Anda di halaman 1dari 17

ORDO HEMIPTERA

LAPORAN PRAKTIKUM
Disusun untuk memenuhi tugas Matakuliah Entomologi
yang dibina oleh Dr. Fatchur Rohman, M.Si dan Sofia Ery Rahayu, S.Pd, M.Si



Oleh:
Kelompok 4/ Offering G-H

Aulia Fitri Wardani (120342422492)
Hatta Fauzia (109341422685)
Tiara Aldezia (120342422466)
Yuslinda Annisa (120342400166)
Yuswo Purwodarminto (120342422453)







UNIVERSITAS NEGERI MALANG
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
JURUSAN BIOLOGI
September 2014
Ordo Hempitera
A. Tujuan
1. Untuk mengetahui ciri-ciri morfologi serangga anggota ordo Hemiptera
2. Untuk mengetahui ciri-ciri morfologi serangga anggota subordo Heteroptera
3. Untuk mengetahui ciri-ciri morfologi serangga anggota subordo Homoptera
4. Untuk mengetahui perbedaan ciri-ciri morfologi serangga anggota subordo
Heteroptera dan Homoptera

B. Alat Bahan
Alat : Bahan :
Mikroskop stereo Walang sangit
Jarum pentul Kutu busuk
Jarum kasur Gareng Po
Silet Anggang-anggang
Papan perentang Serangga lain ordo Hemiptera
Ether
C. Cara Kerja

