Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM

ILMU PENYAKIT TANAMAN


Aspek Nematologi





Oleh
DIAJENG INDAH NASTITI 115040201111091
Kel. Selasa 09.15
Asisten Nugroho Sulistyo Putro








JURUSAN HAMA PENYAKIT TUMBUHAN
PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2014
PENDAHULUAN
1. Deskripsi umum nematoda
Nematoda merupakan organisme yang mempunyai struktur
sederhana. Nematoda dewasa tersusun oleh ribuan sel-sel somatik, ratusan
sel di antaranya membentuk sistem reproduksi. Nematoda termasuk dalam
kerajaan hewan, dan spesiesnya bersifat parasit pada tumbuhan, berukuran
sangat kecil yaitu antara 300 1000 mikron, panjangnya sampai 4 mm dan
lebar 15 35 mikron. Ciri khas nematoda parasit adalah adanya stilet pada
mulut. Ukurannya yang sangat kecil ini menyebabkan hewan ini hanya
dapat dilihat dengan menggunakan mikroskop
Nematoda dari segi peranannya biasanya dikelompokkan menjadi:
parasit pada manusia dengan jumlah yang sedikit (kira-
kira 30 spp) menyebabkan masalah kesehatan yang serius
dan juga menyebabkan kematian pada manusia
misalnya Trichinella spiralis, penyebab trichinosis (parasit
pada adenophoreanparasite).
parasit pada mammalia lain, burung dan ikan kira-kira
8000 spp. Contohnya Syngamus trachea gapeworm of
galliform birds, trachea partially blocked by worms (a
secernentean parasite).
parasit pada invertebrata (berhubungan dengan kontrol
biologis, misalnya serangga) kira-kira 3500 spesies
contoh Agamermis decaudata parasit pada orhtoptera.
parasit pada tanaman kira-kira 4000 spp dari endo dan
ektoparasit contohnya Nacobbus, Meloidogyne,
Belonolaimus, Tylenchorhynchus and Scutellonema.
nematoda laut yang hidup bebas kira-kira 4000 spp
metazoa yang paling melimpah di sedimen dasar laut
contohnya Draconema cephalatum.
nematoda tanah dan air tawar yang hidup bebas kira-kira
6500 memakan bakteri, fungi, alga, detritus, dan juga
sebagai hewan mangsa contohnya Cervidellus
spitzbergensis nematoda pemakan bakteri.(salsabilah, 2014)
Ciri morfologi nematoda secara umum adalah tubuhnya tidak
bersegmen, bentuk pada umumnya silindris, simetris bilateral, ada rongga
tubuh semu, transparan, sistem organ tubuh lengkap, dan tubuhnya terdiri
dari tiga lapisan. Untuk nematoda yang menjadi parasit pada tanaman,
biasanya mempunyai stilet.
Nematoda yang menyebabkan penyakit dan kerusakan pada
tanaman hampir semuanya hidup pada bagian bawah permukaan tanah.
Ada yang hidup bebas di tanah, bagian luar akar dan batang, dan ada pula
beberapa parasit yang hidupnya bersifat menetap di dalam akar dan
batang. Konsentrasi hidup nematoda lebih besar terdapat di dalam
perakaran tumbuhan inang terutama disebabkan oleh laju reproduksinya
yang lebih cepat karena tersedianya makanan yang cukup.
Sebagian besar nematoda tergolong dioecious. Pembuahan terjadi
ketika hewan memasukkan sperma ke dalamnya. Spine ialah benda keras
dan kaku yang khusus untuk mengadakan pembuahan. Sperma nematoda
unik karena tidak memiliki flagella dan bergerak menggunakan
pseudopodia [sitoplasma sementara yang berfungsi sebagai alat gerak],
seperti Amoeba. Perkembangan dari telur yang dibuahi biasanya terjadi
secara langsung.
Nemathelminthes umumnya melakukan reproduksi secara
seksual.Sistem reproduksi bersifat gonokoris, yaitu organ kelamin jantan
dan betina terpisah pada individu yang berbeda.Fertilisasi terjadi secara
internal.Telur hasil fertilisasi dapat membentuk kista dan kista dapat
bertahan hidup pada lingkungan yang tidak menguntungkan.(Anonymous,
2014)
Gejala serangan nematoda
Di bawah permukaan tanah:
Puru akar (root knot) akibat adanya nematoda endoparasit
yg masuk ke dalam akar tanaman, shg akar bereaksi
membentuk puru/gall (Meloidogyne sp.)
Busuk akar (root rot) akibat serangan nematoda yg diikuti
serangan sekunder dari bakteri/cendawan (Ditylenchus sp.,
diikuti bakteri Pseudomonas sp.)
Luka akar (root lesion) akibat jalan masuk nematoda pada
kortek akar yg menimbulkan luka berwarna gelap
kecoklatan di sekitarnya (Pratylenchus sp.)
Akar cabang tdk normal akibat serangan nematoda pd akar
muda (Nacobbus sp.)
Akar cabang pendek akibat serangan nematoda pd ujung
akar cabang menyebabkan pertumbuhannya terhenti
(Trichodorus sp.)
Di atas permukaan tanah:
Kerdil, klorosis, layu, daun gugur dan ujung tanaman mati
akibat rusaknya akar sehingga penyerapan unsur hara
berkurang (Aphelenchoides sp.)
Daun keriting, mengerut, membengkok dan membelit akibat
serangan nematoda pd titik tumbuh (Anguina sp.)
Puru pada biji atau daun (Anguina sp.)
Nekrosis akibat nematoda hidup dan makan di dalam
jaringan tanaman (Ditylenchus sp.)
Bercak, pembengkakan, distorsi pada daun akibat nematoda
masuk ke dalam jaringan daun melalui stomata dan merusak
parenkim daun (Aphelenchoides sp.)
Afuri, 2014
Pengendalian nematoda parasitik tumbuhan
Sanitasi:
Karantina tanaman mencegah penyebaran nematoda ke
tanaman/daerah lain
Disinfeksi tanaman mencelupkan bibit tanaman ke dalam
air panas yg mengandung nematisida
Mencegah penyebaran nematoda oleh air irigasi menahan
air yg mengandung/tertular nematoda di dalam bak
penampungan sampai nematoda mengendap
Kultur Teknis:
Pergiliran tanaman ketidaksesuaian nematoda dg tanaman
inang
Pemberoan
Penggenangan
Pengaturan waktu tanam
Penanaman tanaman perangkap
Penanaman tanaman tahan nematoda
Penggunaan bibit bebas nematoda

