Anda di halaman 1dari 16

1

Standar Kompetensi : 3. Menganalisis berbagai besaran fisis pada gejala kuantum dan
batas-batas berlakunya relativitas Einstein dalam paradigma
fisika modern.

Kompetensi Dasar : 3.1. Menganalisis secara kualitatif gejala kuantum yang mencakup
hakikat dan sifat-sifat radiasi benda hitam serta penerapannya

Indikator : 1. Menjelaskan pengertian benda hitam.
2. Mendekripsikan radiasi benda hitam.
3. Menjelaskan hukum Stefan-Boltzmann.
4. Menjelaskan hukum pergeseran Wien tentang radiasi benda
hitam.
5. Menjelaskan teori Rayleigh-Jeans tentang radiasi benda hitam.
6. Menjelaskan teori Planck tentang radiasi benda hitam
berdasarkan konsep kuantum.
7. Membandingkan teori Planck dengan teori-teori sebelumnya.
8. Menerapkan konsep radiasi benda hitam dalam kehidupan
sehari-hari.
9. Menjelaskan efek fotolistrik.
10. Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi besarnya
energi kinetik elektron foto pada efek fotolistrik.
11. Menjelaskan efek Compton.

Konsep Prasyarat : 1. Termodinamika
2. Gelombang Elektromagnetik
3. Hukum kekekalan momentum
4. Hukum kekekalan energy
5. Teori kinetic gas

Konsep Esensial : 1. Radiasi termal
2. Radiasi benda hitam
3. Hukum Stefan-Boltzmann
4. Spektrum Radiasi Benda Hitam
2

5. Hukum Pergeseran Wien
6. Teori Rayleigh-Jeans
7. Teori Planck
8. Efek fotolistrik
9. Efek Compton

Peta Konsep :


















Radiasi Benda
hitam
Intensitas radiasi
termal
Hukum Stefan-
Boltzmann
memiliki
memiliki
Dinyatakan
oleh
Teori Rayleigh-
Jeans
Hukum
pergeseran Wien
Spektrum radiasi benda hitam
Dijelaskan
oleh
Disempurnakan
oleh
Teori Planck
Cahaya sebagai
partikel
menunjukkan
Efek fotolistrik Efek Compton
Dibuktikan dengan
3

Bagan Materi :
















Aspek-aspek :
No. Materi
Aspek-aspek
Contoh Penerapan
Kognitif Afektif Psikomotor
1. Radiasi Benda Hitam - Pemanasan global
2.
Hukum Stefan-
Boltzmann
- - -
3. Spektrum Radiasi - - -
Benda
Hitam
Efek
Fotolistrik
Aplikasi Radiasi
Benda Hitam
Hukum
Stefan-
Boltzmann
Intensitas
Radiasi
Teori
Rayleigh-
Jeans
Tori Max
Planck
Radiasi
Benda
Hitam
Spektrum
Radiasi
Benda
Hitam
Hukum
Pergeseran
Wien
Efek
Compton
4

Benda Hitam
4.
Hukum pergeseran
Wien
- -
Pengukuran suhu
bintang
5. Teori Rayleigh-Jeans - - -
6. Teori Planck - - -
7. Efek fotolistrik - - Panel surya
8. Efek Compton - - -

