Anda di halaman 1dari 26

LAPORAN

PRAKTIKUM TEKNIK LABORATORIUM


OVEN, TIMBANGAN DAN DESIKATOR : BERAT BASAH DAN
BERAT KERING












Disusun Oleh :


Nama : PRAYOGI WASKITO
NIM : F05112012
Kelompok : II ( DUA )





PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS TANJUNGPURA
PONTIANAK
2013
OVEN, TIMBANGAN DAN DESIKATOR :
BERAT BASAH DAN BERAT KERING




A. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Dalam laboratorium, sebuah kegiatan praktikum itu tentunya harus
menggunakan alat-alat laboratorium guna mendukung jalannya kegiatan
praktikum tersebut. Dimana tentu saja praktikan tidak dapat secara langsung
menggunakan alat-alat tersebut tanpa mempunyai pengetahuan dan
kemampuan yang cukup untuk itu. Sebab, alat-alat tersebut memiliki
prosedur-prosedur dalam penggunaannya. Misalnya peralatan-peralatan
yang digunakan dalam pengeringan/pemanasan bahan dalam penentuan
kadar air, berat basah maupun berat kering. Dalam hal ini alat-alat tersebut
seperti oven, timbangan dan desikator. Maka dari itu, pengenalan alat-alat
laboratorium oleh praktikan dirasa penting agar sebuah praktikum dapat
berjalan sebagaimana mestinya. Namun tidak hanya dikenal begitu saja,
praktikanpun seyogyanya mesti pula mengetahui fungsi dari masing-masing
alat-alat tersebut.
Dalam praktikum ini digunakan alat oven, timbangan dan desikator
dalam hal penentuan berat basah dan berat kering suatu daun dan buah
jambu biji. Untuk itu penggunaan peralatan-peralatan tersebut harus sesuai
dengan prosedur penggunaannya.

2. Dasar Teori
Pengeringan didefinisikan sebagai proses pengambilan air yang relatif
kecil dari suatu zat padat atau dari campuran gas. Pengeringan meliputi
proses perbindahan panas, massa dan momentum. Bahan yang akan
dikeringkan dikontakkan dengan panas dari udara (gas) sehingga panas akan
dipindahkan dari udara panas ke bahan basah tersebut, dimana panas ini
akan menyebabkan air menguap ke dalam udara. Dalam pengeringan ini,
dapat mendapatkan produk dengan satu atau lebih tujuan produk yang
diinginkan, misalnya diinginkan bentuk fisiknya (bubuk, pipih, atau
butiran), diinginkan warna, rasa dan strukturnya, mereduksi volume, serta
memproduksi produk baru. Adapun dasar dari tipe pengering yaitu panas
yang masuk dengan cara konveksi, konduksi, radiasi, pemanas elektrik, atau
kombinasi antara tipe cara-cara tersebut (Mujumdar, 2004).
Measuring moisture content accurately is of utmost importance to the
food processing industry. Moisture is related to many properties that affect
the quality and the shelf-life of the final food product, including bacterial
growth and texture. This problem becomes even more acute when multi-
domain foods are considered as the difference in water activity between the
different domains can also result in moisture migration until an equilibrium
is reached within the system ( Labuza T P and Hyman C R. 1998 ).
Unwanted moisture migration can affect microbial stability, physical
and sensory properties and the rate of chemical changes of a food system
that essentially reduce its shelf-life. Measurement techniques using
terahertz radiation have certain advantages that can be exploited for
measuring the moisture content in food samples. As mentioned earlier,
water strongly absorbs terahertz radiation, with typical absorbance values of
the order of 250 cm-1 (Pickwell E and Wallace V P. 2006). Other
constituents of food wafers such as proteins show typical absorption
coefficients of the order of 2 cm-1 and fats and lipids present typical values
of 15 cm-1 ( Ashworth P C and Reid C. 2007). Starch, which is the main
constituent of wafer, has an absorption coefficient of 6 cm-1 in this part of
the electromagnetic radiation spectrum (P. Parasoglou, et al. 2010 ).
Mekanisme pengeringan dapat diterangkan dengan teori perpindahan
massa dimana peristiwa lepasnya molekul air dari permukaan tergantung
dari bentuk dan luas permukaan. Bila suatu bahan sangat basah/lapisan air
yang menyelimuti bahan itu tebal, maka akan menarik molekul-molekul air
dari permukaan datar. Bila pengeringan diteruskan, kecepatan penguapan air
yang lepas dari molekul akan tetap sama. Setelah molekul-molekul air yang
membentuk lapisan pada permukaan datar habis, luas permukaan akan naik
karena titik-titik dari permukaan butir jadi rata yang akan memperluas
permukaannya sehingga dalam pengeringan ada 2 macam mekanisme yaitu
mekanisme penguapan dengan kecepatan tetap (constant rate period) dan
mekanisme penguapan dengan kecepatan tidak tetap (falling rate period).
Kecepatan pengeringan dapat didefinisikan :
N =



(Alan S. Foust dkk, 1960).