Diamati gareng po : antena, mata, mulut, sayap, thorax, kaki, abdomen
Diamati pada walang sangit dan anggang-anggang : antena, mata, mulut,
sayap depan, thorax, kaki, sayap belakang, abdomen
Diamat ciri-ciri morfologi secara umum yang dimiliki dalam ordo
hemiptera
Ditangkap serangga-serangga bahan, lalu dimasukkan ke dalam kantong
plastik yang telah diisi kapas (telah ditetesi ether)
D. DASAR TEORI
HEMIPTERA
1. Karakteristik Ordo
Salah satu dari sifat homoptera, dan salah satu dirinya di mana ordo
memperoleh namanya yaitu struktur sayap-sayap depan. Pada kebanyakan
Hemiptera bagian dasar sayap depan menebal dan seperti kulit, dan bagian ujung
berselaput tipis. Tipe saya ini disebut hemelytron. Sayap-sayap belakang
seluruhnya berselaput tipis dan agak lebih pendek daripada sayap-sayap depan.
Sayap sayap pada waktu istirahat terletak datar di atas abdomen, dengan ujung
yang berselaput tipis . sayap-sayap depan tumpang tindih (Borror, 2005)
Bentuk mulut hemiptera adalah tipe menusuk-penghisap dan dalam bentuk
paruh (proboscis), yang biasanya beruas, dan ramping yang timbul dari bagian
depan kepala dan umumnya menjulur ke belakang sepanjang sisi ventral tubunh
kadang-kadang tepat dibelakang dasar tungkai belakang.bagian yang beruas dari
proboscis itu adalah labium, yang bertindak sebagai suatu selubung bagi tempat
stilet penusuk. Tidak ada palpus meskipun struktur kecil seperti gelambir yang
jelas pada prombosis. (Borror, 2005).
a. Kepik Pejalan Air
Kepik pejalan air ini adalah serangga yang bertungkai panjang. Dan hidup
dipermukaan air, laria atau meluncur diatas permukaan air. Tungkai-tungkai
depan pendek dan dipakai untuk menangkap makanan, tungkai-tungkai tengah
dan belakang panjang dan dipakai untuk berjalan. Kebanyakan jenis gelap atau
hitam, dan tubuhnya panjang dan sempit. (Borror, 2005).
Tarsi kepik pejalan air dilapisi oleh rambut-rambut yang halus dan sulit basah.
Struktur tarsus memungkinkan seekor kepik pejalan air melluncur sekitar
permukaan air. Bila tarsi menjadi basah maka serangga tidak dapat lebih lama lagi
tingal diatas permukaan air, dan serangga akan tengelam kecuali dia bisa merayap
ke atas pada suatu permukaan yang kering. Bila tarsi mulai kering maka ia bisa
kembali hidup diatas permukaan air. (Borror, 2005)
b. Kutu Busuk
Kutu busuk adalah Serangga dengan penampakan gepeng, bulat telur
melebar, serangga yang tidak bersayap kira-kira panjangnya 6 mm yang makan
dengan menghisap darah dari unggas dan mamalia. Kelompok tersebut adalah
serangga yang kecil, tetapi beberapa jenis sangat luas tersebar dan terkenal. Kutu
busuk yang umum menyerang orang adalah Cimex lectularius L. Jenis ini kadang-
kadang merupakan hama di rumah , hotel, barak-barak dan tempat-tempat hidup
lainnya. Kutu busuk juga menyerang hewan-hewan selain manusia. Satu jenis
derah tropika, Cimex Hemipterius (Fabricius) juga menggigit orang. Jenis lain
pada family ini menyerang kelelawar dan berbagai burung (Borror, 2005).
Kutu Busuk atau Bed bug, Cimex hemipterus, adalah serangga yang amat
mengganggu manusia karena menghisap darah (umumnya di tempat tidur, kursi
atau sofa). Darah diperlukan untuk kehidupan kutu busuk sejak menetas, menjadi
nimfa, berganti kulit beberapa kali (setiap berganti kulit harus menghisap darah)
dan menjadi dewasa. Setiap ekor kutu busuk betina akan bertelur sekitar 200 butir
(3-4 butir telur setiap harinya). Dalam 5 bulan kutu busuk mencapai dewasa
(dengan ukuran 6-10 mm) dan dapat hidup sampai 10 bulan. (Andrew et. al.,
2008).
Di Indonesia, sampai akhir tahun 1970an, permasalahan kutu busuk
banyak ditemukan di rumah, gedung pertunjukan, hotel atau tempat lainnya
dimana manusia tidur atau duduk. Tetapi karena keberhasilan pengendalian
dengan insektisida berbasis organoklorin (al. DDT), kutu busuk praktis hampir
dapat dikendalikan secara penuh, dan hampir tidak ada informasi tentang serangan
kutu busuk dalam kurun waktu 1980-2000. Tetapi akhir-akhir ini, terutama dalam
3-5 tahun terakhir, kutu busuk mulai menjadi masalah, banyak ditemukan di hotel
berbintang, losmen asrama, dan sedikit di rumah tinggal. (Andrew et. al., 2008).
c. Gareng pong
Gareng pong merupakan serangga yang tergolong homoptera.Borrorr et
al., (2005)Pada serangga yang tergolong dalam subordo Homoptera memiliki ciri-
ciri alat mulut yang mirip dengan Hemiptera yang tergolong serangga penghisap
dengan empat stylet penusuk (mandibel dan maksila). Probosis muncul dari
bagian belakang kepala.