Materi
A. Radiasi Benda Hitam
Pernahkah anda melihat proses pembuatan golok atau pedang? Pada proses
pembuatan golok atau pedang, besi yang merupakan bahan bakunya dipanaskan terlebih
dahulu sebelum ditempa. Saat dipanaskan dengan suhu yang sangat besar, batang besi
tersebut berpijar dan tampak kemerahan. Jika besi tersebut terus menerus dipanaskan
maka pijarannya akan berubah menjadi kebiruan. Mengapa demikian?
Hal ini dikarenakan saat dipanaskan maka suhu batang besi ini akan meningkat,
sehingga besi memancarkan energi dalam bentuk gelombang elektromagnetik. Pancaran
inilah yang disebut dengan radiasi termal. Radiasi termal adalah radiasi yang
dipancarkan oleh suatu benda yang disebabkan oleh temperaturnya.
Setiap benda pasti selalu memancarkan radiasi termal ke lingkungannya dan
menyerap radiasi termal dari lingkungannya selama suhu benda dan lingkungannya
berbeda sampai tercapai kesetimbangan termal. Kemampuan menyerap atau
memancarkan energi untuk setiap bahan berbeda-beda. Hal ini dipengaruhi oleh
emisivitas (e) bahan tersebut yang besarnya 0 < e < 1. Suatu bahan atau benda yang
dapat menyerap dan memancarkan radiasi energi dengan sangat baik (emisivitasnya 1)
disebut juga dengan benda hitam atau blackbody.
Ketika radiasi kalor masuk ke dalam sebuah benda berongga melalui lubang
sangat kecil pada permukaannya, maka energi radiasi tersebut akan diserap sebagian oleh
dinding dalam benda dan sebagian lagi akan dipantulkan. Energi yang dipantulkan
tersebut akan mengenai kembali dinding bagian dalam benda di sisi lainnya, dan
kemudian sebagian energi diserap kembali oleh dinding dalam tersebut dan sebagian lagi
akan dipantulkan. Peristiwa penyerapan dan pemantulan tersebut terus-menerus terjadi
5

hingga seluruh energi radiasi terserap oleh benda tersebut. Benda tersebut merupakan
pemodelan dari benda hitam seperti terlihat dalam gambar berikut.


Gambar 1. Pemodelan benda hitam
Untuk membuktikan bahwa energi dalam rongga, seperti yang dimodelkan benda
hitam tersebut, akan terus diserap seluruhnya, dapat dilakukan pembuktian yang dapat
dilakukan secara pribadi di rumah. Dengan cara sebagai berikut:
1. Gambar kotak berongga, beri lubang sangat kecil dibandingkan sisinya di salah
satu sisi.
2. Gambarkan energi yang masuk dalam bentuk garis lurus yang melalui lubang
kecil hingga menyentuh dinding dalam. Saat garis menyentuh dinding, artinya
ada energi yang diserap dan ada yang dipantulkan kembali.
3. Gambarkan energi yang dipantulkan dengan menggunakan hukum Snellius
sehingga sudut datang energi dan sudut pantulnya sama.
4. Lanjutkan gambar garis pantul hingga menyentuh dinding lainnya dam ulangi
terus menerus langkah 3 dan 4.
5. Kapan garis akan keluar kembali dari kotak melalui lubang yang sama?
Sebelum garis (energi) berhasil keluar kembali, energi telah habis terserap di
dalam rongga kotak karena terjadinya peristiwa penyerapan dan pemantulan
berulang yang sangat banyak.
Benda hitam tersebut dapat memancarkan kembali seluruh energi yang telah
diserapnya secara radiasi, jika dianggap tidak ada lubang lain selain lubang yang sangat
kecil tersebut. Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh Stefan-Boltzmann,
besarnya energi yang dipancarkan per satuan luas per satuan waktu, atau yang lebih
dikenal dengan intensitas, sebanding dengan pangkat empat suhu mutlaknya dan juga
bergantung pada emisivitas masing-masing benda. Secara matematis dinyatakan sebagai
berikut:
6


Keterangan:
I = intensitas radiasi termal (

)
e = emisivitas bahan (0 < e < 1)
= konstanta Stefan-Boltzmann (

)
T = suhu (K)

B. Spektrum Radiasi Benda Hitam
Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, bahwa radiasi termal ini merupakan
pancaran energi yang dipancarkan dalam bentuk gelombang elektromagnetik, maka
radiasi termal ini terbentang dalam bentuk spektrum. Hal ini ditunjukkan oleh contoh di
atas, yaitu saat besi dipanaskan besi tersebut berpijar kemerahan, dan ketika terus
menerus dipanaskan atau dipanaskan dengan suhu yang lebih tinggi ternyata warna
pijarannya berubah menjadi biru.
Jika suatu benda padat dipanaskan dengan suhu berbeda-beda, maka benda
tersebut akan memancarkan radiasi kalor dalam bentuk spektrum gelombang
elektromagnetik dengan panjang gelombang dan frekuensi yang berbeda-beda. Semakin
tinggi suhunya, maka panjang gelombangnya akan semakin kecil atau frekuensinya
semakin besar, seperti yang ditunjukkan pada grafik berikut ini