Pengeringan juga didefinisikan sebagai proses pengeluaran air dari
bahan sehingga tercipta kondisi dimana kapang, jamur, dan bakteri yang
menyebabkan pembusukan tidak dapat tumbuh. Pengeringan adalah proses
pengeluaran kadar air untuk memperoleh kadar air yang aman untuk
penyimpanan. Tujuan Pengeringan adalah mengurangi kadar air bahan
sampai batas dimana perkembangan mikroorganisme dan kegiatan enzim
yang dapat menyebabkan pembusukan terhambat atau terhenti. Proses
pengeringan yang umumnya digunakan pada bahan pangan ada dua cara
yaitu pengeringan dengan penjemuran dan pengeringan dengan alat
pengering. Kelemahan dari penjemuran adalah waktu pengeringan lebih
lama dan lebih mudah terkontaminasi oleh kotoran atau debu sehingga dapat
mengurangi mutu akhir produk yang dikeringkan. Di sisi lain, pengeringan
yang dilakukan dengan menggunakan alat pengering biayanya lebih mahal,
tetapi mempunyai kelebihan yaitu kondisi sanitasi lebih terkontrol sehingga
kontaminasi dari debu, serangga, burung dan tikus dapat dihindar.
Pengeringan oven (Oven Drying) untuk produk pangan membutuhkan
sedikit biaya investasi, dapat melindungi pangan dari serangan serangga dan
debu, dan tidak tergantung pada cuaca (Winarno et al.,1980).
Pada constant rate period, umumnya selama pengeringan berlangsung,
bahan akan selalu basah dengan cairan sampai titik kritis. Titik kritis yaitu
suatu titik dimana permukaan bahan sudah tidak sempurna basah oleh
cairan. Setelah titik kritis tercapai, mulailah dengan periode penurunan
kecepatan sampai cairan habis teruapkan. Pada proses ini hubungan antar
moisture content dengan drying rate dapat berupa garis lurus atau garis
lengkung yang patah. Kecepatan penguapan pada periode tidak tetap
tergantung pada zat padatnya, juga cairannya. Pada permukaan zat padat,
makin kasar pengeringannya akan semakin cepat jika dibandingkan dengan
permukaan yang lebih halus (Suherman, Diktat Kuliah pengeringan).
Oven adalah alat untuk memanaskan memanggang dan
mengeringkan. Oven dapat digunakan sebagai pengering apabila dengan
kombinasi pemanas dengan humidity rendah dan sirkulasi udara yang
cukup. Kecepatan pengeringan tergantung dari tebal bahan yang
dikeringkan. Penggunaan oven biasanya digunakan untuk skala kecil. Oven
yang kita gunakan adalah elektrik oven yaitu oven yang terdiri dari beberapa
tray didalamnya, serta memiliki sirkulasi udara didalamnya. Kelebihan dari
oven adalah dapat dipertahankan dan diatur suhunya. Bahan yang akan
dikeringkan diletakkan pada tray-traynya ( Horrison, 2000).
Prinsip analisis kadar air dengan metode thermogravimetri atau
pengeringan/pemanasan adalah menguapkan air dalam bahan dengan
menggunakan energi panas kemudian ditimbang. Bahan yang akan
ditetapkan kadar airnya, dipanaskan dengan oven pengering pada suhu
tertentu (100 105 C). Kehilangan berat selama pemanasan merupakan
jumlah air yang terdapat dalam bahan tersebut. Kelebihan metode ini adalah
murah dan mudah. Kelemahannya adalah bahan-bahan selain air yang
mudah menguap (seperti alkohol) juga akan terukur, bahan-bahan yang
mengandung lemak atau minyak akan mengalami reaksi oksidasi, dan bahan
yang berkadar gula tinggi akan mengalami reaksi karamelisasi. Pada
penentuan kadar air dengan metode thermogravimetri, sampel dimasukkan
ke dalam oven pengering sebaiknya tidak langsung suhu 100 105 C,
namun bertahap. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya case
hardening, yaitu suatu keadaan di mana bagian dalam bahan masih basah
sedangkan bagian luar sudah mengeras. Bila keadaan ini terjadi, maka
penguapan air dari dalam bahan akan terhambat (Baedhowi. 1983).
Kadar air dapat dinyatakan dalam dalam wet basis (berat basah) atau
dry basis (berat kering). Kadar air wet basis (wb) dihitung dengan
perbandingan antara berat air yang diuapkan dengan berat bahan mula-mula
(berat sebelum dikeringkan) dikalikan 100 %. Kadar air dry basis (db)
dihitung berdasarkan perbandingan antara berat air yang diuapkan dengan
berat kering bahan setelah dikeringkan, dikalikan dengan 100 %. Bila dalam
penulisan kadar air tidak dicantumkan apakah kadar air tersebut wet basis
atau dry basis, maka itu berarti kadar air tersebut dinyatakan dalam wet
basis (Slamet. 1984).



B. TUJUAN
Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dari oven, timbangan
dan desikator serta mengetahui berat basah dan berat kering dari buah dan daun
jambu biji. Selain itu juga, bertujuan untuk mengetahui kadar air buah dan
daun jambu biji serta mengetahui pengaruh luas permukaan terhadap kecepatan
penguapan.



