Anda di halaman 1dari 27

ANALISIS KESESUAIAN LAHAN DI MALANG DAN DI KEDIRI

Malang dan Kediri merupakan salah satu kota besar di Jawa Timur. Letak
dari kedua kotapun berdampingan. Sebagian besar mata pencaharian penduduk
di kota tersebut adalah pertanian. Hal tersebut didukung dengan kondisi alam
yang telah menyediakan lahan yang subur yang memudahkan dalam proses
bercocok tanam.
Malang memiliki luasan wilayah baik secara administrasi dan geografis
yang jauh lebih besar daripada Kediri hal tersebut dibuktikan dengan perbatasan
Malang yang sampai ke laut selatan, Pasuruan, Lumajang, Probolinggo, Blitar,
Mojokerto dan Kediri. Hampir semua wilayah perbatasan di wilayah malang di
lewati pegunungan. Sementara itu wilayah kediri memliki luasan yang lebih
kecil. Letaknya di sebelah barat malang berbatasan dengan Malang,
Tulungagung, Blitar, Nganjuk, dan Jombang. Berbeda dengan Malang yang
hampir semua wilayah perbatasan bertemu dengan pegunungan di kediri hanya
bagian timur dan barat yaitu gunung wilis dan gunung kelud. Perbedaan kondisi
tersebut menyebabkan kondisi lahan mengalami perbedaan.
Kondisi iklim Kota Malang selama tahun 2008 tercatat rata-rata suhu
udara berkisar antara 22,7C - 25,1C. Sedangkan suhu maksimum mencapai
32,7C dan suhu minimum 18,4C . Rata kelembaban udara berkisar 79% -
86%. Dengan kelembaban maksimum 99% dan minimum mencapai
40%. Seperti umumnya daerah lain di Indonesia, Kota Malang mengikuti
perubahan putaran 2 iklim, musim hujan, dan musim kemarau. Dari hasil
pengamatan Stasiun Klimatologi Karangploso Curah hujan yang relatif tinggi
terjadi pada bulan Pebruari, Nopember, Desember. Sedangkan pada bulan Juni
dan September Curah hujan relatif rendah. Kecepatan angin maksimum terjadi
di bulan Mei, September, dan Juli.
Jenis tanah di wilayah Kota Malang ada 4 macam, antara lain :
Alluvial kelabu kehitaman dengan luas 6,930,267 Ha.
Mediteran coklat dengan luas 1.225.160 Ha.
Asosiasi latosol coklat kemerahan grey coklat dengan luas 1.942.160
Ha.
Asosiasi andosol coklat dan grey humus dengan luas 1.765,160 Ha
Struktur tanah pada umumnya relatif baik, akan tetapi yang perlu
mendapatkan perhatian adalah penggunaan jenis tanah andosol yang memiliki
sifat peka erosi. (Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Malang, 2014)
Kondisi topografi terdiri dari dataran rendah dan pegunungan yang dilalui
aliran sungai Brantas yang membelah dari selatan ke utara. Suhu udara
berkisar antara 23o C sampai dengan 31o C dengan tingkat curah hujan rata-
rata sekitar 1652 mm per hari. secara keseluruhan luas wilayah ada sekitar
1.386.05 KM2 atau + 5%, dari luas wilyah propinsi Jawa Timur
Ditinjau dari jenis tanahnya, Kediri dapat dibagi menjadi 5 (lima)
golongan. yaitu.
1. Regosol coklat kekelabuan seluas 77.397 Ha atau 55,84 %,
merupakan jenis tanah yang sebagian besar ada di wilayah
kecamatan Kepung, Puncu, ngancar, Plosoklaten, Wates, Gurah,
Pare, kandangan, kandat, Ringinrejo, Kras, papar, Purwoasri, Pagu,
Plemahan, Kunjang dan Gampengrejo
2. Aluvial kelabu coklat seluas 28,178 Ha atau 20,33 %, merupakan
jenis tanah yang dijumpai di Kecamatan Ngadiluwih, Kras, Semen,
Mojo, Grogol, Banyakan, Papar, Tarokan dan Kandangan
3. Andosol coklat kuning, regosol coklat kuning, litosol seluas 4.408
Ha atau 3,18 %, dijumpai di daerah ketinggian di atas 1.000 dpl
seperti Kecamatan Kandangan, Grogol, Semen dan Mojo.
4. Mediteran coklat merah, grumosol kelabu seluas 13.556 Ha atau
9,78 %, terdapat di Kecamatan Mojo, Semen, Grogol, banyakan,
tarokan, Plemahan, Pare dan Kunjang.
