pemerian Larutan jernih, tidak berwarna dengan karakter bau khas dan
rasa terbakar ketika memakainya.
(HOPE 6th ed 2009, p.17)
Kelarutan Tidak larut dalam kloroform, eter dan gliserin, pada air juga
apabila terjadi peningkatan suhu dan terjadi kontraksi volume
(HOPE 6th ed 2009, p.17)
Stabilitas Dapat disterilkan dengan autoclave. Stabil dalam panas.
(HOPE 6th ed 2009, p.18)
Inkompabilitas Dalam kondisi asam, etanol bereaksi dengan zat teroksidasi.
Pencampuran dengan alkali dapat membuat warna keruh.
Etanol tidak boleh disimpan di wadah alumunium dan dapat
bereaksi dengan berbagai zat.
(HOPE 6th ed 2009, p.18)
Keterangan
lain
Digunakan untuk membuat ukuran partikel asam salisilat,
BHT dan asam benzoat lebih kecil.
Penyimpanan Di wadah sejuk.
(HOPE 6th ed 2009, p.17)
Kadar
penggunaan

Pada sediaan ini digunakan secukupnya.
(HOPE 6th ed 2009, p.17)
5. Basis salep
Zat Vaseline album
Sinonim Merkur; mineral jelly; petroleum jelly; Silkolene; Snow White;
Soft
White; vaselinum flavum; yellow petrolatum; yellow
petroleum
jelly.
(HOPE 6th ed 2009, p.481)

Struktur -
Rumus
molekul
-
Titik lebur 38-60
o
C
(HOPE 6th ed 2009, p.482)
Pemerian Massa lunak, lengket, bening, putih. Jika dicairkan tidak
berbau, hampir tidak berasa.
(FI III, p.633)
Kelarutan Praktis tidak larut dalam air dan dalam etanol 95%. Praktis
larut dalam kloroform pekat dan eter pekat dan eter minyak
tanah pekat,larutan kadang-kadang beropalesensi lemah.
(FI III, p.633)
Stabilitas Petrolatum adalah zat yang stabil. Ketika terpapar cahaya zat
ini dapat teroksidasi. Tingkat oksidasi bergantung kepada
beberapa faktor.
(HOPE 6th ed 2009, p.482)
Inkompabilitas Petrolatum adalah zat inert dengan inkompatibilitas yang
sedikit.
(HOPE 6th ed 2009, p.482)
Keterangan
lain
Digunakan sebagai basis.
Penyimpanan Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari cahaya, sejuk dan
kering.
(HOPE 6th ed 2009, p.482)
Kadar
penggunaan

Digunakan sebanyak 89,7 gram untuk 100 gram sediaan.
(HOPE 6th ed 2009, p.482)




IV. PERMASALAHAN FARMASETIK DAN PENYELESAIAN
No. Permasalahan Penyelesaian
1 Zat aktif tidak larut dalam air

Ditetesi etanol terlebih dahulu
sebelum dicampur basis untuk
memperkecil ukuran molekul.
2 Sediaan dibuat dalam multiple
dose sehingga mudah ditumbuhi
mikroorganisme lain.

Ditambahkan asam benzoat
sebagai preservative.
3 Beberapa zat dalam sediaan ini
mudah teroksidasi.
Ditambahkan BHT sebagai
antioksidan




V. PENDEKATAN FORMULA
No. Nama Bahan Jumlah Kegunaan
1 Asam salisilat 10% Zat aktif.
2 BHT 0,1% Antioksidan
3 Asam benzoat 0,2% Pengawet
4 Etanol q.s Pelarut zat
5 Vaseline album Ad 100% Basis