C. METODOLOGI
1. Alat dan Bahan
Praktikum mengenai Oven, Timbangan dan Desikator : Berat basah
dan Berat kering dilaksanakan pada hari Kamis tanggal 30 Mei 2013
dimulai pada pukul 15.30 17.30 WIB. Praktikum ini dilaksanakan dalam
ruang Laboratorium Biologi FKIP UNTAN. Adapun peralatan dan bahan
yang digunakan pada praktikum kali ini cukup sederhana saja dan sering
digunakan dalam setiap praktikum yaitu diantaranya termasuk pisau, cawan
petri, kertas koran/kertas folio, jambu biji, daun jambu biji. Selain itu ada
juga peralatan berkategori khusus yang digunakan yaitu oven.

2. Cara Kerja
Pada praktikum kali ini, hal pertama yang harus dilakukan adalah
dengan mendengarkan semua penjelasan yang akan disampaikan oleh
asisten praktikum. Setelah itu, siapkan jambu biji beserta daunnya. Switch
on oven yang telah diatur temperaturnya pada suhu 80
o
C dan masukkan 1
termometer yang telah dikalibrasi. Percobaan pertama dengan daun jambu
biji, potong daun jambu biji dengan ukuran 1x1 cm sebanyak 10 potong dan
letakkan pada 1 cawan petri. Sebelum itu, timbang dahulu berat cawan
petrinya, setelah itu timbang berat basah daun jambu biji. Kemudian buatlah
tabel pengamatan berat basah dan berat kering daun jambu biji sertan
masukkan hasil pengukuran sebelumnya. Buatlah 10 potong daun jambu biji
kembali dengan ukuran yang sama dan letakkan masing-masing 10 potong
daun pada 3 cawan petri. Langkah terakhir, simpan daun jambu biji pada 4
cawan petri dalam oven. Percobaan yang kedua, dengan buah jambu biji.
Langkah pertama yang harus dilakukan ialah menyiapkan 1 buah jambu biji
dan potong menjadi enam bagian serta buang bijinya. Selanjutnya, potong
lagi enam bagian jambu biji tersebut dengan menggunakan 3 metode
potongan (perlakuan). Pertama dua potong/bagian buah jambu diiris tipis-
tipis dan letakkan kedalam cawan petri yang sudah ditimbang beratnya.
Kemudian timbang dan catat berat basah irisan buah jambu ini sebelum
dimasukkan kedalam oven. Kedua, dua potong/bagian buah jambu lainnya
diiris dua (cross section) setiap bagiannya. Selanjutnya, timbang dan catat
berat cawan petri serta berat basah jambu. Setelah itu letakkan jambu dalam
cawan petri. Ketiga, dua potong sisanya diletakkan dalam cawan petri
lainnya yang sudah ditimbang berat cawan petri dan berat basah jambu
sebelumnya. Langkah selanjutnya, cek berat daun dan buah jambu biji pada
setiap cawan mulai hari kedua sampai hari kelima setelah dikeringkan
dalam oven. Kemudian timbanglah dan masukkan hasil pengukuran pada
tabel pengamatan. Setelah itu, hitung berat kering dari daun dan buah jambu
biji serta standar deviasi dari berat kering daun dengan menggunakan data
kelompok. Terakhir, dengan menggunakan data kelas, hitung standar deviasi
dari berat kering buah jambu biji pada tiga metode potong/iris (perlakuan)
yang berbeda.



D. HASIL PENGAMATAN

1. Tabel Pengamatan Daun dan Buah Jambu Biji Selama 5 Hari

Tabel Pengamatan daun jambu biji

Ulangan




Berat
basah
daun
(gr)
Berat
cawan
petri
(gr)

Berat Kering Hari Ke-
1 2 3 4 5
1 0,21 56,88 0,21 0,10 0,08 0,06 0,03
2 0,25 58,07 0,25 0,16 0,11 0,08 0,06
3 0,17 57,43 0,17 0,10 0,04 0,02 0,01
4 0,17 58,44 0,17 0,07 0,05 0,03 0,02

Tabel pengamatan buah jambu biji



Perlakuan


Kelompok
Berat
basah
daun
(gr)


Berat Buah Ke-
I II III IV V

Diiris
Tipis
1 36,25 36,25 34,03 31,70 28,30 26,63
2 34,44 34,44 33,41 32,80 31,76 29,63
3 44,32 44,32 41,68 39,90 34,60 24,50
4 32,31 32,31

30,56 26,00 25,70 40,33

Dibelah
dua
1 41,90 41,90 36,56 41,20 32,90 34,30
2 32,81 32,81 31,44 32,90 27,60 26,03
3 31,19 31,19 29,00 28,80 20,60 27,50
4 43,73 43,73

39,12 37,30 34,50 30,80

Tidak
dibelah
1 38,56 38,56 35,54 31,00 31,20 29,93
2 33,34 33,34 31,46 30,00 29,10 26,43
3 24,72 24,72 23,53 22,00 20,50 20,13
4 45,39 45,39 36,73 35,40 33,70 30,50


