Anda di halaman 1dari 17

LABORATORIUM SATUAN OPERASI

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2012/2013



MODUL : Absorbsi
PEMBIMBING : Ir. Umar Khayam




Oleh :
Kelompok : V (lima)
Nama : 1. Hana Afifah Rahman NIM.111411045
2. Yudha Fitriansyah NIM.111411059
Kelas : 2B










PROGRAM STUDI DIPLOMA III TEKNIK KIMIA
JURUSAN TEKNIK KIMIA
POLITEKNIK NEGERI BANDUNG
2013
Praktikum : 14 Maret 2013
Penyerahan : 21 Maret 2013
(Laporan)
ABSORBSI

I. TUJUAN
Memahami proses absorpsi dan prinsip kerjanya
Menghitung laju kecepatan absorpsi CO
2
ke dalam air
Menghitung jumlah CO
2
bebas dalam air

II. DASAR TEORI
Absorbsi adalah operasi penyerapan komponen-komponen yang terdapat di
dalam gas dengan menggunakan cairan, sehingga tingkat absorbsi gas akan sebanding
dengan daya kelarutan gas tersebut dalam cairan. Proses ini melibatkan difusi
molekuler dan turbulen atau perpindahan massa solute A melalui gas B diam
menembus cairan C diam. Peristiwa ini mengikuti prinsip kecenderungan kelarutan
solute A di dalam cairan (pelarut). Tujuan dari proses absorbsi adalah :
1) Untuk mendapatkan senyawa yang bernilai tinggi dari campuran gas atau uap.
2) Untuk mengeluarkan senyawa yang tidak diinginkan dari produk.
3) Pembentukan persenyawaan kimia dari absorben dengan salah satu senyawa
dalam campuran gas.
Bila gas dikontakkan dengan zat cair, maka sejumlah molekul gas akan
meresap dalam zat cair dan juga terjadi sebaliknya, sejumlah molekul gas
meninggalkan zat cair yang melarutkannya. Dengan bertambahnya waktu, pada suatu
ketika akan terjadi dimana kecepatan pelarutan gas sama besar dengan kecepatan
pelepasan gas. Keadaan ini disebut keadaan setimbang. Tekanan yang diukur pada
keadaan ini juga disebut tekanan setimbang pada temperature tertentu.
Zat cair yang masuk bisa berupa pelarut murni atau larutan encer zat terlarut
di dalam pelarut didistribusikan di atas isian itu dengan distributor, sehingga pada
operasi yang ideal, membasahi permukaan isian itu secara seragam.
Beberapa hal yang mempengaruhi absorbsi gas ke dalam cairan :
1. Temperature operasi.
2. Tekanan operasi.
3. Konsentrasi komponen di dalam cairan.
4. konsentrasi komponen di dalam aliran gas.
5. Luas bidang kontak.
6. Lama waktu kontak.
Untuk itu dalam operasi absorbsi harus dipilih kondisi yang tepat sehingga
dapat diperoleh hasil optimum.
Untuk menentukan harga koefisien perpindahan massa suatu zat absorbs
dapat digunakan perhitungan berdasarkan neraca massa.
Persamaan untuk kolom absorbs isian adalah :



y ialah fraks mol gas yang berada dalam kesetimbangan dengan calran disetiap
titik dalam kolom, /adalah fraksi mol ruah "bulk", A adalah luas penampang
kolom, H adalah tinggi isian dan a adalah luas spesifik isian/satuan volum isian.
Untuk gas encer terkecuali aliran gas inert, persamaan diatas dapat
disederhanakan :


Ruas kanan dari persamaan di atas sulit diintegrasi. Perhitungan Kog dapat
disederhanakan (tetapi kurang teliti) dengan menggunakan definisi kog
N = Kog x aAH x log gaya penggerak rata-rata
Jadi, Kog =



Beberapa jenis menara absorbsi :
1. Menara absorbsi dengan benda isi (packing column).
Alat ini memakai metoda pengabsorpsian gas yang paling umum. Alat ini
mirip dengan alat yang dipergunakan untuk distilasi atau eksraksi pelarut dan dapat
dipaking dengan cincin Raschig, pelana Berl atau tipe-tipe paking lainnya. Paking
disini gunanya untuk memperbesar permukaan kontak dengan jala penyebaran zat
cair dan penyebaran gas. Cairan disemprotkan ke bagian puncak kolom dan secara
vertical ke bawah akan bertemu dengan aliran gas-gas yang berlawanan arah yang
melalui kolom tersebut. Cairan yang berisi gas-gas terlarut akan meninggalkan dasar
kolom dan gas yang tak larut akan keluar melalui puncak kolom. Cairan tersebut
dapat dipergunakan kembali (recycle) seperti proses semula sampai tidak terdapat
lagi gas atau gas-gas terlarutnya dihilangkan dan cairan dapat digunakan kembali.


