Anda di halaman 1dari 17

Memodel Kuntilanak

Tertawa dalam Derita



ii

Prolog
Terdapat sebuah humor yang mengatakan bahwa kita
dapat mencontoh kebiasaan hantu salah satunya Kuntilanak.
Kuntilanak tu walaupun sedang sedih dia tetap tertawa. Maka
atas dasar itulah tulisan ini dibuat.
Kuntilanak adalah sesosok mitos yang berasal dari bumi
nusantara ini. Kuntilanak adalah seorang hantu yang dipercaya
berasal dari perempuan hamil yang meninggal dunia atau wanita
yang meninggal karena melahirkan dan anaknya belum sempat
keluar. Kuntilanak ini digambarkan sebagai perempuan cantik
berambut panjang dan menggunakan baju putih.
Konon kemunculan kuntilanak dapat diketahui dari dua
jenis suara. Suara ciak anak ayam dan suara ketawa. Jika
suaranya jauh maka dia dekat dan jika suara dekat dia jauh.
Biasanya kemunculan kuntilanak juga digambarkan dengan
menimang bayi.
Sifat kuntilanak ini menarik karena dia adalah orang yang
bertanggung jawab, muncul saja sambil merawat anaknya. Selain
itu juga kehebatan dalam mengecoh manusia. Suara dekat berarti
iii

jauh suara jauh berarti dekat, sangat brilian dalam mengecoh
manusia sehingga dia dapat sukses menakuti manusia. Ketiga
adalah ketawanya, kita ketahui dari cerita yang ada bahwa ia mati
begitu tragis namun ketika menjadi hantu dia muncul dengan suara
ketawa. Berapa banyak manusia yang dapat tertawa ketika ia
dalam keadaan menderita? Maka atas dasar itulah penulis memberi
judul tulisan ini Memodel Kuntilanak, Tertawa dalam Derita.
Penulis memberi judul memodel karena terinspirasi dari
Neuro-Linguistic Programing atau disingkat NLP. NLP
dikatakan adalah hasil dari memodel tiga terapis legendaris. NLP
adalah proses modeling atau meniru model yang hidup atau sudah
sejarah. Sebuah model mengandung langkah-langkah yang mana
ketika diikuti akan menuntun kamu ke hasil yang sama. Maka
semoga dengan membaca buku ini kamu menjadi kuntilanak yang
sesungguhnya.
Hormat Saya,

Penulis
iv


Daftar Isi
Nafas Terakhir 1
Hidup dan Mati 6
Tertawa dalam Derita 10

1

Nafas Terakhir
Sekarang, kamu bayangkan ketika dirimu diambang
kematian. Apakah yang kamu lakukan selama hidup sudah
membuatmu berarti? Apakah hidupmu cukup? Apakah kamu
sudah memaksimalkan apa yang Tuhan berikan melalui tubuh
ini dengan karya-karya?
Tuhan sudah memberikan dirimu sebuah sumber daya
yang besar dalam hidup ini. Tuhan sudah memberimu panca
indera yang kau gunakan untuk berkarya. Visual, mata dan
penglihatanmu. Audiotori, telinga dan pendengaranmu.
Kinestetik, tanganmu, kakimu dan rasamu. Apakah sudah
kau gunakan dengan baik dan menciptakan karya-karya yang
mampu membuat-Nya bangga padamu?
2

Sekarang dirimu sedang menunggu saat-saat ini
menunggu saat terakhir. Menunggu nafas terakhir. Sebelum
semuanya mati. Jantungmu akan berhenti berdetak, semua
organmu akan terdiam. Dan otakmu akan berhenti bekerja.
Ketika otakmu sudah berhenti bekerja menurut ilmu
kedokteran saat itulah kau mati.
Otak lah yang memainkan peranan penting sampai
kau disebut mati. Ehm, apakah otakmu sudah kau gunakan
secara maksimal? Otak apakah isi dari otak ini? Sekumpulan
lemak, cairan, protein, neuron-neuron, urat-urat. Apakah kau
hanya berpikir bahwa otakmu bekerja untuk berpikir semata?
Otakmu bekerja untuk mengontrol tubuhmu juga. Didalam
otak juga bukan hanya ada pikiran namun ada hal-hal lainnya.
Pernakah kamu mendengar kata mind. Banyak orang
menerjemahkan mind ke dalam bahasa Indonesia sebagai
pikiran. Tidakkah kamu berpikir, mengapa ketika belajar
3