Fisik:
Pembakaran
Penguapan panas
Pencelupan ke dalam air panas

Hayati:
Parasit Artrobotrys oligospora, Meria conoispora, Bacillus
penetrans
Predator Mononchus sp.
Tanaman yg mengeluarkan zat nematisidal Tagetes sp.,
Crotalaria sp., Asparagus sp.
Kimiawi:
Fumigan Hidrokarbon alifatik halogen, sodium metan,
dazomet
Nematisida sistemik (granular) Diazinon, furadan,
nemacide, temik
Afuri , 2014
2. Tujuan
Mengetahui pengertian nematoda
Mengetahui siklus hidup nematoda
Mengetahui peranan nematoda
Mengetahui cara ekstrasi nematoda
3. Manfaat
Manfaat dari praktikum ini adalah dapat memahami bagaimana cara
ekstrasi nematoda dan dampat nematoda terhadap tanaman.

TINJAUAN PUSTAKA
1. Penjelasan singkat nematode Meloidogyne sp. Dan Globodera
rostochiensis (karakteristik, ekobiologi+ gambar literatur)
1.1 Meloidogyne sp.
Nematoda Meloidogyne spp adalah nematode penyebab penyakit
yang menyerang akar. Nematoda puru akar (Meloidogyne spp.) merupakan
penyakit yang tergolong penting dan banyak menyerang tanaman di lahan
pengembangan maupun pembenihan, sehingga banyak menimbulkan
kerugian bagi petani karena terjadi penurunan produktivitasnya.Nematode
ini masuk kedalam akar dan menginfeksi akar, sehingga akar akan
membengkak dan tidak dapat berfungsi dengan baik. Pada bagian akar
yang membengkak ini terdapat nematode yang bersarang di dalamnya.
Telur nematoda Meloidogyne spp. berbentuk bulat lonjong dengan
ukuran (62-128 mikron) x (30 -50 mikron). Telur-telurnya diletakkan
dalam kantong telur yang terdapat diluar tubuhnya dan disekresikan oleh
sel-sel kelenjar rektum dan setalah pembuahan telur diletakkan dalam
glatin dan dilepaskan secara bergerombol melalui vulpa. Tidak ada telur
yang diletakkan di dalam jaringan tanaman tetapi telur bisa bertahan dalam
tubuh nematoda. Larva instar I berada dalam telur dan menetas menjadi
larva instar II (375-500 mikron) x (12-15 mikron) dan larva ini bergerak
diantara sel-sel tanaman dan tiba didekat silinder pusat, di tempat tersebut
larva menetap dan menyebabkan perubahan sel-sel yang akan menjadi
makanannya, larva melakukan pergantian kulit dengan cepat untuk kedua
dan ketiga kalinya tampa makan, selanjutnya menjadi jantan dan betina
dewasa.
Nematoda betina dewasa berbentuk seperti buah pir bersifat
endoparasit yang tidak berpindah (sedentary), mempunyai leher pendek
dan tanpa ekor. Panjang lebih dari 0,5 mikron dan lebarnya antara 0,3 -0,4
mm, stiletnya lemah dan panjangnya 12 15 mm melengkung kearah
dorsal, serta mempunyai pangkal knot yang jelas, sedangkan nematoda
jantan dewasa berbentuk memanjang bergerak lambat di dalam tanah,
panjangnya bervariasi dan maksimum 2 mm kepalanya berlekuk dan
panjang stiletnya hampir 2 kali panjang stilet betina.
Nematoda puru akar memiliki banyak tanaman inang dan menyerang
sebagian besar tanaman yang dibudidayakan, hampir semua tanaman