2. Menara absorbsi dengan pelat atau piringan.
Bentuk dari pelat/piringan ayak atau piring berlubang (sieve tray) dan pelat
golakan (bubble cup). Pelat ayakan terdiri dari pelat yang berlobang yang dipasang
horizontal dalam kolom dengan diameter lobang berkisar sekitar 6-25 mm,
sedangkan pada sisi tepian diberi tepian limpahan. Zat cair mengalir melalui tepian
ke dalam ruang limpahan, zat cair dari atas mengalir ke bawah dengan gravitasi
dengan pola berliku-liku melalui pelat. Gas mengalir naik ke atas melalui lubang
yang ada pada piring (perforasi) dan kontak dengan cairan membentuk gelembung-
gelembung gas yang kecil-kecil.
Pelat golakan (bubble cup) berupa lubang-lubang bulat dengan ditambahkan
cup dan aluran atau cerebong kecil diatasnya. Gas yang akan diabsorpsi mengalir
lewat lubang dan cerobong dan berkontak dengan cairan.
3. Menara absorbsi dengan penyemprot.
Tipe ini berukuran pendek berupa menara yang tidak dilengkapi dengan
paking. Ke dalam menara ini cairan diisikan dari puncak berupa semprotan yang
sangat halus. Proses penyemprotan ini dilakukan untuk memperbanyak luasmukaan
dengan bantuan penyemprotan. Pembagian zat cair ini diatur agar menjadi percikan
kecil yang banyak.
4. Pembersih Pancar (Jet Scrubber)
Cairan pengabsorpsi ditarik oleh gaya tekan melalui pipa dan masuk ke dalam
lubang. Kemudian cairan disemprotkan ke ruangan dimana gas-gas yang terdapat
diserap dan diisap.
Laju Penyerapan CO
2
dapat dihitung dengan rumus





Percobaan Analisa Karbon yang Larut dalam air




Jika M adalah konsentrasi penitran, vs adalah volume sampel yang digunakan untuk
titrasi, maka penentuan jumlah CO
2
bebas (C
CO2
) pada suatu tangki dengan volume
(Vt volume penitran) adalah :




III. PERCOBAAN
3.1 Alat Praktikum



Keterangan :
S2, S3 = Valve yang diatur pada saat analisa gas CO2 dan tempat pengambilan
sample bila diperlukan


2


flow CO2

3.2 Bahan yang digunakan
- NaOH
- HCl
- Air
- Phenolptalin
- Gas CO
2

- Udara

3.3 Langkah Kerja

1. Kalibrasi alat
2. Alirkan larutan NaOH dengan konsentrasi tertentu dari tangki penampungan
menuju kolom absorbs melalui puncak kolom sesuai dengan laju alir yang
diinginkan hingga alirannya mantap.
3. Campuran gas yang terdiri dari udara dan gas CO
2
dialirkan dari bawah kolom.
4. Absorbsi dibiarkan terus berlangsung sampai dicapai keadaan tunak. Keadaan
tunak dikatakan telah tercapai jika jumlah CO
2
yang terserap larutan NaOH telah
mencapai nilai yang konstan ditandai dengan konsentrasi larutan NaOH sisa yang
keluar kolom absorbsi konstan.
5. Analisa volumetric menggunakan larutan asam khlorid standar untuk mengetahui
konsentrasi larutan NaOH sisa.

Absorpsi CO
2
pada NaOH (menggunakan analisis larutan)
1. Mengisi tangki dengan 20 liter NaOH 0.011 M (3/4 penuh).
2. Mengalirkan larutan (2 liter/menit).
3. Mengalirkan udara (36 liter/menit).
4. Mengalirkan CO
2
(4 liter/menit).
5. Menunggu hingga steady selama 15 menit.
6. Mengambil sampel gas tiap 10 menit setelah steady dari keluaran selang
secukupnya (40 mL)
7. Teteskan PP (1 tetes) dan titrasi hingga warna pink hilang dengan larutan HCl.