bahasa inggris kata sedang berpikir menggunakan kata
thinking bukan minding?
Satu-satunya alasan adalah mind bukan hanya
pikiran saja. Bukalah kamus, temuilah arti mind. Mind
diartikan sebagai the part of a person that feels, thinks,
perceives, wills, and especially reasons. Ironi bukan bahwa
seumur hidupmu kamu tidak memahami dirimu sendiri.
Mungkin kamu menolaknya. Coba resapi, arti mind saja
sudah salah. Bagaimana caranya kita memahami diri kita jika
bagian diri kita saja, kita salah memahaminya. Gunakan
otakmu, apakah kamu berpikir disana hanya ada pikiran?
Tidak, ada pusat perasaan juga disana.
Belajarlah, bacalah buku sebanyak mungkin. Isilah
dirimu dengan pengetahuan. Gunakan otakmu, ya gunakan
otakmu untuk belajar memahami dirimu dan memaksimalkan
dirimu. Gunakan pikiran dan perasaanmu dengan bijak.
Manage-lah pikiranmu dan kekanglah perasaanmu.
4

Arahkanlah pikiranmu kearah yang kau butuhkan. Kekanglah
perasaanmu, dia seperti kuda liar yang sulit kau jinakan.
Perasaan kadan muncul tanpa kita sadari. Sudah berapa
lamakah kita terbuai oleh perasaan kita?
Kita terbuai oleh perasaan kita, baik rasa senang,
rasa bahagia, rasa jengkel, rasa sedih dan rasa-rasa lainnya.
Saat kita merasa jatuh cinta padahal muncul rasa suka saat
itu, pikiran kita akan berhenti bekerja ya berhenti bekerja.
Berapa banyak penipuan yang terjadi ketika terbuai oleh
perasaan. Ketika kamu menerima telepon yang mengabarkan
diri kamu memenangkan sebuah undian dalam jumlah yang
besar. Ketika kamu terbuai oleh perasaan senang, pikiran
kamu akan mati. Lihatlah berapa banyak orang yang masih
tertipu dengan telpon undian palsu.
Perasaan sungguh menarik, kamu perlu
mengekangnya. Janganlah percaya kata-kata para motivator
di luar sana yang mengelu-elukan semangat. Hidup tidak
5

cuma berdasarkan semangat namun kamu harus berpikir
dalam melangkah agar jangan sampai jatuh. Kamu perlu
mengekang perasaan ini, bagaikan kuda liar yang dijinakkan.
Ketika ia dapat dijinakkan, kamu dapat memanfaatkannya
untuk mencapai tujuan kamu.
Pelajarilah diri kamu. Belajarlah dari manapun. Ketika
dalam proses belajar kamu perlu memainkan perasaan dan
mengarahkan pikiran kamu untuk mencapai tujuan kamu.
Ketika perasaan ruwet muncul, berhati-hatilah. Kamu sedang
merasa berpikir.
Belajarlah, lahap lah semua buku, lahap lah semua
pengetahuan selagi kamu masih hidup. Sebelum kamu
merasakan nafas terakhir kamu.

6

Hidup dan Mati
Bagai makan buah simalakama hidup segan mati tak
mau. Sebuah peribahasa yang menyatakan betapa tidak
enaknya keadaannya. Hidup dan mati bagaikan siang dan
malam, putih dan hitam. Orang-orang takut akan kematian
namun dalam hidup pun mereka seolah-olah mati.
Mati dalam hidup. Hidup hanya seperti mayat
berjalan. Ya mayat berjalan, hanya mengikuti kemana kaki
melangkah tanpa kehendak tanpa kemauan diri. Jika terjebak
dalam rawa ataupun masuk ke dalam lubang, yang disalahkan
adalah kaki yang membawa melangkah bahkan mungkin
menyalahkan sang pencipta kaki ini.
Lihatlah tante kunti, dalam matinya dia dapat hidup.
Menjalani perannya sebagai seorang ibu dan sebagai
seorang hantu. Ibu yang mengasuh anaknya. Tante kunti
7

sering muncul sambil menggendong anaknya. Hidup sebagai
seorang hantu. Dia menjalani perannya, dia muncul untuk
membuat takut manusia. Bahkan menciptakan ilusi jarak.
Hidup, salah siapakah hidup sekarang ini? Nasib baik
selalu pergi, sang pencipta tidak adil. Kata-kata seperti
itulah yang muncul dari para mayat berjalan ini. Mati dalam
hidupnya.
Mayat berjalan tidak tau bahwa apa yang terjadi
sekarang adalah akibat dirinya sendiri. Keputusannya adalah
menjadi mayat berjalan. Mereka tidak mau mengambil
tanggung jawab hidupnya.
Tanggung jawab hidup. Bukankah hidup ini sudah
ada suratan takdirnya? Ya begitulah. Namun Sang Pencipta
hanya berencana, manusia lah yang menentukan. Bagaimana
mayat hidup dapat mengecap manisnya hidup jika menjalani
rencana Sang Pencipta saja tidak malah berjalan luntang-
8