2. Tabel Standar Deviasi Daun Jambu biji


Hari pertama

x x -

(x - )
2

0,21 0,2 0,01 0,0001
0,25 0,2 0,05 0,0025
0,17 0,2 -0,03 0,0009
0,17 0,2 -0,03 0,0009
= 0,8 = 0,0044

Hari Kedua

x x -

(x - )
2

0,10 0,1075 -0,0075 0,0000563
0,16 0,1075 0,0525 0,0027563
0,10 0,1075 -0,0075 0,0000563
0,07 0,1075 -0,0375 0,0014063
= 0,43 = 0,0042752



Hari Ketiga

x x -

(x - )
2

0,08 0,07 0,01 0,0001
0,11 0,07 0,04 0,0016
0,04 0,07 -0,03 0,0009
0,05 0,07 -0,02 0,0004
= 0,28 = 0,003


Hari Keempat

x x -

(x - )
2

0,06 0,0475 0,0125 0,0001563
0,08 0,0475 0,0325 0,0010563
0,02 0,0475 -0,0275 0,0007563
0,03 0,0475 -0,0175 0,0003063
= 0,19 = 0,0022752



Hari Kelima

x x -

(x - )
2

0,03 0,03 0 0
0,06 0,03 0,03 0,0009
0,01 0,03 -0,02 0,0004
0,02 0,03 -0,01 0,0001
= 0,12 = 0,0014


3. Tabel Standar Deviasi Buah Jambu Biji
a. Tabel Standar Deviasi Buah Jambu Biji Yang Diiris Tipis

Hari Pertama

x x -

(x - )
2

36,25 36,83 -0,58 0,3364
34,44 36,83 -2,39 5,7121
44,32 36,83 7,49 56,1001
32,31 36,83 -4,52 20,4304
= 147,32 = 82,579



Hari Kedua

x x -

(x - )
2

34,03 34,92 -0,89 0,7921
33,41 34,92 -1,51 2,2801
41,68 34,92 6,76 45,6976
30,56 34,92 -4,36 19,0096
= 139,68 = 67,7794



Hari Ketiga

x x -

(x - )
2

31,70 32,6 -0,9 0,81
32,80 32,6 0,2 0,04
39,90 32,6 7,3 53,29
26,00 32,6 -6,6 43,56
= 130,4 = 97,7



Hari Keempat

X x -

(x - )
2

28,30 30,09 -1,79 3,2041
31,76 30,09 1,67 2,7889
34,60 30,09 4,51 20,3401
25,70 30,09 -4,39 19,2721
= 120,36 = 45,6052



Hari Kelima

x x -

(x - )
2

26,63 30,2725 -3,6425 13,2678
29,63 30,2725 -0,6425 0,0041
24,50 30,2725 -5,7725 33,3217
40,33 30,2725 10,0575 101,1533
= 121,09 = 147.7469


b. Tabel Standar Deviasi Buah Jambu Biji Yang Dibelah Dua

Hari Pertama

x x -

(x - )
2

41,90 34,4075 7,4925 56,1375
32,81 34,4075 -1,5975 2,5520
31,19 34,4075 -3,2175 10,3523
43,73 34,4075 9,3225 86,9090
= 149.63 = 155,9508


Hari Kedua

x x -

(x - )
2

36,56 34,03 2,53 6,4009
31,44 34,03 -2,59 6,7081
29,00 34,03 -5,03 25,3009
39,12 34,03 5,09 25,9081
= 136,12 = 64,318


Hari Ketiga

x x -

(x - )
2

41,20 35,05 6,15 37,8225
32,90 35,05 -2,15 4,6225
28,80 35,05 -6,25 39,0625
37,30 35,05 2,25 5,0625
= 140,2 = 86,57


Hari Keempat

x x -

(x - )
2

32,90 28,9 4 16
27,60 28,9 -1,3 1,69
20,60 28,9 -8,3 68,89
34,50 28,9 5,6 31,36
= 115,6 = 117,94


Hari Kelima

x x -

(x - )
2

34,30 29,6575 4,6425 21,5528
26,03 29,6575 -3,6275 13,1587
27,50 29,6575 -2,1575 4,6548
30,80 29,6575 1,1425 1,3053
= 118,63 = 40,6716


c. Tabel Standar Deviasi Buah Jambu biji Yang Tidak Dibelah

Hari Pertama

x x -

(x - )
2

38,56 35,5025 3,0575 9,3483
33,34 35,5025 -2,1625 4,6764
24,72 35,5025 -10,7825 116,2623
45,39 35,5025 9,8875 97,7626
= 142,01 = 228,0496

Hari Kedua

x x -

(x - )
2

35,54 31,815 3,725 13,8756
31,46 31,815 -0,355 0,1260
23,53 31,815 -8,285 68,6412
36,73 31,815 4,915 24,1572
= 127,26 = 106,8

Hari Ketiga

x x -

(x - )
2

31,00 29,6 1,4 1,96
30,00 29,6 0,4 0,16
22,00 29,6 -7,6 57,76
35,40 29,6 5,8 33,64
= 118,4 = 93,52


