Anda di halaman 1dari 31

Bahan organik tanah

Peranan tumbuhan dalam penimbunan


bahan organik tanah
Komposisi organik bahan tumbuhan
Penambahan bahan organik tanah
Humus
Siklus bahan organik tanah
Bahan organik tanah
Tanah tersusun oleh bahan padatan, air, dan udara
Meliputi : bahan mineral berupa pasir, debu, liat, dan
bahan organik
Adalah kumpulan beragam senyawa-senyawa
organik kompleks yang sedang atau telah
mengalami proses dekomposisi, baik berupa
humus hasil humifikasi maupun senyawa-
senyawa anorganik hasil mineralisasi (disebut
biontik), termasuk mikrobial heterotrofik dan
ototrofik yang terlibat (biotik)
Menyusun 5% bobot
tanah
Sedikit
Tetapi memegang
peranan penting
Menentukan kesuburan tanah
baik secara fisik, kimiawi,
mauoun biologis tanah
Berpengaruh pada perkembangan dan
pertumbuhan tumbuhan dan
mikroorganisme tanah (sumber energi,
hormon, vitamin, dan senyawa
perangsang tumbuh lainnya)
Pengertian lain
Semua jaringan dari makhluk hidup yang mengalami
perombakan/ dekomposisi baik sebagian maupun
seluruhnya baik yang telah mengalami humifikasi
maupun belum.
Kandungan bahan organik tanah sangat beragam,
berkisar antara 0,5-5,0% (tanah mineral) bahkan sampai
100% pada tanah organik (Histosol) (Bohn, 1979).
Faktor yg pengaruhi kandungan BO tanah : iklim,
vegetasi, topografi, waktu, bahan induk dan pertanaman
(cropping).
Humifikasi : Konversi residu organik melalui aktifitas
biologis, sintesa mikrobia, dan reaksi kimiawi menjadi
humus.

Pembagian Bahan Organik
Menurut Kononova (1966) dan Schnitzer
(1978) :
Humic substances
bahan yang terhumifikasi humus
Non humic substances
bahan yang tidak terhumifikasi
karbohidrat, asam amino, peptida, lemak,
lilin, lignin, asam nukleat, protein
Peranan tumbuhan dalam penimbunan bahan organik tanah
Sumber bahan organik
Sumber primer : Jaringan organik tanaman
(akar, batang, ranting, daun, bunga, buah)
Sumber sekunder : Jaringan organik fauna
termasuk kotorannya dan mikroorganisme
Jaringan tanaman akan
terangkut ke lapisan bawah serta
dinkorporasikan dengan tanah
Bukan hanya sumber bahan
organik tanah, tapi sumber
bahan organik seluruh makhluk
hidup
Menggunakan dulu bahan
organik tanaman setelah itu
barulah fauna menyumbangkan
bahan organik
Komposisi organik bahan tumbuhan
Tanaman/hijauan biomassnya : 75% air dan 25% biomass kering
60% karbohidrat
1-5% gula dan pati
10-30% hemiselulosa
20-50% selulosa
10-30% lignin (rerata 25%)
10% protein
1-8% (rerata 5%) lemak, lilin, dan tanin
Secara kimiawi tersusun :
44% C, 8% H, 40% O, 8%
mineral
Karbohidrat (gula,hemiselulosa, selulosa)
Lemak(gliserida, asam lemak (butirat,
stearat, oleat), lignin tersusun : C, H, O
Protein tersusun : C, H, O, N, P, S, Fe dll
Mineral : unsur hara makro dan unsur hara
mikro esensial
SUSUNAN JARINGAN TANAMAN
TINGKAT TINGGI
Air-75%
C-11%
H-2%
O-10%
Abu-2%
1. Fase perombakan bahan organik segar.
Proses ini akan merubah ukuran bahan menjadi lebih kecil.
2. Fase perombakan lanjutan, yg melibatkan kegiatan enzim
mikroorganisme tanah. Fase ini dibagi menjdi beberapa tahana:
Tahana awal: dicirikan oleh kehilangan secara cepat bahan-
bahan yg mudah terdekomposisi sebagai akibat pemanfaatan
bahan organik sebagai sumber karbon dan energi oleh
mikrorganisme tanah, terutama bakteri. Dihasalkan sejumlah
senyawa sampingan (by products) seperti: NH3, H2S, CO2,
asam organik dll.
Tahana tengah: terbentuk senyawa organik tengahan/antara
(intermediate products dan biomasa baru sel organisme)
Tahana akhir: dicirikan oleh terjadinya dekomposisi sacara
berangsur bag jaringan tanaman/hewan yang lebih resisten (ex:
lignin). Peran fungi dan Actinomycetes pada tahana ini sangat
dominan
3. Fase perombakan dan sintesis ulang senyawa-senyawa organik
(humifikasi) yg akan membentuk humus.
Stevenson (1982) menyajikan proses dekomposisi bahan
organik dengan urutan :
Komponen jaringan organik tanaman berdasarkan kemudahan
perombakannya dalam proses dekomposisi dibagi menjadi :
1. Mudah dirombak : karbohidrat (gula, pati, hemiselulosa, selulosa)
protein, dan senyawa serupa
2. Sukar dirombak : lignin, minyak, lemak, resin, dll
Penambahan bahan organik tanah
Bahan organik tanah sumber senyawa-senyawa organik yang dapat
diserap tanaman meskipun dalam jumlah sedikit, seperti alanin, glisin,
asam-asam amino lainnya, hormon/zat perangsang tumbuh, dan vitamin
Bahan organik sangat mempengaruhi sifat dan ciri tanah
Pengaruh bahan organik pada ciri fisika tanah
1. Kemampuan menahan air meningkat
2. Warna tanah menjadi coklat hingga hitam
3. merangsang granulasi agregat dan memantapkannya
4. Menurunkan plastisitas, kohesi, dan sifat buruk lainnya dari liat
Pengaruh bahan organik pada ciri kimia tanah
1. Meningkatkan daya jerap dan kapasitas tukar kation
2. Kation yang mudah dipertukarkan meningkat
3. Unsur N, P, S diikat dalam bentuk organik atau dalam tubuh
mikroorganisme sehingga terhindar dari pencucian, kemudian
tersedia kembali
4. Pelarutan sejumlah unsur hara dari mineral oleh asam humus
Pengaruh bahan organik pada ciri biologi tanah
1. Jumlah dan aktivitas metabolik organisme tanah meningkat
2. Kegiatan jasad mikro dalam membantu dekomposisi bahan organik
juga meningkat
PERAN BO
Meningkatkan kapasitas tukar kation dan daya sangga
tanah, fototoksisitas, leachibility/keterlindian,
biodegradasi pertisida dalam tanah
Sumber karbon dan energi mikroorganisme
Pembentuk agregat dan struktur tanah
Membentuk senyawa kompleks dengan unsur hara
mikro-mencegah kehilangan akibat pelindian,
mengurangi keracunan akibat unsur hara mikro
mencirikan dan memapankan batas2 suatu epipedon
genesa horison spodik
Mempercepat alih rupa mineral
Penyubur tanah