HOMOPTERA
1. Karakteristik Ordo
Homoptera yang bersayap biasanya memiliki empat sayap. Sayap-sayap
depan mempunyai sifat yang seragam seluruhnya, baik berselaput tipis atau agak
menebal dan sayap belakang berselaput tipis. Sayap-sayap pada waktu istirahat
biasanya diletakkan seperti atap di atas tubuh, dengan tepi bagian dalam yang
agak tumpang tindih di bagian ujungnya. Pada beberapa kelompok satu atau
kedua jenis kelamin mungkin tidak bersayap atau individu-individu yang bersayap
dan tidak bersayap dapat terjadi pada jenis kelamin yang sama.
Borrorr et al., (2005) Antena dari Homoptera sangat pendek dan seperti
rambut-rambut duri, ada spesies yang memiliki mata ocelli dan adapula yang tidak
sedangkan mata majemuk biasanya berkembang dengan bagus.
a. Semut
Price (2007) menyatakan bahwa Semut (Hymenoptera: Formicidae)
merupakan serangga yang dominan dan dapat digunakan sebagai indikator kondisi
lingkungan. Elzinga, (1987) dalam Riyanto (2007)Semut termasuk ordo
Hymenoptera dan famili Formicidae. Semut sangat mudah dikenali, walaupun
terdapat beberapa serangga lain yang sangat menyerupai dan meniru semut-
semut. Bentuk sayap semut menyerupai tabuhan-tabuhan. Salah satu sifat-
sifat struktural yang jelas dari semut adalah sungut-sungut biasanya menyiku
dan ruas pertama seringkali sangat panjang. Koloni mengandung tiga kasta:
ratu, jantan dan pekerja. Ratu lebih besar dari pada anggota kasta lainnya,
biasanya bersayap, walaupun sayap-sayap yang dijatuhkan setelah
penerbangan perkawinan.
Borrorr et al., (2005).Semut dapat membuat sarang di sekitar tempat
tinggal kita misalnya di atas gundukan tanah, sampah, pot bunga, pohon,
sudut rumah dan lain-lain. Semut adalah serangga yang dapat memakan
bunga tanah atau tumbuhan yang membusuk. Semut dapat pula memakan
tamanan dan hewan di atas lahan dan menjadikan tanah tempat bersarang
dan menyimpan makanan.


E. DATA DAN ANALISIS DATA

Data Pengamatan
Gambar Keterangan
Anggang-anggang




1. Kaki
2. Abdomen
3. Kepala
4. Thorax
5. Mata Majemuk
6. Mulut
proboscis
(terdapat
fimbriae)
Cimex sp. (Kutu Busuk)







1. Kaki
2. Mata
3. Kaki
4. Abdomen





Gambar Keterangan
Cicada sp. (Gareng Po)








1. Pronotum
2. Mata majemuk
3. Antena
4. Sayap
5. Kaki
6. Mulut
7 Abdomen







Anggang-anggang
Antena: filiform
Mata: mata majemuk
Mulut: penghisap (proboscis)
Sayap depan: tidak punya sayap
Thorax: terdapat pronotum
Kaki: kaki 3 pasang, tiap kaki 5 segmen
Sayap belakang: tidak punya sayap
Abdomen: 10 segmen
Cimex sp. (Kutu Busuk)
Antena: filiform, 4 segmen (distal 2 segmen)
Mata: mata majemuk dan mata tunggal (oseli)
Mulut: penggigit dan pengunyah
Sayap depan: tidak punya sayap
Thorax: pada segmen 1 terdapat pronotum, pada ventral thorax ke tiga
terdapat kelenjar bau
Kaki: kaki 3 pasang, untuk berjalan cepat
Sayap belakang: tidak punya sayap
Abdomen: 10 segmen
Cicada sp. (Gareng po)
Antena: filiform
Mata: mata majemuk
Mulut: penghisap
Sayap: bermembran
Thorax: terdapat pronotum
Kaki: kaki 3 pasang
Abdomen: 10 segmen