Hari Keempat

x x -

(x - )
2

31,20 28,625 2,575 6,630
29,10 28,625 0,475 0,225
20,50 28,625 -8,125 66,015
33,70 28,625 5,075 25,755
= 114,5 = 98,625

Hari kelima

x x -

(x - )
2

29,93 26,7475 3,1825 10,1283
26,43 26,7475 -0,3175 0,1008
20,13 26,7475 -6,6175 43,7913
30,50 26,7475 3,7525 14,0812
= 106,99 = 68,1016



4. Perhitungan
a. Perhitungan daun jambu biji selama 5 hari
Perhitungan daun jambu biji hari pertama
Diketahui : n = 4
= 0,8
(x - )
2
=

0,0044
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 0,2
SD =

= 0,038

Perhitungan daun jambu biji hari kedua
Diketahui : n = 4
= 0,43
(x - )
2
=

0,0042752
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 0,1075
SD =

= 0,037

Perhitungan daun jambu biji hari ketiga
Diketahui : n = 4
= 0,28
(x - )
2
=

0,003
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 0,07
SD =

= 0,03

Perhitungan daun jambu biji hari keempat
Diketahui : n = 4
= 0,19
(x - )
2
=

0,0022752
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 0,0475
SD =

= = 0,0274


Perhitungan daun jambu biji hari kelima
Diketahui : n = 4
= 0,12
(x - )
2
=

0,0014
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 0,03
SD =

= 0,02


b. Perhitungan buah jambu biji yang diiris tipis
Perhitungan buah jambu biji diiris tipis hari pertama
Diketahui : n = 4
= 147,32
(x - )
2
=

82,579
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 36,83
SD =

= = 5,24


Perhitungan buah jambu biji diiris tipis hari kedua
Diketahui : n = 4
= 139,68
(x - )
2
=

67,7794
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 34,92
SD =

= = 4,75


Perhitungan buah jambu biji diiris tipis hari ketiga
Diketahui : n = 4
= 130,4
(x - )
2
= 97,7
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 32,6
SD =

= = 5,70


Perhitungan buah jambu biji diiris tipis hari keempat
Diketahui : n = 4
= 120,36
(x - )
2
=

45,6052
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 30,09
SD =

= = 3,89


Perhitungan buah jambu biji diiris tipis hari kelima
Diketahui : n = 4
= 121,09
(x - )
2
=

147,7469
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 30,2725
SD =

= 7,01



c. Perhitungan buah jambu biji yang dibelah dua
Perhitungan buah jambu biji dibelah dua hari pertama
Diketahui : n = 4
= 149,63
(x - )
2
=

155,9508
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 34,4075
SD =

= = 7,20


Perhitungan buah jambu biji dibelah dua hari kedua
Diketahui : n = 4
= 136,12
(x - )
2
=

64,318
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 34,03
SD =

= 4,62


Perhitungan buah jambu biji dibelah dua hari ketiga
Diketahui : n = 4
= 140,2
(x - )
2
=

86,57
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 35,05
SD =

= = 5,37


Perhitungan buah jambu biji dibelah dua hari keempat
Diketahui : n = 4
= 115,6
(x - )
2
=

117,94
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 28,9
SD =

= 6,26


Perhitungan buah jambu biji dibelah dua hari kelima
Diketahui : n = 4
= 118,63
(x - )
2
=

40,6716
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 29,6575
SD =

= = 5,26


d. Perhitungan buah jambu biji yang tidak dibelah
Perhitungan buah jambu biji tidak dibelah hari pertama
Diketahui : n = 4
= 142,01
(x - )
2
=

228,0496
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 35,5025
SD =

= 8,71


Perhitungan buah jambu biji tidak dibelah hari kedua
Diketahui : n = 4
= 127,26
(x - )
2
=

106,8
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 31,815
SD =

= = 5,96


Perhitungan buah jambu biji tidak dibelah hari ketiga
Diketahui : n = 4
= 118,4
(x - )
2
= 93,52
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 29,6
SD =

= 5,58


Perhitungan buah jambu biji tidak dibelah hari keempat
Diketahui : n = 4
= 114,5
(x - )
2
=

98,625
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 28,625
SD =

= = 5,73


Perhitungan buah jambu biji tidak dibelah hari kelima
Diketahui : n = 4
= 106,99
(x - )
2
=

68,1016
Ditanya : dan SD ?
Penyelesaian :
=

= 26,7475
SD =

= 5,26



5. Grafik





0
0.05
0.1
0.15
0.2
0.25
I II III IV V
B
e
r
a
t

r
a
t
a
-
r
a
t
a

(
g
r
)

Hari Ke
Berat Daun Jambu Biji
Rata-Rata Berat Daun Jambu
Biji








0
5
10
15
20
25
30
35
40
I II III IV V
B
e
r
a
t


(
g
r
)

Hari Ke
Berat Buah Jambu Biji Diiris Tipis
Berat Rata-Rata Buah Jambu
Biji
0
5
10
15
20
25
30
35
40
I II III IV V
B
e
r
a
t


(
g
r
)

