Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang
Air adalah pelarut yang baik untuk garam, gula dan senyawa sejenis,
sedang minyak mineral dan benzena biasanya merupakan pelarut untuk zat
yang biasanya hanya sedikit larut dalam air. Penemuan empiris ini
disimpulkan dalam pernyataan like dissolve like. Kelarutan bergantung pada
pengaruh kimia, listrik, struktur yang menyebabkan interaksi timbal balik zat
pelarut dan zat terlarut (Martin, 1990).
Suatu zat dapat larut dalam dua macam pelarut yang keduanya tidak
saling bercampur. Jika ada kelebihan cairan atau suatu zat padat ditambahkan
ke dalam campuran dari dua cairan tidak bercampur, zat itu akan
mendistribusikan diri diantara dua fase sehingga masing-masing menjadi
jenuh. Jika zat itu ditambahkan ke dalam pelarut tidak bercampur dalam
jumlah yang tidak cukup untuk menjenuhkan larutan, maka zat tersebut akan
didistribusikan diantara kedua lapisan dengan konsentrasi tertentu (Mirawati,
2011).
Pengaruh distribusi berpengaruh terhadap bahan obat yang terarah
kepada tempat kerja yang diinginkan. Dari segi terapeutik, kita mengharapkan
konsentrasi obat pada tempat kerja lebih besar dari pada konsentrasi di tempat
lain pada organisme. Seperti contoh, pada kemoterapi tumor ganas sebagian
obat dicoba melalui penyuntikan atau infus sitostatika ke dalam arteri
memasok tumor untuk memperoleh kerja yang terarah (Ernest, 1999).
Pada percobaan ini, dilakukan penetapan kelarutan dan penentuan
koefisien partisi dengan cara mencampurkan dua zat yang tidak larut apabila
di campurkan yaitu minyak dan air serta penambahan zat yang akan di uji
koefisien partisinya yaitu asam borat.



I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara penentuan kelarutan dan koefisien
distribusi zat padat dalam pelarut pada berbagai suhu dan dua pelarut
yang tidak saling bercampur.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Menentukan perbandingan kelarutan dan koefisien distribusi dari
asam borat dalam pelarut air pada suhu kamar, 45
0
C dan 60
0
C serta
pelarut minyak yang tidak saling bercampur.

I.3 Prinsip Percobaan
Penentuan kelarutan dari asam borat pada suhu kamar, 45
0
C dan 60
0
C
dengan cara melarutkan, menyaring, mengeringkan dan menimbang residu
zat yang tidak larut dan penentuan koefisien distribusi asam borat dalam
pelarut air dan minyak kelapa berdasarkan perbandingan kelarutan suatu zat
dalam dua pelarut yang tidak saling bercampur yang dititrasi dengan larutan
baku NaOH 0,0979 N yang ditandai dengan bantuan indikator fenoftalein.














BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II.1. Teori Umum
Secara kuantitatif, kelarutan suatu zat dinyatakan sebagai konsentrasi
zat terlarut di dalam larutan jenuhnya pada suhu dan tekanan tertentu,
kelarutan dinyatakan dalam mililiter pelarut yang dapat melarutkan suatu
gram zat, pelepasan zat dari bentuk sediaannya sangat dipengaruhi oleh
sifat-sifat fisika dan kimia zat-zat tersebut serta formulasinya. Pada
prinsipnya obat diabsorbsi setelah zat aktifnya larut dalam cairan tubuh
sehingga salah satu usaha mempertinggi efek farmakologinya dari sediaan
adalah dengan menaikkan kelarutan zat aktifnya (Patrick J. Sinko, 2011).
Larutan terjadi jika sebuah bahan padat tercampur atau terlarut secara
kimiamaupun fisika ke dalam bahan cair. Interaksi dapat terjadi antara
pelarut denganpelarut, pelarut dengan zat terlarut, dan zat terlarut dengan zat
terlarut (Syamsuni,2007). Larutan dapat pula didefinisikan sebagai suatu
campuran dari dua atau lebihkomponen yang membentuk suatu dispersi
molekular yang homogen, merupakansatu fase. Larutan hanya terdiri dari
dua zat saja yaitu solut (zat terlarut) dansolven (pelarut) (Rivai, 1995).
Pelarut secara umum, dibedakan atas dua pelarut, yaitu pelarut air dan
bukan air. Salah satu ciri penting dari pelarut tetapan dielektriknya (E), yaitu
gaya yang bekerja antara dua muatan itu dalam ruang hampa dengan gaya
yang bekerja pada muatan itu dalam dua pelarut. Tetapan ini menunjukkan
sampai sejauh mana tingkat kemampuan melarutkan pelarut tersebut.
Misalnya air dengan tetapan dielektriknya yang tinggi (E = 78,5) pada suhu
25
o
C, merupakan pelarut yang baik untuk zat-zat yang bersifat polar, tetapi
juga merupakan pelarut yang kurang baik untuk zat-zat non polar.
Sebaliknya, pelarut yang mempunyai tetapan dielektrik yang rendah
merupakan pelarut yang baik untuk zat non polar dan merupakan pelarut
yang kurang baik untuk zat berpolar (Rivai, 1995).
Fenomena distribusi adalah suatu fenomena dimana distribusi suatu
senyawa antara dua fase cair yang tidak saling bercampur, tergantung pada
interaksi fisik dan kimia antara pelarut dan senyawa terlarut dalam dua fase
yaitu struktur molekul (Anonim, 2013).
Faktor-faktor yang mempengaruhi fenomena distribusi adalah
pengaruh sifat kelarutan bahan obat terhadap distribusi menunjukkan antara
lain bahwa senyawa yang larut baik dalam bentuk lamak terkonsentrasi
dalam jaringan yang mengandung banyak lemak sedangkan sebaliknya zat
hidrofil hampir tidak diambil oleh jaringan lemak karena itu ditentukan
terutama dalam ekstrasel (Ernest, 1999 ).
Koefisien partisi (P) menggambarkan rasio pendistribusian obat
kedalam pelarut sistem dua fase, yaitu pelarut organik dan air. Bila molekul
semakin larut lemak, maka koefisien partisinya semakin besar dan difusi
trans membran terjadi lebih mudah. Tidak boleh dilupakan bahwa
organisme terdiri dari fase lemak dan air, sehingga bila koefisien partisi
sangat tinggi ataupun sangat rendah maka hal tersebut merupakan hambatan
pada proses difusi zat aktif (Ansel, 1989).
Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi distribusi zat dalam
larutan, yaitu :
1. Temperatur, kecepatan berbagai reaksi bertambah kira-kira 2 atau 3 tiap
kenaikan suhu 10
o
C.
2. Kekuatan Ion, semakin kecil konsentrasi suatu larutan maka laju
distribusi makin kecil.
3. Konstanta Dielektrik, efek konstanta dielektrik terhadap konstanta laju
reaksi ionik diekstrapolarkan sampai pengenceran tak terbatas, yang
pengaruh kekuatan ionnya 0. Untuk reaktan ion yang kekuatannya
bermuatan berlawanan maka laju distribusi reaktan tersebut adalah positif
dan untuk reaktan yang muatannya sama maka laju distribusinya negatif.
4. Katalisis, katalisis dapat menurunkan laju distribusi (Katalis negatif).
Katalis dapat juga menurunkan energi aktivitas denganss mengubah
mekanisme reaksi sehingga kecepatan bertambah.
5. Katalis Asam Basa Spesifik, laju distribusi dapat dipercepat dengan
penambahan asam atau basa. Jika laju peruraian ini terdapat bagian yang
mengandung konsentrasi ion hidrogen atau hidroksi.
6. Cahaya Energi, cahaya seperti panas dapat memberikan keaktifan yang
diperlukan untuk terjadi reaksi. Radisi dengan frekuensi yang sesuai
dengan energi yang cukup akan diabsorbsi untuk mengaktifkan molekul-
molekul (Cammarata, 1995).