Analisis Data
1. Anggang-anggang
Pada bagian kepala anggang-anggang terdapat sepasang antena yang
bertipe filiformis. Matanya merupakan sepasang mata majemuk berukuran cukup
besar. Bagian mulutnya bertipe penghisap dan mempunyai proboscis yang
dilengkapi dengan fimbria panjang. Pada bagian thorax terdapat pronotum. Tidak
dijumpai adanya sayap depan maupun sayap belakang. Mempunyai 3 pasang kaki
dan tiap kaki mempunyai 5 segmen. Abdomennya memanjang, berjumlah 10
segmen.
2. Cimex sp. (Kutu Busuk)
Pada bagian kepala kutu busuk terdapat sepasang antena yang bertipe
filiformis. Antena mempunyai 4 segmen, pada bagian distal terdapat 2 segmen.
Terdapat sepasang mata majemuk dan mata tunggal (oselli). Bagian mulutnya
bertipe penggigit dan pengunyah. Pada bagian thorax terdapat pronotum tepatnya
pada segmen pertama. Pada bagian ventral thorax pada segmen ke tiga terdapat
kelenjar bau. Tidak dijumpai adanya sayap pada bagian thorax maupun abdomen.
Mempunyai tiga pasang kaki untuk berjalan cepat. Abdomennya cukup lebar,
berjumlah 10 segmen.
3. Cicada sp. (Gareng Po)
Pada bagian kepala gareng po terdapat sepasang antena yang bertipe
filiformis. Terdapat sepasang mata majemuk. Bagian mulutnya bertipe penghisap.
Pada bagian thorax terdapat pronotum. Mempunyai sayap yang bermembran.
Mempunyai 3 pasang kaki. Mempunyai abdomen dengan 10 segmen.
F. PEMBAHASAN
Anggang-anggang
Dari pengamatan yang dilakukan pada anggang-anggang didapatkan hasil
pada pembagian tubuh anggang-anggang terbagi menjadi tiga bagian yaitu kepala,
thorax, dan abdomen seperti pada serangga lain yang terlihat jelas.
Pada bagian kepala terdapat beberapa organ luar seperti sepasang antena
yang bertipe filiformis, sepasang mata majemuk (mata facet), kadang-kadang
ditemukan juga mata tunggal (ocellus), dan mulut. Sedangkan mulut tersusun dari
sepasang mandibula, tiga pasang maksila, bibir atas (labrum), bibir bawah
(labium) yang berbeda-beda tergantung dari bentuk mulutnya, serta organ perasa
(palpus) yang memiliki tipe penghisap dan mempunyai proboscis yang dilengkapi
dengan fimbria panjang. Tetapi pada pengamatan yang dilakukan kurang jeli
sehingga belum menemukan bagian mulutnya secara lengkap.
Pada bagian thorax yang memiliki ukuran panjang 1.6 mm sampai 36 mm
terdiri dari tiga segmen atau ruas yang terlihat jelas, yaitu dari depan prothoraks,
mesothoraks, dan metathorak, pada segmen prothoraks terdapat sepasang kaki
kecil yang mamiliki fungsi sebagai pemegang dan penangkap mangsa, pada
segmen mesothoraks terdapat sepasang kaki panjang yang berfunsi sebagai alat
pendayung, pada bagian metathoraks terdapat sepasang kaki yang berfunsi
sebagai pengatur arah. Tubuh anggang-anggang diperkuat dengan rangka luar atau
eksoskelet dari chitine. Selain itu fungsi ke-tiga pasang kaki anggang-anggang
memiliki rambut-rambut yang sangat kecil (microsetae) dan menempel pada
bagian kaki anggang-anggang tersusun dengan arah tertentu dengan lekukan
lekukan dalam ukuran nanometer pada ujung tungkainya dan dilengkapi dengan
lapisan malam (lilin), tetapi efek hidrofobik lebih disebabkan oleh struktur fisik
tungkai daripada lapisan malam yang ada. Karena rapatnya rambut-rambut kecil
serta lekukan-lekukan yang ada, udara terperangkap pada struktur itu dan
berfungsi sebagai bantalan-bantalan pada permukaan air, dan mengambang di
permukaan air. Anggang-anggang juga mampu bergerak hingga 1,5 m/s (Erniwati,
2001).