5. Litosol coklat kemerahan seluas 15.066 Ha atau 10.87%, terdapat di
kecamatan Semen, Mojo, Grogol, banyakan, tarokan dan
kandangan.
Wilayah Kabupaten kediri diapit oleh dua gunung yang berbeda sifatnya,
yaitu Gunung Kelud di sebelah Timur yang bersifat Vulkanik dan Gunung
Wilis disebelah barat yang bersifat non vulkanik, sedangkan tepat di bagian
tengah wilyah Kabupaten Kediri melintas sungai Brantas yang membelah
Wilayah Kabupaten Kediri menjadi dua bagian, yaitu bagian Barat sungai
Brantas: merupakan perbukitan lereng Gunung Wilis dan Gunung Klotok. dan
bagian timur Sungai Brantas. (Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten
Kediri, 2012)
Tanah aluvial adalah tanah yang dibentuk dari lumpur sungai yang
mengendap di dataran rendah yang memiliki sifat tanah yang subur dan cocok
untuk lahan pertanian.Aluvial ialah tanah muda yang berasal dari hasil
pengendapan. Sifatnya tergantung dari asalnya yang dibawa oleh sungai. Tanah
aluvial yang berasal dari gunung api umumnya subur karena banyak
mengandung mineral. Tanah ini sangat cocok untuk persawahan.
Penyebarannya di lembah-lembah sungai dan dataran pantai.
Tanah ini terdapat disemua pulau di Indonesia, didaerah dataran,
pelembahan, daerah cekung dan disepanjang daerah aliran sungai-
sungai. Digunakan untuk persawahan, peladangan, kebun kelapa, dan palawija.
(Evendy.2014)
Tanah mediteran adalah tanah sifatnya tidak subur yang terbentuk dari
pelapukan batuan yang kapur. Tanah tersebut berada pada landscape karst dan
dan lereng vulkan ketinggian 400 m. Tidak terdapat unsur hara pada jenis tanah
mediteran. Kandungan kalsium dan magnesium sangat tinggi pada jenis tanah
ini dengan kejenuhan basa > 50. (Supraptoharjo, 1950)
Tanah Latosol adalah tanah yang telah mengalami pelapukan lanjut
dengan kandungan bahan organik, mineral primer dan unsur hara rendah,
bereaksi masam (pH 4.5 5.5), terjadi akumulasi seskuioksida, tanah berwarna
merah, coklat kemerahan hingga coklat kekuningan atau kuning. Tanah terdapat
mulai dari daerah pantai hingga 900 m dengan curah hujan antara 2500 7000
mm per tahun. Tanaman yang bisa ditanam didaerah ini adalah padi
(persawahan), sayur-sayuran dan buah-buahan, palawija, kemudian kelapa
sawit, karet, cengkeh, kopi dan lada. (Supraptoharjo, 1950)
Tanah Andosol adalah tanah yang berwarna hitam sampai coklat tua
dengan kandungan bahan organik tinggi, remah dan porous, licin (smeary) dan
reaksi tanah antara 4.5 6.5. Horison bawah-permukaan berwarna coklat
sampai coklat kekuningan dan kadang dijumpai padas tipis akibat semenatsi
silika. Tanah ini dijumpai pada daerah dengan bahan induk vulkanis mulai dari
pinggiran pantai sampai 3000 m diatas permukaan laut dengan curah hujan
yang tinggi serta suhu rendah pada daerah dataran tinggi. Tanah andosol dapat
digunakan untuk perkebunan misalnya teh, kopi dan pinus untuk pertanian
dapat digunankan untuk sawah, sayur mayur, bunga potong dan palawija.
(Supraptoharjo, 1950)
Regosol merupakan tanah muda yang berkembang dari bahan induk lepas
(unconsolidated) yang bukan dari bahan endapan alluvial dengan
perkembangan profil tanah lemah atau tanpa perkembangan profil tanah. Tanah
regosol cocok ditanami padi, tebu, palawija, tembakau, dan sayuran.
(Supraptoharjo, 1950).
Tak terdapat perbedaan kesesuaian lahan pada Malang dan Kediri. Jenis
tanah yang hampir sama dan kondisi Iklim yang tek terlalu berbeda jauh
menyebabkan jenis komoditi tanaman pada kediri dan Malang hampir sama,
yaitu rata-rata meliputi sawah (padi), palawija, dan sayuran yang paling
dominan.