II.2. Uraian Bahan
1. Aqua destilata (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Aqua destilata
Sinonim : Air Suling, aquadest, aqua depurate
RM/BM : H
2
O / 18,02
Rumus struktur : H H

O
Pemerian : Cairan jernih tidak bewarna, tidak berbau, tidak
mempunyai rasa
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform P
dan dalam eter P
Kegunaan : Zat pelarut
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik





2. Asam Borat (Dirjen POM, 1979)
Nama Resmi : Acidum Boricum
Sinonim : Asam Borat
RM/BM : H
3
BO
3
/ 61,83
Rumus Struktur :



Pemerian : Hablur, serbuk hablur putih atau sisik mengkilap
tidak berwarna; kasar; tidak berbau; rasa agak
asam dan pahit kemudian manis
Kelarutan : Larut dalam 20 bagian air, dalam 3 bagian air
mendidih, dalam 16 bagian etanol (95%) P dan
dalam 5 bagian gliserol P
Khasiat : Antiseptikum ekstern
Kegunaan : Sebagai sampel
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik

3. Fenolftalein (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Fhenolfthaleinum
Sinonim : Fenolftalein
RM/BM : C
20
H
14
O
4
/ 318,33
Rumus struktur :


Pemerian : Serbuk hablur, putih atau putih kekuningan lemah;
tidak berbau; stabil diudara
Kelarutan : Praktis tidak larut dalam air; larut dalam etanol;
agak sukar larut dalam etanol
Kegunaan : Indikator
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
4. Minyak Kelapa (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : Oleum Cocos
Sinonim : Minyak kelapa
RM/BM : CH3(CH2)16COOH / 284,48 gr
Pemerian : Cairan jernih; tidak berwarna atau kurang pucat;
bau khas tidak tengik
Kelarutan : Larut dalam 2 bagian etanol (96%)P pada suhu
60
0
; sangat mudah larut dalam kloroform P dan
dalam eter P
Kegunaan : Zat tambahan
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik, terlindung dari
cahaya, di tempat sejuk

5. Natrium hidroksida (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi : Natrii Hydroxidum
Sinonim : Natrium hidroksida
RM/BM : NaOH / 40,00
Rumus struktur : Na - O H
Pemerian : Putih atau praktis putih, massa melebur,
berbentuk pelet, serpihan atau batang atau bentuk
lain. Keras, rapuh dan menunjukan pecahan
hablur. Bila dibiarkan diudarah akan cepat
menyerap karbon dioksida dan lembab
Kelarutan : Mudah larut dalam air dan etanol
Kegunaan : Larutan baku sekunder
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik





BAB III
METODE KERJA

III.1. Alat dan Bahan
III.1.1. Alat
Adapun alat-alat yang digunakan adalah anak timbangan,
batang pengaduk, beker gelas 50 mL, buret 25 mL, cawan poselin,
corong pisah, erlenmeyer 100 mL, gelas ukur 50 mL, oven 100
0
C,
penangas air 100
0
C, pipet volume 5 mL dan 10 mL, sendok tanduk,
statif dan klem, termometer 100
0
C dan neraca analitik mg/g.
III.1.2. Bahan
Adapun bahan-bahan yang digunakan adalah air suling, asam
borat, indikator PP, kertas saring, kertas timbang, larutan baku
NaOH 0,1 N, minyak kelapa, tissue roll.