Hari Ke
Berat Buah Jambu Biji Dibelah Dua
Berat Rata-Rata Buah
Jambu Biji





E. PEMBAHASAN
Praktikum yang berjudul tentang peralatan oven, timbangan, dan desikator
: berat basah dan berat kering ini bertujuan untuk mengetahui fungsi dari ketiga
alat tersebut serta mengetahui berat basah dan berat kering dari buah dan daun
jambu biji. Selain itu juga, bertujuan untuk mengetahui kadar air buah dan daun
jambu biji serta mengetahui pengaruh luas permukaan terhadap kecepatan
penguapan. Peralatan dan bahan yang digunakan kali ini ialah peralatan yang
lebih kepada kategori peralatan khusus, seperti oven ialah alat yang digunakan
untuk mengeringkan atau memanaskan suatu bahan. Kemudian, timbangan yang
digunakan dalam praktikum kali ini ialah timbangan Ohauss atau digital, alat ini
digunaka untuk menimbang massa suatu zat/benda. Yang terakhir ialah desikator,
desikator berupa panci bersusun dua yang bagian bawahnya diisi bahan
pengering, dengan penutup yang sulit dilepas dalam keadaan dingin karena
dilapisi vaseline. Alat ini digunakan untuk menyimpan sementara sampel dari
oven yang panas agar menjadi dingin tetapi berat bahan yang disimpan tersebut
tidak mengalami penambahan berat yang berasal dari uap air karena adanya silika
gel yang dapat menyerap uap air (eksikator bersifat kedap udara dan ruangan
dalam eksikator kering). Selain itu juga digunakan untuk mengeringkan padatan.
Pada penentuan kadar air dengan metode thermogravimetri, sampel
dimasukkan ke dalam oven pengering sebaiknya tidak langsung suhu 100 105
C, namun bertahap. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari terjadinya case
hardening, yaitu suatu keadaan di mana bagian dalam bahan masih basah
sedangkan bagian luar sudah mengeras. Bila keadaan ini terjadi, maka penguapan
0
5
10
15
20
25
30
35
40
I II III IV V
B
e
r
a
t


(
g
r
)