ANALISI AGROEKOTEKNOLOGI DI MALANG DAN KEDIRI

KEDIRI
Sistem pertanian lahan kering merupakan penggunaan terluas dan dikelola
oleh penduduk setempat untuk menanam tanaman pangan dengan pola tanam
yang melibatkan padi gogo, jagung, ubikayu, kacang tanah dan kedelai.
Sebagian lahan merupakan lahan sawah setengah teknis dan sawah irigasi
sederhana dengan pola tanam padi-padi-palawija dan sawah tadah hujan dengan
pola tanam padi-palawija.



Kecamatan Pekaranga
n
Tegalan Perkebunan Hutan
negara
Lainnya Jumlah

Mojo 1784 4472 382 1093 999 8730
Semen 627 1616 4017 131 6391
Ngadiluwih 1545 1185 299 3029
Keras 1826 822 96 2744
Kandat 3129 2672 15 2 5818
Wates 1971 2403 576 324 5274
Ngancar 1172 1879 3044 2209 279 8583
Plosoklaten 1736 1103 3147 699 6685
Gurah 1545 761 222 2528
Puncu 1176 1727 1829 1680 6412
Kepoung 1450 2317 368 3638 753 8526
Kandangan 697 771 804 7 2279
Pare 3361 947 4328
Kunjang 538 103 641
Palemahan 1026 106 86 1220
Purwoasri 775 228 157 1160
Papar 992 102 60 1154
Pagu 1336 522 86 1944
Gampengrejo 1188 193 238 1619
Grogol 1739 2308 2759 985 7791
Tarokan 993 1313 515 209 3030
Jumlah 30.608 27447 9464 16.715 5489 89.886

Potensi produksi komoditi perkebunan di wilayah Kabupaten Kediri ini
disajikan berikut ini.
No Komoditas Luas Areal (ha) Total Produksi
(ton)

1 Tebu Rakyat Intensifikasi 18.785,60 1.672.963,6
0
2 Kopi 1.375,95 492,839
3 Cengkeh 671,70 117,175
4 Kapok Randu 2.003,17 272,75
5 Kelapa 8.042,86 7.037,22
6 Jambu Mete 444,26 282,830
7 Melinjo 18,712 11,224

Sumber : Diperta, 2007

A. Tanaman Tebu
Sentra produksi tebu pada saat sekarang ialah Kecamatan Kandat,
Ngadiluwih, dan Wates. Budidaya tanaman ini telah dikenal dengan baik
hampir oleh seluruh masyarakat, terutama petani lahan kering. Namun
demikian masih tampak bahwa keragaman sistem produksinya masih sangat
tinggi, dan produktivitasnya masih relatif rendah.