III.2. Cara Kerja
III.2.1 Penetapan Kelarutan
1. Disiapakan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Ditimbang asam borat 2 gr.
3. Disiapkan air suling 50 mL pada gelas ukur sebanyak 3.
4. Dipindahkan air suling ke dalam erlenmeyer.
5. Dibiarkan erlenmeyer pertama pada suhu kamar lalu
dimasukkan sampel asam borat.
6. Dipanaskan dua erlenmeyer di atas water bath pada suhu 45
0
C
dan 60
0
C.
7. Dimasukkan asam borat sedikit demi sedikit setelah mencapai
suhu 45
0
C dan 60
0
C.
8. Diaduk dengan batang pengaduk sampai larut.
9. Ditimbang kertas saring.
10. Disaring dengan kertas saring yang telah dijenuhkan.
11. Disaring melalui corong, dan airnya ditampung pada beker
gelas.
12. Dimasukkan residunya ke dalam cawan poselin, kemudian
dikeringkan dalam oven pada suhu 100
0
C, setelah kering
ditimbang.
13. Dihitung residunya dengan residunya dengan mengurangi
dengan mengurangi kertas timbang berisi residu dengan kertas
timbang kosong, lalu dihitung kelarutannya.
III.2.2 Penentuan Koefisien Distribusi
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
2. Ditimbang asam borat sebanyak 100 mg.
3. Dimasukkan asam borat ke dalam erlenmeyer, kemudian
dilarutkan dengan 100 mL air suling.
4. Diambil 25 mL larutan, lalu dimasukkan dalam erlenmeyer
(sebagai larutan awal).
5. Ditambahkan indikator PP ke dalam larutan, lalu dititrasi dengan
larutan NaOH 0,0979 N.
6. Dicatat volume titrasi.
7. Diambil 25 mL dari larutan awal dengan pipet volume dan
dimasukkan ke dalam erlenmeyer,
8. Ditambahkan 25 mL minyak kelapa, kemudian dikocok hingga
homogen (sebagai larutan akhir).
9. Didiamkan selama beberapa menit di dalam corong pisah yang
dikaitkan pada statif dan klem sampai larutan membentuk dua
lapisan yang jelas.
10. Diambil lapisan air dan lapisan minyak dibuang.
11. Ditambahkan 3 tetes indicator PP , kemudian dititrasi dengan
larutan NaOH 0,0979 N.
12. Dicatat volume titrasi.
13. Dilakukan duplo.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN

IV.1 Data Pengamatan
IV.1.1 Penetapan Kelarutan
Sampel Suhu (
0
C)
Berat
Sampel (gr)
BKS
(gr)
BKS +
Residu (gr)
Residu
(gr)
Asam
Borat
Kamar 2 0,297 0,396 0,099
45 2 0,530 0,624 0,094
60 2 0,180 0,270 0,090

IV.1.2 Penentuan Koefisien Distribusi
Sampel Berat (mg)
Volume Titran (mL)
Tanpa Minyak Dengan Minyak
Asam
Borat
100 2,75 1,9
100 2,6 2,1

IV.2 Perhitungan
IV.2.1 Penepatan Kelarutan
Residu
Residu = (BKS + Residu) BKS
- Residu (Kamar) = 0,396 gr 0,297 gr = 0,099 gr
- Residu (45
0
C) = 0,624 gr 0,530 gr = 0,094 gr
- Residu (60
0
C) = 0,270 gr 0,180 gr = 0,090 gr
Zat terlarut
Zat terlarut = Berat Sampel Residu
- Zat terlarut (Kamar) = 2 gr 0,099 gr = 1,901 gr
- Zat terlarut (45
0
C) = 2 gr 0,094 gr = 1,906 gr
- Zat terlarut (60
0
C) = 2 gr 0,090 gr = 1,91 gr

Konsentrasi zat terlarut
Konsentrasi zat terlarut =



- Konsentrasi zat terlarut (Kamar) =


= 0,0380 gr/mL
- Konsentrasi zat terlarut (45
0
C) =


= 0,0381 gr/mL
- Konsentrasi zat terlarut (60
0
C) =


= 0,0382 gr/mL
IV.2.2 Penentuan Koefisien Distribusi
Kadar Asam Borat (tanpa minyak)
Kadar Asam Borat =



- Tanpa minyak
Kadar 1 =



=


= 1,665
Kadar 2 =



=


= 1,574
- Dengan minyak
Kadar 1 =



=


= 1,150
Kadar 2 =



=


= 1,271
Kadar Fase Minyak
Kadar Fase Minyak = kadar tanpa minyak kadar dengan minyak
- Kadar Fase Minyak 1 = 1,665 1,150
= 0,515
- Kadar Fase Minyak 2 = 1,574 1,271
= 0,303
Koefisien Distribusi
Koefisien Distribusi =