Humus
Humus adalah senyawa kompleks yang agak resisten pada pelapukan,
berwarna coklat, amorfus, bersifat koloidal, dan berasal dari jaringan
tumbuhan atau binatang yang telah dimodifikasikan atau disintesiskan
oleh berbagai jasad mikro
Komposisi Humus
-Lignin berikatan dengan N
-Minyak, lemak, dan resin
-Uronida dan karbon uronida
-Polisakarida berikatan dg N (amino-polisakarida)
-Protein dan liat
N = dilindungi
bersenyawa dg
lignin, polisakarida,
dan liat
Menunjukkan senyawa
kompleks penting untuk
kesuburan tanah
Sifat dan ciri humus
1. Bersifat koloidal, seperti liat tetapi amorfus (tanpa bentuk)
2. Luas permukaan dan daya jerap jauh melebihi liat
3. Kapasitas tukar kation (KTK) 150 300 me/100 g, liatnya
hanya 8 100 me/100 g
4. Daya jerap air 80 90% dari bobotnya, liat hanya 15 20%
5. Daya kohesi dan plastisitasnya rendah, sehingga mengurangi
sifat lekat dari liat dan membantu granulasi aggregat tanah
6. Misel humus tersusun dari lignin, poluronida, dan protein liat
yang didampingi oleh C, H, O, N, S, P, dan unsur lainnya
7. Muatan negatif berasal dari gugus COOH dan OH yang
tersembul di pinggiran dimana ion H dapat digantikan oleh
kation lain
8. Mempunyai kemampuan meningkatkan unsur hara tersia,
seperti Ca, Mg, dan K
9. Merupakan sumber energi jasad mikro
10.Memberikan warna gelap pada tanah
Secara umum proses dekomposisi bahan organik 3 reaksi
1. Oksidasi enzimatik proses oksidasi yang melibatkan mikrobia, hasil
utama berupa CO
2
, air dan energi/panas
oksidasi enzimatik
(C,4H) + O
2
CO
2
+ 2H
2
O + energi
2. Reaksi spesifik berupa mineralisasi dan atau immobilisasi unsur hara
esensial, seperti N, P, S dll
3. Sintesis senyawa-senyawa turunan/baru dari senyawa resisten
Proses dekomposisi tahap intermedier dihasilkan kelompok senyawa :
1. Senyawa resisten, berupa resin, waks, minyak, lemak, lignin dll
2. Senyawa tak resisten, berupa asam-asam amino, amida, alkohol,
aldehida dll
Siklus bahan organik tanah
Berdasarkan produk yang dihasilkan, proses dekomposisi bahan
organik digolongkan menjadi :
1. Mineralisasi senyawa-senyawa tidak resisten seperti selulosa, pati,
gula, dan protein yang menghasilkan ion-ion hara tersedia
2. Humifikasi senyawa-senyawa resisten seperti lignin, resin, minyak,
dan lemak yang menghasilkan humus. Humus dengan berjalannya
waktu juga akan mengalami mineralisasi
Pada tahap akhir proses dekomposisi dihasilkan kelompok senyawa :
1. Senyawa resisten, berupa humus yang merupakan kompleks koloidal
ligno-protein
2. Senyawa-senyawa sederhana, berupa CO
2
dan air, sera unsur-unsur
tersedia seperti nitrat, sulfat, fosfat, senyawa Ca dll
3. Energi bebas mikrobiologis
Basa