IV. DATA PERCOBAAN
Laju alir udara : 60 L/menit
Laju alir Cairan : 4 L/menit
Laju alir CO
2
: 2 L/menit
Konsentrasi NaOH : 0,1 N
Konsentrasi HCl : 0,1 N
Volume Sampling : 10 mL


t
(menit) a b
0 8 5
5 7 9,1
10 6,2 9,7
15 6 10,2
20 5,3 10,7
25 5 11,1
30 4,7 11,5

I. PENGOLAHAN DATA
a = Volume HCl 0.1 N pada titrasi pertama, indikator PP
b = Volume HCl 0.1 N pada titrasi kedua, indikator MO

T = 0 menit
n Na
2
CO
3
=



=



= 0.08
n NaHCO
3
=



=



= -0.03
n CO
2
= n Na
2
CO
3
+ n NaHCO
3

= 0.08 + (-0.03)
= 0.05
T = 5 menit
n Na
2
CO
3
=



=



= 0.07
n NaHCO
3
=



=



= 0.021
n CO
2
= n Na
2
CO
3
+ n NaHCO
3

= 0.07 + 0.021

= 0.091

T = 10 menit
n Na
2
CO
3
=



=



= 0.062
n NaHCO
3
=



=



= 0.035
n CO
2
= n Na
2
CO
3
+ n NaHCO
3

= 0.062 + 0.035
= 0.097

T = 15 menit
n Na
2
CO
3
=



=



= 0.06
n NaHCO
3
=



=



= 0.042
n CO
2
= n Na
2
CO
3
+ n NaHCO
3

= 0.06 + 0.042
= 0.102

T = 20 menit
n Na
2
CO
3
=



=



= 0.053
n NaHCO
3
=



=



= 0.054
n CO
2
= n Na
2
CO
3
+ n NaHCO
3

= 0.053 + 0.054
= 0.107


T = 25 menit
n Na
2
CO
3
=



=



= 0.05
n NaHCO
3
=



=



= 0.061
n CO
2
= n Na
2
CO
3
+ n NaHCO
3

= 0.05 + 0.061
= 0.111

T = 30 menit
n Na
2
CO
3
=



=



= 0.047
n NaHCO
3
=



=



= 0.068
n CO
2
= n Na
2
CO
3
+ n NaHCO
3

= 0.047 0.068
= 0.115























3.5. Absorpsi CO
2
dalam Larutan NaOH dengan Menggunakan Analisis Larutan Cair
Data Percobaan
F
1
: laju alir air masuk packed column = 3 liter/menit = 0,05 liter/detik
F
2
: laju alir udara masuk packed column = 30 liter/menit = 0,5 liter/detik
F
3
: laju alir CO
2
masuk packed column = 3 liter/menit = 0,05 liter/detik
Konsentrasi NaOH = 0,2 M
Konsentrasi HCl = 0,2 M
Volum sampel = 50 mL
BaCl
2
= larutan dengan 5% berat padatan BaCl
2
pada 100 mL cairan
waktu S5 S4
(menit) T1 T2 T3 T1 T2 T3
0 35 3.8 34.6 24 16.2 16.7
5 23.5 13 19.8 24 25.5 16.2
10 17.5 18.5 21.5 10.8 31.3 32.2
15 12.2 33.5 29.2 7.5 32.6 38
Ket :
T1 : volume HCl yang dibutuhkan untuk menetralisir NaOH dan mengubah karbonat menjadi
bikarbonat
T2 : total volume HCl yang ditambahkan hingga mencapai end point kedua atau volume HCl yang
digunakan untuk menetralkan basa NaOH dan Na
2
CO
3
(dalam ml)
T3 : volume asam yang ditambahkan untuk menetralkan NaOH (dalam ml)
Pengolahan Data
Saat t = 0
1. Inlet S5

) (

) (

)
2. Outlet S4

) (

) (

)
Jumlah NaOH yang digunakan untuk mengabsorpsi CO
2
:

]
Jumlah karbonat yang terbentuk dari absorpsi CO
2
:

] ]
Dengan menerapkan cara perhitungan yang sama di setiap titik, diperoleh data sebagai berikut:
Waktu C
inlet
(M) C
outlet
(M) G
A1
G
A2