Kecamatan Luas areal (ha) Total Produksi
(ton)

Kandat 2.581,30 215.097,5
0
Ngadiluwih 1.984,30 179.212,3
0
Wates 1.600,20 147.238,6
0
Gurah 1.330,50 130.272,9
0
Purwoasri 1.239,00 121.278,2
0
Pagu 922.00 106.207,1
0
Ploso Klaten 1.047,50 94.763,00
Pare 986,50 84.585,70
Ngancar 1.006,20 79.673,00
Papar 732,80 77.032,70
Gampengrejo 766,20 72.055,50
Pelemahan 791,10 62.598,90
Kunjang 632,50 54.842,50
Puncu 664,00 48.970,20
Kandangan 485,70 44.692,30
Kepung 515,70 42.165,40
Grogol 422,00 36.812,90
Keras 585,00 35.031,20
Tarokan 299,80 24.853,70
Semen 123,10 10.870,50
Mojo 61,20 4.609,50
Sumber : Diperta, 2007

B. Tanaman Kapok Randu
Tanaman kapok randu biasanya ditanam di batas lahan tegalan /
pekarangan sebagai tanaman pagar atau tanaman pembatas. Sumbangan
penghasilan petani dari tanaman kapok randu ini cukup memadai mengingat
biaya produksinya hampir tidak ada. Tanaman ini dapat berfungsi sebagai
pohon rambatan bagi aneka tanaman menjalar.
Kecamatan Luas areal (ha) Total Produksi
(ton)

Pare 390,51 60,80
Kandangan 179,93 24,10
Tarokan 168,95 22,70
Pelemahan 159,37 22,20
Semen 114,90 17,90
Ploso Klaten 109,77 16,80
Kepung 98,12 16,60
Keras 84,40 12,70
Mojo 91,50 12,30
Gurah 90,36 10,60
Sumber : Diperta, 2007

C. Tanaman Jambu Mete
Tanaman jambu mete banyak dijumpai di wilayah Kecamatan Ploso-klaten
dan mampu memberikan tambahan penghasilan pada petani. Tanaman ini
merupakan salah satu dari beberapa jenis tanaman yang mempu bertahan
terhadap gejolak kondisi agroekologi setempat. Pohonnya dapat berfungsi
sebagai rambatan bagi tanaman merambat lainnya.

Kecamatan Luas areal (ha) Total
Produksi
(ton)

Ploso Klaten 306,67 228,300
Tarokan 56,56 27,900
Kepung 16,58 5,600
Mojo 15,51 5,200
Pare 13,29 4,700
Grogol 8,33 3,600
Kunjang 5,59 3,400
Semen 9,32 3,250

Sumber : Diperta, 2007

D. Tanaman Kelapa
Tanaman kelapa dapat digunakan sebagai tanaman naungan bagi tanaman
pekarangan.
Kecamatan Luas areal (ha) Total Produksi
(ton)

Ngadiluwih 790,90 793,79
Grogol 716,95 657,80
Keras 614,90 609,59
Ngancar 373,01 577,24
Kandat 642,39 490,35
Wates 517,88 483,75
Ploso Klaten 456.92 424.85
Papar 437,43 396,14
Pagu 388,40 309,69
Tarokan 282,46 273,59
Gurah 391,20 254,55
Gampengrejo 290,78 249,11
Mojo 467,45 247,89
Semen 267,40 247,89
Pare 340,55 242,40
Kepung 286,80 207,42
Pelemahan 229,02 204,96
Purwoasri 181,59 131,90
Puncu 160,88 125,03
Kunjang 121,15 88,60
Kandangan 85,70 31,64
Sumber : Diperta, 2007

E. Tanaman Kopi Rakyat
Sentra produksi kopi rakyat pada saat sekarang ialah Kecamatan Kepung.
Budidaya tanaman ini telah dikenal dengan baik hampir oleh seluruh
masyarakat, terutama petani lahan kering. Namun demikian masih tampak
bahwa keragaman sistem produksinya masih sangat tinggi, dan
produktivitasnya masih relatif rendah. Diperkirakan upaya intensifikasi masih
mampu meningkatkan produksi. Kendala yang dihadapi oleh petani untuk
menambah populasi tanamannya ialah bibit /tanaman muda yang mati akibat
kemarau panjang.
Kecamatan Luas areal (ha) Total Produksi
(ton)