Pada pengamatan bagian abdomen, didapati hasil anggang-anggang
memiliki 10 segmen berbeda dengan kajian Erniwati tahun 2001 yang
menyatakan bahwa abdomen pada anggang-anggang memiliki sebelas segmen,
pada stadium embrio segmen ditemukan lengkap, tetapi pada bentuk dewasa
segmen dibagian posterior menjadi alat reproduksi. Abdomen dalam bentuk
dewasa tidak berkaki. Pada abdomen terdapat spirakel, yaitu lubang pernapasan
yang menuju tabung trakea. Anatomi internal terdiri beberapa sistem organ yang
kompleks, yaitu sistem pencernaan, system pernapasan, system sirkulasi, system
pengeluaran zat, dan sistem saraf.
Perbedaan antara anggang-anggang jantan dan betina dapat dibedakan
dengan melihat atena dan bentuk tubuh dari anggang-anggang. Anggang-anggang
betina memiliki anten yang lurus dan badan yang lebih besar, sedangkan anggang-
anggang jantan memiliki atena yang lebih melengkung. (De la Rosa , 2001)
KUTU BUSUK
Pengamatan yang dilakukan untuk kutu busuk ini tidak bisa dilakukan
karena keterbatasan bahan amatan sehingga dilakukan studi literatur yaitu
ditemukan data bahwa morfologi cimex dewasa berukuran 4-5,5 mm. Bentuk
badanya oval, pipih. bersegmen terdiri atas kepala, thorak dan abdomen, berwarna
kuning coklat pada larva dan merah pada imago. Cimex betina lebih sedikit besar
dari pada cimex jantan dan tidak memiliki sayap. Hidupnya pada sela-sela
paerabot rumah tangga seperti kursi, tempat tidur, juga terdapat pada sela-sela
dinding rumah. Penyebaranya sangat luas banyak di daerah tropis. Cimex
menghisap darah pada malam hari dan memiliki bau yang khas (busuk) bau
tersebut berasal dari atau di keluarkan oleh Stink Gland (Prianto, 1995).
Pada cimex di bagi menjadi tiga bagian yaitu bagian kepala, bagian torax dan
bagian abdomen yaitu (Natadisatra, 2005):
Bagian Kepala, Pada bagian kepala terdapat
sepasang antena bersegmen empat buah yang
bertipe filiformis, sepasang mata faset dan
proboscis berbentuk penusuk dan penghisap,
jika tidak di gunakan bisa dilipat ke bagian
ventral. Terdiri atas segmen-segmen, terdapat
alat-alat mandibula, maxilla, labial groove, labium, labrum epifaring, akar
mandible dan maxilla.
Bagian Thorax. Pada bagian thorax terdiri dari prosternum, mesosternum,
metasternum, mesopleuron dan hemelktra. Terdapat tiga pasang kaki,
terdiri atas coxa, trochanter, femur, tibia, tarsus, kuku. Thorax sagmen
terahir terdapat stink glands yang bermuara pada coxa kaki terakhir. Stink
glands adalah ciri khas bau kutu busuk.
Pada bagian abdomen bentuknya pipih dan melebar. Cimex jantan dan
betina dibedakan pada segmen paling ujung, pada cimex betina segmen
nya berbentuk bilateral simetris (ada organ berlase) pada segmen ke-8
terdapat gonopoida, sedangkan pada jantan segmen abdomen terkhir (ke-9)
asimetris, karena ada adeagus.










GARENG PO/Tonggaret
Klasifikasi ilmiah
Kerajaan: Animalia
Filum: Arthropoda
Kelas: Serangga
Ordo: Hemiptera
Upaordo: Auchenorrhyncha
Infraordo: Cicadomorpha
Superfamili: Cicadoidea
Famili: Cicadidae
Westwood, 1840