lantung kesana kemari, namun berharap nasib baik datang
dengan sendirinya.
Nasib dan suratan takdir. Sang Pencipta berencana,
manusia menentukan. Rencana Sang Pencipta lah yang
dinamakan takdir, ya manusia tidak memiliki kuasa menolak
tadirnya. Namun, manusia memiliki kehendak bebas.
Kehendak bebas untuk menentukan nasibnya.
Nasib ya nasib. Begitu para mayat hidup biasanya
berujar. Mereka pura-pura tidak tau bahwa mereka memiiliki
kehendak bebas untuk menentukan nasibnya. Ya nasib.
Nasib mereka didasarkan pada keputusan mereka menjalani
hidup yang berakhir pada perilaku dan kebiasaan mereka. Ya
keputusan. Semua itu keputusan mereka menjadi mayat
hidup. Namun, mereka pura-pura tidak tau. Mereka
menikmati berjalan penuh ketidak pastian. Berjalan kemana
kaki melangkah. Dalam derita sebenarnya mereka menikmati
9

peran mereka. Mereka tidak mau berusaha ya mungkin
karena mereka mati dalam kehidupan ini.


10

Apa makna kebahagiaan bagimu?
Saat kau tertawa? Saat dapat tersenyum? Mungkin
dapat dikatakan saat tidak ada masalah di dunia ini. Ya
masalah. Masalah lah sumber segala carut marut. Sumber
kesedihan. Ketika masalah muncul dan merasa tak mampu
menyelesaikannya, muncullah kesedihan, kebimbangan, dan
derita.
Masalah, apakah hidup dapat terbebas dari masalah?
Mungkin kematian adalah jawaban. Walaupun sebenarnya
masih ada masalah. Tidak ada jaminan mengenai kematian
yang bebas masalah. Ya, tidak ada orang mati yang datang
kembali di depan mata kamu, dalam bentuk tubuh yang utuh
yang menceritakan tentang kematian. Yang ada hanyalah
hantu-hantu yang berkeliaran. Hantu ya hantu. Kita pun
11

sedang belajar dari hantu. Tante kunti namanya. Dia muncul
dalam tawanya yang nyaring menurut mitos yang ada.
Tawa yang nyaring. Bukankah itu hebat, ketika dia
mati dengan tragis. Anaknya mati dalam kandungannya.
Tentu kau tau betapa berharganya seorang anak bagi
seorang ibu. Bahkan seorang ibu rela mati demi anaknya.
Namun, tante kunti mati bersama anaknya yang belum sempat
melihat dunia. Dalam deritanya ia dapat tertawa dengan
nyaring.
Marilah kita tiru tawa itu. Tertawalah dalam setiap
masalah kamu Tapi apa itu sebenarnya masalah? Tentu
kamu punya masalah yang kamu yakini tidak dapat
terselesaikan. Masalah yang kamu yakini berat. Ingat-
ingatlah masalah itu. Cukup satu masalah. Sekarang jujurlah
pada dirimu sendiri, apakah seberat yang selama ini kau
yakini? Apakah benar-benar tidak ada penyelesaiannya?
12

Jika jawabannya tidak berubah, cobalah untuk kembali jujur
kepada dirimu sendiri.
Jujurlah, ingatlah itu. Jika kepada orang lain saja kau
sering berbohong, jangalah kamu lakukan ke dirimu sendiri.
Dirimu ini lah yang menemanimu hingga ajal nanti. Jujurlah.
Apakah masalah yang kau yakini berat, rumit, tewur (ruwet),
dan tidak ada penyelesaiannya itu benar seperti itu?
Ataukah sebenarnya kamu tidak mau menyelesaikannya.
Ya, tidak mau menyelesaikannya. Jujurlah, apakah
ada penyelesaiannya? Ataukah sebenarnya kamu tidak mau
menyelesaikannya karena solusinya tidak enak bagimu? Ya
tidak enak, membuatmu merasa tidak nyaman. Jujurlah,
dengan kejujuran pada dirimu sendiri kau dapat meniru sang
kuntilanak, TERTAWA DALAM DERITA.






The End
1

WHY so SERIOUS..?