sayuran dan lebih dari 1700 spesies tanaman lainnya. Meloidogyne spp.
merupakan salah satu patogen bawah tanah yang menjadi kendala dalam
pengembangan sayuran tingkat tinggi di daerah tropis dan inang
utamanaya adalah wortel, mentimun, labu, kentang, kubis, terong, bayam
dan tomat. Akibat kemampuannya dalam mneginfeksi relatif lebih besar
dan kisaran tanaman inang yang luas maka Meloidogyne spp. merupakan
genus penting dari nematoda parasit tanaman. Tanaman yang terserang
menjadi kurus, kerdil, hasil rendah dan kualitas berkurang (Hussey et al.,
2002).
Menurut Agrios (1996), bahwa nematoda puru akar dapat
menyebar dengan perantara partikel tanah, alat pertanian, air irigasi, banjir
atau drainase, kaki hewan dan badai debu yang menyebarkan nematoda
secara lokal, sedangkan untuk yang jarak jauh melalui produk pertanian
dan bibit tanaman.
Nematoda puru akar secara ekonomi cukup penting pada tanaman
Solanoceae terutama di daerah tropis. Hasil penelitian menunjukkan
sekitar 500 800 larva Meloidogyne sp perkilogram tanah dapat
menurunkan produksi Solanoceae sebesar 40 %.
Perkembangan nematoda dipengaruhi oleh beberapa faktor lingkungan
yaitu suhu, kelembaban tanah, pH tanah, kandungan bahan organik tanah,
keadaan tanaman inang, umur tanaman, besar partikel tanah. Suhu
mempengaruhi perkembangan nematoda terhadap penetasan telur,
reproduksi, pergerakan dan perkembangannya. Pada umumnya parasit
tanaman tidak aktif pada suhu rendah yaitu 5 15 oC dan suhu tinggi yaitu
30 40 o C, suhu 25 28 o C adalah suhu optimum untuk infeksi
multiplikasi serta peningkatan puru
Tipe tanah mempengaruhi perkembangan nematoda mislnya sifat
tekstur, aerasi, kelembaban, pH, kandungan bahan organik dan anorganik
tanah. Nematoda membutuhkan kelembaban yang lembab dan aerasi yang
baik. Aerasi berhubungan erat dengan kandungan air tanah, aerasi akan
menurun dengan meningkatnya kandungan air tanah sehingga ketersediaan
oksigen dalam tanah berkurang. Pertukaran udara dalam tanah
mempengaruhi pernafasan nematoda. Perkembangan nematoda akan baik
jika keadaan udara dalam tanah cukup. Pada kondisi oksigen rendah dapat
menghambat perkembangan dan penetasan telur. Produksi dan pergantian
kulit nematoda kebanyakan sangat sensitif terhadap oksigen yang rendah,
sedangkan dampak terhadap penetasan telur kurang peka (Cook et al.,
2002).
Puru akar merupakan ciri khas dari serangan nematoda
Meloidogyne. Puru akar tersebut terbentuk karena terjadinya pembelahan
sel-sel raksasa pada jaringan tanaman sel-sel ini membesar dua atau tiga
kali dari sel-sel normal. Selanjutnya akar yang terserang akan mati dan
mengakibatkan pertumbuhan tanamn terhambat. Respon tanaman terhadap
nematoda puru akar merupakan respon dari seluruh bagian tanaman dan
respon dari sel-sel tanaman, seluruh bagian tanaman memberikan respon
terhadap infeksi dan menurunnya laju fotosintesis, pertumbuhan dan hasil
(Robert et al., 1999) .



