Anda di halaman 1dari 3

HUBUNGAN AGAMA DAN NEGARA :

PERSPEKTIF ISLAM
Oleh : Muhammad Shiddiq Al Jawi

Pedahulua
Tinjauan hubungan agama-negara secara ideologis pertama-tama harus diletakkan pada proporsinya dengan
benar. Yaitu sebagai pemikiran cabang tentang kehidupan, yang lahir dari pemikiran mendasar tentang alam semesta,
manusia, dan kehidupan (aqidah). Oleh sebab itu, pembahasan hubungan agama-negara pertama-tama harus bertolak dari
pemikiran mendasar tersebut, baru kemudian dibahas hubungan agama-negara, sebagai pemikiran cabang yang lahir dari
pemikiran mendasar tersebut. Yang dimaksud pemikiran mendasar tersebut (aqidah), adalah pemikiran menyeluruh (fikrah
kulliyyah) tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta tentang apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan
sesudah kehidupan dunia, serta hubungan kehidupan dunia dengan apa yang ada sebelum kehidupan dunia dan
sesudahnya (An abhani, Nizham Al-Islam, !""!).
#engingat kini ideologi yang ada di dunia ada $ (tiga), yaitu %osialisme (Isytirakiyyah), &apitalisme
(Ra`sumaliyyah), dan 'slam, maka a(idah atau pemikiran mendasar tentang kehidupan pun setidaknya ada $ (tiga) macam
pula, yakni a(idah %osialisme, a(idah &apitalisme, dan a(idah 'slamiyah. #asing-masing a(idah ini merupakan pemikiran
mendasar yang di atasnya dibangun pelbagai pemikiran cabang tentang kehidupan, termasuk di antaranya hubungan
agama-negara.
Rela!i A"ama#Ne"a$a Meu$u% S&!iali!me' Ka(i%ali!me' da I!lam
A(idah %osialisme adalah #aterialisme (Al Maaddiyah), yang menyatakan bah)a dunia ini tiada lain terdiri dari dan
tergantung eksistensinya pada benda material. #enurut *onald +ilhelm dalam Creative Altertaives to Communism Guide
Lines for Tomorro!s "orld (,-.-/,0.), #Materialisme$ in its %hiloso%hi&al sense$ is the vie that all that e'sist is matter or is
holly de%endent u%on the matter for its e'isten&e() 1adi, segala sesuatu yang ada hanyalah materi belaka.. #aterilah asal
usul segala sesuatu. #ateri merupakan dasar eksistensi segala macam pemikiran. #aka, tidak ada tuhan, tidak ada ruh,
atau aspek-aspek kegaiban lainnya, karena semuanya tidak dapat diindera seperti materi. *ari ide materialisme inilah
dibangun ! (dua) ide pokok dalam %osialisme yang mendasari seluruh bangunan ideologi %osialisme, yaitu Ma%e$iali!me
Diale)%i! dan Ma%e$iali!me Hi!%&$i! (2hanim Abduh, Naqdh Al Isytirakiyyah Al Marksiyyah, ,-30).
Atas dasar ide materialisme itu, dengan sendirinya agama tidak mempunyai tempat dalam %osialisme. %ebab
agama berpangkal pada pengakuan akan eksistensi tuhan, yang jelas-jelas diingkari oleh ide materialisme. 4ahkan agama
dalam pandangan kaum sosialis hanyalah ciptaan manusia yang tertindas dan merupakan candu yang membius rakyat yang
harus dimusnahkan dari muka bumi. &arl #ar5 (,6,6-,66$) berkata, 7Reli*ion is the si*h of the o%%ressed %eo%le$ the heart
of heartless orld$ +ust as it is the s%irit of a s%iritless situation( It is the o%ium of the %eo%le() 8Agama adalah keluh kesah
rakyat yang tertindas, hati dari dunia yang tidak berhati, dan ji)a dari suatu situasi yang tak berji)a. Agama adalah candu
bagi rakyat9 8:ihat &arl ;einrich #ar5' Contri,uton to the Critique of -e*el!s .hiloso%hi of Ri*ht, dalam /n Reli*ion, (,-<.) /
0,-0!9
*engan demikian, menurut %osialisme, hubungannya dapat diistilahkan sebagai hubungan yang negati=, dalam arti
%osialisme telah mena=ikan secara mutlak eksistensi dan pengaruh agama dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
Agama merupakan candu masyarakat yang harus dibuang dan dienyahkan.
A(idah ideologi &apitalisme, adalah pemisahan agama dari kehidupan (fashluddin 0anil hayah), atau sekularisme.
*alam Webster Dictionary sekularisme dide=inisikan sebagai / #A system of do&trines and %ra&ti&es that re+e&ts any form of
reli*ious faith and orshi%1 8%ebuah sistem doktrin dan praktik yang menolak bentuk apa pun dari keimanan dan upacara
ritual keagamaan9, atau sebagai /1The ,elief that reli*ion and e&&lesiasti&al affairs should not enter into the fun&tion of the
state es%e&ially into %u,li& edu&ation(1 8%ebuah kepercayaan bah)a agama dan ajaran-ajaran gereja tidak boleh memasuki
=ungsi negara, khususnya dalam pendidikan publik9.
1adi, sekularisme tidak mena=ikan agama secara mutlak, namun hanya membatasi perannya dalam mengatur
kehidupan. &eberadaan agama memang diakui )alaupun hanya secara =ormalitas namun agama tidak boleh mengatur
segala aspek kehidupan, seperti politik, ekonomi, sosial, budaya, dan sebagainya yang menjadi urusan pemerintah (>obert
Audi, A*ama dan Nalar 2ekuler dalam Masyarakat Li,eral, !""!/3!). Agama hanya mengatur hubungan pribadi manusia
dengan tuhannya, sedang hubungan manusia satu sama lain diatur oleh manusia itu sendiri (?allum, Ad 3imuqrathiyah
Nizham 4ufur, ,--").
4erdasarkan a(idah &apitalisme, =ormulasi hubungan agama-negara dapat disebut sebagai hubungan yang
separati=, yaitu suatu pandangan yang berusaha memisahkan agama dari arena kehidupan. Agama hanya berlaku dalam
hubungan secara indi@idual dalam )ilayah pri@at antara manusia dan tuhannya, atau berlaku secara amat terbatas dalam
interaksi sosial sesama manusia. Agama tidak ter)ujud secara institusional dalam konstitusi atau perundangan negara,
namun hanya ter)ujud dalam etika dan moral indi@idu-indi@idu pelaku politik.
A(idah 'slamiyah adalah iman kepada Allah, para malaikat-ya, kitab-kitab-ya, rasul-rasul-ya, ;ari Akhir, dan
Aadar (ta(dir) Allah. A(idah ini merupakan dasar ideologi 'slam yang darinya terlahir berbagai pemikiran dan hukum 'slam
yang mengatur kehidupan manusia. A(idah 'slamiyah telah memerintahkan untuk menerapkan agama secara menyeluruh
dalam segala aspek kehidupan, yang tidak mungkin ter)ujud kecuali dengan adanya negara. Birman Alah %+T /

