Anda di halaman 1dari 4

Tuberkulosis: Penyebab, Proses, Tanda dan Gejala, serta Faktor Pengaruh

Oleh: Septi Rizkia Amalida, 1006672970



Penyakit tuberkulosis merupakan penyakit paling mematikan ketiga di
dunia. Diperkirakan sepertiga penduduk dunia pernah terjangkit kuman
Tuberkulosis. Tuberkulosis yang paling banyak diidap seseorang berasal dari
kuman Mycrobacterium Tuberculosis. Sisanya berasal dari Mycrobacterium Bovis
menginfeksi sapi dan terdapat di dalam susu yang dihasilkannya. Tuberkulosis
yang berasal dari M. Bovic menyerang orofaringeal dan usus.
Kuman M. Tuberculosis tersebar melalui droplet dari pengidap
tuberkulosis yang menyebar di udara. Kuman ini terebntuk dari jaringan lemak
seingga tahan terahadap asam, zat kimia serta faktor fisik. Kuman ini bersifat
aerob atau menyukai udara, ini yang menyebabkan kuman ini senang tinggal di
apeks paru-paru. Penyakit tuberkolusis terbagi menjadi dua. Tuberkolusis primer
ketika M. Tuberculosis masuk dan menginfeksi makrofag. M. Tuberculosis
memasuki makrofag dengan cara endosistosis dengan media makrofag reseptor,
seperti: reseptor mannose, blind lipoarabinomannan, dll. Di dalam makrofag, M.
Tuberculosis bereplikasi dalam fagosom dengan mengdisfungsikan pembentukan
fagosom dan lisosom. Kuman pun menahan proses maturasi sel dan menurunkan
Ph sel. Gabungan ketiga hal tersebut disebut dengan manipulasi endosomonal.
Selanjutnya, imunitas terhadap M. Tuberculosis aktif dan menstimulasi makrofag
untuk mematikan kuman. Ketika M. Tuberculosis berinteraksi dengan sistem
imun terbentuk granuloma. Granuloma ini terdiri dari gumpalan kuman yang
hidup juga mati yang dikelilingi dinding makrofag. Granuloma ini selanjutnya
membentuk jaringan fibrosa yang disebut dengan ghon tubercle. Materi ini
selanjutnya nekrotik dan membentuk jaringan seperti keju. Hal ini akan menjadi
klasifikasi dan akhirnya membentuk jaringan kolagen kemudian bakteri inaktif.
Tuberkolusis sekunder merupakan kejadian ketika reinfeksi kembali atau
bakteri yang inaktif menjadi aktif. Pada tuberkolusis sekunder ini, ghon tubercle
mengalami ulerasi sehingga membentuk necrotizing caseosa di dalam bronkus.
Paru-paru yang terinfeksi pun meradang mengakibatkan terjadinya
bronkopneumonia dan membentuk tubercle. Selanjutnya paru-paru yang terinfeksi
semakin terkikis sehingga terbentuk lubang-lubang.
Keluhan yang dirasakan pasien tuberkulosis dapat bermacam-macam atau
malah banyak pasien dengan TB paru tanpa keluhan sama sekali dalam
pemeriksaan kesehatan. Beberapa tanda dan gejala dari Tuberkulosis. Pertama,
demam. Biasanya demam yang terjadi seperti demam influenza. Tetapi kadang-
kadang panas badan dapat mencapai 40-41 C. Serangan demam pertama dapat
sembuh sebentar, tetapi kemudian dapat timbul kembali. Begitu seterusnya hilang
timbul, sehingga pasien merasa tidak pernah terbebas dari serangan demam
influensa. Demam pada penderita TBC sering terjadi dimalam hari karena pada
saat itu Mycobacterium tuberculosis terus tumbuh.
Kedua, Batuk ( Batuk Berdarah). Gejala ini banyak ditemukan. Batuk
terjadi karena adanya iritasi pada bronkus. Batuk ini diperlukan untuk membuang
produk-produk radang keluar. Karena terlibatnya bronkus pada setiap penyakit
tidak sama, mungkin saja batuk baru ada setelah penyakit berkembang dalam
jaringan paru yakni setelah berminggu-minggu atau berbulan-bulan peradangan
bermula. Sifat batuk dimulai dari batuk kering kemudian setelah timbul
peradangan menjadi batuk produktif dan keadaan yang lebih lanjut akan menjadi
batuk berdarah.
Ketiga, Sesak Napas. Pada penyakit yang ringan ( baru tumbuh ) belum
dirasakan sesak napas. Sesak napas akan dirasakan pada penderita yang sudah
lanjut, yang infiltrasinya sudah meliputi setengah bagian paru-paru. Sesak napas
ini terjadi karena tersumbatnya sebagian bronkus dan penekanan kelenjar getah
bening yang membesar (timbul suara: mengi).
Keempat, Nyeri Dada. Gejala ini agak jarang ditemukan. Nyeri dada
timbul bila infiltrasi radang sudah sampai ke pleura sehingga menimbulkan
pleuritis. Terjaadi gesekan kedua pleura sewaktu pasien menarik atau melepaskan
napasnya. Kelima, Malaise. Penyakit tuberkulosis bersifat radang yang menahun.
Gejala malaise sering ditemukan berupa anoreksia tidak ada nafsu makan., badan