VI. PENIMBANGAN
Penimbangan
Dibuat sediaan 8 tube (@ 10 g) + 20%= 100 g

No. Nama Bahan Jumlah yang Ditimbang
1 Asam salisilat 10 g
2 Asam benzoat 0,2 g
3 BHT 0,1 g
4 Etanol q.s
5 Vaseline album 89,7 g
VII. PROSEDUR PEMBUATAN
1. Persiapan dan penimbangan
a. Siapkan alat dan bahan yang diperlukan
b. Timbang bahan-bahan
Asam salisilat (di perkamen) = 10 g
Asam benzoat (di perkamen) = 0,2 g
BHT (di perkamen)=0,1 g
Vaseline album (di perkamen)=89,7 g
2. Pembuatan salep asam salisilat 10%
a. Dimasukkan asam salisilat sedikit demi sedikit ke dalam mortir 1,
sambil ditetesi etanol, digerus sampai halus.
b. Dimasukkan beberapa bagian basis (vas.album) ke dalam mortir 1,
gerus ad homogen.
c. Dimasukkan asam benzoat ke mortir 2, teteskan etanol, gerus ad
homogen, tambahkan beberapa bagian basis ke dalam mortir 2,
gerus adhomogen.
d. Dimasukkan BHT ke dalam mortir 3, teteskan etanol, gerus sampai
halus.
e. Dimasukkan sedikit basis ke dalam mortir 3, gerus adhomogen.
f. Dicampurkan sediaan mortir 2 dan 3 ke dalam mortir 1, gerus
adhomogen.
g. Dibagi sediaan menjadi 8 tube, masing-masing 10 gram. Sisa
sediaan dimasukkan ke tube lain.
VIII. DATA PENGAMATAN EVALUASI SEDIAAN
No Jenis
evaluasi
Prinsip evaluasi Jumlah
sampel
Hasil
pengamatan
Syarat
1
Uji
organolept
ik
Mengamati bau,
warna dan penyebaran
sediaan di kulit.
3 tube
Tube 1 :
Baunya tidak
tengik,
warnanya
putih dan
enak
dipandang,
penyebarann
ya mudah.
Tube 2:
Baunya tidak
tengik,
warnanya
putih dan
enak
dipandang,
penyebarann
ya mudah.
Tube 3 :
Baunya tidak
tengik,
warnanya
putih dan
enak
dipandang,
penyebarann
ya mudah.
Status :
LOLOS UJI.
Bau tidak
boleh
tengik,
warna
harus pas
dan enak
dipandang,
penyebaran
di kulitnya
harus
mudah.
2 Uji Ketiga sampel yang 3 tube Tube 1 : Zat aktif
homogenit
as
dievaluasi dioleskan
ke kaca arloji, dilihat
apakah masih ada
butir zat aktif yang
belum terdispersi.
Walaupun masih ada
yang tidak terdispersi,
dispersinya harus
kecil dan tidak boleh
terlalu besar ukuran
partikelnya.
terdispersi
kecil, masih
tersisa
partikel
padatnya.
Tube 2 :
terdispersi
kecil, masih
tersisa
partikel
padatnya.
Tube 3 :
terdispersi
kecil, masih
tersisa
partikel
padatnya.
harus
terdispersi
semua,
kalaupun
ada yang
belum
terdispersi,
ukuran
partikelnya
harus kecil,
hingga
ketika
dioleskan
di kulit
tidak
menyebabk
an lecet
karena
ukuran
partikelnya
yang kasar
menggores
kulit.
3
Uji isi
minimum
Tube yang berisi
sediaan ditimbang,
dicatat beratnya
sebagai (m1), lalu
keluarkan isinya, cuci
tube dan keringkan
lalu timbang lagi
dicatat volumenya
sebagai (m0). Dari
data tersebut dapat
3 tube
Tube 1 :
w0=2,973 g
w1=13,134 g
Isi minimum
tube 1 :
w1-w0=10,
161 g

Tube 2 :
w0=2,957 g
Hasil
penguranga
n dari m1
dan m0
tidak boleh
kurang dari
jumlah
yang
tertera di
etiket.
ditentukan berapa
sediaan yang ada
dalam tube.
w1=13,030g
Isi minimum
tube 2 :
w1-
w0=10,073 g