- Koefisien distribusi 1 =


= 0,309
- Koefisien distribusi 2 =


= 0,192
Koefisien Distribusi rata-rata
Koefisien Distribusi rata-rata =


= 0,2505

IV.3 Reaksi Kimia
- H
3
BO
3
+ H
2
O H
4
BO
4
-
+ H
+

- H
3
BO
3
+ 3 NaOH Na
3
BO
3
+ 3H
2
O






BAB V
PEMBAHASAN

Distribusi obat adalah proses suatu obat yang secara reversibel
meninggalkan aliran darah dan masuk ke interstitium (cairan ekstrasel) dan atau
ke sel-sel jaringan. Pengiriman obat dari plasma ke interstitium terutama
tergantung pada aliran darah, permeabilitas kapiler, derajat ikatan obat tersebut
dengan proteinplasma atau jaringan dan hidrofobisitasdari obat tersebut (Robert &
Nurain, 2013).
Pada umumnya obat-obat bersifat asam lemah atau basa lemah. Jika obat
tersebut dilarutkan dalam air sebagian akan terionisasi. Besarnya fraksi obat yang
terionkan tergantung pada pH larutannya. Obat-obat yang tidak terionkan lebih
mudah larut dalam lipida, sebaliknya yang dalam bentuk ion kelarutannya kecil
atau bahkan praktis tidak larut. Dengan demikian pengaruh pH sangat besar
terhadap kecepatan absorpsi obat yang bersifat asam lemah atau basa
lemah (Sardjoko, 1987).
Dalam percobaan kelarutan dan distribusi obat, yang akan menjadi
pembahasan adalah penetapan kelarutan dan penentuan koefisien distribusi.
Sebagai berikut:

V.1 Penetapan Kelarutan Asam Borat
Pertama-tama disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan.
Ditimbang asam borat 2 gr. Disiapkan air suling pada gelas ukur 50 mL
sebanyak 3 buah. Kemudian air suling dimasukkan kedalam erlenmeyer.
Erlenmeyer pertama dibiarkan pada suhu normal atau suhu kamar lalu
dimasukkan sampel (asam borat). Dua erlenmeyer lain dipanaskan di atas
waterbath pada suhu 45
0
C dan 60
0
C. Setelah mencapai suhu itu, sampel
dimasukkan sedikit demi sedikit. Diaduk dengan batang pengaduk sampai
larut atau homogen. Kemudian disaring menggunakan kertas saring yang
telah dijenuhkan dimana kertas saring ditimbang dahulu sebelum tahap
dijenuhkan kertas saring tersebut. Melalui corong, airnya ditampung pada
beker gelas kemudian residunya dimasukkan kedalam cawan porselin lalu
dikeringkan dalam oven 100
0
C. Setelah kering, kertas saring berisi residu tadi
ditimbang kembali. Kemudian dihitung residunya dengan mengurangi kertas
saring berisi residu dengan kertas saring kosong lalu dihitung kelarutannya.
Pada percobaan ini, diperoleh hasil bahwa kelarutan asam borat dalam
pelarut air pada suhu kamar, 45
0
C dan 60
0
C yaitu 0,0380 : 0,0381 : 0,0382.
Disimpulkan bahwa asam borat akan larut dengan konsentrasi yang lebih
besar pada suhu tinggi daripada suhu rendah.