7


Gambar 2. Grafik Intensitas Radiasi Terhadap Panjang Gelombang
Dari keempat kurva tersebut, terlihat bahwa spektrum radiasi benda hitam
merupakan spektrum yang kontinu. Pada suhu tertentu, spektrum dengan panjang
gelombang yang tinggi memiliki intensitas yang rendah. Seiring dengan penurunan
panjang gelombang, intensitas akan bertambah sampai batas tertentu akan turun lagi.
Dari hasil pengamatan yang dilakukan para ahli, diketahui bahwa pada suhu biasa
(di bawah 600C) radiasi termal yang dipancarkan benda hitam tidak tampak karena
energi itu terkonsentrasi dalam daerah inframerah dari spektrum elektromagnetik. Pada
suhu antara 600C hingga 700C, ada energi yang cukup banyak hingga bendanya
berpijar merah pudar. Pada suhu lebih tinggi (di atas 700C) spektrum tampak menjadi
merah terang, biru, dan bahkan panas putih.

C. Hukum Pergeseran Wien
Dari kurva di atas, (Gambar 2), semakin tinggi suhu suatu benda, puncak
intensitasnya semakin bergeser ke kiri. Hal inilah yang diamati oleh Wien. Berdasarkan
pengamatannya tersebut, ia menemukan bahwa perkalian panjang gelombang maksimum
dengan suhu mutlaknya selalu menghasilkan bilangan yang konstan, yang disebut tetapan
pergeseran Wien.
8



D. Teori Rayleigh-Jeans
Pada tahun 1890, muncul pertanyaan bagaimana menjelaskan spektrum radiasi
benda hitam. Lord Rayleigh dan Sir James Hopward Jeans mencoba merumuskan
penjelasan secara teoritis tentang spektrum radiasi benda hitam dengan menggunakan
teori fisika klasik seperti teori kinetik gas.
Menurut fisika klasik, teori ekipartisi menyatakan bahwa energi total gas dalam
suatu ruangan tertutup dibagi secara merata ke setiap molekul yang terdapat di dalam
ruangan. Jika energi total sistem adalah E dan banyaknya molekul yang berada dalam
ruangan adalah N, energi rata-rata yang dimiliki oleh setiap molekul adalah E/N. Energi
ini terkandung dalam bentuk energi kinetik setiap molekul. Akan tetapi, tidak berarti
setiap molekul memiliki energi yang sama, yaitu E/N. Nilai tersebut merupakan nilai rata-
rata. (Indrajit, 2007)





Gambar 3. Sebaran jumlah partikel yang memiliki kecepatan v
Gambar di atas memperlihatkan sebaran kecepatan yang dimiliki molekul gas.
Sebaran energi kinetik diwakili oleh sebaran kecepatan karena energi kinetik dapat
dinyatakan dengan kecepatan. Rayleigh dan Jeans melihat bahwa kurva tersebut mirip
dengan kurva intensitas terhadap spektrum radiasi benda hitam. Oleh karena itu, Rayleigh
dan Jeans membuat persamaan berdasarkan teori ekipartisi energi.


v
n(v)
9

E. Teori Max Planck
Kedua teori yang telah diajukan sebelumnya, masih menggunakan prinsip-prinsip
fisika klasik. Teori-teori tersebut juga belum mampu menjelaskan secara sempurna hasil
eksperimen tentang spektrum radiasi benda hitam dari segi teoritis. Hukum pergeseran
Wien tidak berlaku pada wilayah panjang gelombang yang panjang. Sedangkan teori
Rayleigh-Jeans tidak berlaku untuk panjang gelombang yang pendek.
Berdasarkan teori Rayleigh-Jeans, pada panjang gelombang yang sangat pendek
atau mendekati nol, ternyata didapatkan nilai intensitas yang tak terhingga. Hal tersebut
bertentangan dengan hasil eksperimen yang tergambar pada kurva dalam gambar 2.
Karena penyimpangan terjadi pada frekuensi tinggi, yaitu pada daerah ultraviolet, maka
penyimpangan ini disebut juga dengan bencana ultraviolet atau UV-Catastrophy.
Penyimpangan yang terjadi pada kedua teori tersebut dapat dilihat pada gambaar berikut:












Gambar 3. Kesalahan Teori Klasik dalam menjelaskan spektrum radiasi benda
hitam

Untuk memperbaiki penyimpangan yang terjadi pada teori sebelumnya, seorang
fisikawan yang bernama Max Planck mengajukan sebuah gagasan yang revolusioner,
yaitu tentang kuantisasi energi. Menurutnya, energi radiasi yang dipancarkan atau diserap
oleh benda hitam merupakan paket-paket atau kuanta yang disebut foton. Jadi, besarnya
energi radiasi ini terkuantisasi. Besarnya energi tersebut adalah kelipatan dari hf yaitu:
E = nhf (3)
Teori wien
Teori Rayleigh-Jeans
Teori Planck
Panjang gelombang
i
n
t
e
n
s
i
t
a
s

10

Dimana n = 1,2,3,4,, dan h adalah konstanta Planck yang besarnya


Js.
Teori yang dikemukakan Planck tersebut dapat menjelaskan tentang Hukum Stefan-
Boltzmann, Hukum pergeseran Wien, dan teori Rayleigh-Jeans. Gagasan ini juga yang
menjadi awal mula dikenalkan fisika kuantum.

F. Aplikasi Radiasi Benda Hitam
1. Gejala pemanasan global
Seperti yang kita ketahui, bumi dilindungi oleh lapisan atmosfer. Ketika cahaya
matahari masuk ke bumi dengan energi tertentu, sebagian energi sampai ke
permukaan bumi, sebagian lagi ada yang dipantulkan ke angkasa luar, dan sebagian
kecil diserap oleh awan dan debu-debu yang ada di lapisan atmosfer. Energi yang
sampai ke permukaan bumi sebagian diserap dan sebagian lagi dipantulkan kembali.
Jika pada lapisan atmosfer terdapat banyak gas CO2, maka sebagian besar energi
matahari tersebut akan diserap oleh atmosfer dan sebagian lagi dipantulkan kembali
ke permukaaan bumi, dan hanya sebagian kecil saja yang dibebaskan ke angkasa luar.
Proses penyerapan dan pemantulan ini terjadi berulang-ulang.

Gambar 4. Pemanasan Global
Apabila gas seperti CO2, metana, dan CFC terkandung dalam atmosfer secara
berlebihan, mungkin saja tidak akan ada energi yang diradiasikan kembali ke angkasa
luar, dan bumi yang diselubungi atmosfer akan menjadi seperti benda hitam yang
suhunya terus mengalami peningkatan.
2. Pengukuran Suhu Bintang
Matahari merupakan bintang yang paling dekat dengan bumi. Bintang-bintang
memancarkan energi yang berasal dari reaksi fusi. Energi yang dihasilkan melalui
11

reaksi fusi tersebut dipancarkan dalam bentuk radiasi. Berdasarkan hukum Stefan-
Boltzmann, intensitas radiasi yang dipancarkan berbanding lurus dengan pangkat
empat suhunya. Ternyata, radiasi yang diukur di luar angkasa menunjukkan spektrum
radiasi bintang yang mirip dengan spektrum radiasi benda hitam, sehingga bintang
dapat dianggap sebagai benda hitam.
Sehingga, dengan mengamati panjang gelombang intensitas maksimal (

)
dari cahaya bintang yang sampai di bumi, kita data memperkirakan suhu bintang
tersebut dengan menggunakan hukum pergeseran Wien. Dengan pendekatan tersebut,
kita tidak perlu mendekati bintang tertentu untuk mengukur suhunya.