1.2 Globodera rostochiensis
Klasifikasi
Filum : Nematoda
Kelas : Secernentea
Subclass : Diplogasteria
Ordo : Tylenchida
Famili : Heteroderidae
Subfamili : Heteroderinae
Genus : Globodera
Spesies : Globodera rostochiensis

Nematoda parasit ini termasuk famili Heteroderidae. Ada 2 (dua)
genus yang terkenal yaitu Heterodera dan Globodera. Beberapa spesies
yang termasuk genus Heterodera yaitu : Heterodera avanae (nematoda
sista serealia), H. glycines (nematoda sista kedelai) dan H. schachtii
(nematoda sista gula bit), sedangkan spesies yang termasuk genus
Globodera diketahui ada 14 spesies masing-masing memiliki inang
spesifik. Nematoda sista kentang ada dua spesies yang hampir sama yaitu
Globodera rostochiensis (Wolienweber) Mulvey & Stone dan G. pallida
Stone yang pada awalnya diidentifikasi sama. Spesies Globodera
rostochiensis atau yang dikenal sebagai Nematoda Sista Kuning (NSK,
Golden Cyst Nematode) dan G. pallida (nematoda sista kuning berwarna
putih). (Anonim, 2003)
Morfologi
Nematoda sista kuning termasuk genus Globodera, yang
mempunyai spesialisasi dan sukses menjadi nematoda parasit
tanaman sebagai hama pada tanaman pertanian. Jenis/spesies ini
ditemukan dalam jaringan akar dalam keadaan sudah berubah
bentuk dari cacing menjadi membulat (seperti bentuk botol)
Sebagian besar spesies Globodera sudah membentuk sista
menempel dengan bagian anterior tubuhnya menyusup dalam
korteks, sedangkan bagian posteriornya di luar jaringan akar (semi
endoparasit). Bentuk sista membulat (globular atau spheroid),
warnanya sebagian besar kuning emas, sebagian lagi putih dan
kuning tua sampai coklat. Nematoda sista kuning berukuran kecil,
secara alami berada didalam dan bercampur dengan masa tanah
yang luas, dan mempunyai keahlian yang ekstrim untuk
berkumpul dan menemukan inangnya. Dia juga dapat bertahan
hidup untuk waktu yang lama dalam tanah tanpa tanaman inang
yang cocok.
Terlur. Telur berbentuk oval, massa telur berada di dalam
tubuh betina yang telah dibuahi menjadi sista. (gambar 2 B.).
Ukuran panjang telur antara 98-109 m dengan rata-rata 105 m.
sedangkan lebar antara 50-59 m dengan rata-rata 54,6 m
Larva stadia dua. Ketika masih di dalam telur pada umumnya
tubuh larva melipat menjadi empat lipatan. Larva berbentuk
cacing, bentuk ekor makin ke ujung makin mengecil (Gambar 3 b
dan 4 b.). Kepala sedikit offset (bagian kepala dengan bagian
tubuh dibelakang kepala dipisahkan suatu lekukan pada kutikula).
Stinlet tipe stomatosilet dan berkembang dengan baik. Knob stilet
(pangkal stilet) berbentuk membulat. Panjang tubuh total antara