Hari Ke
Berat Buah Jambu Biji Tidak Dibelah
Berat Rata-Rata Buah
Jambu Biji
air dari dalam bahan akan terhambat. Kadar air dapat dinyatakan dalam dalam wet
basis (berat basah) atau dry basis (berat kering). Kadar air wet basis (wb)
dihitung dengan perbandingan antara berat air yang diuapkan dengan berat bahan
mula-mula (berat sebelum dikeringkan) dikalikan 100 %. Kadar air dry basis (db)
dihitung berdasarkan perbandingan antara berat air yang diuapkan dengan berat
kering bahan setelah dikeringkan, dikalikan dengan 100 %. Bila dalam penulisan
kadar air tidak dicantumkan apakah kadar air tersebut wet basis atau dry basis,
maka itu berarti kadar air tersebut dinyatakan dalam wet basis.
Pada praktikum ini dilakukan 2 percobaan, pertama percobaan dengan
bahan daun jambu bii dan yang kedua percobaan dengan menggunakan bahan
buah jambu biji. Prinsip percobaan yang dilakukan dalam hal ini ialah, jika
menggunakan bahan daun jambu biji. Daun dipotong menjadi 10 bagian dengan
ukuran 1x1 cm dan diletakkan dalam cawan petri dengan memperhitungkan berat
basah dan berat kering daun. Berat basah adalah berat sebenarnya yang belum
mendapatkan perlakuan pengeringan atau penghilangan kadar air pada suatu
bahan (berat sampel/bahan mula-mula). Sedangkan berat kering ialah berat yang
ditentukan dari hasil sisa pengeringan kadar air pada suatu bahan (berat
sampel/bahan yang telah dikeringkan). Sedangkan prinsip percobaan yang
dilakukan jika menggunakan buah jambu biji ialah dengan cara memotong buah
jambu menjadi enam bagian dengan 3 metode potong/perlakuan pertam 2 bagian
diiris tipis, 2 bagian dibelah dua dan 2 potong sisanya lagi tidak dibelah (langsung
diletakkan dalam cawan petri). Kemudian perhitungkan berat basah dan berat
keringnya (dengan dimasukkan dalam oven).
Dalam percobaan dengan bahan daun dan buah jambu biji ini, nilai rata-
rata hasil pengukuran dari hari pertama hingga hari kelima berdasarkan data dari
kelompok pertama hingga kelompok 4 (ulangan 1 hingga 4). Pada percobaan
menggunakan bahan daun jambu biji, karena berat basah dijadikan nilai
pengukuran pertama untuk berat daun jambu, maka pengukuran selanjutnya
dimulai dari hari kedua hingga hari kelima, dengan nilai kisaran rata-rata sebesar
0,2. Untuk pengukuran pada hari kedua hingga hari kelima didapatkan nilai
kisaran rata-rata berat daun jambu biji berturut-turut ialah sebesar 0,1075, 0,07,
0,0475, dan 0,03. Ini membuktikan semakin rendah kadar air pada suatu bahan
(daun jambu biji) semakin rendah pula berat daun. Terlihat pada hari pertama
berat daun mula-mula sebesar 0,2 gr, semakin hari semakin berkurang berat daun.
Hingga hari kelima dengan berat sebesar 0,03 gr.
Pada percobaan selanjutnya ialah dengan menggunakan bahan buah jambu
biji, seperti halnya daun jambu. Pada buah jambu biji metode pengukuran juga
sama dilakukan seperti sebelumnya. Dalam hal ini, percobaan dengan buah jambu
biji diberikan berupa 3 perlakuan yaitu diiris tipis, dibelah dua dan tidak dibelah
(tidak dilakukan pemotongan). Pada perlakuan buah jambu biji yang diiris tipis,
didapatkan nilai kisaran rata-rata hasil pengukuran mula-mula (yang dijadikan
sebagai nilai pengukuran hari pertama) ialah sebesar 36,83 gr. Kemudian untuk
hari kedua hingga hari kelima didapatkan nilai kisaran rata-rata hasil pengukuran
berturut-turut ialah sebesar 34,92, 32,6, 30,09 dan 30,2725. Dalam perlakuan ini,
berat buah pada hari kelima lebih tinggi dari hari sebelumnya dikarenakan akibat
proses pengeringan/pemanasan pada oven sehingga terjadi proses penguapan dan
timbul kelembaban pada buah hingga akhirnya tumbuh jamur. Selanjutnya pada
perlakuan buah jambu biji yang dbelah dua, didapatkan nilai kisaran rata-rata hasil
pengukuran mula-mula (yang dijadikan sebagai nilai pengukuran hari pertama)
ialah sebesar 34,4075 gr. Kemudian untuk hari kedua hingga hari kelima
didapatkan nilai kisaran rata-rata hasil pengukuran berturut-turut ialah sebesar
34,03, 35,05, 28,9 dan 29,6575. Yang terakhir perlakuan buah jambu biji yang
tidak dilakukan pemotongan (tidak dibelah), didapat nilai kisaran rata-rata hasil
pengukuran mula-mula (yang dijadikan sebagai nilai pengukuran hari pertama)
ialah sebesar 35,5025. Selanjutnya untuk hari kedua hingga hari kelima, berturut-
turut ialah sebesar 31,815, 29,6, 28,625 dan 26,7475. Untuk hari kedua dan hari
kelima pada perlakuan buah jambu biji yang dibelah dua berat buah lebih besar 1
gr dari hari sebelumnya dikarenakan pada buah jambu tumbuh jamur, sehingga
memungkinkan berat buah jadi bertambah.
Pada praktikum ini tidak hanya memperhitungkan berat basah dan berat
kering pada daun dan buah jambu biji tetapi juga standar deviasinya. Standar
deviasi digunakan untuk membandingkan penyebaran atau penyimpangan dua
kelompok data atau lebih. Apabila standar deviasinya kecil, maka hal tersebut
menunjukkan nilai sampel dan populasi berkumpul atau mengelompok di sekitar
nilai rata-rata hitungnya. Artinya karena nilainya hampir sama dengan nilai rata-
rata, maka disimpulkan bahwa anggota sampel atau populasi mempunyai
kesamaan. Sebaliknya, apabila nilai deviasinya besar, maka penyebarannya dari
nilai tengah juga besar. Hal tersebut menunjukkan adanya nilai-nilai ekstrem baik
yang tinggi maupun rendah. Standar deviasi yang besar juga menunjukkan adanya
perbedaan jauh diantara anggota populasi. Oleh sebab itu, satandar deviasi yang
tinggi biasanya dipandang kurang baik bila dibandingkan dengan standar deviasi
rendah. Pada percobaan dengan menggunakan bahan daun jambu biji memiliki
nilai standar deviasi dari hari pertama hingga hari kelima berturut-turut ialah
sebesar 0,038, 0,037, 0,03, 0,0274 dan 0,02. Selanjutnya pada percobaan dengan
menggunakan bahan buah jambu biji didapat nilai standar deviasinya pada 3
perlakuan. Perlakuan pertama buah jambu yang diiris tipis, berturut-turut ialah
sebesar 5,24, 4,75, 5,70, 3,89 dan 7,01. Sedangkan pada perlakuan buah jambu
yang dibelah dua, berturut-turut nilai standar deviasinya ialah sebesar 7,20, 4,62,
5,37, 6,26 dan 5,26. Jika dibandingkan dengan perlakuan buah jambu yang tidak
dibelah nilai standar deviasinya lebih tinggi dari 2 perlakuan sebelumnya ialah
berturut-turut sebesar 8,71, 5,96, 5,58, 5,73 dan 5,26.
Dalam praktikum ini, membuktikan bahwa luas permukaan buah jambu biji
berpengaruh terhadap kecepatan penguapan dan pengeringan kadar air. Semakin
besar luas permukaan semakin lama proses pengeringan kadar air dan proses
penguapan. Sebaliknya jika luas permukaan kecil maka semakin cepat proses
penguapan terjadi dan kadar air (pengeringan kadar air tinggi ) semakin berkurang
pula. Selain itu,
Perbedaan kadar air dalam suatu bahan disebabkan karena perbedaan
bahan, metode dan suhu serta proses penyimpanannya Selain itu perbedaan ini
dapat disebabkan karena pengaruh alat-alatnya seperti timbangan analitik yang
sulit stabil dan karena bahan yang digunakan sudah terkontaminasi dengan bahan
lain ketika penyimpanan atau ketika berada dalam desikator.
Faktor-faktor yang mempengaruhi pengeringan ada 2 golongan, yaitu :
1. Faktor yang berhubungan dengan udara pengering
Yang termasuk golongan ini adalah: Suhu (Makin tinggi suhu udara
maka pengeringan akan semakin cepat), Kecepatan aliran udara pengering
(Semakin cepat udara maka pengeringan akan semakin cepat), Kelembaban
udara (Makin lembab udara, proses pengeringan akan semakin lambat), Arah
aliran udara (Makin kecil sudut arah udara terhadap posisi bahan, maka bahan
semakin cepat kering)
2. Faktor yang berhubungan dengan sifat bahan
Yang termasuk golongan ini adalah: Ukuran bahan (Makin kecil ukuran
benda, pengeringan akan makin cepat), Kadar air (Makin sedikit air yang
dikandung, pengeringan akan makin cepat).

