Anda di halaman 1dari 6

PETUNJUK PRAKTIKUM

TEORI INFORMASI
DAN PENGKODEAN
Edisi Ganjil 2010/2011


























Laboratorium Komputer Jurusan Teknik Elektro



FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS TARUMANAGARA

PETUNJUK PRAKTIKUM
TEORI INFORMASI DAN PENGKODEAN

Edisi Ganjil 2010/2011










Tim Penyusun:

Joni Fat, ST. ME.





















LABORATORIUM KOMPUTER
JURUSAN TEKNIK ELEKTRO
FAKULTAS TEKNIK
UNIVERSITAS TARUMANAGARA
P1
Linear Binary Block Codes

A. Tujuan Instruksional
Mempelajari cara encoding dan decoding dengan menggunakan Block Codes.

B. Teori Percobaan
B.1. Matriks Generator G
Linear code merupakan sebuah ruang vektor, di mana masing-masing code word
merupakan vektor. J adi, himpunan vektor-vektor dengan panjang n ini dinamakan linear
block code jika dan hanya jika himpunan tersebut merupakan subspace dari vektor space n-
tuples.
Representasi matriks dari sebuah code merupakan cara ideal untuk menggambarkan
code itu dengan ringkas dan menyeluruh. Sebuah linear code berukuran (n,k) dinyatakan
dengan matriks generator G berdimensi k x n. Masing-masing baris G merupakan n-tuple,
dan masing-masing kolom merupakan k-tuple. Oleh karena ruang baris G adalah himpunan
basis vektor untuk subspace berdimensi k, setiap code word c merupakan kombinasi linier
dari baris-baris G dengan berdasarkan pada data informasi d =(d
0
, d
1
, ... , d
k-1
), maka
c =d
0
g
0
+d
1
g
1
+... +d
k-1
g
k-1

dengan d
i
(0 <i <k-1), menyatakan bit-bit informasi; dan g
i
(0 <i <k-1), merupakan
baris vektor dari G.
Prosedur encoding dapat direpresentasikan dalam bentuk matriks sebagai berikut:
c = d . G
dengan G =[P
k x (n-k)
| I
k
]. Matriks G ini dinamakan matriks generator dari kode sistematik.

B.2. Matriks Parity-Check H
Matriks H merupakan matriks parity-check untuk matriks generator G. Matriks H ini
adalah matriks berdimensi (n-k) x n, sedemikian hingga c . H
T
= 0 dengan 0 menandakan
semua baris nol dengan anggota sebanyak n-k. Persamaan tersebut dapat digunakan untuk
membuktikan keabsahan vektor G, yaitu G . H
T
= 0, dengan 0 merupakan matriks beranggota
nol dengan dimensi k x (n-k). Untuk matriks G seperti pada persamaan di atas, maka matriks
H dapat dirumuskan sebagai berikut:
H = [ I
n-k
| P
T
(n-k) x k
]
Dengan P
T
merupakan matriks transpos dari submatriks P dari persamaan matriks G.
B.3. Syndrome
Misalkan c =(c
0
, c
1
, ..., c
n-1
) merupakan code word yang ditransmisikan dan r =(r
0
,
r
1
, ..., r
n-1
) merupakan word yang diterima pada output demodulator. Word r ini dapat sama
atau berbeda dari c, tergantung pada noise dalam saluran. Apabila r c, dapat dikoreksi
dengan persamaan r = c + e, dengan e = r + c = (e
0
, e
1
, ..., e
n-1
). Word e inilah yang
dinamakan error.
Setelah menerima r, dekoder mulai menghitung syndrome, untuk menentukan letak
errors, dan untuk memperbaikinya. Syndrome dinotasikan dengan s:
s = r . H
T
= (s
0
, s
1
, ..., s
n-k-1
)
Oleh karena r merupakan penjumlahan dari vektor c dan e, maka persamaan di atas dapat
diubah menjadi:
s = (c + e) H
T
= c . H
T
+ e . H
T

dengan c . H
T
= 0, maka persamaan di atas dapat ditulis dengan sederhana menjadi:
s = e . H
T

Persamaan ini menunjukkan hubungan antara syndrome dengan pola error. J adi, bila s = 0,
maka dapat dipastikan e = 0 atau tidak ada error yang timbul. Sebaliknya bila s 0, maka
dapat dipastikan r c, yang berarti terjadi error.