531-563 m dengan rata-rata 548,4 m, sedang lebar tubuh
maksimum antara 22-26 m dengan rata-rata 23,6 m. Panjang
kepala antara 4-6 m dengan rata-rata 5,2 m sedang lebar tubuh
pada pangkal kepala antara 11-12 m dengan rata-rata 11,6 m.
Panjamh stinlet antara 21-33 m dengan rata-rata 25,2 m.
Biologi
A. Penyebaran
Berdasarkan Tuner, S.J. dan K. Evan (1998) dan daftar dari
EPPO (1994) kedua spesies NSK ini telah menyebar di
beberapa negara di Eropa (Austria, Balarus, Belgia, Bulgaria,
Cekoslowakia, Denmark, Estonia, Finlandia, Prancis, Jerman,
Swiss, Hungaria, Iceland, Italia, Latvia, Lituania, Luxemburg,
Malta, Belanda, Norwegia, Polandia, Portugal, Rusia, Spanyol,
Swedia, Switzelan, Ukraina dan Inggris), Asia (Cyprus, India,
Jepang, Libanon, Malaysia, Pakistan, Filipina, Sri Lanka, dan
Tajekistan), Afrika (Algeria, Mesir, Libia, Maroko, Siera
Leona, Afrika Selatan, dan Tunisia), Amerika Utara (Kanada,
Meksiko, dan USA), Amerika Tengah (Kostarika dan
Panama), Amerika Selatan (Agentina, Bolivia, Chili,
Kolumbia, Ekuador, Peru, dan Venezuela) dan Ocionea
(Australia, New Zealand dan Norfolk Island).
Serangan NSK pertama kali ditemukan di Indonesia
berdasarkan pemantauan Direktorat Perlindungan Hortikultura
dan Direktorat Perbenihan Hortikultura pada bulan Maret
2003. Awalnya dilaporkan menyerang tanaman kentang
(varietas Granola) di dusun Sumber Brantas, Desa Tulung
Rejo, Kecamatan Bumi Aji, Kota Batu, Propinsi Jawa Timur.
Luas tanaman terserang diperkirakan mencapai 25% dari luas
tanaman kentang yang seluruhnya seluas 800 hektar. Gejala
tersebut telah dirasakan sejak tahun sebelumnya. Benih
kentang yang ditanam tahun 2002 dilaporkan berasal dari
Jerman, tetapi para petani sudah menanam benih impor sejak
tahun 1986 (Ditlinhor, 2003)

Inang (host)
Tanaman komersial yang diserang dan menjadi inang utama
adalah kentang (Solanum tuberosum), tomat(Lycopersicon
esculentum), dan terung (S.melongena). Di samping itu,
dilaporkan terdapat tanaman inang lainnya, yaituS. dulcamara
(bitter nightshade), S. rostratum (buffalo bur), S. triflorum
(cutleaf nightshade), S. elaeagnifolium (silverleaf nightshade),
S. blodgettii, S. xanti (purple nightshade), dan S. integrifolium
(tomato eggplant). Pemulia tanaman juga menemukan 90
spesies Solanum di Amerika Selatan yang menjadi inang NSK.
Beberapa spesies gulma juga dapat menjadi inang NSK.
Hasil pemantauan di Malang, Jawa Timur, beberapa spesies
gulma dari famili solanaceae yaitu Datura
stramonium, Nicandra physaloides, dan spesies-spesies lain
yang berasosiasi dengan tanaman kentang, perlu diwaspadai
sebagai inang alternatifnya (Widjaya, 2003).