Kepung 688,52 291,110
Kandangan 188,73 61,570
Ngancar 195,62 53,043
Puncu 143,43 50,119
Ploso Klaten 55,98 13,627
Mojo 21,29 5,616
Kandat 20,21 4,396
Wates 17,91 3,998
Semen 10,36 2,295
Pare 9,87 2,448
Sumber : Diperta, 2007

F. Tanaman Melinjo
Sentra produkci melinjo pada saat sekarang ialah Kecamatan Pare dan
Puncu. Budidaya tanaman ini telah dikenal dengan baik hampir oleh seluruh
masyarakat, terutama petani lahan kering. Namun demikian masih tampak
bahwa keragaman sistem produksinya masih sangat tinggi, dan
produktivitasnya masih relatif rendah. Diperkirakan upaya intensifikasi masih
mampu meningkatkan produksi. Kendala yang dihadapi oleh petani untuk
menambah populasi tanamannya ialah bibit /tanaman muda yang mati akibat
kemarau panjang.

Kecamatan Luas areal (ha) Total Produksi
(kw)

Pare 8000 4800
Puncu 5838 3501
Ngadiluwih 3188 1912
Grogol 1010 606
Kunjang 676 405

Sumber : Diperta, 2007
A. Komoditas Padi
Tanaman padi sawah dan padi ladang (gogo) mempunyai prospek yang
snagat baik untuk dikembangkan di beberapa wilayah kecamatan. Jenis-jenis
tanaman padi ladang sesuai untuk diusahakan sebagai tanaman monokultur
maupun sebagai tanaman sela dalam sistem tumpangsari .
Kecamatan Padi sawah Padi ladang
Luas (ha) Produksi
(kwt)
Luas (ha) Produksi (ton)

Mojo 2038 118068 1618 73693
Semen 1772 95796 118 4889
Ngadiluwih 621 36372
Keras 865 54638
Kandat 889 53442
Wates 3161 187550
Ngancar 1136 66526
Plosoklaten 3802 220712
Gurah 3398 218772
Puncu 683 38625
Kepoung 3794 207655
Kandangan 3021 193678
Pare 6813 447465
Kunjang 2442 142711
Palemahan 4747 290956
Purwoasri 2838 169269
Pagu 4155 260078
Gampngrejo 2177 125321
Grogol 3902 233263 72 3239
Tarokan 2118 133601 65 2932
Jumlah 56084 3402456 1873 84753
Sumber : Diperta, 2007

B. Komoditi Palawija
Tanaman pangan di lahan kering yang menonjol produksinya di wilayah ini
ialah jagung, ubikayu, kacangtanah, kacang hijau dan kedelai. Jenis-jenis
tanaman palawija ini sangat sesuai untuk diusahakan sebagai tanaman
monokultur maupun sebagai tanaman sela dalam sistem tumpangsari .
Kecamatan Total Produksi (kwt)
Jagung Ubikayu Kedelai Kacang-
tanah
Kacang-
hijau

Mojo 46679 653576 620 1099 22
Semen 27450 402581 167 8725 497
Gurah 84404 20580 797
Puncu 195844 9965 672 2467 25
Kunjang 101669 10386 502 130
Palemahan 238108 42855 14607 1528 485
Purwoasri 73576 10437 1856 963
Papar 146591 9473 3009 542 927
Pagu 300879 14625 1795 6668
Gampengrejo 96621 7071 741 1187
Grogol 244259 762279 4438 8478
Tarokan 76210 525574 4237 1285 72
Sumber : Diperta, 2007


C. Hortikultura Sayuran
Tanaman hortikultura sayuran ini yang menonjol produksinya di wilayah
ini meliputi sayuran dataran tinggi dan dataran rendah. Jenis-jenis tanaman
palawija ini sangat sesuai untuk diusahakan sebagai tanaman monokultur
maupun sebagai tanaman sela dalam sistem tumpangsari .
Kecamatan Total Produksi (kwt)
Cabai K.panjan
g
B.merah Terong Tomat
Mojo 71 247 100
Semen 769 2482
Wates 348 296 13 102
Plosoklaten 344 600 390 920
Gurah 6342 277 594 288
Puncu 1448 16442
Kandangan 365 1910
Pare 5956 148 79790 748 476
Kunjang 887 722
Palemahan 4080 511 54167 925 471
Pagu 10808 4593 18886 9792
Gampengrejo 288 202 13
Sumber : Diperta, 2007