Untuk mempercepat penguapan air serta menghindari terjadinya reaksi
yang menyebabkan terjadinya air ataupun reaksi yang lain karena pemanasan
maka dapat dilakukan pemanasan dengan suhu rendah dan tekanan vakum.
Dengan demikian akan dihasilkan kadar air yang sebenarnya. Untuk bahan-
bahan yang mengandung kadar gula tinggi maka pemanasan dengan suhu 100
o
C dapat mengakibatkan pergerakan pada permukaan bahan. Sehingga terlihat
masih memiliki berat kering yang cukup tinggi (Winarno, 1980).



F. KESIMPULAN
Berdasarkan hasil pengamatan, pengukuran dan analisis data yang telah
dilakukan dapat disimpulkan bahwa oven, timbangan dan desikator adalah alat
penunjang dalam praktikum yang efektif digunakan dalam penentuan berat
basah dan berat kering. Berat basah ialah berat mula-mula bahan dan berat
kering ialah berat hasil pengeringan berat basah suatu bahan (hilang kadar air).
Selain itu, berdasarkan hasil pengamatan berat daun jambu biji dari hari
pertama hingga hari kelima terjadi pengurangan berat buah dikarenakan
berkurangnya kadar air pada daun. Sedangkan pada buah jambu biji juga
terdapat pengurangan kadar air. Terlihat berat buah jambu yang berjamur lebih
berat daripada berat buah jambu tanpa jamur. Kandungan air yang tinggi akan
lebih memudahkan pertumbuhan mikroba. Standar deviasi digunakan








































DAFTAR PUSTAKA


Arun S. Mujumdar. 2004. Guide to Industrial Drying. Mumbai. India

Ashworth P C, Zeitler J A, Pepper M, and Wallace V P. 2007. "Terahertz
spectroscopy of biologically relevant liquids at low temperatures". in
IRMMW-THz 2006. 2006 Joint 31st International Conference on
Infrared and Millimeter Waves and 14th International Conference on
Terahertz Electronics. Shanghai, China: IEEE
Baedhowi, M. dan Sri Pranggonowati. 1983. Petunjuk Praktek Pengawasan Mutu
Hasil Pertanian I. Depdikbud. Jakarta.

Foust, Alan S.Wenzel,L A. Curtis,W C.Louis Maus. L Brice A. 1960.
Principles of Unit Operations, 2nd ed, John wiley & Sons, New York

Horrison, Judy. 2000. Preserving Food: Drying fruit and vegetable. University
of Georgia
Labuza T P and Hyman C R. 1998. "Moisture migration and control in multi-
domain foods". Trends in Food Science & Technology 9, 47-55,.
P. Parasoglou, E P J Parrott, J A Zeitler, J Rasburn and H Powell, L F Gladden
and M L Johns. 2010. Quantitative Water Content Measurements in
Food Wafers Using Terahertz Radiation, Terahertz Science and
Technology, ISSN 1941-7411, Vol.3, No.4, 172-182.
Pickwell E and Wallace V P. 2006. "Biomedical applications of terahertz
technology". Journal Of Physics D-Applied Physics 39, R301-R310
Reid C, Gibson A P, Hebden J C, and Wallace V P. 2007. "An oil and water
emulsion phantom for biomedical terahertz spectroscopy. in Medical
Devices and Biosensors", 2007. ISSS-MDBS 2007. 4th IEEE/EMBS
International Summer School and Symposium on
Slamet Sudarmadji, Bambang Haryono dan Suhardi. 1984. Prosedur Analisa
untuk Bahan Makanan dan Pertanian. Liberty, Yogyakarta.

Suherman. Diktat Kuliah pengeringan .Universitas Diponegoro.

Winarno, F.G. 1980. Pengantar Teknologi Pangan. Jakarta : Penerbit Gramedia