#"ahai oran*-oran* yan* ,eriman$ masuklah kamu ke dalam Islam se&ara keseluruhan5) (A% Al 4a(arah / !"6)

#A%akah kamu akan ,eriman ke%ada se,a*ian Al 4ita, dan in*kar ke%ada se,a*ian yan* lainnya( Maka tidak ada,alasan
,a*i yan* men*er+akan itu di antara kamu$ melainkan kehinaan dalam kehidu%an dunia dan %ada -ari 4iamat mereka akan
dikem,alikan ke%ada aza, yan* san*at %edih5) (A% Al 4a(arah / 6<)

4erdasarkan ini, maka seluruh hukum-hukum 'slam tanpa kecuali harus diterapkan kepada manusia, sebagai
konsekuensi adanya iman atau A(idah 'slamiyah. *an karena hukum-hukum 'slam ini tidak dapat diterapkan secara
sempurna kecuali dengan adanya sebuah institusi negara, maka keberadaan negara dalam 'slam adalah suatu keniscayaan.
&arena itu, =ormulasi hubungan agama-negara dalam pandangan 'slam dapat diistilahkan sebagai hubungan yang positi=,
dalam arti bah)a agama membutuhkan negara agar agama dapat diterapkan secara sempurna dan bah)a agama tanpa
negara adalah suatu cacat yang akan menimbulkan reduksi dan distorsi yang parah dalam beragama. Agama tak dapat
dipisahkan dari negara. Agama mengatur seluruh aspek kehidupan melalui negara yang ter)ujud dalam konstitusi dan
segenap undang-undang yang mengatur kehidupan bernegara dan bermasyarakat.
#aka dari itu, tak heran banyak pendapat para ulama dan cendekia)an 'slam yang menegaskan bah)a agama-
negara adalah sesuatu yang tak mungkin terpisahkan. &eduanya ibarat dua keping mata uang, atau bagaikan dua saudar
kembar (tau`amaani). 1ika dipisah, hancurlah perikehidupan manusia.