C. Pelaksanaan Percobaan
C.1. Pengiriman Tanpa Error
1. Buka file Simulasi TIP.xlsb.
2. Buka tab Matriks dari file tersebut. Praktikan akan melihat dua buah matriks, yaitu
matriks G dan H. Kedua matriks ini masing-masing adalah matriks generator dan
parity-check.
3. Buka tab Encoder. Pada tab ini, Praktikan mengisikan data yang akan dikirim
sesuai dengan perhitungan dimensi matriks G pada kolom berwarna biru muda.
4. Pada kolom di sebelah pojok kanan bawah layar monitor, isikan dengan nilai 0.
Nilai ini berarti pengiriman data tidak akan dibebani dengan faktor kesalahan. J adi,
data yang dikirim akan sama dengan data yang diterima. Formulasikan bentuk
matematis dari proses encoder tersebut.
5. Tab Syndrome Gen akan memperlihatkan bagaimana sistem membangkitkan
syndrome untuk keperluan deteksi kesalahan pada data yang diterima. Proses ini akan
berjalan secara otomatis. Praktikan diminta untuk menformulasikan bentuk matematis
dari proses ini, dan lakukan perhitungan ulang untuk melihat apakah hasil yang
diperoleh sesuai dengan yang dihasilkan oleh sistem.
6. Tab Correction merupakan ringkasan keseluruhan proses sistem. Amati tiap kolom
yang ada.

C.2. Pengiriman dengan Error
1. Untuk file yang sama dengan percobaan C1.
2. Matriks yang digunakan juga sama dengan percobaan C1.
3. Buka tab Encoder. Pada tab ini, Praktikan mengisikan data yang akan dikirim
sesuai dengan perhitungan dimensi matriks G pada kolom berwarna biru muda.
4. Pada kolom di sebelah pojok kanan bawah layar monitor, isikan dengan nilai 1.
Nilai ini berarti pengiriman data akan dibebani dengan faktor kesalahan. J adi, data
yang dikirim tidak akan sama dengan data yang diterima. Berapa bitkah kesalahan
yang dapat dikoreksi oleh sistem ini? J elaskan.
5. Tab Syndrome Gen akan memperlihatkan bagaimana sistem membangkitkan
syndrome untuk keperluan deteksi kesalahan pada data yang diterima. Proses ini akan
berjalan secara otomatis. Lakukan perhitungan secara matematis untuk membuktikan
bahwa hasil perhitungan sistem adalah benar.
6. Tab Correction merupakan ringkasan keseluruhan proses sistem. Amati tiap kolom
yang ada.

D. Tugas
1. Tuliskan coset table untuk percobaan ini!
2. Apabila data yang dikirimkan adalah "011", hitunglah:
a. Code word dari data yang akan dikirim.
b. Syndrome.
c. Apabila terjadi error pada bit yang ke-4, tulis proses pengoreksian dan hasil
pengoreksiannya.
Hitungan ini dikerjakan secara manual dengan matriks yang telah diberikan.
3. Bila diberikan:

Hitung:
a. Matriks H.
b. Tabel Coset.
c. Bila data yang akan dikirim adalah "101", hitung:
Code word dari data yang akan dikirim.
Syndrome.
Apabila terjadi error pada bit yang ke-6, tulis proses pengoreksian dan hasil
pengoreksiannya.


E. Daftar Acuan
M. Y. Rhee, Error-Correcting Coding Theory, USA: McGraw-Hill, 1989, pp. 35-88.

T. K. Moon, Error Correction Coding: Mathematical Methods and Algorithms, Hoboken,
NJ : J ohn Wiley & Sons, 205, pp. 83-112.