Siklus Hidup
Siklus hidupnya melalui tahapan stadium telur, larva, dan
dewasa berlangsung selama 38 - 48 hari. Daur hidup antara 5-7
minggu tergantung kondisi lingkungan (Gambar 3 A).
Produksi telur 200-500 butir. Kemampuan hidup di dalam
tanah pada kondisi lingkungan kurang menguntungkan (tidak
ada inang, suhu sangat rendah atau sangat tinggi dan
kekeringan) dapat membentuk sista yang dapat bertahan hidup
sampai 10 tahun (Taylor, 1953 dalam Hamzah, A., 2003). Sista
berisi telur yang belum menetas dengan kisaran jumlah telur
dalam sista 326 493 dari 10 sista yang dipecahkan
(Soeganda, A.W.W., 2003).
Nematoda aktif kembali setelah kondisi lingkungan sesuai,
terutama adanya eksudat akar tanaman inang. Larva stadium
dua aktif pada suhu 10C. Kisaran suhu optimum untuk
pertumbuhan dan perkembang biakannya antara 15 -
21C.ooKisaran pH yang dapat ditoleransi sesuai dengan yang
dibutuhkan tanaman kentang. Sejak introduksi sampai
establish pada tingkat yang dapat dideteksi di areal yang
sudah terinfeksi keberadaannya secara permanen diperlukan
waktu 7-8 tahun. Pada awal infeksi gejala serangan pada
tanaman belum terlihat, setelah mencapai populasi tertentu
akan tampak. Berdasarkan hasil penelitian di Jepang, jumlah
populasi awal G. rostochiensis yang dapat menimbulkan
kerugian adalah 31 sista hidup per 100 gram tanah (Inagaki
et.al., 1973, Vide Barker and Olthof, 1976 dalam Soeganda,
A.W.W., 2003).
Sejak introduksi sampai establish pada tingkat yang dapat
dideteksi di areal yang sudah terinfeksi keberadaannya secara
permanen diperlukan waktu 7-8 tahun. Pada awal infeksi
gejala serangan pada tanaman belum terlihat, setelah mencapai
populasi tertentu akan tampak. Berdasarkan hasil penelitian
di Jepang, jumlah populasi awal G. rostochiensis yang dapat
menimbulkan kerugian adalah 31 sista hidup per 100 gram
tanah (Inagaki et.al., 1973, Vide Barker and Olthof,
1976 dalam Soeganda, A.W.W., 2003).

2. Macam-macam teknik ekstraksi nematode
Beberapa teknik ekstraksi yang dapat dilakukan adalah:
1. Dekantasi,
2. Baskom
3. Baermann,
4. Corong Semprot,
5. Flotasi
6. Sentrifus,
7. dan ekstraksi nematoda kista.


METODOLOGI
1. Alat dan bahan serta fungsinya
Alat :
Corong Baerman : untuk mengekstraks nematoda
Gelas ukur : menampung air yang mengandung nematoda
Mikroskop : mengamati nematoda
Cawan petri : wadah menampung air bernematoda untuk dilihat
di mikroskop
Bahan :
Tanah bernematoda : Objek pengamata
Aquades : mengisolasi nematoda dari tanah
2. Alur kerja ekstraksi nematode
Corong Baerman


Ambil sampel tanah dari lapangan terindikasi serangan nematoda
Timbang sampel tanah sebanyak 100 gram
Siapkan corong baermann, letakkan saringan dan krtas
saring pada corong
Masukkan sampel tanah pada corong baerman
Tambahkan air pada crong hingga tanah menjadi jenuh

Diamkan selama 24 jam
Pipa pada corong dibuka dan air suspensi ditampung pada
gelas beker