kurus (berat badan turun drastis), sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringan
malam. Gejala malaise ini makin lama makin berat dan terjadi hilang timbul
secara tidak teratur.
Parah tidaknya tuberkulosis dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, faktor
umur. Insiden tertinggi tuberkulosis paru biasanya mengenai usia dewasa muda.
Di Indonesia diperkirakan 75% penderita TB Paru adalah kelompok usia produktif
yaitu 20-49 tahun. Kedua, faktor jenis kelamin. Tuberkulosis terutama menyerang
laki-laki. Jumlah penderita TB Paru laki-laki hampir dua kali lipat dibandingkan
jumlah penderita TB Paru pada wanita. TB paru Iebih banyak terjadi pada laki-
laki dibandingkan dengan wanita karena laki-laki sebagian besar mempunyai
kebiasaan merokok sehingga memudahkan terjangkitnya TB paru.
Ketiga, tingkat pendidikan. Tingkat pendidikan seseorang akan
mempengaruhi terhadap pengetahuan seseorang diantaranya mengenai rumah
yang memenuhi syarat kesehatan dan pengetahuan penyakit TB Paru, sehingga
dengan pengetahuan yang cukup maka seseorang akan mencoba untuk
mempunyai perilaku hidup bersin dan sehat. Keempat, pekerjaan. Jenis pekerjaan
seseorang juga mempengaruhi terhadap pendapatan keluarga yang akan
mempunyai dampak terhadap pola hidup sehari-hari diantara konsumsi makanan,
pemeliharaan kesehatan selain itu juga akan mempengaruhi terhadap kepemilikan
rumah (kontruksi rumah).
Keempat, kebiasaan merokok. Merokok diketahui mempunyai hubungan
dengan meningkatkan resiko untuk mendapatkan kanker paru-paru, penyakit
jantung koroner, bronchitis kronik dan kanker kandung kemih. Dengan adanya
kebiasaan merokok akan mempermudah untuk terjadinya infeksi TB Paru.
Kelima, kepadatan hunian kamar tidur. Luas lantai bangunan rumah sehat harus
cukup untuk penghuni di dalamnya, artinya luas lantai bangunan rumah tersebut
harus disesuaikan dengan jumlah penghuninya agar tidak menyebabkan overload.
Hal ini tidak sehat, sebab disamping menyebabkan kurangnya konsumsi oksigen
juga bila salah satu anggota keluarga terkena penyakit infeksi, akan mudah
menular kepada anggota keluarga yang lain.
Kelima, pencahayaan. Untuk memperoleh cahaya cukup pada siang hari,
diperlukan luas jendela kaca minimum 20% luas lantai. Jika peletakan jendela
kurang baik atau kurang leluasa maka dapat dipasang genteng kaca. Cahaya ini
sangat penting karena dapat membunuh bakteri-bakteri patogen di dalam rumah,
misalnya basil TB, karena itu rumah yang sehat harus mempunyai jalan masuk
cahaya yang cukup.
Keenam, Ventilasi. Ventilasi mempunyai banyak fungsi. Fungsi pertama
adalah untuk menjaga agar aliran udara didalam rumah tersebut tetap segar. Hal
ini berarti keseimbangan oksigen yang diperlukan oleh penghuni rumah tersebut
tetap terjaga. Kurangnya ventilasi akan menyebabkan kurangnya oksigen di dalam
rumah, disamping itu kurangnya ventilasi akan menyebabkan kelembaban udara
di dalam ruangan naik karena terjadinya proses penguapan cairan dari kulit dan
penyerapan. Kelembaban ini akan merupakan media yang baik untuk
pertumbuhan bakteri-bakteri patogen/ bakteri penyebab penyakit, misalnya kuman
TB. Fungsi kedua dari ventilasi itu adalah untuk membebaskan udara ruangan dari
bakteri-bakteri, terutama bakteri patogen, karena di situ selalu terjadi aliran udara
yang terus menerus. Bakteri yang terbawa oleh udara akan selalu mengalir. Fungsi
lainnya adalah untuk menjaga agar ruangan kamar tidur selalu tetap di dalam
kelembaban (humiditiy) yang optimum.
Ketujuh, Kondisi rumah. Kondisi rumah dapat menjadi salah satu faktor
resiko penularan penyakit TBC. Atap, dinding dan lantai dapat menjadi tempat
perkembang biakan kuman.Lantai dan dinding yag sulit dibersihkan akan
menyebabkan penumpukan debu, sehingga akan dijadikan sebagai media yang
baik bagi berkembangbiaknya kuman Mycrobacterium tuberculosis.
Kedelapan, Status Gizi .Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang
dengan status gizi kurang mempunyai resiko 3,7 kali untuk menderita TB Paru
berat dibandingkan dengan orang yang status gizinya cukup atau lebih.
Kekurangan gizi pada seseorang akan berpengaruh terhadap kekuatan daya tahan
tubuh dan respon immunologik terhadap penyakit.

Referensi:
Robbins & Cotran. 1999. Pathologic Basis of Disease. US: Elsevier Saunders.