Subfamilia
Tettigadinae
Cicadinae
Cicadettinae
Tonggeret adalah sebutan untuk segala jenis serangga dari ordo
Hemiptera, subordo Cicadomorpha.
Serangga ini mempunyai mata yang kecil dan terpisah jauh di kepalanya
dan biasanya juga memiliki sayap yang tembus pandang. Tonggeret hidup di
daerah beriklim sedang hingga tropis dan sangat mudah dikenali di antara
serangga lainnya, terutama karena tubuhnya yang besar dan bakat akustiknya yang
luar biasa (dan seringkali sangat mudah dikenali). Di Indonesia, suara tonggeret
yang nyaring akan muncul di akhir musim penghujan, saat serangga ini mencapai
tahap dewasa, keluar dari bawah permukaan tanah untuk melakukan ritual musim
kawin. Seusai kawin, betina meletakkan telur di tanah, serangga ini mati.
Tonggeret kadang-kadang dikira belalang atau lalat besar, meskipun mereka tidak
mempunyai pertalian keluarga yang dekat. Tonggeret mempunyai hubungan dekat
secara taksonomi dengan wereng dan spittlebugs.
Di dunia ada sekitar 3.000 spesies tonggeret, meskipun banyak yang
belum dideskripsikan. Tonggeret dikelompokkan dalam dua familia:
Tettigarctidae (di bahas di tempat lain) dan Cicadidae. Ada dua spesies
Tettigarctidae yang telah punah, satu di Australia selatan, dan yang lainnya di
Tasmania. Familia Cicadidae dibagi lebih jauh ke dalam subfamilia Tettigadinae,
Cicadinae dan Cicadettinae. Mereka terdapat di semua benua kecuali Antarktika.
Kegiatan praktikum yang dilakukan untuk mengamati gareng
po/cicada/tonggaret hanya dilakukan dengan studi literatur karena belum
menemukan bahan amatan asli dan melakukan amatan melalui awetan kering dan
eksoskeleton sisa ekdisis hewan tersebut yang ditemukan. Tubuh gareng po
terbagi menjadi 3 bagian, yaitu kepala, thorax, dan abdomen. Pada bagian kepala
gareng po terdapat sepasang antena yang bertipe filiformis. Terdapat sepasang
mata majemuk. Bagian mulutnya bertipe penghisap. Pada bagian thorax terdapat
pronotum. Mempunyai sayap yang bermembran. Mempunyai 3 pasang kaki.
Mempunyai abdomen dengan 10 segmen.
G. KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Serangga-serangga ordo Hemiptera memiliki ciri morfologi, yaitu:
memiliki sungut, memiliki antena dengan tipe filiform, memiliki probosis (mulut
penusuk-penghisap) yang beruas-ruas dan ramping, tungkai-tungkai depan
bersifat pemangsa yang dimodifikasi menjadi struktur-struktur pendekap dan
dikatakan sebagai tungkai perenggut, memiliki 2 pasang sayap dengan tipe sayap
hemelytron, struktur sayap depan menebal dan seperti kulit dan bagian ujung
berselaput tipis, struktur sayap belakang lebih tipis dan lebih pendek, memiliki 3
pasang kaki, pada bagian thorax terdapat protonum dan abdomennya 10 ruas.
Saran
1. Seharusnya pengamatan dilakukan secara terstruktur agar semua bahan
amatan dapat diamati secara spesifik
2. Seharusnya tiap-tiap kelompok membawa bahan amatan yang telah
ditentukan