Suspensi diamati
PEMBAHASAN
1. Hasil dokumentasi nematode


2. Pembahasan (bandingkan dengan literatur)
Hasil ekstrasi nematoda dari tanah tidak dapat diidentifikasikan karena
hasil pengamatan yang kurang baik. Namun bila dilihat dari bentuknya
yang memanjang dan nematoda tersebut bergerak cepat, nematoda tersebut
merupakan nematoda jantan.
Nematoda jantan mempunyai bagian tubuh yang terdiri atas kepala, mata,
perut, stylet, dan ekor. Ukuran nematoda jantan juga lebih panjang dari
nematoda betina. Nematoda jantan mempunyai bentuk seperti cacing kecil.
Bagian tubuh nematoda jantan terdiri atas kepala, mata, perut, stylet, dan
ekor. Ukuran tubuh nematoda jantan memanjang bergerak lambat didalam
tanah, nematoda jantan lebih panjang dibandingkan dengan nematoda
betina. Panjang nematoda jantan bervariasi maksimum 2 mm, kepalanya
tidak berlekuk, panjang styletnya hampir dua kali panjang stylet betina,
ekornya pendek dan membulat (Hidayat, 2009).
Bentuk morfologi nematoda betina berbeda dengan yang jantan. Nematoda
betina mempunyai bentuk yang mirip botol dan mempunyai bagian tubuh
yang terdiri atas kepala, mata, perut, stylet, dan tidak mempunyai
ekor. Nematoda betina juga mempunyai sifat endoparasit yang tidak
berpindah (sedentary) mempunyai leher pendek dan tanpa
ekor (Hidayat, 2009).
KESIMPULAN
Nematoda merupakan organisme menyerupai cacing yang berukuran
mikroskopis. Nematoda mempunyai banyak peranan dalam kehidupan salah
satunya adalh sebagai parasit pada tanaman. Terdapat banyak tektik ekstrasi untuk
nematoda yang digunakan dalam praktikum ini adalah teknik Corong Baerman.
Hasil pengamatan nematoda didapat bahwa nematoda yang ditemukan adalah
nematoda jantan karena ukurannya yang panjang dan geraknya yang cepat. Jenis
nematodanya tidak berhasil diidentifikasi.

DAFTAR PUSTAKA
Afuri, 2014. Gejala Serangan dan Pengendalian Nematoda.
http://afruri.blogspot.com/2010/02/gejala-serangan-dan-pengendalian.html.
diakses pada tgl 17 Mei 2014
Agrios. G.N.1997. Plant Pathology. 4th ed. Academic Press, Toronto.
Anonymous, 2014. Indentifikasi Sidik Pantat pada Beberapa Nematoda
Meiloidognyne spp.
http://titinrahayu08.student.ipb.ac.id/2010/06/19/identifikasi-sidik-pantat-
pada-beberapa-nematoda-meloidogyne-spp/. Diakses pada tgl 17 Mei 2014
Anonymous, 2014. Reproduksi hewan.
http://arramusyarrafah.blogspot.com/2012/03/reproduksi-hewan.html.
Diakses pada tgl 17 Mei 2014
Cook. R & G.R. Noel. Cyst Nematodes : Globodera and Heterodera species. In.
Starr.
Hidayat, H., 2009. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Hussey. R.S & G.J.W. Janssen. Root-knot Nematodes Meloidogyne species. In.
Starr.
J.L ; R. Cook & J. Bridge (eds.). 2002. Plant Resistance to Parasitic
Nematodes. CABI Publishing.
Roberts. P.A. Concepts and Consequences of Resistance. In. Starr.
Salsabila. 2014. http://brainly.co.id/tugas/81571. Diakses pada tgl 17 Mei 2014
Soeganda, A.W.W., 2003. Pengendalian Terpadu Nematoda Sista Emas
(Globodera rostochiensis) Pada Tanaman Kentang.Makalah Seminar Sehari
Penaggulangan Nematoda Globodera sp. Pada Tanaman Kentang. Jakarta, 3
April 2003.