Humus-nukleus
Humifikasi mikroorganisme yang paling berperan fungi
Memecah senyawa-
senyawa resisten
Mineralisasi mikroorganisme yang paling berperan bakteri
Memecah senyawa-
senyawa tidak resisten
Humus yang dihasilkan mekanisme humifikasi yang juga melibatkan
mineralisasi kumpulan senyawa organik kompleks yang berasal dari :
1. Humus-nukleus yang terbentuk dari lignin, protein, dan basa-basa
2. Residu (senyawa) resisten
3. CO
2,
H
2
O, lemak, lilin, hemiselulosa dll hasil proses enzimatik
4. Substansi sel-sel mikroba
Hasil akhir proses dekomposisi berupa :
1. Energi laten atau panas yang dibebaskan secara enzimatik.
Tanaman hijau mengandung 4 5 kkal/g biomass kering, 10 ton
pupuk kandang (25% biomass kering) setara dengan 9 11 kkal
energi laten. Tanah yang mengandung 4% bahan organik
menyimpan energi potensial sebesar 170 200 kkal/ha setara
dengan 20 25 ton batubara
2. Hasil akhir sederhana berupa senyawa sederhana dan kation-anion
yang tersedia bagi tanaman, seperti CO
2
; CO
3
-
; HCO
3
-
; CH
4
;
dan C;
NH
4
+
; NO
2
-
; dan NO
3
-
; S; H
2
S; SO
3
2-
; SO
4
2-
; dan CS
2
; H
2
PO
4
-
; HPO
4
2-
;
K
+
; Ca
2+
, Mg
2+
; H
2
O; O
2
; H
2
; H
+
; OH
-
dll
Hasil akhir berupa gas CO
2
, H
2
S, NH
3

Bereaksi dengan air asam
pH rendah
Perlu pengelolaan
Hasil-hasil sederhana yg dihasilkan dari
aktivitas mikroba tanah adalah sbb:
Karbon : CO
2
; CO
3
=, HCO
3
- ;CH
4
, karbon
elementer
Nitrogen : NH
4
+
, NO
2
-
, NO
3
-
, gas N
2
Sulfur : S, H
2
S, SO
3
=
, SO
4
=
, CS
2
Fosfor : H
2
PO
4
-
, HPO
4
=
Lain-lain : H
2
O, O
2
, H
2
, H
+
, OH
-
, K
+
, Ca
2+
, Mg
2+

dll
Proses mineralisasi yang
terlibat dalam proses
dekomposisi bahan
organik antara lain :
Keterangan :
1. Fiksasi industri
2. Simbiosis alga biru dan bakteri (misal: Rhizobium)
3. Bakteri Azotobacter. Clostridium
4. Kilat petir dengan O + N
Denitrifikasi reduksi NO
3
-
NO
2
-
dalam keadaan anaerob oleh bakteri
pseudomonas, micrococcus, Bacillus, thiopharus
Aminisasi dan amonifikasi dilakukan mikrobia heteroterofik (bakteri,
fungi, dan aktinomisetes)
N-ammonium (NH
4
+
) dan nitrat (NO
3
-
) ion yang tersedia gampang
leaching atau volatil dalam bentuk (NH
3
dan N
2
atau N
2
O hasil denitrifikasi)
jika diakumulasi tanaman atau mikrobia
NO
2
-
adalah anion toksik membahayakan organisme disekitar
H
+
memasamkan tanah
Jenis Thiobacillus
Faktor-faktor yang mempengaruhi laju dekomposisi adalah :
1.Faktor bahan organik : komposisi kimiawi, nisbah C/N, kadar lignin
dan ukuran bahan
2.Faktor tanah : temperatur, kelembaban, tekstur, struktur, suplai
oksigen, reaksi tanah, ketersediaan hara terutama N, P, K, S
Komposisi kimiawi semakin banyak bagian yang susah terurai
semakin lambat proses dekomposisi
Nisbah C/N indikator yang menunjukkan proses mineralisasi-
immobilisasi N (bahan organik = berkisar 8:1 15:1). < 20 = mineralisasi
N, > 30 = immobilisasi N (oleh mikroorganisme)
Kadar lignin paling sukar dirobak
Ukuran bahan semakin kecil proses dekomposisi semakin cepat
Temperatur maksimum 30 35
o
C atau sampai 45
o
C
Kelembaban tinggi : aktivitas bakteri maksimum, rendah : aktivitas
fungi tinggi
Tekstur tanah, struktur, suplai oksigen pengaruhnya pada aerasi tanah
: menentukan jenis mikroorganisme (aerobik, anaerobik, fakultatif yang
aktif)
Reaksi tanah berpengaruh pada ketersediaan hara yang dibutuhkan
mikroorganisme (pH : netral alkalis : 6,5 8,5)