Imam Al Gha*ali dalam kitabnya Al Iqtishad fil I6tiqad halaman ,-- berkata /
#4arena itu$ dikatakanlah ,aha a*ama dan kekuasaan adalah dua saudara kem,ar( 3ikatakan %ula ,aha a*ama adalah
%ondasi 7asas8 dan kekuasaan adalah %en+a*anya( 2e*ala sesuatu yan* tidak ,er%ondasi nis&aya akan ro,oh dan se*ala
sesuatu yan* yan* tidak ,er%en+a*a nis&aya akan hilan* lenya%()

I+u Taimi,ah dalam Ma+mu6ul 9ataa 1uC !6 halaman $-0 telah menyatakan /
1:ika kekuasaan ter%isah dari a*ama$ atau +ika a*ama ter%isah dari kekuasaan$ nis&aya keadaan manusia akan rusak(1
%ejalan dengan prinsip 'slam bah)a agama dan negara itu tak mungkin dipisahkan, juga tak mengherankan bila
kita dapati bah)a 'slam telah me)ajibkan umatnya untuk mendirikan negara sebagai sarana untuk menjalankan agama
secara sempurna. egara itulah yang terkenal dengan sebutan &hila=ah atau 'mamah. Taqi,,uddi A Na+hai dalam
kitabnya Nizhamul -ukmi fil Islam hal. ,. mende=inisikan &hila=ah sebagai Dkepemimpinan umum bagi seluruh kaum
muslimin di dunia untuk menegakkan hukum-hukum %yariat 'slam dan mengemban dak)ah 'slam ke seluruh penjuru duniaE(
%eluruh imam madChab dan para mujtahid besar tanpa kecuali telah bersepakat bulat akan )ajibnya &hila=ah (atau
'mamah) ini. S,ai)h A+du$$ahma Al Ja*i$i menegaskan hal ini dalam kitabnya Al 9iqh 0Ala Al Madzahi, Al Ar,a!ah$ 1uC
F, halaman $"6 /

#.ara imam madzha, 7A,u -anifah$ Malik$ 2yafi0i$ dan Ahmad8 --rahimahumullah-- telah se%akat ,aha Imamah 74hilafah8
itu a+i, adanya$ dan ,aha ummat Islam a+i, mem%unyai seoran* imam 7khalifah8 yan* akan menin**ikan syiar-syiar
a*ama serta menolon* oran*-oran* yan* tertindas dari yan* menindasnya((()

Tak hanya kalangan empat madChab dalam Ahlus %unnah saja yang me)ajibkan &hila=ah, bahkan seluruh kalangan Ahlus
%unnah dan %yiah juga termasuk &ha)arij dan #uEtaCilah tanpa kecuali bersepakat tentang )ajibnya mengangkat
seorang &hali=ah.

Imam A!, S,au)ai dalam Nailul Authar 1ilid F''' halaman !3< mengatakan /

G#enurut golongan %yiHah, mayoritas #uHtaCilah dan AsyHariyah, 8&hila=ah9 adalah )ajib menurut syaraH.G

I+u Ha*m dalam Al 9ashl fil Milal "al Aha6 "an Nihal 1uC 'F halaman 6. mengatakan /

#Telah se%akat seluruh Ahlus 2unnah$ seluruh Mur+i6ah$ seluruh 2yi6ah$ dan seluruh 4haari+$ men*enai a+i,nya Imamah
74hilafah85)

Ke!im(ula
;ubungan agama-negara dalam pandangan 'slam harus didasarkan pada A(idah 'slamiyah, bukan a(idah yang
lain. A(idah 'slamiyah telah memerintahkan penerapan agama secara menyeluruh, yang sangat membutuhkan eksistensi
negara. 1adi, hubungan agama dan negara sangatlah eratnya, karena agama ('slam) tanpa negara tak akan dapat ter)ujud
secara sempurna dalam kehidupan.
;ubungan ini secara nyata akan dapat di)ujudkan jika berdiri negara &hila=ah 'slamiyah, yang pendiriannya
merupakan ke)ajiban seluruh kaum muslimin. Tanpa &hila=ah, agama dan negara akan terpisah dan terceraikan, yang pada
gilirannya akan mengakibatkan lenyapnya penerapan sebagian besar ajaran 'slam. *alam keadaan tanpa &hila=ah,
menerapkan 'slam secara sempurna dan menyeluruh adalah utopia, ibarat mimpi di siang bolong. - .