D. Buah-buahan
Tanaman hortikultura buah-buahan ini yang menonjol produksinya di
wilayah ini meliputi buah dataran tinggi dan buah dataran rendah. Jenis-jenis
tanaman ini sangat sesuai untuk diusahakan sebagai tanaman monokultur
maupun sebagai tanaman sela dalam sistem tumpangsari .

Kecamatan Total Produksi (kw)
Mangga Nanas Pisang Pepaya Rambutan
Mojo 13640 1077 14682 315
Semen 145088 144 21 3
Ngadiluwih 6456 1592 2526 1449
Kandat 2653 45532 1691 17841 3776
Ngancar 269 411191 3640 4946 2573
Plosoklaten 655 6800 50000 212622 701
Gurah 2922 223 13552 4515 1503
Puncu 1710 1778 2255 8490 264
Kandangan 3000 62 3040 2400 9000
Pare 71 15401 2012 1920
Kunjang 1350 446 518 70
Purwoasri 908 743 114
Papar 5283 11 10888 115 77
Pagu 590 3083 5269 599
Grogol 101739 607 339
Tarokan 6860 1007 53
Sumber : Diperta, 2007

Analisis Kendala Pengembangan Pertanian Lahan kering
(1). Analisis Bentang Lahan
Berikut ini mengikh tisarkan kondisi bentang lahan secara garis besar di
wilayah Kabupaten Kediri. Pengamatan lapangan dilaku kan di beberapa lokasi
yang mewakili tipe bentuk lahan.

No
.
U r a i a n Datar
1. Slope% 5 - > 40 %
2. Teras Bangku dan Gulud
3. Jenis Tanah Aluvial, Regosol , Mediteran
Solum Sebagian besar < 30 cm
4. Textur Lempung liat berdebu
5. Warna Coklat Kekuningan
Merah Kekuningan
6. Erosi Aktual Berat
Sumber : Diperta, 2007

Sesuai dengan kemiringan lahan dan tebalnya solum tanah, sebagian besar
lahan mempunyai masalah serius untuk budidaya tanaman pertani an secara
intensif. Kendala kimia yang dijumpai adalah rendahnya kandungan bahan
organik tanah dan nitrogen, sehingga seringkali merupakan faktor penyebab
rendahnya produksi akibat tanaman kekurangan unsur. Untuk mengatasi
diperlukan tindakan pemu-pukan atau penambahan unsur organik.
(2). Pola Penggunaan Lahan Sekarang
Lahan kering merupakan tipe yang dominan, dan lahan ini dikelola sebagai
tegalan, kebun campuran, dan pekarangan. Kecuali lahan kering terdapat pula
sawah setengah teknis/sederhana dan sawah tadah hujan.
Pengelolaan lahan tegalan dengan pola tumpanggilir dan tumpangsari,
secara keseluruhan produktivitas yang dihasilkan masih rendah, khususnya
jagung hanya berkisar 10-15 Ku/Ha, dan ubikayu 5-10 ton/Ha. Pada lahan
kebun dan pekarangan dengan pola tanam campuran, secara umum intensitas
perawatannya masih rendah, sehingga produktivitasnya juga rendah.
Produktivitas pada sawah juga masih rendah khususnya akibat dosis
pemupukan yang masih di bawah anjuran dan terjadinya stress air.
Land POLA JENIS PENGOLAHAN HAMA KETER- HASIL
Use TANAM TANAMAN Penya sediaan
SEMUSIM Tahunan Gulud TERAS kit air
Tegal- Tmpang Ubi kayu - Gulud - - Cukup Uk=124
an Gilir Jagung Tikus Cukup J =22
Padi Gogo Tikus Sedang Pg=38.5
Kactanah Cukup Kc= 9.5
Tmpang Jagung - Gulud - Tikus I.Cukup J =23.5
sari Kac.tanah II.Krang Kd=10
Kebun Campur Ubi kayu Cengkeh Gulud Teras - Cukup Ck= 0.45
campur an Kopi Seder- Cukup Kp= 6.80
an Kelapa hana Cukup K = 9.90
Hibrida Cukup Kh=12
Mlinjo Cukup Mlj:
Pekara Campur Ubi kayu Cengkeh Gulud - Cukup Ck= 0.45
ngan an Lengkuas Kopi Cukup Kp= 6.8
Jahe Mlinjo Cukup Mlj:
Kunyit Kp randu Cukup Kpr:
Temu Kelapa Cukup K = 9.9
lawak Pisang Cukup Ps=
Jati Cukup Lg=37.4
Sengon Cukup Jh=50
Mangga Cukup Mg=
Sawah Padi-Pa Padi - Gulud - Tikus Cukup P =43.6
di-Pala Jagung Tikus Cukup J =23.9
wija Kac.tanah Cukup Kc=
Kacang hi- Cukup Kj= 7.3
jau
Sumber : Diperta, 2007