G. Efek Fotolistrik
Pemikiran Max Planck yang telah mengemukakan bahwa energi yang diraidasikan
oleh sebuah benda hitam dalam dalam bentuk gelombang elektromagnetik itu tidaklah
kontinu tetapi terkuantisasi yaitu dalam bentuk paket-paket energi diskrit yang disebut
foton, ini menunjukkan bahwa gelombang elektromagnetik ini juga dapat bersifat sebagai
partikel. Pernyataan ini juga diperkuat oleh gejala yang disebut efek fotolistrik. Efek
fotolistrik yaitu peristiwa terlepasnya elektron dari permukaan sebuah logam saat disinari
cahaya (termasuk gelombang elektromagnetik) dengan frekuensi tertentu. Efek fotolistrik
ini dikemukakan oleh Albert Einstein.
Percobaan efek fotolistrik ini dilakukan dengan sebuah tabung kaca hampa udara
yang berisi plat logam 1 dan 2. Plat 2 dihubungkan ke kutub negatif baterai (sebagai
katode) dan plat 1 dihubungkan ke kutub positif baterai (sebagai anode), serta dipasang
amperemeter pada rangkaian tersebut. Ketika tabung ditempatkan dalam ruang gelap
(tidak ada cahaya), jarum amperemeter A tidak menyimpang (menunjukan nol) meskipun
telah diberi tegangan yang besar. Ini berarti tidak ada arus yang mengalir. Ketika seberkas
cahaya dengan panjang gelombang tertentu disinarkan pada pelat 2 maka arus listrik
dideteksi oleh amperemeter A (jarum galvanomatar menyimpang). Ini menunjukan
adanya elektron-elektron yang keluar dari pelat logam negatif 2 menuju pelat positif 1.
Loncatnya elektron ini dikarenakan elektron-elektron pada plat logam ini mendapatkan
energi yang cukup dari foton-foton. Elektron yang terlepas dari logam saat disinari
cahaya disebut juga dengan elektron foto.
Berdasarkan eksperimen tersebut yang dilakukan dengan mengubah-ubah
intensitas dan frekuensi cahaya yang mengenai logam, diperoleh hasil bahwa:
12

1. Saat intensitas di ubah-ubah sedangkan frekuensi tetap, ternyata hanya mengakibatkan
bertambahnya elektron foto, dan tidak mempengaruhi energi kinetiknya.
2. Energi kinetik elektron berbanding lurus dengan frekuensi cahaya yang mengenai plat
logam.
3. Efek fotolistrik hanya terjadi pada saat cahaya yang diberikan memiliki frekuensi
tertentu, yaitu frekuensi yang lebih besar dari frekuensi ambang logam (bahan).
Frekuensi ambang adalah frekuensi minimum yang dapat menyebabkan terjadinya
efek fotolistrik.
Hal tersebut bertentangan dengan anggapan pada teori klasik, yang menyatakan bahwa
jika intensitas diperbesar maka energinya pun semakin besar. Sedangkan pada
kenyataannya, sebesar apapun intensitas cahaya yang diberikan, tidak akan mengubah
besarnya energi. Dan berapapun intensitas yang diberikan, asalkan frekuensinya lebih
besar dari frekuensi ambang, pasti akan terjadi efek fotolistrik.






Gambar 5. Efek Fotolistrik
Jika percobaan dilakukan dengan mengubah-ubah intensitas cahaya dan beda
potensialnya sedangkan frekuensi dibuat tetap, maka didapatkan hasil sebagai berikut:
1. Kuat arus sebanding dengan intensitas cahaya yang digunakan.
2. Pada saat V =

, dengan

disebut juga stopping voltage, tidak ada elektron foto,


yang artinya tidak ada elektron yang terlepas atau sampai ke plat 1. Ini terjadi karena
tidak ada elektron yang energi kinetiknya dapat melawan energi potensial listrik yang
diberikan yaitu

. Dapat dikatakan bahwa energi kinetik rata-rata elektron:


(4)



13

Sedangkan untuk energi elektron foto diperoleh dari energi cahaya yang menyebabkannya
(E = hf). Ketika cahaya mengenai plat logam, energi cahaya ini terlebih dahulu digunakan
elektron foto untuk melepaskan diri dari plat logam, dan sisanya digunakan untuk
bergerak dari plat logam 2 ke plat logam 1 (

). Energi cahaya yang digunakan untuk


melepaskan diri disebut dengan energi ambang atau fungsi kerja (W) yang besarnya:

(5)
Jadi besarnya energi kinetik elektron foto adalah:



H. Efek Compton
Pada penjelasan efek fotolistrik sebelumnya, cahaya dapat dipandang sebagai
paket-paket energi (foton). Paket-paket energi cahaya tersebut tidak berbentuk sebagai
gelombang, tapi lebih mendekati bentuk partikel. Pandangan bahwa cahaya dapat bersifat
sebagai partikel diperkuat oleh gejala efek Compton.
Hal ini diamati oleh Arthur Holly Compton dalam sebuah percobaan. Ketika
seberkas sinar X ditembakkan ke sebuah elektron bebas yang diam, sinar X akan
mengalami perubahan panjang gelombang dimana panjang gelombang sinar X
bertambah, atau dengan kata lain frekuensinya berkurang. Gejala tersebut dikenal dengan
Efek Compton.



14


Gambar 6. Peristiwa Hamburan Compton
Gambar tersebut menunjukkan ketika sinar X yang berlaku sebagai foton
menumbuk elektron, terjadi perubahan panjang gelombang. Ketika terjadi tumbukan,
akan ada energi yang berpindah dari foton kepada elektron sehingga elektron dapat
bergerak. Dalam teori kuantum, perubahan energi tersebut berhubungan dengan
perubahan panjang gelombang atau frekuensi.
Dalam gambar tersebut, foton dan elektron akan terhambur masing-masing dengan
sudut dan terhadap arah gerak foton sebelum tumbukan. Hamburan yang dialami
sinar X tersebut disebut hamburan Compton dengan ciri khas terjadinya perubahan


menjadi

dengan nilai yang lebih besar.


Untuk mengetahui perubahan energi atau panjang gelombang foton setelah
hamburan, digunakan analisis hukum kekekalan momentum dan hukum kekekalan
energi.
Berdasarkan hukum kekekalan energi:


Dengan

ialah energi foton datang,

adalah energi elektron diam,

adalah
energi foton terhambur, dan

adalah energi total elektron relativistik setelah tumbukan.


Berdasarkan hukum kekekalan momentum:


Dengan

adalah momentum foton datang,

adalah momentun foton hamburan,


dan

adalah momentum elektron setelah tumbukan, adalah sudut hamburan foton


,dan adalah sudut hamburan elektron.
15

Dari persamaan 8.a dan 8.b, eliminir sudut , maka diperoleh:


Berdasarkan teori Planck, energi foton E=hf dan momentum foton didapat dari:


Jika persamaan energi foton dan persamaan momentum (10) disubstisusikan ke
persamaan (7) dan (9), maka diperoleh:


Energi total relativistik ialah:


Substitusi persamaan (11) dan (12) ke dalam persamaan (13), maka akan diperoleh:


Keberhasilan dalam menunjukkan bahwa energi cahaya dalam bentuk foton
memiliki momentum dan dapat berlaku sebagai partikel membuat cahaya tidak lagi
hanya dipandang sebagai gelombang saja, sebagaimana hasil pengamatan sebelumnya
dalam periode fisika klasik yang menunjukkan bahwa cahaya mengalami polarisasi,
difraksi, refleksi, dan gejala-gejala lain yang menunjukkan sifat cahaya sebagai
gelombang. Sehingga dikenal istilah dualisme partikel-gelombang.







16

Daftar Pustaka
Indrajit, Dudi. 2007. Mudah dan Aktif Belajar Fisika. Bandung: PT. Setia Purna Inves.
Kamajaya. 2007. Cerdas Belajar Fisika untuk SMA kelas XII. Bandung: Grafindo.
Seran Daton, Goris. 2007. Fisika untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta: Grasindo.
Sinaga, Parlindungan. 2009. Fisika Modern. Bandung.
Sutrisno. 2003. Ilmu Fisika untuk SMU Kelas 3. Bandung: Acarya Media Utama.
Tipler, Paul A. 2001. Fisika untuk Sains dan Teknik, Jilid 2. Jakarta: Erlangga.
Azhari. 2011. Radiasi Thermal dan Postulat Planck, [Online]. Tersedia:
http://freestars57.blogspot.com/2011/03/radiasi-thermal-dan-postulat-planck.html
[15 September 2011]
2011. Radiasi Benda Hitam, [Online]. Tersedia: http://basistik.blogspot.com/2011/03/radiasi-
benda-hitam.html/ [15 September 2011]