(menit) C
NaOH
C
Na2CO3
C
NaOH
C
Na2CO3
gr.mol/men gr.mol/men
0 0,1384
-0.0616 0.0668 -0.001 0.003282 0.005555
5
0.0792 -0.0136 0.0648 0.0186 0.00066 0.002952
10
0.086 -0.006 0.1288 -0.0018 -0.00196 0.000385
15
0.1168 0.0086 0.152 -0.0108 -0.00161 -0.00178
Grafik hubungan laju absorpsi CO
2
pada NaOH terhadap waktu yang terbentuk adalah sebagai
berikut:



ANALISIS PERCOBAAN 3
PENGOLAHAN DATA
V. PEMBAHASAN
VI. Percobaan ini memiliki tujuan untuk menghitung laju absorpsi CO
2
pada NaOH,
dengan menggunakan analisis larutan yang mengalir di dalam kolom absorpsi packed
bed. Dalam percobaan ini, larutan yang mengalir pada sistem berupa NaOH.
Selanjutnya, diambil dua sampel larutan dari sistem absorber, yaitu sampel S
5
berupa
larutan yang berada dalam keadaan tunak dan sampel S
4
berupa larutan yang telah
melalui kolom absorpsi.
-0.003
-0.002
-0.001
0
0.001
0.002
0.003
0.004
0.005
0.006
0 2 4 6 8 10 12 14 16
L
a
j
u