V.2 Penentuan Koefisien Distribusi
Dalam percobaan menentukan kadar menggunakan air tanpa minyak
kelapa yang diberikan indikator fenoftalein dan dititrasi dengan NaOH 0,0979
N, hal yang dilakukan pertama-tama adalah menimbang asam borat sebanyak
100 mg, memasukkannya ke dalam erlenmeyer, kemudian melarutkannya
dengan aquadest hingga 100 mL, setelah itu ambil 25 mL dari larutan
tersebut, lalu memasukkannya ke dalam erlenmeyer dengan menambahkan
indikator fenolftalein (PP) sebanyak 3 tetes dan proses titrasi menggunakan
larutan baku sekunder NaOH 0,0979 N sampai warna larutan berubah dari
bening menjadi merah muda keunguan. Catat volume titrasi.
Untuk percobaan menentukan kadar asam borat dengan minyak yakni
mengambil 25 mL dari larutan stok diatas, lalu memasukkan larutan tersebut
ke dalam corong pisah dan menambahkan 25 mL minyak kelapa. Setelah itu,
kocok selama 5 menit campuran di dalam corong pisah, diamkan selama 10-
15 menit hingga kedua cairan memisah satu sama lain membentuk dua
lapisan yang jelas.. Selanjutnya buka tutup corong pisah, pisahkan air dari
minyak dengan menampung air dalam erlenmeyer, lalu menambahkan
indikator fenolftalein (PP) sebanyak 3 tetes kedalam erlenmeyer, titrasi
larutan dengan larutan baku sekunder NaOH 0,0979 N sampai terjadi
perubahan warna dari bening menjadi merah muda keunguan. Catat volume
titran.
Alasan penggunaan air dan minyak kelapa dalam percobaan dengan
menggunakan partisi, karena kedua pelarut ini tak dapat larut satu sama lain
tetapi sampel asam borat dapat larut dalam minyak dan air . Hal ini
disebabkan karena air merupakan pelarut polar sedangkan minyak kelapa
merupakan pelarut non polar dan karena pada minyak terdapat karbon
sehingga menyebabkan bentuk streokimianya simetris sehingga tidak
memiliki momen dipol (Golib, Ibnu. 2007).
Alasan dimana asam borat ditambahkan ke dalam minyak kelapa dan
air kemudian dimasukkan ke dalam corong pisah seterlah itu di
lakukan pengocokan, karena agar zat dapat mengadakan keseimbangan
antara yang larut dalam air dan yang larut dalam minyak kelapa. Pada
percobaan ini dilakukan pengocokan selama 5 menit agar gugus polar dan
non polar dari asam borat maupun dari asam benzoat dapat bereaksi dengan
air dan minyak sehingga dapat dilihat pada pelarut mana kelarutannya paling
besar (Rivai, 1995).
Tujuan dari campuran dalam corong pisah didiamkan selama 10-15
menit, karena agar pemisahan antara minyak dan air bisa sempurna. Alasan
mengapa yang dilakukan titrasi hanya pada fase air saja. dikarenakan bila
lapisan minyak yang dititrasi maka akan terjadi reaksi saponifikasi
(penyabunan) (Golib, Ibnu. 2007).
Metode titrasi yang digunakan dalam percobaan ini adalah alkalimetri
yang dilakukan berdasarkan reaksi netralisasi yaitu sampel asam yang dititrasi
dengan titran basa akan bereaksi sempurna dengan semua asam sehingga
dapat diperoleh titik akhir titrasi dengan melihat perubahan warna larutan dari
bening menjadi merah muda keunguan.
Dalam percobaan ini, diperoleh hasil bahwa koefisien distribusi asam
borat dalam pelarut air tanpa minyak dan pelarut air dengan minyak yaitu
0,309 pada percobaan I dan 0,192 pada percobaan II, dimana kadar asam
borat dalam pelarut air tanpa minyak lebih besar dibandingkan dengan kadar
asam borat dalam pelarut air dengan minyak. Hal ini menunjukkan bahwa
koefisien distribusi asam borat bernilai kecil atau bersifat hidrofilik.
BAB VI
PENUTUP

VI.1 Kesimpulan
Perbandingan kelarutan asam borat dalam pelarut air pada suhu
kamar, 45
0
C dan 60
0
C yaitu 0,0380 : 0,0381 : 0,0382, dapat disimpulkan
bahwa asam borat akan larut dengan konsentrasi yang lebih besar pada suhu
tinggi daripada suhu rendah. Serta koefisien distribusi asam borat dalam
pelarut air tanpa minyak dan pelarut air dengan minyak yaitu 0,309 pada
percobaan I dan 0,192 pada percobaan II, dimana kadar asam borat dalam
pelarut air tanpa minyak lebih besar dibandingkan dengan kadar asam borat
dalam pelarut air dengan minyak. Karena koefisien distribusi berbanding
lurus dengan kadar fase minyak dan berbanding terbalik dengan kadar
airnya, yang dalam hal ini kadar asam borat dalam pelarut air lebih besar
daripada kadar fase minyak maka dapat disimpulkan bahwa koefisien
distribusi asam borat bersifat hidrofilik

VI.2 Saran
Kami sebagai praktikan sangat mengharapkan agar alat dan bahan
yang digunakan dalam praktikum Farmasi Fisika dapat dilengkapi,
diperbanyak dan mengalami kemajuan sehingga Farmasis UNG dapat tetap
mnegikuti perkembangan teknologi yang semakin pesat dibidang Farmasi.