H. HASIL DISKUSI
1. Apakah ciri-ciri morfologi secara umum yang dimiliki serangga-serangga
yang termasuk dalam ordo Hemiptera?
Ciri-ciri morfologi yang dimiliki serangga-serangga ordo
Hemiptera, yaitu: memiliki sungut, probosis (mulut penusuk-penghisap)
yang beruas-ruas dan ramping, tungkai-tungkai depan bersifat pemangsa
yang dimodifikasi menjadi struktur-struktur pendekap dan dikatakan
sebagai tungkai perenggut, memiliki tipe sayap hemelytron, struktur sayap
depan menebal dan seperti kulit dan bagian ujung berselaput tipis, struktur
sayap belakang lebih tipis dan lebih pendek.
2. Bagaimanakah posisi sayap walang sangit dan anggang-anggang pada saat
terlipat?
- Posisi sayap walang sangi dan anggang-anggang pada saat terlipat
yaitu sayap-sayap terletak datar diatas abdomen dan sayap-sayap
depan yang memiliki ujung berselaput tipis pada posisi tumpang
tindih, dan sayap belakang terlipat dibawah syap depan.
- Berdasarkan hasil pengamatan anggang-anggang yang diamati tidak
memiliki sayap.
Saat dalam posisi diam anggang-anggang biasa melipat kaki depannya
dan menempatkan kaki tengah serta belakangnya dalam bentuk
menyerupai trapesium sama kaki. Dengan posisi tersebut, berat tubuh
dari anggang-anggang aka terdistribusi secara merata diatas permukaan
air. Saat akan bergerak, anggang-anggang hanya akan menggerakkan
kaki tengahnya seperti dayung, sementara kaki depan dan kaki
belakang tidak digerakkan karena berfungsi sebagai semacam
serangga. Gerakan kaki tengah dari anggang-anggang tersebut
selanjutnya akan menciptakan semacam gelombang di permukaan air
yang akan mendorong anggang-anggang kedepan.
3. Bagaimana posisi sayap gareng po pada saat terlipat?
- Posisi sayap gareng po pada saat terlipat yaitu Sayap depan dilipat di
atas tubuhnya dan menutupi sayap belakangnya yang seluruhnya tipis
dan transparan,
4. Carilah keterangan dari bahan-bahan pustaka mengenai letak kelenjar yang
menghasilkan bau tidak sedap pada walang sangit dan kutu busuk!
Pada walang sangit dan kutu busuk, kelenjar yang menghasilkan
bau tidak sedap terletak di sisi thorax pada kebanyakan golongan
Hemiptera dewasa. Sedangkan pada nimfa kelenjar yang menghasilkan
bau tidak sedap terletak pada permukaan dorsal abdomen.
5. Jelaskan perbedaan ciri-ciri morfologi antara serangga-serangga yang
termasuk dalam subordo Heteroptera dan ordo Homoptera!
- Heteroptera:
Memiliki antena yang terdiri empat atau lima ruas, probosis biasanya
tiga atau empat ruas. Beberapa memiliki pronotum yang kurang lebih
terbagi dua bagian atau dibagi menjadi sebuah gelambir anterior dan
sebuah gelambir posterior. Bagian tungkai memiliki sifat sebagai
pemangsa dan termodifikasi sebagai penangkap, biasanya memiliki
femur yang besar pada batas ventro posterior. Tipe sayap Hemelytra
yang mengalami modifikasi dengan bagian dasar yang menebal dan
terdiri dari dua bagian, korium dan klavus, yang dipisahkan oleh sutura
clavus. Bagian ujung yang tipis dari sayap depan adalah selaput tipis.
- Homoptera:
memiliki mulut bertipe penghisap (probosis) yang muncul dari bagian
belakang kepala dan memiliki empat sayap. Sayap-sayap depan
mempunyai sifat yang seragam seluruhnya, baik berselaput tipis atau
agak menebal dan sayap belakang berselaput tipis. Sayap-sayap pada
saat terlipat sayap biasanya diletakkan seperti atap di atas tubuh,
dengan tepi bagian dalam yang agak tumpang tindih di bagian
ujungnya. Pada beberapa kelompok satu atau kedua jenis kelamin
mungkin tidak bersayap atau individu-individu yang bersayap dan
tidak bersayap dapat terjadi pada jenis kelamin yang sama. Antenanya
sangat pendek dan seperti rambut-rambut duri.




Daftar Rujukan
Borrorr , J.Donald. Triplehorn, A.Charles. Johson,F.Norman. 2005. An
Introduction to the study of Insect. Yogyakarta : UGM Press
De la Rosa, Carlos L., De la Rosa, Carlos A., 2001. The Guide to The Common
Aquatic invertebrates of The Loxahatches Basin. Project Oseanography.
Erniwati, 2001. Keanekaragaman Serangga Di Lahan Pertanian Bekas
Penambangan Emas. Laporan Teknik 2001: Proyek Pengkajian dan
Pemanfaatan Sumberdaya hayati. Bogor: PUSLIT-LIPI.
Natadisatra, Djaenudin. 2005. Parasitologi Kedokteran Dituju Dari Orang Tubuh
Yang Di Serang. EGC : Jakarta.
Price, P.W., 1997. Insect Ecology. Third Edition. Jhon Wiley & Sons Inc. New
York. Chichester, Weinkeim, Brisbane, Singapore, Toronto
Prianto, juni. Dkk.1995. Parasitologi Kedokteran. Gramedia pustaka utama :
Jakarta.
Riyanto. 2007. Kepadatan, Pola Distribusi dan Peranan Semut pada Tanaman di
Sekitar Lingkungan Tempat Tinggal. JURNAL PENELITIAN SAINS: VOL
10( 2). HAL 241-253