Anda di halaman 1dari 2

BASIC LIFE SUPPORT (PERTOLONGAN PERTAMA)

April 6, 2011 at 1:37 am Filed under Basic Life Support alias Pertolongan PertamaDengan kaitkata basic
life support, bls. btcls, cpr, pertolongan pertama, rjp
SALAM JATROPHA!! KOPLAK BERKARYA!! (kata Ojik)
Saya mau bagi sedikit ilmu yang saya dapat dari pelatihan tentang Basic Trauma and Cardiac Life Support
yang tahun lalu saya ikuti. Pelatihan yang saya ikuti ini diadakan oleh lembaga pelatihan BTCLS yang
terpercaya yaitu PUSBANKES 118. Tata laksana pertolongan yang diuraikan masih mengacu
pada guideline lama yang diberikan oleh AHA, yaitu Asosiasi Jantung Amerika tahun 2005 (padahal
tahun 2010 ada guideline baru).
Tujuan dari postingan ini adalah untuk memberikan pengetahuan yang mungkin dapat membantu kita
agar tidak salah menangani korban dalam keadaan gawat darurat di luar rumah sakit. Perlu diketahui
bahwa banyak korban gawat darurat seperti kecelakaan meninggal bukan karena trauma atau karena
luka kecelakaan namun karena salah pertolongannya. Berikut ini merupakan rangkaian pertolongan
pertama yang dapat kita berikan bila menemukan seseorang yang tergeletak (tp bukan tiduran).
Bila ada orang tergeletak dengan kecurigaan pingsan atau mengalami kecelakaan maka secara singkat
dapat dilakukan tata laksana D-R-A-B-C-secondary life support seperti berikut ini :
Danger
Sebagai penolong, pertama yang harus dipastikan adalah keselamatan pribadi. Sangat ironis bila sebagai
penolong kita justru menjadi korban kedua. Periksa sebab korban tergeletak. Misal ada kemungkinan
tersengat listrik maka pastikan kita aman dari listrik, misal korban tertabrak maka pastikan saat akan
menolong kita tidak ikut tertabrak. Pada tahapan ini dikenal juga istilah ekstrikasi yaitu penyelamatan
darurat. Pada penyelamatan darurat diperbolehkan tidak terlalu memikirkan prosedur. Fungsi dari
ekstrikasi yaitu adalah untuk menghindarkan dari potensi bahaya kedua. Intinya yang penting selamat
dulu!!
Response
Setelah dapat dipastikan keadaan aman baik bagi penolong maupun korban, segera lakukan cek
respon korban dengan memanggil sambil menepuk2 bahu korban. Cek respon dapat pula dilakukan
dengan mencubit puting (tp resiko ditanggung penolong klo dikira pelecehan seksual hehehe), dapat
pula dengan menekan dahi korban dengan jari. Apabila pasien merespon dengan bicara maka
dilanjutkan ke tahapan Secondary Support seperti pembidaian kalo ada fraktur (patah tulang),
pembalutan luka, dst.
Apabila pasien tidak merespon segera minta bantuan agar orang memanggil ambulan dan lakukan pada
pembebasan Airway (jalan nafas).
Airway
Langkah ini dilakukan apabila korban tidak mengalami respon saat dirangsang dengan nyeri ataupun
dipanggil2. Buka jalan nafas dapat dilakukan dengan teknik head tilt-chin lift, yaitu tekan dahi-angkat
janggut (bahasa indonesianya janggut apa ya? hehehe). Lebih detailnya akan dibahas pada postingan
lain. Slain itu ada pula teknikJaw Thrust untuk yang berpotensi patah tulang leher. Setelah dilakukan
manuver demikian, lakukan cek jalan nafas dengan membuka mulut korban. Apabila ada kecurigaan
adanya penyumbatan jalan nafas pada daerah mulut dapat dilakukan sapuan kotoran dengan tangan
(hati2 kadang ada respon menggigit pada orang kejang). Ciri adanya sumbatan adalah adanya suara
ngorok saat bernafas.
Breathing
Selanjutnya bila langkah buka jalan nafas telah dilakukan, segera cek nafas korban. Lakukan pengecekan
dengan 3 langkah dalam 1 waktu, Look-Listen-Feel. Look adanya gerakan naik turun dada.Listen suara
nafas korban dengan mendekatkan telingan pada hidung dan mulut korban. Feel hembusan udara dari
mulut atau hidung korban pada pipi kita. Dalam 10 detik penolong harus sudah dapat memastikan
bahwa korban bernafas atau tidak. Apabila korban bernafas maka dapat dilakukan pertolongan
sekunder. Apabila nadi tidak ada segera berikan nafas buatan sebanyak 2 hembusan. Dalam
memberikan nafas buatan sebisa mungkin penolong melindungi diri dari potensi penyakit menular.
Paling tidak dapat dilakukan pelapisan dengan sapu tangan sebelum menempelkan mulut penolong ke
mulut korban. Setelah itu dilakukan cek nadi.
Circulation
Tindakan pengecekan sirkulasi darah dengan menempelkan kedua jari di nadi karotis (samping jakun).
Tapi inget, dalam mengecek nadi perlu hati-hati, jangan sampai malah terkesan nyekek korban. Raba
nadi yang paling dekat dengan penolong (jangan melompati jakun cz bakal terlihat sperti sedang nyekek).
Bila pada korban teraba ada denyutan nadi, selanjutnya dilakukan pernapasan bantuan 1 kali tiap 5-6
detik. Cek nadi setiap 2 menit. Bila nadi tidak teraba denyutannya maka dilakukan kompresi dada pada
pasien. Detail akan dijelaskan pada postingan selanjutnya. Tujuan dari kompresi dada ini adalah untuk
mengambil alih fungsi pompa darah oleh jantung yang berhenti. Ketika kompresi dada dilakukan,
jantung akan tertekan sehingga akan terjadi aliran darah. Lakukan kompresi dada dan diberikan bantuan
nafas dengan perbandingan 30 kompresi dan 2 x hembusan nafas bantuan. Lakukan perbandingan
demikian sebanyak 5 kali siklus. Tiap 5 kali siklus 30:2, cek nadi karotis. Apabila belum ada denyutan
maka dilakukan 5 kali siklus kompresi dada dan nafas buatan kembali. Bila telah ada nadi segera cek
nafas kembali. Bila nadi ada dan nafas ada maka dilakukan pertolongan sekunder.
Secondary Life Support
Pertolongan sekunder meliputi pemeriksaan secara keseluruhan (head to toe assessment), stabilisasi
jalan nafas denganrecovery position (kalo ga ada fraktur), pembidaian fraktur, atau perawatan terhadap
adanya luka. Bila ambulan telah datang dapat pula segera dibawa ke rumah sakit. Namun bila tahapan
D-R-A-B-C belum beres korban belum bisa dibawa ke rumah sakit.