Intensitas polatanam tumpangsari di lahan tegalan yang hanya dua
kali/tahun, masih dapat ditingkatkan menjadi tiga kali/tahun dengan penga turan
pola tanam secara tumpanggilir dan varietas genjah. Dengan cara tumpanggilir
dengan ubikayu, maka luas tanaman ubikayu dapat bertambah dan produksi
totalnya juga bertambah.
Produktivitas pada lahan kering maupun sawah masih dapat ditingkatkan
dengan peningkatan jumlah pemupukan sampai seperti anjuran, serta
peningkatan pemanfaatan air sungai dan air hujan melalui pembuatan chek-
dam dengan saluran irigasi atau bak penampung air hujan untuk mengisi
kekurangan pada waktu terjadi defisit, khususnya sekitar bulan Mei- Juli.

(3). Neraca lengas lahan dan kalender pertanaman
Gambaran umum tentang kondisi lengas lahan dan pola tanam dominan
tampak bahwa defisit air terjadi selama empat-lima bulan dalam musim
pertumbuhan tanaman yang berlang sung selama 12 bulan, yaitu dari bulan
Januari hingga bulan Desember.
Adanya defisit lengas tanah selama lima bulan (Juni - Oktober) di musim
kemarau, untuk lahan kering nampaknya sudah diantisipasi oleh petani dengan
pola tanam khusus, yaitu pada bulan Oktober secara tumpang sari Jagung+ Ubi
kayu, dan pertengahan Februari panen jagung, kemudian awal Mei tanam lagi
kacangtanah dan pertengahan Juni dipanen. Selanjutnya di lapangan tinggal
ada ubikayu yang dipanen pada akhir september atau awal Oktober. Kendala
yang dihadapi adalah pada waktu tanaman baru berumur satu-dua bulan
ternyata mengalami defisit air, sehingga produktivitas pada musim tanam ke
dua umumnya lebih rendah dibandingkan pada musim tanam I. Sedangkan
untuk padi gogo (MT I) pada waktu tanaman menginjak umur tiga bulan
ternyata mengalami defisit air sehinnga mengganggu pertumbuh an dan
produksi.

