Anda di halaman 1dari 1

Beberapa Aspeh I littoris Perkembangan Koperasi Di I ndoneiia

tas ekonomi kita. Dari inventarisasi ini kita dapat mengenal (identifikasi) aktivitas
mana yang dapat berperan sebagai usaha bersama berdasarkan asas kekeluargaan
dan yang merupakan organisasi ekonomi rakyat yang berwatak sosial. Dengan
pengenalan ini barulah dapat dirumuskan sema-cam design bam untuk pola ekonomi
kita, dengan demikian diharapkan pula dapat menempatkan posisi koperasi seperti
yang dicita-citakan.
Kalau kita setuju dengan konsep pragjnatisnya ISE1 Bandung, maka se-benarnya
tidak perlu dipertentangkan dengan konsep idealistiknya, karena justru hakiki
koperasi terletak pada idealistiknya itu. Masalahnya adalah bagaimana kita
mendapatkan ruang gerak yang cocok untuk merangkum kedua konsep itu, dan ini
bukanlah suatu hal yang mustahil bisa dicapai.
Dalam rangka mencari ruang gerak yang cocok, maka di sini dicoba me-lihat
beberapa kasus di mana kira-kira mungkin mission koperasi itu. Di ibukota misalnya,
bus-kota adalah alat-angkutan yang sangat erat hubung-annya dengan kepentingan
masyarakat umum. Sejakzaman Bang Ali bus kota mengalami kemajuan yang pesat
seimbang dengan kemajuan bidang lainnya. Di kala itu masyarakat beium
mempertanyakan tarif bus-kota. Kemudian, muncullah berbagai kenaikan harga
bahan bakar, dan hal ini mengakibatkan pula kenaikan tarif bus-kota, yang
akhir-akhirnya tidak dapat diterima dernikian saja oleh masyarakat. Mahasiswa
menjadi pelopor mempertanyakan kenaikan tarif tersebut. Mereka punya cukup
informasi dan merasakan bahwa tarif itu merupakan keganjilan menurut pengamatan
mereka. Mereka pun membanding-bandingkannya dengan negara lain dan tahu
bahwa tarif itu relatif rendah,, antara lain karena subsidi dan dikelola oleh
Pemerintah. Di Jakarta malah sebaliknya di mana dikelola oleh swasta, dan tidak
diberi subsidi. Tuntutan mahasiswa itu bukan tidak ber-alasan, hal ini ternyata dalam
jarak waktu yang tidak lama bus-kota itu diambil alih oleh Pemerintah.
Pertanyaan kita sekarang, apakah tidak dapat bus-kota ini kita kopera-sikan?
Kepentingan bersamanya jelas, watak sosialnya jelas, dan kemudian pasarnya jelas.
Malah justru akan lebih baik jika dikelola dengan sistem koperasi. Bila
penumpangnya adalah pemiliknya, paling tidak mekanisme pengawasannya akan
dapat berfungsi, sehingga supir si jago balap atau kondektur yang iseng dapat
dinasihati. Sebagai unit organisasi yang berskala besar, koperasi bus-kota akan
mampu menggunakan profesional manager yang dengan demikian efisiensinya
dapat ditingkatkan. Dalam hal ini, Pemerintah pun .tanpa ragu-ragu dipersiEakan
turun tangan dengan bantuan perangkat kebijaksanaan ataupun banluan kepada
koperasi berupa tenaga ahli, fasilitas kredit ataupun subsidi, dan lain-iain.