A
b
s
o
r
p
s
i

Waktu
Laju Absorpsi CO2 pada NaOH vs Waktu
Ga1
Ga2
VII. Dengan adanya pengambilan dua sampel ini, maka seharusnya dapat dibuktikan
bahwa akan diperoleh senyawa Na
2
CO
3
, sebagai hasil reaksi dari NaOH dan CO
2
.
VIII. 2NaOH + CO
2
Na
2
CO
3
+ H
2
O
IX. Tujuan pengambilan dua sampel dengan waktu berkala adalah untuk mengontrol
senyawa Na
2
CO
3
pada larutan S
5
. Dengan alasan efisiensi, kolom absorpsi
menggunakan sistem tertutup, di mana larutan yang mengalir bukanlah berupa NaOH
murni, melainkan telah bercampur dengan Na
2
CO
3
hasil absorpsi. Maka, dibutuhkan
suatu pengontrolan pengukuran Na
2
CO
3
, yaitu dengan menggunakan parameter
waktu yang berkala untuk melakukan pengukuran. Pada waktu yang ditentukan,
sampel diambil dua kali sebanyak 50 ml. 50 ml pertama digunakan untuk
menentukan jumlah Na
2
CO
3
yang terbentuk, sedangkan 50 ml lain digunakan untuk
menentukan jumlah NaOH yang tersisa. Dalam titrasi ini, digunakan HCl untuk
menitrasi NaOH karena NaOH bersifat basa, maka dibutuhkan asam kuat seperti HCl
untuk membuat pH menjadi normal.
X. Titrasi Tahap Pertama
XI. Titrasi pertama dilakukan dengan menambahkan indikator phenolphthalein (PP)
yang bekerja pada trayek basa. Tujuan penambahan ini adalah untuk membantu
praktikan menemukan titik yang tepat untuk menghentikan titrasi, karena larutan
yang ditambahkan indikator PP akan mengalami perubahan warna, selanjutnya saat
berada pada kesetimbangan, warna larutan akan berubah pada umumnya menjadi
bening. Penambahan indikator PP akan menyebabkan larutan menjadi pink. Volum
HCl yang dibutuhkan (T
1
) adalah jumlah HCl yang dibutuhkan untuk menetralkan
NaOH. Persamaan reaksinya adalah sebagai berikut.
XII. NaOH + HCl NaCl + H
2
O
XIII. Saat larutan telah menjadi bening, ditambahkan indikator metal orange (MO) ke
dalam larutan. Indikator MO bekerja pada trayek asam. Larutan yang telah
ditambahkan MO berwarna orange, selanjutnya saat mencapai kesetimbangan akibat
titrasi akan mengalami perubahan warna menjadi pink keunguan. Persamaan reaksi
yang terbentuk adalah sebagai berikut.
XIV.
Na
2
CO
3
+ HCl NaCl + H
2
CO
3
XV. Volum HCl yang dibutuhkan adalah T
2
. Maka, T
2
-T
1
adalah volum HCl yang
digunakan untuk mengubah NaHCO
3
menjadi H
2
CO
3
.
XVI.
XVII. Titrasi Tahap Kedua
XVIII. Titrasi tahap kedua dilakukan setelah sampel ditambahkan BaCl
2
.
XIX. Na
2
CO
3
+ BaCl
2
BaCO
3
+ 2NaCl
XX. Titrasi dilakukan dengan menggunakan HCl, sesuai dengan persamaan reaksi
berikut.
XXI. NaOH + HCl NaCl + H
2
O
XXII. Dari titrasi ini, diperoleh volum HCl (T
3
) untuk menunjukkan konsentrasi NaOH sisa
yang tidak bereaksi membentuk Na
2
CO
3
. Seharusnya jumlah NaOH yang digunakan
sama dengan konsentrasi Na
2
CO
3
yang terbentuk. Namun, grafik pada hasil
pengolahan data menunjukkan terdapatnya segenap penyimpangan. Perbedaan yang
terjadi dapat disebabkan karena kesalahan dalam percobaan antara lain penentuan
titik akhir titrasi yang kurang akurat. Perubahan menjadi suatu tingkat warna yang
tepat sangat bersifat subjektif, tergantung penilaian praktikan yang melakukan titrasi.
Maka, hal ini mempengaruhi hasil berupa volum HCl yang digunakan untuk
melakukan titrasi. Selain itu, indikator PP yang digunakan kurang mampu
menunjukkan signifikansi perubahan warna yang seharusnya dijadikan penanda
utama dalam memulai dan menghentikan proses titrasi.
Dalam berbagai industri proses sering dilakukan pemisahan yang secara umum bertujuan
untuk pemurnian. Salah satu metode yang sering digunakan adalah absorbsi. Absorbsi ini
merupakan proses pemisahan di mana zat yang terserap (adsorbat) bereaksi secara kimia dengan
zat yang menyerap (adsorben) membentuk senyawa lain.
Beberapa variabel yang mempengaruhi penyerapan CO
2
oleh NaOH addalah :
Tinggi dan diameter kolom. Semakin tinggi kolom dan semakin besar diameternya maka
waktu tinggal akan semakin lama dan akan mempengaruhi jumlah zat yang bereaksi.
Tinggi, jenis isian (packing). Fungsi utama packing ini adalah untuk memperluas
permukaan kontak. Semakin luas permukaan kontak, diharapkan semaki banyak zat yang
saling bertumbukan dan mengalami reaksi.
Laju alir udara, CO
2
, dan cairan (NaOH).
Konsentrasi cairan (NaOH).
Lamanya waktu kontak (proses absorbsi);
Temperatur.
Larutan NaOH 0,1 N diumpankan dari bagian atas kolom dengan menggunakan spray,
sedangkan udara yang mengandung CO
2
diumpankan dari bagian bawah kolom. Sistem Spray
digunakan untuk memeperkecil partikel air yang memasuki kolom dan dengan bantuan packing,
maka luas permukaan dan waktu kontak akan bertambah.
Umpan dengan masa jenis yang lebih besar diumpankan dari bagian atas kolom agar
bergerak ke bawah, umpan dengan masssa jenis yang lebih kecil diumpankan dari bagian bawah
agar bergerak ke atas sesuai dengan gravitasi bumi. Jika umpan dengan massa jenis yang lebih
besar diumpankan dari bagian bawah dan umpan dengan massa jenis yang lebih kecil
diumpankan dari bagian atas kolom maka kedua zat ini tidak akan dapat bertemu dan reaksi
tidak akan terjadi.
Pada praktikum ini kami menganalisa penyerapan CO
2
oleh NaOH dengan hanya
memvariasikan variabel waktu kontak, sedangkan variabel lainnya konstant. Reaksi yang terjadi
addalah sebagai berikut :
CO
2(g)
+ NaOH
(aq)
NaHCO
3(aq)