Sumberdaya Air dan Ekosistem Perairan
Pengadaan air bersih bagi kepentingan penduduk sehari-hari dilakukan
melalui sumur galian, pompa air dalam maupun yang dangkal, selama ini belum
merupakan kendala penting di wilayah kecamatan ini. Sumur-sumur galian
penduduk umumnya kekurangan air di musim kemarau, debitnya mengalami
penurunan yang tajam. Walaupun demikian keberadaan sumur dalam maupun
dangkal ini sangat diperlukan, khususnya untuk menanggulangi kemungkinan
penurunan yang tajam di musim kemarau serta mengantisipasi meningkatnya
kebutuhan air rumah tangga. Kebutuhan air untuk keperluan pertanian,
peternakan dan lainnya mengandalkan air hujan. Air sungai yang karena
letaknya cukup curam sehingga belum dapat dimanfaatkan secara optimal. Dari
gambaran neraca lengas lahan diketahui bahwa di Kabupaten Kediri terjadi
surplus air hujan pada bulan-bulan Januari, Februari, Maret, April, Nopember
dan Desember, dan defisit air hanya terjadi pada bulan Mei dan Juli. Perkiraan
surplus air hujan sepanjang tahun disajikan dalam tabel. Kondisi yang ada
sekarang ialah bahwa seba gian surplus air hujan tersebut mengalir di
permukaan tanah menuju ke sungai-sungai dan hanya sebagian dapat
dimanfaatkan oleh penduduk setempat. Oleh sebab itu jika pembuatan chek-
dam dapat terlaksana, dan air sungai yang ada dapat dimanfaatkan seoptimal
mungkin melalui pembuatan jaringan irigasi sederhana karena memang debit
sungai juga tidak besar, maka defisit air akan dapat teratasi.

No. Bulan Curah hujan Surplus Defisit
............... ... mm ........ ............
1. Januari 336 +
2. Februari 574 +
3. Maret 316 +
4. April 250 +
5. M e i 87 0
6. J u n i 18 -
7. J u l i 21 -
8. Agustus 54 -
9. September 52 -
10.Oktober 53 -
11.Nopember 199 0
12.Desember 292 +
Total 2252
Sumber : Diperta, 2007


MALANG
Tanah yang subur dan iklim yang relatif dingin membuat kota Malang
menyediakan lahan pertanian yang produktif. Berikut data produksi tanaman
kota Malang.
DATA PRODUKSI TANAMAN PANGAN KOTA MALANG
DATA PERKEBUNAN KOTA MALANG

DATA LAHAN SAWAH IRIGASI KOTA MALANG

DATA KOMODITI PADI KOTA MALANG

DATA KOMODITI JAGUNG KOTA MALANG

DATA KOMODITI UBI KAYU KOTA MALANG

DATA KOMODITI KACANG TANAH KOTA MALANG


Dari data produksi diatas hasil produksi tanaman dari tahun ke tahun tetap
dan cenderung menurun. Peristiwa tersebut terjadi karena luas areal lahan yang
cenderung menurun.




Data Curah Hujan Kota Malang
Dari data diatas curah hujan di Malang cukup tinggi. Hal tersebut dibuktikan
dengan curah hujan lebih dari seratus hampir 1 tahun, kecuali pada bulan Juni dan
Juli. Dari tinggi curah hujan kebutuhan air tanaman bisa tercukupi.
Dari dua analisis agroekoteknologi dari kediri dan Malang bisa disimpulkan
kedua lahan memeliki kemampuan menopang keberlanjutan produksi pertanian
hanya saja luas area bercocok tanam yang semakin sempit membuat hasil produksi
menjadi berkurang.



DAFTAR PUSTAKA


Dinas Informasi dan Komunikasi Kota Malang. 2014. Keadaan Iklim dan Jenis
Tanah Malang. Malang : Perkantoran Terpadu Gedung A Lt. 4
Jl. Mayjen Sungkono, Malang.
Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kediri. 2012. Kondisi Geografi
Kab. Kediri. Kediri : Jl. Sekartaji No. 2 Doko-Ngasem Kediri
Dinas Pertanian Malang. 2014. Data Komoditi Pertanian Per Kecamatan Kota
Malang. Malang : Jl. Ahmad Yani 202 Malang
Diperta 2007. Laporan Tahunan 1997. Cabang Dinas Pertanian Tanaman Pangan
Kabupaten Dati II Kediri. Kediri : Jl. Brigjen Imam Bachri 98A.
Kecamatan Pesantren, Kediri.
Evendy,Rachman. Ciri-ciri Tanah Aluvial. http://pendiks.blogspot.com/. Diakses 8
April 2014.
Supraptoharjo.1950. Klasifikasi Tanah Indonesia. Bandung : Universitas
Padjadjaran.