Tube 3 :
w0=3,141 g
w1=13,162 g
Isi minimum
tube 3 :
w1-
w0=10,021 g

4 Uji pH
Memasukkan pH
meter ke dalam
sediaan
3 tube
pH
tube 1 : 5
tube 2 : 5
tube 3 : 5
pH ketiga
sampel
harus
seragam.




IX. PEMBAHASAN
pada pembuatan sediaan kali ini digunakan asam salisilat 10% sebagai zat aktif,
dimana fungsinya adalah sebagai antifungal dan antikeratolitik. Tidak perlu
penambahan penetrant enhancer karena zat ini hanya bekerja di bagian terluar
kulit (stratum korneum). Dipilih vaseline album sebagai basis karena bila memilih
vaseline flavum warnanya akan kurang bagus, karena vaseline flavum yang
berwarna kuning. Kebetulan vaseline album kompatibel dengan seluruh zat yang
dipilih di sediaan ini. Vaseline album tidak perlu dipanaskan karena tidak ada
kombinasi basis. Dipilih juga BHT sebagai antioksidan dan asam benzoat sebagai
pengawet karena sediaannya dibuat multiple dose.
Semua zat tambahan di sediaan ini dipilih karena inkompatibilitas zat tambahan
dengan zat aktif tidak terlalu banyak.
Ketika pembuatan kami mengoptimasi beberapa kali, untuk melihat perbedaan
sediaan yang basisnya dipanaskan terlebih dahulu dengan yang tidak, ternyata
sediaan yang basisnya dipanaskan terlebih dahulu lebih mudah dibuat karena basis
menjadi cair sehingga mudah terhomogenkan zat-zatnya namun teksturnya
menjadi seperti krim. Kemudian kami membuat lagi optimasi dengan basis yang
tidak dipanaskan, hasilnya zat-zat lebih lama untuk homogen tapi teksturnya
persis seperti salep. Akhirnya kami memilih agar basisnya tidak dipanaskan
karena memang hanya menggunakan vaseline album saja, tidak menggunakan
kombinasi dengan basis yang lain.
Seminggu kemudian dilakukan evaluasi terhadap sediaan yang telah kami buat,
pertama uji organoleptik, pada uji ini yang diamati adalah bau, warna dan
penyebarannya seperti apa, setelah dilakukan uji dengan 3 tube sediaan
didapatkan hasil yang cukup baik, ketiganya memiliki bau yang tidak tengik,
warna putih susu dan penyebaran di kulitnya relatif mudah. Sehingga sediaan
kami dinyatakan lolos uji organoleptik.
Uji yang kedua ialah uji homogenitas, uji homogenitas dimaksudkan untuk
melihat apakah zat aktif tercampur homogen di dalam sediaan atau tidak, jika
tidak maka efek terapi yang diberikan salep akan berlangsung lama selain itu juga
kulit pasien tidak akan nyaman jika ukuran zat padat yang masih besar-besar
mengenai kulit. Ketika dilakukan uji ini terhadap 3 tube sediaan dihasilkan bahwa
ketiganya terdispersi kecil dan masih tersisa partikel padatnya, namun partikel
padat yang tersisa masih bisa ditoleransi.
Uji evaluasi ketiga yaitu uji isi minimum, uji isi minimum dilakukan dengan
menimbang tube yang masih ada sediaannya lalu dicatat jumlahnya (w1),
kemudian isi di dalam tube dikeluarkan, dicuci, dan dikeringkan lalu ditimbang
lagi tube kosong bersama tutupnya, catat lagi sehingga menghasilkan w0,
penghitungan isi minimum menggunakan rumus :


Perhitungan untuk isi minimum 3 tube :
1. 13,134 g-2,973 g=10, 161 g
2. 13,030g -2,957 g=10,073 g
W1-W0=isi minimum

3. 13,162 g-3,141 g=10,021 g

Ketika uji pH, yang dijadikan ukuran lolos uji atau tidak adalah keseragaman pH.
Ketiga sample yang diuji memiliki pH yang sama (5) maka itu dinyatakan lolos uji pH.
X. KESIMPULAN
Formulasi yang tepat untuk sediaan yang dibuat adalah sebagai berikut.
No. Nama Bahan Jumlah Kegunaan
1 Asam salisilat 10% Zat aktif.
2 BHT 0,1% Antioksidan
3 Asam benzoat 0,2% Pengawet
4 Etanol q.s Pelarut zat
5 Vaseline album Ad 100% Basis



XI. DAFTAR PUSTAKA
Departemen Kesehatan Republik Indonesia. 1979. Farmakope Indonesia edisi III.
Jakarta.
Rowe, Raymond C.2009. Handbook of Pharmaceutical Excipients. 6th ed. London:
pharmaceutical Press.
Syamsuni, H. A. 2005, Ilmu Resep. Jakarta: EGC.
Tjay,H.T dan Rahardja, Kirana. 2003. Obat-obat penting. Jakarta: elex Media
Komputindo.
J.Indon Med ASSOC, vol : 62 nomor 7 juli 2012
Japanese Pharmacopoeia Committee. 2006. The Japanese Pharmacopoeia. Edisi
kelimabelas. Tokyo: The Ministry of Health, Labour and Welfare