NaOH
(aq)
+ NaHCO
3
Na2CO
3(s)
+ H
2
O
(l)
+
CO2
(g)
+ 2NaOH
(aq)
Na2CO
3(s)
+ H
2
O
(l)
Pengambilan sampel dilakukan pada t
0
yaitu sebelum peralatan absorbsi dijalankan dan
setiap 5 menit sekali selama 30 menit. Pengujian kandungan CO2 dilakukan melalui titrasi
menggunakan HCl sebanyak 2 kali. Indikator yang digunkan dalam titrasi pertama adalah
phenolftalein. Mula-mula, larutan sampel akan bewarna merah muda (memberi warna pada
NaOH) dan perlahan berubah menjadi tidak bewarna setelah mencapai titik ekuivalen. Larutan
kemudian dititrasi kemblai menggunakan metil orange. Mula-mula larutan akan bewarna jingga
(memberi warna pada garam NaCl) dan berubah menjadi tidak bewarna setelah mencapai titik
ekivalen.
Berdasarkann titrasi, diperoleh data bahwa pada t
0
larutan sudah mengandung CO
2
. Hal
ini dapat terjadi karena terdapat CO
2
yang larut secara spontan dalam air mineral (air tanpa
penyulingan). Pada data berikutnya terlihat bahwa konsentrasi CO
2
dalam air meningkat. Namun
peningkatan ini tidak dapat dianggap sebagai peningkatan penyerapan sebagai konsekuensi
waktu. Karena umpan yang digunakan adalah hasil dari proses sebelumnya, jadi dapat dianggap
bahwa proses ini berjalan secra batch. Karena tidak ada absorben baru yang diumpankan selama
proses berlangsung.
Jika diperhatikan pola data kadar CO
2
dalam air, maka meskipun meningkat,
peningkatannya (delta mol) semakin menurun. Dari menit ke-0 ke menit ke-5, penyerapan CO
2

oleh NaOH meningkat sebesar 0,084 mol. Pada menit ke-5 sampai ke sepuluh peningkatan
penyerapan hanya 0.006 mol. Kemudian peningkatan penyerapannya semakin menurun hingga
hanya 0,04 mol. Kadar CO
2
dalam air dapat terus meningkat karena kolom mendapatkan umpan
CO
2
murni secara terus menerus. Menurut hipotesa saya apabila percobaan ini dilanjutkan
hingga waktu tertentu, mungkin saja kadar CO
2
dalam air tidak akan meingkat lagi karena
konsentrasi CO
2
dalam air sudah mencapai titik jenuhnya.



Analisis Kesalahan
Kesalahan yang terjasi pada percobaan ini disebabkan oleh beberapa hal:
Pengambilan sampel dilakukan pada kondisi operasi yang belum tunak.
Pengambilan sampel S4 dan S5 tidak dilakukan secara bersamaan.
Pada pengambilan sampel S5 (dari tangki) belum terjadi kemerataan larutan di dalam tangki
sehingga larutan yang berada pada tangki belum homogen.
Kesalahan paralaks dalam penentuan larutan telah netral saat ditiritasi.
Kesalahan paralaks dalam membaca skala kolom titrasi.
Kesalahan paralaks dalam membuat larutan yakni dalam menentukan jumlah air yang dibutuhkan
untuk melarutkan NaOH.

XXIII. KESIMPULAN
XXIV. Absorpsi CO
2
pada NaOH dapat dianalisis dengan menggunakan prinsip titrasi larutan.
XXV. Besarnya jumlah NaOH yang tersisa pada larutan menunjukkan kemampuan absorbsi CO
2

yang kecil.
XXVI. Kecilnya jumlah Na
2
CO
3
yang terbentuk pada larutan menunjukkan kemampuan absorbsi
CO
2
yang kecil.
XXVII. Tujuan dari operasi absorpsi adalah memisahkan gas tertentu dari campuran gas-
gas dengan menggunakan pelarut.
XXVIII. Feed bagian bawah kolom absorpsi adalah gas sedangkan feed bagian atas
adalah umpan fasa cair.
XXIX. Semakin tinggi laju udara maka perbedaan tekanan yang terjadi pada kolom
absorpsi akan semakin besar.
XXX. Jumlah karbondioksida yang terabsorbsi secara matematis merupakan selisih
antara CO
2
inlet dengan CO
2
yang keluar menara absorpsi

XXXI. DAFTAR PUSTAKA
Jobsheet Praktikum Satuan Operasi "Absorpsi", Due Like, Jurusan Teknik Kimia
POLBAN
Jobsheet Praktikum Satuan Operasi "Absorpsi" Jurusan Teknik Kimia POLBAN, 2003
Mc CABE and Werren I Smith Julian C & Hariott., Unit Operations of Chemical
Engineering, 3rd, New York
Mc. Growhill Book Co Fourth Edition 1993
Robert H Perry "Chemical Engineering Handbook" Mc Grow-hill Fourth Edition, USA
1998